there’s something about geometry + architecture

June 5, 2011

Geometri dalam Hairdressing

Filed under: architecture and other arts — klarapuspaindrawati @ 22:52

Ketika berkunjung ke salon rambut beberapa hari lalu, saya tertarik dengan buku bacaan untuk tamu yang menjelaskan tahapan dalam melakukan hairdressing, atau memotong rambut dengan gaya potongan yang beraneka ragam. Dalam buku tersebut tampak bagaimana para stylist memotong rambut para model dengan teknik yang tidak mudah. Setelah mencoba membaca keterangan di setiap tahapan pemotongan, ternyata terdapat beberapa prinsip dalam geometri yang juga digunakan dalam teknik hairdressing. Ketika melakukan hairdressing, stylist perlu membuat section – section pada rambut atau pembagian dan pemisahan area potong. Pembagian area potong ini tidak dilakukan sembarangan, ada aturan yang harus diperhatikan, misalnya bagian tengah garis kepala (sumbu vertikal) yang menentukan keseimbangan potongan rambut. Section seringkali juga digunakan untuk mengenali sumbu – sumbu alami area rambut yang ada pada klien.

Image and video hosting by TinyPic

Stylist juga harus sangat teliti memperhatikan sumbu – sumbu potong yang digunakannya untuk membentuk sebuah gaya potong tertentu, di mana biasanya sumbu potong tersebut berupa garis horisontal atau diagonal. Saat sedang menggunting rambut, stylist harus menjaga agar potongannya tetap lurus, yaitu dengan menggunakan jari tangannya sebagai semacam penggaris.

Image and video hosting by TinyPic

Hairdressing merupakan salah satu keterampilan yang mengandalkan keterampilan yang berhubungan dengan estetika, karenanya sangat penting untuk mencocokkan terlebih dahulu gaya rambut yang akan ditata dengan bentuk wajah dan bentuk bagian – bagian wajah dari klien. Salah satu gaya potong yang banyak dipilih oleh wanita adalah gaya potongan yang menggunakan layer. Layer yang dikreasikan oleh stylist bukanlah sabuah tampilan mandiri, melainkan bersama layer – layer lain membentuk sebuah gaya potongan rambut yang berupa interkoneksi antar layer secara gradual. Walaupun tidak bisa tampil mandiri, setiap layer rambut sangat berperan dalam mendukung berhasil atau tidaknya sebuah gaya potongan. Bila setiap layernya berhasil dibuat, maka interkoneksi yang terjadi akan menjadi sempurna. Untuk menciptakan gaya potong yang akurat, bahkan arah pandang stylist yang membentuk persepsi terhadap potongan rambut menjadi sangat penting, karenanya stylist harus berulang kali dari beberapa arah memeriksa sepanjang proses pemotongan rambut apakah potongan yang dibuatnya sudah cukup baik dan seimbang, atau rata. Karena teknik dalam hairdressing memang cukup rumit, tidak heran apabila di salon – salon profesional yang sudah memiliki stylist yang terlatih dalam hairdressing, biaya yang dipatok untuk kliennya bisa cukup tinggi.

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Sumber: http://www.hairdressing-training.co.uk/cut/step27.htm?27

Arsitektur dan Sabun

Filed under: nature and architecture — austronaldo @ 22:50
Tags: ,

“Nature is not copied but made comprehensible”- Frei Otto
Mengutip pernyataan dari seorang arsitek Jerman- Frei Otto, kita dapat mempelajari bahwa arsitektur dapat menjadi suatu alat untuk memahami kekuatan-kekuatan alam yang terjadi di sekitar kita. Ketika kita berbicara mengenai sabun, kita mengasosiasikannya dengan air, mandi, licin, busa dll. Namun terdapat karakteristik dari sabun yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata dan juga tidak dapat kita rasakan begitu saja. Karakteristik tersebut misalnya adalah bagaimana sabun dapat terbentuk dan bagaimana bubbles yang dihasilkan dapat mempertahankan bentuknya yang bulat meskipun memiliki layer yang sangat tipis. Mengapa bubble memiliki bentuk bulat? Mengapa tidak berbentuk kubus, limas, piramid atau bentuk geometris lainnya? Hal ini menjadi menarik untuk dibahas. Seingat saya ketika mempelajari mengenai bubbles adalah bahwa hal ini dikarenakan internal forces berupa surface tension dari bubbles tersebut. Tension dari layer bubble berusaha untuk menyusutkan bubble menjadi bentuk geometris yang memiliki surface area paling kecil yaitu bentuk bulat ini. Coba saja kita meniup bubbles. Pertama-tama bentuknya mengalami suatu distorsi dan lambat laun ketika seluruh permukaan bubbles bersentuhan dengan udara, maka bentuknya berubah menjadi bulat karena harus mempertahankan surface area yang minim (lihat tahapan pembentukan bubbles dari bentuk tak beraturan sampai menjadi bulat yang sempurna pada Gambar1). Dari sini kita dapat menemukan bahwa bentuk bubbles tidak melulu berbentuk bulat. Sebenarnya bubbles juga dapat diciptakan menjadi bentuk-bentuk geometris lain seperti kubus maupun tetrahedron namun harus ada external force (gaya dari luar) yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Lalu bagaimana fenomena ini dapat diterapkan dalam arsitektur?

Karakteristik dimana layer yang sangat tipis dapat menjadi kuat diaplikasikan pada atap Munich Stadium oleh Frei Otto. Apabila kita melihat gambar stadium ini, bentuknya tidak bulat seperti bubble namun mengambil karakteristik desain dengan menggunakan minimal surface seperti pada bubble sabun. Munich stadium memiliki bentang lebar (1443 kaki) sehingga Otto memperlakukan atap seperti layer bubble yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga tension dari material fabric yang digunakan dapat membuat struktur menjadi stabil. Karena fabric ditahan oleh struktur berupa kabel maka bentuk atap dapat menajdi macam-macam (tidak hanya bulat). Maka aplikasi dimana bubbles dapat dibentuk menjadi bentuk yang bermacam-macam asal ada external force yang menyebabkannya dipalikasikan pada atap stadium ini. Kabel ini menjai suatu external force yang dapat mempertahankan atap dengan layer yang sangat tipis supaya dapat tetap berdiri (tidak collapse). Ini merupakan salah satu contoh bagaimana arsitektur dapat berperan untuk memahami fenomena alam dari soap bubbles yang ada di sekitar kita. Kita juga dapat meneliti lebih lanjut mengenai proses pembuatan sabun untuk mengahasilkan suatu karya yang baru.

Referensi: http://www.exploratorium.edu/ronh/bubbles/

http://www.the-scientist.com/news/display/53443/

Ketika Diam Bisa Berarti Segalanya

Filed under: architecture and other arts — nurrisinda @ 22:49

Rekan-rekan sekalian sudah barang tentu video yang satu ini kan, yang videonya berisi sekelompok orkestra yang di awal video, ceritanya mau melakukan suatu pertujunjukan musik. Penonton sudah menunggu, pemain sudah ada, alat musik siap, dan akhirnya konduktorpun masuk. Beliau mengangkat tangannya seolah-olah mau menandakan musik akan dimulai. Dan ketika diangkat, tadaaa.. diam semua!!! Pemainnya tidak ada satupun yang memainkan alat musiknya, beliaupun tidak menggerakkan tongkat konduktornya, hanya diam! Selama diam, penonton pun anehnya diam saja, seolah-olah memang mereka semua sedang khusyuk menikmati alunan musik yang tersedia. Tapi nyatanya, tidak ada satu pun not mengalun sebenarnya selama 4 menit 33 detik tersebut.

Yak itulah video yang berjudul John Cage “4’33″ yang bisa ditemukan di situs-situs video seperti youtube.com dan kawan-kawannya. Lalu apa yang istimewa dari video diam membisu namun penuh makna (Sepertinya..melihat ekspresi semua yang menonton dan tepuk tangan riuh dari penonton ketika semuanya usai) tersebut. Yakni, memang sebetulnya si pertunjukan musik ini pada aslinya adalah bersuara, tapi bukan suara yang nyata dan terdengar langsung oleh indera pendengaran kita. Mungkin musik yang tidak berwujud, mungkin musik yang hanya ada dikepala kita, mungkin musik yang lebih kompleks dari yang ada di permainan asli orchestra, mungkin musik yang lebih bermakna.

Suatu pemicu perbincangan muncul, ketika saya membicarakan video ini dengan teman-teman selepas kelas Geometri berakhir, yang mana pada kelas itu di hari itu diputarlah video dahsyat tersebut. Kenapa dahsyat? Selain sudah ditonton oleh 2,061,198 penonton, ya pasti video ini istimewa..kalau tidak, tidak mungkin juga diputar di suatu mata kuliah yang penuh makna (Setuju?^^).

Saat itu yang kami bicarakan adalah, apa yang ada dipikiran teman-teman, saat video tersebut diputar di kelas tadi. Saya yang memulai perbincangan ini merasa, saat video ini diputar, awalnya memang terasa bingung, dan jujur, merasa bosan. Tapi ditengah kebosanan yang ada, tiba-tiba saja dikepala saya berputar musik klasik, dan tiba-tiba saja, seiring saya menikmati alunan musik di kepala saya, saya juga jadi menikmati video yang ada di depan saya. Ketika saya tanyakan dengan dua teman saya tersebut, ternyata, jawaban mereka juga mirip dengan saya..ada sesuatu yang mengalun dikepala mereka ketika menonton video tersebut.

Yang satu, jadi terpikirkan musik dari sebuah film yang menceritakan kehidupan pemain musik orchestra. Katanya sedari awal sang konduktor mengangkat tangannya untuk memberikan pengarahan musik, ia jadi teringat film tersebut, dan lagu-lagu di film itupun mulai bermain di kepala, seolah para pemain orchestra yang diam itu tengah memainkannya.

Sedangkan teman saya yang satu, hampir mirip dengan kawan saya yang satu lagi yakni karena suasana panggung yang seolah akan memainkan lagu klasik, dalam kepalanya pun berputar semuah musik karya Bethhoven yang suka menjadi musik bonus saat membeli computer.

Entah arena memang suatu pengalaman ataupun suatu memori di masa yang sebelumnya atau memang muncul tiba-tiba, yang pasti si video musik diam ini, ternyata memunculkan banyak suara dikepala penontonnya. Mungkin juga itu yang terjadi dengan semua penonton yang menonton Orkestra tersebut, baik langsung maupun yang menonton lewat videonya.

Terkadang sesuatu yang sederhana atau malah mungkin terlihat tidak da, bisa menciptakan proyeksi dan ionterpretasi yang berbeda-beda tiap sudut pandang masing-masing individu. Arsitektur pun mengenal istilah-istilah seperti itu. Bisa dengan istilah less is more, atau dari yang sederhana, bangunan itu kan tidak bersuara, tetapi ternyata ia bisa menciptakan sense kepada orang yang ada di dalamnya seolah-olah ia bisa bicara dan memberi banyak makna. Seorang arsitek harus bisa membuat bangunannya bersuara, walau tidak dengan nada, bisa dengan warna, bentuk, tata ruang, atau memang ia bisa saja ciptakan efek suara langsung, untuk menciptakan kualitas-kualitas ruang bagi manusia yang ada di dalam bangunan karyanya.

Karena itu video ini jelas bermakna, bisa diambil pelajaran yang bermakna darinya. Bahwa, diam mungkin berarti segalanya.

Bagaimana dengan rekan-rekan sekalian? Suara apa yang berputar di kepala anda sekalian saat menonton video ini? (Sekedar agar anda menonton videonya untuk memberikan komentar, silahkan menuju ke link berikut ini http://www.youtube.com/watch?v=hUJagb7hL0E . Selamat menikmati^^)

NB: mohon maaf belum bisa post videonya, dikarenakan keterbatasan kemampuan koneksi internet untuk mengunggah..terimakasih..^^

Daftar Pustaka
John Cage “4’33″.http://www.youtube.com/watch?v=hUJagb7hL0E. Diunggah oleh morbidcafe, Anastasia. (http://www.youtube.com/user/morbidcafe). 2006. Australia. Diunduh tanggal 31 Maret 2011. Pukul 22.00.
maaf juga tidak ada sumber tertulis dan terorical..

Komposisi dan Persepsi

Filed under: architecture and other arts — yolasembiring @ 22:48

Belakangan, gambar-gambar seperti di bawah ini sering kita temui

Photobucket

Photobucket

pada gambar tersebut terlihat seolah-olah orang dalam foto dapat menyentuh ujung puncak menara eiffel dan mendorong menara pisa dengan kakinya. padahal, pada kenyataannya tidak mungkin hal tersebut dapat dilakukan.

untuk menghasilkan foto tersebut, komposisi dan peletakan objek menjadi hal yang harus diperhatikan. semakin jauh suatu benda berada dari mata/posisi melihat, maka semakin kecil pula benda itu terlihat. begitupula sebaliknya, semakin dekat posisi suatu benda dengan mata/posisi melihat, akan semakin besar kelihatannya.

dalam kasus ini, yang berperan sebagai mata adalah kamera yang akan mengabadikan gambar tersebut. untuk menghasilkan foto seperti di atas, menara eiffel dan menara pisa, sebagai objek yang ingin terlihat lebih kecil dari seharusnya, harus berada jauh dari lensa kamera. sedangkan, orang yang akan menjadi objek pelaku pada foto tersebut harus terlihat besar, bahkan lebih besar dari pada menara-menara tersebut harus berada dekat dengan kamera. maka dari itu ketika mengambil foto dilakukan jauh dari lokasi objek penderita (menara eifel dan menara pisa) namun dekat atau bahkan close-up dengan objek pelaku.

dengan memainkan komposisi peletakan mata, menara, dan orang yang menjadi objek pelaku, didapatkanlah foto yang dapat menimbulkan persepsi, entah orangnya yang memang raksasa, atau menara-menara tersebut mengecil, atau orang tersebut berfoto bersama miniaturnya.

Parameter Orisinalitas Karya Musik dan Arsitektur..?

Filed under: architecture and other arts — stellanindya @ 22:47
Tags: ,

Dalam karya seni, orisinalitas sangatlah penting dan bersifat sensitif. Jika ternyata seseorang dikatakan mengutip atau menjiplak karya seni, maka orang tersebut akan berurusan dengan pencipta karya seni, pihak yang berwenang, dan publik. Begitu pula pada musik.

Dalam musik terdapat peraturan bahwa pengutipan karya musik lebih dari 8 bar (secara partitur), sudah dikatakan penjiplakan. Pengutipan itu bisa berupa kutipan lirik, melodi, ataupun chord dalam lagu tersebut. Sudah ada peraturan yang jelas mengenai penjiplakan tersebut. Agak berbeda dengan karya arsitektur, yang kurang jelas parameter penjiplakannya. Dikatakan sebuah kreativitas muncul akibat melihat dan “menjiplak” karya orang lain, kemudian menambahkan ide pengembangan kita terhadap karya jiplakan tersebut. Jadilah suatu karya. Apakah hal tersebut dikatakan menjiplak, padahal tidak ada parameter penjiplakan?

Seperti di Indonesia, karya musik Indonesia seperti band-band yang banyak bermunculan akibat mengeluarkan satu single mereka. Sebut band X yang jika ditelaah, chord yang mereka gunakan untuk membuat satu lagu ternyata serupa dengan chord Canon in D karya Pachelbel, dari awal lagu hingga selesai. Sebenarnya hal ini dikatakan menjiplak. Kalau karya arsitektur, tidak terlihat secara nyata mengenai penjiplakan tersebut. Sebab, jika developer mengembangkan suatu model perumahan (contohnya), dan ternyata dimintai oleh orang banyak, maka mereka tak segan-segan memasarkan model perumahan yang hampir sama. Padahal hitungannya, model perumahan satu dengan yang lainnya hampir mirip dan kadang dikatakan sama.

Karya musik sangat ketat hukumnya. Jika dilakukan pengopian terhadap album dan disebarluaskan (seperti di glodok, mangga dua, dll) sebenarnya dilarang dan menjadi musuh para pencipta lagu. Namun ternyata karya arsitektur tidak demikian.

Sebenarnya, saya sendiri bingung sampai sebatas apakah parameter karya arsitektur itu? Begitu pula dengan karya musik. Kok sepertinya batas itu masih samar. Menurut saya, jika masih dalam pemelajaran, karya musik maupun karya arsitekur boleh-boleh saya ditiru, namun BUKAN untuk dijiplak. Ditiru, lalu tentunya kita melakukan penambahan, pengurangan, dan pada akhirnya pengembangan dilakukan untuk menjadikan suatu karya yang baru, yang kemudian kita bisa menemukan gaya kita sendiri dan menjadi orisinal kita. Saya rasa, karena hal itulah karya musik dan arsitektur dapat berkembang hingga sekarang. Jika tidak dilakukan peniruan, bagaimana mungkin hal yang serupa dapat ditemukan dalam dunia musik dan arsitektur? Peniruan itulah yang kemudian disebut mencari inspirasi. Hal ini tentu berbeda dengan penjiplakan.

rasa aman

Filed under: ideal cities — imaniarsofi @ 22:45

Ari adalah seorang mahasiswa. Setiap hari sepulang kuliah ia pulang ke tempat tinggal sementara, yakni kosan. setiap akhir minggu, ia baru akan pulang ke rumahnya yang sesungguhnya di kota sebelah. Kehidupanya dalam lingkungan kosanya dia bilang biasa saja. Memasak dan mencuci laundry sudah ada yang mengurus, dan termasuk layanan dalam kosan yang ia tempati.  Katanya, tinggal pesan saja, makanan langsung datang.

Sebenarnya, kosan Ari termasuk yang menengah bayaranya. Tidak terlalu mewah, tidak juga murahan. Hal yang membuat ia senang adalah pagar tinggi menjulang yang membentengi bangunan itu. Serta ada pula penjaga yang meronda setiap malam. Ia merasa aman, sehingga tidk was-was terhadap barang-barang pribadi miliknya.

Suatu pagi, Ari berangkat kuliah seperti biasa. Setelah memanasi motor di halaman kosan, ia berniat segera berangkat. Namun tiba-tiba ia teringat ponselnya yang sedang di setrum di dalam kamarnya. Ia merogoh saku untuk memastikan, apakah sudah ia cabut dari cargernya dan ia masukkan ke sakunya? Ah ternyata belum.  Bergegaslah ia kembali ke kamar untuk mengambil  ponselnya. Dan setelahnya, bergegas pula ia kembali ke halaman kosan. ternyata ia menemui kenyataan bahwa motornya sudah tidak ada. ia cari-cari penjaga kosan, ternyata tidak sedang berada di tempat. Ia keluar gerbang dan menegok kanan kiri, berharap ada jejak jejak motornya, ternyata tidak ada. yang terlihat hanya orang-orang yang berjalan sendiri-sendiri atau berdua-dua menuju kampus, atau tempat lain.

Jauh di seberang jalan kosanya, penjual toko kelontong mengamatinya. Aku yang sedang membeli korek api juga melihat sosoknya. Lalu penjual itu berkata :

‘wah neng, bulan ini sudah 5 kali mahasiswa kemalingan motor.  Padahal yang maling bukan orang sekitar lho.’

Lalu aku menanyakan mengapa warga sekitar tidak menggubris atau mengamuk pada malingnya?

‘Yah, buat apa, mahasiswa saja tidak merasa menjadi bagian dari warga sini. Jangankan menyapa, berkata santun saja tidak pernah, sok-sokan lebih tinggi derajadnya. Padahal kalau dipikir, siapa coba yang sebenarnya tamu?’

***

Dari kisah diatas saya ingin menjelaskan bahwa bangunan kosan terkadang dibentuk seperti ideal city. Dimana pagar yang tinggi sebagai suatu bentuk keamanan untuk memenuhi salah satu aspek kenyamanan penghuni. Namun, bentuk keamanan tersebut terkadang justru menimbulkan jurang pemisah antar warga sehingga menyebabkan sikap saling tak acuh yang berujung kepada ketidak amanan.

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.