there’s something about geometry + architecture

March 29, 2011

Is it green? Is it yellow? No! It’s…

Filed under: perception — elitanuraeny @ 19:37
Tags:

Nah, silakan isi kelanjutan dari judul setelah anda membaca habis posting ini :)

Pertama-tama, biar saya bercerita sedikit mengenai apa yang akan saya bahas. Sebenarnya, apa yang akan saya bicarakan disini tak jauh beda dengan ilusi optik dan permainan mata seperti yang sering kita lihat. Tapi, untuk kali ini, ada sedikit perbedaannya. Ilusi-ilusi mata yang biasa kita lihat selalu mendapatkan efek ganda pada saat bersamaan. Misalnya, coba lihat gambar di bawah ini:

Gambar tersebut secara bersamaan menyampaikan dua pesan yang berbeda pada mata kita: gambar seorang perempuan muda dari belakang DAN seorang wanita tua memakai head dress yang sedang tersenyum.

Mari kita coba satu gambar lagi.

Kali ini, ada dua suasana sekaligus dua persona yang ditampilkan. Pertama, adalah sepasang kakek dan nenek yang saling bertatapan, yang satunya lagi adalah perbedaan antara suasana Meksiko dengan India. Keduanya disampaikan secara bersamaan melalui satu gambar.

Kali ini, saya ingin membahas bahwa persepsi ganda seperti ini tidak selamanya diberikan secara nyata–terlukis jelas di atas bidang gambar–seperti pada dua contoh di atas. Kali ini, saya ingin memberikan kepada anda sekalian bahwa persepsi kali ini, kita tidak dikerjai oleh sang ilustrator, tapi kita dikerjai oleh otak dan mata kita sendiri.

Berharap melihat gambar yang lebih spektakuler dari dua gambar di atas, ya? Sayang sekali, gambarnya memang hanya sebuah hati berwarna hijau dengan pinggiran kuning dan noda hitam setitik di tengahnya. Tapi, jangan terkecoh dengan gambar yang sederhana dan terkesan remeh tersebut. Di balik gambar ini, rupanya tersimpan sebuah permainan ilusi yang sangat amat mengagumkan! Sini, mari saya beritahu triknya!

1. Pandangi titik hitam tersebut dengan konsentrasi penuh selama 20 detik (ada juga yang berhasil hanya dengan memandang dalam 15 dengan konsentrasi penuh).

2. Jangan mengedip selama menatap titik hitam tersebut! Hiraukan sejenak rasa pedih di mata!

3. Setelah 20 detik, pejamkan mata sesaat.

4. Alihkan pandangan ke bidang polos berwarna putih.

5. Silakan lihat hasilnya sendiri :)

Sekali lagi saya berikan gambarnya supaya anda tidak perlu meng-scroll ke atas

Untuk kalian yang mencoba, gambar yang terpantul pada bidang putih polos akan muncul dengan warna yang jauh berbeda dengan warna yang terpampang pada gambar asli. Kenapa? Hal ini karena mata masih menangkap sinyal dari gambar hati tersebut meskipun kita sudah tak memandangi gambar yang sama dan mengirimnya ke otak. Penjelasan lebih lanjut, silakan cek video ini.

Bagi saya, percobaan ilusi ini menarik karena berbeda dari ilusi-ilusi yang selama ini saya jumpai. Dalam ilusi kali ini, kita tidak bisa langsung mengambil persepsi yang berbeda di saat bersamaan. Dibutuhkan media lain yaitu waktu dan ruang untuk memperoleh efek kejutan tersebut.

Nah, sekarang sudah tahu, kan, jawaban dari kelanjutan judul posting ini? Medianya tidak harus kertas putih, kok. Coba dengan berbagai macam kertas warna, dan hasilnya akan sama saja. Tatap layar komputer, layar handphone, warna yang sama yang akan keluar. Diambil kertas putih hanya untuk memperjelas warna yang tampil.

Selamat mencoba!

Sumber :

www.youtube.com

www.google.co.id/image

The Spinning Dancer

Filed under: architecture and other arts,perception — murhardiningtyas @ 19:34
Tags:

Gambar di atas, diciptakan oleh Nobuyuki Kayahara dan disebut sebagai The Spinning Dancer atau the silhoutte illusion. Uniknya, perputaran gambar tersebut dapat berubah arah dengan posisi gerakan yang sama. Gambar tersebut bisa dilihat memutar searah jarum jam dan berlawanan arah jarum jam.

Gambar ini hanyalah sebuah ilusi optik yang disebut a reversible / ambiguous image. Gambar seperti ini telah lama dipelajari ilmuwan untuk mempelajari lebih lanjut tentang fungsi penglihatan dan bukan merupakan tes otak seperti yang dikemukakan oleh tabloid Australia bahwa Anda bisa menggunakan putaran arah penari sebagai indikasi apakah anda berotak kanan atau berotak kiri. 1

Awalnya saya melihat gambar ini berputar berlawanan arah jarum jam. Lalu saya mencoba untuk melihatnya berkebalikan arah. Memang cukup sulit untuk melakukannya apalagi saya memandangi gambar ini terus menerus. Lalu saya coba alihkan pandangan saya dan saya lihat lagi gambar ini dan saya melihat gambar ini berputar searah jarum jam. Cara lain bisa dengan memejamkan mata lalu melihat gambar itu lagi atau fokus pada bagian tertentu.

Spinning Dancer merupakan contoh dari apa yang disebut bistable perception. Sebagai objek yang dapat dilihat dalam salah satu atau dua cara. Sama halnya seperti ilusi The Necker Cube dan The Face-vase.

The Necker Cube

The Face-vase

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 The spinning dancer and the brain. http://greengabbro.net/2007/10/20/the-spinning-dancer-and-the-brain/

Parker-Pope, T. (2008, April 28). The truth about the spinning dancer. The New York Timeshttp://well.blogs.nytimes.com/2008/04/28/the-truth-about-the-spinning-dancer/index.html

kekuatan cahaya menghasilkan bayangan yang tak terbayangkan sebelumnya

Filed under: perception — murhardiningtyas @ 19:31
Tags: ,

Ketika anda melihat gambar di atas, maka anda akan melihat bayangan dari dua orang yang sedang duduk, dan otak anda pun akan berpikir bahwa memang ada dua orang yang sedang duduk tak jauh dari bayangan itu.

Tapi pada kenyataannya apa yang anda lihat itu belum tentu benar. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:


Tak ada dua orang yang sedang duduk. Yang ada hanyalah tumpukan berbagai macam benda yang sama sekali tidak terlihat seperti dua orang yang sedang duduk.

Itulah yang dilakukan oleh Tim Noble dan Sue Webster. Mereka membuat ilusi bayangan (shadow illusions) dengan mencoba menghadirkan sesuatu yang lain dari bentuk asal mulanya. Bentuk asal mula itu mereka ciptakan dari tumpukan berbagai bentuk sampah. Persepsi mata si penglihatlah yang dimainkan oleh mereka.

Dalam mencapai hasil seperti itu mereka menggunakan seni proyeksi yang merupakan simbol dari seni transformasi. Sebuah cahaya diproyeksikan terhadap tumpukan sampah dan bayangan pada dinding menciptakan gambaran yang sama sekali berbeda. Noble dan Webster sudah sangat familiar dengan proses ini melalui persepsi psikologi dan bagaimana orang menilai bentuk-bentuk abstrak. Sepanjang karier mereka telah bermain dengan ide tentang bagaimana manusia memandang dan mendefinisikan gambar abstrak dengan artinya.

Peranan cahaya dalam proses ini memegang peranan penting karena dengan arah cahaya yang berbeda akan menghasilkan bayangan yang berbeda pula dan itu akan mempengaruhi bentuk bayangan yang diinginkan.

Berikut adalah hasil karya lainnya:


http://www.refashinoso.com/2010/06/09/junk-art-illusion-shadows/

March 27, 2011

Arsitektur Malam Hari

Filed under: perception — rangsiadzani @ 15:54
Tags: ,

Bangunan yang di siang hari terlihat biasa, di malam hari dapat menjadi lebih menarik dengan pengunaan LED. Lampu LED adalah lampu solid-state yang menggunakan dioda pemancar cahaya (LED) sebagai sumber cahaya. Lampu ini dapat memancarkan cahaya yang berwarna-warni karena memiliki panjang gelombang yang kecil. sejumlah LED harus ditempatkan bersama  dan dekat, karena cahaya yang dipancarkan tidak seterang lampu biasa.

gambar dari: blog.360dgrs.nl

Ternyata selain dapat membuat fasad lebih menarik, penggunaan LED dapat ‘memainkan’ bentuk bangunan.

gambar dari: www.interactivearchitecture.org

Pemberian pencahayaan menggunakan LED ini mampu ‘menipu’ mata kita. Bangunan yang semula bentuknya terlihat biasa, kotak dan lengkung diberi LED, sehingga secara visual terlihat dinamis dan berbeda.

Gambar: www.china-led-lamp.com, www.coolhunting.com, blog.vegasondemand.com

Referensi:www.wikipedia.com

March 26, 2011

Dari Persepsi Artis Termodern, James Turrell

Filed under: architecture and other arts,perception — ferafarwah08 @ 21:48
Tags: , ,

Sebuah teori gestalt bisa digunakan dalam menganalisis elemen-elemen desain. Dengan melihat karya-karya James Turrell, seorang artis ahli light dan space. kita bisa mempesepsikan mana garis mana shape dan mana yang negative space mana yang positif space. Kita bisa memecah pengkomposisiannya dengan mudah karena ia sangat menegaskan elemen desain yang ditampilkan apa. Kemudahan ini dikaitkan kembali karena James Turrell berkaitan dengan light dan space yang sangat mudah kita lihat.

Teori gestalt terdiri dari law of proximity yang menjelaskan kemudahan untuk mengelompokkan, law of similarity yang menjelaskan kemudahan  untuk mendekatkan hal-hal yang sama, law of continuity yang menjelaskan pencarian kontinuitas, dan law of enclosure yang menjelaskan tentang penghilangan elemen lainnya dengan tetap mempertahankan kesederhanaannya. semuanya berujung pada kesederhanaan.

Mari kita lihat gambar-gambar kerja hasil James Turrell, dan menganalisis elemen desain apa saja yang dia tegaskan. Sebelumnya, terlebih dahulu adakalanya untuk mengenal elemen desain secara hakiki, elemen desain terdiri dari Point, Line, Form, shape and, space, Movement, Color, Pattern, dan Texture.

Dari gambar http://www.digicult.it/images/2010/ott/turrel.jpg , Dengan mencari kesederhanaan elemen desain, James Turrell menegaskan elemen desain yang ingin ia sampaikan dengan membuat negatif dan positif space yang mepunyai shape kotak dan memperlihatkan garis-garis yang keluar dari shape melalui tingkat warna yang berbeda dengan memainkan light.

Dari gambar http://www.digicult.it/images/2010/ott/turrel2.jpg ,

James Turrell menegaskan tiga trapesium yang berbeda-beda warnanya. Dengan ada bayangan trapesiumberjumlah 5. tidak ada garis lain, hanya trapesium.

Jadi, dari analisis yang saya perkirakan, saya menganggap James Turrell berusaha untuk membuat shape diatas space,membuat 2d diatas 3d dengan cara “menegaskan melalui persepsi”. Tidak heran ia melakukan cara penegasan melalui persepsi karena asistennya seorang psikolog.

Ada artikel yang menjelaskan penegasan James Turrell melalui persepsi manusia, menurut artikel yang menyorot the James Turrell exhibition di Almine Rech Gallery di Brussel,

“An unconventional and unclassifiable artist, James Turrell incites viewers to look within themselves and question their own perception of light, matter, color, shape and their position as spectator, their role in the definition and the existence of the work of art.”

Artikel ini sangat terpercaya karena mencantumkan website the Almine Rech Gallery secara langsung. Dengan pernyataan artikel ini sangat jelas bahwa James Turrell menegaskan elemen desain yang ia desain.

Sumber bacaan:

Kuliah Geometri tanggal 16 maret 2011,rabu

http://www.digicult.it/en/2010/jamesturrelsoloexhibition.asp

http://en.wikipedia.org/wiki/James_Turrell

Belajar dari Tuhan

Filed under: classical aesthetics — ferafarwah08 @ 21:45
Tags:

ini sebenarnya blog postingan untuk masukan ke site geometri. tetapi karena ada masalah dalam pemasukan gambar (belum diijinkan upload gambar oleh admin), akhirnya saya tulis diblog saya. silahkan berkunjung :)

http://ferafarwah08.wordpress.com/2011/03/26/belajar-dari-tuhan/

 

Optical Art

Filed under: architecture and other arts,perception — Prillia Indranila @ 15:43
Tags: ,

“Optical art is a method of painting concerning the interaction between illusion and picture plane, between understanding and seeing.” Op art works are abstract, with many of the better known pieces made in only black and white. When the viewer looks at them, the impression is given of movement, hidden images, flashing and vibration, patterns, or alternatively, of swelling or warping.” (http://en.wikipedia.org/wiki/Op_art)

Ilusi optik bukanlah hal yang asing lagi bagi kita, bahkan banyak seniman yang menggunakannya dalam karyanya sehingga menjadi karya seni yang menarik, yaitu optical art. Tahun lalu saya berkunjung ke Science Center di Singapore, dan di sana banyak karya-karya seni yang berkaitan dengan sains dan teknologi, termasuk pula optical art dengan bermacam-macam jenis. Kami sempat memotret beberapa optical yang terdapat di sana, contohnya adalah seperti ini:

Optical Art

Jika kita perhatikan, gambar tersebut menunjukkan wajah seorang bapak-bapak yang memakai topi seperti topi tentara dan baju berkerah dengan huruf dan angka di kerahnya. Apakah hanya itu saja? Ternyata tidak, setelah gambar tersebut dibalik 180 derajat, maka akan menghasilkan gambar seperti ini:

Optical Art

Ternyata apabila kita melihat gambar tersebut dari posisi yang berbeda maka akan menghasilkan gambar yang berbeda. Kalau dilihat dengan cara seperti ini, yang terlihat adalah wajah bapak-bapak berkumis yang sedang membuka mulutnya dan mengenakan topi yang berbeda. Selain karya tersebut, ada satu karya lagi yang membuat saya tertarik:

Optical Art

Foto-foto oleh Annisa Marwati

Gambar tersebut terlukis di lantai. Apabila kita melihat gambar yang ada di lantai, akan terlihat gambar sebuah perahu yang terombang-ambing oleh ombak. Namun bagaimana kalau dilihat melalui sebuah silinder yang sengaja ditaruh di depan gambar tersebut? Wah, ternyata pada silinder yang merefleksikan gambar tersebut terlihat gambar yang sama sekali berbeda, yaitu gambar seorang laki-laki. Sungguh hebat menurut saya, sampai sekarang saya pun belum mengerti benar bagaimana cara membuatnya agar bisa tepat menghasilkan gambar yang berbeda. :D

Kedua contoh tersebut merupakan optical art yang mengandalkan persepsi manusia, tergantung bagaimana cara mereka melihatnya, walaupun dengan cara yang berbeda: pada gambar pertama diperlukan posisi yang berbeda untuk melihat sesuatu yang lain, sedangkan gambar kedua diperlukan media lain yang berbeda jenis permukaan untuk dapat menemukan bentuk lain, yaitu permukaan cembung pada silinder. Hal tersebut sesuai dengan teori Gibson (1979), yaitu “Ecological approach to perception”. Jadi, apabila manusia sebagai observer-nya itu bergerak, maka persepsi akan ikut beruban. Prinsip inilah yang digunakan para seniman untuk membuat karya-karya seperti ini, walaupun pada kedua contoh di atas hanya arah memandangnya saja yang berubah.

Apabila menyangkut tentang moving observer, ada contoh menarik yang saya temukan kemarin, yaitu Roy Lichtenstein House yang terletak di National Gallery of Art’s Sculpture Garden di Washington DC, Amerika Serikat.

Lichtenstein House

Video tentang Lichtenstein House:

 

(kalau videonya nggak muncul, ini link-nya: http://www.youtube.com/watch?v=jIpdajUHVtI)

Pada foto tersebut, jika kita melihatnya dalam posisi orang yang memotret Lichtenstein House ini, ‘rumah’ tersebut seolah-olah terlihat seperti rumah dalam wujud tiga dimensi, padahal sebenarnya ‘rumah’ ini hanya berupa sebuah bidang dua dimensi. Apabila kita melihatnya seperti yang ditunjukkan dalam video, ternyata rumah tersebut seolah-olah bergerak sesuai dengan arah pandang kita seiring kita bergerak seperti benda tiga dimensi. Teori Gibson tentang kita sebagai moving observer inilah yang digunakan pembuatnya sebagai ilusi optik ini, untuk ‘mentransformasikan’ bidang dua dimensi menjadi bidang 3 dimensi.

Teori Gibson menjelaskan mengenai human behavior dalam dunia tiga dimensi, sehingga apa yang kita lihat tergantung bagaimana dan dari mana kita memandangnya, itulah persepsi. Persepsi inilah yang dimanfaatkan seniman optical art dalam membuat karya seninya sehingga karya tersebut seolah-olah bermain dengan penglihatan kita. Tertarik untuk mencoba membuat optical art? :D

Referensi:

http://www.coolopticalillusions.com/blog/2007/06/06/house-illusion-3-different-videos-artist-roy-lichtenstein/

Persepsi dalam Mengenali Kata

Filed under: perception — sikimangifera @ 07:49
Tags:

Teori persepsi Gestalt ternyata berhubungan dengan cara manusia dalam membaca dan mengenali kata. Ketika membaca, proses pengenalan kata yang terjadi adalah melihat, mengenali masing – masing huruf, lalu merangkainya menjadi sebuah kosa kata lalu merangkai menjadi kata yang memiliki arti. Proses yang cukup panjang memang, tetapi apakah benar begitu?

Menurut Vernon proses perseptual dalam membaca itu terdiri atas empat bagian :

1) kesadaran akan rangsangan visual
2) kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum kata-kata
3) klasifikai lambang-lambang visual untuk kata-kata yang ada di dalam kelas yang umum
4) indentifikasi kata-kata yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya.

Namun, ditemukan bahwa otak manusia dapat tetap mengenali kata dengan benar walaupun urutannya dibolak balik. Coba saja baca kalimat ini:

“pesrespi mmpeengrahui preiaklu mnauisa dlaam mmeacba”

Apa yang anda tangka dari kalimat tersebut? Apakah kalimat yang anda tangkap adalah ini?:

“persepsi mempengaruhi perilaku manusia dalam membaca”

Kemampuan membaca cepat terkait erat dengan kemampuan mengenali kata. Manusia mengenali berbagai kata lewat buku dan tulisan yang dibacanya. Kata-kata tersebut disimpan dalam memori otak dan akan dikenali lebih cepat ketika ditemukan kembali pada bahan bacaan yang baru. Lebih hebat lagi ternyata urutan huruf tidak terlalu penting asalkan posisi huruf pertama dan terakhir tidak berubah.

Menurut saya, gagasan yang ditemukan dari riset Universitas Cambridge ini merupakan salah satu bentuk pembuktian dari teori Gestalt yaitu law of continuity. Dalam law of continuity disebutkan bahwa “elements that have continuity with each other are perceived as flowing”, pada kasus membaca tersebut awal dan akhir huruf tidak diacak sehingga kita secara sadar menurutkan huruf huruf acak yang berada diantaranya. Proses pengurutan huruf ini akan terjadi lebih cepat jika pembaca telah mengenali kata tersebut sebelumnya sehingga dapat mengakses memori dan mengetahu raingkaian huruf yang benar sehingga dapat dikenali dengan mudah.

Ahmad Slamet Harjasujana dan Yeti H., 1996/1997. Membaca 2. Jakarta: Depdikbud.

http://www.muhammadnoer.com/2009/02/teknik-dasar-membaca-cepat-mengenali-kata-dan-gerakan-mata/

Negeri Impian dalam Benak Sang Pemimpi…

Filed under: ideal cities — rangsiadzani @ 07:45
Tags: , ,

Coba bandingkan gambar-gambar diatas… apakah memiliki kemiripan satu dengan lainnya?

Gambar dari kiri ke kanan, adalah pulau utopia (Thomas Moore), Atlantis, Tenochittlan, neverland, dan ideal city… Semuanya adalah kota-kota atau negeri impian,beberapa adalah  tempat yang sebenarnya tidak pernah eksis (neverland, utopia), atau hanya berupa mitos (Atlantis, Tenochittlan).

Bila dilihat, ada beberapa hal yang mirip, yang pertama bentuknya hampir  semua  menyerupai radial. Saya mengatakan ‘menyerupai’  adalah karena hanya menggunakan persepsi pribadi. Seperti teori  persepsi Gestalt, terjadi pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. (Wikipedia)

Bentuk radial pada utopia, terlihat dari bangunan yang mengelilingi pulaunya. Sedikit berbeda dengan peta Atlantis yang memang terlihat seperti lingkaran sempurna (meski sebenarnya lingkaran terbagi 4). Lalu Tenochittlan, meski terlihat berantakan, namun dalam persepsi saya masih tetap radial, ditandai dengan bangunan dikeliling luar kota, dan juga posisi bangunan kota yang berada di air. Neverland, yang paling nampak tidak jelas, tapi kalau diperhatikan.. nama-nama tempat yang ada di dalam pulau dapat membentuk lingkaran. Lalu yang terakhir adalah ideal city, bentuk radial terlihat apabila kita ‘menghilangkan’ ujung benteng yang mengelilingi kotanya.

Kesamaan berikutnya dalam persepsi saya, adalah bentuk yang memusat.. Utopia Nampak memiliki bangunan besar ditengahnya yang menjadi pusat.  Bagi Atlantis terlihat jelas memiliki grid-grid yang memusat menuju lingkaran di atas air. Tenochittlan, memiliki pusat berupa bangunan di tengahnya (kuil/istana), meski gridnya tidak rapi, namun alur-alurnya menuju ke tengah. Sedangkan gunung menjulang di tengah pulau diantara nama-nama tempat di Neverland nampak menjadi pusatnya.  Ideal City memusat menuju menara di tengah kotanya.

Pertanyaannya adalah, mengapa orang yang ‘menciptakan’ tempat-tempat ini  membentuknya seperti itu? Apakah memang seperti teori Gestalt bahwa manusia cenderung menerima  bentuk dasar yang mudah dipahami?

Kota Ideal Masa Kini, London?

Filed under: ideal cities — sikimangifera @ 07:43
Tags: ,

Bagaimana bentuk kota yang ideal itu? Apakah gagasan Thomas More mengenai Utopia, atau kota yang tidak ada masih sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat modern? Hal ini menjadi sebuah pertanyaan yang terlintas di kepala saya akhir-akhir ini. Dalam tulisan ini saya akan mencoba untuk menjawab pertanyaan itu. Menurut saya, kota yang ideal merupakan sebuah kota yang dapat mengikuti serta  mengakomodasi kedinamisan penduduk yang tinggal di dalamnya dan juga dapat memberi jaminan keberlangsungan hidup di masa mendatang.

Bentuk kota yang yang dapat menjamin keberlanjutan kehidupan masa mendatang tersebut, merupakan kota yang dapat menjawab isu akan efisiensi konsumsi energi dan kepadatan penduduk yang terus bertambah. Berdasarkan pengetahuan yang saya dapat dari kelas perencanaan kota dan wilayah, kota kompak (compact city) merupakan bentuk kota yang saya anggap adalah bentuk kota yang berkelanjutan. Bentuk kota yang baik merupakan kota yang memiliki ketepatan dalam bentuk dan skala untuk berjalan kaki, bersepeda, efisien transportasi masal, dan dengan kekompakan dan ketersediaan interaksi sosial. Compact  city sendiri  fokus kepada perencanaan penggunaan lahan secara mix used, pemusatan pembangunan, dan mengurangi pembangunan infrastruktur jalan guna mengurangi jumlah kendaraan pribadi. Penggunaan lahan secara mix used akan memberi dampak bertambahnya pejalan kaki atau pengguna sepeda karena untuk memenuhi kebutuhan, mereka tidak harus menempuh jarak jauh karena mix used lahan di wilayah sekitarnya.

Bentuk kota tersebut dapat kita lihat di kota London. Pemerintah London, membangun kota ini dengan beberapa prinsip rancangan diantaranya memaksimalkan potensial site, dapat beradaptasi  dengan perubahan iklim, mengahargai sejarah, konteks lokal, bangunan bersejarah, dan komunitas. Selain itu pembangunan kota juga harus berdasar pada kemudahaan akses bagi semua pengguna, pemanfaatan lahan secara mix used, dan menarik secara visual.

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Dapat dilihat pada gambar, di bagian tengah kota London merupakan pusat dari segala kegiatan perkantoran , ekonomi, serta hunian vertikal. Hunian ini, menurut data rata-rata dihuni oleh 1 – 1,2 orang tiap unitnya. Lalu di bagian pinggir kota merupakan wilayah hunian horizontal yang rata rata dihuni oleh 2-4 orang. Lalu lintas kota London, merupakan sumbangan dari mobil pribadi warga yang tinggal di bagian pinggir, transportasi umum, sedangkan penduduk yang menetap di bagian pusat kota lebih banyak menggunakan sepeda atau berjalan kaki. Hal ini memberi dampak terhadap efisiensi energi yang dikonsumsi untuk berpindah tempat.

www.london.gov.uk/thelondonplan/policies/4b-01.jsp

March 25, 2011

Kota dalam Film Kolosal – Bentuk Pencitraan Teori Vitruvius

Filed under: classical aesthetics — ajengnadia @ 23:14
Tags:

Materi saat pertama kali kuliah geometri sangat mengingatkan saya terhadap film-film yang sering saya saksikan di bioskop,fim bergenre drama action kolosial seperti 300, King Arhtur, Kingdom of Heaven, dan sebaginyalah yang membuat saya menjadi lebih merasa familiar dengan workshop Theory Vitruvius saat itu. Seolah melihat gambaran nyata apa yang disarankan oleh seorang panglima perang asal negeri Yunani ini. Bukan saran atas perlunya tiga hal utama di dunia arsitektur, seperti Firmitas, Utilitas dan Venustas, tetapi saran yang ia berikan kepada Paduka Raja nya dalam membangun sebuah kota yang bertahan dalam era saat itu, yaitu era penjajahan, guna pelebaran kekuasaan. Kota yang memiliki tembok tinggi kokoh dengan gerbang yang menjulang, tower pengawas di setiap sudut kota, pembagian jalan dengan sistem grid radial, dan sebagainya. Segala hal itu berdasar atas puluhan tahun pengalaman ia berperang, menyerbu kota jajahan atau mempertahankan kota kekuasaan.

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Seperti yang saya katakan sebelumnya, semua yang dikatakan oleh Vitruvius seolah digunakan pada kota karangan sang penulis cerita. Seolah kota tersebut memiliki tipikal yang harus digunakan dalam setiap kota saat jaman tersebut. Hal yang menarik bagi saya, apakah proses pembentukan semua kota yang tercipta sama dengan apa yang dikatakan oleh Vitruvius? Jika ya, lalu mengapa menjadi suatu hal yang sulit bila semua panglima perang dapat melihat bagaimana situasi kota jajahannya?

Sadari, amati untuk mengeksplorasi

Filed under: locality and tradition — ajengnadia @ 23:12
Tags: ,

Teknik mengikat atau menyimpul seperti sudah mendarah daging di tubuh manusia. Dahulu, ketika manusia ingin membuat ruang berlindung dirinya, manusia menyambung dua ranting kayu dengan menggunakan simpul, belum ada paku, lem atau bahan perekat lainnya. Kemudian teknik menyimpul berkembang ke segala arah, seperti kerajinan, kebutuhan sehari-hari hingga mengikat rambut. Tidak heran, beberapa budaya di dunia menggunakannya sebagai hal yang bernilai sakral, seperti sebagai persembahan kepada Yang Agung, pada masyarakat Bali.

Teknik mengikat membentuk pita merupakan hal yang sangat familiar dalam kehidupan kita setiap harinya. Ketika kita keluar rumah dan menggunakan sepatu bertali, ketika bertemu seorang perempuan cilik dengan hiasan rambut di kepalanya, hingga pada pembalut telepon gengam yang kini sangat mewabah di tangan para remaja putri.

Mencoba sedikit mengulasnya dalam essay yang saya kumpulkan beberapa hari lalu. Proses dalam membentuk pita seolah menggunakan dasar matematik serta geometrik sehingga mendapatkan hasil seperti itu. Menggunakan dua tali kemudian tali tersebut disimpul, diputar, sehingga membentuk bentuk lingkaran, dan disimpulkan kembali akan membentuk sebuah bow atau pita yang biasa kita temui (lihat gambar). Bila kita mengikuti dasar matematis, maka yang dilakukan adalah merotasi, mencerminkan dan kembali merotasinya. Ya. Rotasi dan pencerminan –seolah terjadi pada sumbu y- merupakan bentuk dari pengikatan pada dua tali tersebut.

Image and video hosting by TinyPic

Seolah menjadi salah satu contoh yang mungkin tidak kita sadari, sebuah hal yang sederhana dan sering berada di sekitar kita dan sering pula kita lakukan, ternyata memiliki proses pembentukan yang sangat ilmiah. Mungkin kita bisa coba menyadari hal ini, mungkin masih banyak hal yang sangat sederhana yang bisa kita amati karena hal-hal yang dasar masih dapat kita cari “beyond” dari hal tersebut. Setelah mendapati hal dibalik itu semua, mungkin kita bisa kembangkan lebih lanjut lagi untuk kita gunakan saat mendesain nanti. Inspirasi bisa datang dari mana saja, bukan?

Froebel’s Gift: One Thing Leads to Another, A Process of Recognizing and Exploration

Filed under: architecture and other arts,process — belonia90 @ 17:23
Tags: ,

“…Every existing thing is connected to every other thing in past, present, and future existence…”

Adalah sebuah kalimat yang saya kutip setelah menangkap satu dari beberapa hal yang sekiranya Bapak Friederich Wilhelm August Fröbel atau sebut saja Bapak Froebel ingin sampaikan pada dunia melalui Froebel’s Gift yang beliau ciptakan. Siapa Bapak Froebel dan apa itu Froebel’s Gift?mari kita kenali.

Bapak Froebel menurut Wikipedia adalah seorang Pedagogi (pendidik) dan sumber lainnya menyatakan bahwa Bapak Froebel ini adalah seorang ilmuwan, seseorang yang sangat spiritual, naturalist (pecinta alam), bahkan seorang garderner karena beliau mencintai kebun dengan segala isinya. Dari semua yang telah disebutkan nampaknya ia mendedikasikan dirinya bagi pendidikan terutama bagi anak-anak, mulai usia pra sekolah sampai anak menuju remaja. Beliau juga sampai membuat panduan bagi orang tua terutama Ibu untuk mengasuh dan memandu anak dalam tahap perkembangannya. Dari yang saya baca hal ini ada kaitannya dengan perasaan longing atas asuhan dari sosok ibu yang meninggal pada saat Beliau baru berumur 9 bulan, ya “every existing thing is connected to every other thing in past, present and future”. Dari sini saya ingin menyebutnya sebagai inventor juga atau penemu, penemu apa? Ya, Froebel’s Gift. Saya tiba-tiba jatuh cinta padanya begitu mencari tahu mengenai Froebel’s Gift dengan segala rincian dari setiap “gift” yang beliau buat. Semua dibuat dengan alasan, dengan tujuan bagi perkembangan anak.

Anak bagai secarik kertas kosong, siap ditulisi dengan apa saja. Dunia mereka bagaikan tak berbatas, mereka bisa memakan pasir, memasukkan tangannya ke dalam mulut, melompat dari kursi, memegang yang menarik bagi mereka, semua dilakukan dengan tawa kecil, ya eksplorasi, menjelajah,mengenal  dan mencoba dengan bermain.  Menganalogikan kebun, anak menurut Froebel seperti tunas yang sangat membutuhkan perhatian bahkan mulai dari kecil, dan karena anak = bermain maka bermain sambil belajarlah ide pencetus Froebel’s Gift ini.

Terdiri atas 10 Gift, yaitu 10 kotak kayu yang berisi perangkat permainan-belajar yang berarti juga ada 10 tahapan karena semakin atas levelnya, semakin kompleks dan detail pula arti dibaliknya. Terlihat pola yang semakin mengerucut dari setiap tahapan giftnya. Mengerucut disini artinya semakin kecil yang bisa dipegang dan makin rumit dalam perangkaiannya jika boleh saya katakan jika gift 1 adalah sebuah bentuk yang utuh, semakin naik levelnya adalah lepasan-lepasan dari bentuk utuh itu. Perkenalan umum hingga khusus, makin mendalam seperti itu.

froebel's gifts

Dimulai dengan bentukan utuh solid 3 dimensi (Gift 1 -6), bentukan 2 dimensi (Gift 7), garis (lurus-lengkung) (Gift 8), Titik (Gift 9), Rangka dari 3 dimensi (Gift 10). Disini saya melihat “mulai dari mana” yang berbeda sewaktu saya tekomars dulu. Dulu saya memulai dengan menentukan titik di sembarang atau tempat yang sudah diatur (atas-bawah), masuk ke garis (menghubungkan titik-titik),dan jika diteruskan dari garis yang ditarik tercipta bidang 2 dimensi dan jika antar 2 dimensi dibayangkan dipertemukan dapat menjadi sebuah 3 dimensi.

proses

Tetapi mulai dari mana ini menurut saya bukanlah masalah karena jika dilihat, perkembangan indera anak-anak itu dimulai dari sentuhan (dengan ibu) dan juga grasp (genggam), sedangkan saat kita sudah lebih dewasa, sudah lebih berkembang kita sudah bisa mengkombinasikan indera dan kemampuan otak, melihat titiknya lalu memperkirakan jauhnya membayangkan dimana garis akan tercipta lalu mulai menggaris. Sehingga saat anak dapat dengan mudah mengenali bentuk dasarnya dengan pertama melihat (belum kenal-no perception) lalu sentuhan (mulai kenal), genggam (kenal) disitulah ia memulai eksplorasinya. Eksplorasi itu tak terpaksa tak dipaksa, dilakukan satu-persatu secara perlahan (gradually)ia dimulai dan bisa saja tak berakhir (sebuah proses kreatif), eksplorasi juga sebuah rangkaian pencarian, sebuah pengenalan lebih lanjut dan setiap titik yang dicapai dalam eksplorasinya, sang eksplorer akan belajar sebuah hal baru ataupun pengembangan dari eksplorasi sebelumnya, inilah Froebel’s Gift, gift 2 adalah eksplorasi lanjutan dari gift 1, begitu pula gift 3 terhadap gift 2 dan tidak lupa dalam tiap tahapannya Pak Froebel menyisipkan 3 pembelajaran besar yang sinambung, 1. Form of Life (bentukan yang bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari,mengaitkannya dengan kejadian/fenomena sehari-hari), 2. Form of Knowledge (bentukan matematis-penambahan,pengurangan,posisi dll-, 3. Form of Beauty (pola,komposisi,ritme). Bapak Froebel yakin bahwa nothing in the world is ever destroyed – only modified” , sehingga saat pengenalan dan eksplorasi dimulai dia akan berlanjut, dari satu hal ke hal lain, dari satu hal menjadi hal lain, one thing leads to another.

Sumber bacaan dan referensi:

http://www.babyclassroom.com/froebels-gifts.html

http://www.froebelgifts.com/gift1.htm sampai dengan http://www.froebelgifts.com/gift10.htm

http://www.froebelweb.org/gifts/

http://id.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Fr%C3%B6bel

http://en.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Fr%C3%B6bel

Wet Grid: There is Rule behind Chaos

Filed under: contemporary theories — ajengdwiastuti @ 17:22
Tags: ,

Dalam mendesain berdasar grid, kita seperti terbang ke atas helicopter dan melihat dunia dari atas, lalu melemparkan sebuah jala berupa grid, dan membagi dunia kedalam kotak – kotak. Dalam essay yang saya lakukan untuk mencari alasan penggunaan grid, saya mencapai kesimpulan bahwa manusia menyukai kemudahan, keteraturan, dan kecepatan dalam menyelesaikan masalah. Hal tersebut adalah hal yang ditawarkan pada grid. Akan tetapi tentunya kita tidak usah bersekolah di bidang desain jika hanya ingin memakai apa yang sudah ada. Kita butuh inovasi. Pada, grid, inovasi tersebut berupa wet grid. Secara singkat, wet grid adalah eksplorasi lebih lanjut tentang grid, terutama memasukkan grid 2 dimensi kedalam dunia 3 dimensi. Dibawah ini adalah contoh hasil akhir sebuah wet grid

wet grid 2

Dapat terlihat bahwa bentuk yang dicapai sudah mengambil bentuk 3 dimensi. Garis – garis yang saling terhubung terlihat tidak lagi kotak – kotak. Namun pada awalnya, garis tersebut tak lain tak tak bukan adalah axis – axis pada grid. Dibawah ini adalah penggambaran proses grid menjadi wet grid.

wet grid
Dapat dilihat bahwa proses terjadinya wet grid membutuhkan dua elemen, yaitu grid dan titik. Grid berfungsi sebagai connector, sedangkan titik berfungsi sebagai acuan tempat terhubungnya grid – grid yang melaluinya. Proses yang terjadi adalah meregangnya, membeloknya garis – garis grid yang tidak terkena titik. Garis – garis ini kemudian akan merapat atau menjauh serta menyatu sedemikian rupa namun tetap melekat pada titik awal. Hasil akhir yang terbentuk tidak lagi berupa kotak – kotak melainkan sebuah bentuk yang variatif, tergantung persebaran titik – titik yang diletakkan pada grid awal.

Apabila melihat hasil akhir dari wet grid ini, tentunya agak sulit membayangkan pada awalnya bentuk tersebut merupakan grid kotak yang sangat sering ditemui. Akan tetapi bila dilihat secara cermat, ada keteraturan yang membentuk sesuatu yang tidak teratur seperti itu. Ini adalah hasil akhir terbentuknya ruang dari metode wet grid

wetgridmodel1

Inovasi wet grid ini menurut saya sangat brilian. Memang sudah saatnya kita berpikir dan mengambangkan sesuatu. Metode desain bentuk dengan wet grid ini sangat layak untuk anda coba, ketimbang hanya pasrah pada bentuk akhir yang terkotak – kotak

Karena kita tidak terbang diudara dan menentukan dunia dari pandangan atas secara 2d. kita hidup dalam dunia 3 dimensi dan bermain dengan ruang.

Sumber :

Yoo Jin Kim Diploma 2,2010,  Choreographing microrevolution project. (www.projectreview2010.aaschool.ac.uk)

http://books.google.co.id/books?id=lCXZggElfpcC&printsec=frontcover&dq=architecture+of+continuity&hl=id&ei=SkaLTbOkDo_svQPp4f3ODg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CC0Q6AEwAA#v=onepage&q&f=false” alt=”proses” />

Gridlock vs Speed

Filed under: ideal cities — mutiahapsari @ 17:20
Tags: , ,

“A city made for speed is made for success” -Le Corbusier

Jakarta dan kemacetan ibaratnya mie ayam dan sambal, sulit untuk dipisahkan. Hampir semua orang yang tinggal di Jakarta pasti pernah merasakan terjebak di jalanan ibukota. Hal ini bisa dikatakan salah satu masalah terbesar di Jakarta, bayangkan saja, kerugian yang ditimbulkan kemacetan di Jakarta mencapai angka 27 triliun per tahun!  Jika mengacu pada konsep ideal city Le Corbusier di atas, tentu hal ini menjadi masuk akal, begitu banyak waktu yang  bisa kita pergunakan jika Jakarta dibangun dengan memperhitungkan efisiensi dan ease of  tranportation, ketimbang untuk dihabiskan di jalanan. Saya sendiri, jika ingin mencapai daerah Sudirman yang terletak di pusat kota dari rumah saya di Cinere, perlu menyediakan spare waktu paling tidak 2 jam untuk waktu perjalanan. 2 jam yang bisa saya gunakan untuk bekerja, berkumpul dengan teman dan keluarga, atau bahkan untuk sekedar menikmati sarapan.

Tapi apakah city of speed ini merupakan suatu konsep yang ideal untuk Jakarta? Mari bayangkan, apabila jalanan yang setiap pagi dipenuhi oleh berbagai jenis kendaraan bermotor, pejalan kaki berlalu lalang, hingga pengamen berkeliling dari mobil ke mobil, sepi layaknya jalan tol. Bayangkan jalan yang menjadi akses transportasi benar-benar berfungsi hanya untuk sirkulasi penduduk kota.

Lalu bagaimana dengan pedagang asongan yang sehari-hari bersyukur atas kemacetan, karena orang yang terjebak macet pasti tergoda untuk membeli dagangannya? Bagaimana dengan pengamen jalanan yang hanya bisa bernyanyi jika kendaraan berhenti saat macet? Bagaimana dengan orang-orang yang bisa kita ajak berinteraksi ketika bus yang kita tumpangi harus berhenti dalam antrian di jalanan?

Dalam pandangan saya, Jakarta yang seperti itu adalah Jakarta yang dingin,  bagaikan mie ayam tanpa sambal. Hambar. Tetapi Jakarta dengan kemacetan yang tidak terkendali juga bagaikan menuang sebotol sambal ke dalam mie ayam, terlalu pedas hingga membuat perut sakit. Kemacetan yang tak terkendali akan membuat Jakarta lumpuh suatu saat nanti. Menurut saya, sekarang yang menjadi tantangan adalah bagaimana menciptakan Jakarta dengan speed dan ease of transportation dalam takaran yang tepat. Bagaimana mengatur jalanan Jakarta dengan prinsip-prinsip ideal city dan geometri, agar Jakarta menjadi kota yang “as close to perfection as possible” tanpa kehilangan identitas dan local content yang dimilikinya.

Sumber: 

http://humanitieslab.stanford.edu/UrbanSustainability/941

http://fathur05.wordpress.com/2009/04/03/the-city-of-tomorrow-khas-indonesia/

Sisi Indah dari “Earth Intruders” yang Chaotic

Filed under: architecture and other arts — febyhk @ 17:16
Tags: , ,

Pada kelas geometri sempat dipaparkan mengenai order. Spesifiknya, hal ini dijelaskan dengan gambaran ‘ideal’ kota-kota yang tampak rapi dengan bentuk-bentuk solidnya. Penjelasan (sekilas) mengenai order dan gambaran ideal itu membuat saya bertanya-tanya “apa sebenarnya order dan apa pengaruhnya order (dan disorder) pada persepsi kita?”

Pada bukunya yang berjudul “Aesthetic Order” Ruth Lorand menulis bahwa rumusan paling kuno dari “kecantikan” (beauty) adalah “unity in diversity“. Hal ini ia perjelas lagi dengan pernyataan bahwa “… no order exists in simple, totally homogeneous system. It also follows that if beauty is indeed an expression of order, beauty is never simple” . Mungkin hal ini dapat dilihat dari cara kita mengkelaskan sesuatu. Kita ambil contoh saat kita sedang survey site, maka kita kerap kali mendokumentasikan data yang kita dapat secara acak dan baru mengelompokannya ketika selesai survey. Kita mengelompokkan data itu karena kita memiliki keinginan untuk memberitahukan apa yang kita dapat lalu menganalisanya dengan mudah. Tentu untuk mengelompokkan data-data itu bukanlah hal yang mudah. Kompleks, lebih tepatnya.

Jika begitu, bagaimana dengan “disorder” ? Apakah ia lawan dari “order” itu sendiri sehingga bentuknya tidaklah sekompleks “order”? Ruth Lorand juga menjelaskan, bahwa disorder dalam “kekacauannya” membuat semua hal terkesan sama. Hal ini disebabkan tidak adanya pengelasan yang biasa kita lakukan pada ranah “order”. Namun, Lorand juga berkata bahwa “… disorder also appears in sets (which are complex by definition).
Consequently, order and disorder do have some common features and thus
disorder is not an outright opposite of order“. Hmm..membingungkan!

Bagaimanapun, saya tetap mencoba menafsirkan apa itu “order” dan “disorder” yang dimaksud Lorand. Mungkin dengan video klip seorang penyanyi terkenal asal Islandia, Bjork, order dan disorder tersebut dapat diketahui.

Pertama kali melihat video ini saya terpukau dengan background-nya yang surrealist dan tarian-tarian yang dilakukan oleh para siluet. Setelah saya  menonton sampai selesai ternyata tarian tersebut saya tangkap sebagai representasi dari lirik lagunya:

Siluet serupa pohon dengan batang dan rantingnya, merepresentasikan “twigs and branches
koreografi tarian bertambah, tidak hanya siluet orang berjalan sambil menunduk tetapi juga siluet orang-orang yang merentangkan tangannya. Koreografi ini tepat ketika Bjork menyanyikan lirik “turmoil!…carnage!” (kacau!…pembunuhan massal!). Sisi “kekacauan” dapat dilihat dari kepala Bjork sebagai background yang dipampang terbalik
Warna background berubah menjadi biru dengan salju yang turun perlahan-lahan disertai tarian dengan tangan terbuka oleh para siluet. Hal ini dilakukan tepat ketika Bjork menyanyikan “Goodness“. Dengan kata lain, “Shower of goodness..” direpresentasikan dengan background yang menyerupai hujan salju disertai siluet yang seolah-olah menyambut hujan salju tersebut.
Di sini mulai terjadi permainan warna yang lebih banyak dari sebelumnya, tidak hanya pada background tetapi juga cahaya yang seolah-olah keluar dari tangan para siluet. Sinar-sinar itu merepresentasikan “sharp shooters” atau penembak. ‘Tembakan’ semakin banyak seiring kata “voodoo” dinyanyikan seolah-olah menampilkan kutukan yang keluar dari tangan para siluet.

Dari sekilas apa yang telah diperhatikan dari video klip Bjork ini dapat dilihat representasi “disorder” (atau “chaos”) dengan bentuk terbaliknya kepala Bjork, koreografi  tembak-menembak, perubahan warna background, dan sebagainya. Jika melihat lirik keseluruhannya memang lagu yang berjudul “Earth Intruders” ini mengisahkan persepsi Bjork tentang kita, manusia, sebagai pengganggu bumi. Kita membuat kekacauan dengan membunuh secara massal, membuat kebisingan, menghilangkan segala kebaikan, dan merusak lahan bumi. Itulah “chaos” di mata seorang Bjork.

Ketika saya cari infonya lagi ternyata lagu ini dibuat karena Bjork bermimpi mengenai tsunami dan banyaknya orang yang jatuh miskin karenanya. Bjork sendiri menganggap lagu ini memang kacau. “It’s a quite chaotic song,” ucapnya. Video klip ini diakhiri dengan Bjork yang membuk.  matanya dengan background pegunungan yang indah (tidak surrealist lagi). Bjork seolah-olah lepas dari mimpi buruknya.

Terlepas dari pengalaman Bjork, video klip ini sebenarnya memiliki “order” yang kemudian menciptakan “beauty“. “Order” tersebut terbentuk dari koreografi-koreografi yang serentak dan kompak meskipun berbeda-beda. Namun, di beberapa saat ada koreografi yang memang terlihat tidak kompak, mengindikasikan “disorder” (seperti ketika bagian “tembak-menembak”) Dari hal tersebut saya melihat bahwa “order” dan “disorder”, entah bagaimanapun persepsi kita mengenai kedua hal itu, sebenarnya dapat menjadi komposisi yang menarik, semenarik video ini. Tidak hanya itu, permainan dinamika antara musik, lirik, dan tarian juga menjadi pengalaman yang menarik ketika menonton video ini. Terlebih video ini juga memberi pesan yang mendalam bagi kita.

Untuk tahu lebih banyak soal videonya, silakan: http://www.youtube.com/watch?v=s-V_CtrVj5U&feature=related

sumber:

“Aesthetic Order” oleh Ruth Lorand

http://en.wikipedia.org/wiki/Earth_Intruders

Hotel Sampah Madrid: Perbedaan Persepsi Baik dan Buruk

Filed under: ideal cities — ajengdwiastuti @ 17:12
Tags: , ,

Tulisan ini berawal dari ketertarikan saya tentang topic mata kuliah Geometry dan arsitektur tentang Ideal City. Namun mungkin yang saya bahas bukanlah hal yang berhubungan dengan ideal city, melainkan yang berhubungan dengan persepsi baik dan buruknya sebuah kota. Salah satu ucapan Geddes, “all of the ugly should be destroyed” memicu saya untuk bertanya, siapakah yang begitu berkuasanya untuk yang mengatur mana baik dan buruknya akan sesuatu? Apakah konsep baik dan buruk itu tetap sama dari zaman ke zaman? Topik tentang Order x disorder juga mengantar saya pada ucapan Jean Jacob tentang “the mistake of zoning is it leads to monotony and disintegration of environments”. Dunia yang semakin kompleks memaksa kita untuk meninjau ulang apakah konsep order tentang baik dan buruk masa lalu masih relevan dengan kondisi saat ini. Untuk sedikit menunjukkan hal ini, saya mengajak melihat lihat hotel sampah di Madrid.

hotel front” alt=”front” />

Beach Garbage Hotel adalah hotel yang terbuat seluruhnya dari sampah dan merupakan bagian dari kampanye Corona Save the Beach hotel. Hotel ini di desain oleh seniman Jerman bernama HA Schult. Hotel ini terdiri dari 5 buah kamar tidur, terbuat dari 12 ton sampah yang benar-benar ditemukan mengotori pantai-pantai di seluruh Eropa. Hotel ini dipamerkan di kota Madrid, Spanyol hingga 23 Januari.

Tujuan membangun hotel dari sampah ini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan kondisi buruk pantai dan laut di seluruh dunia, yang semakin terganggu oleh sampah. Pembangunan hotel ini banyak dianggap unik dan aneh oleh sebagian orang. Beberapa orang juga tidak dapat menerimanya karena dianggap jelek (ugly). Akan tetapi mari kita lihat maksud dari pembangunan hotel tersebut. Apakah hal buruk yang ditujukan untuk sesuatu yang baik tidak bisa mengubah nilai dari sesuatu yang buruk. Sekali lagi, hal ini berujung kembali pada persepsi masing – masing orang. Ini adalah salah satu gambar interior dari hotel tersebut

interior” alt=”interior” />

Bagus/jelekkah ruang dari hotel sampah ini?

Saya menemukan berita tentang hotel ini dari situs www.kaskus.us, dimana situs tersebut terkenal dengan sebutan The Large Indonesian Community. Berbagai orang dari seluruh Indonesia dengan latar belakang berbeda pula bergabung disini. Dalam situs ini, persepsi menjadi hak merdeka tiap individu. Pikiran kita adalah milik kita sendiri, tanpa ada yang meengintervensi atau memberi instruksi tentang baik dan buruknya sesuatu.

Hotel di Madrid ini dari sampah, memang. Seluruh dinding dari hotel ini terbuat dari tumpukan sampah. Dindingnya tidak terpoles rapi. Hampir tidak ada keseragaman bentuk dalam komponen yang membentuk bangunan ini. Namun apakah hal – hal diatas menjadikan hotel ini juga ‘sampah’? hal tersebut silahkan anda jawab sendiri.

http://www.lintasberita.com/Dunia/Berita-Dunia/unik-hotel-dari-sampah

http://www.indiumglassfilm.com/serba-serbi/1342-hotel-terbuat-dari-sampah-di-madrid.html

Wow….Rubik dan Geometri

Filed under: contemporary theories — miktha24 @ 17:10
Tags: ,

Lagi-lagi bahasan tentang geometri tidak pernah ada ujungnya…

Begitulah kiranya saya memahami tentang geometri ini bahwa segala sesuatu itu berhubungan dan tentunya, ketika kita seorang yang bijak melihat alam sekitar, maka akan terus menemukan hal baru dan unik yang dapat menjadi inspirasi kita ke depan. Sebelum saya memaparkan hal unik yang saya temukan, ada baiknya sekilas kita melihat sejarah dari rubiks itu sendiri. Rubik’s Cube™ atau lazim disebut kubus rubik adalah sebuah puzzle mekanis yang diciptakan oleh seorang professor arsitektur asal negara Hungaria yang bernama Erno Rubik pada tahun 1974. Lalu, permainan puzzle ini mencapai puncak popularitasnya di awal-awal tahun 1980-an. Bahkan sempat dikatakan bahwa pada masa tersebut rata-rata setiap rumah di Amerika Serikat mempunyai sedikitnya satu buah permainan puzzle ini. Sampai detik ini diperkirakan telah lebih dari 100.000.000 kubus rubik terjual di seluruh dunia. Namun, yang menarik bagi saya adalah bahwa yang menemukan permainan ini adalah seorang profesor di bidang arsitektur. Unbelievable !!! Erno rubik lahir pada tahun 1944 di Budapest, Hungaria, ayahnya seorang ahli mekanik dan ibunya seorang seniman. Sejak kecil Rubik lebih menyukai bidang seni. Ia suka melukis dan bersekolah di kesenian. Tapi setelah menginjak dewasa, ia mulai menyukai bidang teknik. Ia berkuliah di Universitas Budapest jurusan teknik, dan meraih gelar arsitek pada tahun 1967. Lalu, ia meneruskan sekolah di jurusan seni dekorasi, karena kecintaannya pada seni. Setelah lulus, ia menjadi dosen Jurusan desain Interior pada Akademi Seni Rupa di Budapest. Rubik dikenal sangat gemar dengan ilmu geometri. Ia suka memecahkan rumus-rumus sulit dan membahas teori-teori dalam ilmu geometri dengan mahasiswanya. Kerap kali ia menggunakan contoh-contoh yang dibuat dari kertas karton, kardus, kayu atau plastik. Mata pelajaran geometri yang membosankan itu berubah menjadi menarik dan menantang bagi mahasiswanya.

Sungguh luar biasa, hal yang bisa diciptakan oleh Erno itu hanya dengan kekagumannya terhadap benda dan ruang tiga dimensi hingga berujung pada sebuah karya yang fenomenal. Namun, betapa tidak, kita pun bisa seperti itu. Hal yang memancing ketertarikan saya adalah dari bentuk-bentuk rubik itu sendiri, yang bisa kita gunakan dalam metode desain dan perancangan studio arsitektur. Semisal ketika membentuk sebuah eksplorasi organisasi ruang atau eksplorasi bentuk dan fasad bangunan. Hal itu sangat membantu dalam hal pencarian ide. Tinggal kita memilih bentuk rubiks yang unik seperti rubiks yang terdiri dari lingkaran yang dapat dibentuk apa saja, atau bentuk rubik yang terdiri dari komposisi balok dan kubus membentuk bidang persegi. Selain itu, eksplorasi struktur juga dapat kita manfaatkan dalam bentuk rubik itu karena memiliki core sendiri sehingga kita bisa mengetahui bagian-bagian ruang yang akan kita tunjukkan.

Referensi :

1.       http://rubikscubeindonesia.blogspot.com/

2.       http://blog.beswandjarum.com/budinugroho/2010/03/22/sejarah-rubiks-cube/

3.       http://zuhrufi-latifah.blogspot.com/2010/04/erno-rubik-pencipta-permainan-rubik.html

Peran Golden Section dalam Estetika Fotografi

Filed under: architecture and other arts — catherineviriya @ 17:09
Tags: , ,

Benarkah dalam Fotografi peranan Golden Section sangat berpengaruh? Apakah dalam melakukan teknik pengabilan gambar harus mengikuti aturan Golden Section baru suatu foto dikatakan proporsional dan memiliki komposisi yang tepat?

Di bawah ini saya melakukan sedikit analisis terhadap empat buah foto yang merupakan karya dari dua orang fotografer ternama di Indonesia yaitu Jerry Aurum dan Nicoline Patricia Malina dan kaitan foto tersebut terhadap Teori Golden Section.

Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic

karya Jerry Aurum                                                                                                                            karya Nicoline Patricia

Dua buah foto di atas yang merupakan contoh pertama ini merupakan hasil karya yang mengikuti kaidah Golden Section, dimana letak objek dititikberatkan pada pusat spiral yang merupakan acuan Golden Section, dari sini terlihat bahwa memang gambar yang mengikuti kaidah ini nampak proporsional dan memiliki nilai estetika yang baik

Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

karya Jerry Aurum                                                                                                                            karya Nicoline Patricia

Kedua foto diatas, masih merupakan karya dari fotografer yang sama dan bila dilihat juga memiliki komposisi yang baik dan proporsional, namun ketika saya memasukkan spiral acuan Golden Section ternyata kedua karya ini tidak mengikuti kaidah tersebut, karena objek yang ada di dalam foto dititikberatkan di tengah bidang foto, bukan pada pusat spiral seperti dua foto yang pertama.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa aturan Golden Section yang berlaku bukanlah sesuatu yang mutlak dan harus diikuti demi mendapatkan hasil yang baik, namun hanya merupakan “garis bantu” untuk menentukan komposisi dan proporsi yang tepat dalam sebuah karya fotografi.

Leonardo Da Vinci : Geometri Tanpa Batas

Leonardo Da Vinci : seorang buta huruf. Benarkah ??? Demikianlah sebaris teks terjemahan yang tersebutkan dalam buku “Sains Leonardo “ karangan Fritjof Capra di baris pertama halaman dua pada bagian pendahuluan. Sebuah buku yang mencuri perhatian saya akan keagungan sejati dari sang Genius Leonardo Da Vinci- sang Penafsir alam semesta yang terus mengiangi pikiran sadar saya dalam kelas Geometri dan Arsitektur. Omo sanza lettere, begitulah kira-kira teks aslinya. Namun, itu bukan soal yang harus digarisbawahi karena quotes itu melainkan hanya semacam ironi dan kebanggaan Leonardo atas metode barunya. Sehingga saya pun ikut tergelitik untuk meng-copy paste teks itu dan menaruhnya pada bagian awal tulisan ini.

Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa Leonardo adalah representasi peradaban sintesis antara sains dan seni, atau lebih ekstrim lagi bahwa sesungguhnya Leonardo adalah pendiri sejati sains modern, bukan Galileo Galilei yang selama ini diagung-agungkan. Mengapa tidak ? andai saja para pemikir ilmiah barat telah menemukan notebook nya yang memuat kurang lebih 13.000 halaman dan langsung mempelajarinya secara detail setelah kematiannya.  Karya-karyanya yang sungguh luar biasa membuktikan kepada kita bahwa betapa imajinasi itu tanpa batas dan bisa melampaui pengetahuan yang ada. Namun, tidak banyak yang tergerak untuk mempelajari karyanya pada masa itu (masa Renaisans) karena belum terekspos, barulah beberapa abad setelah kematian nya, transkrip-transkrip ilmiahnya tergali dan memberikan dentuman yang sangat keras di tiap masanya dengan berbagai karya disiplin ilmu.

Salah satu yang menjadi ketertarikan saya adalah  bagaimana Leonardo mengeksplorasi bentuk geometri dalam kajian ilmiahnya. Ada tiga jenis transformasi kurvilinear yang sering digunakan Leonardo dengan berbagai kombinasi. Pada jenis pertama, sebuah bentuk dengan satu sisi kurvilinear digeser ke sebuah posisi baru sedemikian sehingga kedua bentuk itu saling overlap (lihat gambar 1). Karena kedua bentuk tersebut identik, dua bagian yang tersisa ketika bagian yang dimiliki bersama itu (B) dikurangi, pasti mempunyai luas yang sama (A=C). Teknik ini memungkinkan Leonardo mengubah bidang apa pun yang dibatasi oleh dua kurva identik menjadi sebuah bidang segi empat, artinya, “mengubah menjadi segi empat”.


Transformasi jenis kedua diperoleh dengan memotong sebuah segmen dari suatu bentuk tertentu, misalnya sebuah segitiga, dan kemudian melekarkannya lagi pada sisi yang lain (lihat gambar 2). Bentuk kurvilinear yang baru, mempunyai luas yang sama dengan segitiga awal. Seperti diterangkan oleh Leonardo dalam teks yang menyertainya: “Aku akan mengambil b dari segitiga ab, dan aku akan melekatkannya lagi pada c…Kalau aku melekatkan lagi kepada suatu bidang apa yang telah kuambil darinya, maka bidang itu kembali pada keadaan semula”. Ia sering menggambar segitiga-segitiga kurvilinear semacam itu, yang diberi nama falcate (falcates), diturunkan dari istilah falce, kata dalam bahasa Italia yang berarti sabit (scythe).

Transformasi jenis ketiga Leonardo melibatkan deformasi bertahap dan bukannya gerakan bentuk-bentuk tetap, misalnya, deformasi sebuah persegi panjang, seperti ditunjukkan dalam gambar 3. Kesetaraan kedua bidang datar ditunjukkan dengan membagi persegi panjang menjadi potongan-potongan tipis paralel, dan kemudian mendorong setiap potongan ke posisi baru, sehingga kedua garis lurus vertikalnya berubah menjadi kurva.

<img src="

Leonardo begitu senang dalam menggambar berbagai variasi tanpa akhir persamaan topologis ini, sebagaimana para matetmatikawan Arab pada abad-abad sebelumnya takjub ketika mengeksplorasi berbagai variasi persamaan aljabar. Namun yang khas dalam geometri Leonardo adalah variasi bentuk-bentuk geomteris tanpa batas di mana luas atau volum selalu dipertahankan, dimaksudkan untuk mencerminkan transmutasi tanpa lelah pada bentuk-bentuk alam yang hidup, dalam kuantitas materi yang tak terbatas dan tak berubah.
Satu lagi metode disain yang dapat menjadi terapan dasar eksplorasi kita dalam studio perancangan. Selain itu, tidak menutup kemungkinan kita dapat menemukan ragam bentuk dan konsepsi yang lebih kaya lagi dari tipologi geomteri Leonardo ini. Oleh karena itu, saya menyarankan kenpa kita tidak mencobanya…
(Sumber : Saduran dari buku “Sains Leonardo : Menguak Kecerdasan Terbesar Masa Renasisan” karya Fritjof Capra, 2007)

March 24, 2011

Light Graffiti dan Cahaya yang Bergerak

Filed under: architecture and other arts — klarapuspaindrawati @ 19:45
Tags: , ,

Ketika kita melaju dengan kecepatan tertentu di dalam sebuah mobil pada malam hari melalui sebuah jalan, mungkin kita tidak menyadari bahwa gerakan dari kendaraan yang kta kendarai menghasilkan garis – garis dinamis dari cahaya lampu yang terpancar dari badan kendaraan. Bagaikan menggoreskan warna – warna menarik dari kuas di situasi malam yang gelap, begitulah yang terjadi ketika kendaraan yang meluncur di jalan meninggalkan berkas cahaya di sepanjang jalurnya.

Image and video hosting by TinyPic

Cahaya yang bergerak di sepanjang jalan yang sebenarnya berasal dari kendaraan yang melintas di malam hari pada gambar di atas, tertangkap kamera dan menampilkan gambaran yang sangat menarik, cahaya – cahaya itu seakan sedang memacu kecepatan di atas sebuah jalur. Kesan yang ditampilkan mempengaruhi persepsi kita yang melihat foto – foto yang menangkap kecepatan cahaya ini. Salah satunya, cahaya yang sebenarnya hanya merupakan “jejak” peninggalan gerakan kendaraan itu justru menjadi seperti objek yang sedang melalui jalan, padahal kita tidak akan bisa menyentuh objek tadi.
Persepsi ini lalu dikembangkan dalam light graffiti, salah satu bentuk seni painting yang kini semakin populer. Light graffiti merupakan seni menggambar atau menulis di medium udara pada kondisi ruang atau lingkungan gelap dengan menggunakan benda yang mengeluarkan cahaya, seperti senter. Hasil goresan – goresan itu bisa menjadi sangat menarik, lucu, atau unik sesuai kreasi dari orang yang menggambarnya. Kreasi light graffiti dapat mempengaruhi persepsi orang yang melihat hasil jepretan kamera yang mengabadikannya. Beberapa contoh foto di bawah menunjukkan bagaimana light graffiti mampu membuyarkan batasan antara objek manusia yang dapat disentuh dengan objek cahaya yang tak dapat disentuh yang turut difoto bersama manusia tadi. Bahkan bentukan cahaya – cahaya tadi yang menggambarkan bentuk – bentuk barang yang biasa digunakan oleh manusia atau bahkan hewan peliharaan difoto seakan – akan sedang digunakan oleh manusia, terjadi interaksi antara manusia dan objek bentukan cahaya tadi di dalam foto. Contohnya saja, gaun yang dibentuk dari garis – garis cahaya, orang yang sedang bermain gitar dari cahaya, atau seseorang yang sedang menuntun anjingnya yang berasal dari garis – garis cahaya.

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Lalu, mengapa semakin banyak orang yang tertarik dengan light graffiti? Salah satunya mungkin karena seni ini menawarkan cara baru dalam menggambar dan menulis, yaitu dengan medium udara, bukan lagi kertas atau kanvas. Selain itu, cahaya yang menjadi bahan “cat warna” untuk menggambar juga menjadi daya tarik tersendiri, sifatnya yang bersinar di tengah kegelapan menjadikan lukisan – lukisan yang terdiri dari goresan – goresan cahaya tadi “bersinar”. Tetapi, ada satu syarat yang harus dipenuhi untuk membuat sebuah gambar light graffiti, gambar hanya akan dapat diproduksi dengan tangkapan kamera, hasil dari tangkapan tadilah yang baru bisa dinikmati sebagai light graffiti. Proses produksi gambar, yaitu saat menggores cahaya dengan cara menggerakkan benda yang mengeluarkan cahaya harus dilakukan dengan cepat sebelum jejak cahaya meghilang. Begitu pula saat harus menangkap gerakan benda yang meninggalkan jejak cahaya, prosesnya harus dilakukan dengan cepat sebelum jejak cahaya menghilang dan bentuk objek dengan demikian tidak dapat terbentuk dengan sempurna. Light graffiti merupakan salah satu jenis karya seni yang mendorong kreativitas tinggi dengan teknik yang jitu dan tentunya imajinasi yang memanfaatkan persepsi akan interaksi yang terjadi dengan manusia yang bermain dengan cahaya tersebut.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Light_painting

http://www.google.co.id/imglanding?q=speed+of+light&um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=fF5SC91yiwB5JM:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbm=isch&tbnid=E09Y0jkGg27w9M:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=H988GY47x3xrgM:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=cPeCb2DyknYBHM:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=_5ZSR1NjaxaUpM:&imgrefurl

Cara Unik Menciptakan Ruang Apapun

Filed under: perception — Ryan Tjahjadi @ 06:36
Tags: , , , ,

Saya tertarik ketika membaca sebuah artikel mengenai sekelompok orang yang membuat ruang arsitektural hanya dengan menggunakan lukisan 2 dimensi. Mungkin anda juga pernah mendengar mengenai hal ini. Berikut contoh-contoh karya yang mereka lakukan..
Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Saya terkagum-kagum melihat hasil-hasil karya ini. Tentunya ini merupakan sebuah ilusi yang dapat membuat ruang yang sebenarnya tidak ada menjadi terlihat ada.

Secara tidak langsung , hal ini mempengaruhi persepsi visual kita. Atau mungkin lebih tepatnya mengecoh persepsi visual. Orang-orang yang membuat hal ini tampaknya paham betul mengenai teori persepsi Gestalt dan Gibson. Di satu sisi mereka membuat komposisi dan karya ini di bidang 2 dimensi untuk mengubah persepsi orang (gestalt). Namun di sisi lain mereka tetap sadar bahwa mereka hidup di dunia 3 dimensi (gibson) dan dengan cara sedemikian rupa dapat membuat apa yang dibuat secara 2 dimensi ternyata dapat dinikmati sebagai 3 dimensi.

Jika saya perhatikan, yang mereka lakukan hanya mengikuti garis perspektif mata kita. Lalu dimana garis itu berhenti pada suatu bidang , maka mereka meneruskan garis perspektif mata kita itu dengan menggambarkannya pada bidang tersebut. Sehingga garis perspektif kita pun tampak tidak lagi terhalang oleh bidang itu melainkan dilanjutkan. Ruang pun akan tampak lebih luas sebab garis perspektif kita bertambah panjang.
Image Hosted by ImageShack.us
Tidak hanya memperluas ruang, mereka juga dapat mempersempitnya. Saya perhatikan cara mereka mempersempit yaitu dengan memblokir garis perspektif mata kita. Biasanya dengan cara menggambarkan objek pada lantai di depan bidang. Sehingga garis perspektif kita akan terhenti pada objek itu sebelum mencapai bidang yang sebenarnya.
Image Hosted by ImageShack.us
Hal ini membuat saya berpikir bahwa saya dapat menciptakan ruang apapun yang saya inginkan hanya dengan memainkan perspektif dengan objek 2 dimensi saja. Ruang yang tadinya sempit dapat dibuat luas. Ruang yang tadinya luas dapat dibuat seolah sempit. Ruang yang tadinya tertutup dapat dibuat seolah sangat terbuka. Semua itu berkat permainan perspektif saja.

Yaa.. walaupun memang jika karya-karya ini dilihat dari sudut yang salah maka karya ini akan kehilangan esensinya (lebih banyak mengarah ke Gestalt daripada Gibson). Namun hal itu tentunya dapat diakali dengan mengatur ruang sedemikian rupa suatu ruang agar orang-orang terarahkan untuk melihat dari sudut perspektif yang diharapkan.

Sumber: http://weburbanist.com/2007/10/10/3d-architectural-illusions-amazing-paintings-murals-and-mosaics/

Fractal in Traditional Art

Filed under: architecture and other arts,locality and tradition — austronaldo @ 06:34
Tags: ,

Fraktal, secara sederhana, merupakan konsep matematika yang membahas kesamaan pola pada semua skala. Jadi pola yang sama dapat diulangi dalam skala yang berbeda. Ketika mendengar disebutnya keterkaitan fraktal dengan batik di mata kuliah lain, saya menjadi tertarik untuk mengetahui lebih detail mengenai batik fraktal ini. Ternyata dibalik karya seni tradisional yang indah terdapat logika matematis berupa pola-pola yang tercipta dan dapat diterjemahkan lagi ke dalam software untuk menciptakan pola-pola baru.

Contoh: “E=[A][B][C][D],A=C+FAE,B=C-FBE,C=C?FCE, D=C&FDE” artinya lambang [ ] menandakan percabangan, ‘+’, ‘-‘, ‘&’, ?, menandakan sudut dalam 3 dimensi.
Pola batik yang sudah diterjemahkan dalam rumus fraktal ini dapat dimodifikasi dengan bantuan teknologi komputer sehingga menghasilkan desain pola baru yang sangat beragam. Kita bisa melihat keragaman dari segi grafis, warna, ukuran, sudut dan perulangannya. Disebutkan bahwa fraktal muncul sebagai tanda keteraturan dalam kekacauan (chaos) dalam suatu sitem yang kompleks. Jadi batik memiliki pola yang kompleks dan dapat disederhanakan dengan menggunakan fraktal. Begitu juga alam yang kompleks di dunia ini dapat disederhanakan dengan menggunakan fraktal. Hal ini terkait dengan law of pragnanz pada teori persepsi gestalt dimana orang cenderung untuk mempersepsikan esensi dari suatu objek. “Reality is organized or reduced to teh simplest form possible” – Law of Pragnanz

Batik fraktal ini menggunakan rumus matematis, maka pengolahan dan pengembangan desain selanjutnya akan lebih mudah dan lebih banyak mendapatkan variasi desain yang berbeda dan sangat cepat sekali bila dibandingkan dengan langkah mendesain secara manual. Dengan batik fraktal ini, kita bisa memperbesar dan memperkecil gambar, membuat simulasi gambar, membuat visualisasi desain dengan tiga dimensi sehingga desain batik yang dihasilkan bisa lebih variatif.

Maka saya bisa membuat suatu kesimpulan bahwa pola dapat dirumuskan. Pola dapat diterjemahkan dalam rumusan matematis. Dengan demikian pola-pola lain dapat ditemukan.
Lalu saya menemukan bangunan-bangunan yang menggunakan unsur batik dalam desainnya dimana batik digunakan pada bagian surfacenya. Bentuknya memang kotak namun permainan batik fraktalnya secara kosmetik atau pada bagian kulitnya saja. Inilah contoh yang saya temukan.

Apabila kita melihat pola batik pada kulit bangunan, pola yang digunakan mengikuti pola yang cukup sederhana dan tidak sekompleks pola batik yang ada pada umumnya.
Lalu pada interior Hotel Hilton di Bandung, kita bisa melihat penerapan pola geometris Batik Jawa pada ukiran tekstur tembok yang terbuat dari batu.
Ataupun penerapannya pada bentuk seperti pada contoh karya instalasi ‘A Swirl of Giant Batik’ pada London Festival of Architecture.

Referensi:
Kudiya, Komarudin. Proses Pembuatan Batik Fractal vs Batik Tradisional http://netsains.com/2009/10/proses-pembuatan-batik-fractal-vs-batik-tradisional/

http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=250006&page=67

http://jakartalifestyle.com/news/2010/July/jakarta-news-batik-represents-ri-in-london-festival-of-architecture.html

Institut Teknologi Bandung. “Mathematics in Batik Fractal”, Kombinasi Seni, Sains, dan Teknologi. http://www.itb.ac.id/news/2262.xhtml

March 23, 2011

Platonic Solid dan Origami

Filed under: architecture and other arts — triwahyuni89 @ 21:46
Tags: ,

Platonic solid  yang kita kenal adalah suatu bentuk-bentuk seperti tetrahedron, octahedron, kubus, dan lain-lain. Pengaruh platonic solid pun nyatanya banyak dijumpai dikehidupann sekitar kita, misalnya saja adalah bola, bila melihat runutannya, platonic solid merupakan gabungan dai beberapa bidang. Hal yang sama terjadi dengan bola yang sering kita gunakan untuk bermain sepak bola. Bola yang sering kita jumpai ini pun merupakan gabungan dari beberapa bidang segi enam. Pada kenyataannya platonic solid banyak di temukan pada kerajinan origami, baik dengan permainan bidang, maupun permainan struktur yang akhirnya mempenunjukkan bentuk platonic solid.

Sebut saja kusudama, origami bola ini termasuk pada platonic solid dengan permainan bidang, kebanyakan digunakan sebagai hiasan gantungan handphone ataupun lampion.

“kusudama”

Ternyata bukan hanya kusudama saja, origami lain yang memiliki pendekatan dengan platonic solid adalah kantenmodul dan juga sham origami, keduanya lebih terlihat dengan permainan struktur atau rangka-rangka pembentuk bentukan platonic solid.

“sham origami”

Yang menarik dari bentuk-bentuk ini, mereka memiliki modul bidang segitiga yang dikenal dengan bentuk yang paling kuat strukturnya.  Seperti pada bola pun yang merupakan gabungan beberapa bidang segi enam, bila di pecah lagi, segi enam sendiri terdiri dari enam bidang segitiga.

Bentuk-bentuk platonic solid ini pun menjadi ide dalam arsitektur. Contohnya saja bangunan yang sangat terkenal, yaitu piramida yang berbentuk platonic solid limas segitiga.

Ikebana: Bentuk Kecantikan dari Keasimetrisan dan Kekosongan

Filed under: architecture and other arts — klarapuspaindrawati @ 15:49
Tags: , ,

Ikebana, seni merangkai bunga yang berasal dari Jepang merupakan salah satu metode merangkai bunga yang kaya akan nilai seni serta filosofi. Dari sejarahnya, seni merangkai bunga ini muncul di abad ke enam, ketika ajaran Buddha masuk ke Jepang. Salah satu bagian dari ritual di dalam agama Buddha adalah merangkai bunga di altar sebagai persembahan untuk roh – roh orang yang sudah meninggal. Ikebana berasal dari padanan kata ikeru, yang berarti menempatkan atau menyusun kehidupan dan kata hana yang berarti bunga, seni ini mulai dikembangkan di Jepang sejak abad ke 15.

Ikebana memiliki perbedaan pada seni merangkai bunga pada umumnya yang menekan pada komposisi warna yang menarik dari kelopak – kelopak bunga dengan bentuk yang juga beragam. Ikebana justru menekankan pada bagian tangkai dan daun bunga dengan jumlah bunga dalam satu rangkaian diminimalkan. Struktur yang digunakan dalam merangkai bunga adalah geometri dari scalene triangle, atau yang kita kenal dengan segitiga sembarang. Struktur segitiga sembarang ini memiliki filosofi mengenai unsur – unsur pembentuk kehidupan: surga, bumi, dan manusia, atau menggambarkan matahari, bulan, dan bumi.

Beberapa aturan yang diterapkan dalam ikebana adalah:
1. Menggunakan jumlah bunga yang minimal dibanding jumlah tangkai dan daunnya.
2. Layer rangkaian bunga diminimalkan, sehingga akan menampilkan banyak ruang kosong .
3. Penekanan dalam komposisi diberikan pada garis pemberi bentuk.
4. Mengacu pada imajinasi bentuk segitiga sembarang dan asimetri.
5. Perangkai bunga harus dalam situasi hening saat sedang merangkai sebagai wujud rasa hormat terhadap alam dan meresapi alam sebagai pemberi ketenangan bagi pikiran, jiwa, dan tubuh.

Image and video hosting by TinyPic

Dari komposisi dan metode yang diterapkan pada seni ikebana, sebenarnya terkandung beberapa filosofi yang mengajarkan berbagai makna hidup. Dari proses pembuatannya, ikebana mengajarkan ketenangan bagi perangkainya dengan penghayatan terhadap benda alam sebagai sumber ketenangan hidup. Konsep kata Ma, merupakan konsep mengenai kekosongan yang diterapkan pada ikebana. Ma, berarti kosong, ruang void. Kekosongan dalam hal ini menajdi poin utama, hal yang ditonjolkan sebagai sumber energi. Ruang kosong yang terbentuk di dalam rangkaian meemberikan kehidupan bagi bunga – bunga yang dirangkai karena dengan demikian ada ruang – ruang untuk bernafas. Dalam kehidupan, ruang kosong dalam jiwa dan pikiran dibutuhkan untuk menjauhkan diri dari tekanan dan kondisi stres. Ruang kosong pada rangkaian ikebana menjadi penghubung elemen – elemen penyusun yang digunakan dan menciptakan keutuhan. Komposisi asimetris dalam ikebana justru menciptakan keseimbangan dan menggambarkan keasimetrisan sebagai hal yang terjadi secara natural pada benda – benda alam. Ikebana memang bentuk kesenian yang sangat berkaitan dengan penenangan jiwa baik bagi perangkai, maupun bagi orang yang melihat hasil karya ikebana melalui komposisi garis dan keseluruhan elemen rangkaian.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Ikebana

http://www.presentationzen.com/presentationzen/2009/09/0-design-lessons-from-ikebana.html

http://www.suite101.com/content/ikebana-flower-arranging-a98237

http://www.essortment.com/ikebana-flower-arranging-58233.html

http://outsiderjapan.pbworks.com/w/page/24318046/Ikebana

http://www.google.co.id/imglanding?q=ikebana&um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=jKnLVK9XIlbL_M:&imgrefurl

Mess is the Law

Filed under: contemporary theories — buyunganggi @ 15:41
Tags: ,

Tulisan ini akan membahas tentang architectural mess yang dimaksudkan oleh Jeremy Till dalam bukunya Architecture Depends. Saya mencoba membahasnya dengan cara membandingkan antara mess yang dimaksud olehnya(Till) dengan pengertian mess oleh dua arsitek lain(Leach & Harries).

Architecture depends… on what? Begitulah pertanyaan yang langsung muncul di pikiran saya ketika membaca judul buku yang ditulis oleh Jeremy Till, Architecture Depends. Arsitektur bukan merupakan sebuah disiplin ilmu yang bisa berdiri sendiri. Buku ini menjelaskan bagaimana seharusnya sebuah arsitektur itu bisa bekerja dengan baik, dengan memperhatikan segala aspek yang terdapat di dunia nyata. Realita kehidupan sehari-hari masyarakat – yang mengokupansi ruang – merupakan fokus utama dalam memproduksi sebuah arsitektur yang baik.

“But architects will deserve this attention only if they give up their delusions of autonomy and engage with others in their messy, complex lives. Then, maybe, mess will be the law“.(Till, 2009)

Jika Mies van de Rohe menyatakan “Less is More”, sedangkan Robert Venturi membantahnya dengan “Less is Bore”, maka Jeremy Till muncul dengan sesuatu yang baru, “Mess is the Law”. Till menekankan tentang mess yang dihasilkan oleh masyarakat kita, bukan merupakan sebuah ancaman bagi sebuah arsitektur. Akan tetapi, merupakan sebuah kesempatan bagi arsitek untuk menyelesaikanya(secara spasial).

“I am only suggesting that contingency is a pivotal feature, and needs to be taken into account rather than avoided as a potential threat. In this contingency situates us in the real world, providing opportunities for transformative change while avoiding the siren calls of ideals”.(Till, 2009)

Pada akhirnya, architectural mess menghasilkan, dalam sebuah masyarakat tertentu, sebuah contingency. Contingency merupakan gabungan antara sebuah keadaan yang sebenarnya/realita dengan sebuah kemungkinan(Hegel,1969). Menurut Till(2009), kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di dalam realita masyarakat kita inilah yang seharusnya diperhatikan oleh para arsitek. Hal yang demikian akan menghindarkan arsitektur dari sesuatu yang ideal, karena sesuatu yang ideal belum tentu merupakan sesuatu yang dibutuhkan.

“Where order and certainty close things down into fixed ways of doing things, contingency and uncertainty open up liberating possibilities for action. In this light contingency is more than just fate; it is truly an opportunity”.(Till, 2009)

Ketika architectural mess melahirkan sebuah contingency, hal tersebut bukan merupakan sebuah ancaman bagi arsitektur. Sebuah kemungkinan justru akan menghasilkan suatu kesempatan yang memicu kreativitas. Lebih lanjut, Till(2009) menganalogikan cara arsitek untuk menyelesaikan kesempatan-kesempatan tersebut, yaitu dengan menjadi Angels with Dirty Faces yang mengibaratkan arsitek merupakan seorang malaikat yang dapat pergi kemana saja bahkan sampai ke kedai-kedai kopi untuk mengamati realita kehidupan masyarakat yang menjadi obyek utama bagi asitektur.

“They then sweep down, colored and embodied, discursive and slightly grubby as they drink cheap coffee from street stalls. It is movement from on high to low and back again that is necessary for architectural angels if one is not going to get overwhelmed by the brute realities of the everyday world”.(Till, 2009)

Dari pembahasan di atas, Jeremy Till lebih menitikberatkan architectural mess yang bersumber dari social lives. Bagaimana dengan arsitek-arsitek lainnya?

“Architects have become increasingly obsessed with image and image-making, to the detriment of their discipline. The sensory stimulation induced by these images may have a narcotic effect that diminishes social and political awareness, leaving architects cosseted within their aesthetic cocoons, remote from the actual concerns of everyday life”. (Leach, 1999)

Neil Leach(1999) mencoba memberikan konteks yang berbeda kepada architectural mess. Menurutnya, akan sangat tidak benar jika para arsitek hanya memikirkan tentang image di dalam sebuah arsitektur. Mess dalam konteks ini lebih menekankan tentang mess yang hadir akibat salah persepsi oleh sang arsitek sehingga menghasilkan sebuah karya arsitektur yang dapat merusak kehidupan sosial budaya masyarakat. Dalam hal ini, mess merupakan sebuah hasil dari suatu tindakan yang dilakukan oleh arsitek.

“Architecture along the principles of functionalism, programmatic, determinism, and technological expressionism, produce building, without connection to site & place, the human being, and history ”.(Harries, 1997)

Karsten Harries(1997) berpendapat bahwa architectural mess adalah apa yang dilakukan oleh para arsitek modernism. Menurutnya, mass production sangat tidak humanis. Oleh karena itu, arsitektur harus lebih memperhatikan manusia yang akan menggunakannya.

Dari ketiga pendekatan tentang architectural mess di atas, masing-masing memang memiliki konteks yang berbeda. Jeremy Till memberikan penekanan bahwa mess yang ada pada masyarakat kita merupakan obyek yang harus dipahami agar menghasilkan sebuah arsitektur yang baik. Sementara Neil Leach menekankan bahwa interpretasi seorang arsitek yang salah terhadap suatu obyek akan menghasilkan mess dalam masyarakat tersebut. Sedangkan Karsten Harries berpendapat bahwa mess akan terjadi jika arsitek tidak memperhatikan manusia sebagai aktor utama dalam arsitektur.

Gambar Apa Ini???

Filed under: perception — androkaliandi @ 15:39
Tags: , , ,

Image and video hosting by TinyPic

Pada gambar A dan B kita cenderung belum mengetahui benda apa yang ditangkap kamera. Kita menebak gambar adalah sumber cahaya, bulan atau lampu. Dengan gambar C kita sudah dapat mengenal benda apa yang terpapar yakni lampu downlight, namun belum jelas geometri tiga dimensional-nya. Karena saya memotret secara orthogonal, kita cenderung menebak lampu downlight bundar yang tertanam di plafon. Ketika kita telah melihat gambar D, kita tidak hanya tahu benda apa yang terpapar, tetapi kita juga tahu bentuk geometrinya (tabung). Ternyata lampu downlight-nya tidak ditanam di plafon, tetapi justru muncul keluar dari plafon. Berbeda dengan gambar C yang saya potret secara orthogonal, gambar D saya potret secara perspektif. Apabila ketika memotret gambar C, saya memosisikan diri tegak lurus dengan objek (lampu). Namun ketika memotret gambar D, saya memposisikan diri lebih bebas dari objek. Ketika saya mengamati objek lebih bebas, saya lebih dapat memahami benda secara keseluruhan. Mungkin hal serupa juga yang dikritik Gibson tentang teori Gestaalt. Ketika Gestaalt mengalami persepsi visual secara dua dimensional, maka Gibson mengajukan teori persepsi tiga dimensional. Karena memang manusia mengalami ruang secara tiga dimensional. Gambar A dan B saya potret ketika malam hari, lampu sedang dalam keadaan menyala. Gambar A saya potret secara orthogonal, sedangkan gambar B saya potret secara perspektif. Meskipun saya memotretnya dengan dua cara, orthogonal dan perspektif, tetapi keduanya nampak seperti gambar dua dimensional. Mengapa? Menurut saya hal ini dapat dihubungkan dengan jenis lampu, yakni downlight. Lampu downlight memberikan cahaya ke arah bawah (lantai), sehingga tidak memberikan kesempatan plafon mendapat cahaya langsung, kecuali dari pantulan lantai. Selain itu warna juga memberikan pengaruh. Warna hitam pada plafon sifatnya menyerap cahaya, bukan memantulkan. Sehingga ketika saya memotret lampu dari bawah, yang tertangkap oleh kamera adalah gambar cahaya dengan latar hitam (kegelapan). Dengan demikian bentuk tabung tiga dimensional tidak nampak, meskipun dipotret secara perspektif. Sepertinya ada kesempatan untuk melakukan manipulasi ruang dengan permainan cahaya. Dan kita perlu banyak belajar dari James Turrel: “what we see is not depth as such but one thing behind another”

Konsep Dimensi Pada Film Animasi

Filed under: contemporary theories — andreatheodore @ 15:35
Tags: ,

Tulisan ini bertujuan memaparkan dan membandingkan pemahaman konsep dimensi pada tiga contoh film animasi Jepang. Tulisan ini bertujuan sekadar memberikan gambaran pandangan orang lain terhadap konsep perbedaan dimensi melalui karya film fiktif.

Contoh 1: Pokemon

Film animasi Pokemon pada seri generasi keempatnya menampilkan monster-monster yang memiliki kemampuan untuk berpindah dimensi. Gambar di bawah ini menunjukkan satu atau dua monster Pokemon yang sedang melakukan perpindahan dimensi. Adapun jalur mereka berpindah pada gambar tersebut melalui suatu lubang temporal yang diciptakan oleh kekuatan monster tersebut.

Dalam serial animasi Pokemon, dimensi digambarkan sebagai satu dunia yang sebenarnya sama, namun berbeda ruang dan waktunya. Ada monster yang diceritakan menguasai suatu dimensi. Mereka sebenarnya berada dalam satu dunia yang sama, namun bisa melihat dimensi-dimensi lain yang digambarkan dengan gelembung (bubble).

Mereka dapat berpindah keberadaannya dari dunia satu ke dunia lain melalui suatu jalur penghubung dan jika kita melakukan sesuatu terhadap bubble dimensi tersebut, maka pada dimensi tersebut akan terjadi fenomena aneh seperti benturan antar ruang yang tidak terlihat dan distorsi waktu. Di salah satu filmnya, tokoh protagonisnya mampu merubah kejadian di masa depan dengan kembali ke masa lalu, namun ia tidak dapat menemui dirinya sendiri pada masa lalu, karena dapat mengakibatkan distorsi.

Contoh 2: Doraemon

Konsep dimensi pada film animasi Doraemon terlihat jelas pada penggunaan mesin waktu berupa sejenis kendaraan yang bisa menjelajahi lorong waktu, dengan pintu masuknya dari laci meja Nobita. Hal ini berarti manusia dapat kembali ke masa lalu dan melakukan sesuatu seperti pada film Pokemon, namun tindakan mereka tidak akan merubah masa depan. Bagaimana hal ini terjadi?

Di dalam filmnya diceritakan Doraemon dan Nobita sudah tahu masa depan yang akan terjadi. Mereka pun kembali untuk mencoba merubahnya. Ia kembali ke masa lalu. Namun, sebelum ia kembali menuju masa lalu, ia akan bertemu diri mereka sendiri yang datang dari masa depan untuk melakukan sesuatu di masa lalu mereka. Jadi, meskipun mereka berniat merubah masa depan, tindakan yang mereka lakukan ternyata akan sesuai dengan masa depan yang sebenarnya.

Jadi, di film ini dimensi yang berbeda dapat dicapai melalui lorong waktu, dan mereka dapat hadir pada ruang yang berbeda pada waktu bersamaan.

Konsep ini juga terlihat dari ‘pintu ke mana saja’. Pintu ini memutus jarak antar tempat, sehingga mereka dapat berpindah dengan cepat ke ruang dan waktu yang berbeda, namun rentangnya tidak sejauh mesin waktu.

Konsep dimensi lain juga terlihat pada kantong ajaib doraemon yang dapat menyimpan benda-benda ajaib milik doraemon dalam jumlah tak terbatas. Dalam suatu situs internet disebutkan bahwa kantong ini benda berdimensi 4 yang berukuran tanpa batas. Jadi, ada pemahaman bahwa konsep wujud 4 dimensi adalah ruang yang tak terbatas.

Contoh 3: Dragon Ball

Konsep dimensi pada film animasi Dragon Ball Z terlihat melalui penggunaan Time Machine. Time Machine adalah mesin yang diciptakan oleh ‘Bulma masa depan’ untuk digunakan oleh ‘Trunks masa depan’ agar dapat bepergian menuju masa depan ataupun masa lalu.

Ketika berkelana kembali ke masa lalu, Time Machine ini menciptakan aliran waktu yang baru yang bercabang dari waktu yang seharusnya. Setiap perubahan yang terjadi ketika kembali ke masa lalu akan berpengaruh pada masa depan pada aliran waktu yang baru.

Jadi, pada film ini, dimensi dijelaskan terpisah berdasarkan waktu dengan ruang yang sama. Saat Trunks masa depan (remaja) kembali ke masa lalu, ia bertemu dengan Trunks saat ini (present) yang masih kecil. Seseorang dapat bertemu dengan dirinya sendiri, namun tidak dalam waktu yang sama.

Dimensi dipisahkan oleh waktu, namun tetap pada ruang yang sama. Hal ini berbeda dari Pokemon yang memisahkan ruang dan waktu antar dimensi dengan bubble-buble. Selain itu, film Dragon Ball ini menciptakan 2 jalur masa depan. Masa depan yang seharusnya terjadi tidak berubah dan tetap terjadi, namun terpisah dari dunia masa depan yang tercipta akibat pengaruh perubahan tindakan manusia yang kembali ke masa lalu.

Tokoh-tokohnya dapat hadir pada ruang yang berbeda pada waktu bersamaan maupun pada waktu yang berbeda dalam ruang yang sama, karena jalur waktu dapat mengalami percabangan.

Dari ketiga contoh ini dapat dilihat pemahaman yang sedikit berbeda, namun semuanya membahas dimensi yang berbeda melalui variabel ruang dan waktu.

Organic Order?

Filed under: locality and tradition — buyunganggi @ 15:34
Tags:

Pada awal Februari 2011, saya pertama kali datang ke angkringan(tempat makan/warung kopi khas Jogja) di salah satu sudut di jalan Margonda. Angkringan tersebut mereproduksi teras/trotoar sempit di depan sebuah showroom mobil. Saat itu hanya terdapat gerobak makanan dan dua buah tikar gulung yang di gelar di samping gerobak, plus dua orang mas-mas pramusaji. Seminggu kemudian, tikar gulung bertambah menjadi empat. Dan beberapa hari berikutnya, ketika saya kembali lagi berkunjung, sudah terdapat kantilever sederhana yang terbuat dari terpal plastik yang disambungkan ke atap showroom sebagai penahan tampias air hujan.

Seorang tukang parkir, 6 tikar plus tikar cadangan, dan tambahan pramusaji adalah perkembangan angkringan ini ketika saya kembali dua hari berikutnya. Dan puncaknya, akhir bulan Februari, terdapat 8 tikar gulung(plus cadangan, dengan catatan tidak memungkinkan lagi digelar karena sudah sampai batas toko sebelah yang masih buka pada malam hari), sekitar 5 orang pramusaji, 2 orang tukang parkir(di kiri kanan sudah ada tanda batas parkir dari toko sebelah, saking penuhnya), panahan tampias yang lebih lebar, serta pangamen dan pengemis yang berdatangan silih berganti. Terhitung hanya sekitar sebulan angkringan ini menjadi salah satu tujuan favorit masayarakat sekitar. Lalu apa sebenarnya yang melatarbelakangi hal ini?

Jika dilihat secara kasat mata, fenomena keramaian tempat makan ini merepresentasikan keberhasilan dari si penguasaha warung ini dalam berbisnis maupun berarsitektur. Bagaimana pun, sebelum membuka angkringan ini sang pemilik pasti telah memikirkan hal-hal mengenai para calon konsumen maupun konteks sosial  serta keruangan yang ada di tempat tersebut, walupun mungkin hanya secara sederhana. Akan tetapi, yang patut dipertanyakan, kenapa angkringan yang berasal dari Jogja bisa begitu cepat diterima dan cukup berhasil menarik minat masyarakat Jakarta. Padahal, Christoper Alexander (1977) mengatakan “it is shown there, that towns and buildings will not be able to become alive, unless they are made by all the people in society, and unless these people share a common pattern language, within which to make these buildings, and unless this common pattern language is alive itself .“ Dengan kata lain, sebuah bangunan akan bisa menjadi hidup jika bangunan tersebut dibuat sendiri oleh orang-orang yang ada dalam sebuah masyarakat tertentu, dan jika masyarakat tersebut memiliiki sebuah pemahaman yang sama mengenai ‘pola bahasa’ untuk membuat bangunan ini, dan dan juga jika ‘pola bahasa’ (atau mungkin juga bisa disebut budaya/kebiasaan setempat) ini harus tetap lestari di tengah-tengah masyarakat tersebut.

Dalam the Oregon Experiment (Alexander, 1975), disebutkan bahwa organic order is the kind of order when there is a perfect balance; between the needs of the parts, and the needs of the whole. Mungkinkah angkringan tersebut telah meyeimbangkan order yang ada di jalan Margonda? Atau kah prinsip partisipasi(Alexander, 1975) berperan dalam hal ini?

Sebenarnya, tidak diperlukan orang Jogja untuk membangun dan kemudian mereka nikmati sendiri angkringan tersebut. Berpegang pada prinsip user – oriented, Muf Art & Architecture, dalam Occupying Architecture(Hill, 1998), berhasil membangun sebuah shared ground yang mengakomodir kebutuhan masyarakat sekitar, the Tate(Museum baru yang melatarbelakangi dibangunnya shared ground), serta masyarakat baru yang akan mnendatanginya. Muf mewawancarai 100 penduduk lokal, bertanya tentang keinginan mereka terhadap pembangunan shared ground yang sesuai menurut mereka. Video rekaman ini kemudian dikenal dengan “100 desires for SouthWark Street”. Mengacu pada strategi ini, sebenarnya hanya diperlukan pengenalan terhadap konteks sosial, politik, dan material yang mendalam terhadap sebuah masyarakat agar arsitektur yang kita hasilkan dapat berfungsi dengan baik(Brandt, 1998).

Origin of Geometry

Filed under: classical aesthetics — adefadli14 @ 15:33
Tags:

Geometri berasal dari bahasa Yunani  geōmetrein yang memiliki arti mengukur bumi. Bapak dari geometri yaitu Euclid atau Eukleidēs (sekitar 325 SM – sekitar 265 SM) dalam tulisannya “The Element” yang menjadi referensi utama dalam bidang geometri hingga abad ke – 20 menjelaskan mengenai Geometri yang kini dikenal dengan Euclidean geometry. Sekitar 2000 tahun setelah dibuatnya “The Element” geometri mengalami perkembangan dimana pada abad ke – 19 muncul non-Euclidean geometry. Dengan perkembangan yang terjadi, apakah obyek ilmu geometri tetap bumi, dimensi ruang dan waktu, atau ada obyek lain yang menjadi dasar pembelajaran dari ilmu geometri.

Geometri yang pertama kali dikenalkan oleh Euclid yang kini dikenal dengan Euclidean geometry adalah sebuah cabang ilmu dalam matematika yang mempelajari bentuk n-dimensi (gambar 1a). Sedangkan non-Euclidean geometry mempelajari bentuk yang tidak lurus melainkan melengkung (gambar 1b).

www.freeimagehosting.net

 

Pada abad ke-19 Felix Klein Erlangen mendefinisikan obyek geometri sebagai sesuatu yang tidak berubah saat dilakukan sebuah sistem transformasi pada obyek tersebut. Pendekatan yang dilakukan Klein pada geometri ini menjadi dasar matematika dan fisika pada abad ke-20. Sesuatu yang tak berubah seperti apakah yang dimaksud oleh Klein? Pada buku “Shape as Memory a Geometric Theory of Architecture” karangan Michael Leyton dijelaskan bahwa dasar dari geometri Euclid adalah gagasan bentuk kongruen. Sebuah bentuk kongruen dengan bentuk lainnya jika saat ditransformasi bagian – bagian pada bentuk tersebut letaknya saling bertepatan. Misalnya terdapat 2 buah segitiga (gambar 2a) dan untuk membuktikan kedua segitiga tersebut kongruen atau tidak maka harus dilakukan sebuah transformasi dalam hal ini rotasi. Saat kedua segitiga bertemu (gambar 2b), kedua segitiga letak setiap elemennya saling bertepatan dan tak terjadi perubahan pada bentuknya dimana segitiga tersebut tetap memiliki tiga sisi dan sudut yang sama besar hanya saja arahnya yang kini telah berubah yaitu segitiga yang sebelumnya mengarah ke atas kini mengarah ke bawah.

www.freeimagehosting.net

 

Perubahan arah yang berhubungan dengan waktu cenderung bagian dari ilmu fisika relativitas dimana perubahan waktu dan pengamat suatu bentuk akan berpengaruh pada bentuk bangun yang menimbulkan geometrization of physic. Ilmu tersebut merupakan pengembangan program geometri Klein namun saya simpulkan bukan bagian dari geometri karena obyek geometri, tetap berpatokan pada definisi Klein, adalah bagian sisi dan sudut segitiga yang tidak berubah. Sesuatu yang tidak berubah saat dilakukan sebuah sistem transformasi pada obyek tersebut.

Referensi

Leyton , Michael. 2006.  Shape as Memory a Geometric Theory of Architecture. Birkhäuser:Basel

http://www.merriam-webster.com/dictionary/geometry

Next Page »

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.