there’s something about geometry + architecture

March 25, 2011

Froebel’s Gift: One Thing Leads to Another, A Process of Recognizing and Exploration

Filed under: architecture and other arts,process — belonia90 @ 17:23
Tags: ,

“…Every existing thing is connected to every other thing in past, present, and future existence…”

Adalah sebuah kalimat yang saya kutip setelah menangkap satu dari beberapa hal yang sekiranya Bapak Friederich Wilhelm August Fröbel atau sebut saja Bapak Froebel ingin sampaikan pada dunia melalui Froebel’s Gift yang beliau ciptakan. Siapa Bapak Froebel dan apa itu Froebel’s Gift?mari kita kenali.

Bapak Froebel menurut Wikipedia adalah seorang Pedagogi (pendidik) dan sumber lainnya menyatakan bahwa Bapak Froebel ini adalah seorang ilmuwan, seseorang yang sangat spiritual, naturalist (pecinta alam), bahkan seorang garderner karena beliau mencintai kebun dengan segala isinya. Dari semua yang telah disebutkan nampaknya ia mendedikasikan dirinya bagi pendidikan terutama bagi anak-anak, mulai usia pra sekolah sampai anak menuju remaja. Beliau juga sampai membuat panduan bagi orang tua terutama Ibu untuk mengasuh dan memandu anak dalam tahap perkembangannya. Dari yang saya baca hal ini ada kaitannya dengan perasaan longing atas asuhan dari sosok ibu yang meninggal pada saat Beliau baru berumur 9 bulan, ya “every existing thing is connected to every other thing in past, present and future”. Dari sini saya ingin menyebutnya sebagai inventor juga atau penemu, penemu apa? Ya, Froebel’s Gift. Saya tiba-tiba jatuh cinta padanya begitu mencari tahu mengenai Froebel’s Gift dengan segala rincian dari setiap “gift” yang beliau buat. Semua dibuat dengan alasan, dengan tujuan bagi perkembangan anak.

Anak bagai secarik kertas kosong, siap ditulisi dengan apa saja. Dunia mereka bagaikan tak berbatas, mereka bisa memakan pasir, memasukkan tangannya ke dalam mulut, melompat dari kursi, memegang yang menarik bagi mereka, semua dilakukan dengan tawa kecil, ya eksplorasi, menjelajah,mengenal  dan mencoba dengan bermain.  Menganalogikan kebun, anak menurut Froebel seperti tunas yang sangat membutuhkan perhatian bahkan mulai dari kecil, dan karena anak = bermain maka bermain sambil belajarlah ide pencetus Froebel’s Gift ini.

Terdiri atas 10 Gift, yaitu 10 kotak kayu yang berisi perangkat permainan-belajar yang berarti juga ada 10 tahapan karena semakin atas levelnya, semakin kompleks dan detail pula arti dibaliknya. Terlihat pola yang semakin mengerucut dari setiap tahapan giftnya. Mengerucut disini artinya semakin kecil yang bisa dipegang dan makin rumit dalam perangkaiannya jika boleh saya katakan jika gift 1 adalah sebuah bentuk yang utuh, semakin naik levelnya adalah lepasan-lepasan dari bentuk utuh itu. Perkenalan umum hingga khusus, makin mendalam seperti itu.

froebel's gifts

Dimulai dengan bentukan utuh solid 3 dimensi (Gift 1 -6), bentukan 2 dimensi (Gift 7), garis (lurus-lengkung) (Gift 8), Titik (Gift 9), Rangka dari 3 dimensi (Gift 10). Disini saya melihat “mulai dari mana” yang berbeda sewaktu saya tekomars dulu. Dulu saya memulai dengan menentukan titik di sembarang atau tempat yang sudah diatur (atas-bawah), masuk ke garis (menghubungkan titik-titik),dan jika diteruskan dari garis yang ditarik tercipta bidang 2 dimensi dan jika antar 2 dimensi dibayangkan dipertemukan dapat menjadi sebuah 3 dimensi.

proses

Tetapi mulai dari mana ini menurut saya bukanlah masalah karena jika dilihat, perkembangan indera anak-anak itu dimulai dari sentuhan (dengan ibu) dan juga grasp (genggam), sedangkan saat kita sudah lebih dewasa, sudah lebih berkembang kita sudah bisa mengkombinasikan indera dan kemampuan otak, melihat titiknya lalu memperkirakan jauhnya membayangkan dimana garis akan tercipta lalu mulai menggaris. Sehingga saat anak dapat dengan mudah mengenali bentuk dasarnya dengan pertama melihat (belum kenal-no perception) lalu sentuhan (mulai kenal), genggam (kenal) disitulah ia memulai eksplorasinya. Eksplorasi itu tak terpaksa tak dipaksa, dilakukan satu-persatu secara perlahan (gradually)ia dimulai dan bisa saja tak berakhir (sebuah proses kreatif), eksplorasi juga sebuah rangkaian pencarian, sebuah pengenalan lebih lanjut dan setiap titik yang dicapai dalam eksplorasinya, sang eksplorer akan belajar sebuah hal baru ataupun pengembangan dari eksplorasi sebelumnya, inilah Froebel’s Gift, gift 2 adalah eksplorasi lanjutan dari gift 1, begitu pula gift 3 terhadap gift 2 dan tidak lupa dalam tiap tahapannya Pak Froebel menyisipkan 3 pembelajaran besar yang sinambung, 1. Form of Life (bentukan yang bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari,mengaitkannya dengan kejadian/fenomena sehari-hari), 2. Form of Knowledge (bentukan matematis-penambahan,pengurangan,posisi dll-, 3. Form of Beauty (pola,komposisi,ritme). Bapak Froebel yakin bahwa nothing in the world is ever destroyed – only modified” , sehingga saat pengenalan dan eksplorasi dimulai dia akan berlanjut, dari satu hal ke hal lain, dari satu hal menjadi hal lain, one thing leads to another.

Sumber bacaan dan referensi:

http://www.babyclassroom.com/froebels-gifts.html

http://www.froebelgifts.com/gift1.htm sampai dengan http://www.froebelgifts.com/gift10.htm

http://www.froebelweb.org/gifts/

http://id.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Fr%C3%B6bel

http://en.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Fr%C3%B6bel

March 22, 2011

Daya Tarik Geometri

Filed under: process — jessicaseriani @ 08:40
Tags: ,

Apa yang membuat geometri menjadi menarik untuk dipelajari oleh banyak orang? Berdasarkan Buku Poetics of Architecture: Theory of Design karangan Anthony C. Antoniades, geometri sudah dikagumi oleh manusia sejak zaman dahulu. Filosofer seperti Plato, Phytagoras dan Archimedes; raja seperti Ptolemy dan arsitek-arsitek seperti Imhotep, Iktinos, Anthemios dan Isidoros adalah contoh matematikawan dan ilmuwan geometri yang hebat. Geometri telah dianggap sebagai ilmu pengetahuan, kepemilikan, sebuah ‘senjata rahasia’ bagi imam dan pemimpin pada masa itu untuk menjadi dominasi di antara masyarakat.

Arsitek selalu menjadi penggemar dan pengguna aplikasi geometri. Mereka menemukan Euclidean geometry sebagai sebuah sistem peraturan dan kebenaran dasar dimana mereka dapat mengambil keputusan yang mudah dilakukan dan perlahan-lahan digunakan dalam membuat karya arsitektural. Geometri menarik arsitek dengan berbagai alasan sebagai berikut:

  1. Menghasilkan palet lahirnya berbagai bentuk yang tidak dapat disangkal secara rasional bagi arsitek (menjadi bukti/alasan formal adanya bentuk-bentuk lain).
  2. Membuat arsitek merasa nyaman dengan penggunaan bentuk yang bisa diperbanyak dan diulang jika diperlukan tanpa rasa takut akan membuat kesalahan.
  3. Menawarkan kebebasan luar biasa dan tanpa paksaan untuk keluar dari bentuk-bentuk yang sudah di-‘pakem’-kan di masa lalu (seperti bujur sangkar yang mendapat interpretasi proporsional yang tidak terbatas; maka akan demikian halnya dengan bentuk-bentuk lain).
  4. Menawarkan disiplin baru mengenai pandangan dunia luas. Dulu, ketika diperkenalkan kepada arsitek, diibaratkan ada kemungkinan untuk mencapai Tuhan dan mencapai suatu keagungan jika mereka menggunakan bentuk-bentuk umum seperti bujur sangkar, lingkaran dan segitiga.
  5. Menawarkan jaminan psikologis, dimana geometri memungkinkan variasi pengaruh psikologis manusia (perasaan berbeda) yang muncul ketika ada perbedaan proporsi pada suatu bentuk.
  6. Memberikan komunikasi yang kuat kepada masyarakat akan keikutsertaan arsitek melalui pengetahuan geometri dan itu berarti ada identifikasi  secara sosial dan jasa arsitek diakui secara profesional.
  7. Memberi lebih banyak waktu untuk berpikir, mengeksplor, memanipulasi dan menggunakan bentuk-bentuk dasar secara maksimal daripada menghabiskan waktu mereka untuk menemukan bentuk baru setiap harinya.

Leonardo Da Vinci : Geometri Tanpa Batas

Filed under: classical aesthetics,process — miktha24 @ 08:36
Tags: , ,

Leonardo Da Vinci : seorang buta huruf. Benarkah ??? Demikianlah sebaris teks terjemahan yang tersebutkan dalam buku “Sains Leonardo “ karangan Fritjof Capra di baris pertama halaman dua pada bagian pendahuluan. Sebuah buku yang mencuri perhatian saya akan keagungan sejati dari sang Genius Leonardo Da Vinci- sang Penafsir alam semesta yang terus mengiangi pikiran sadar saya dalam kelas Geometri dan Arsitektur. Omo sanza lettere, begitulah kira-kira teks aslinya. Namun, itu bukan soal yang harus digarisbawahi karena quotes itu melainkan hanya semacam ironi dan kebanggaan Leonardo atas metode barunya. Sehingga saya pun ikut tergelitik untuk meng-copy paste teks itu dan menaruhnya pada bagian awal tulisan ini.

Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa Leonardo adalah representasi peradaban sintesis antara sains dan seni, atau lebih ekstrim lagi bahwa sesungguhnya Leonardo adalah pendiri sejati sains modern, bukan Galileo Galilei yang selama ini diagung-agungkan. Mengapa tidak ? andai saja para pemikir ilmiah barat telah menemukan notebook nya yang memuat kurang lebih 13.000 halaman dan langsung mempelajarinya secara detail setelah kematiannya.  Karya-karyanya yang sungguh luar biasa membuktikan kepada kita bahwa betapa imajinasi itu tanpa batas dan bisa melampaui pengetahuan yang ada. Namun, tidak banyak yang tergerak untuk mempelajari karyanya pada masa itu (masa Renaisans) karena belum terekspos, barulah beberapa abad setelah kematian nya, transkrip-transkrip ilmiahnya tergali dan memberikan dentuman yang sangat keras di tiap masanya dengan berbagai karya disiplin ilmu.

Salah satu yang menjadi ketertarikan saya adalah  bagaimana Leonardo mengeksplorasi bentuk geometri dalam kajian ilmiahnya. Ada tiga jenis transformasi kurvilinear yang sering digunakan Leonardo dengan berbagai kombinasi. Pada jenis pertama, sebuah bentuk dengan satu sisi kurvilinear digeser ke sebuah posisi baru sedemikian sehingga kedua bentuk itu saling overlap (lihat gambar 1). Karena kedua bentuk tersebut identik, dua bagian yang tersisa ketika bagian yang dimiliki bersama itu (B) dikurangi, pasti mempunyai luas yang sama (A=C). Teknik ini memungkinkan Leonardo mengubah bidang apa pun yang dibatasi oleh dua kurva identik menjadi sebuah bidang segi empat, artinya, “mengubah menjadi segi empat”.

Gambar 1 : Transformasi dengan translasi (pergeseran)

Transformasi jenis kedua diperoleh dengan memotong sebuah segmen dari suatu bentuk tertentu, misalnya sebuah segitiga, dan kemudian melekarkannya lagi pada sisi yang lain (lihat gambar 2). Bentuk kurvilinear yang baru, mempunyai luas yang sama dengan  segitiga awal. Seperti diterangkan oleh Leonardo dalam teks yang menyertainya: “Aku akan mengambil b dari segitiga ab, dan aku akan melekatkannya lagi pada c…Kalau aku melekatkan lagi kepada suatu bidang apa yang telah kuambil darinya, maka bidang itu kembali pada keadaan semula”. Ia sering menggambar segitiga-segitiga kurvilinear semacam itu, yang diberi nama falcate (falcates), diturunkan dari istilah falce, kata dalam bahasa Italia yang berarti sabit (scythe).

Gambar 2 : Transformasi sebuah segitga menjadi falcate

Transformasi jenis ketiga Leonardo melibatkan deformasi bertahap dan bukannya gerakan bentuk-bentuk tetap, misalnya, deformasi sebuah persegi panjang, seperti ditunjukkan dalam gambar 3. Kesetaraan kedua bidang datar ditunjukkan dengan membagi persegi panjang menjadi potongan-potongan tipis paralel, dan kemudian mendorong setiap potongan ke posisi baru, sehingga kedua garis lurus vertikalnya berubah menjadi kurva.

Gambar 3 : Deformasi sebuah persegi panjang

Leonardo begitu senang dalam menggambar berbagai variasi tanpa akhir persamaan topologis ini, sebagaimana para matetmatikawan Arab pada abad-abad sebelumnya takjub ketika mengeksplorasi berbagai variasi persamaan aljabar. Namun yang khas dalam geometri Leonardo adalah variasi bentuk-bentuk geomteris tanpa batas di mana luas atau volum selalu dipertahankan, dimaksudkan untuk mencerminkan transmutasi tanpa lelah pada bentuk-bentuk alam yang hidup, dalam kuantitas materi  yang tak terbatas dan tak berubah.

Satu lagi metode disain yang dapat menjadi terapan dasar eksplorasi kita dalam studio perancangan. Selain itu, tidak menutup kemungkinan kita dapat menemukan ragam bentuk dan konsepsi yang lebih kaya lagi dari tipologi geometri Leonardo ini. Oleh karena itu, saya menyarankan kenapa kita tidak mencobanya…

(Sumber  : Saduran dari buku “Sains Leonardo : Menguak Kecerdasan Terbesar Masa Renasisan” karya Fritjof Capra, 2007)

June 2, 2010

Geometri Bukan Mengenai Benar atau Salah, Melainkan Mengenai Bagaimana Memilih

Filed under: process — gemala @ 14:28
Tags: ,

Setelah mengenal berbagai teori yang terkait dengan geometri dan arsitektur, sangat jelas bagi saya bahwa terdapat banyak pilihan untuk mengekspresikan citra dari sebuah bangunan atau wujud arsitektural melalui geometri yang diterapkan. Pertanyaannya adalah cara mana yang akan dipilih dan diterapan. Order, beauty, rigid, ugly, Euclidean, non-Euclidean, dan persepsi lainnya yang mewakili geometri yang diterapkan pada sebuah desain arsitektur merupakan sesuatu yang diterjemahkan berbeda oleh pemikiran-pemikiran yang berbeda pula. Namun perbedaan tersebut tidak dapat menyalahkan satu sama lain (sewajarnya).

“One geometry cannot be more true than another; it can only be more convenient”. [Poincaré]

Bagi arsitek sebagai perancang, semua persepsi dan teori tersebut sangat membantu dalam penciptaan suatu wujud arsitektural. Dengan demikian, hasil karya arsitektur yang terbentuk menjadi logis dan dapat dijelaskan secara geometrikal sehingga tidak terbentuk suatu karya yang ‘tidak pada tempatnya’. Bagi pengguna dan penikmat hasil karya arsitektur, persepsi dan teori tersebut menjadi penting saat mereka menuntut suatu karya yang benar-benar tepat guna dari berbagai sudut pandang.

Dari sini dapat dilihat bahwa tanggung jawab seorang arsitek sebagai perancang ternyata tidak hanya sebatas memenuhi tuntutan kebutuhan ruang kliennya namun juga terhadap setiap unsur geometrikal yang mereka terapkan pada desain termasuk hal sederhana seperti garis dan bidang. Hal ini mungkin dapat disamakan dengan apa yang Y. B. Mangunwijaya sebut dengan berarsitektur secara budayawan; dengan nurani dan tanggung jawab penggunaan bahasa arsitektural yang baik, karena berarsitektur berarti berbahasa dengan garis dan bidang, ruang dan gatra, bahan material dan suasana tempat.[1] Di sinilah dituntut kemampuan seorang perancang untuk memilih geometri seperti apa yang akan ia terapkan pada desainnya.


[1] Y. B. Mangunwijaya. 1995. Wastu Citra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama (hal. 7)

Transformasi me-Ruang

Filed under: process — andisuryakurnia @ 14:22
Tags: , ,

Proses yang berlangsung dalam pembuatan kemasan, dari pola yang terdapat pada bidang dua dimensi (dwimatra) menjadi wujud tiga dimensi (trimatra), menunjukkan suatu perubahan yang dikenal dengan istilah transformasi. Istilah ini dapat ditemukan dalam beragam aplikasi di dunia ini seperti musik, permainan, dan film. Belum lama ini dunia dipukau oleh film layar lebar yang menggabungkan teknologi industri film dengan teknologi komputer tingkat tinggi, berjudul ‘Transformer’, yang menggangkat tema perhelatan dunia di masa yang akan datang dimana terjadi interaksi antara manusia dan robot yang ‘hidup’ sebagai suatu transformasi dari bermacam-macam alat sederhana seperti perkakas dapur sampai pada alat transportasi canggih seperti jet kecepatan tinggi.

Dalam konsep me-‘ruang’ juga ditemukan beberapa contoh proses transformasi yang diaplikasikan baik dalam perencanaan maupun produk akhirnya, seperti pada furniture ‘transformer-shelf‘. Furniture ini bertujuan untuk dapat menampung berbagai material (seperti buku, alat tulis, perkakas, aksesoris, dsb), seperti layaknya sebuah rak atau lemari, pada ruang yang relatif sempit sehingga tidak membuat sesak ruangan yang ada dengan membagi lemari tersebut menjadi beberapa komponen yang memiliki fungsi penyimpanan masing-masing dan peng-’operasi’-annya ialah dengan menggeser komponen lemari lainnya sehingga efektifitas penggunaan lemari tersebut menjadi lebih tinggi.

Keringkasan menjadi dasar pertimbangan dalam pengadaan produk interior ini. Tujuan untuk meringkas suatu produk interior juga diperlihatkan melalui contoh lainnya dengan prinsip kerja yang berbeda yaitu dengan menumpuk (obelisk-transformer-chairs) atau menggabungkan komponen-komponen dari furniture tersebut  sehingga menjadi suatu bentuk yang compact (tennis-arm-chair).

Lain halnya dengan contoh karya arsitektur yang menjadi contoh aplikasi konsep transformasi yang dilakukan oleh OMA, Rem Koolhaas pada proyek ruang fashion terkemuka Prada di Korea Selatan (2008) tepat di kawasan bersejarah istana Gyeonghui. Transformasi diterapkan pada konsep perubahan wujud dan fungsi perusahaan fashion internasional Prada dimana mewadahi pelbagai event yang akan dilakukan di dalamnya – fashion exhibition), film festival, art exhibition, Prada fashion show). Transformasi didasarkan pada area lantai dasar yang dapat diputar bergantian dengan empat bentuk geometri seperti lingkaran, cross, segi empat, dan segi enam. Masing-masing bentuk geometri tersebut mewakili fungsi yang terkait dengan event dalam kurun waktu pergantian sebanyak 4 kali dalam setahun (3 bulan/event).

Transformasi yang terjadi mungkin tidak sehebat yang diilustrasikan pada film ‘Transformer‘, namun sebagai suatu pemikiran yang kemudian tertuang dalam dimensi yang dapat di-’tinggal’-i oleh manusia menjadi fenomena baru dalam proses berarsitektur. Dengan perputaran bentuk dan fungsi (form and function) maka kaidah form follow function ataupun function follow form bukan menjadi hal yang utama lagi. Yang menjadi perhatian utama adalah proses transformasi itu sendiri sehingga berbagai event dalam space dapat dinaungi oleh place di posisi yang sama. Skala bangunan ini kemudian berdampak pada skala kota yang lebih luas dimana atmosfer di sekitar bangunan turut terpengaruh oleh atmosfer event yang sedang berlangsung dalam kurun waktu tertentu.

Dari contoh-contoh ini kita dapat belajar bahwa dunia ini tidak statis melainkan dinamis, selalu terjadi perkembangan yang menunjukkan peningkatan pemikiran manusia terhadap dunia. Dan secara sadar pemikiran manusia juga mengalami transformasi, sehingga kondisi unreal dalam film ‘Transformer‘ bisa jadi real pada beberapa sektor kehidupan. Hal ini tak terelakkan dengan penemuan-penemuan mutakhir dari teknologi komputerisasi sebagai suatu bentuk transformasi sebuah peradaban. Aplikasi teknologi dalam ruang juga sangat dimungkinkan sehingga ruang nyata sekarang ini mampu bertransformasi menjadi cyber-space.

Siapkah kita menghadapi transformasi ini?

Sudah sejauh mana transformasi yang terjadi pada diri anda? Pemikiran dan ‘ruang’ anda?

May 31, 2009

Geometri sebagai Material dalam Pembentukan Arsitektur

Filed under: process — r1ss @ 09:27
Tags: ,

Dalam mendapatkan ide dalam mendesign seringkali kita terinspirasi dari design karya arsitek lain. Tapi mungkin design tersebut kita ubah sedikit dengan di distort,invert atau di twist. Dimana pada dasarnya pembentukan massa pada kedua design itu sama namun dengan perlakuan yang berbeda. Dan hal ini seringkali disangkal para arsitek apabila designya dikatakan mirip dengan design orang lain. Sering terjadinya kemiripan design ini sebenarnya mungkin karena para arsitek sudah tidak punya ide lagi bagaimana untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar berbeda. Walaupun pertanyaan sebenarnya adalah apa mungkin apabila saat ini seorang arsitek benar-benar bisa menghasilkan design arsitektur yang benar-benar berbeda dengan yang lainnya?Karena sudah begitu banyaknya design arsitektur yang muncul di dunia ini, lalu apa mungkin ada bisa muncul design lain yang benar-benar tidak menyerupai design-design yang sudah muncul sebelumnya?
Dalam kuliah geometri ini saya belajar bahwa geometri seperti sebuah material dalam pembentukan design arsitektur. Dimana material-material ini berperan sebagai metode yang berbeda-beda yang ditawarkan geometri dalam membantu kita untuk mendesign sebuah arsitektur. Metode-metode inilah yang seperti membuka pikiran kita untuk mencari cara lain agar bisa menghasilkan sebuah design arsitektur yang berbeda. Mungkin pada awalnya saya berpikir bahwa geometri adalah bentuk-bentuk kotak atau segitiga yang malah bersifat mengekang bentuk-bentuk dalam arsitektur itu sendiri. Namun setelah dipelajari sebenarnya geometri inilah yang membebaskan kita untuk mencari sebuah design yang lain dan tidak hanya dengan mengikuti design orang lain. Material-material yang berbeda dalam pembentukan geometri bukan hanya kotak atau segitiga namun bisa melalui metode music, persepsi, golden section (aturan yang sudah ada pada arsitektur), Euclidean atau bahkan dengan ilmu-ilmu biologi. Dahulu kalau saya ditanya bagaimana music atau persepsi bisa membentuk geometri maka mungkin saya juga akan bingung menjawabnya. Bagaimana bisa geometri yang merupakan rumus matematika bisa dihubungkan dengan music atau persepsi,karena kedua hal itu ada pada bidang yang berbeda. Karena seringkali kita menganggap bahwa apabila ada kedua hal yang berbeda maka kita tetap akan menganggapnya berbeda, yang padahal mungkin saja dual hal yang berbeda belum tentu tidak berhubungan. Mungkin sebenarnya di sekeliling kita masih banyak material lain yang dapat kita temukan dalam pembentukan arsitektur, namun kita tidak menyadarinya karena kita sudah terkekang dengan metode-metode yang sudah kita kenal selama ini dan sudah terpatri di kepala kita. Arsitektur merupakan sebuah lahan dimana kita bisa menggunakan banyak metode untuk mengisi lahan itu. Dan metode-metode yang kita ketahui selama ini masihlah sangat sedikit sehingga kita selalu meingisi lahan itu dengan metode yang sama atau dengan mengikuti metode yang orang lain lakukan. Dan peran geometri disinilah yang membantu kita untuk membebaskan kita dari metode-metode konvensional yang kita kenal sehingga kita tidak terkekang dengan metode yang lama, dan membuat arsitektur menjadi lahan yang berisi berbagai hal yang penuh dengan keberagaman dan kekreatifan kembali.

April 5, 2009

Belajar

Filed under: process — ayushekar @ 21:35
Tags: ,

“ Seorang arsitek yang berpraktek tanpa dasar teori tidak dapat menjelaskan alasan dan dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara arsitek yang berteori tanpa berpraktek hanya berpegang kepada “bayangan” dan bukannya substansi. Seorang arsitek yang berpegang pada teori dan praktek, ia memiliki senjata ganda. Ia dapat membuktikan kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat mewujudkannya dalam pelaksanaan.” (http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur)

Kutipan diatas secara tidak langsung menjelaskan adanya dan perlunya cabang ilmu yang lain dalam pemahaman akan dunia arsitektur khususnya menjadi seorang arsitek. Itulah mengapa pada dahulu kala vitruvius mengemukakan pentingnya pemahaman akan filsafat, musik, astronomi, matematika, dan lainnya agar semua hal dan setiap langkah yang dilakukan oleh seorang arsitek menjadi beralasan, bukan tanpa penjelasan. Untuk itu diperlukan model studi, scoring, presentasi, design report, dan media lainnya untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya tersebut.

Yang menjadi bahan perenungan dan pertannyaan saat ini adalah ternyata sulit untuk melaksanakan berpraktek dan berteori dengan satu langkah yang sama. Dan pada kenyataan sekarang ini, saya justru bertanya benarkah para arsitek hari ini berpraktek dengan teori? Teori siapa? Teori yang telah disimpulkan oleh dirinya sendiri atau teori yang memang sudah dengan baik dikuasainya. Tidak perlu jauh-jauh menganalisa para praktisi arsitek tersebut, cukup dengan mengetahui bahwa apakah yang sudah saya lakukan, sebagai calon sarjana arsitek, sudah berpraktek dan berteori-kah?

Secara sadar atau pun tidak sistem atau urutan perancangan saya selalu berulang dengan mencari site, membuat preseden, penjelasan ide, membuat model studi dan scoring, hingga bentuk bangunan saya tercipta. Entah apakah ini suatu teori dasar perancangan atau tidak yang secara tidak langsung diperkenalkan oleh jurusan, tetapi pastinya saya pernah mendapatkan sistematika bentuk perancangan ini saat di mata kuliah metoling (metode dan perancangan lingkungan) dan teori lainnya seperti dekonstruksi, fenomenologi, kedekatan ruang, dan lainnya. Tapi pada kenyataannya semua yang pernah diajarkan tersebut hilang saat proses perancangan berlangsung. Padahal bukankah semua materi tersebut diberikan sebagai pendukung proses perancangan. Yang nantinya setiap tindakan yang saya lakukan dalam merancang memiliki arti dan tujuan sehingga bukan “ngasal” merancang yang bentuknya tercipta tanpa tahu dari mana dia tercipta. Agar semua karya yang saya ciptakan sebelumnya punya asal, sehingga dirinya bisa menjawab pertanyaan “siapa kamu?”

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.