there’s something about geometry + architecture

March 31, 2012

Geometri Dalam Kostum Tari Bali

Filed under: locality and tradition — naomiveda @ 23:59
Tags: , ,

Pernahkah anda menonton sebuah pertunjukan tari tradisional, khususnya tari Bali? Jika sudah, pernahkah anda memerhatikan kostum yang dipakai sang penari? Beberapa hari yang lalu saya sempat menonton kembali rekaman-rekaman dari beberapa pertunjukan tari Bali yang pernah saya tonton, salah satunya adalah Tari Oleg Tamulilingan.

Festival Internasional Oleg Tamulilingan dan Kebyar Terompong, Tabanan, Bali

Oleg Tamulilingan ini sendiri terdiri dari 2 kata yaitu “Oleg” yang berarti “gerakan yang lemah gemulai” dan “Tamulilingan” yang berarti “kumbang pengisap madu bunga” sehingga tarian ini bisa disimpulkan bercerita tentang sepasang kumbang jantan dan betina yang sedang bermain-main dengan sekuntum bunga di taman. Tarian ini begitu indah dengan gerakan-gerakan gemulai sang penari wanita dan gerakan yang tegas dan sedikit menghentak dari penari pria. Pada mulanya saya tidak terlalu memerhatikan kostum yang dipakai penari, namun  setelah diteliti lebih lanjut, memang ada perbedaan-perbedaan mendasar antar kostum pria dan kostum wanita yang membuat kostum tersebut mendukung karakter yang diperankan sang penari. Dalam foto disamping, memang mudah membedakan penari pria dan wanita karena memang peran pria dimainkan oleh penari pria dan peran wanita dimainkan oleh penari wanita. Tapi dalam pementasan-pementasan tari Bali yang pernah saya saksikan, tidak sedikit pementasan yang seluruh perannya dimainkan oleh penari wanita, dan apabila penarinya kurang pintar menghayati karakternya sebagai pria, penonton bisa saja salah mengartikan karakter tersebut sebagai karakter wanita. Sehingga satu-satunya cara membedakan adalah dengan melihat kostum yang dipakai.

Perbedaan pertama yang bisa langsung dilihat adalah hiasan kepala yang dipakai. Hiasan kepala ini terbuat dari kulit, disebut “Gelungan” untuk wanita dan “Udeng” untuk pria. Bentuk dari hiasan kepala karakter pria dengan wanita pun berbeda, seperti yang dipakai pada tari Oleg Tamulilingan ini.

Gelungan Oleg (wanita)Udeng Oleg (pria)

Dari bentuk dasarnya, sangat jelas terlihat perbedaannya. Pada Gelungan, bentuk didominasi oleh segitiga-segitiga yang mencuat keluar, sedangkan Udeng memiliki bentuk lebih lengkungan-lengkungan simple. Dalam pemakaiannya, gelungan  ditambah dengan kembang goyang (hiasan emas yang pemasangannya ditusukkan ke sanggul, seperti tusuk konde), yang dipasang dalam jumlah banyak sehingga membentuk seperti segitiga yang mencuat tinggi ke atas, sedangkan Udeng dipakai tidak memakai tambahan hiasan kepala apapun. Hal serupa juga didapat pada hiasan leher yang disebut “Badong”, dimana peran wanita menggunakan “Badong Segitiga” sedangkan peran pria menggunakan “Badong Bundar”. Badong Segitiga memiliki ujung-ujung yang bersudut dengan untaian panjang seperti kalung, sedangkan bentuk Badong Bundar sangat sederhana.

Adanya pola penggunaan bentuk yang berbeda dalam kostum ini bisa saja memberikan kesan tersendiri. Bentuk segitiga dengan detail-detail yang lebih rumit memberikan kesan feminin, dengan sudut-sudut lancip yang menunjukkan kelentikan wanita. Sedangkan kesan maskulin ditunjukkan dengan desain yang lebih simple dan sederhana dengan tidak banyak menggunakan aksesoris lain. Dalam beberapa tarian, peran pria tidak menggunakan “Badong Bundar”, namun menggunakan “Simping”. Simping berbentuk seperti rompi yang terbuat dari kulit dengan bentuk persegi kaku yang menambah kesan tegas dalam tarian. Simping ini juga memiliki bentuk yang sederhana namun sangat efektif dalam menimbulkan kesan maskulin.

Entah bentuk-bentuk ini digunakan oleh pembuatnya memang karena menimbulkan kesan tersendiri atau digunakan secara tidak sadar, namun penggunaannya terbukti menambah karakter pria dan wanita dalam sebuah tarian. Dan mungkin bentuk-bentuk ini bisa diadaptasi dalam sebuah desain arsitektur sehingga menimbulkan karakter tersendiri dalam bangunan tersebut.

Badong Bundar (pria)

Badong Segitiga (wanita)

Penggunaan Simping dalam tari Trunajaya

Pustaka :

http://naribi.wordpress.com/2009/01/18/tari-oleg-tamulilingan/

March 25, 2011

Sadari, amati untuk mengeksplorasi

Filed under: locality and tradition — ajengnadia @ 23:12
Tags: ,

Teknik mengikat atau menyimpul seperti sudah mendarah daging di tubuh manusia. Dahulu, ketika manusia ingin membuat ruang berlindung dirinya, manusia menyambung dua ranting kayu dengan menggunakan simpul, belum ada paku, lem atau bahan perekat lainnya. Kemudian teknik menyimpul berkembang ke segala arah, seperti kerajinan, kebutuhan sehari-hari hingga mengikat rambut. Tidak heran, beberapa budaya di dunia menggunakannya sebagai hal yang bernilai sakral, seperti sebagai persembahan kepada Yang Agung, pada masyarakat Bali.

Teknik mengikat membentuk pita merupakan hal yang sangat familiar dalam kehidupan kita setiap harinya. Ketika kita keluar rumah dan menggunakan sepatu bertali, ketika bertemu seorang perempuan cilik dengan hiasan rambut di kepalanya, hingga pada pembalut telepon gengam yang kini sangat mewabah di tangan para remaja putri.

Mencoba sedikit mengulasnya dalam essay yang saya kumpulkan beberapa hari lalu. Proses dalam membentuk pita seolah menggunakan dasar matematik serta geometrik sehingga mendapatkan hasil seperti itu. Menggunakan dua tali kemudian tali tersebut disimpul, diputar, sehingga membentuk bentuk lingkaran, dan disimpulkan kembali akan membentuk sebuah bow atau pita yang biasa kita temui (lihat gambar). Bila kita mengikuti dasar matematis, maka yang dilakukan adalah merotasi, mencerminkan dan kembali merotasinya. Ya. Rotasi dan pencerminan –seolah terjadi pada sumbu y- merupakan bentuk dari pengikatan pada dua tali tersebut.

Image and video hosting by TinyPic

Seolah menjadi salah satu contoh yang mungkin tidak kita sadari, sebuah hal yang sederhana dan sering berada di sekitar kita dan sering pula kita lakukan, ternyata memiliki proses pembentukan yang sangat ilmiah. Mungkin kita bisa coba menyadari hal ini, mungkin masih banyak hal yang sangat sederhana yang bisa kita amati karena hal-hal yang dasar masih dapat kita cari “beyond” dari hal tersebut. Setelah mendapati hal dibalik itu semua, mungkin kita bisa kembangkan lebih lanjut lagi untuk kita gunakan saat mendesain nanti. Inspirasi bisa datang dari mana saja, bukan?

March 24, 2011

Fractal in Traditional Art

Filed under: architecture and other arts,locality and tradition — austronaldo @ 06:34
Tags: ,

Fraktal, secara sederhana, merupakan konsep matematika yang membahas kesamaan pola pada semua skala. Jadi pola yang sama dapat diulangi dalam skala yang berbeda. Ketika mendengar disebutnya keterkaitan fraktal dengan batik di mata kuliah lain, saya menjadi tertarik untuk mengetahui lebih detail mengenai batik fraktal ini. Ternyata dibalik karya seni tradisional yang indah terdapat logika matematis berupa pola-pola yang tercipta dan dapat diterjemahkan lagi ke dalam software untuk menciptakan pola-pola baru.

Contoh: “E=[A][B][C][D],A=C+FAE,B=C-FBE,C=C?FCE, D=C&FDE” artinya lambang [ ] menandakan percabangan, ‘+’, ‘-‘, ‘&’, ?, menandakan sudut dalam 3 dimensi.
Pola batik yang sudah diterjemahkan dalam rumus fraktal ini dapat dimodifikasi dengan bantuan teknologi komputer sehingga menghasilkan desain pola baru yang sangat beragam. Kita bisa melihat keragaman dari segi grafis, warna, ukuran, sudut dan perulangannya. Disebutkan bahwa fraktal muncul sebagai tanda keteraturan dalam kekacauan (chaos) dalam suatu sitem yang kompleks. Jadi batik memiliki pola yang kompleks dan dapat disederhanakan dengan menggunakan fraktal. Begitu juga alam yang kompleks di dunia ini dapat disederhanakan dengan menggunakan fraktal. Hal ini terkait dengan law of pragnanz pada teori persepsi gestalt dimana orang cenderung untuk mempersepsikan esensi dari suatu objek. “Reality is organized or reduced to teh simplest form possible” – Law of Pragnanz

Batik fraktal ini menggunakan rumus matematis, maka pengolahan dan pengembangan desain selanjutnya akan lebih mudah dan lebih banyak mendapatkan variasi desain yang berbeda dan sangat cepat sekali bila dibandingkan dengan langkah mendesain secara manual. Dengan batik fraktal ini, kita bisa memperbesar dan memperkecil gambar, membuat simulasi gambar, membuat visualisasi desain dengan tiga dimensi sehingga desain batik yang dihasilkan bisa lebih variatif.

Maka saya bisa membuat suatu kesimpulan bahwa pola dapat dirumuskan. Pola dapat diterjemahkan dalam rumusan matematis. Dengan demikian pola-pola lain dapat ditemukan.
Lalu saya menemukan bangunan-bangunan yang menggunakan unsur batik dalam desainnya dimana batik digunakan pada bagian surfacenya. Bentuknya memang kotak namun permainan batik fraktalnya secara kosmetik atau pada bagian kulitnya saja. Inilah contoh yang saya temukan.

Apabila kita melihat pola batik pada kulit bangunan, pola yang digunakan mengikuti pola yang cukup sederhana dan tidak sekompleks pola batik yang ada pada umumnya.
Lalu pada interior Hotel Hilton di Bandung, kita bisa melihat penerapan pola geometris Batik Jawa pada ukiran tekstur tembok yang terbuat dari batu.
Ataupun penerapannya pada bentuk seperti pada contoh karya instalasi ‘A Swirl of Giant Batik’ pada London Festival of Architecture.

Referensi:
Kudiya, Komarudin. Proses Pembuatan Batik Fractal vs Batik Tradisional http://netsains.com/2009/10/proses-pembuatan-batik-fractal-vs-batik-tradisional/

http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=250006&page=67

http://jakartalifestyle.com/news/2010/July/jakarta-news-batik-represents-ri-in-london-festival-of-architecture.html

Institut Teknologi Bandung. “Mathematics in Batik Fractal”, Kombinasi Seni, Sains, dan Teknologi. http://www.itb.ac.id/news/2262.xhtml

March 23, 2011

Organic Order?

Filed under: locality and tradition — buyunganggi @ 15:34
Tags:

Pada awal Februari 2011, saya pertama kali datang ke angkringan(tempat makan/warung kopi khas Jogja) di salah satu sudut di jalan Margonda. Angkringan tersebut mereproduksi teras/trotoar sempit di depan sebuah showroom mobil. Saat itu hanya terdapat gerobak makanan dan dua buah tikar gulung yang di gelar di samping gerobak, plus dua orang mas-mas pramusaji. Seminggu kemudian, tikar gulung bertambah menjadi empat. Dan beberapa hari berikutnya, ketika saya kembali lagi berkunjung, sudah terdapat kantilever sederhana yang terbuat dari terpal plastik yang disambungkan ke atap showroom sebagai penahan tampias air hujan.

Seorang tukang parkir, 6 tikar plus tikar cadangan, dan tambahan pramusaji adalah perkembangan angkringan ini ketika saya kembali dua hari berikutnya. Dan puncaknya, akhir bulan Februari, terdapat 8 tikar gulung(plus cadangan, dengan catatan tidak memungkinkan lagi digelar karena sudah sampai batas toko sebelah yang masih buka pada malam hari), sekitar 5 orang pramusaji, 2 orang tukang parkir(di kiri kanan sudah ada tanda batas parkir dari toko sebelah, saking penuhnya), panahan tampias yang lebih lebar, serta pangamen dan pengemis yang berdatangan silih berganti. Terhitung hanya sekitar sebulan angkringan ini menjadi salah satu tujuan favorit masayarakat sekitar. Lalu apa sebenarnya yang melatarbelakangi hal ini?

Jika dilihat secara kasat mata, fenomena keramaian tempat makan ini merepresentasikan keberhasilan dari si penguasaha warung ini dalam berbisnis maupun berarsitektur. Bagaimana pun, sebelum membuka angkringan ini sang pemilik pasti telah memikirkan hal-hal mengenai para calon konsumen maupun konteks sosial  serta keruangan yang ada di tempat tersebut, walupun mungkin hanya secara sederhana. Akan tetapi, yang patut dipertanyakan, kenapa angkringan yang berasal dari Jogja bisa begitu cepat diterima dan cukup berhasil menarik minat masyarakat Jakarta. Padahal, Christoper Alexander (1977) mengatakan “it is shown there, that towns and buildings will not be able to become alive, unless they are made by all the people in society, and unless these people share a common pattern language, within which to make these buildings, and unless this common pattern language is alive itself .“ Dengan kata lain, sebuah bangunan akan bisa menjadi hidup jika bangunan tersebut dibuat sendiri oleh orang-orang yang ada dalam sebuah masyarakat tertentu, dan jika masyarakat tersebut memiliiki sebuah pemahaman yang sama mengenai ‘pola bahasa’ untuk membuat bangunan ini, dan dan juga jika ‘pola bahasa’ (atau mungkin juga bisa disebut budaya/kebiasaan setempat) ini harus tetap lestari di tengah-tengah masyarakat tersebut.

Dalam the Oregon Experiment (Alexander, 1975), disebutkan bahwa organic order is the kind of order when there is a perfect balance; between the needs of the parts, and the needs of the whole. Mungkinkah angkringan tersebut telah meyeimbangkan order yang ada di jalan Margonda? Atau kah prinsip partisipasi(Alexander, 1975) berperan dalam hal ini?

Sebenarnya, tidak diperlukan orang Jogja untuk membangun dan kemudian mereka nikmati sendiri angkringan tersebut. Berpegang pada prinsip user – oriented, Muf Art & Architecture, dalam Occupying Architecture(Hill, 1998), berhasil membangun sebuah shared ground yang mengakomodir kebutuhan masyarakat sekitar, the Tate(Museum baru yang melatarbelakangi dibangunnya shared ground), serta masyarakat baru yang akan mnendatanginya. Muf mewawancarai 100 penduduk lokal, bertanya tentang keinginan mereka terhadap pembangunan shared ground yang sesuai menurut mereka. Video rekaman ini kemudian dikenal dengan “100 desires for SouthWark Street”. Mengacu pada strategi ini, sebenarnya hanya diperlukan pengenalan terhadap konteks sosial, politik, dan material yang mendalam terhadap sebuah masyarakat agar arsitektur yang kita hasilkan dapat berfungsi dengan baik(Brandt, 1998).

June 2, 2010

Geometry in Traditional Architecture ‘Rumah Gadang’ (Part 2)

Filed under: locality and tradition — gemala @ 14:32
Tags: ,

Rumah gadang merupakan rumah tradisonal Minangkabau yang arsitekturnya cukup unik. Bangunan rumah gadang khas dengan atap gonjongnya. Tidak hanya itu, jika diperhatikan,  massa bangunan rumah gadang juga terlihat besar ke atas yang memberikan kesan ‘besar kepala’.

Bukan tidak ada alasan mengapa masyarakat Minangkabau menghasilkan karya arsitektur dengan bentuk seperti ini. Sebagai arsitektur tradisional, geometri-geometri yang diterapkan pada rumah gadang tentunya mempunyai arti yang sangat penting bagi masyarakat Minangkabau sebagai simbol yang merujuk pada identitas budaya mereka. Jika geometri-geometri tersebut lahir sebagai sebuah simbol, tentu ada sesuatu yang disimbolkannya. Misalnya, simbol dari sesuatu yang berbentuk fisik seperti alam (hewan, tumbuhan ataupun kondisi alam yang dianggap ‘penting’ dalam suatu golongan masyarakat) ataupun simbol dari sesuatu yang bersifat non-fisik seperti cara hidup (way of life) dan keyakinan atau kepercayaan. Namun dibalik semua itu, bagi saya sendiri terdapat hal yang cukup menarik perhatian yaitu bagaimana cara masyarakat Minangkabau mentransformasikan apa yang ingin mereka simbolkan ke dalam bentuk geometri arsitektural. Metode desain seperti apa yang mereka terapkan hingga lahir bentuk rumah gadang seperti yang kita lihat sekarang, khususnya bentuk atap gonjongnya.

Untuk menelaah metode desain yang diterapkan pada arsitektur tradisional dibutuhkan penelitian yang cukup mendalam. Banyak faktor yang mempengaruhi cara berarsitektur dan hasil karya arsitektur yang lahir pada suatu golongan atau etnis masyarakat tertentu. Oleh karena itu dibutuhkan pula pendekatan dari berbagai sudut pandang untuk dapat menjelaskan metode seperti apa yang mereka pakai dalam mencitrakan arsitektur tradisionalnya.

Saat berbicara mengenai rumah gadang, hal yang langsung tebayang di benak kita biasanya adalah bentuk atap yang runcing menjulang tinggi ke langit. Atap ini disebut atap gonjong yang pada akhirnya menginspirasi masyarakat Minangkabau untuk menerapkannya pada bangunan modern sebagai identitas budaya mereka, walaupun sebenarnya hal seperti ini masih menjadi perdebatan mengenai layak atau tidaknya. Terlepas dari semua itu, atap gonjong merupakan hasil dari proses berarsitektur dan berbudaya masyarakat Minangkabau yang telah mengalami trial and error[1]. Seperti yang telah dituliskan sebelumnya, bentuk-bentuk geometri yang hadir dalam wujud fisik rumah gadang merupakan simbol terhadap segala sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Segala sesuatu tersebut dapat berupa hal yang bersumber dari alam, cara hidup, sejarah dan kepercayaan. Namun saat sesuatu hadir sebagai sebuah simbol, sesuatu tersebut tidak harus serupa dengan apa yang disimbolkannya.[2]

Wujud fisik rumah gadang secara keseluruhan yang terbagi atas kaki badan dan kepala  yang pada dasarnya terbentuk dari geometri-geometri sederhana. Denah rumah gadang sangat sederhana yaitu persegi panjang dengan pembagian ruang yang juga sederhana, massa badan bangunan juga sederhana dengan hanya menerapkan geometri-geometri dalam kaidah bidang planar. Denah dan massa badan bangunan pada dasarnya merupakan simbol dari hal yang lebih bersifat non-fisik seperti cara hidup dan kepercayaan. Cara hidup masyarakat Minangkabau yang dipengaruhi oleh sistem genealogis matrilineal yang mereka anut dimana posisi kaum perempuan dalam masyarakat dianggap penting, kepercayaan yang mereka anut yaitu agama Islam yang mempengaruhi batasan ruang antara perempuan dan laki-laki, yang kesemuanya mempunyai penjelasan yang amat panjang dan rumit, tergambar dalam denah yang sederhana ini.

Namun saat melihat atap gonjong, terlihat geometri yang berbeda dan seolah keluar dari kaidah yang diterapkan pada denah. Berbeda denah yang didominasi oleh garis-garis lurus yang terkesan kaku, atap gonjong terbentuk dari komposisi garis-garis lengkung yang terkesan lebih dinamis. Persamaannya, bentuk atap gonjong juga merupakan simbol serta rekaman terhadap sesuatu yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Namun hal yang disimbolkan oleh atap gonjong lebih bersifat pada sesuatu yang fisik, seperti sesuatu yang berasal dari alam atau benda kenangan masa lampau. Secara sederhana, bentuk dasar dari gonjong adalah segitiga sama kaki namun dengan jumlah besar sudut kurang dari 180o, segitiga yang berada pada kaidah non-Euclidean geometry.

Ada beberapa pendapat mengenai apa yang masyarakat Minangkabau simbolkan dan rekam melalui atap gonjong antara lain,

  • Atap gonjong merupakan simbol dari tanduk kerbau, karena kerbau merupakan hewan yang dianggap sangat erat kaitannya dengan penamaan daerah Minangkabau.[3]
  • Atap gonjong adalah simbol dari pucuk rebung (bakal bambu), karena bagi masyarakat Minangkabau rebung merupakan bahan makanan adat, olahan rebung merupakan hidangan yang selalu ada saat upacara-upacara adat. Selain itu, bambu dianggap tumbuhan yang sangat penting dalam konstruksi tradisional.[4]

  • Atap gonjong menyimbolkan kapal sebagai rekaman untuk mengenang asal usul nenek moyang orang Minangkabau yang dianggap berasal dari rombongan Iskandar Zulkarnaen yang berlayar dengan kapal dari daerah asalnya yang kemudian terdampar di dataran Minangkabau sekarang.[5]

  • Atap gonjong merupakan rekaman terhadap alam Minangkabau yang berbukit yang terdiri dari punggungan-punggungan dan landaian-landaian.[6]

Bagi orang Minangkabau, alam adalah sesuatu yang dinamis, kedinamisan ini secara sederhana mereka simbolkan dengan garis lengkung, seperti garis lengkung pada atap gonjong.[7]

Keseluruhan pendapat tersebut menyiratkan bahwa garis-garis lengkung yang tajam pada atap gonjong merupakan tracing/jiplakan terhadap bentuk-bentuk yang berasal dari alam atau benda yang dianggap penting oleh masyarakat Minangkabau. Proses tracing atau penjiplakan ini dilakukan dalam jangka waktu berarsitektur yang sangat panjang. Di dalam proses tersebut terdapat trial and error akibat penyesuaian terhadap alam dimana atap gonjong itu eksis (alam Minangkabau). Di dalam proses tracing ini dilakukan penyederhaaan dengan mengurangi garis-garis rumit atau detail dari kondisi nyata objek yang ingin disimbolkan, seperti dengan mengambil siluetnya ataupun hanya geometri dasarnya. Dengan demikian, walaupun geometri yang kemudian hadir tidak sama dengan apa yang disimbolkannya, tetap ada bagian yang dipertahankan seperti kedinamisan dari objek tersebut.

Dari uraian di atas, terlihat sepintas lalu metode desain yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau terkesan sangat sederhana, hanya dengan men-trace suatu objek yang dianggap penting dengan ‘mengabaikan’ detail geometri dari objek tersebut. Proses yang berlangsung sekian lama berhenti saat masyarakat Minangkabau menemukan geometri arsitektural yang tepat sebagai simbol dari pandangan hidup mereka dan sesuai dengan kondisi alam tempat mereka hidup. Dengan demikian lahirlah desain arsitektur tradisional rumah gadang seperti yang eksistensinya masih dapat kita lihat di wilayah Minangkabau. Proses tracing dalam pembentukan wujud arsitektural atap gonjong rumah gadang merupakan penjiplakan benda tiga dimensi ke dalam wujud tiga dimensi pula. Hilangnya detail-detail dari benda yang di-trace membuat wujud baru yang terbentuk dapat diartikan lain oleh orang yang berbeda karena wujud baru tersebut dapat mewakili beberapa benda yang berbeda pula. Dengan demikian tidak salah jika ada beberapa pendapat mengenai benda apa yang disimbolkan oleh atap gonjong rumah gadang.


[1] Hasil wawancara dengan St. Mahmud, tokoh ahli dalam hal sejarah rumah gadang

[2] Harries, Karsten.1997.The Ethical Function of Architecture.MIT Press (pg. 98)

[3] Ismael, Sudirman.2007. Arsitektur Tradisional Minangkabau Nilai-Nilai Budaya Dalam Arsitektur Rumah Adat. Bung Hatta University Press (hal. 52)

[4] Wawancara dengan Dt. Majo Setio, Ketua Kerapatan Adat Nagari Sungaitarap, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat

[5] Ismael, Sudirman.2007. Arsitektur Tradisional Minangkabau Nilai-Nilai Budaya Dalam Arsitektur Rumah Adat. Bung Hatta University Press (hal. 52)

[6] Wawancara dengan Dt. Atiah, salah seorang tokoh adat di Nagari Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

[7] Wawancara dengan Dt. Majo Setio, Ketua Kerapatan Adat Nagari Sungaitarap, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat

Geometri “Bersih-Kotor”

Filed under: locality and tradition — nurulislami @ 14:21
Tags:

Sehari-hari kita selalu berhadapan dengan aktivitas membersihkan diri dengan mandi, wudhu, mencuci tangan, buang air, dll. Beragam cara dilakukan untuk melakukan aktivitas “kebersihan“, mulai dari pendidikan kita dengan program pengajaran dari TK kita mengenal tata cara mencuci tangan, menggosok gigi dan serangkaian kegiatan membersihkan diri lainya. Konsep bersih dan kotor ini juga menjadi sesuatu yang diajarkan dalam agama. Kebersihan sebagian dari Iman merupakan salah satu kalimat yang paling sering kita dengar. Konsep bersih kotor yang berhubungan dengan diri seseorang dalam sistem masyarakat, berkaitan dengan ajaran agama Islam misalnya, sebelum melaksanakan sholat terlebih dahulu harus mensucikan diri dengan berwudhu menurut tata cara tertentu. Sebelum hari pertama puasa sebagian masyarakat di daerah melakukan serangkaian ritual mensucikan diri dengan menceburkan diri di laut atau Kungkum atau mandi beramai-ramai di sumber air. Aspek yang tidak dapat diamati oleh manusia adalah kebersihan rohaniah pada saat menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Begitu melekatnya konsep bersih kotor ini juga berkaitan dengan diri pribadi juga mencakup kata-kata dan tindakan. Sebagian dari masyarakat kita menghindari kata dan tindakan kotor baik pada saat sendirian maupun didepan orang lain.

Namun begitu bagaimana perwujudan konsep ini dalam arsitektur?

Dalam Feng Shui dijelaskan  bahwa kegiatan yang berlangsung di dalam kamar mandi melibatkan energi lima elemen (air, api, kayu, logam dan tanah), karena itu lokasi kamar mandi harus dipilih dengan cermat. Posisi kamar mandi yang tidak baik dapat memberi efek berbahaya, melarutkan energi chi ruangan yang lain di rumah itu. Sebaiknya letak kamar mandi berada di sudut belakang dan agak ke belakang rumah. Yang penting tidak di bagian depan rumah dan sejajar dengan dinding luar. Kalau letaknya harus berada di ruang keluarga atau kamar tidur, sebaiknya posisi kamar mandi sedikit tersembunyi dengan ventilasi alam yang baik dan benar, seperti jendela yang bisa mengakses udara dari taman atau ruang terbuka. Untuk kamar mandi yang terjepit di antara dua kamar tidur, sebaiknya di bagian plafon memiliki rongga dan kaca yang tembus cahaya, agar bau tak sedap dan kelembaban bisa dikurangi. Pintu kamar mandi jangan berhadapan dengan pintu ruang lainnya. Bila ada yang berhadapan, sebaiknya mengeser salah satu pintu atau memberi satu penyekat diantara dua pintu tersebut.

Kita mengenal sumbu-sumbu dalam geometri, konsep bersih kotor ini juga kemudian didefinisikan dalam atas-bawah, kiri-kanan, depan belakang. Ke arah muka adalah menuju kepada kemajuan dari gerakan berjalan. Dimensi muka adalah waktu yang mendatangi manusia, alam harapan, dan keberanian. Arah atas menyimbolkan dimensi cita-cita, dunia para dewa, dan dimensi Yang Maha Agung, sedangkan kiri-kanan memberikan simbol  kemudian kiri-kanan memberikan simbol dualitas. Dalam budaya Jawa, manusia akan selalu mengarungi kehidupan di dalam kancah peperangan dualitas: baik-buruk, suka-duka, hitam-putih, dan seterusnya. Bagian kanan merupakan dunia yang baik dan bersih dan bagian kiri merupakan dunia yang buruk dan kotor. Dalam pembagian ruangnya rumah joglo didasarkan pada sistem sumbu dan hirarki. Letak pawon dan kamar mandi terpisah dari rumah utama dan terletak pada bagian belakang.

Konsep bersih-kotor merupakan salah satu  hasil proses belajar dari lingkungannya. Proses ini kemudian digunaan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan disekitarnya sehingga melahirkan suatu sistem kategorisasi tentang lingkungan yang mencakup banyak hal, yang berkaitan dengan baik dan buruk, benar dan salah, kiri dan kanan, kotor dan bersih. Kategori tersebut sebagai pengendali tingkah laku dan tindakan. Pengendali tersebut harus diikat oleh suatu sistem etika dan pandangan hidup.

Pustaka

http://www.rumahdanproperti.com/news/13/fengshuikamarmandi-78.aspx

http://www.djojosastro.info/_kisah.php

Belajar dari Kemasan

Filed under: locality and tradition — andisuryakurnia @ 14:10
Tags: ,

Dewasa ini, suatu produk tersaji lengkap dengan kemasannya. Kemasan bukan saja bertujuan untuk mempermudah transportasi suatu produk, tetapi juga mampu melindungi produk dan memiliki daya simpan yang baik. Bahkan seringkali keputusan untuk memiliki suatu produk ditentukan oleh kemasannya. Sehingga kemasan bukan hanya bersifat pelengkap semata namun juga menjadi faktor kunci sebuah pemasaran produk. Dengan demikian faktor estetika turut menjadi pertimbangan sebuah desain kemasan untuk menarik minat pembeli.

Masa lalu kemasan dapat ditemukan pada beragam bahan alami seperti: keranjang dari alang-alang, wadah simpan anggur dari kulit kambing, kotak dan drum dari kayu, vas tembikar, dsb. Di dunia arkeologi, kemasan merupakan suatu studi penting dalam mempelajari sebuah artefak. Kemasan kemudian banyak dijumpai menggunakan bahan lainnya seperti gelas dan logam. Pada awal abad ke-19 mulai diperkenalkan penggunaan kaleng berbahan campuran besi dan aluminium sebagai material sebuah kemasan. Dan di akhir abad ke-19 kemasan terbuat dari karton berbahan dasar kertas maupun fiber.

Bahan karton ini memiliki elastisitas yang cukup tinggi sehingga kemasan dapat diwujudkan dalam pelbagai rupa sesuai dengan kebutuhan dan keinginan perancangnya. Kreativitas menjadi kunci utama dalam desain suatu kemasan yang bertujuan untuk menampilkan produk semenarik mungkin sekaligus berfungsi sebagai pelindung produk yang ringkas dibawa-bawa kemana-mana baik dalam perjalanan jarak dekat maupun jauh serta memberikan kemudahan dalam penyimpanannya. Dengan bahan karton ini, kemasan dapat terbentuk dari proses memotong dan melipat sehingga kemasan tidak lagi berwujud seperti pada umumnya namun bisa beraneka ragam rupa yang seringkali mencerminkan karakter dari sebuah produk.

Desain kemasan ini kemudian menginspirasi saya untuk mempelajarinya lebih jauh melalui proses kreatif yang terjadi di dalamnya, yang bukan saja mengedepankan fungsi ‘wadah’ saja tetapi terdapat tahapan pembentukan untuk mencapai tampilan akhir.
Yang menarik dari pembuatan kemasan ini ialah proses desain kemasan secara struktural sehingga didapatkan beragam wujud yang memerlukan percobaan-percobaan sebagai proses pembelajaran sebelum sampai pada wujud akhir yang diinginkan. Proses desain struktur kemasan ini terbagi dalam tiga prinsip utama pembelajaran yaitu: studi tentang struktur dasar (basic structures), studi tentang metoda kunci (locking methods), dan studi tentang proses penyusunan (terminology).

Dalam keseharian sering kali kita juga melakukan hal serupa (baca: 3 prinsip utama kemasan) dalam suatu perencanaan dari skala kecil sampai skala besar. Seperti misalnya perencanaan liburan yang diawali dengan menetapkan kegiatan ataupun tempat untuk mengisi liburan sebagai struktur dasar dalam perencanaan, kemudian dilanjutkan dengan penetapan waktu ataupun tempat yang tepat untuk berlibur (misalnya saat liburan anak sekolah) sebagai ‘kunci’ perencanaan liburan, dan pada akhirnya disusun jadwal kegiatan, tempat, dan waktu sebagai suatu agenda besar untuk mengisi liburan tersebut (sebagai proses penyusunan). Dengan prinsip-prinsip ini liburan yang direncanakan kemungkinan besar dapat berlangsung dengan baik, kecuali jika terganggu oleh faktor alam seperti cuaca buruk.

Dalam skala besar seperti perencanaan kota sebenarnya prinsip yang sama masih bisa diberlakukan dengan melibatkan kajian yang mendalam tentang ‘struktur dasar’ suatu kota misalnya pengetahuan bahwa pertumbuhan kota yang diawali dari keberadaan sumber kehidupan (air) seperti sungai, kemudian dilanjutkan dengan penetapan ‘kunci’ berupa pengetahuan mengenai faktor-faktor berkehidupan masyarakat kota, dan pada akhirnya dihasilkan kebijakan-kebijakan yang merupakan bagian dari ‘proses penyusunan’.

Namun seringkali juga kita jumpai ketiga prinsip utama ini berlangsung kurang/tidak terkait satu sama lain dalam suatu perencanaan, sehingga rencana yang telah ditetapkan (skala besar dan kecil) kurang/tidak memberikan hasil yang memuaskan. Tulisan ini menjadi bahan pembelajaran bagi saya untuk mengingat kembali akan proses yang seharusnya berlangsung dalam berbagai perencanaan termasuk perencanaan arsitektur.

Bagaimana menurut anda?

Sumber:

http://e.wikipedia.org/wiki/Packaging_and_Labelling

Structural Package Designs. Amsterdam: The Pepin Press. 2003

April 1, 2010

Arsitektur dan Sejarah

Filed under: locality and tradition — reniafriani07 @ 19:56
Tags: ,

Dari kuliah geometri, satu mata kuliah dari sekian banyak mata kuliah bisa menyebutkan kalau arsitektur itu sebenarnya bukan hanya apa saja yang sudah didapat selama ini, dan yang lebih mengejutkan lagi satu bahasan tentang geometri saja bisa menguak banyak hal. Contohnya : dari pengertiannya sendiri geo adalah bentuk sedangkan metri adalah ukuran, yang mana bentuk bukan hanya berhenti disitu saja, begitu juga dengan ukuran yang pada akhirnya kita juga bisa mengenal yang namanya golden section. Arsitektur itu bukan hanya membicarakan bentuk, ukuran, keindahan, dan lain-lain. Tetapi arsitektur itu juga terkait erat dengan sejarah, dan satu bahasan sejarah dibawah ini kemudian menimbulkan pertanyaan buat saya, yaitu tentang istana negara.

Kawasan tersebut mula-mula terletak di sisi luar batas kota Batavia dan ditetapkan sebagai lokasi baru untuk pusat pemerintahan oleh Gubernur Jenderal Hermann Wilhelm Daendels untuk menggantikan lokasi lama yang sekarang disebut Taman Fatahillah. Bangunan gedung pertama yang ketika itu didirikan di Weltevreden sebetulnya bukan Istana Negara melainkan gedung Kantor Gubernur Jenderal (sekarang Departemen Keuangan), gedung Pengadilan (pernah menjadi Gedung Mahkamah Agung), Katedral, Markas Besar Militer (sekarang Masjid Istiqlal) dan tangsi militer (sekarang Hotel Borobudur dan kompleks Marinir). Bangunan-bangunan gedung tersebut mengitari sebuah lapangan yang ketika itu diberi nama Koeningsplein (sekarang Lapangan Banteng). Tidak jauh dari lapangan tersebut selanjutnya dibangun tempat tinggal Panglima Militer (sekarang Departemen Luar Negri) dan rumah sakit militer (sekarang Rumah Sakit Gatot Subroto). Semua bangunan-bangunan gedung tersebut milik Kerajaan Belanda sedangkan Istana Merdeka, juga Istana Negara yang terletak di sebelah belakangnya adalah milik perseorangan. Seperti lazimnya di Eropa, juga di pusat-pusat kekuasaan pribumi ketika itu, bangunan-bangunan gedung milik perseorangan selalu meniru gaya bangunan gedung pemerintahan atau penguasa. Pola lengkung pada bidang kiri dan kanan bangunan yang dibuat simetris antara bagian depan dan belakang bangunan Istana Merdeka.

Ketika itu Kerajaan Belanda berikut seluruh wilayah jajahannya menjadi milik Kemaharajaan Prancis sehingga gaya bangunan-bangunan gedung pemerintahan di Weltevreden juga meniru gaya istana-istana di Prancis abad ke-18, yaitu yang disebut Gaya Kemaharajaan (Empire Style). Bangunannya berbentuk empat persegi panjang dan sisi memanjangnya memisahkan dua lapangan. Lapangan pertama terletak di depan istana sebagai tempat parade sedangkan lapangan kedua terletak di belakang istana sebagai tempat rekreasi keluarga kerajaan. Bangunannya sendiri terbagi tiga secara simetris. Bagian tengah lebih panjang karena merupakan bangunan induk sedangkan dua bagian lainnya mengapit di sisi kiri dan kanan. Kedua bagian tersebut lebih pendek dan berfungsi sebagai fasilitas penunjang terhadap bagian utama tadi. Empire style adalah salah satu dari berbagai gaya bangunan yang dihasilkan oleh sejenis arsitektur baru yang marak di Eropa sejak pertengahan abad ke-18, yaitu arsitektur Neo-klasik. Gaya-gaya bangunan tersebut seringkali juga disebut gaya revival karena meniru gaya-gaya bangunan lama di Eropa seperti gaya bangunan Yunani-purba, Romawi atau Gothic.

Gedung Putih adalah rumah kepresidenan Presiden Amerika Serikat. Gedung yang terletak di 1600 Pennsylvania Avenue di Washington, DC ini merupakan tempat tinggal resmi presiden dan keluarganya selama masa jabatannya. Saat seorang presiden baru terpilih, presiden yang lama segera pindah. Juga memiliki kantor di mana presiden menjalankan pemerintahan.

Gedung Putih atau dalam bahasa Inggris disebut the White House adalah istana atau tempat kediaman resmi dan kantor Presiden Amerika Serikat. Arsitek yang semula mendisain Gedung Putih adalah James Hoban, seorang kelahiran Irlandia. Lokasi tempat dimana istana itu akan dibangun dipilih oleh presiden pertama George Washington dan sahabatnya seorang insinyur dan arsitek Prancis bernama Pierre Charles L’Enfant, yang juga merupakan arsitek pembangunan ibukota Amerika Serikat, Washington DC.

Istana merdeka ataupun istana negara tersebut merupakan suatu identitas menurut saya dan itu identitas sebuah negara, mengapa istana tersebut yang tetap menjadi sebagai istana negara kita yang arsiteknya sendiri adalah Drossares dan istana tersebut juga bergayakan eropa yang tentu saja tidak mencerminkan Indonesia itu sendiri. Sedangkan pada gedung putih Amerika terdapat kesinkronan antara keduanya. walaupun dalam kenyataannya (sejarahnya) perjuangan dalam mempertahankannya yang kemudian dianggap sebagai identitas negara.

March 31, 2010

Geometry in Traditional Architecture – ‘Rumah Gadang’

Filed under: locality and tradition — gemala @ 21:10
Tags: ,

Saat berbicara mengenai arsitektur, secara tidak langsung kita juga berbicara mengenai geometri yang merupakan salah satu unsur pembentuk arsitektur. Dan saat saya mengolah skripsi yang terkait dengan arsitektur tradisonal Minangkabau, saya menyadari ternyata hal ini tidak hanya berlaku untuk arsitektur modern tetapi juga berlaku untuk arsitektur tradisional yang eksis tanpa campur tangan arsitek.

Rumah gadang sebagai hasil dari proses berarsitektur masyarakat Minangkabau, bagi saya merupakan salah satu karya arsitektur yang sangat menarik. Hal ini bukan hanya karena saya adalah orang Minang tetapi juga karena saat melihat rumah gadang, secara visual kita disuguhkan pada permainan geometri yang tidak lazim. Ketidaklaziman ini salah satunya dapat dilihat dari massa rumah gadang yang besar ke atas sehingga memberi kesan tidak proporsional. Selain itu, hal yang juga cukup menonjol adalah permainan garis-garis lengkung pada atap gonjongnya yang curam dan runcing menjulang ke langit.

Bentuk-bentuk geometri seperti ini ternyata tidak muncul begitu saja tapi juga tidak berdasarkan pada teori-teori yang terkait dengan geometri seperti teori Vitruvius, Euclidean Geometry, Gestalt ataupun lainnya. Bentukan geometri seperti ini ternyata lahir sebagai simbol yang mewakili penghormatan dan penyesuain terhadap alam yang telah melewati proses trial and error. Proses ini berlangsung sekian lama hingga diperoleh bentuk seperti bentuk rumah gadang yang kita lihat sekarang ini.

Hal lain yang menarik saat mengenal arsitektur rumah gadang adalah bahwa ternyata ukuran yang dipakai tidak mengikuti kaidah metrik ataupun Golden Section yang dianggap dapat menciptakan sesuatu yang proporsional. Ukuran yang dipakai adalah ukuran tubuh manusia yaitu jari, jengkal, hasta dan depa. Namun walaupun menggunakan satuan yang secara metrik tidak dapat dipastikan keakuratannya (karena ukuran jari, jengkal, hasta dan depa pada tiap orang berbeda), rumah gadang tetap dapat dibangun dengan baik (dalam artian tidak ada masalah yang diakibatkan kesalahan ukuran). Hal ini bagi saya, lagi-lagi membuktikan bahwa alam atau sesuatu yang natural itu menyimpan kaidah-kaidah geometri yang ajaib.

Selain itu dalam kaitannya dengan arsitektur tradisional, geometri dianggap dapat merepresentasikan pandangan hidup masyarakat yang juga berlaku bagi arsitektur tradisional Minangkabau. Pandangan hidup orang Minang disimbolkan ke dalam bentuk-bentuk tertentu dan dijadikan sebagai bagian dari arsitektur. Disinilah geometri berperan sebagai penerjemah simbol-simbol tersebut kedalam bentuk visual.

Dengan mempelajari arsitektur tradisional khususnya rumah gadang ini,  saya melihat ada cara lain dalam memandang geometri sebagai bagian dari arsitektur. Geometri tidak hanya dinilai sebagai unsur arsitektur yang membantu memberikan nilai estetika pada bangunan namun juga sebagai representasi dari nilai-nilai yang dianut oleh suatu golongan masyarakat tertentu.

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.