there’s something about geometry + architecture

April 1, 2012

Letak Instrumen dalam Orkestra

Filed under: Uncategorized — fitriaisyah @ 16:14

Dalam orkestra, setiap instrumen musik memiliki posisinya masing-masing di panggung. Jika pernah menonton orkestra, baik secara langsung melalui video, kita pasti menyadari bahwa instrumen yang memiliki posisi paling dekat dengan konduktor orkestra adalah pemain violin. Sebenarnya, dimanakah posisi instrumen yang tepat dalam suatu orkestra dan apakah alasan dari penempatan tersebut? Saya mencari beberapa sumber dan menemukan hal berikut.

Terdapat beberapa layout berbeda dalam penempatan instrumen dalam orkestra :

This slideshow requires JavaScript.

Dalam keempat gambar tersebut, bisa dilihat bahwa violin selalu berada di depan, dan alat musik perkusi diletakkan di belakang. Alasan penempatan ini berhubungan dengan suara yang dihasilkan dan peran yang dimiliki oleh instrumen tersebut dalam orkestra.

Dalam gambar di atas, dapat dilihat bahwa rhythm section diletakkan di tengah. Hal ini disebabkan karena alat-alat musik tersebut merupakan pengatur tempo dalam komposisi yang dibawakan. Dengan posisi yang berada di tengah, pemain yang lainnya dapat menyesuaikan tempo dengan mudah.

Pemain violin, cello, dan double bass, yang termasuk dalam string instrument diletakkan di depan agar memiliki posisi paling dekat dengan konduktor dan melakukan koordinasi yang baik. Selain itu bunyi yang dihasilkan oleh string instrument ini lebih lemah daripada suara yang dihasilkan oleh big band (saxophone/clarinet, rhythm section, trumpets, dan trombones), dengan posisi di depan, suara yang dihasilkan dapat terdengar lebih seimbang.

Harpa diletakkan di tempat yang jauh dari brass instrument (saxophone dan trompet) agar dapat terdengar dan tetap berada dalam harmoni.

Horn merupakan alat musik yang dapat berpadu dengan baik dengan alat musik lainnya, namun, alat musik ini tidak dapat diletakkan di bagian depan alat musik perkusi karena suaranya dapat menyebabkan resonansi pada drum dan timpani.

Pada bagian perkusi, timpani, tam-tam, dan bass drum diletakkan di dekat trompet dan trombone untuk mendukung nada bass yang dihasilkan. Sementara xylophone dan glockenspiel diletakkan lebih dekat dengan woodwind. Karena letaknya di belakang, agar suara yang dihasilkan oleh alat musik perkusi ini lebih terdengar maka letak microphone yang digunakan harus dekat dengan instrumen.

Berdasarkan contoh dari letak instrumen dalam orkestra ini, saya mengambil kesimpulan bahwa sebuah komposisi yang baik ternyata dapat juga dihasilkan dari hal yang tidak dapat dilihat oleh mata, yaitu bunyi. Dalam kasus alat musik ini, bunyi yang dihasilkan oleh sebuah instrumen menjadi aspek penting yang harus diperhatikan untuk menentukan peletakkannya dalam sebuah orkestra. Selain itu, hubungan antarinstrumen juga mempengaruhi peletakkan alat musik. Jika satu alat musik dapat membantu alat musik yang lain untuk berada dalam harmoni, maka mereka dapat diletakkan berdekatan. Pada akhirnya, pengaturan letak yang ditentukan akan menciptakan suara yang enak didengar oleh penikmat musik orkestra.

sumber :

F.G.J. Absil, Studio Orchestra Seating. 2008. diakses dari : http://www.fransabsil.nl/archpdf/orchseat.pdf

gambar (slideshow) diambil dari http://www.northernsounds.com/forum/showthread.php/45372-Seating-Positions-of-the-Orchestra

gambar layout orkestra diambil dari  http://www.fransabsil.nl/archpdf/orchseat.pdf

About these ads

1 Comment »

  1. Peletakan instrumen musik memang menentukan kualitas perpaduan suara. Dan pada akhirnya, interior ruangan itu juga harus diubah dan disesuaikan dengan peletakan tersebut agar kualitas suara yang baik itu bisa didengar di setiap bagian dalam ruangan. Oleh sebab itu pada interior ruang konser digunakanlah peredam suara yang berbeda-beda disesuaikan dengan instrumen apa yang ada di dekatnya. Hal ini dikarenakan setiap instrumen menghasilkan frekuensi suara yang berbeda-beda, misalnya bass menghasilkan suara berfrekuensi rendah dan cymbal menghasilkan suara berfrekuensi tinggi. Absorber atau material penyerap suara berfrekuensi rendah yang baik adalah plywood dan soundblox beton sedangkan untuk menyerap frekuens rendah bisa menggunakan karpet atau rockwool saja. Jadi tidak hanya peletakan instrumen saja yang harus baik. Tanpa adanya ruangan yang baik, keindahan suara juga tidak akan terdengar optimal, bukan?

    Comment by jessica0jeje — April 3, 2012 @ 21:12


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Rubric Theme Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: