there’s something about geometry + architecture

March 31, 2012

Geometri Dalam Kostum Tari Bali

Filed under: locality and tradition — naomiveda @ 23:59
Tags: , ,

Pernahkah anda menonton sebuah pertunjukan tari tradisional, khususnya tari Bali? Jika sudah, pernahkah anda memerhatikan kostum yang dipakai sang penari? Beberapa hari yang lalu saya sempat menonton kembali rekaman-rekaman dari beberapa pertunjukan tari Bali yang pernah saya tonton, salah satunya adalah Tari Oleg Tamulilingan.

Festival Internasional Oleg Tamulilingan dan Kebyar Terompong, Tabanan, Bali

Oleg Tamulilingan ini sendiri terdiri dari 2 kata yaitu “Oleg” yang berarti “gerakan yang lemah gemulai” dan “Tamulilingan” yang berarti “kumbang pengisap madu bunga” sehingga tarian ini bisa disimpulkan bercerita tentang sepasang kumbang jantan dan betina yang sedang bermain-main dengan sekuntum bunga di taman. Tarian ini begitu indah dengan gerakan-gerakan gemulai sang penari wanita dan gerakan yang tegas dan sedikit menghentak dari penari pria. Pada mulanya saya tidak terlalu memerhatikan kostum yang dipakai penari, namun ┬ásetelah diteliti lebih lanjut, memang ada perbedaan-perbedaan mendasar antar kostum pria dan kostum wanita yang membuat kostum tersebut mendukung karakter yang diperankan sang penari. Dalam foto disamping, memang mudah membedakan penari pria dan wanita karena memang peran pria dimainkan oleh penari pria dan peran wanita dimainkan oleh penari wanita. Tapi dalam pementasan-pementasan tari Bali yang pernah saya saksikan, tidak sedikit pementasan yang seluruh perannya dimainkan oleh penari wanita, dan apabila penarinya kurang pintar menghayati karakternya sebagai pria, penonton bisa saja salah mengartikan karakter tersebut sebagai karakter wanita. Sehingga satu-satunya cara membedakan adalah dengan melihat kostum yang dipakai.

Perbedaan pertama yang bisa langsung dilihat adalah hiasan kepala yang dipakai. Hiasan kepala ini terbuat dari kulit, disebut “Gelungan” untuk wanita dan “Udeng” untuk pria. Bentuk dari hiasan kepala karakter pria dengan wanita pun berbeda, seperti yang dipakai pada tari Oleg Tamulilingan ini.

”Gelungan

Dari bentuk dasarnya, sangat jelas terlihat perbedaannya. Pada Gelungan, bentuk didominasi oleh segitiga-segitiga yang mencuat keluar, sedangkan Udeng memiliki bentuk lebih lengkungan-lengkungan simple. Dalam pemakaiannya, gelungan ┬áditambah dengan kembang goyang (hiasan emas yang pemasangannya ditusukkan ke sanggul, seperti tusuk konde), yang dipasang dalam jumlah banyak sehingga membentuk seperti segitiga yang mencuat tinggi ke atas, sedangkan Udeng dipakai tidak memakai tambahan hiasan kepala apapun. Hal serupa juga didapat pada hiasan leher yang disebut “Badong”, dimana peran wanita menggunakan “Badong Segitiga” sedangkan peran pria menggunakan “Badong Bundar”. Badong Segitiga memiliki ujung-ujung yang bersudut dengan untaian panjang seperti kalung, sedangkan bentuk Badong Bundar sangat sederhana.

Adanya pola penggunaan bentuk yang berbeda dalam kostum ini bisa saja memberikan kesan tersendiri. Bentuk segitiga dengan detail-detail yang lebih rumit memberikan kesan feminin, dengan sudut-sudut lancip yang menunjukkan kelentikan wanita. Sedangkan kesan maskulin ditunjukkan dengan desain yang lebih simple dan sederhana dengan tidak banyak menggunakan aksesoris lain. Dalam beberapa tarian, peran pria tidak menggunakan “Badong Bundar”, namun menggunakan “Simping”. Simping berbentuk seperti rompi yang terbuat dari kulit dengan bentuk persegi kaku yang menambah kesan tegas dalam tarian. Simping ini juga memiliki bentuk yang sederhana namun sangat efektif dalam menimbulkan kesan maskulin.

Entah bentuk-bentuk ini digunakan oleh pembuatnya memang karena menimbulkan kesan tersendiri atau digunakan secara tidak sadar, namun penggunaannya terbukti menambah karakter pria dan wanita dalam sebuah tarian. Dan mungkin bentuk-bentuk ini bisa diadaptasi dalam sebuah desain arsitektur sehingga menimbulkan karakter tersendiri dalam bangunan tersebut.

Badong Bundar (pria)

Badong Segitiga (wanita)

Penggunaan Simping dalam tari Trunajaya

Pustaka :

http://naribi.wordpress.com/2009/01/18/tari-oleg-tamulilingan/

About these ads

4 Comments »

  1. Menurut saya, kesan yang ditimbulkan oleh bentuk – bentuk geometris adalah suatu hal yang bersifat sangat relatif dan subyektif. Jika dalam kostum tari Oleg Tamulilingan ini bentuk segitiga dianggap sebagai representasi kelentikan wanita dan kesederhanaan bentuk lingkaran menunjukkan sifat maskulin, seringkali pada konteks lainnya justru bentuk – bentuk lingkaran ataupun garis kurva – kurva tak bersudut memberi kesan feminin dan representatif terhadap lekuk tubuh wanita, dan bentuk segitiga dengan sudut – sudut lancipnya dianggap melambangkan ketegasan dari sosok maskulin.
    Mungkin lebih tepat dikatakan bahwa dalam konteks perancangan, bentuk geometris berfungsi sebagai suatu elemen penunjang yang dapat kita gunakan sebagai perancang. Namun kesan, rasa, dan suasana yang ingin diciptakan tetap bergantung kepada kepekaan sang perancang untuk mengatur komposisi dari satu bentuk geometris dengan bentuk geometris lainnya ataupun komposisi elemen bentuk geometris dengan elemen desain lainnya. Jadi komposisi-lah yang menjadi kuncinya, bukan bentuk itu sendiri.
    Kembali kepada contoh kostum tari Oleg Tamulilingan di atas, dari gambar Gelungan dan Udeng yang ditampilkan terlihat bahwa keduanya memiliki elemen – elemen lingkaran dan segitiga. Hal ini menunjukkan bahwa bukanlah satu bentuk geometris yang digunakan yang menimbulkan kesan maskulin atau feminin, melainkan keseluruhan komposisi yang membentuk kesatuan properti tari tersebut.

    Comment by rrrana — April 1, 2012 @ 13:03

  2. Dari foto yang ditampilan khususnya pada gelungan oleg (wanita), Badong bundar (pria), Badong segitiga (wanita) serta corak kain. Jika diperhatikan benda tersebut bukan hanya tersusun atas elemen-elemen bentuk dasar geometris seperti lingkaran, segitiga dan lain-lain.
    Tidak hanya mengatur komposisi dari elemen-elemen dasar tanpa disadari jika kita menarik garis dan memotong bagian dengan sama besar kita bisa melihat bagaimana si perancang membuat kedua bagian yang terpotong itu terlihat simetris. Kesimetrisan dari komposisi elemen tersebut bisa dikatakan salah satu yang menunjang kesan indah dari benda-benda tersebut. Coba jika pada badong segitiga yang kita bagi 2 bagian, diberi elemen belah ketupat yang jumlahnya berbeda misalnya sebelah kanan 4 sebelah kiri 6. Sehingga kesan indah yang ada pada benda tersebut bisa saja tidak terlihat indah bagi orang lain karena jumlahnya yang berbeda. :)

    Comment by khasyyatikanasher — April 2, 2012 @ 22:50

  3. Halo Nama saya Putu Evie, saya pemilik toko online mekarbhuana.com. Saya perhatikan anda memakai foto produk-produk dari toko online kami untuk ilustrasi artikel anda. Dengan senang hati kami memberi izin anda tetap memakainya dengan syarat, anda mencantumkan alamat website kami yang merupakan asal dari foto-foto tersebut. Terima kasih.

    Comment by Evie Hatch — July 31, 2013 @ 16:54

  4. Saya juga mau komentar bahwa badong segitiga dan badong bundar sesuai foto diatas dipakai juga oleh penari laki2 dan atau perempuan atau jenis tari bebancian (tari yang bisa diperankan laki2 dan atau wanita, seperti laki oleg, taruna jaya)…tidak ada hubungan bentuk bulat atau segitiga dengan kemaskulinan ataupun feminin…

    Comment by Evie Hatch — July 31, 2013 @ 17:05


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: