there’s something about geometry + architecture

May 30, 2012

Digital Grafis; warna yang menipu

Filed under: perception — fazrinrahman @ 16:30

Pada zaman teknologi seperti ini, kebanyakan visualisasi seni dan grafis kita kebanyakan mengkonsumsinya dari media-media digital, seperti TV, komputer jinjing, handphone, kamera, dan banyak media digital lainnya. Selain memberikan kemudahan dan akses tak terbatas pada kita sebagai penikmat media, kita dapat menyimpan, memutar kembali, bahkan mengolah imej-imej digital tersebut. Akan tetapi, dibalik semua kemudahan yang ditawarkan oleh dunia digital ini, ada kekurangan yang seringkali tidak kita perhatikan dalam urusan media digital ini. Di dunia grafis, warna merupakan komponen penting yang tidak terpisahkan dari karya-karya grafis ini. Tidak hanya terbatas pada grafis-grafis yang menggunakan banyak tone warna, tapi juga berkaitan langsung dengan grafis-grafis hitam-putih.

Image

Ketidaknyamanan yang seringkali menjadi kelemahan dari grafis di dunia digital adalah tingkat keakuratan warna ini. Seringkita temui misalnya, hasil foto atau grafis, yang kita olah menggunakan satu komputer memiliki, kejernihan warna, kecerahan, kontras, ketajaman, dan lainnya. Misalnya, pada saat mengolah foto menggunakan MacOS, output warna yang dihasilkan terlihat berbeda daripada ketika kita mencoba mengolah foto tersebut dengan komputer ber OS windows. Hal ini dikarenakan setingan dan standarisasi warna diantara kedua perangkat yang memang berbeda.

Selain itu, ada aspek lain yang mempengaruhi, kecanggihan perangkat salah satunya. Pada monitor/layar berbasis CRT ( Cathode Ray Tube) memiliki kejernihan dan kekayaan warna yang berbeda dengan monitor-monitor high-end yang sering dipakai seperti saat ini. Standarisasi warna digital yang berbeda-beda pula juga mempengaruhi. Seperti yang kita ketahui warna-warna (baik digital dan fisik) di lingkungan kita terbentuk dari pengkomposisian warna RGB (red-green-blue), akan tetapi standarisasi untuk pewarnaan digital mulai berubah karena kebutuhan gelap-terang yang pekat pada alat-alat elektronik, oleh karena itu standar baru mulai diperkenalkan yaitu CMYK (cyan-magenta-yellow-black).

Image

Selain hal-hal di atas, aspek fisik lingkungan juga mempengaruhi, penggunaan layar monitor di ruangan terang dengan di ruangan gelap berbeda akan memberikan pengaruh dan citra warna yang berbeda pula bagi penggunanya. Banyak faktor lainnya yang tidak kalah berpengaruhnya pada kualitas dan persepsi warna digital yang kita lihat, misalnya penggunaan screen-protector pada perangkat kita, settingan standar monitor (brightness, contrast, colour, dst.)

Masalah warna dan setingannya di atas, menjadi masalah ketika kita membutuhkan memindahkan imej-imej digital tadi ke bentuk fisik seperti poster, foto dan media cetak lainnya. Terkadang warna yang dihasilkan berbeda dengan yang kita lihat pada layar monitor. Sehingga terkadang kita yang merasa dirugikan oleh keadaan ini. Hal ini mengacaukan penilaian seseorang terhadap kualitas grafis yang dilihatnya. Baik secara estetik maupun secara komposisi. Banyak usaha yang dilakukan untuk menyiasati hal ini, salah satunya dengan metode kalibrasi. Hal ini untuk menyelaraskan antara warna yang tampil di layar monitor semirip mungkin dengan warna pada hasil cetakan. Akan tetapi hal ini tidak dapat benar-benar diandalkan karena perbedaan tetpa saja dapat terjadi karena masalah-masalah lainnya, seperti kualitas perangkat cetak, kemurnian warna tinta, kualitas kertas, dan lainnya. Hal ini membuat saya berargumen, apabila dibandingkan dengan kualitas estetis yang dapat kita temui pada seni-seni klasik seperti lukisan, sculpture, dan sketsa-sketsa, karya-karya seni digital kontemporer, memiliki hal ini sebagai kekurangan yang sulit untuk ditutupi. Lukisan-lukisan klasik dinilai berdasarkan kualitas goresan, kedalaman warna, tekstur dan elemen-elemen lainnya yang menjadikan karya seni tersebut berkelas dan seringkali menggambarkan kejeniusan dan keahlian dari pembuatnya. Berbeda dengan karya-karya grafis digital yang mudah diduplikasi, pergeseran kualitas, dan seterusnya yang membuat karya tersebut cenderung “murahan”.

ImageImage

Akan tetapi penilaian tersebut kembali pada diri penikmat seni masing-masing, kualitas goresan dan kedalaman makna sebuah karya seni pada zaman seni kontemporer seperti sekarang ini telah bergeser dan mengalami perubahan, sehingga nilai sebuah karya seni tidak lagi bergantung pada standar-standar baku dan klasik yang seringkali dijadikan patokan.

 

April 5, 2012

Persepsi Akan Sebuah Realitas

Filed under: perception — arifrw @ 00:08

Selama ini kita percaya dunia yang kita lihat ini adalah dunia yang nyata. Namun bagaimana sebetulnya kita mempersepsikan dunia nyata ini? Apakah kenyataan yang kita lihat sama dengan kenyataan yang orang lain lihat? Menurut Albert Einstein dan Douglas Adams, apa saja yang kita lihat di sekeliling kita saat ini dipersepsikan sebagai realitas.

Reality is merely an illusion, albeit a very persistent one.” – Albert Einstein

Everything you see or hear or experience in any way at all is specific to you. You create a universe by perceiving it, so everything in the universe you perceive is specific to you.” – Douglas Adams

Saya kemudian mencoba melihat fenomena ini diterapkan pada film “Inception“. Secara garis besar film ini bercerita tentang bagaimana sekelompok orang menanamkan ide baru ke dalam pikiran orang lain melalui mimpi yang berlapis-lapis sehingga orang tersebut menerima ide yang ditanamkan di dunia nyata. Di film ini saya banyak menemukan bagaimana setiap orang terjebak dalam persepsi mereka akan realitas.

ImageImage

Dalam scene di atas misalnya, tokoh Ariadne dan Cobb sebenarnya sedang berada di mimpi lapis pertama dan kota tempat mereka berada dapat berjalan secara horizontal maupun vertikal. Mobil-mobil bisa bergerak dari atas ke bawah, bawah ke atas, begitu pun dengan manusia. Hal ini tentu saja tidak nyata bagi kita, tapi bagi mereka yang sedang berada di kota itu, itulah realitas mereka. Karena area itu yang sedang mereka lihat dan mereka bisa berjalan secara vertikal secara nyata di mimpi tersebut.

Image

Scene selanjutnya adalah daerah gunung es. Area ini sebetulnya mimpi di lapis ketiga, dimana sebetulnya para tokoh di dalamnya sedang bermimpi bersama-sama di mimpi lapis kedua yaitu di dalam hotel. Mungkin kita berpikir seharusnya yang nyata bagi mereka adalah hotel tersebut, tetapi di saat berada di gunung es itu, itulah yang menjadi realita mereka. Mereka bisa menggunakan ski dengan nyata, merasakan dinginnya salju, bahkan kesakitan saat tertembak. Pengelihatan dan pengalaman ini menjadikan area gunung es dipersepsikan sebagai kenyataan saat itu.

Image

Scene terakhir yang saya coba lihat adalah mimpi lapis keempat, dimana tokoh Saito menjadi sangat tua karena ia menganggap mimpi itu sebagai dunia nyatanya. Hal ini diakibatkan memori akan dunia nyata sebenarnya dengan mimpi menjadi samar sehingga ia terjebak dalam persepsinya sendiri akan realitas. Rumah bergaya jepang dan pantai di sekitarnya lah yang menjadi realitas bagi Saito, sementara tokoh Cobb dapat menyadari bahwa itu bukan realita melainkan mimpi lapis keempat dan berhasil menyelamatkan Saito.

Beberapa adegan di film ini membuat saya berpikir bahwa realitas sebetulnya memang hanya apa yang diri kita persepsikan dari penglihatan, mungkin bukan sesuatu yang benar-benar ada dan terjadi di sekitar kita. Jadi, apakah tempat tinggal kita dan seluruh kegiatannya saat ini adalah dunia yang benar-benar nyata?

Sumber:

http://www.lifehack.org/articles/lifehack/your-perception-is-your-reality.html

http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=looks-can-deceive

Eco, Umberto. 1973. “Travels in Hyperreality”

 

April 4, 2012

Pemetaan Universal Studio Hollywood dengan Konsep Ideal City

Filed under: ideal cities,perception — weningn @ 20:12

“‘Recessed’ apartment buildings in the Radiant City. Parks and schools in the middle. Elevator shafts spaced out at optimum distances (it is never necessary to walk more than 100 meters inside the buildings). Auto-ports at the foot of the shafts, linked to the roadways […]. The floor directly above the pilotis is given over to communal services. Under the pilotis, pedestrians walking unobstructed in all directions. In the park, one of the large swimming pools. Along the roofs, the continuous ribbon of roof gardens with beaches for sunbathing.”  (Gambar 1) – Le Corbusier1

Kalimat tersebut merupakan salah satu gambaran menurut Le Corbusier bagaimana kota seharusnya memiliki tatanan yang seimbang yang kemudian dapat membentuk kualitas hidup yang baik bagi penghuni kota tersebut. Kota yang ideal adalah kota yang mampu merepresentasikan aspek -  aspek pemikiran dan usaha manusia yang tinggal di dalamnya, hal ini dapat terlihat dari adanya respon dari kota tersebut terhadap suatu permasalahan dalam bentuk penyempurnaan kehidupan sosial sehari – hari bagi tiap individu masyarakatnya. Kota yang ideal dapat membantu mengilustrasikan bagaimana tempat tinggal manusia dan masyarakat di dalamnya dapat berkembang karena kota tersebut dapat menginspirasi manusia untuk melakukan tindakan yang efektif dalam kehidupannya.

“The Radiant City from the pedestrian’s perspective. “A battle of giants? No! The miracle of trees and parks reaffirms the human scale.” – Le Corbusier2

Banyak aspek yang dikemukakan oleh Le Corbusier mengenai kota ideal, salah satunya yakni mengenai area hijau yang sebaiknya diposisikan di tengah sebuah kota, contohnya seperti yang kita ketahui New York dengan Central Parknya. Pemikiran – pemikiran Le Corbusier merupakan sebuah pemikiran jangka panjang bagi sebuah kota dan penduduk di dalamnya, dua pernyataan di atas merupakan sepenggal bukti bahwa Le Corbusier sebenarnya sangat memikirkan bagaimana kota tersebut berdampak dalam jangka waktu yang panjang terhadap kualitas hidup yang didapatkan oleh penduduk yang berkehidupan di sebuah kota., dari kualitas kehidupan sosial sampai ke kualitas hidup yang mendasar, seperti udara yang kita hirup diselaraskan dengan adanya area hijau.

The Ideal City stands at the crossroads between imagination and experience” – Dr. Rhodri Windsor Liscombe.4

Selain dari peningkatan kualitas individu yang tinggal di dalamnya, kota yang ideal juga merupakan titik temu antara imajinasi dan pengalaman. Hal ini berkaitan dengan pemikiran kota ideal oleh Le Corbusier mengenai bagaimana sebuah kota dapat menginspirasi penduduk di dalamnya dan melakukan tindakan efektif yang disini dikatakan sebagai sebuah hal eksperimental.

 

Lalu, apakah pemikiran – pemikiran dari beberapa ahli di atas mengenai konsep kota ideal selaras dengan konsep pemetaan Universal Studio Hollywood?. Universal Studio merupakan wahana bermain Universal Studio dengan konsep taman bermain yang bertemakan film – film legenda Hollywood produksi Universal Studios. Terdapat 3 bagian pemetaan di dalam denah Universal Studio, antara lain Citywalk, Upper Lot dan Lower Lot. Citywalk berada di area depan dari Universal Studio Hollywood , area ini merupakan area komersial yang di dalamnya terdapat banyak gerai – gerai dari berbagai brand terkemuka. Jika diperhatikan pada peta Universal Studio Hollywood, area ini layaknya suburban dalam sebuah kota, area tersebut berada di lingkar luar dari wahana utamanya, selain itu keberadaan ‘ditutupi’ oleh pepohonan, hal ini mungkin dimaksudkan untuk menghindari ‘polusi’ visual ketika seseorang sedang merajut eksperimen pengalaman di dalam.

Suburban life is a despicable delusion entertained by a society stricken with blindness!” – Le Corbusier5

 Masuk ke area kedua dalam Universal Studio yakni Upper Lot, area ini merupakan area utama dari Universal Studio Hollywood. Dengan konsep taman bermain, area tersebut sengaja divisualisasikan sebagai tempat yang menawarkan berbagai macam eksperimen dan pengalaman dalam sebuah imajinasi4 penggambaran film – film produksi Hollywood, contohnya seperti Shrek 4D, Terminator 2D, 3D  dan lain sebagainya. Area ini menjadi ‘pusat kota’ dari ‘kota’ Universal Studio, tanpa mengesampingkan hal di luar wahana permainan, Upper Lot menyediakan area hijau yang tersebar di dalam area tersebut, hal tersebut mendukung konsep jalur akses (sirkulasi) sepanjang wahana yang didesain seperti jalur untuk pedestrian. Pengunjung dapat mendapatkan kualitas berjalan yang seharusnya ditemui dalam sebuah kota ideal2 tanpa terganggu dengan melajunya kendaraan – kendaraan di sekitarannya.

 

Selain itu, pada area ini juga terdapat waterfront yang berada di dekat pintu masuk Universal Studio Hollywood, ‘area air’ ini merupakan salah satu gambaran representasi kota ideal yang dinyatakan oleh Le Corbusier1 sehingga kualitas pengalaman yang didapatkan menjadi tidak monoton seperti yang banyak diungkapkan dalam kota modern, seperti Jakarta dengan skyscrapernya.

 Area terakhir adalah Lower Lot, Upper Lot dan Lower Lot dihubungkan dengan escalator, area ini ibarat downtown dalam sebuah kota, masih terdapat wahana bermain di area ini namun jumlahnya tidak sebanyak pada Upper Lot, dan wahana penggambaran film garapan seperti ‘area air’ yakni Jurasic Park The Ride yang memberikan pengalaman dalam dunia air, meskipun tidak secara harfiah berdiri dengan fungsi kolam renang seperti yang diungkapkan Le Corbusier1.

Dari analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa ketiga area pada Universal Studio Hollywood, mengadaptasi konsep kota ideal yang dikemukakan oleh Le Corbusier, dan diperkuat oleh pernyataan Dr. Rhodri Windsor Liscombe, mengenai kualitas hidup yang didapat oleh penduduk sebuah kota yang disini diterjemahkan sebagai kualitas pengalaman oleh pengunjung Universal Studio Hollywood yang dihadirkan dari kecanggihan teknologi dalam penggambaran imajinasi film – film produksi Universal Studio. Diselaraskan dengan konsepnya taman bermain, karenanya diadakan jalur pedestrian dan beberapa waterfront. Hal – hal tersebut yang pada akhirnya menciptakan sebuah valuable experience yang semestinya didapatkan dalam sebuah kota ideal.

 

Sumber :

1,2 dan 5. Le Corbusier (Charles Edouard Jeanneret-Gris), The Radiant City: Elements of a Doctrine of Urbanism To Be Used as the Basis of Our Machine-Age Civilization (London: Faber and Faber, 1967). 

3 dan 4. Dr. Rhodri Windsor Liscombe, Vancouver Working Group Discussion Paper : The Ideal City (The World Urban Forum, 2006).

Geometri dan Bentuk Tubuh Manusia

Filed under: architecture and other arts,perception — sisbut @ 19:12

Banyak buku gambar yang memulai pembelajaran berdasarkan bentuk-bentuk dasar seperti kubus, lingkaran, ataupun prisma. Bentuk-bentuk ini mendasari gambar dan menjadikan latihan awal dalam menggambarkan sosok manusia.

 

Tubuh manusia digambarkan sebagai kumpulan volume 3D yang terkait satu sama lainnya, bagian sendi disimbolkan dengan bola dengan kemampuan untuk berputar sesuai dengan kemampuan sendi. Bola tersebut menghubungkan bentuk geometris bersudut di dalam tubuh berupa benda ini adalah tulang. Bentuk tulang asli memang tidak 3D namun volume yang menutupi berupa daging memberikan bantuk kepada tulang sehingga mereka dapat dilambangkan sebagai sebuah bangun 3D.

Bentuk-bentuk ini kemudian mengikuti bagian yang sesuai dengan susunan rangka dan volume dari bagian manusia. Tidak hanya itu, setiap bagian masih dapat disederhanakan menjadi sebuah bentuk geometri.

Bentuk-bentuk dasar ini justru digunakan kembali dalam seni beraliran kubisme. Bentuk kubus dan bentuk lingkaran dikembangkan untuk mencapai sebuah komposisi seperti terlihat dalam karyanya Pablo Picasso yang berjudul The Mandolin:

The Mandolin karya Picasso

Leonardo da Vinci mengambil perbandingan ini lebih jauh lagi hingga menemukan perbandingan tertentu pada modelnya Vitruvian Man. Rumusan yang diambil berdasarkan buku yang ditulis Vitruvius, De architectura:

Vitruvian Man karya Leonardo da Vinci

Le Corbusier, juga merumuskan perbandingan yang ia buat berdasarkan bentuk geometri tertentu dengan perbandingan dan proporsi yang diambil ketika seseorang meregangkan tanganya dan mencapai ketinggian 2.20 meter. Ide awalnya, Le Corbusier berusaha untuk mentranslasikan perbedaan satuan penghitungan antara inch dan meter.

The Modulor karya Le Corbusier

Pengertian akan geometri dan penemuan rumus-rumus serta proporsi tertentu membantu manusia untuk mendapatkan gambaran akan bentuk. Terutama bagi mereka yang sangat menyukai matematika, bentuk-bentuk 3D ini tidak akan lepas dari perhitungan dan presisi. Namun lewat ekspresi dalam karya seni, sebagai contoh aliran kubisme, benda-benda yang semula tampak kaku dengan perbandingan yang ketat dapat digambarkan dengan lebih bebas. Tidak hanya itu, bentuk sederhana tersebut juga digunakan mereka yang menggambar kartun seperti contoh di bawah ini:

Stop - Cyanide and Happiness

Bentuk-bentuk geometri tampaknya tidak akan lepas dari bagaimana seseorang melihat dunia. Mulai dari usaha Leonardo da Vinci  untuk mengejar kesempurnaan dalam bentuk tubuh manusia hingga The Modulor milik Le Corbusier. Namun di tengah kerumitan dan perhitungan yang seolah-olah mengejar kebenaran dan suatu standar akan penilaian manusia, kita juga berusaha untuk menyederhanakan bentuk kembali ke bentuk dasar dan bentuk 3 dimensi. Kerumitan dalam 3D dapat disederhakan dengan bentuk 2D untuk menghasilkan proyeksi tertentu seperti contoh pada gambar di atas, rupa manusia disederhanakan menjadi bentuk berupa lingkaran (kepala), segiempat (badan), garis (untuk tangan, kaki & mulut), dan titik (biji mata). Geometri tampaknya tidak akan lepas dari persepsi sesorang selama kita masih mencari asosiasi berupa keserupaan bentuk akan bentuk lain terutama adanya pembelajaran ilmu dasar berupa geometri itu sendiri.

Daftar Pustaka:
Art of Drawing the Human Body
. Sterling Publishing Co., Inc. 2004
Borenstein, Sheldon. See, Feel, Trace, Draw It. DNP.

http://en.wikipedia.org/wiki/Vitruvian_Man

http://en.wikipedia.org/wiki/The_Modulor

Sumber gambar:

http://zules.wikispaces.com/file/view/modulor.jpg/34919913/modulor.jpg

http://angiedee.files.wordpress.com/2008/10/picasso_mandolin.jpg

http://www.world-mysteries.com/vitruvian_man_mixed.jpg

http://www.explosm.net/db/files/Comics/Kris/stop2.png

Kesimetrisan & Golden Ratio Wajah Yoona SNSD

Filed under: classical aesthetics,perception — ekaint09 @ 13:28
Tags: ,

Dalam buku Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III , Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III, Vitruvius menyatakan “…and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry.” Menurut Vitruvius ada dua hal yang mempengaruhi unsure keindahan yaitu proporsi dan simetri. Hal ini berdasarkan tubuh manusia yang memiliki proporsi yang baik pada setiap anggota  tubuhnya dan juga ada beberapa bagian tubuh yang simetri seperti tangan kanan dan tangan kiri, kaki kanan-kai kiri atau tentang letak mata dan telinga yang simetri dengan garis lurus di bagian tengan tubuh yang mebagi dua tubuh secara seimbang sebagai sumbunya.

Dalam bukunya pula , Vitruvius menjelaskan mengenai proposionalistas dan kesimetrisan setiap anggota tubuh manusia, dia menyatakan di ban on Symmetry: in Temples and in The Human Body “…if we take height of the face itself, the distance of the bottom of the underside proportion, and it was by employing them that the famous painters and sculptors of antiquity attained to great and endless renown. ” (Ten Books in Architecture, page 72). Vitruvius menjelaskan bahwa terdapat rasio disetiap bagian tubuh manusia secara keseluruhan. Pada kesempatan ini saya akan mencoba mencari tau kesimetrisan wajah Yoona SNSD yang notabene dianggap cantik oleh banyak orang terutama pria. dia juga merupakan salah satu wanita tercantik di Korea.

saya akan mencoba membuktikan apakah benar semua yang simetri itu indah, bagaimana kalu tidak simetri? apakah tetap indah? selain itu apakah pola golden ratio wajah yang baik atau cantik itu bisa memastikan wajah tersebut cantik? apakah kalau tidak pas dengan pola tersebut, berati orang tersebut tidak cantik?

berikut merupakan hasil analisa yang saya lakukan:

Gambar 3. Golden Ratio Wajah Yoona SNSD

Dari hasil analis diatas terlihat bahwa wajah Yoona itu tidak benar-benar simetri, karena apabila benar-benar simetri rasio wajahnya adalah 1. tetapi justru ketika saya menyimetrikan wajahnya baik dari sebelah kanan maupun dari sebelah kiri, malah membuat wajahnya terlihat aneh. ketidaksimetrian ini justru menciptakan sebuah keindahan, namun keindahan memang relatif. kesimetrisan memang menciptakan keindahan bila di arsitektur tetapi tidak pada proporsi manusia.

sedangkan pada gambar ketiga bisa dilihat wajah Yoona setelah diberi pola golden ratio, hampir semua bagian cocok dengan pola tersebut kecuali dibagian mata, matanya lebih sipit dan kecil dibandingkan dengan pola tersebut. mungkin dikarenakan Yoona ini orang Asia yang bermata sipit, dan Golden Ratio tersebut tidak dibuat dengan menyesuaikan proposional wajah Asia yang baik, melainkan untuk orang Eropa ataupun Amerika, menurut pendapat saya.Tetapi hal ini menurut saya tidak menggeser penilaian orang termasuk saya bahwa Yoona SNSD itu cantik, walaupun wajahnya tidak terlalu pas dengan pola golden ratio wajah yang sempurna.

sumber:

Vitruvius. 1960. Ten Books of Architecture

http://www.intmath.com/numbers/math-of-beauty.php

http://majorityrights.com/weblog/comments/the_facial_proportions_of_beautiful_people

Geometri di Angkasa

Filed under: perception — noviapanisti @ 09:51
Tags: , ,

Semua orang tahu mengenai zodiak. Masing-masing orang pasti mengetahui zodiak mereka; pernah membaca ramalan bintang atau bahkan sering. Namun, tidak semua orang mengetahui bentuk rasi dari zodiak mereka, bukan? Dalam ramalan bintang di majalah-majalah yang sering dibaca oleh orang-orang yang diperlihatkan adalah gambar-gambar lambing zodiak, seperti timbangan, kalajengking, dan lain sebagainya.

Disadari atau tidak, konstelasi di ruang angkasa sana memiliki banyak bentuk geometri yang sebenarnya terbentu dari garis-garis lurus yang saling terhubung menciptkan variasi bentuk.

Pada awalnya, terlihat bahwa mereka hanyalah titik-titik yang tersebar dengan lokasi tertentu, sehinga jika disambungkan akan membentuk suatu bangun yang berbeda-beda. Karena merupakan sambungan dari titik-titik, tidak ada rasi yang bentuknya halus seperti kurva. Mungkin dengan menyambungkan banyak titik lain kita dapat menemukan rasi bintang yang baru karena jumlah bintang di luar sana tidak terbatas. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa memang elemen yang paling dasar dari suatu bentuk adalah titik. Dari titik-titik tersebut kemudian terciptalah garis, yang kemudian bila digabung dengan garis lainnya akan menghasilkan bentuk yang variasi bentuknya tidak terhingga.

Sumber:

Astropixie. Astronomical Geometry. 31 Agustus, 2007. http://amandabauer.blogspot.com/2007/08/astronomical-geometry.html. Diakses tanggal 3 April 2012.

Gaiu. Rasi Bintang. 11 Januari, 2011. http://gayuhprima.com/astronomy-stuffs/rasi-bintang/. Diakses tanggal 3 April 2012.

Anonim. Golden Mean Geometry, Zodiac Symbalas. 2011. http://www.symbalaworld.com/symbalas/Print/GMGZodiacSymbalas.htm?cid=. Diakses tanggal 3 April 2012.

April 2, 2012

Form and Gender Perception

Filed under: perception — mezanomuhammad @ 22:37
Tags: ,

Pernahkah anda iseng untuk mencoba menyebutkan gender apakah barang-barang di sekitar anda? Misalnya garpu dan sendok di meja makan, ataupun benda-benda kecil di sekitar anda yang lainnya. Saya kerap kali mencoba untuk iseng menyebutkan gender dari bentuk-bentuk yang umum kita lihat di sekitar kita. Hasilnya, sering kali saya menemukan orang lain berpendapat sama akan apa yang saya sebutkan. Dari situ, saya mencoba membuat riset kecil dalam keluarga saya (7 orang responden), dengan menanyakan apakah gender dari benda-benda berikut:

Manakah yang masculine dan manakah yang feminine?

Hasil yang cukup mengejutkan bahwa semua responden mengasosiasikan bentuk-bentuk tersebut pada gender yang sama, dari respon yang diberikan, semua responden menjawab sebagai berikut:

Jawaban responden

Lalu apakah yang didapat dari riset kecil ini? Mutlaknya jawaban responden atas gender preference dari bentuk-bentuk diatas menandakan adanya persepsi pada pikiran manusia yang secara umum memandang karakteristik sebuah bentuk yang diasosiasikan pada suatu sifat, baik masculine maupun feminine. Bagaimanakah persepsi pandangan ini dapat terbentuk dalam pikiran kita? Saya mencoba mencari sebab-sebab kecil yang mungkin mentrigger terbentuknya persepsi kita akan karakteristik bentuk-bentuk tersebut.

Karena dalam hal ini saya membicarakan mengenai sifat masculine dan feminine dari suatu bentuk, saya mencoba mengembalikan persepsi tersebut pada bentuk dasar dari masculine dan feminine, yaitu tubuh manusia. Berikut ialah gambar dari proporsi ideal tubuh pria dan wanita.

Proporsi ideal tubuh pria dan wanita

Dari bentukan proporsi tubuh tersebut, bisa kita lihat bahwa tubuh pria lebih digambarkan menggunakan garis-garis yang tegas dan kaku, sementara penggambaran tubuh wanita lebih menggunakan garis yang lembut dan melengkung. Tentunya garis-garis pembentuk proporsi tubuh manusia ini seringkali menjadi acuan saat kita sendiri mencoba menggambar pria ataupun wanita. Saat kita mencoba menggambar seorang pria, sesuai dengan proporsi tubuh diatas, garis yang kita gunakan akan berbeda dengan saat kita mencoba menggambar seorang wanita.

Menggambar sosok pria dan wanita

Dari garis-garis tersebutlah saya mencoba mencari titik temunya dengan bentuk-bentuk pada kuesioner di awal tadi. Ternyata, bentuk yang dianggap memiliki gender ‘pria’ atau bersifat masculine, cenderung menggunakan garis-garis yang tegas dan kaku, sementara kebalikannya, bentuk feminine lebih menggunakan garis yang meliuk dan melengkung sebagai pembentuk formnya.

Garis tegak = Masculine? , Garis Lengkung = Feminine?

Mungkin, secara tidak sadar, otak kita seringkali mengasosiasikan bentuk dan garis-garis pada suatu benda dengan garis-garis masculine dan feminine yang ada dialam persepsi kita. Apakah memang suatu bentuk dapat membuat otak kita mengklasifikasikannya menjadi golongan-golongan tertentu berdasarkan karakteristik sifat garisnya? Atau elemen-elemen lain seperti warna juga dapat mempengaruhi persepsi kita akan sifat dari suatu bentuk? Tentu ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi persepsi kita akan suatu bentuk. Mungkin ini pun hanya persepsi dari saya, karena bisa saja anda berpendapat berbeda dari yang dipaparkan diatas :D

Golden Ratio and Web Design

Kita mengetahui bahwa golden ratio ataupun golden section telah menjadi acuan dalam membuat sesuatu dengan proporsi yang sempurna sehingga berpengaruh terhadap nilai estetika dan keindahan suatu karya. Bukan hanya berpengaruh dalam segi estetika saja, namun juga berpengaruh dalam keberhasilan suatu karya. Seorang ahli matematika dan filosof Adolf Zeising menemukan bahwa golden ratio muncul dalam komposisi akar tanaman dan jaringan daun, tidak hanya itu, Adolf Zelsing juga menemukan golden ratio pada tulang-tulang hewan, tanaman, bahkan manusia. Hingga ia melihat golden ratio sebagai sebuah aturan universal, bukan hanya sekedar estetika dan keindahan, namun juga berperan dalam  fungsi dan efektifitas suatu hal.

 

Lalu dari situ saya tertarik untuk mengaitkan fungsi golden section terhadap efektifitas dan keberhasilan dari sebuah web design. Dunia maya telah berkembang sedemikian pesat, berawal hanya sebagai media informasi, namun dengan banyaknya situs yang bermunculan, semakin diperlukan desain web yang dapat menyampaikan isi web nya dengan semudah mungkin, seefisien mungkin, serta semenarik mungkin, hingga dapat dapat bersaing diantara banyaknya web yang bermunculan dan dapat menarik sebanyak banyaknya pengunjung yang betah berlama lama di web tersebut.

 

Coba kita lihat salah satu situs yang, mungkin oleh beberapa dari kita, merupakan situs yang paling sering dikunjungi, twitter.com. Dengan membawa konsep micro-blog, jejaring sosial tersebut sukses menarik banyak mengunjung yang membuat akun sendiri didalamnya, lalu apa yang membuat jejaring sosial tersebut dapat bertahan dan tetap menarik, tentunya karena layout dan desain dari webnya sendiri yang cukup simpel, dan mudah dipahami. Apakah desain web tersebut hanya “kebetulan” merupakan desain yang baik, ataukah ada hal lain?

Terlihat situs tersebut memang dibuat berdasarkan golden ratio, hal tersebutlah yang dipercaya membuat situs jejaring sosial tersebut lebih efektif, efisien, dan mudah dipahami.

Lalu coba kita bandingkan dengan situs lain yang tidak mengikuti golden ratio, dan tidak ditemukan aturan grid didalamnya.

 

Terlihat sekali perbedaannya dengan situs lama Havenworks dan Yale School of Art diatas, walaupun sama-sama mengusuk desain web yang simpel, namun pada desain diatas tidak terlihat efisien, dan saya rasa kurang efektif dalam penyampaian informasinya. Dari sini dapat diketahui bahwa sebuah desain web yang efektif bukanlah sekedar sebuah desain yang sederhana.

 

Sebenarnya ada cara yang cukup mudah mengaplikasikan pemakaian golden ratio dalam sebuah desain web. Dalam golden ratio, terdapat sebuah angka yang penting, yaitu 1,618, yang merupakan dasar dari aturan dalam golden ratio. Dari angka tersebut dapat dibuat pembagian halaman web yang berbanding 1:1,618. Contoh, dalam sebuah halaman web, yang umumnya berukuran 960 pixel, kita bagi menjadi dua bagian dengan perbandingan 1:1,618 yang menghasilkan 594 pixel dan 366 pixel. Hal yang sama dapat dilakukan jika menginginkan layout vertikal.

 

Layout dengan perbandingan itulah yang dipercaya oleh beberapa desainer dapat meningkatkan nilai efektifitas dari sebuah web design. Namun selain cara tersebut, terdapat cara lain yang lebih sederhana, yaitu dengan mengikuti aturan grid, yang berbasis pada spiral Fibonacci.

Bentuk kotak tersebut harus disusun dengan jumlah yang sama pada sisi vertikal dan horizontalnya untuk mendapatkan proporsi yang sempurna. Dari situlah didapatkan sistem grid yang bisa digunakan sebagai basis dalam membuat sebuah web design.

 

 

Selain aturan aturan diatas, masih banyak lagi aturan yang berbasis dari golden ratio, seperti rule of the thirds dan aturan lainnya. Yang perlu diperhatikan disini adalah, golden ratio dalam web design ini bukanlah hanya mempersalahkan nilai estetika seuatu web, namun juga sebagai pembentuk nilai efektifitas yang lebih tinggi, dimana hal tersebutlah yang merupakan hal terpenting dari sebuah web. Jadi, menurut saya pun golden ratio memang bukanlah sekedar aturan untuk membentuk suatu nilai estetika, namun juga dapat dikatakan sebagai sebuah aturan pembentuk dari berbagai hal.

 

Sumber:

http://uxmovement.com/content/applying-the-golden-ratio-to-web-layouts-and-objects/

http://www.joshuagarity.com/web-design/the-golden-ratio/

http://www.smashingmagazine.com/2010/02/09/applying-mathematics-to-web-design/

http://www.smashingmagazine.com/2008/05/29/applying-divine-proportion-to-web-design/

http://net.tutsplus.com/tutorials/other/the-golden-ratio-in-web-design/

http://www.webdesign.org/web-design-basics/design-principles/the-golden-ratio-in-web-design/

 

April 4, 2011

Impossible Figures

Filed under: perception — dewibudiyanti @ 20:29
Tags: ,

Mata menangkap dan merekam hal-hal yang telah dilihatnya. Ketika kita sering melihat berbagai hal berulang kali. Maka ketika kita melihat sesuatu, walaupun tidak terlalu jelas maka mata kita akan memunculkan memori-memori yang lama sehingga kita dapat langsung mengetahui benda yang kita lihat. Jika pun benda itu tidak sama, maka memori yang lama itu akan menggugah kita untuk membandingkan kemiripan kedua benda itu (yang ditunjukkan dari memori dan yang dilihat secara langsung)

Contohnya adalah jika seseorang melihat atau memikirkan sebuah kubus yang memiliki warna berbeda setiap sisinya maka beberapa orang akan mengingat ‘oh, Rubiks ya’ karena keduanya memiliki warna dan bentuk yang serupa. Lalu misalnya ada sebuah coffee table dan dining table, kita akan menganggap kedua fungsinya sama karena bentuk keduanya serupa, berdasarkan memori kita sebelumnya.

But we don’t always see what we see, begitulah kata beberapa orang. Tidak semua yang kita lihat itu benar, beberapa hanya merupakan ilusi mata saja. Apa yang kita anggap benda A bisa saja ternyata benda B, atau mungkin malah bukan keduanya.

Contohnya adalah pada gambar  ini. Gambar ini menceritakan tentang sebuah gerbang. Ketika kita melihat bagian atas gerbang tersebut maka kita dapat memastikan bahwa gerbang itu menghadap ke kiri. Namun ketika kita hanya melihat bagian bawah gerbang maka kita pun menganggap gerbang itu menghadap ke kanan. Ketika melihat keseluruhan gambar akan sulit menentukan sebenarnya dimanakan arah sebenarnya gerbang itu menghadap.

Contoh ke-2 adalah gambar trident di bawah ini. Ketika melihatnya secara sekilas kita akan menganggap bahwa ujung persegi panjang di bagian kiri adalah di persegi di kanan, dan persegi di tengahnya adalah perpanjangan dari tengah-tengahnya. Namun setelah kita lihat lebih jauh, yang terlihat bukanlah persegi panjang namun sebuah balok. Lalu berubah lagi dengan balok yang ujungnya menjadi silindris dan menghadap ke atas. Lalu setelah kita lihat lebih lanjut maka kita akan menyadari bahwa balok kiri tidak berujung balok yang di kanan. Keduanya tidak berhubungan dan bukan dari bagian yang sama.

Apa yang dilihat oleh mata tidak selalu benar. Kita harus lebih teliti ketika melihat segala sesuatu. Sebenarnya kedua gambar di atas tidak dapat ditemukan kebenarannya. Karena setiap orang akan memiliki pemikiran dan alasan masing-masing untuk setiap pendapatnya. Menurut saya, yang membuat sesuatu menjadi benar adalah seberapa paham kita atas apa yang kita lihat. Dan kebenaran itu tidak selalu hanya ada satu.

Persepsi terhadap Air Mancur

Filed under: perception — meiyogo89 @ 20:25
Tags:

Persepsi manusia memang berbeda-beda terhadap suatu hal ataupun benda yang dilihatnya. Terkadang manusia sering melihat sesuatu dari persepsinya sendiri tanpa membandingkan persepsi orang lain. Kali ini saya ingin menunjukkan bagaimana persepsi manusiapun bisa disamakan walupun tidak keseluruhan.Hal ini dilakukan disalah satu tempat disungai yang terdapat di Tokyo Jepang yaitu pada sebuah pertunjukkan air mancur.

Dari gambar-gambar tersebut dapt dilihat bahwa dari air mancur tersebut muncul gambar-gambar seperti lumba-lumba,gajah,angsa dan lain-lain. Gambar tersebut muncul akibat proyeksi lampu sorot yang mengenai air mancur tersebut. Yang ingin saya bahas adalah bagaimana pengaruh air mancur dan sorot lampu tersebut mampu mempengaruhi persepsi kita. Lampu yang menyorot air mancur menghasilkan gambar proyeksi yang bermacam-macam yang menyebabkan kita berpersepsi bahwa di air mancur tersebut terdapat lumba-lumba,gajah dan lain-lain.

Hal ini menarik menurut saya. Karena akibat hal ini kita dapat ,menyimpulkan begitu mudahnya memepengaruhi persepsi manusia terhadap sesuatu. Kita menganggap dari air mancur itu muncul lumba-lumba dan sebagainya yang sebenarnya benda-benda itu tidak ada disana. Dari kasus ini saya menarik sebuah pertanyaan, apakah kita sebagai seorang desainer harus bisa menyampaikan persepsi kita dan bisa  membuat klien setuju dengan persepsi kita tersebut? Sama seperti air mancur tersebut yang membuat kita berpersepsi bahwa air mancur tersebut memunculkan berbagai benda. Atau mungkin justru kita harus bisa menerima menerima persepsi dari klien kita nantinya sehingga persepsi kita hanya melengkapinya?

sumber :http://www.techeblog.com/index.php/tech-gadget/incredible-water-illumination-show-in-japan

March 29, 2011

Is it green? Is it yellow? No! It’s…

Filed under: perception — elitanuraeny @ 19:37
Tags:

Nah, silakan isi kelanjutan dari judul setelah anda membaca habis posting ini :)

Pertama-tama, biar saya bercerita sedikit mengenai apa yang akan saya bahas. Sebenarnya, apa yang akan saya bicarakan disini tak jauh beda dengan ilusi optik dan permainan mata seperti yang sering kita lihat. Tapi, untuk kali ini, ada sedikit perbedaannya. Ilusi-ilusi mata yang biasa kita lihat selalu mendapatkan efek ganda pada saat bersamaan. Misalnya, coba lihat gambar di bawah ini:

Gambar tersebut secara bersamaan menyampaikan dua pesan yang berbeda pada mata kita: gambar seorang perempuan muda dari belakang DAN seorang wanita tua memakai head dress yang sedang tersenyum.

Mari kita coba satu gambar lagi.

Kali ini, ada dua suasana sekaligus dua persona yang ditampilkan. Pertama, adalah sepasang kakek dan nenek yang saling bertatapan, yang satunya lagi adalah perbedaan antara suasana Meksiko dengan India. Keduanya disampaikan secara bersamaan melalui satu gambar.

Kali ini, saya ingin membahas bahwa persepsi ganda seperti ini tidak selamanya diberikan secara nyata–terlukis jelas di atas bidang gambar–seperti pada dua contoh di atas. Kali ini, saya ingin memberikan kepada anda sekalian bahwa persepsi kali ini, kita tidak dikerjai oleh sang ilustrator, tapi kita dikerjai oleh otak dan mata kita sendiri.

Berharap melihat gambar yang lebih spektakuler dari dua gambar di atas, ya? Sayang sekali, gambarnya memang hanya sebuah hati berwarna hijau dengan pinggiran kuning dan noda hitam setitik di tengahnya. Tapi, jangan terkecoh dengan gambar yang sederhana dan terkesan remeh tersebut. Di balik gambar ini, rupanya tersimpan sebuah permainan ilusi yang sangat amat mengagumkan! Sini, mari saya beritahu triknya!

1. Pandangi titik hitam tersebut dengan konsentrasi penuh selama 20 detik (ada juga yang berhasil hanya dengan memandang dalam 15 dengan konsentrasi penuh).

2. Jangan mengedip selama menatap titik hitam tersebut! Hiraukan sejenak rasa pedih di mata!

3. Setelah 20 detik, pejamkan mata sesaat.

4. Alihkan pandangan ke bidang polos berwarna putih.

5. Silakan lihat hasilnya sendiri :)

Sekali lagi saya berikan gambarnya supaya anda tidak perlu meng-scroll ke atas

Untuk kalian yang mencoba, gambar yang terpantul pada bidang putih polos akan muncul dengan warna yang jauh berbeda dengan warna yang terpampang pada gambar asli. Kenapa? Hal ini karena mata masih menangkap sinyal dari gambar hati tersebut meskipun kita sudah tak memandangi gambar yang sama dan mengirimnya ke otak. Penjelasan lebih lanjut, silakan cek video ini.

Bagi saya, percobaan ilusi ini menarik karena berbeda dari ilusi-ilusi yang selama ini saya jumpai. Dalam ilusi kali ini, kita tidak bisa langsung mengambil persepsi yang berbeda di saat bersamaan. Dibutuhkan media lain yaitu waktu dan ruang untuk memperoleh efek kejutan tersebut.

Nah, sekarang sudah tahu, kan, jawaban dari kelanjutan judul posting ini? Medianya tidak harus kertas putih, kok. Coba dengan berbagai macam kertas warna, dan hasilnya akan sama saja. Tatap layar komputer, layar handphone, warna yang sama yang akan keluar. Diambil kertas putih hanya untuk memperjelas warna yang tampil.

Selamat mencoba!

Sumber :

www.youtube.com

www.google.co.id/image

The Spinning Dancer

Filed under: architecture and other arts,perception — murhardiningtyas @ 19:34
Tags:

Gambar di atas, diciptakan oleh Nobuyuki Kayahara dan disebut sebagai The Spinning Dancer atau the silhoutte illusion. Uniknya, perputaran gambar tersebut dapat berubah arah dengan posisi gerakan yang sama. Gambar tersebut bisa dilihat memutar searah jarum jam dan berlawanan arah jarum jam.

Gambar ini hanyalah sebuah ilusi optik yang disebut a reversible / ambiguous image. Gambar seperti ini telah lama dipelajari ilmuwan untuk mempelajari lebih lanjut tentang fungsi penglihatan dan bukan merupakan tes otak seperti yang dikemukakan oleh tabloid Australia bahwa Anda bisa menggunakan putaran arah penari sebagai indikasi apakah anda berotak kanan atau berotak kiri. 1

Awalnya saya melihat gambar ini berputar berlawanan arah jarum jam. Lalu saya mencoba untuk melihatnya berkebalikan arah. Memang cukup sulit untuk melakukannya apalagi saya memandangi gambar ini terus menerus. Lalu saya coba alihkan pandangan saya dan saya lihat lagi gambar ini dan saya melihat gambar ini berputar searah jarum jam. Cara lain bisa dengan memejamkan mata lalu melihat gambar itu lagi atau fokus pada bagian tertentu.

Spinning Dancer merupakan contoh dari apa yang disebut bistable perception. Sebagai objek yang dapat dilihat dalam salah satu atau dua cara. Sama halnya seperti ilusi The Necker Cube dan The Face-vase.

The Necker Cube

The Face-vase

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 The spinning dancer and the brain. http://greengabbro.net/2007/10/20/the-spinning-dancer-and-the-brain/

Parker-Pope, T. (2008, April 28). The truth about the spinning dancer. The New York Timeshttp://well.blogs.nytimes.com/2008/04/28/the-truth-about-the-spinning-dancer/index.html

kekuatan cahaya menghasilkan bayangan yang tak terbayangkan sebelumnya

Filed under: perception — murhardiningtyas @ 19:31
Tags: ,

Ketika anda melihat gambar di atas, maka anda akan melihat bayangan dari dua orang yang sedang duduk, dan otak anda pun akan berpikir bahwa memang ada dua orang yang sedang duduk tak jauh dari bayangan itu.

Tapi pada kenyataannya apa yang anda lihat itu belum tentu benar. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:


Tak ada dua orang yang sedang duduk. Yang ada hanyalah tumpukan berbagai macam benda yang sama sekali tidak terlihat seperti dua orang yang sedang duduk.

Itulah yang dilakukan oleh Tim Noble dan Sue Webster. Mereka membuat ilusi bayangan (shadow illusions) dengan mencoba menghadirkan sesuatu yang lain dari bentuk asal mulanya. Bentuk asal mula itu mereka ciptakan dari tumpukan berbagai bentuk sampah. Persepsi mata si penglihatlah yang dimainkan oleh mereka.

Dalam mencapai hasil seperti itu mereka menggunakan seni proyeksi yang merupakan simbol dari seni transformasi. Sebuah cahaya diproyeksikan terhadap tumpukan sampah dan bayangan pada dinding menciptakan gambaran yang sama sekali berbeda. Noble dan Webster sudah sangat familiar dengan proses ini melalui persepsi psikologi dan bagaimana orang menilai bentuk-bentuk abstrak. Sepanjang karier mereka telah bermain dengan ide tentang bagaimana manusia memandang dan mendefinisikan gambar abstrak dengan artinya.

Peranan cahaya dalam proses ini memegang peranan penting karena dengan arah cahaya yang berbeda akan menghasilkan bayangan yang berbeda pula dan itu akan mempengaruhi bentuk bayangan yang diinginkan.

Berikut adalah hasil karya lainnya:


http://www.refashinoso.com/2010/06/09/junk-art-illusion-shadows/

March 27, 2011

Arsitektur Malam Hari

Filed under: perception — rangsiadzani @ 15:54
Tags: ,

Bangunan yang di siang hari terlihat biasa, di malam hari dapat menjadi lebih menarik dengan pengunaan LED. Lampu LED adalah lampu solid-state yang menggunakan dioda pemancar cahaya (LED) sebagai sumber cahaya. Lampu ini dapat memancarkan cahaya yang berwarna-warni karena memiliki panjang gelombang yang kecil. sejumlah LED harus ditempatkan bersama  dan dekat, karena cahaya yang dipancarkan tidak seterang lampu biasa.

gambar dari: blog.360dgrs.nl

Ternyata selain dapat membuat fasad lebih menarik, penggunaan LED dapat ‘memainkan’ bentuk bangunan.

gambar dari: www.interactivearchitecture.org

Pemberian pencahayaan menggunakan LED ini mampu ‘menipu’ mata kita. Bangunan yang semula bentuknya terlihat biasa, kotak dan lengkung diberi LED, sehingga secara visual terlihat dinamis dan berbeda.

Gambar: www.china-led-lamp.com, www.coolhunting.com, blog.vegasondemand.com

Referensi:www.wikipedia.com

March 26, 2011

Dari Persepsi Artis Termodern, James Turrell

Filed under: architecture and other arts,perception — ferafarwah08 @ 21:48
Tags: , ,

Sebuah teori gestalt bisa digunakan dalam menganalisis elemen-elemen desain. Dengan melihat karya-karya James Turrell, seorang artis ahli light dan space. kita bisa mempesepsikan mana garis mana shape dan mana yang negative space mana yang positif space. Kita bisa memecah pengkomposisiannya dengan mudah karena ia sangat menegaskan elemen desain yang ditampilkan apa. Kemudahan ini dikaitkan kembali karena James Turrell berkaitan dengan light dan space yang sangat mudah kita lihat.

Teori gestalt terdiri dari law of proximity yang menjelaskan kemudahan untuk mengelompokkan, law of similarity yang menjelaskan kemudahan  untuk mendekatkan hal-hal yang sama, law of continuity yang menjelaskan pencarian kontinuitas, dan law of enclosure yang menjelaskan tentang penghilangan elemen lainnya dengan tetap mempertahankan kesederhanaannya. semuanya berujung pada kesederhanaan.

Mari kita lihat gambar-gambar kerja hasil James Turrell, dan menganalisis elemen desain apa saja yang dia tegaskan. Sebelumnya, terlebih dahulu adakalanya untuk mengenal elemen desain secara hakiki, elemen desain terdiri dari Point, Line, Form, shape and, space, Movement, Color, Pattern, dan Texture.

Dari gambar http://www.digicult.it/images/2010/ott/turrel.jpg , Dengan mencari kesederhanaan elemen desain, James Turrell menegaskan elemen desain yang ingin ia sampaikan dengan membuat negatif dan positif space yang mepunyai shape kotak dan memperlihatkan garis-garis yang keluar dari shape melalui tingkat warna yang berbeda dengan memainkan light.

Dari gambar http://www.digicult.it/images/2010/ott/turrel2.jpg ,

James Turrell menegaskan tiga trapesium yang berbeda-beda warnanya. Dengan ada bayangan trapesiumberjumlah 5. tidak ada garis lain, hanya trapesium.

Jadi, dari analisis yang saya perkirakan, saya menganggap James Turrell berusaha untuk membuat shape diatas space,membuat 2d diatas 3d dengan cara “menegaskan melalui persepsi”. Tidak heran ia melakukan cara penegasan melalui persepsi karena asistennya seorang psikolog.

Ada artikel yang menjelaskan penegasan James Turrell melalui persepsi manusia, menurut artikel yang menyorot the James Turrell exhibition di Almine Rech Gallery di Brussel,

“An unconventional and unclassifiable artist, James Turrell incites viewers to look within themselves and question their own perception of light, matter, color, shape and their position as spectator, their role in the definition and the existence of the work of art.”

Artikel ini sangat terpercaya karena mencantumkan website the Almine Rech Gallery secara langsung. Dengan pernyataan artikel ini sangat jelas bahwa James Turrell menegaskan elemen desain yang ia desain.

Sumber bacaan:

Kuliah Geometri tanggal 16 maret 2011,rabu

http://www.digicult.it/en/2010/jamesturrelsoloexhibition.asp

http://en.wikipedia.org/wiki/James_Turrell

Optical Art

Filed under: architecture and other arts,perception — Prillia Indranila @ 15:43
Tags: ,

“Optical art is a method of painting concerning the interaction between illusion and picture plane, between understanding and seeing.” Op art works are abstract, with many of the better known pieces made in only black and white. When the viewer looks at them, the impression is given of movement, hidden images, flashing and vibration, patterns, or alternatively, of swelling or warping.” (http://en.wikipedia.org/wiki/Op_art)

Ilusi optik bukanlah hal yang asing lagi bagi kita, bahkan banyak seniman yang menggunakannya dalam karyanya sehingga menjadi karya seni yang menarik, yaitu optical art. Tahun lalu saya berkunjung ke Science Center di Singapore, dan di sana banyak karya-karya seni yang berkaitan dengan sains dan teknologi, termasuk pula optical art dengan bermacam-macam jenis. Kami sempat memotret beberapa optical yang terdapat di sana, contohnya adalah seperti ini:

Optical Art

Jika kita perhatikan, gambar tersebut menunjukkan wajah seorang bapak-bapak yang memakai topi seperti topi tentara dan baju berkerah dengan huruf dan angka di kerahnya. Apakah hanya itu saja? Ternyata tidak, setelah gambar tersebut dibalik 180 derajat, maka akan menghasilkan gambar seperti ini:

Optical Art

Ternyata apabila kita melihat gambar tersebut dari posisi yang berbeda maka akan menghasilkan gambar yang berbeda. Kalau dilihat dengan cara seperti ini, yang terlihat adalah wajah bapak-bapak berkumis yang sedang membuka mulutnya dan mengenakan topi yang berbeda. Selain karya tersebut, ada satu karya lagi yang membuat saya tertarik:

Optical Art

Foto-foto oleh Annisa Marwati

Gambar tersebut terlukis di lantai. Apabila kita melihat gambar yang ada di lantai, akan terlihat gambar sebuah perahu yang terombang-ambing oleh ombak. Namun bagaimana kalau dilihat melalui sebuah silinder yang sengaja ditaruh di depan gambar tersebut? Wah, ternyata pada silinder yang merefleksikan gambar tersebut terlihat gambar yang sama sekali berbeda, yaitu gambar seorang laki-laki. Sungguh hebat menurut saya, sampai sekarang saya pun belum mengerti benar bagaimana cara membuatnya agar bisa tepat menghasilkan gambar yang berbeda. :D

Kedua contoh tersebut merupakan optical art yang mengandalkan persepsi manusia, tergantung bagaimana cara mereka melihatnya, walaupun dengan cara yang berbeda: pada gambar pertama diperlukan posisi yang berbeda untuk melihat sesuatu yang lain, sedangkan gambar kedua diperlukan media lain yang berbeda jenis permukaan untuk dapat menemukan bentuk lain, yaitu permukaan cembung pada silinder. Hal tersebut sesuai dengan teori Gibson (1979), yaitu “Ecological approach to perception”. Jadi, apabila manusia sebagai observer-nya itu bergerak, maka persepsi akan ikut beruban. Prinsip inilah yang digunakan para seniman untuk membuat karya-karya seperti ini, walaupun pada kedua contoh di atas hanya arah memandangnya saja yang berubah.

Apabila menyangkut tentang moving observer, ada contoh menarik yang saya temukan kemarin, yaitu Roy Lichtenstein House yang terletak di National Gallery of Art’s Sculpture Garden di Washington DC, Amerika Serikat.

Lichtenstein House

Video tentang Lichtenstein House:

 

(kalau videonya nggak muncul, ini link-nya: http://www.youtube.com/watch?v=jIpdajUHVtI)

Pada foto tersebut, jika kita melihatnya dalam posisi orang yang memotret Lichtenstein House ini, ‘rumah’ tersebut seolah-olah terlihat seperti rumah dalam wujud tiga dimensi, padahal sebenarnya ‘rumah’ ini hanya berupa sebuah bidang dua dimensi. Apabila kita melihatnya seperti yang ditunjukkan dalam video, ternyata rumah tersebut seolah-olah bergerak sesuai dengan arah pandang kita seiring kita bergerak seperti benda tiga dimensi. Teori Gibson tentang kita sebagai moving observer inilah yang digunakan pembuatnya sebagai ilusi optik ini, untuk ‘mentransformasikan’ bidang dua dimensi menjadi bidang 3 dimensi.

Teori Gibson menjelaskan mengenai human behavior dalam dunia tiga dimensi, sehingga apa yang kita lihat tergantung bagaimana dan dari mana kita memandangnya, itulah persepsi. Persepsi inilah yang dimanfaatkan seniman optical art dalam membuat karya seninya sehingga karya tersebut seolah-olah bermain dengan penglihatan kita. Tertarik untuk mencoba membuat optical art? :D

Referensi:

http://www.coolopticalillusions.com/blog/2007/06/06/house-illusion-3-different-videos-artist-roy-lichtenstein/

Persepsi dalam Mengenali Kata

Filed under: perception — sikimangifera @ 07:49
Tags:

Teori persepsi Gestalt ternyata berhubungan dengan cara manusia dalam membaca dan mengenali kata. Ketika membaca, proses pengenalan kata yang terjadi adalah melihat, mengenali masing – masing huruf, lalu merangkainya menjadi sebuah kosa kata lalu merangkai menjadi kata yang memiliki arti. Proses yang cukup panjang memang, tetapi apakah benar begitu?

Menurut Vernon proses perseptual dalam membaca itu terdiri atas empat bagian :

1) kesadaran akan rangsangan visual
2) kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum kata-kata
3) klasifikai lambang-lambang visual untuk kata-kata yang ada di dalam kelas yang umum
4) indentifikasi kata-kata yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya.

Namun, ditemukan bahwa otak manusia dapat tetap mengenali kata dengan benar walaupun urutannya dibolak balik. Coba saja baca kalimat ini:

“pesrespi mmpeengrahui preiaklu mnauisa dlaam mmeacba”

Apa yang anda tangka dari kalimat tersebut? Apakah kalimat yang anda tangkap adalah ini?:

“persepsi mempengaruhi perilaku manusia dalam membaca”

Kemampuan membaca cepat terkait erat dengan kemampuan mengenali kata. Manusia mengenali berbagai kata lewat buku dan tulisan yang dibacanya. Kata-kata tersebut disimpan dalam memori otak dan akan dikenali lebih cepat ketika ditemukan kembali pada bahan bacaan yang baru. Lebih hebat lagi ternyata urutan huruf tidak terlalu penting asalkan posisi huruf pertama dan terakhir tidak berubah.

Menurut saya, gagasan yang ditemukan dari riset Universitas Cambridge ini merupakan salah satu bentuk pembuktian dari teori Gestalt yaitu law of continuity. Dalam law of continuity disebutkan bahwa “elements that have continuity with each other are perceived as flowing”, pada kasus membaca tersebut awal dan akhir huruf tidak diacak sehingga kita secara sadar menurutkan huruf huruf acak yang berada diantaranya. Proses pengurutan huruf ini akan terjadi lebih cepat jika pembaca telah mengenali kata tersebut sebelumnya sehingga dapat mengakses memori dan mengetahu raingkaian huruf yang benar sehingga dapat dikenali dengan mudah.

Ahmad Slamet Harjasujana dan Yeti H., 1996/1997. Membaca 2. Jakarta: Depdikbud.

http://www.muhammadnoer.com/2009/02/teknik-dasar-membaca-cepat-mengenali-kata-dan-gerakan-mata/

March 24, 2011

Cara Unik Menciptakan Ruang Apapun

Filed under: perception — Ryan Tjahjadi @ 06:36
Tags: , , , ,

Saya tertarik ketika membaca sebuah artikel mengenai sekelompok orang yang membuat ruang arsitektural hanya dengan menggunakan lukisan 2 dimensi. Mungkin anda juga pernah mendengar mengenai hal ini. Berikut contoh-contoh karya yang mereka lakukan..
Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Saya terkagum-kagum melihat hasil-hasil karya ini. Tentunya ini merupakan sebuah ilusi yang dapat membuat ruang yang sebenarnya tidak ada menjadi terlihat ada.

Secara tidak langsung , hal ini mempengaruhi persepsi visual kita. Atau mungkin lebih tepatnya mengecoh persepsi visual. Orang-orang yang membuat hal ini tampaknya paham betul mengenai teori persepsi Gestalt dan Gibson. Di satu sisi mereka membuat komposisi dan karya ini di bidang 2 dimensi untuk mengubah persepsi orang (gestalt). Namun di sisi lain mereka tetap sadar bahwa mereka hidup di dunia 3 dimensi (gibson) dan dengan cara sedemikian rupa dapat membuat apa yang dibuat secara 2 dimensi ternyata dapat dinikmati sebagai 3 dimensi.

Jika saya perhatikan, yang mereka lakukan hanya mengikuti garis perspektif mata kita. Lalu dimana garis itu berhenti pada suatu bidang , maka mereka meneruskan garis perspektif mata kita itu dengan menggambarkannya pada bidang tersebut. Sehingga garis perspektif kita pun tampak tidak lagi terhalang oleh bidang itu melainkan dilanjutkan. Ruang pun akan tampak lebih luas sebab garis perspektif kita bertambah panjang.
Image Hosted by ImageShack.us
Tidak hanya memperluas ruang, mereka juga dapat mempersempitnya. Saya perhatikan cara mereka mempersempit yaitu dengan memblokir garis perspektif mata kita. Biasanya dengan cara menggambarkan objek pada lantai di depan bidang. Sehingga garis perspektif kita akan terhenti pada objek itu sebelum mencapai bidang yang sebenarnya.
Image Hosted by ImageShack.us
Hal ini membuat saya berpikir bahwa saya dapat menciptakan ruang apapun yang saya inginkan hanya dengan memainkan perspektif dengan objek 2 dimensi saja. Ruang yang tadinya sempit dapat dibuat luas. Ruang yang tadinya luas dapat dibuat seolah sempit. Ruang yang tadinya tertutup dapat dibuat seolah sangat terbuka. Semua itu berkat permainan perspektif saja.

Yaa.. walaupun memang jika karya-karya ini dilihat dari sudut yang salah maka karya ini akan kehilangan esensinya (lebih banyak mengarah ke Gestalt daripada Gibson). Namun hal itu tentunya dapat diakali dengan mengatur ruang sedemikian rupa suatu ruang agar orang-orang terarahkan untuk melihat dari sudut perspektif yang diharapkan.

Sumber: http://weburbanist.com/2007/10/10/3d-architectural-illusions-amazing-paintings-murals-and-mosaics/

March 23, 2011

Gambar Apa Ini???

Filed under: perception — androkaliandi @ 15:39
Tags: , , ,

Image and video hosting by TinyPic

Pada gambar A dan B kita cenderung belum mengetahui benda apa yang ditangkap kamera. Kita menebak gambar adalah sumber cahaya, bulan atau lampu. Dengan gambar C kita sudah dapat mengenal benda apa yang terpapar yakni lampu downlight, namun belum jelas geometri tiga dimensional-nya. Karena saya memotret secara orthogonal, kita cenderung menebak lampu downlight bundar yang tertanam di plafon. Ketika kita telah melihat gambar D, kita tidak hanya tahu benda apa yang terpapar, tetapi kita juga tahu bentuk geometrinya (tabung). Ternyata lampu downlight-nya tidak ditanam di plafon, tetapi justru muncul keluar dari plafon. Berbeda dengan gambar C yang saya potret secara orthogonal, gambar D saya potret secara perspektif. Apabila ketika memotret gambar C, saya memosisikan diri tegak lurus dengan objek (lampu). Namun ketika memotret gambar D, saya memposisikan diri lebih bebas dari objek. Ketika saya mengamati objek lebih bebas, saya lebih dapat memahami benda secara keseluruhan. Mungkin hal serupa juga yang dikritik Gibson tentang teori Gestaalt. Ketika Gestaalt mengalami persepsi visual secara dua dimensional, maka Gibson mengajukan teori persepsi tiga dimensional. Karena memang manusia mengalami ruang secara tiga dimensional. Gambar A dan B saya potret ketika malam hari, lampu sedang dalam keadaan menyala. Gambar A saya potret secara orthogonal, sedangkan gambar B saya potret secara perspektif. Meskipun saya memotretnya dengan dua cara, orthogonal dan perspektif, tetapi keduanya nampak seperti gambar dua dimensional. Mengapa? Menurut saya hal ini dapat dihubungkan dengan jenis lampu, yakni downlight. Lampu downlight memberikan cahaya ke arah bawah (lantai), sehingga tidak memberikan kesempatan plafon mendapat cahaya langsung, kecuali dari pantulan lantai. Selain itu warna juga memberikan pengaruh. Warna hitam pada plafon sifatnya menyerap cahaya, bukan memantulkan. Sehingga ketika saya memotret lampu dari bawah, yang tertangkap oleh kamera adalah gambar cahaya dengan latar hitam (kegelapan). Dengan demikian bentuk tabung tiga dimensional tidak nampak, meskipun dipotret secara perspektif. Sepertinya ada kesempatan untuk melakukan manipulasi ruang dengan permainan cahaya. Dan kita perlu banyak belajar dari James Turrel: “what we see is not depth as such but one thing behind another”

Fokus dan Ilusi Optik

Filed under: perception — mutiahapsari @ 15:29
Tags: ,

Kita semua barangkali sering menemukan gambar-gambar dua dimensional yang mengandung ilusi visual dan terkadang menimbulkan pertanyaan atas kemampuannya “menipu” otak kita. Ilusi visual atau ilusi optikal didapat dari gambar yang kita tangkap secara visual dan dipersepsikan dalam otak kita sehingga gambar tersebut menjadi berbeda dari kenyataannya. Jika ditelaah dari teori persepsi Gibson, gambar di bawah ini misalnya, termasuk optical illusion jika fokus pandangan bergeser.

Sisi mana  yang Anda lihat terlebih dahulu? Apakah bagian kanan yang tumpul dan massive? Jika ya, maka gambar yang akan dilihat adalah gambar kelinci. Sekarang pindahkan fokus pada sisi kiri yang memiliki dua bidang memanjang. Si kelinci akan menghilang dan Anda justru akan melihat gambar bebek. Coba fokus kembali pada sisi tumpul di kanan, maka si kelinci akan muncul kembali.

Hal ini dapat terjadi karena ketika melihat gambar, mata kita secara otomatis akan menempatkan fokus pandangan pada suatu titik. Bisa jadi fokus pandangan jatuh di sisi kiri ataupun kanan gambar, akan berbeda bagi tiap orang tergantung sisi mana yang lebih dominan menurutnya. When a person moves their head, body, or eyes, the entire visual world moves uniformly in the opposite direction to the person’s movement (Allard, 2001). Visual world ini yang membentuk bebek dan kelinci dalam otak kita.

Dalam desain, dapatkah teori ini kita pergunakan untuk menciptakan pengalaman ruang yang berbeda?

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Perception

http://en.wikipedia.org/wiki/Visual_perception

http://ahsmail.uwaterloo.ca/kin356/theories/direct.htm

Teori Gestalt dalam WWF Advertisement

Filed under: perception — catherineviriya @ 15:20
Tags: ,
World Wide Fun for Nature, atau yang lebih dikenal dengan nama WWF merupakan sebuah organisasi non-pemerintah internasional yang bergerak di bidang konservasi, restorasi, serta research dan pembudidayaan lingkungan hidup di seluruh dunia. Organisasi yang banyak didukung oleh kaum muda ini tentunya membutuhkan kampanye yang kreatif dan menarik guna mengundang masyarakat untuk mendukung project yang mereka ajukan.

Salah satu cara melakukan kampanye yang menarik adalah dengan mempublikasikan iklan yang unik dan dapat dicerna dengan baik oleh masyarakat tanpa kehilangan inti dari tujuannya sendiri. Setelah saya melakukan pengamatan pada beberapa advertisement dari organisasi ini, saya melihat bahwa beberapa darinya menerapkan teori Geometri dan Persepsi Psikologi Gestalt, sebagai contohnya adalah logo WWF sendiri:


Uploaded with ImageShack.us

Gambar ini menerapkan Law of Closure dimana walaupun objek yang ada tidak komplit dan bagian-bagian tertentu tidak tertutup rapat, namun dengan menggunakan persepsi, kita dapat mengetahui bahwa gambar ini merupakan gambar seekor panda.

Uploaded with ImageShack.us

Gambar kedua ini menerapkan Law of Proximity dan Law of Closure dalam Teori Gestalt dimana apabila objek daun terletak berjauhan dan terpisah maka akan nampak sebagai sekedar daun, sedangkan dengan penyusunan sedemikian rupa keenam helai daun ini dapat terlihat sebagai objek baru yang sangat berbeda yaitu figure wajah seekor panda walaupun ada bagian yang tidak tertutup dengan sempurna

Uploaded with ImageShack.us

Gambar ketiga menerapkan Law of Similarity dimana objek yang sama disusun secara beraturan sedemikian sehingga menimbulkan persepsi bagi orang yang melihatnya menjadi sebuah pola yang membentuk objek yang berbeda, dalam gambar ini potongan-potongan kayu yang disusun sedemikian rupa menghasilkan bentuk yang menyerupai seekor jerapah.

Uploaded with ImageShack.us

Gambar keempat merupakan gambar yang paling kompleks karena menerapkan tiga aspek dalam teori Gestalt yaitu Law of Closure, Law of Proximity, serta Figure and Ground. Law of Closure terlihat dari gabungan objek-objek tidak tertutup yang menghasilkan gambar panda sebagai elemen dari gambar ini. Law of Proximity nampak dari gabungan objek-objek panda yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk siluet gambar rusa. Dan Figure and Ground dapat dilihat melalui warna hitam dan putih yang dapat dilihat dengan persepsi yang berbeda, antara berupa gambar dua buah rusa besar dan lima rusa kecil atau merupakan gambar panda-panda yang dirangkai sedemikian rupa membentuk pola.

Melalui gambar-gambar ini diketahui bahwa Teori Geometri dan Persepsi sangat dekat hubungannya dengan kehidupan manusia sehari-hari dan sangat menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut.



Boom Sale!!!

Filed under: perception — androkaliandi @ 15:19
Tags:

Siapa hari ini yang tidak senang mendengar kata sale, atau kata discount? Apabila kita jalan-jalan di pusat perbelanjaan kota, pasti kita pernah menemukan kata ini. Meskipun niatnya jalan-jalan, setidaknya mata kita melirik ke retail yang memasang poster sale atau discount. Tidak jarang ada orang yang masuk untuk melihat barang apa saja yang di-discount dan membelinya (laper mata).
Nah apakah yang membuat poster sale atau discount itu menjadi ajang promosi?
Kemudian saya googling tentang sale dan discount, kemudian menemukan gambar dibawah ini:

Image and video hosting by TinyPic
Gambar A

Image and video hosting by TinyPic
Gambar B

Kemudian saya menemukan definisi sale dan discount.
Definisi sale:
a selling of shop goods at lower prices than usual (www.etymonline.com)
sedangkan kamus Merriam-webster mengkategorikan beberapa jenis sale, antara lain:
Midnight sale
Bargain sale
Yard sale
Garage sale

Definisi discount:
dis- (see dis-) + computare “to count” (www.etymonline.com)
a reduction made from the gross amount or value of something: as a (1) : a reduction made from a regular or list price (2) : a proportionate deduction from a debt account usually made for cash or prompt payment b : a deduction made for interest in advancing money upon or purchasing a bill or note not due (www.merriam-webster.com)

Gambar A adalah hasil pencarian Google terhadap kata sale, sedangkan gambar B adalah hasil pencarian Google tentang kata discount. Gambar yang muncul pada hasil pencarian google tehadap kata sale adalah gambar-gambar label/poster/logo yang cenderung memiliki bentuk kotak (persegi). Mengapa demikian? Menurut saya sale merupakan event (Midnight sale, Bargain sale, Yard sale, Garage sale), belum mencantumkan berapa besar potongan harga yang diberikan. Sehingga posternya simple (menggunakan geometri yang sederhana: persegi) menyajikan informasi yang general.
Sedangkan gambar yang muncul pada hasil pencarian google terhadap kata discount adalah gambar-gambar label/poster/logo yang cenderung memiliki bentuk lebih random (bentukan boom, bentukan splash). Poster discount tampil eksentrik diantara bentuk persegi yang hadir di ruang pusat perbelanjaan. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian pembeli untuk mengetahui seberapa besar potongan yang diberikan (30%, 50% atau bahkan 70%).
Desain persegi dan boom-a-like ini masih menarik ditelusuri terkait dengan brand imaging dan target market. Atau ada hal-hal lain yang diperhatikan perancang dalam menentukan geometri posternya.

Persepsi dan Makna

Filed under: perception — arichichristika @ 14:55
Tags: , , ,

Persepsi adalah sebuah proses untuk mendapatkan informasi, suatu cara memahami sebuah objek dan hubungannya dengan objek lain disekitarnya.

Sebuah persepsi dapat berbeda antara orang yang satu dan yang lainnya walaupun berada dalam situasi yang sama. Tetapi lebih dari itu ketika melihat sesuatu yang berbeda maka akan timbul makna yang berbeda pula.

Contohnya seperti gambar di atas, apa yang anda lihat waktu pertama kali melihatnya? Kalau saya langsung melihat seorang wanita muda yang sedang menoleh ke arah belakang, tetapi ternyata kalau dilihat dan diamati, gambar tersebut dapat menggambarkan seorang wanita tua yang sedang menunduk. Apakah anda melihatnya? Nah, dengan cara melihat yang berbeda seperti itu maka makna yang timbul pun berbeda. Ini sesuai dengan teori Gibson, ‘moving observer changing perception’ walaupun sebenarnya observer tidak berpindah, hanya cara melihat saja yang berubah dan perubahan tersebut mengubah makna.

Persepsi dan makna inilah yang menurut saya menarik, dan saya terpikir bagaimana sebuah desain dapat seperti gambar diatas. Desain yang dapat mengubah persepsi seseorang di dalam sebuah ruang sehingga makna ruang tersebut berbeda dari yang sebenarnya.

Sebenarnya tanpa kita sadari ruang yang mata manusian lihat adalah berbentuk 2D tetapi mata manusia mempunyai kemampuan seperti halnya  komputer, mata kita seperti bisa merender sebuah pengelihatan yang 2D menjadi 3D dengan cara menangkap perbedaan cahaya dan warna.

Setelah mencari sumber, ini adalah salah satu desain manipulatif yang dapat merubah makna sebuah ruang dari proses memahami objek dan objek lain disekitarnya ( persepsi )

Ini ada beberapa contoh dari space perception :

Dan masih banyak contoh lainnya seperti WideOut-nya James Turrel.

The meaning of something will change when you look at it differently.

You can look at anything differently and it will have a different meaning.

There is no fixed meaning to anything.

You can always change perspectives and change meanings.

Why not change them to what you prefer them to be?

referensi :

  1. The Meaning of Perception (http://www.worldtrans.org/TP/TP1/TP1-9.HTML)
  2. faculty.washington.edu/inanici/Publications/35_Paper.pdf ( Space Perception and Luminance Contrast)

March 22, 2011

Bermain Tangram

Filed under: perception — tatalilisasa @ 19:49
Tags: , ,

Tangram adalah permainan yang paling tua yang dikenal dalam matematika. Perminan ini dikembangkan pertama kali di negeri Cina dan sering disebut dengan puzzle china. Tangram berasal dari kata Tang dan Gram. Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh Thomas Hill dalam bukunya Geometrical Puzzle for the Youth pada tahun 1848.

Uploaded with ImageShack.us

Terkadang tangram dikenal dengan nama “Bujursangkar Ajaib” atau “Tujuh Keping Ajaib”. Untuk siapa saja yang melihat permainan itu, yang menyolok adalah hadirnya bentuk-bentuk dasar geometri datar (Ilmu Ukur Bidang). Tiap-tiap keping memiliki bentuk dasar, yaitu bujursangkar, segitiga siku-siku samakaki, atau jajaran genjang, sedangkan ketujuh keping itu bersama-sama membentuk bujursangkar.

Uploaded with ImageShack.us

Tangram merupakan salah satu permainan edukatif yang bisa dibuat dari bahan-bahan yang sederhana. Permainan ini yaitu suatu permainan puzzle persegi yang dipotong menjadi 7 bagian (2 berbentuk segitiga besar,1 berbentuk persegi, 1 berbentuk jajarangenjang, 1 berbentuk segitiga sedang, dan 2 berbentuk segitiga kecil). Tangram banyak tersedia di pasaran namun juga mudah dibuat sendiri. Dengan memotong kertas menurut garis-garis berwarna biru, maka akan diperoleh tangram yang dimaksud.

Uploaded with ImageShack.us

Bentuk-bentuk ini disusun dari bentuk-bentuk bidang datar yang telah kita kenal sewaku di Taman kanak-kanak dan mendalaminya di Sekolah Dasar. Satu ukuran persegi sama sisi kemudian terbagi dalam grid-grid yang berbanding 1:1 sehingga tercipta 16 persegi sama sisi di dalamnya. Dari persegi-persegi tersebutlah, kemudian ditarik garis untuk membentuk segitiga sama kaki yang besar, sedang, dan kecil, sebuah kotak serta jajar genjang. Dari tujuh buah bentuk geometri yang tercipta, lahirlah berbagai kreatifitas yang sangat mengagumkan dalam bermain Tangram tersebut. Seperti;

Uploaded with ImageShack.us

Bentuk-bentuk ini tanpa disadari erat kaitannya dengan ilmu Geometri & Persepsi yang lebih banyak diutarakan oleh teori Gestalt. Bentukan tangram yang berasal dari bentuk-bentuk geometri sederhana menjadi media berlakunya hal tersebut. Upaya membentuknya agar bentukan akhir mendekati (law of closure) menjadi seperti bentukan hewan, tumbuhan atau apapun itu. Upaya-upaya melanjutkan bidang-bidang datar ataupun miring, mengisinya dengan sisa dari tujuh keeping lainnya juga menjelaskan akan persepsi manusia dalam law of continuity. Dalam hal yang ini ternyata dapat dihasilkan hampir 700 bentukan baik itu hewan, tanaman, benda, orang dan kegiatannya serta tipografi dari tangram. Akan terus banyak berkembang dan bertambah lagi sesuai dengan imajinasi dari pelaku permainan ini.

Uploaded with ImageShack.us

Imajinasi dan kreatifitas adalah dua hal yang sangat diasah oleh permainan matematika ini. Permainan ini membuat ilmu geometri dapat difahami dalam bentuk-bentuk yang sederhana dan mengasyikkan. Dalam tulisan ini, saya menantang kalian untuk menghasilkan bentuk-bentuk lain yang belum pernah dibuat sebelumnya.  Selamat mencoba!!!

Nama: Arsitektur, Jenis Kelamin: ?

Filed under: contemporary theories,perception — belonia90 @ 08:43
Tags: , ,

Berawal dari sebuah catatan “coba dibaca” di sebelah sebuah kalimat “Words and Building –Adrian Forty” yang ternyata menggiring penelusuran saya pada satu dari sekian banyak hal yang Adrian Forty bahas dalam essay-essay nya itu.  “Masculin- Feminine Architecture”, sebut saja jenis kelamin, ya jenis kelamin arsitektur.

Mungkin bukanlah sebuah hal yang aneh bagi yang pernah belajar Bahasa Jerman atau Bahasa Perancis dimana setiap kata benda memiliki jenis kelaminnya sendiri, seperti dalam Bahasa Perancis, “jenis kelamin” benda yang disebut menentukan partikel apa yang menjadi pengiringnya sebagai contoh mobil yang dalam Bahasa Perancis adalah “voiture” yang entah karena image tersiratnya atau karena akhiran vokalnya yang membuatnya menjadi berjenis kelamin betina (feminine) lalu diberi partikel untuk feminine yaitu “une” (un untuk jantan/masculin) menjadi “une voiture” . Padahal jika dilihat image mobil – otomotif sering dikaitkan dengan pria – macho – jantan tapi jika dilihat dari lekuk-lekuk tubuh mobil kebanyakan ada masuk akal juga jika menyebut mobil berjenis kelamin betina. Dari sini saya mendapat petunjuk mengenai jenis kelamin, 1. Kesan (image) dan yang ke 2. Bentukan fisik

Awalnya pemikiran saya terhadap konsep masculine-feminine ini tertuju pada siapa yang membuat karya arsitektur tersebut, apakah wanita ataukah pria namun ternyata konsep masculin-feminine architecture ini tidak sepenuhnya berkutat pada hal itu. (Saya jadi teringat akan salah satu kuliah di mata kuliah lain tentang penyebutan MAN-MADE instead of WOMAN-MADE yang seakan-akan sudah menunjuk bahwa arsitektur itu diperuntukan bagi pria-lahan pria-kecenderungan bentuk-bentuk yang dibuat pria yang simple-logika-ego dibanding bentuk-bentuk wanita yang terkadang membawa hati). Ya seperti mobil tadi jika arsitektur katakanlah adalah sebuah benda bukanlah tidak mungkin dia juga mempunyai jenis kelamin. “Penentuannya” setelah saya baca dari berbagai sumber merujuk pada petunjuk saya sebelumnya yaitu kesan atau bentukan fisik.

Seperti yang saya baca dalam sebuah situs berjudul “Ruskin and the female body: the feminine as the theoretical precondition for architecture” ditulis Juni 2009 oleh Anuradha Chatterjee, disebutkan tentang DORIC dan IONIC ORDER yang jika dikesankan dan ditelusur bentukan fisiknya DORIC terlihat lebih kuat-tegas dengan garis lurus seperti figur pria-jantan dibanding IONIC yang terlihat lebih langsing (slender ia menyebutnya) lebih luwes dengan ornament melingkar spiral seperti figur wanita-feminin yang halus dan lembut.

Jantan-Betina jadi mengingatkan saya pada Jembatan Teksas yang dibuat atas filosofi Lingga-Yoni. Jembatan Teksas yang memiliki jalan masuk dari Fakultas Teknik penyambutanya dibuat seperti penggambaran dari “jantannya Teknik” (mencuat-tegas) dan jalan ujungnya yang berakhir di Fakultas Sastra (FIB) yang mayoritas dihuni wanita penyambutannya dibuat seperti penggambaran “betinanya Sastra” (melingkar setengah lingkaran-luwes). Namun sayangnya hal ini kurang terkomunikasikan baik dari kesan maupun dari bentukan fisiknya sehingga filosofi yang sebegitu dalamnya hanya bisa dinikmati dari tulisan maupun cerita lisan, dirinya sendiri kurang bisa memunculkan kesan atau filosofi dibalik fisiknya pada penjelajah jembatan ini. Filosofi ini seakan hanya menjadi penghias dari struktur besar kebanggaan ini.

Pada akhirnya arsitektur, jenis kelamin=?, jantan-betina-atau jantan betina kesan atau karakter yang lahir dari tangan dan pemikiran para jantan dan betina bukanlah masalah karena arsitektur juga adalah ekspresi, media penyaluran, dia lahir berbentuk apa atau mengesankan apa itulah yang mencitrakan dirinya. Arsitektur bukanlah untuk siapa, dia ada tidak diperuntukkan khusus bagi pria saja atau wanita saja, jantan atau betinakah dia, Arsitektur itu merangkul semua, terbuka dan menggandeng semuanya, andai arsitektur punya mata, ia membuka lebar matanya bagi siapa saja yang ingin melihat sinarnya, sayang mata dunia menutupnya sebagian hingga terkadang tidak semua sinarnya bisa sampai ke semua orang dan menjadikannya memandang sebelah mata.

Sumber:

http://findarticles.com/p/articles/mi_m3575/is_1241_208/ai_64263439/

http://findarticles.com/p/articles/mi_6973/is_1_19/ai_n54399174/

Behind Holism and Reductionism

Filed under: perception — austronaldo @ 08:41
Tags: , , ,

Dengan mengambil contoh matahari, saya ingin mengupas persepsi orang mengenai objek tersebut. Gambar di bawah ini merupakan foto matahari. Namun apabila kita melihat gambar di sampingnya, yang pertama kali kita persepsikan adalah gambar matahari, meskipun bentuk ataupun komponen bentuk dari kedua gambar tersebut berbeda dengan gambar aslinya. Padahal pada gambar matahari

asli tidak ada elemen segitiga maupun elemen garis lurus seperti pada kedua gambar dua-dimensional tersebut. Mengapa komponen bentuk lain yang sebenarnya tidak ada pada gambar aslinya ditambahkan? Dan bukannya direduksi menjadi gambar lingkaran saja..

Mari kita pecahkan bentuk di atas menjadi komponen- komponennya (reductionism).

Dengan jelas kita bisa melihat bahwa meskipun bentuk secara keseluruhan dipersepsikan sebagai matahari, namun apabila bentuk keseluruhan tersebut di reduksi, komponen-komponen bentuk tersebut tidak bisa dipersepsikan sebagai matahari lagi. Komponen A terdiri dari bentuk lingkaran dan segitiga, sedangkan komponen B terdiri dari bentuk lingkaran dan garis lurus yang jelas-jelas bukan berbentuk matahari.

Lalu jika kita menggabungkan komponen-komponen bentuk menjadi bentuk secara keseluruhan (holism).

Meskipun komponen bentuknya berbeda, apabila digabung bisa menjadi bentuk yang sama (yaitu matahari). Namun, kita juga bisa melihat bentuk yang berbeda-beda dapat dihasilkan oleh komponen-komponen bentuk yang sama. Tidak semua hasil yang didapatkan memiliki bentuk yang kita persepsikan sebagai matahari lagi. Mungkin gambar (a),(b) dan (c) masih kita persepsikan sebagai matahari namun mungkin tidak dengan (d).

Meskipun berakar dari komponen bentuk yang sama, namun properti komponen bentuk dan bentuk secara keseluruhan berbeda. Kita tidak lagi menyebut lagi sebagai 8 segitiga dan satu lingkaran namun sebagai ‘matahari’ yang otomatis memiliki karakteristik hangat, silau besar, agung.

Jadi, bentuk yang digabung memiliki properti yang tidak dimiliki oleh komponen benda-benda itu sendiri. Alangkah menariknya bahwa benda benda sederhana seperti segitiga, lingkaran dan garis lurus yang semula kita ketahui memiliki properti matematis (misalnya segitiga yang terdiri dari 3 sudut dan jumlah sudutnya 180 derajat) ternyata memiliki properti yang lebih dari sekedar properti matematis apabila bentuk bentuk sederhana tersebut digabungkan. Siapa sangka ketika kita menggabungkan segitiga dan lingkaran kita bisa mendapatkan bentuk dengan karakteristik hangat! Jadi di balik eksperimen holism dan reductionism ini kita bisa mengetahui bahwa komposisi bidang- bidang dapat memunculkan persepsi lebih dari sekedar visual tapi juga kualitas hangat/ agung dst yang muncul akibatnya.

Referensi:
Raman V, Varadaraja. Reductionism and Holism: Two Sides of the Perception of Reality. http://www.metanexus.net/magazine/tabid/68/id/9338/Default.aspx

March 18, 2011

Apa yang Sesungguhnya Terlihat dari Mata Kita

Filed under: perception — nurrisinda @ 20:35
Tags: ,

Betapa menariknya hal ini!
Sebuah hal yang baru pertama kali saya liat, sebuah gambar dengan prespektif yang saya tak pernah terpikir sebelumnya..

Tanpa kita sadari, selama ini kita melihat benda, langsung ke benda itu, mengartikan benda itu sesuai dengan apa yang ada jauh di depan kita.

Tak sadarkah kita bahwa sebelum mencapai benda itu, kita juga melihat benda-benda lain?
Bahwa tanpa sadar sebetulnya kita melihat hidung kita, bagian atas philtrum kita (antara hidung dan mulut), lengkungan mata, bingkai kacamata yang kita pakai,dll. Tanpa sadar tubuh kita sendiri memiliki perspektif yang menarik dari arah mata langsung.

Selama ini kita selalu melihat jauh kedepan, ke benda yang memang kita ingin lihat saja. Padahal ada yang lebih dekat itu.

Gambar dari The Ecological Approach To Visual Perception karya James J. Gibson ini menceritakan itu bagi saya, bahwa selama ini yang kita gambar tentang apa yang dihadapan kita, ya bisa dibilang seperti ini.

Agak geli juga memang melihatnya bahwa ada hidung, kumis, dan terkesan aneh perspektifnya, tapi mungkin inilah yang sesungguhnya kita alami.

Mungkin saja di kehidupan sehari-haripun, banyak hal yang sesungguhnya turut penting, namun justru jadi kita tidak indahkan karena terlalu terfokus pada yang kita ingin fokuskan.

Dalam merancang juga begitu, bukan hanya sekedar desain ini dan itu saja sesuai yang kita inginkan, tapi juga belajarlah melihat lebih luas lagi. Hal-hal yang sederhana namun penting justru kadang kita perhatikan.
Nyatanya, hidung itu memang sudah ada di wajah penggambar kan, tapi tidak ada terpikirkan bahwa ternyata itu juga masuk dalam penglihatan kita.

Karena itu gambar ini sangat menarik bagi saya.

Dan sayapun mencoba melakukan yang sama
Berikut gambar ala saya yang ala kadarnya.. ^^

ketiga gambar diatas saya ambil dari mata kanan saya, entah kenapa bagi saya saya lebih suka dari mata kanan saya daripada mata kiri. ini hanya opini pribadi saya saja, bisa saja berbeda dengan pendapat yang lain

Walau begitu, entah kenapa saya jadi bersyukur, tentang mata ini, dan tentang hidung ini yang apa adanya.. paling tidak saya masih bisa melihatnya..^^

Selanjutnya saya akan mencoba melihat lebih luas lagi.

Semoga anda semua juga begitu.^^

Sumber
Gibson, James J. 1979. The Ecological Approach to Visual Perception. Houghton Mifflin: Chicago.

Persepsi bagi Si Buta

Filed under: perception — Abdul Hady @ 20:34
Tags: ,

Dalam perkuliahan Geometri dan Arsitektur tentang persepsi, saya merasa sepertinya persepsi itu hanya berlaku bagi orang yang mampu melihat saja. Terlihat bahwa contoh – contoh yang diberikan adalah gambar – gambar yang hanya bisa dimengerti orang non-tunanetra. Gambar yang memiliki bentuk, warna, dan pola. Lalu bagaimana dengan orang tunanetra? Meski bisa meraba, gambar tersebut berupa refleksi cahaya pada layar yang tidak akan muncul tekstur apapun.

Berkaitan dengan meraba, manusia, yang tunanetra sekalipun, beruntung memiliki indera peraba. Kita ambil contoh umum bagaimana si buta ini mengalami persepsi, yaitu cerita orang buta dengan gajah.

Orang pertama  meraba kaki gajah, mengatakan gajah itu seperti pohon kelapa.

Orang kedua meraba buntutnya mengatakan gajah seperti ular.

Orang ketiga meraba gading gajah, mengatakan gajah seperti alat bajak.

Orang keempat meraba telinga gajah, mengatakan gajah itu seperti kipas, tipis, lebar dan bergerak-gerak.

Orang kelima meraba badan gajah, mengatakan gajah itu seperti tembok. Keras dan tinggi dan luas.

Apakah diantara jawaban mereka ada yang benar? Tentu tidak, karena mereka hanya mengutarakan persepsi mereka.

Yang jadi pertanyaan berikutnya adalah darimana mereka mendapat persepsi rupa gajah tersebut padahal yang mereka analogikan pun belum tentu mereka pernah melihatnya?

Dalam perkuliahan tersebut pun saya mendapat pengertian persepsi, yaitu proses mendapat informasi dan mengalami objek. Orang tunanetra tersebut mungkin saja pernah mendapat informasi tentang analogi yang mereka utarakan tapi mereka belum pernah mendapat informasi tentang gajah. Lalu ketika mereka mengalami objek (bagian dari gajah) mereka pun mengemukakan persepsi mereka melalui analogi.

Sekarang mari kita hubungkan teori Gestalt terhadap penggambaran gajah dari persepsi tunanetra.

Penganalogian yang dilakukan orang tunanetra sama seperti yang orang normal lakukan jika ia melihat rupa awan seperti sesuatu yang mereka kenali. Misalnya pola awan yang rumit tersebut disederhanakan menjadi bentuk wajah seseorang atau hewan. Si tunanetra pun menyederhanakan apa yang ia raba. Seperti kaki yang terasa kasar, besar, dan tinggi. Dalam bayangan dia bentuk paling sederhana adalah batang pohon. Hal ini terkait dengan Law of Pragnanz di mana kita menyederhanakan sesuatu yang rumit.

Karena gajah memiliki empat kaki, tentu saja jika orang tunanetra itu memegang keempatnya maka dia akan menyimpulkan kaki gajah ada empat. Seperti Law of Similarity yang menyamakan berbagai elemen berdasarkan kesamaan ciri – cirinya lalu mengumpulkannya menjadi satu grup.

Selanjutnya, dengan analogi berdasarkan persepsi si tunanetra, dia pasti akan membayangkan secara utuh bagaimana bentuk gajah tersebut. Jika anda membayangkan gajah sesuai deskripsi mereka, tentu akan menjadi aneh bentuknya. Tapi berhubung kita tidak tahu apa yang ada dalam pikiran si tunanetra, kita juga tidak akan tahu persepsi dia akan gajah secara utuh. Hal itu terkendala karena si tunanetra tidak dapat menggambar.

Penjabaran saya diatas tentu hanya berdasarkan pendapat saya pribadi. Bisa benar, bisa sebagian benar, atau justru salah semua.

Pertanyaan terakhir saya, bagaimana orang tunanetra bisa menikmati keindahan arsitektur dan desain interior?

Jika semua orang buta punya kemampuan seperti superhero Dare Devil, mungkin mereka bisa menikmatinya.

Sumber:

http://ferrydjajaprana.multiply.com/journal/item/74

http://psychology.about.com/od/sensationandperception/ss/gestaltlaws.htm

April 6, 2010

False Memories dalam Penciptaan Geometri

Filed under: perception — nurulislami @ 00:01
Tags: ,

Dalam bahasan Persepsi dan Arsitektur kita mengetahui dua teori yang mempengaruhi perwujudan geometri. Gestalt, merupakan kecenderungan manusia yang menyederhanakan sesuatu (secara visual) berdasarkan pemahaman yang dibawa oleh manusia tersebut. Dalam prosesnya manusia bersinggungan dengan ingatan akan kejadian dan objek yang dilaluinya kemudian di persepsikan kembali dalam bentuk dengan mengorganisasikan komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola atau kemiripan. Dalam perkembangan persepsi visual Gibson menjelaskan bahwa manusia mempelajari apa yang ada di lingkungan, lebih dari hanya sekedar masukan visual atau sensori. Lebih jauh lagi Gibson menjelaskan informasi yang kita dapat (berupa objek atau kejadian) kemudian dipahami bergantung pada bagaimana dan siapa yang melihat informasi tersebut.

Dalam prosesnya, persepsi yang tertangkap pertama kali (oleh indera) akan menjadi sebuah memori dalam pikiran. Dan dalam jangka waktu tertentu ingatan kita akan objek atau kejadian ini dapat mengalami distorsi dari informasi atau pengalaman yang sesungguhnya yang menyebabkan terjadinya False Memory. False Memory ini secara sadar atau tidak dapat mempengaruhi hasil persepsi kita terhadap informasi yang didapat. False memory terjadi disebabkan oleh intervensi terhadap informasi yang kita dapat yang kita visualkan kembali sehingga menciptakan gambaran mental dalam pikiran. False memory yang terjadi secara langsung dapat berpengaruh pada proses persepsi kita. Hasilnya yaitu perubahan/distorsi pengungkapan memori dari informasi yang sebenarnya. Dikembangkan oleh psikolog Elizabeth F. Loftus seorang profesor psikologi dan dosen hukum di University of Washington. Intervensi disini menurut Elizabeth F. Lotus terjadi akibat kita yang melupakan sumber informasi dan dominasi “saran” yang bersumber dari orang lain (faktor eksternal).

Proses persepsi visual yang di bawa oleh Gestalt dan Gibson memiliki kecenderungan rentan akan adanya intervensi. Kekuatan sumber informasi kita dalam melahirkan persepsi menjadi penekanan dalam penciptaan geometri (dalam hal ini bentuk atau form). Faktor eksternal dalam hal ini dapat berupa force yang dengan sangat kuat mempengaruhi memori kita. Hasilnya yaitu kekeliruan memori yang dibenarkan kemudian menghasilkan pembenaran dari bentuk yang seharusnya tidak seperti itu. Sebagai seorang arsitek yang menghadirkan representasi yang bergantung oleh pengetahuan dan pengalaman besar kemungkinan kita akan menghadapi intervensi (force) dari luar. Pemahaman atas sebuah informasi (objek atau kejadian) yang sebenarnya menjadi semakin samar dengan adanya intervensi faktor eksternal. Konteks lingkungan, manusia, kegiatan/event, pengalaman, penngetahuan proporsi, komposisi, dll, merupakan informasi yang dikumpulkan untuk diolah menjadi sebuah representasi (geometri atau arsitektur). Pemahaman dan monitoring dalam proses representasi (design) seharusnya dapat membedakan antara sumber internal dan eksternal, sehingga pada akhirnya desain dapat hadir secara proporsional terhadap informasi konteksnya.

Referensi

Gibson, J. J. (1986). An ecological approach to visual perception. Hillsdale, N.J.: Lawrence Erlbaum.

http://faculty.washington.edu/eloftus/Articles/sciam.htm

http://brainethics.wordpress.com/2006/01/02/the-making-of-false-memories

http://findarticles.com/p/articles/mi_g2699/is_0001/ai_2699000153

April 5, 2010

The Sixth Sense

Filed under: perception — arumthequeen @ 10:29
Tags: , ,

First of all, before you go further reading this, I remind you this is just unconstructed thought of mine. Excuse my English, and excuse the scattered non ordering thought that I will lay it in front of your eyes after this opening.

I chose ‘The Sixth Sense’ title consciously. That might trigger a question, why sixth sense? And how can it related to geometry? Something pops up in my mind when we have discussion about music and architecture, and how, through some kind of research and measurement, in music, we can also find the perfection of Fibonacci numbers.

The Fibonacci numbers are Nature’s numbering system. They appear everywhere in Nature, from the leaf arrangement in plants, to the pattern of the florets of a flower, the bracts of a pinecone, or the scales of a pineapple. The Fibonacci numbers are therefore applicable to the growth of every living thing, including a single cell, a grain of wheat, a hive of bees, and even all of mankind.

Stan Grist

http://www.stangrist.com/fibonacci.htm

Through vision and hearing senses that man have, scientifically proven we can find a nature’s numbering system. Isn’t that odd? A composition we usually see, now we find it in sounds. But after a few moment of thinking (when I said a few moment, actually it take days) I see that possible, and that possibility might go further in so many aspect of our life.

Vision and hearing senses, I understand it as a tool, our personal nature tool to recognizese distance, to predict some measures. Well, that so easy to explain, through our vision we can easily tell a distance between one object to other object. How about the hearing? In a rainy thunder, you can know how further the thunder from where you stand, by counting the time different between the lightning and the sound of thunder strikes the earth.

By Vitruvius description, we know how sounds can be related to measure the distance. For example, how the catapult can work accurately by listen to the right tune of the string. But so far we just talk about two senses, what happen with the other three?.

I believe all of our senses works together as a system. All of our senses works mysteriously, mostly for our own pleasures. We can find the nature mapping of visions and sounds by studying it with numbers, I don’t know if anyone ever study this yet, but maybe we can also find that in taste, touch and smell senses too.

For someone with different ability, if they have disfunction on one of their senses, they trained the other senses to replaced it and give them a balance for doing their everyday life. As sounds work based on the waves principles, we can calculate distance by touch, and counting the period between one move to another. By that, we can learn to measure as well.

And, if the quote that I put above about nature’s numbering systems is right, I think we can find ‘nature perfections’ everywhere. Then, according to, once again, my unconstructed thought, all part of our body is familiar, sensitive, and responsive to certain way to measure, measure our world and measure how we interact within it. That’s why I think man should have more than five senses, and coincidently I found out that some, thinks man have one, two, or five more senses.

Some said our sixth sense is proprioception, the unconscious perception of movement and spatial orientation arising from stimuli within the body itself and some other said our sixth sense is kinesthetics, the ability to understand and interact with dimensional shapes such that we are able to navigate successfully through a room and as a sense of timing and coordination, fine-motor control and the manner in which both the whole body and its parts move, its deportment or dynamics.

So, when I start talking about sixth sense, from the very beginning I know it has nothing to do with supernatural things, but more to a question, when we learn about geometry and make our body responsive to it, perhaps we develop something in our own body, in our own brain. And I think it’s an interesting view to see the relation between man and geometry, between man and the world surrounding.

Next Page »

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.