there’s something about geometry + architecture

April 12, 2012

Pengaruh Bentuk Fisik Botol terhadap Cara Memegangnya ketika Isi Botol hendak Dikeluarkan

Filed under: Uncategorized — indralim09 @ 18:55

Di kamar kos saya banyak botol yang bisa ditemukan dan botol-botol tersebut digunakan sebagai wadah untuk mengisi benda-benda kebutuhan saya. Botol-botol tersebut ada yang berisi cairan yang kental dan encer maupun benda padat seperti tablet dan bubuk. Jenis-jenis isi dari botol tersebut juga beraneka ragam ¾ ada yang merupakan minuman, obat-obatan, pembersih tangan, sabun, shampoo, cairan penyegar dan pembersih mulut, parfum, cat, dan lem.

Pada suatu hari, saya mencoba mengumpulkan sebagian besar botol-botol yang bisa saya temukan di dalam kamar saya. Setelah dikumpulkan, saya mencoba memperhatikan bentuk fisik dari botol-botol tersebut. Dari hasil pengamatan saya, saya mendapatkan dimensi botol-botol tersebut beraneka ragam ¾ ada yang besar, sedang, dan kecil. Dimensi ini menentukan kapasitas dari botol-botol tersebut. Mulut botol juga beraneka ragam tergantung dari bentuk isinya dan cara keluar isi botol dari botol yang diharapkan. Kemudian, bentuk botol juga bervariasi ¾ ada yang cenderung berbentuk tabung, memipih dan lain sebagainya. Namun, ada satu hal yang saya temukan sama dari bentuk fisik di antara botol-botol yang saya kumpulkan yaitu semuanya cenderung simetris. Saya mencoba lagi untuk mencari botol-botol lainnya yang tidak simetris di kamar kos saya tetapi saya tidak berhasil menemukannya.

Selanjutnya, saya mencoba untuk menelusuri cara penggunaan botol-botol tersebut terutama dari cara memegangnya ketika isi dari botol hendak dikeluarkan. Saya ingin mengamati apa perbedaan yang terjadi dari cara saya memegang botol yang menurut saya nyaman dan cukup kuat terhadap botol-botol tersebut ketika isinya hendak dikeluarkan. Bagaimana pengaruh instrumen dimensi dan bentuk baik dari bentuk geometrisnya misalnya menyerupai tabung atau pipih maupun kesimetrisannya terhadap aksi saya ketika memegang setiap botol tersebut?

Foto-foto di atas adalah hasil percobaan saya terhadap cara memegang botol-botol yang sudah saya kumpulkan yang menurut saya cukup nyaman ketika isi botol hendak dikeluarkan dan sebelum mulut botol atau tutup botol dibuka. Percobaan pertama dilakukan pada botol obat tablet yang paling kecil di antara botol-botol lain yang saya kumpulkan. Untuk memegangnya, saya menempatkan jari jempol saya menempel pada bagian depan botol dan jari telunjuk bersamaan dengan jari tengah menempel pada bagian belakang botol. Percobaan pada botol berdiameter cukup besar dan tinggi lebih dari empat jari, saya memegangnya dengan kelima jari saya seperti pada percobaan nomor dua dan delapan. Jika diameternya lebih besar lagi, saya memegangnya dengan cara menggenggam seperti pada percobaan nomor sembilan, tiga belas, empat belas, dan lima belas. Percobaan pada botol berbentuk pipih juga hampir serupa. Semakin besar dimensi lebarnya, botol cenderung semakin digenggam ketika dipegang. Percobaan nomor tiga sedikit berbeda hasilnya. Pada percobaan ketiga yaitu terhadap cara memegang botol yang dimensi diameternya kecil tetapi memanjang, saya cenderung merasa lebih nyaman memegangnya dengan menempelkan jari jempol pada bagian depan jempol dan jari-jari lainnya selain jari kelingking pada bagian belakangnya.

Dari semua percobaan terhadap semua botol yang sudah saya kumpulkan, ada satu hal yang sama terjadi pada setiap percobaan yang dilakukan yaitu jari jempol saya ditempelkan pada sisi bagian depan botol dan jari-jari saya yang lain ditempelkan pada sisi lain yang simetris terhadapnya. Dengan kata lain, ketika saya memegang botol-botol tersebut dalam posisi yang menurut saya cukup nyaman ketika hendak mengeluarkan isi botolnya, bagian yang dipegang untuk memberikan gaya tekan pada botol sehingga botol tidak terjatuh ¾ yang mana ada dua arah gaya yang saling berlawanan, saling mendekati pada satu titik, dan menghasilkan resultan gaya sama dengan nol ¾ merupakan bagian yang saling simetris satu sama lain. Jadi, dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa bentuk fisik botol mempengaruhi cara memegangnya dalam posisi yang nyaman ketika isi botol hendak dikeluarkan baik dari dimensinya maupun bentuk geometrisnya termasuk kesimetrisannya juga. Ketika ada kesamaan bentuk fisik, maka ada aksi yang cenderung sama juga yang dilakukan terhadapnya dan begitu pula sebaliknya.

April 7, 2012

konsep out of the box margo City

Filed under: Uncategorized — nitamiaindah @ 15:27

Margo City adalah sebuah mall terbesar di kota Depok yang terletak di jalan Margonda Raya, mall ini mengusung konsep out of the box yang ditampilkan pada logo Margo City. Seperti apakah konsep tersebut ditampilkan pada mall yang memiliki sclupture pada bagian atasnya ini?ImageImage


Dilihat dari jalan Margonda Raya, Margo City bermassa balok yang melintang horizontal dengan lengkungan menonjol pada bagian tengah fasad depan, gubahan massanya masih terlihat seperti sebuah box dengan sclupture dibagian atasnya.

Kemudian penulis mencoba memasuki mall tersebut dan mencoba mendapatkan pattern yang dapat menonjolkan konsep ‘out of the box’ tersebut.

Image

Image

sclupture bila dilihat dari bawah (basement mall)

Image

sclupture bila dilihat dari dalam mall (lantai 4)

ImageImage

 

Setelah memasuki mall saya melakukan analisis terhadap pola yang dibentuk dari sculpture, pola lantai dan pola pameran yang dobentuk pada mall terebut, selanjutnya saya melakukan tracing untuk mendapatkan pola yang dibentuk oleh susunan tersebut.

Image

pola melingkar dan memusat dari sclupture Margo City bils dilihat dari dalam mall

Image

pola sculpture baja

 

 

Image

pola kain pameran

 

Image

Pola susunan baja

 

Image

pola lantai dan struktur baja

Setelah mentracing saya mendapatkan bahwa konsep out of the box margo city tidaklah dibentuk dari gubahan massanya melainkan interior yang dibentuk didalamnya, contohnya adalah lantai yang tidak simetris dan berlengkung serta struktur tulangan baja penopang yang berlengkung.

Selain itu keberanian perancang dalam mendesain dan meletakkan sculpture yang sama tingginya dengan Margo City, lebih dari 16 meter, tidak hanya memberi kesan menarik dan mudah dilihat dari luar, namun juga memberikan efek yang tidak biasa di dalamnya. Menurut saya disinilah konsep out of the box diterapkan pada Margo City, bagaimana menurut anda?

April 5, 2012

interior of the city

Filed under: Uncategorized — lorinalumombo @ 01:23

”The ideal of the modern city is like the ideal of a well-ordered home. A place for everything and everything in its place” – Lofland

Lofland telah menyatakan bahwa kota yang baik adalah kota yang ter-’order’ dengan baik seperti di rumah. Dalam mendesain sebuah rumah diawali dengan pembagian zoning yang berdasarkan kepada kebutuhan penghuni rumah. Sehingga jika kita menganalogikan sebuah kota adalah sebuah rumah, maka pen-zoning-an kota menjadi hal yang penting. Hal ini juga mengacu kepada kutipan lain dari Lofland; “the separation of activities as the prominent character of modern cities to avoid the ‘pile-up’ of activities”. Kemudian kota mulai terbagi-bagi menjadi beberapa zona.

“Streets are often on a rigid grid design, or if not a grid, at least a pattern that looks very well-thought-out when observed in a scale model” – Le Corbusier

“The grid, the orthogonal plan with parallel streets, right angles, used frequently in ancient planning, appears to be the ideal city form par excellence. It represents the most common and universal pattern of urban history, a reflection of order” – Eaton

Dua kutipan dari Le Corbusier dan Eaton ini mengacu tentang penerapan pola grid pada sebuah kota. Pola grid dianggap sebagai sebuah metode yang baik untuk mengarahkan sebuah kota menjadi kota yang ideal. Jika kita masih menganalogikan kota ini sebagai sebuah rumah, maka grid ini mengingatkan saya pada kolom-kolom yang biasanya terdapat pada denah eksisting bangunan, yang mana kehadirannya mau tidak mau harus diterima.

Kolom pada bangunan eksisting tersebut terkadang menjadi acuan dalam mendesain ruang interior, karena keberadaannya di dalam ruang tidak dapat diacuhkan. Namun keberadaan kolom ini juga tidak serta merta menjadi pembatas dalam mendesain. Mungkin persepsi ini dapat berlaku juga pada ‘ruang interior’ kota yang telah dikotak-kotakkan oleh grid yang ada. Menurut saya, kota yang menggunakan pola grid pada ‘interior’-nya bukan berarti akan menjadi kota yang monoton seperti yang pernah disebutkan oleh Jane Jacobs. Pengotak-ngotakan yang terbentuk oleh grid atau mungkin oleh zona yang ada belum tentu akan membatasi kreativitas para arsitek dalam mendesain ‘ruang interior’ tersebut. Grid ini hanya menjadi ‘partisi’ agar terbentuk ‘interior’ kota yang lebih rapi dan teratur.

Dalam interior, grid dapat dianalogikan sebagai area sirkulasi yang merupakan elemen penting interior. Sirkulasi ini dapat mengantarkan pengguna ruang dari ruang satu ke ruang lainnya, atau dalam ruang lingkup kota mengantarkan pengguna dari bangunan satu ke bangunan lainnya. Namun terdapat perbedaan antara sirkulasi dalam interior dan sirkulasi dalam kota. Dalam interior, bagian dari sebuah ruang juga dapat menjadi area sirkulasi untuk perpindahan menuju ruang lainnya, sedangkan di dalam kota, sebuah ruang atau dalam hal ini sebuah bangunan tidak bisa menjadi akses untuk menuju bangunan lainnya. Pengguna harus melalui area sirkulasi yang sebenarnya untuk mengakses bangunan lain. Apakah metode sirkulasi dalam ruang interior ini dapat diterapkan pada sebuah kota? Sehingga nantinya, kita dapat mengakses suatu ‘ruang’ di dalam kota melalui ‘ruang’ yang lainnya tanpa harus melalui area sirkulasi. Lalu saya teringat kepada sebuah konsep kota ideal menurut Le Corbusier, yang memberikan ruang khusus untuk pedestrian di bagian dasar kota. Konsep yang dipaparkan oleh Le Corbusier ini hampir menyerupai metode sirkulasi pada ruang interior.

Lalu apakah dengan begitu kota yang ideal akan dapat direalisasikan? Hal tersebut tentu kembali kepada asumsi masing-masing orang.

 

Referensi:

http://en.wikipedia.org/wiki/Grid_plan

April 4, 2012

Geometri pada Pengulitan Nanas

Filed under: Uncategorized — meirisyananda @ 23:54

Siapa yang tidak tau nanas? Siapa yang tidak menyukai kesegaran buah nanas? Nanas merupakan salah satu jenis buah yang memiliki bentuk unik yang lonjong dan memiliki daun berkelompok di atasnya. Sedikit berbicara mengenai manfaat buah nanas, buah ini banyak mengandung vitamin A dan C sebagai antioksidan. Juga mengandung kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, kalium, dekstrosa, sukrosa, dan enzim bromelain yang berkhasiat sebagai antiradang, membantu melunakkan makanan di lambung, serta menghambat pertumbuhan sel kanker. Kandungan seratnya dapat mempermudah buang air besar pada penderita sembelit.

Mungkin saja jika kita adalah orang awam dan tidak tahu bahwa nanas ini adalah buah yang dapat dimakan karena bentuknya yang agak sedikit berbahaya, yakni memiliki daun yang tajam dan keras pada bagian di atasnya dan memiliki kulit yang kasar maka kita akan enggan untuk menyentuhnya. Namun, sebagai orang yang tau akan manfaat dan rasa dari buah ini maka pastinya ia mau untuk memakannya, lalu bagaimana dengan cara mengupasnya? Apakah sama dengan cara mengupas buah apel atau jeruk atau buah yang lainnya? Ternyata tidak, untuk mengupas buah nanas ini, ia memiliki teknik yang khusus.

Kulit nanas memiliki  tekstur kulit yang kasar, bentuk kulit yang kasar ini  tersusun atas biji-biji mata yang kasar dan sangat dalam letaknya sampai ke daging buah sehingga perlu teknik kusus untuk mengupas kulit nanas ini. Sangat perlu membuang biji mata pada kulit nanas tersebut karena biji inilah yang menimbulkan sensasi gatal terhadap lidah. Hal inilah yang membuat saya penasaran mengapa perlu adanya teknis kusus untuk menguliti si buah yang sangat menyegarkan ini.

                                                                                                Gambar 1. Buah nanas

Tentunya anda sering melihat dalam kehidupan sehari-hari mengapa nanas yang sudah dikuliti maka bentuk akhirnya akan ada seperti alur yang melingkar layaknya bentuk spiral.

Gambar 2. Buah nanas yang sudah dikuliti

Ternyata untuk menguliti buah nanas ini idealnya memang harus mengikuti alur si mata biji yang terdapat pada kulit buah ini agar rasa gatal  yang dapat ditimbulkan dari biji mata nanas ini dapat terbuang dan kita pun bisa menikmati buahnya dengan aman. Bayangkan saja jika mata kulitnya tidak dibuang maka sensasi gatal-gatal pada lidah pun dapat terjadi.

Nah, kemudian bagaimana dengan langsung saja memotong kulitnya secara tebal? Tentunya anda tidak akan mau untuk melakukannya karena hal tersebut akan membuat daging nanas terbuang banyak bersama kulitnya meskipun memang dengan cara ini dapat lebih mempersingkat waktu. Untuk itu perlu adanya teknis kusus dalam menguliti nanas yakni mengikuti alur si biji mata nanas ini sendiri.

Ternyata jika diperhatikan, buah nanas ini memiliki biji mata yang dikelilingi batasan berbentuk seperti belah ketupat, sangat unik sekali. Kemudian jika ingin mengulitinya, nanas ini memiliki letak mata biji yang lebih dekat secara diagonal, buka horizontal maupun vertical dengan begitu akan lebih efisien jika mengulitnya juga secara diagonal (menguliti biji matanya). Karena jika mengupas mata nanas secara vertical ataupun horizontal maka daging nanas akan terkupas habis dan nanas yang kita perolehpun semakin sedikit.

3.a                                             3.b                               3.c                                    3.d

Gambar 3. Cara mengupas kulit nanas

Gambar 3.a Memotong bagian daun pada kepala nanas

Gambar 3.b Mengupas kulit nanas dengan tipis

Gambar 3.c Mengupas biji mata kulit nanas dengan cara mengikuti jarak letak terdekat (dengan diagonal) sehingga bentuknya           menjadi seperti alur-alur spiral.

Gambar 3.d Memotong kulit nanas dengan agak tebal namun cara ini membuat daging nanas terbuang banyak.

Gambar 4. Kulit nanas yang tersusun atas bentuk belah ketupat

Gambar 5. Proyeksi susunan bentuk kulit nanas

Bisa dilihat bahwa A adalah jarak antara biji mata nanas secara horizontal maupun vertikal dan B adalah jarak biji mata nanas secara diagonal. Dengan begitu dapat terbukti bahwa memotong kulit nanas secara diagonal dapat lebih efisien daripada memotong kulitnya secara horizontal maupun vertikal. Bentuk alur seperti spiral itupun didapat dari hasil pemotongan kulit biji mata nanas yang dilakukan secara diagonal yang berkelanjutan. Oleh karena itu, sebenarnya  perlakuan terhadap ilmu alamiah geometri tersebut sangat sering kita temukan dalm kehidupan sehari-hari yang meskipun hal tersebut secara tidak sadar telah kita lakukan.

Referensi:

http://www.eresep.com/tips.php?id=42

http://pineapplesweb.com/pineapples/How+to+Cut+a+Pineapple/

http://www.myasiankitchenny.com/2009/03/cutting-perfect-pineapple.html

http://www.resep.web.id/obat/khasiat-buah-nanas.htm

Komposisi Musik Pada Kota Brasilia

Filed under: Uncategorized — rrrana @ 23:49

Seperti halnya dalam bidang arsitektur, musik juga memiliki komponen pembentuk tersendiri. Jika kita mengenal kolom – kolom balok sebagai penopang dan penguat dalam sebuah bangunan, dalam musik ada drum dan bass yang mengatur ketukan – ketukan dan irama sebagai ‘struktur’ yang memperkuat karakter dalam suatu rangkaian lagu. Dinding dalam karya arsitektur yang memunculkan bentuk dari suatu bangunan mungkin juga dapat dianalogikan sebagai irama melodis pada sebuah lagu yang biasanya dihasilkan oleh piano atau gitar pada komposisi band sederhana, yang membentuk nada yang dinikmati dan dapat dinyanyikan oleh pendengarnya. Lalu ada elemen pemanis seperti melodi dari alat musik tiup, misalnya, dapat menggambarkan bukaan pada bangunan yang membuat interior bangunan dapat tersinari cahaya alami dari luar.

Mari kemudian kita mencoba membayangkan apa yang dapat kita ‘dengar’ dari gambar – gambar di bawah ini.

Gambar – gambar tersebut menunjukkan karya – karya arsitektural yang dirancang oleh Oscar Niemeyer untuk pembangunan ibukota Brasilia. Terlihat bahwa karya – karya tersebut dibuat senada dengan tampilan yang bergaya serupa namun tetap memiliki bentukan yang berbeda – beda.

Pada gambar pertama, Cathedral of Brasilia, terlihat keindahan kolom – kolom struktural dengan bentuk yang tidak konvensional. Di sini saya dapat merasakan persamaannya dengan bunyi irama drum yang teratur dengan bunyi yang melemah di akhir ketukan, seperti taraktak taraktak taraktak… pada fasad katedral ini terlihat satu elemen lagi yang menonjol, yaitu fasad kaca, yang dalam analogi sebelumnya dapat disamakan dengan bunyi alat musik tiup. Mungkin pada gambar di atas tergambar dengan bunyi ritmis yang bersifat komplementer terhadap irama drum yang dihasilkan.

Pada gambar kedua, Presidential Palace, masih ada elemen kolom struktur yang terlihat ringan, mungkin mengibaratkan bunyi perkusi yang meramaikan irama musik. Musik masih didominasi dengan brass section (alat musik tiup) yang membuat musik terdengar semakin kaya dan megah. Elemen atap yang rata bagi saya dapat terdengar sebagai alunan piano, dominan, menarik perhatian, namun tidak dengan melodi yang rumit.

Pada gambar terakhir, terlihat bentuk – bentuk yang berbeda, elemen horizontal, vertikal, dan lengkungan – lengkungan pada bentuk fasad bangunan. di sinilah mungkin letak titik klimaks dari “komposisi musik” yang dihasilkan. Ada elemen horizontal yang menjadi gambaran nada dasar pada musik, elemen vertikal yang menggambarkan titik dramatisasi dari komposisi lagu, serta elemen – elemen lengkung yang menggambarkan komposisi nada rumit yang dihasilkan oleh instrumen – instrumen musik.

Dari contoh tersebut, jika kita memiliki kepekaan, ternyata arsitektur dapat membentuk alunan – alunan ekspresi musik tersendiri. Dan bahkan dalam contoh yang saya berikan, beragam ‘musik’ yang tercipta oleh bangunan – bangunan yang terdapat pada kota Brasilia tersebut mungkin dapat disatukan menjadi suatu komposisi musik yang harmonis dan lebih menarik. Ternyata kota juga bisa bernyanyi.

Bagaimana menurut saudara, apakah musik yang ‘terdengar’ berbeda dari apa yang saya sampaikan? Mungkin komposisi – komposisi ‘musik kota Brasilia’ yang menarik dan kreatif lainnya bisa anda ‘perdengarkan’ di kotak komentar di bawah ini :) .

 

 

 

Referensi:

http://mahmoud-riad.suite101.com/relationships-between-music-and-architecture-a280916

http://www.bsu.edu/libraries/virtualpress/student/architecture/

flush toilet and the swirl shape direction

Filed under: Uncategorized — didhaigasi @ 22:42

Seringkali saya memperhatikan kemana arah putaran air dari flush toilet atau yang sering kita sebut toilet duduk. Ya, pusaran air tersebut membentuk bentuk spiral, dan percaya atau tidak, arah pusaran air tersebut selalu mengarah ke arah yang sama, yakni ke kiri atau berlawanan jarum jam. Menurut banyak penelitian yang telah dilakukan oleh banyak orang lain di seluruh dunia, muncullah sebuah “keyakinan” bahwa arah pusaran air dari flush toilet di bumi bagian utara garis equator mengalir searah jarum jam. sebaliknya, arah pusaran air di belahan bumi bagian selatan garis equator mengalir berlawanan arah jarum jam, dengan kata lain ke kiri. sama seperti arah di flush toilet di rumah saya

arah pusaran air berlawanan jarum jam

 

 

 

 

 

 

 

 

berlawanan arah jarum jam

arah pusaran air berlawanan arah jarum jam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

searah jarum jam

Bermodal dari hasil riset banyak orang tersebut (saya mengatakan banyak orang karena memang telah banyak orang yang telah memperhatikan arah pusaran air dari flush toilet dari berbagai belahan bumi ini.) kemudian muncul di benak saya logika bahwa jika flush toilet yang berada tepat di garis equator akan menyebabkan arah air langsung menuju ke lubang toilet tanpa berpusar terlebih dahulu. akan tetapi ternyata tidak begitu adanya. flush toilet yang berada di St. Cristobal, Galapagos yang berada hanya terpisah satu derajat dari selatan garis equator, arah pusaran air tetap mengarah berlawanan arah jarum jam.

Pemahaman mengenai arah pusaran air dapat ditentukan berdasarkan posisi dimana toilet itu berada di bagian bumi didasarkan pada Coriolis Effect, yang merupakan suatu akibat dari berotasinya Bumi ini terhadap benda yang bergerak. akan tetapi hal itu tidak menjawab akan apa yang terjadi pada toilet yang berada tepat di garis equator. menurut saya, kekuatan yang mendorong keluarnya air tersebut dari tangki air ke lubang toilet memiliki peran yang lebih besar dalam penentuan arah pusaran daripada gerak berotasinya bumi. Ditambah lagi gerak air yang keluar dari tangki yang kemudian bertemu dengan bentuk pispot yang melingkar membuat bentuk spiral dari arah pusaran air.

pusaran air

 

 

 

 

 

 

 

 

coriolis effect

 

 

 

 

 

 

 

 

Hal yang saya dapatkan dari memperhatikan pusaran air flush toilet ini adalah bahwa sebuah bentuk dapat tercipta dengan dipengaruhi oleh suatu gaya yang pada kasus ini adalah gaya rotasi bumi. Coriolis Effect ini memang dapat mempengaruhi arah pusaran air, hal tersebut mungkin hanya terjadi dalam skala yang besar,  contohnya angin topan, ataupun pusaran air di sungai /  dilaut.  Tetapi kemungkinan terjadi di toilet juga ada, hanya jika toilet anda selebar 1/2 meter. :D

Pesan Rahasia Dari Logo

Filed under: Uncategorized — nadiafzna @ 22:27

Dalam pembuatan logo, para desainer tidak hanya membuatnya dengan indah dan sesuka hati. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan oleh desainer grafis dalam pembuatan logo. Logo harus memiliki filosofi yang kuat. Filosofi ini didapat dari informasi yang berasal dari konsumen.  Desainer harus mengerti dengan jelas keinginan konsumen sehingga tidak ada kesalahan  penyampaian maupun penerimaan informasi dari logo.

Untuk memberikan filosofi yang kuat namun dalam bentuk logo yang unik dan sederhana para desainer grafis sering memanfaatkan persepsi dari manusia. Salah satu teori tentang persepsi manusia ialah Teori Gestalt.

Teori Gestalt dipelopori oleh Max Wertheimer (1880 – 1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Teori Gestalt terdiri dari :

Proksimitas atau kedekatan jarak merupakan kondisi yang paling sederhana dari suatu organisasi. Menurut teori Gestalt, obyek-obyek yang memiliki jarak  yang lebih dekat cenderung dilihat lebih berkelompok secara visual.

Dari gambar terlihat ada dua group yaitu lingkaran besar dan lingkaran kecil.

 

 

 

 

 

 

 

Similiaritas, bila elemen-elemen memiliki similiaritas atau kualitas yang sama dalam hal ukuran, tekstur dan warna, maka elemen-elemen tersebut cenderung akan diamati sebagai suatu kesatuan.

Dari gambar terlihat  kolom persegi dan kolom lingkaran

 

 

 

 

 

Ketertutupan, unit visual cenderung membentuk suatu unit yang tertutup. Persepsi individu sangat tergantung dari fokus pandangannya, sehingga bagian yang terbuka pada suatu elemen akan otomatis dianggap sebagai suatu yang tertutup.

Dari gambar kita akan cenderung meneruskan garis, yang terlihat bukanlah suatu lingkaran dan segitiga, tapi suatu segitiga.

 

 

 

 

 

 

 

Kesinambungan, hukum ini menyatakan bahwa seseorang akan cenderung mengamati suatu elemen yang berkesinambungan sebagai satu kesatuan unit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bidang dan simetri, hukum ini menyatakan semakin kecil area tertutup dan simetris semakin cenderung terlihat sebagai suatu unit.

Gambar cenderung terlhat dari kumpulan 5 lingkaran, bukan kumpulan beberapa bagian lingkaran.

 

 

 

 

Bentuk dan latar, bahwa sebuah obyek akan terlihat berbeda ketika sebuah bentuk memiliki latar yang kontras.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terlihat sebagai vas, atau dua wajah.

Berikut beberapa contoh logo yang entah secara sengaja atau tidak sengaja menerapkan teori gestalt ,

 

Teori Bentuk dan Latar

Logo ini merupakan sebuah logo lembaga sosial yang bergerak dalam bidang kemanusiaan. Dari logo tersebut kita dapat menangkap dua gambaran, gambar peta afrika dan gambar dari seorang anak dan orang tua.  Logo ini menerapkan teori bentuk dan latar.

 

 

 

 

 

contoh lain,

 

 

 

 

 

 

 

Teori Ketertutupan  (Closure)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bila dilihat dengan seksama logo Carrefour ini, maka terdapat huruf C yang terbentuk diantara sisi merah dan biru, logo ini menerapkan teori ketertutupan ( closure).

contoh lain,

 

 

 

 

 

 

 

 

Bidang dan simetri  (Pragnan)

Logo dari Roxy sebenarnya adalah dua bagian dari logo Quiksilver namun logo Roxy tersebut terlihat sebagai satu kesatuan yang berbentuk hati.

 

 

 

 

Contoh lain,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesinambungan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jika kita melihat logo ini lebih teliti, kita dapat melihat nama brand dari segala arah baik vertikal maupun horizontal, hal yang membantu kita untuk melihat itu adalah  karena melihat logo itu berkesinambungan ke satu arah.

 

 

 

Persepsi manusia dapat digunakan sebagai sumber ide untuk merancang. Dengan memanfaatkan persepsi, kita dapat merancang suatu desain yang dapat dimaknai oleh orang-orang yang merasakannya. Persepsi manusia ini dapat memperkaya pemahaman kita tentang penggunaan element-element seperti tekstur, warna, material, bentuk (form) sehingga dapat menciptakan suatu desain yang bermakna bagi penggunanya. Namun dalam memanfaatkan persepsi ini, kita juga harus waspada jangan sampai desain yang telah dirancang dapat dimaknai negatif oleh orang lain.

Dalam dunia arsitektur sebagai contoh kita dapat melihat pada Sydney Opera House yang dirancang  oleh arsitek Denmark Jorn Utzon. Banyak orang memaknai gedung opera ini mirip dengan layar kapal, keong, burung camar, dan sirip ikan. Namun tidak ada orang yang memaknai gedung itu dengan makna yang negatif.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka
http://natadipura.com/cara-membuat-logo/

http://miphz.wordpress.com/2011/06/06/teori-gestalt/

http://psychology.about.com/od/sensationandperception/ss/gestaltlaws_4.htm

http://smashinghub.com/27-popular-logos-with-hidden-meanings.htm

http://www.graphicdesignblog.org/hidden-logos-in-graphic-designing/

http://theroxor.com/2009/10/22/23-brilliant-logos-with-hidden-messages/

Geometry for Futuristic Fashion

Filed under: Uncategorized — Yovine @ 17:17

Dalam dunia fashion, geometri pun turut andil dalam setiap tahap desain yang di lakukan. Mulai dari pembentukan proporsi tubuh hingga hasil akhir dari desain itu sendiri. Bentuk-bentuk geometri tampil pada pattern, bentuk desain, foto sesi desain, dan aksesoris dari desain tersebut. Membuat proporsi dengan menggunakan bidang-bidang geometri:

Setelah mengetahui bentuk proporsi tubuh yang pas maka di buatlah pola pakaian dari bentuk proporsi yang tercipta:

 

 

Hasilnya, secara keseluruhan, menunjukkan bahwa geometri deskriptif memainkan bagian penting untuk memahami perencanaan pola pakaian dari sudut pandangrekayasa manusia dan juga  untuk menyadari bahwa konstruksi pola pakaian terkait erat dengan aspek morfologi tubuh manusia. Tepat  analisis darihubungan antara manusia dan pola pakaian mereka dicapai hanya denganmenggunakan model sederhana  didekati untuk memberikan gambaran tentang tubuh manusia.

Futuristik  fashion adalah pakaian yang mungkin dipakai jauh di masa depan. Saat ini pakaian futuristik di bayangkan seperti suatu yang lebih dari desain modern dan saat itu pakaian manusia akan terlihat seragam. Bagaimana geometri menjadikan desain pakaian menjadi lebih dari zaman modern saat ini?

Busana geometrislah yang muncul di peragaan busana dan majalah di seluruh dunia saat ini. Bentuk futuristik seperti segitiga, bintang  lingkaran, chevrons, dan lain-lainya membawa unsur dinamis dan agresif untuk pakaian. Ini adalah potongan-potongan pakaian struktural dan arsitektur yang didefinisikan sebagai  seni tidak ada kesalahan dalam mendesain, tepat bentuk dan desain yang rincian dan halus melampaui masa modern sekarang. Desainnya menampilkan desain masa depan dan dalam kebanyakan desain yang ada, desain futuristik tidak dapat dipakai untuk pakaian sehari-hari saat ini.

Desain futuristik dapat terjadi dengan adanya permainan pola-pola tertentu di dalam pakaian. Memainkan komposisi dari bentuk-bentuk geometri menjadi suatu komposisi yang dapat terlihat beda dari desain-desain saat ini. Contoh pola-pola yang ada pada desain futuristik:

Pola-pola yang terbentuk dari bentuk-bentuk geomerti memberi kesan adanya kemodernan yang mengarah ke futuristik dan di komposisikan dengan warna-warna yang berani yang memberikan kekuatan pada komposisi bentuk dan desain tersebut.

Terbentuklah bentuk-bentuk pakaian yang menyerupai bentuk–bentuk solid yang membuat adanya gaya futuristik dari desain pakaian tersebut.. Dengan meproyeksikan bentuk-bentuk dasar kemudian terbentuklah bentuk baru, tetapi tetap dapat terlihat bentuk-bentuk solid yang membentuknya.

 

Dengan memadupadankan bentuk dan pola serta warna-warna maka gaya futuristik ini dapat tampil dalam suatu desain. Geometri sangat berperan penting dalam mengkomposisikan semua aspek yang di perlukan oleh desain pakaian yang mengambil tema futuristik ini.

 

Futuristik desain juga memainkan bentuk-bentuk solid itu untuk dapat menutupi kekurangan proporsi tubuh atau sebaliknya menonjolkan kelebihan dari pemakainya. Kekuatan bentuk-bentuk ini membuat adanya ciri khas tersendiri bagi perkembangan fashion yang mengarah ke gaya futuristik saat ini. Berani dan keluar dari titik aman itulah inti dari rancangan atau desain yang bertemakan futuristik desain ini. Aksen yang terdapat dalam rancangan futuristik lebih mengutamakan garis-garis yang tegas dan dapat di lihat secara langsung dan tampak banyaknya bagian-bagian yang di jadikan kesan utama dari desain yang berdasarkan bentuk-bentuk geometri ini,

 

Beberapa contoh desain yang dapat di uraikan fungsi dari bentuk yang terdapat pada desain tersebut:

Seperti pada gambar di samping, desain pakaian dengan gaya futuristik ini terbentu dari adanya bentuk-bentuk geometri yang di komposisikan dan membentuk suatu bentuk baru yang dapat sesuai dengan proposi tubuh manusia. Banyak dari desain futuristik yang memainkan aksen di bagian bahu manusia. Dengan aksen pada bahu maka proporsi tubuh manusianya lebih terlihat ramping, ini yang di maksudkan efek dari bentuk geometri yang mendominasi dan mengalihan pandangan ke arah lainnya. Dari bentuk –bentuk yang diambil  membuat adanya penekanan di bagian tertentu sehingga membuat kekurangan pada tubuh pemakainya tertutupi.

 

 

Referensi:

E. Tsutsumi: Teaching Descriptive Geometry in Clothing Pattern Planning.

Proceedings of the 1st China-Japan Joint International Conference on

Graphics Education.1993. p.139-144.

AMIRBAYAT J., HEARLE J. W. S.: The anatomy of buckling of textile fabrics : Drape

and conformability. Journal of Textile Institute 80, 1 (1989),p.51–70.

http://hyperbolic-crochet.blogspot.com/2010/03/geometry-is-in-fashion.html

http://www.trendhunter.com/trends/polyhedron-fashion-geometry-based-designs

http://smokingdesigners.com/25-spectacular-artworks-geometric-shapes-lines/

http://iamfashion.blogspot.com/2005/05/fashion-geometry.html

 

 

 

 

Geometri pada Lukisan, Sebuah Pesan Tersembunyi atau Bukan

Filed under: Uncategorized — erinasyera @ 16:25

Photobucket

Kita tentu mengenal lukisan The Shepherds of Arcadia yang dilukis oleh Nicolas Poussin. Lukisan itu muncul pada film tentang Da Vinci Code yang kita tonton bersama-sama beberapa minggu lalu. Analisis lukisan tersebut menunjukkan adanya pola geometri yang sangat rumit. Pola geometri itu pun dipercaya adaah kunci untuk menerjemahkan dokumen rahasia tentang keberadaan harta karun. Bisakah hal itu dipercaya?

Lukisan adalah sebuah karya seni yang memiliki makna mendalam. kita semua setuju bahwa ada makna tersirat di dalamnya. Namun apakah itu berarti ada kode tersembunyi di dalamnya? Lukisan dari era renaissance dan baroque yang terkenal sangat indah dan kompleks biasanya dikaitkan dengan konspirasi dan kode-kode rahasia untuk mencari harta karun. Apalagi lukisan era renaissance yang banyak bertemakan religi. Hal ini muncul sebab ditemukannya geometri tersembunyi di dalam lukisan-lukisan tersebut. Setelah ditelusuri pola-pola geometri itu membentuk pola yang sudah ada di dunia seperti pentagram, pola rasi bintang, atau apa pun itu.

Saya pribadi merasa hal ini merusak kenikmatan dari memahami sebuah karya lukisan. Orang-orang yang senang menghubungkan antara pola geometri pada lukisan dank ode tersebut rata-rata berasal dari kalangan sejarawan bukan kalangan seniman. Mereka melihat data-data yang ada pada lukisan, mencoba mencari tahu apa yang tidak terlihat oleh mata, dan menarik kesimpulan bahwa ada konspirasi di dalam lukisan itu. Saya rasa hal ini sedikit menggelikan karena tidak ada bukti bahwa lukisan pada zaman renaissance dan baroque digunakan untuk media penyampaian kode rahasia. Lagi pula kita cenderung menemukan apa yang ingin kita temukan bukan? Kita melihat apa yang kita percaya. Jadi jika percaya bahwa ada kode, jika kita berusaha menemukan kode, pasti itu yang akan kita berusaha temukan atau dibuat-buat sampai ditemukan.

Kita ambil contoh The Shepherds of Arcadia. Di dalam sebuah dokumen nama Poussin dan Teniers disebut-sebut memegang kunci untuk harta karun Rennes-le-Chateau. Ya, mungkin itu bisa jadi landasan yang kuat untuk mengatakan bahwa di dalam lukisannya terdapat kode rahasia. Namun setelah mencari, saya menemukan banyak tafsiran yang berlainan tentang lukisan ini. Ada yang mengatakan keempat gembala pada lukisan ini adalah menggambarkan rasi bintang Hercules, Bootes, Andromeda. Ada yang mengatakan mereka melambangkan merkurius, venus, bumi, mars. Pola geometri yang ditemukan pun berbeda-beda. Ada yang menemukannya dalam bentuk pentagram, ada yang menemukannya persis sama dengan rasi bintang, ada yang menemukan jarak di antara para gembala sama dengan jarak antara keempat planet. Semakin dicari tafsiran tersebut semakin menggelikan.

Saya pernah mengikuti seminar Bedah Seni Baroque yang dibawakan oleh Billy Kristanto, seorang yang memang menekuni seni klasik terutama seni baroque. Beliau mengatakan bahwa memang ada pola geometri di dalam lukisan The Shepherds of Arcadia, dan ada pola-pola geometri serupa di dalam lukisannya yang lain, dan ada pola geometri pada beberapa lukisan baroque oleh pelukis lainnya. Lukisan ini sebenarnya menceritakan tentang keberadaan kematian (dilambangkan oleh kubur batu) di Arcadia, tanah yang penuh kesempurnaan, dan bagaimana terkejutnya para gembala yang menemukannya (Et in Arcadia Ego atau even in Arcadia I exist) Sebagai penikmat seni, dia tidak melihat hal ini sebagai kode tersembunyi melainkan cara sang pelukis untuk menghasilkan karyanya.

Berikut adalah beberapa lukisan baroque yang memiliki unsur geometri di dalamnya.
Photobucket
(kiri: The Holy Family in Steps oleh Nicolas Poussin | kanan: Saint Anthony and Saint Paul in the Desert oleh David Teniers de Younger)

Photobucket

(kiri: Art of Painting oleh Johannes Vermeer | kanan: Storm on the Sea of Galilee oleh Rembrandt van Rijn)

Referensi:
en.wikipedia.org/wiki/Nicolas_Poussin
en.wikipedia.org/wiki/Nicolas_Poussin
www.lindahall.org
www.andrewgough.co.uk/geometry.html
www.collegetermpapers.com/TermPapers/History_Other/Nicolas_Poussin.html
admirersofbaroqueart.blogspot.com/2007/06/grail-geometry-and-baroque-painting-is.html
locicero.net/teachrembrandt/lesson_plans_htm/storm_on_sea_of_galilee.html
www.essentialvermeer.com/catalogue/art_of_painting.html

Ambigram: Seni Membolak-Balik Geometri

Filed under: Uncategorized — cherinalr @ 14:54

Berasal dari awalan dalam bahasa Latin “ambi—“ yang berarti ambigu atau rancu, dan akar kata Yunani “—gram” yang berarti model tulisan, ambigram adalah desain tipografi yang dapat dibaca dari lebih dari satu arah. Pada perkembangannya, ambigram juga disebut dengan berbagai nama lain, seperti vertical palindromes (1965), designatures (1979), inversions (1980), dan flipdcript (2008), juga terdiri dari beberapa jenis[1], yaitu mirror image, figure ground, chain, space filling, spinonym, fractal, 3-dimensional, perceptual shift, natural, symbiotogram, multilingual, dan rotational. Jenis terakhir adalah contoh yang paling banyak ditemukan, yaitu penulisan yang bila dirotasikan sebesar sudut tertentu, masih bisa dibaca dan tetap memiliki makna, seperti pada novel “Angels and Demons” karangan Dan Brown yang membuat sebagian besar generasi sekarang tertarik mempelajarinya.

Image

Berikut adalah langkah-langkah yang saya coba untuk membuat ambigram yang gampang-gampang susah.

  1. Tulis kata yang diinginkan secara berlawanan arah 180° atas bawah. Sebaiknya kita menuliskannya dalam beberapa penyajian: dengan huruf kapital semua, non kapital semua, huruf sambung, dan campuran. Hal ini agar kita mendapat berbagai kemungkinan untuk mengkombinasikan dua huruf yang berbeda. Di sini saya menggunakan nama sendiri. Image
  2. Utak-atik huruf yang saling berhadapan agar jika diputar tetap terbaca dengan makna yang sama. Saya mencoba dua versi, satu dengan huruf kapital semua, satu lagi non kapital.
  • Huruf c dan a cukup mudah disinkronisasikan, yaitu hanya dengan menambahkan bulatan pada bagian ujung kanan atas huruf c karena bentuknya sudah sama-sama melengkung. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita mengatur peletakkan, perbandingan, dan kelengkungannya agar huruf c baru yang tercipta tidak menyerupai huruf e.  Image
  • Namun, ketika dalam bentuk kapital, saya mencoba mengasosiasikannya dalam bentuk segitiga, dan mengubah-ubah posisi dan kemiringannya agar bisa menunjukkan keduanya dengan jelas.
  • Image
  • Huruf h dan n hanya berbeda pada ketinggian garis tegak lurus di kirinya, tetapi ternyata sangat sulit untuk tetap mempertahankan keduanya dalam bentuk non kapital, sehingga saya menambahkan lekuk tambahan pada h, tetapi saat diputar 180° ia menjadi huruf N yang dibalik dengan garis tegak lurus lebih panjang di sisi kanan. Dengan huruf kapital, saya menyesuaikan kemiringan garis mendatar di tengah kedua huruf tersebut. Dari gambar di bawah ini akan terlihat perubahan persepsi huruf yang terjadi dengan menggeser garis di tengah keduanya.
  • Huruf e dan i dipadukan dengan membuat e menjadi lebih kurus dan menambahkan titik di bawahnya, karena esensi i adalah garis lurus dan titik di atas. Sedangkan dalam kapital, garis tegak lurus E dipindahkan ke tengah, dan menghilangkan setengah dari garis mendatar di tengahnya sehingga tampak seperti I yang sedikit tercoret.
  • Karena nama saya terdiri dari huruf berjumlah ganjil, maka r tidak berhadapan dengan huruf lain, sehingga proses penggabungannya hanya dengan saling tindih keduanya. Sedangkan untuk kapital, R dibuat menyerupai S terbalik atau Z yang melengkung, dengan garis lurus di bagian tengah kirinya.
Hasilnya:
Sebenarnya, ada juga generator online[2] untuk mengubah tulisan menjadi ambigram, dan inilah hasilnya untuk nama saya:
ImageImage
ImageImage
Menurut saya, dengan mempelajari geometri pada ambigram dapat dijadikan salah satu dari sekian banyak pendekatan dalam perancangan arsitektur. Pada proses pembalikan kata-kata tersebut, antara lain dari langkah nomor 2, saya belajar mengenali karakteristik setiap huruf dan mencari kesamaan bentuk dari huruf-huruf agar bisa dikombinasikan, juga bagaimana mengakalinya agar terlihat menyatu. Sama halnya ketika saya perlu memfenomenologikan sesuatu untuk mendapatkan hal-hal paling esensial yang dibutuhkan sebagai solusi desain. Lalu, ketika saya menambahkan, mengurangi atau menggeser suatu bagian dari huruf, di saat bersamaan saya juga membayangkan bagaimana keseluruhannya akan terlihat dari sisi lain agar pesan yang saya maksud dapat terbaca. Begitu pula bagaimana kita mengkomposisikan bentuk dan tampilan pada bangunan agar menstimulasi manusia untuk mengalami dan memaknai ruang dengan cara, pandangan, atau orientasi yang berbeda.
Sumber:
[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Ambigram
[2] http://www.flipscript.com/ambigram-generator.aspx dan http://ambigram.matic.com/

Linier atau Zig-Zag?

Filed under: Uncategorized — taniamanaf @ 11:06

Semasa SMA, beberapa teman saya tertarik untuk mengikuti seleksi Paskibraka tingkat kota. Saya sering menemani mereka berlatih dan mengamati mereka dari pinggir lapangan. Salah satu hal yang menarik adalah tes berlari zig-zag.

Saat itu, terdapat beberapa marka jalan dengan warna oranyenya. Marka jalan itu disusun dengan jarak hampir satu meter antar tiap markanya. Dan mereka harus berlari dengan pola selang seling atau berlari zig-zag.

Dari tiga orang yang berlatih, saya ingat satu orang teman saya kesulitan. Jadi terkadang dia melewati markanya begitu saja. Dan dua orang teman saya yang lainnya menjadi lebih lambat saat berlari zig-zag.

Saat itu saya iseng bertanya,”Memangnya buat apa ada tes seperti itu?” Secara sederhana teman saya menjelaskan kalau ketika lari zig-zag tingkat kesulitannya lebih tinggi. Dia harus melakukan dua hal sekaligus, yaitu berlari dan berpikir. Sehingga secara otomatis juga dibutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi dalam melakukan lari zig-zag tersebut dibandingkan ketika dia berlari lurus ke depan.

Lalu, saya pun mempertanyakan,”Mengapa manusia berjalan lurus ke depan dan bukan zig-zag?” “Apakah itu merupakan sebuah hal yang akhirnya menjadi zona nyaman kita?”

Saya sempat berspekulasi. Dikatakan dalam teori matematika bahwa garis lurus (linier) didefinisikan sebagai jarak terdekat antara dua titik. Sehingga, bila rintangannya dibuat zig-zag maka jarak tempuhnya akan semakin jauh sehingga sama saja dengan mempersulit diri sendiri.

Namun, apakah ada penjelasan yang lebih singkat daripada soal jarak saja?

Dalam teori evolusi, tahap sebelum menjadi manusia adalah tahap simpanse. Simpanse ini sendiri sudah sama dengan manusia di mana simpanse merupakan organisme bipedal yang berjalan tegak dengan dua kaki sebagai tumpuan.

Dr. Brian Richmond dari College Columbus George Washington University mengadakan penelitian terkait dengan hal ini. Penelitian tersebut terdiri dari tiga tahap. Pada tahap pertama disediakan sejumlah makanan bagi sekumpulan simpanse. Namun, pada tahap berikutnya makanan yang disediakan terus dikurangi sehingga tingkat persaingan lebih tinggi.

Pemilihan simpanse sebagai subjek didasari atas pertimbangan refleks dari simpanse itu sendiri. Dengan pengkondisian seperti itu, lebih mudah menilai refleks dan naluri hewan. Pada manusia, banyak sekali variabel yang akan menjadikan penelitian tersebut menjadi lebih kompleks. Misalnya saja sikap kurang kooperatif, rasa malas, dan juga terutama karena manusia sudah memiliki akal pikiran yang lebih ketimbang simpanse.

Pada saat suplai makanan lebih banyak simpanse-simpanse tersebut belum berjalan benar-benar lurus masih terkadang serong bahkan juga zig-zag saat sudah mengambil suplai makanan yang diberikan. Namun, saat suplai makanan dikurangi, terutama di tahap ketiga, perilaku mereka berubah.

Pertama, mereka berebutan makanan dan berusaha mengambil makanan lebih banyak. Setelah itu, mereka yang membawa makanan lebih banyak langsung berjalan lurus (upright) menuju pohon naungan mereka dengan membawa banyak makanan di tangan mereka.

Pada saat berjalanan, manusia menggeser seluruh berat badannya dari satu kaki ke kaki lainnya secara bergantian. Dalam keadaan berjalan normal (lurus), kedua kaki berada di tanah hanya 25% dari waktu keseluruhan. Sehingga, sebagian besar dari waktu kita digunakan untuk menyeimbangkan tubuh kita pada satu kaki ketika berjalan.

Guna menyeimbangkan badan, berat badan manusia harus tertumpu secara stabil di atas pinggul. Ada tiga hal yang bisa dilakukan manusia dalam menjaga kestabilan tubuhnya saat berjalan. Di antaranya adalah :

  1. Menjaga agar kepala berada di garis tengah tubuh
  2. Menjaga berat tubuh atas pada pinggul
  3. Menjaga kaki tetap stabil untuk menopang berat tubuh

Berikut ini ada penjelasan mendetail mengenai struktur tubuh manusia itu sendiri.

Kepala

Pada tubuh manusia terdapat foramen magunum di bawah tengkorak. Bagian ini lah yang signifikan dalam menyeimbangkan kepala dan menjaganya tetap tegak.

Rusuk

Beberapa lengkungan pada rusuk berfungsi untuk menjaga keseimbangan. Pada manusia, terdapat lengkung lumbar tambahan di atas pinggul yang berfungsi untuk menarik tubuh atas kembali ke atas pinggul saat membungkuk, berat mereka menarik mereka maju.

Pinggul

Bilah iliac manusia di dalam pinggul, berpuntir ke dalam untuk mendukung organ dalam saat manusia tegak. Puntiran itu membuat otot gluteal dapat menyeimbangkan badan saat pejalan berdiri pada satu kaki dengan menariknya melawan gravitasi.

Paha

Tulang paha manusia membentuk sudut ke dalam. Sudut tulang paha mengarah ke dalam sehingga berat tubuh ditopang oleh garis tengah tubuh. Hal ini membuat berjalan lebih efisien karena manusia tidak memutar tubuh sisi demi sisi pada tiap langkah. Tulang paha manusia juga panjang, meningkatkan panjang langkah agar berjalan lebih efisien.

Lutut

Sendi lutut tersusun dari beberapa tulang: tulang paha, tibia, dan patella. Manusia memerlukan lutut yang stabil saat berjalan. Bagian atas tibia lebih datar pada manusia untuk mengurangi rotasi lutut. Kedataran dapat pula dilihat pada dasar tulang paha.

Kaki

Pada manusia, ibu jari membesar dan sejajar dengan jari kaki lainnya, membantu keseimbangan. Kaki manusia memiliki dua lengkungan: lengkung transversal menyebarkan berat tubuh pada tapak kaki saat berdiri dan berjalan. Lengkung longitudinal (tumit ke kaki) menyebarkan berat tubuh, menyerap hentakan, dan mendorong berat untuk maju.

Pada saat berjalan lurus badan kita senantiasa mengacu pada posisi di atas sehingga membuat fungsi dari tulang-tulang tersebut menjadi lebih stabil. Sehingga, kaki manusia pun lebih stabil dalam menopang berat badan. Hal itu sebenarnya membuat berjalan atau berlari lurus lebih stabil dan dirasa nyaman untuk badan.

Saat berlari zig-zag badan terus meneruskan menyesuaikan diri untuk menyeimbangkan beratnya. Karena topangan massa sifatnya tidak stabil. Terkadang terlalu ke kiri, kadang juga terlalu ke kanan.

Di samping itu, berjalan atau berlari lurus tentunya membuat efesiensi jarak tempuh juga. Sehinggga itulah mengapa mungkin manusia memiliki kecenderungan untuk berjalan atau berlari (mengambil jarak tempuh) secara linier.

Sumber

esai uts

geometri dan arsitektur

tania miranti/0906640425

Interpretasi Kita terhadap Suatu Objek, Order atau Disorder, Teratur atau Tidak, Tergantung Sudut Pandang yang Kita Pilih

Filed under: Uncategorized — nickyputra @ 10:36

“The geometric order is represented by ideal mathematical forms (in 2D: e.g. line,circle, quarter, or 3D: e.g. plane, sphere, cube) and ideal relationships (e.g. perpendicularly,parallelism, symmetry, rhythm/regularity). Chaos is the opposite of geometric order; it is represented by forms and relationships that are complex and dificult to describe with the language of classic mathematics.”<Pawel Rubinowicz, 2000>

Dalam interpretasi saya, sederhananya Pawel Rubinowicz berpendapat bahwa geometric order direpresentasikan dengan bentuk-bentuk matematika yang rulesnya jelas, contohnya bulat, persegi, segita, prisma, dan lain-lain, sebaliknya geometric disorder (‘chaos’ saya interpretasikan sebagai ‘disorder’) direpresentasikan dengan bentuk yang kompleks dan sulit untuk untuk digambarkan.

Dari definisi tersebut saya mengartikan dalam artian yang lebih sederhana lagi, bahwa order itu teratur, sedangkan disorder itu tidak teratur. Dan tentu Geometric order atau disorder bisa menjadi tools untuk menganalisis suatu objek yang sudah ada.

Dengan melihat bentuk suatu objek, kita bisa menilai apakah objek tersebut berupa objek yang teratur atau tidak, dari pola (rules) yang terlihat, kita bisa menilai objek tersebut berupa geometri yang order atau disorder. Namun, Apakah penilaian yang dihasilkan harus berupa salah satu diantara itu, order atau disorder?

Bagaimana apabila sudut pandang kita dalam melihat suatu objek diubah? Apakah pola yang dihasilkan tetap sama?

Berikut contoh suatu objek yang saya analisis. Sebuah peta dari sepotong kawasan di Barcelona, spanyol

Image

 

Gambar di-trace dengan garis merah untuk melihat poal apa yang ada pada objek tersebut. Garis ini mengikuti outline dari jalan raya dan outline blok-blok bangunan yang berdiri di sana. Lalu, garis yang dihasilkan tersebut kita ambil, untuk dilihat pola apa yang terjadi.

Image

Image

Pola yang dihasilkan berupa grid, meskipun tidak 100% grid, kita tahu bahwa pola grid merupakan bentuk yang teratur dan rules-nya jelas, namun apakah objek tersebut merupakan objek dengan geometric order. Bagaimana kalau sudut pandangnya diubah. Pola yang dilihat bukan pola outline-outline jalan, melainkan komponen-komponen yang ada di dalam blok bangunan-bangunan tersebut. Berikut hasil tracing yang saya lakukan

 Image

 Image

Jika diambil pola garis yang dihasilkan dari tracing objek, maka yang dihasilkan bukanlah pola-pola yang jelas rules, dalam artian pola garis membentuk geometric disorder.

Jadi, objek diobjek diatas memiliki pola geometric order atau geometric disorder?

Berikut contoh objek lain yang dianalisis yang menghasilkan dua jenis geometric, order dan disorder.Image

Objek diatas adalah tampak suatu bangunan rumah susun, untuk menentuka apakah objek tersebut geometric order atau disorder, saya men-tracing garis-garis yang terbentuk dari jendela-jendela dan ornamen di bagian atap.

Image

Hasil yang didapat ternyata, garis-garis kotak-kotak yang rapih dan teratur, maka bisa dikatakan objek tersebut ber-geometric order.

 Image

Namun bagaimana apabila kita men-tracing semua garis yang terbentuk dari komponen-komponen pembangun objek, termasuk pakaian yang sedang dijemur, motif pada dinding, dan pohon di bagian bawah gedung.

 Image

Terlihat bahwa pola yang terbentuk sangat kompleks dan tidak teratur, dalam hal ini bisa dibentuk pola yang terbentuk berupa geometric diosder.

 Image

Dari kedua analisis objek diatas, ternyata menghasilkan 2 pola geometri yang berbeda. Kedua pola geometri tersebut didapat dari 2 sudut pandang yang berbeda.

Analisis ini bukan hanya sekadar penilaian tanpa makna semata, pola order atau disorder punya dampak yang berbeda. Apabila dikaitkan dengan perancangan, tentu si perancang suatu objek, kota misalnya, punya alasan tertentu membuat bentuk/ pola rancangannya berupa order atau disorder. Namun, apabila ternyata ketika sudut pandang dalam melihat rancangannya diubah dan hasilnya malah pola geometri yang dihasilkan berbeda, tentu akan ada masalah yang timbul, karena order atau disorder punya tujuan yang berbeda, seperti yang dikatakan Le Corbusier dan Mies Van de Rohe, Order ditujukan untuk menghindari chaotic.

 

Referensi:

Rubinowicz, P. (2000). Chaos and Geometric Order in Architecture , 1.

Interior pada Rumah Tinggal Spongebob Squarepants

Filed under: Uncategorized — arumst @ 10:16

Karakter Spongebob Squarepants sudah bukan merupakan hal yang asing lagi didengar, karena kepopulerannya di media massa. Sesuai dengan warna kulit yang ia miliki, Spongebob Squarepants memiliki rumah yang juga berwarna kuning dengan bentuk nanas. Dari depan, rumah nanas ini terlihat memiliki satu pintu masuk dengan dua jendela, pada bagian kiri atas dan kanan bawah, serta cerobong asap di bagian kanan atas.

Banyak dari penonton setia Spongebob menyadari bahwa rumah yang memiliki bentuk dasar berupa nanas seharusnya memiliki denah dengan garis terluar berbentuk bulat. Namun, pada nyatanya, interior rumah Spongebob memiliki bentuk dasar yang bersegi dan bersudut, yang di dalamnya terdapat banyak ruangan-ruangan kecil. Terdiri dari dua lantai, rumah ini memiliki lantai dasar yang terdiri dari living room, dapur, perpustakaan, kantor, kamar mandi, dan garasi. Sementara lantai atas merupakan kamar tidur.
Pada episode Pineapple Fever, diceritakan bahwa Spongebob, Patrick, dan Squidward menginap bersama di rumah Spongebob. Dan pada episode ini, tampak bahwa terdapat beberapa spot di dalam rumah Spongebob yang memiliki sudut dan dinding yang memisahkan ruang-ruang interior.

Pada gambar di atas, tampak bahwa pada sisi bagian kanan di pintu masuk memiliki sudut, namun apabila dilihat dari luar, rumah ini berbentuk melingkar di bagian depannya. Pada bagian living room di rumah ini juga terdapat sudut-sudut pada ruangan, serta pintu-pintu yang mengarah ke ruangan lainnya. Pada episode ini, tampak bahwa Squidward berlari-lari di sepanjang living room,namun tidak terdapat tanda-tanda ruangan memiliki sudut dan batas yang jelas. Namun, apabila dilihat dengan sudut pandang yang lain pada episode yang sama, karakter-karakter dalam film berputar-putar di ruang yang sama.

Dari hal ini, tampak bahwa sinematografi pada film Spongebob Squarepants mampu mengubah sudut pandang kita terkait dengan interior menjadi berbeda. Bentuk-bentuk geometri pada film (khususnya film kartun) dapat mengubah persepsi terkait dengan ruang interior, di mana pada bahasan ini rumah Spongebob yang secara logika seharusnya memiliki bentuk yang bulat, namun pada interiornya memiliki bentuk-bentuk yang dapat dieksplor tanpa batasan.

 

Sumber:

http://en.spongepedia.org/index.php?title=SpongeBob%27s_House

http://spongebob.wikia.com/wiki/Pineapple_Fever

Laba-laba

Filed under: Uncategorized — andiwibowo128 @ 09:28

ImageImage

Laba-laba, terkenal dengan binatang yang dapat membuat jaringnya dengan sangat baik yang digunakan sebagai tempat mereka bertelur dan juga menunggu mangsa yang terperangkap di jaringnya tersebut. Kenapa dan bagaimana proses pembentukan sarangnya tersebut sehingga dapat terbentuk seperti itu dan bagaimana dibalik keindahan bentuk sarangnya dapat memperlihatkan kekuatannya.

Jaring laba-laba merupakan salah satu keindahan yang mematikan, keindahannya tersebut berada pada susunan-susunan jaring  yang membentuk perangkap raksasa.

Laba-laba membuat benang utama sebagai langkah awal pembentukan jaringnya tersebut. Lalu mereka mulai membuat jari-jari yang melebar kesegala arah seperti membuat jari-jari lingkaran. Lalu mulai membuat sambungan kecil yang memutari jari-jari tersebut sehingga menyatukan masing-masing jari sehingga menjadi satu kesatuan.

Image

Image

Image

Image

Hal pertama laba-laba membuat jaring seperti itu supaya pada saat mangsa masuk kedalam jaring, semua jaring nya tersebut dapat menyalurkan gaya secara merata yang dihasilkan dari perlawanan mangsa nya tersebut untuk melepaskan diri, dan juga laba-laba membuat jaring tersebut berongga-rongga selain untuk mengelabui mata mangsanya, juga untuk mempertahankan jaringnya dari hembusan angin yang ada disekitarnya, sehingga pada saat angin melewati jaring tersebut, angin hanya melewati sela-sela yang ada.

Untuk itu hewan telah menyesuaikan berbagai sarang mereka dengan baik dan dapat beradaptasi dengan alam sekitar, seperti contoh lainnya sarang semut, sarang rayap, dan juga sarang burung. Mereka semua dapat membuat sarangnya tersebut dengan menyesuaikan alam sekitar dimana itu dapat mempertahankan sarang yang telah mereka buat sebagai rumah mereka.

referensi

http://www.spiderzrule.com/spiderweb.htm

http://ednieuw.home.xs4all.nl/Spiders/Info/Construction_of_a_web.html

http://www.conservation.unibas.ch/team/zschokke/spidergallery.php

Efek Kejutan pada Musik

Filed under: Uncategorized — rizqierpriatna @ 08:32
Tags:

                Semua orang yang bisa mendengar tentulah memiliki sebuah lagu yang disukai dan biasanya juga lagu tersebut memiliki suatu karakter yang unik ataupun terjadi pada suatu momen yang istimewa sehingga lagu tersebut seringkali diputar berulang kali oleh si pendengar karena lagu tersebut membangkitkan kembali hal yang pernah terjadi pada masa tersebut. Hal yang melekat di ingatan ini terjadi karena adanya elemen kejutan yang ada pada lagu tersebut. Efek mengejutkan tersebut biasa dikenal dengan nama Appogiatura.

Istilah Appoggiatura dikenal dalam buku teks musik sebagai ornamen yang disematkan pada lagu, sehingga membuat pelencengan nada atau dikenal sebagai disonansi. Sebagai dekorasi, appoggiatura direalisasikan sebagai not yang beberapa tingkat lebih tinggi atau lebih rendah ketimbang not sebelumnya. Kehadiran elemen ekstra inilah yang mengacaukan harmoni lagu.

                Penelitian oleh Robert Zattory dari McGill University menyebutkan musik yang mengguncang emosi membuat tubuh melepaskan dopamine dari otak tengah. Substrat ini juga dilepaskan ketika manusia mengkonsumsi makanan, atau mengkonsumsi narkoba. Karena itu, menurut Zattory, semakin menyedihkan sebuah lagu, semakin sering pendengar mengulangnya.

Image

                Beberapa lagu yang kemudian dibawakan oleh orang” diatas ini berhasil menggunakan elemen appogiatura secara baik sehingga kemudian lagu yang mereka bawakan didengar oleh banyak orang karena lagu itu seperti yang dikatakan oleh Robert Zattory menghasilkan suatu efek dopamine.Image

                Kita juga  tentu pernah mendengar suatu hal yang dinamakan timeless building karena efek tertentu yang dihasilkan oleh suatu bangunan atau tempat tertentu yang membuat kita ingin datang lagi dan lagi ke tempat tersebut. Apakah hal tersebut mungkin dihasilkan oleh appogiatura yang secara tidak sadar terbentuk oleh tempat tersebut atau sebenarnya memang tempat tersebut memiliki suatu kenangan yang khas sehingga kita ingin mendatangi tempat tersebut lagi dan lagi?

               Image

Mungkin secara sadar ataupun tidak sadar para arsitek telah menemukan suatu elemen appogiatura pada bangunan sehingga kemudian efek timeless bisa muncul pada bangunan tersebut dan yang bisa kita lakukan mungkin kita dapat mencoba untuk mencari pattern appogiatura yang seperti apa yang kemudian ada pada bangunan yang timeless tersebut dan kita bisa mencoba untuk mendesain berdasarkan elemen appogiatura tersebut untuk mendapatkan sebuah kesan yang timeless.

 

Zippo Lighter dan Golden Section

Filed under: Uncategorized — mahardikaandi @ 07:57

Zippo adalah salah satu produk korek api yang masih bertahan sampai saat ini sejak didirikan tahun 1932 oleh George G. Blaisdell. Saya sendiri merupakan salah satu penggemar zippo. Ketika sekitar 3 minggu yang lalu mendapat materi tentang golden section, zippo menjadi salah satu objek yang terpikir untuk saya cari hubungannya dengan golden section.

Zippo pada dasarnya terdiri dari 2 bagian yaitu bagian luar, yang terkadang disebut casing atau body zippo dan bagian insert zippo. Saat saya cobe ukur perbandingan antara jarak bottom stamp zippo sampai engsel  dengan jarak total tinggi zippo, perbandingannya adalah perbandingan golden section.

Tapi yang menarik bukanlah hanya tahu bahwa ada golden section dalam zippo. Lebih menarik untuk menyadari bahwa munkin itu yang menjadi alasan mengapa zippo menjadi begitu menarik untuk dilihat dan dimiliki, satu alasan yang membuatnya tetap bertahan selama delapan dekade. Perbandingan panjang badan zippo dan tubuh zippo menjadikannya nyaman untuk dipakai, sehingga muncul beberapa trik untuk menyalakan zippo. Desain yang ada pada zippo tidak hanya sebagai unsur estetis, tetapi juga memberi kenyamanan bagi penggunanya.

Saya sendiri tidak menemukan literatur yang menjelaskan apakah Blaisdell mendesain zippo memang berdasarkan golden section atau tidak. Namun, bagaimanapun juga dengan desain ini Zippo lebih sukses dan diterima sampi saat ini, bahkan ketika ronson (salah satu produk korek yang ada sebelum zippo) telah kehilangan taringnya.

Video Zippo: http://www.youtube.com/watch?v=ZOHwjDzUDnE

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Zippo

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3243596

Geometri pada Gulali Tradisional.

Filed under: Uncategorized — triaamalia @ 07:56

Kita pasti sudah jarang melihat makanan ini ditengah ibu kota. Gulali merupakan makanan tradisinonal  terdiri dari bahan-bahan gula dan pewarna alami. Tetapi tanpa disadari saat kita masih kecil (atau bahkan sudah besar) senang sekali melihat pembuatan gulali yang secara langsung menggunakan tangan penjualnya. Yang terlitas adalah bagaimana penjual  membentuk makanan ini dari satu tarikan adonan kemudian disulap menjadi bentuk-bentuk lucu. Ada beberapa metode yang digunakan penjual yang saya tangkap menggunakan bentuk-bentuk geometri.

pedagang gulali dengan aneka macam bentuk gulali

Untuk membuat satu gulali berbentuk bunga, pertama-tama pedagang mengambil adonan dasar sebagai bentuk utama dari bunga tersebut. Kemudian adonan yang berbentuk benang panjang dibentuk dengan cara dililitkan pada lidi sehingga membentuk radial. Kemudian dari bentuk radial ini mulai di tarik beberapa sisi untuk membentuk kelopak bunga dari beberapa bagian adonan radial tersebut. Adonan dibentuk pipih menyerupai bentuk fraktal kelopak bunga dengan menyisakan adonan untuk kuncup bunga tersebut. Ketika sudah terbentuk bunga dasar, dapat ditambahkan adonan dengan warna lain sebagai daun dari bunga tersebut. Caranyapun sama, mengambil adonan seperti benang namun lebih pendek, kemudian dililit pada lidi kemudian dipipihkan membentuk dedaunan.

gulali tradisional berbentuk bunga

 

Selain bunga yang dipipihkan, dapat pula kita temukan bentuk naga dan burung yang dapat bersiul ketika ditutup. Pembuatan gulali ini tentunya lebih sulit dengan teknik tertentu. Untuk bentukan ini langkah awalnya sama, mengambil adonan seperti benah, dipipihkan dengan tangan membentuk badan dari burung tersebut, namun pada bagian buntuk ditarik kebelakang kemudian diberi lubang. Pada lubang ini kemudian ditiup agar udara dapat masuk dan membuat burung berisi, ada ruang didalam gulali tersebut untuk keluarnya udara sehingga ketika ditiup dapat berbunyi seperti peluit.

gulali berbentuk burung

menurut saya proses pembuatan gulali ini merupakan suatu seni yang menarik dimana dibutuhkannya ketekunan dari penjualnya untuk membuat bentukan-bentukan tersebut. Bentukannya sendiri dapat diambil dari alam kemudian diinterpretasikan dalam bentuk gulali dengan presepsi pedagang tersebut, tentunya dapat diterima penggamarnya anak-anak. Lalu cara pembentukan gulali ini sendiri bermulai dari adonan yang panjang kemudian dililitkan kelidi dan mulai dipipihkan, ditiup, diberi ukiran, adonan lain untuk penambahan karakter, sebenarnya merupakan suatu proses desain yang dilakukan pedagang untuk menghasilkan sebuah karya.Kita dapat mempelajari metode pembentukan karya ini secara menyenangkan dari pedagang gulali, tentunya secara vernakular, yang perlu dipertanyakan adalah masihkah kita memperhatikan sekitar kita yang sudah mulai langka dengan produk dalam negeri seperti gulali tradisional ini? Dengan pembelajaran yang menyenangkan ini dari pak penjual gulali ini dapat membantu kita untuk mengenal lebih jauh mengenai karya anak bangsa sekaligus pembelajaran bentuk-bentuk geometri.

 

sumber :

http://fotokita.net/foto/541291033514_5081968/gulali-naga-dan-pembuatnya

http://forum.vivanews.com/image-only/216861-gulali-dengan-bentuk-bentuk-yang-sangat-unik.html

http://www.i-dus.com/2011/03/kompilasi-makanan-sunda-asing-goelali.html

http://vivi-rabiatul.blogspot.com/

http://tobucilhandmade.blogspot.com/2012/03/manisnya-gulali-yang-kian-langka.html

SPATIAL VISUAL 3D

Filed under: Uncategorized — anggaaditianto @ 06:36

Bermacam-macam pengalaman ruang dapat dirasakan. Tentunya sebagian besar dilakukan secara langsung.Namun bagaimana jika ada pengalaman ruang secara tak langsung tapi berusaha berwujud nyata tanpa perlu mengunjungi ruang yang bersangkutan? Jawabannya ialah teknologi visual 3D (tiga dimensi).Tulisan berikut berusaha mengungkap perkembangan teknologi visualisasi 3D sebagai pengalaman spatial dan perkembangan media untuk melihat atau menerjemahkan visual tersebut supaya dapat tertangkap mata berupa kacamata.

Teknologi Anaglyph ialah dasar dan awal dari penemuan visual 3D serta metode yang umum dipakai. Pada sistem ini dua gambar saling diproyeksikan melalui dua filter yakni berwarna merah dan biru cyan.Kemudian penonton menangkap gambar 3D tersebut dengan mengguanakn kacamata (yang biasanya berbahan karton berlensa mika) berwarna merah di kiri dan biru cyan di kanan. Alhasil, sesudah menonton menggunakan kacamata ini rasa pusing dalam kepala akibat menangkap visual secara tak lazim tersebut. Kekurangan lainnya kacamata ini takdapat digunakan oleh orang yang hanya memiliki sebelah indera mata.

Memanfaatkan teknologi 3D sudah tentu berpengaruh pada jalan cerita sebuah film. Bukan hanya terdiri atas dialog- dialog sederhana saja. Biasanya teknologi ini erat hubungannya dengan film action, sci-fi, dan genre lainnya menggunakan visual efek yang dahsyat. Pada awal masa kejayaan visual 3D in, aplikasinya pada film seringkali menggunakan adegan demi adegan berlebihan seolah ingin menunjukkan film sebagai ruang yang mampu berinteraksi dengan penonton walaupun satu arah. Kendati demikian teknologi ini sempat redup karena kekurangan di berbagai aspek.

Perkembangan teknologi visual 3D pun kian berkembang dengan Sistem Polarisasi. Untuk menghasilkannya, terdapat dua gambar yang saling diproyeksikan ke layar yang sama melalui polarizing filter dan perspektif yang berbeda beberapa derajat. Material terbaik yang dipakai untuk layarnya ialah sejenis lembaran metal, selain itu kualitas proyeksi menurun. Penonton dapat menikmati versi 3D-nya tetap melalui kacamata yag memiliki sistem polarizing filter juga, hanya saja orientasinya berbeda sehingga proyeksi terbalik dari layar ke kacamata pada akhirnya mampu ditangkap oleh mata dengan baik. Kacamata yang berkembang dan banyak dipakai hingga saat ini ialah RealD Circular Polarized glasses. Kacamata ini punya keunggulan yang lebh handal dari predesornya. Jika pada kacamata sebelumnya posisi kepala dan mata harus benar- benar menghadap layar guna mencerap gambar 3D secara maksimal,tidak halnya dengan kacamata ini yang tetap menangkap gambar walaupun dengan posisi miring. Bentuk kacamata yang semakin relevan dengan umumnya semakin diterima masyarakat. Tidak sekedar kotak kaku apalagi berbahan karton, kacamata ini memiliki warna lensa yangsama di keduanya dan sudah seperti kacamata hitam sunglasses yang sangat populer. Teknologi ini sudah diterapkan di bioskop-bioskop dalam negeri.  Kelemahan pada teknologi ini ialah hasil gambar yang gelap jika menggunakan kacamata (karena lensa kacamata circular polarized gelap seperti kacamata hitam), solusinya ialah meningkatkan tingkat cahaya pada sumber proyektor. Teknologi tak berhenti sampai di situ, beragam  perkembangan mulai dari konversi format hingga teknologi 3D tanpa kacamata.

Tidak hanya teknologinya saja yang berkembang tetapi skenario dalam film dengan format 3D pun semakin kreatif. Jika di antara kita masih ada yang berpikir bahwa gerakan-gerakan hiperbola semacam melempar atau menyerang ke arah kamera (sudut pandang penonton), sebenarnya sudah jarang ditemukan. Penggunaan 3D kini digunakan secara lebih bijak dan dewasa seperti mengajak penonton lebih merasakan kedalaman ruang suatu set lokasi dengan apik dan detail. Serta menghadirkan suasana yang lebih realistis. Itulah mengapa pada awal teknologi ini masuk tidak ada subtitle atau  teks penerjemahan film yang bersangkutan mengingat hal tersebut akan sangat mengganggu prinsip,  turunnya citra dan kesan meruang kian meluntur.Spatial visual 3D sesungguhnya merupakan hal menarik yang dapat berkembang jauh lebih pesat dari saat ini. Tetapi batasan dan perbedaan bahwa kita tak dapat mengalami bentuk ruang secara nyata dengan gerakan dan sentuhan tetap menjadi border utama dari aktivitas meruang itu sendiri.

Internet reference:

http://en.wikipedia.org/wiki/3D_film

symmetry rules pada potongan pizza

Filed under: Uncategorized — annauswa @ 05:26

Apa yang terpikirkan pertama kali dalam benak anda ketika menginginkan dan mendengar kata pizza? Potongan pizza dan seloyang pizza berbentuk lingkaran dilapisi olehkeju yang meleleh dengan daging cincang, daging asap, sosis sebagai toppingnya? Berdasarkan survey yang dilakukan pada 10 koresponden, 8 orang diantaranya menjawab yang terlintas pertama kali mendengar kata pizza adalah potongan pizza, sedangkan 2 orang sisanya menjawab ukuran utuh pizza, lingkaran.

Jawaban yang dihasilkan dari survey mengacu pada bentuk dan potongan pizza yang memang biasa kita temui pada restoran umumnya. Bentuk seperti itu seolah – olah sudah terpampang dalam otak, yang akhirnya menutup kemungkinan adanya bentuk – bentuk lain. Kemudian yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah yang menjadi dasar dari bentuk pizza yang lingkaran beserta potongannya sehingga bentuk tersebut banyak digunakan dan lebih dikenal orang?

Bentuknya yang lingkaran berkaitan erat dengan sejarah dan penyebarannya dimana ide pizza sebagai sebuah roti berbentuk lingkaran tipis dengan tambahan topping yang berasal dari bangsa Yunani, kemudian akhir abad 18 di Naples, Italy, chef Rafaele Esposito mengembangan ide pizza bangsa Yunani dengan bentuk roti yang sama namun menggunakan toping yang baru seperti tomat, keju mozarella, dan daun kemangi. Pemilihan bentuk lingkaran dari awal ditemukan hingga saat ini adalah karena bentuknya yang simpel dan sesuai dengan alat yang digunakan. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk yang lain.

Berhubungan dengan bentuk potongan pizza yang disebutkan sebelumnya, apakah memotong pizza harus seperti itu? apa dasarnya?

Jenis potongan yang dihasilkan dari pizza berbentuk lingkaran ternyata berhubungan dengan kemudahan saat memakannya. Bentuknya yang lancip pada bagian tengah pizza yang penuh dengan toping dan melebar pada bagian pinggir pizza yang lebih tebal rotinya serta sedikitnya topping, memberikan kemudahan ketika menarik pinggiran pizza hingga memegangnya tanpa harus merusak topping serta mengotori tangan dan pizza dapat diambil dari semua sisi. Begitu juga dengan cara memakan pizza, 9 orang dari 10 koresponden lebih dulu memakan bagian lancip pada pizza kemudian dilanjutkan hingga kepinggirannya. Hal ini karena sebagian orang cenderung ingin menikmati bagian terlezat pizza lebih dulu dan menyesuaikan ukuran lebar mulut.

Tidak hanya itu, cara pemotongan pizza yang biasa digunakan ternyata simetri sehingga dihasilkan potongan yang sama – sama besar. Bersumber dari Oxford dictionary, symmetry is the quality of being made up of exactly similar parts facing each other or around an axis: this series has a line of symmetry through its centre. Symmetry is when one shape becomes exactly like another if you flip, slide or turn it.   Yang menjadi fokus disini yaitu pengertian  simetri sebagai sekumpulan garis yang melalui pusatnya kemudian menghasilkan bentuk baru yang sama besarnya. Apakah untuk menghasilkan bentuk baru dengan ukuran yang sama harus melalui pusatnya? pertanyaan ini bertentangan dengan pengertian simetri.

Gambar di atas mencoba membuktikan kemungkinan – kemungkinan bentuk yang dihasilkan dari potongan tanpa melalui titik pusat. Berikut kemungkinan yang terjadi:

Gambar 1: bagian berwarna merah (M) dan putih (P) mendapatkan bagian dengan sama besar dimana terdapat satu garis yang melewati titik pusat.

Gambar 2: M & P mendapatkan bagian yang sama besar juga dengan tidak ada satupun garis yang melewati titik pusat.

Gambar 3: P mendapatkan bagian yang lebih besar dari M, begitu juga yang terjadi dengan Gambar 4 dimana tidak terdapat satupun garis yang melalui titik pusat.

berdasarkan contoh yang ada, terjawab sudah pertanyaan di atas yang mencoba menentang pengertian simetri bahwa hanya dalam beberapa kasus saja pembagian potongan pizza sama rata jika pemotongan dilakukan tidak melalui titik pusat.

referensi:

Weekly World News 25 Agu 1998

The book of pizzas & Italian breads by Sarah Bush. 1996.

http://www.nerdnirvana.org/tag/geometry/

ada geometri di gerakan capoeria

Filed under: Uncategorized — mmaaiillhdyth @ 00:46

Capoeira adalah Afrika-Brasil tarian yang efektif memadukan seni tari dengan seni bela diri. Mengatur tubuh dalam gerakan yang terus-menerus, Capoeira adalah koreografi terselubung yang memperkenalkan berbagai teknik dan gerakan yang sangat baik.
Meskipun awalnya dimulai sebagai tarian ritual yang dilakukan oleh budak Afrika dalam mengungkapkan Brazilto pertahanan dan menyerang untuk mendapatkan kembali kebebasan, Capoeira segera berkembang menjadi seni bela diri. Gerakan Capoeira vital dalam permainan dan kekuatan mereka terletak pada fleksibilitas Capoeiristas dalam menggunakannya. Pemain harus mampu bergerak di sekeliling roda sambil bermain. di dalam capoeria jangan pernah untuk mencoba mengalahkan lawan bermain. karena lawan bermain kita adalah bukan musuh melainkan teman kita sendiri, dan kita harus menjaga permainan berjalan secara baik dan benar. ternyata di dalam berbagai gerakan-gerakan dasar capoeira tercipta berbagai bentuk geometri. tanpa disadari dari urutan-urutan gerakan dasar tersebut tercipta bentuk-bentuk geometri yang sudah kita kenal. untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan bebebrapa gerakan dasar dari capoeira.
Gerakan dasar Capoeira adalah sebagai berikut:

1. Ginga
Ginga adalah gerakan yang paling umum dari Capoeira. Berayun dari sisi ke sisi, pemain masuk ke dalam irama musik dan ia menyerang atau membela. Yang terus-menerus bergerak Capoeirista menghindar, feinting, menyerang dan menghindari.
Ginga menggunakan seluruh tubuh. Lengan yang diselaraskan sehingga tubuh tidak dalam keadaan menendang; batang tubuh yang terlibat untuk mendukung kaki sebagai pemain berdiri untuk menyerang atau membela; tubuh bagian atas bersandar sehingga untuk menghindari tendangan, tetapi juga ke depan sehingga dapat menemukan kesempatan untuk menyerang lawan. Semua gerakan harus sesuai dengan irama musik Capoeira yang dimainkan oleh instrumen perkusi tradisional, yaitu berimbau.
Untuk menguasai gerakan Ginga, kedua kaki harus dijaga selebar bahu dan kemudian satu kaki harus dibawa bolak-balik membentuk sebuah segitiga. Ada variasi kecil Ginga antara Angolaand Capoeira dan Capoeira Regional. Dalam Capoeira Angola, Ginga adalah kebebasan Capoeiristas bergerak dan dapat menggunakan gaya mereka yang unik. Sebaliknya, di Capoeira Regional, Ginga adalah bergerak dikendalikan hanya menyisakan sedikit ruang untuk bertindak spontan.

ginga sequence

learn basic ginga

2.  Au
Au adalah baik sebuah serangan dan pertahanan bergerak yang dapat menjadi fondasi dari beberapa kemungkinan kombinasi. Dalam bentuk dasarnya, lengan dan kaki membungkuk dan bagian belakang melengkung, sehingga tubuh membuat profil sasaran yang rendah dan pemain dapat menghasilkan manuver menendang. Dengan Au, Capoeiristas belajar untuk mengenali lingkungan mereka saat mereka menonton sebagian besar lawan mereka sehingga untuk menghindari ditendang dalam keadaan tubuh terbalik. Akibatnya, gerakan Au mengintegrasikan serangan dari meroda dan jika dilakukan dengan benar dapat meninggalkan lawan gemetar, tidak seimbang atau bahkan malu untuk melanjutkan. dalam gerakan ini di sebut juga gerakan meroda, dimana tubuh kita melakukan urutan gerakan membentuk setengah lingkaran. berawal dari berdiri lalu meletakkan kedua tangan ditanah, dan mengayunkan kaki ke arah atas.
Gerakan au muncul dalam variasi yang dikenal sebagai au batido, au aberto, au batendo, fechado dan au au sem mao.

ilustrasi gambar dari au

video_2361315_au-brazilian-capoeira-martial-arts.html

ternyata dari penjelasan-penjelasan di atas bahwa geometri ada dimana saja dan kapan saja. di dalam olah raga, maupun didalam seni beladiri. salah satunya adalah seni bela diri caopeira, dimana telah di jelaskan diatas bahwa di setiap gerakan-gerakan yang ada terdapat bentuk-bentuk geometri sehingga tercipta gerakan yang ideal dan sempurna dengan bertumpu dari bentuk geometri.

referensi:

http://www.mardb.com/capoeira-basics/

(article by Marc Heitler)

Golden Section Dalam Masa Keemasan Ferrari

Filed under: Uncategorized — rahmaitis @ 00:15

Cantik atau tampan itu relatif, begitupula dengan keindahan. Pendapat orang yang satu dengan yang lainnya sangat mungkin berbeda bergantung pada selera maupun budaya. Namun dengan golden section, keindahan tersebut dapatlah diukur, dan entah sudah direncanakan atau tidak, ternyata sebagian besar bangunan-bangunan yang dianggap indah oleh orang-orang memiliki golden section.

Karena kecintaan saya pada Formula Satu, jadi segala hal yang saya alami atau temui seringkali saya kait-kaitkan dengan formula one, begitupula dengan golden section ini. FIA (Federasi Otomotif Dunia) telah menerapkan aturan yang ketat terkait dengan bentuk mobil F1 (Formula Satu) mulai dari panjang mobil, panjang hidung mobil maupun sayap mobil, dan lain sebagainya sehingga sekilas mobil-mobil F1 terlihat sama.

Orang yang tidak begitu mengikuti atau tertarik dengan dunia otomotif kemungkinan besar akan menganggap bahwa mobil F1 milik Ferrari dari musim ke musim sama saja, padahal tiap musim selalu dilakukan pengembangan-pengembangan terhadap mobil bahkan Ferrari 2012 sama sekali berbeda dari Ferrari 2011.

Lalu apa yang ingin saya dapatkan dari ulasan ini? sebagai tim yang paling sukses di F1, maka saya mencoba mencari golden section pada evolusi-evolusi mobil Ferrari, mulai dari tahun 2000 hingga 2012. Sekedar informasi, pada tahun 2000 hingga 2004, Michael Schumacher meraih juara dunia 5 kali beruntun bersama dengan Ferrari.

Pada tahun 2005, gelar juara dunia direbut oleh Fernando Alonso dari tim Renault, lalu pada tahun 2007 gelar juara dunia kembali direbut oleh tim Ferrari bersama dengan pembalapnya, Kimi Raikkonen. Sejak saat itu (2007), Ferrari belum berhasil meraih gelar juara dunia kembali.

Nah, musim 2012 baru saja dimulai dan yang mengendarai Ferrari 2012 ini adalah Fernando Alonso yang pernah menghancurkan dominasi Ferrari pada 2005. Mungkinkah ada kesamaan pada mobil-mobil Ferrari yang meraih gelar juara dunia?

 

Ternyata, dari analisis terhadap 13 mobil ferrari, hanya ada satu mobil yang benar-benar memiliki golden section yaitu pada Ferrari 2002. Sedangkan, Ferrari pada tahun 2000, 2001, 2002, 2003, 2004, 2005 dan 2006 proporsi mobil nyaris mendekati golden section. Pada tahun selanjutnya proporsi mobil mulai menjauhi golden section terutama pada tahun 2007, 2008 dan 2009. Pada tahun 2010, 2011 dan 2012 pun sebenarnya masih belum ditemukan golden section, namun proporsi mobil mulai mendekati tahun-tahun keemasan 2000-2006. Pada awalnya saya mengira bahwa bentuk mobil pada tahun 2007-2009 yang seperti itu dikarenakan regulasi tentang panjang mobil dan sebagainya dari FIA, namun ketika saya mencoba melihat pada  mobil mclaren 2009, proporsi mobil mendekati golden section.

Mclaren 2009

Jadi, mungkinkah ini berarti golden section merupakan penanda dari masa keemasan Ferrari? Dimana pada masa keemasan Michael Schumacher (2000-2004, sedangkan 2005-2006 Ferrari mulai menurun namun tetap bersama dengan Michael Schumacher) proporsi Ferrari mendekati golden section, dan pada masa peralihan (2007-2009) proporsi mobil menjauhi golden section. Nah, pada 2010 hingga 2012 ini Ferrari masuk pada periode baru bersama dengan Fernando Alonso, dan proporsi mobil kembali mendekati golden section. Apakah ini pertanda bahwa Ferrari akan masuk ke dalam masa keemasannya kembali?

 

Foto-foto diperoleh dari:

http://www.hlj.com/product/S27FK20232C

http://articles.businessinsider.com/2012-02-03/news/31019969_1_formula-one-car-cooling-designs

http://edisukore.wordpress.com/

http://paddockinfo.blogspot.com/2011/09/ferrari-f2002.html

http://www.wallcoo.net/car/Ferrari_1920/images/2005-Ferrari-F2005_Ferrari_4016.jpg

http://4.bp.blogspot.com/-0YDgxtRYT_k/Tmet5mzpFWI/AAAAAAAAA7Q/60KKjg4vd-4/s1600/F2002+%2528WC+piloti+e+costruttori%2529.jpg

http://roadvehicle.blogspot.com/2011/08/2011-ferrari-150-italia.html

http://mantovani.zip.net/arch2009-01-01_2009-01-31.html

http://autoautomobiles.narod.ru/autoautomobiles/ferrari/ferrari-f2000.gif

 

Persepsi Manusia pada Bangun Ruang Tidak Sempurna

Filed under: Uncategorized — nadhilaadelina @ 00:10

Manusia seringkali mengasosiasikan sesuatu bentuk yang tidak mereka kenali dengan bentuk-bentuk dasar yang dapat mereka jelaskan. Sebagai contoh ketika kita melihat suatu bangunan yang memiliki bentuk yang cukup unik, kita akan mencoba mencari-cari bentuk sederhana yang dapat otak kita mengerti.

Bangunan di atas adalah gereja Saint Pierre de Firminy yang dirancang oleh Le Corbusier. Pertama melihat bangunan ini pasti yang terlintas di kepala kita adalah bangunan ini menyerupai kerucut atau limas. Padahal bentuknya jelas-jelas tidak seperti itu. Persepsi kita yang terbagi dua pun tergantung kita melihat bagian mana terlebih dahulu, apakah atapnya yang seperti lingkaran terpotong atau sudut di bagian yang bertemu dengan pilar yang membuat kita membayangkan limas.

Begitu pula dengan Tower House ini, kita akan langsung menggambarkan ulang bangunan ini dengan bentuk balok sempurna di pikiran kita, tanpa adanya pengurangan bagian-bagian tertentu. Ketika kita melihat bangunan ini sekilas dan mendapatkan bayangan balok di otak kita, kita cenderung akan lupa bahwa bangunan ini ternyata tidak seutuhnya balok.

Lain lagi dengan Gwathmey Residence. Rumah ini akan membuat kita berpikir akan tiga atau lebih bangun ruang dasar, yaitu silinder, kubus dan prisma, walaupun ketiga bangun ini hanya sebagian saja yang terlihat.

Ketiga bangunan ini merupakan hasil dari transformasi bentuk. St Pierre de Firminy dan Tower House merupakan contoh substractive form. Bentuk yang dikurangi cenderung lebih kuat memunculkan image bentuk asli dibanding bentuk hasil substraksinya. Sedangkan Gwathmey Residence dapat digolongkan sebagai beberapa substractive form yang digabungkan. Alam pikiran kita lantas membagi bentuk Gwathmey Residence dalam tiga atau lebih bagian dibanding melengkapi bentuk itu menjadi suatu kesatuan yang utuh. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini dapat terjadi karena bangun-bangun dasar sederhana seperti kubus, bola, limas, dan silinder memiliki ciri khas yang sudah tertanam di otak kita sehingga kita cenderung menyederhanakan suatu bentuk atau melengkapi bentuk jika bentuk itu tidak sesuai dengan image yang ada di pikiran kita. Manusia umumnya melihat suatu image secara keseluruhan, dibanding dalam bagian-bagian tertentu. Sehingga persepsi kita terhadap bangun ruang yang rumit pun cenderung disederhanakan oleh otak kita. Hal ini juga menunjukkan bahwa otak manusia nyaman dengan bentuk-bentuk geometris sehingga mampu menampung memori akan pembentukan bangun-bangun geometris tersebut.

Jika dikembalikan pada persepsi masing-masing individu, apakah Anda cenderung nyaman dengan bangun-bangun yang “utuh” tersebut? Atau bahkan kita sebagai mahasiswa arsitektur cenderung ingin berada di area nyaman itu dengan membuat desain-desain dengan bentuk yang sempurna?

Referensi:

Ching, Francis D.K.(1979).Architecture: Form, Space, and Order.New York:Van Nostrand Reinhold Company

http://www.macalester.edu/academics/psychology/whathap/ubnrp/aesthetics/perception.html diakses tanggal 3 April 2012

April 3, 2012

The Games of Life: Order dari Keberadaan Disorder

Filed under: Uncategorized — zahrahsyahadah @ 23:56

Pernah mendengar istilah the game of life? Game yang dikembangkan oleh seorang matematikawan muda di Cambridge pada tahun 1970 ini sebenarnya bisa disebut bukan game. Karena dalam game ini tidak ada posisi kalah dan menang dan tidak ada pemain. Game of life bisa disebut juga sebagai simulator karena terdiri dari bentuk 2D tak terbatas, yang selnya diisi oleh ‘organisme’ untuk selanjutnya hidup atau mati berdasarkan aturan main yang sederhana. Game ini merupakan seperangkat hukum yang mengatur suatu jagat raya dua dimensi yang bertujuan untuk membantu kita memikirkan soal-soal mengenai realitas dan ciptaan. Pembagian peraturan di bagi menjadi tiga bagian dalam game of life, yaitu statis, growth, dan dead. sedangkan bentuknya berupa sel-sel berbentuk kotak, masing-masing memiliki 2 status yaitu dead or life. Kemudian sel-sel tersebut berinteraksi dengan sel-sel lainnya (sel tetangga) yang menciptakan tarnsisi, yaitu:

1. Sel hidup dengan jumlah tetangga hidup yang mati kurang dari sama dengan 2 disebut underpopulation.

2. Sel hidup dengan jumlah tetangga hidup yang mati lebih dari sama dengan 3 disebut overcrowding.

3. Sel hidup dengan 2 atau 3 tetangga yang hidup akan menjadi sel hidup pada genersi selanjutnya.

4. Setiap sel mati dengan tepat 3 tetangga hidup akan menjadi sel hidup.

Dari transisi tersebut, terbentuk pola-pola, diantaranya adalah satic patterns (masih hidup), repeating patterns, dan pattern yang menerjemahkan dirinya lewat papan (spaceship). Berikut gambaran dari pola-pola yang terbentuk:

Block (still life)            Boat (still life)        Blinker (two-phase oscillator) 

Toad (two-phase oscillator)   Glider (spaceship)         Lightweight spaceship

  Pulsar (three-phase oscillator)

Dari movement sel hidup  yang random pada grid ini terlihat adanya ketidakberaturan, kekacauan, keacakan, atau kebetulan, berupa gerakan acak tanpa tujuan yang secara konstan berubah dari generasi ke generasi. Gerakan yang terjadi sesuai dengan aturan yang sederhana yang kemudian membentuk pola-pola yang teratur dan menjadi bentuk dari keindahan. Sesuai dengan pernyataan Lorand bahwa rumusan yang paling kuno tentang beauty adalah adanya order, unitiy in diversity. Keberadan yang order jika mengalami pergerakan atau perubahan walau sekecil apapun akan menimbulkan dampak sangat besar. Mungkin dampak tersebut tidak dapat dirasakan pada saat dan tempat yang diharapkan. Lorand kemudian melanjutkan dengan mengidentifikasi gagasan mengenai disorder, yaitu randomness, chaos, atomism, and sensitivitiy yang merubah elemen objek.  Teori chaos, yaitu suatu teori yang berkaitan dengan proses alam yang nampaknya kacau, acak dan tidak linier (sistem yang tidak dapat diprediksi berdasarkan kondisi awal). Teori chaos adalah teori yang menjelaskan gerakan atau dinamika yang kompleks dan tidak terduga dari sebuah sistem yang tergantung dari kondisi awalnya. walaupun berlangsung acak, sistem tersebut dapat ditentukan secara matematis, hal ini disebabkan sistem chaos mengikuti hukum-hukum yang berlaku di alam. Hanya saja, karena sifatnya yang tidak teratur maka dilihat sebagai peristiwa yang acak. Keberadaan chaos (disorder) ini kemudian mengalami pergerakan yang tidak teratur namun pada akhirnya ketidakteraturan pergerakan tersebut membentuk pola yang indah dan teratur. Terlihat jelas adanya order yang terbentuk dari keberadaan disorder.

sumber:

http://chocobolate.wordpress.com/2009/06/14/conways-games-of-life-cellular-automata/#more-133

Aesthetic Order oleh Ruth Lorand

Photomosaic dalam Arsitektur.

Filed under: Uncategorized — nanabestari @ 23:46

Mosaik adalah seni menciptakan gambar dengan menggunakan kumpulan bagian-bagian kecil yang disatukan. Ada tiga metode utama: metode langsung, metode tidak langsung dan metode tidak langsung ganda.
1.    Metode langsung, langsung menempatkan (perekatan) satu bagian kecil ke permukaan utama. Metode ini cocok untuk permukaan yang memiliki kualitas tiga dimensi. Keuntungan dari metode langsung adalah bahwa mosaik yang dihasilkan semakin terlihat. Kerugiannya adalah bahwa seniman harus bekerja secara langsung pada permukaan yang dipilih, yang sering tidak praktis untuk jangka waktu yang lama, terutama untuk proyek skala besar. Juga, sulit untuk mengendalikan ketidakrataan permukaan.
2.    Metode tidak langsung, sering digunakan untuk proyek-proyek yang sangat besar, proyek-proyek dengan elemen berulang.
3.    Metode tidak langsung ganda, digunakan ketika penting untuk melihat pekerjaan selama proses penciptaan sebagaimana akan terlihat saat selesai. Dibandingkan dengan metode tidak langsung, cara ini lebih kompleks digunakan dan membutuhkan keahlian tinggi untuk menghindari kerusakan pekerjaan.

Girih Tiles

 

 

Nah, photomosaic adalah gambar yang terdiri dari berbagai gambar-gambar kecil lainnya (yang dipelopori oleh Joseph Francis) yang bila disatukan akan membentuk sebuah gambar yang lebih besar. Dalam bidang fotografi, photomosaic adalah gambaran (biasanya foto) yang telah dibagi menjadi (biasanya berukuran sama) persegi panjang, yang masing-masing diganti dengan foto lain yang sesuai dengan foto target. Jika dilihat secara keseluruhan, akan muncul individu sebagai gambar utama. Sementara bila dilihat lebih dekat, dapat dilihat bahwa gambar sebenarnya terdiri dari ratusan atau ribuan gambar yang lebih kecil.
Keunikan dari photomosaic adalah susunan-susunan ratusan foto yang secara sistematis membentuk karakter (misal: wajah seseorang). Proses editing foto, termasuk pengaturan ketajaman, pencahayaan, tone warna, penyesuaian background, menjadi bagian penting dalam proses mempersiapkan foto untuk dapat dibuat menjadi mosaik yang berkualitas.
Langkah membuat photomosaic :

Foto asli.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengaturan kestabilan warna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Analisis partikel foto.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penyempurnaan foto menjadi mosaik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam pengaplikasiannya pun, photomosaic dapat juga diterapkan dalam bidang arsitektural untuk foto landscape. Misalnya, untuk mendeteksi perubahan terbaru akibat bencana alam seperti lumpur, banjir, dan gempa bumi. Selain itu, juga dapat digunakan untuk menganalisis perubahan perkotaan, degradasi lahan atau perubahan penggunaan lahan untuk periode yang lebih lama, ketika gambar terakhir belum tersedia.

Hill Longonot-Kijabe, Danau Naivasha, Kenya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Daerah ini mengalami erosi angin. Diperlukan analisis yang tepat dari masalah erosi angin, tetapi justru kurangnya informasi mengenai daerah tersebut. Masalahnya disini adalah tidak adanya foto secara keseluruhan yang terbaru dari daerah tersebut. Foto-foto udara terakhir adalah tahun 1991, tetapi masalah degradasi lahan akibat erosi angin mulai setelah 1995.
Maka dari itu, dibuatlah photomosaic dari penggabungan keadaan wilayah dari tahun-tahun sebelumnya. Sebelum enam foto tersebut dapat digabung menjadi sebuah mosaik tunggal, mereka harus mengacu pada geografis asli (dan diperbaiki). Setelah proses penggabungan peta yang tersedia telah menjadi peta terbaru, direkatkan untuk membentuk mosaik daerah tersebut.
Dari photomosaic tersebut, dapat dirasakan kegunaannya sehingga dapat diketahui bahwa penggunaan lahan tahun 1991 dan 2000 tersebut, telah memberikan informasi yang menarik tentang penyebab degradasi lahan terakhir di daerah Longonot. Antara 1991 dan 2000 daerah bidang garapan berkurang dari 145 ha (1991) menjadi hanya 57 ha pada tahun 2000. Hampir 50% dari parit mengalami deflasi sejak tahun 1991.

 
Sumber:
Making Mosaics- Design, Techniques & Projects LeslieDierks Sterling/Lark.
The Art of Mosaic – The Encyclopaedia of Projects, Techniques and Designs. Sarah Kelly.
Warner, W. S., R. W. Graham, et al. (1996). Small Format Aerial Photography. Caithess: Whittles.
Hofstee, P. (1984). Small format aerial photography: simple and cheap do-it-yourself technique. In: Cities.

http://www.gartrip.de/

http://en.wikipedia.org/wiki/Mosaic

orientasi geometri bawah sadar

Filed under: Uncategorized — rita040691 @ 23:45

Setiap orang secara  tidak disadari telah memiliki alam bawah sadar yang mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan, baik pada saat menilai sesuatu maupun menciptakan sesuatu. Sebagai simulasi singkat, mari membayangkan kita menggambar seekor bebek di benak kita.

Sudah selesai? Mudah bukan? Tentu saja sangat mudah menggambar seekor bebek karena kita telah diajarkan menggambar bebek sejak kecil. Sekarang muncul pertanyaan, bebek yang Saudara gambar menghadap ke mana? ke kanan atau ke kiri? Di dalam bayangan saya dan sebagian besar orang, bebek akan langsung tergambar menghadap kiri. Hal ini disebabkan karena pola mengajar kepada anak – anak untuk menggambar sebuah bebek adalah dengan membuat angka 2 terlebih dahulu kemudian baru dibentuk bebek. Alhasil semua bebek di alam bawah sadar otomatis menghadap ke kiri. Namun tidak hanya berhenti pada gambar bebek di alam bawah sadar, hal tersebut berlanjut ke gambar tangan yang dibuat secara sadar.

salah satu contonya adalah gambar di bawah ini.

http://1.bp.blogspot.com/-IiAEFl0YqLU/TeSJqm-yOHI/AAAAAAAAAMw/kRiBuDBMvHk/s1600/bebek.png

 

Kemudian, mari kita membayangkan menggambar sebutir telur. Apakah sudah selesai? yak, sangat mudah, karena kita cukup membayangkan bentuk oval dengan lengkungan atas yang lebih runcing dari pada lengkungan bawah telur. Mengapa demikian? pengalaman keseharian kita menanamkan harga mutlak bahwa telur dengan permukaan lengkung lebih runcing di bawah akan menggelinding dan terjatuh. sehingga tanpa di suruh, telur akan tergambar sedemikian rupa dengan kesetimbangan yang luar biasa. maksudnya di sini adalah akan sangat jarang orang menggambarkan telur yang sedang tertidur atau sedang berguling. Hal ini juga disebabkan oleh orientasi gambar telur yang di ajarkan kepada kita saat kecil.

Proses berarsitektur dimulai dari ide, yang kemudian di visualisasikan di dalam pikiran baru di tuangkan ke luar melalui berbagai macam media. Proses awal inilah yang sangat rentan terpengaruh oleh orientasi geometri bawah sadar yang dapat menjadi batu sandungan kalau tidak disadari oleh sang perancang.

Namun, orientasi geometri bawah sadar ini sering digunakan untuk menyampaikan dan menciptakan kesan dan pengalaman ruang tertentu seperti perasaan tertusuk, tertekan, terhanyut, bergelora, dsb. Jadi, apa yang harus kita lakukan dengan orientasi geometri bawah sadar ini? apakah perlu dihilangkan? atau malah dipertajam?

the geometri of tetris

Filed under: Uncategorized — kreshnapatrian @ 22:03

gambar permainan tetris

Kita semua pasti sudah pernah mendengar dan memainkan game satu ini. Ya ini adalah tetris, dimana tujuan dari game ini adalah menyusun balok-balok yang jatuh dari bagian atas layar di bagian bawah layar, tanpa menghabiskan space yang ada untuk menaruh balok. Game over akan didapatkan apabila space yang ada untuk menaruh balok-balok sudah tidak ada lagi, dan balok-balok sudah tidak bisa turun lagi ke bawah. Game ini dulu sangat populer di jaman 1980-an (bahkan saya sendiri juga pas masih kecil sering memainkannya), dan dijaman tersebut (dimana tidak ada terlalu banyak game yang merajalela seperti sekarang) game ini menjadi salah satu game yang fenomenal, hampir setiap orang memainkan tetris, dari yang muda, sampai yang tua. Bahkan sampai jaman sekarangpun tidak ada yang tidak mengenal tetris, hampir semua orang pasti mengenal tetris (walaupun mungkin belum pernah memainkannya). Nama tetris sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu tetra yang artinya 4

gambar bentuk-bentuk dalam tetris

Dari penjelasan di atas, sebenarnya tetris adalah game yang cukup sederhana, objektifnya hanya adalah mengatur bentuk-bentuk balok yang turun supaya tidak kehabisan space menaruh balok-balok, dan tidak mendapat game over. Bentuk-bentuk yang ada dalam tetris sebenarnya juga cukup sederhana. Ada 7 bentuk yang melambangkan 7 huruf yaitu I, J, L, O, S, T, Z. Bentuk-bentuk balok tetris ini juga bukan hanya melambangkan huruf alfabet, tapi susunan ini juga mempunyai istilah tersendiri yaitu Tetromino. Tetromino sendiri adalah bentuk geometris yang terdiri dari 4 persegi, yang tersambung secara ortogonal, dan karena bentuk tetromino ini sendiri sudah sinonim dengan tetris, sehingga sering kali bentuk-bentuk dalam tetris tidak lagi disebut tetromino, tapi tetriminos. Nama tetris sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Yunani, yaitu tetra yang artinya 4, dan hal ini menggambarkan bagaimana bentuk-bentuk tetromino yang ada dalam tetris semuanya terdiri dari 4 persegi

Dari analisis bentuk dasarnya saja sudah terlihat bahwa game tetris ini memang menggunakan prinsip geometris (dalam hal ini tetromino), tapi apakah hanya itu saja?

                                      

gambar  penyusunan memungkinkan dari tetromino

Dari gambar diatas bisa terlihat bagaimana sebenarnya bentuk-bentuk tetromino ini sebenarnya bisa disusun menjadi sebuah persegi panjang 5 x 8 dan 4 x 10. Hal ini disebabkan karena bentuk-bentuk tetromino ini memang terdiri dari kumpulan/ susunan persegi-persegi. Yang bisa dilihat di sini adalah bagaimana adanya sebuah order yang bisa tercipta dari susunan bentuk-bentuk tetromino ini. Adanya order ini sebenarnya diterapkan juga dalam permainan tetris

Dalam permainan tetris itu sendiri sebenarnya order itu juga diterapkan, terutama untuk menghindari game over. Dalam tetris kita diharuskan untuk bisa menyusun balok-balok tetromino yang jatuh ke bawah dengan baik sehingga space untuk menaruh balok tidak habis

Selain tentang order, salah satu hal yang menonjol dari tetris ini sendiri adalah tentang bagaimana bentuk-bentuk dalam permainan tetris bisa diputar dan diatur sehingga yang memainkan bisa mempunyai pilihan lebih banyak dalam menyusun tumpukan-tumpukan bentuk-bentuk tetromino. Bahkan sebenarnya kalau diperhatikan, bentuk dasar dari tetromino hanya ada 5, yaitu I, O, Z, T, L, tapi karena adanya pilihan untuk merubah posisi dan orientasi dari bentuk-bentuk dasar ini, munculah “turunan” dari kelima bentuk yang tadi yaitu J dan S.

Mungkin masih lebih banyak lagi kaitan antara tetris dengan geometri yang belum kita (dan saya) ketahui. Tapi bagaimanapun juga tetris adalah salah satu bagian dari masa kecil saya yang tidak bisa saya lupakan, karena dari situlah pembelajaran pertama saya tentang unsur-unsur geometri seperti order, disorder, dan shape, baik saya sadari maupun tidak

Sumber :

http://en.wikipedia.org/wiki/Tetris

http://en.wikipedia.org/wiki/Tetromino

http://www.biglearning.org/article-visual-spatial.htm

http://www.freeonlineresearchpapers.com/geometry-in-games

Ransel dan Proporsi Tubuh…

Filed under: Uncategorized — Fatya Faizanur Rochman @ 21:31

Ketika kita diharuskan membawa barang yang banyak dalam satu waktu, tas apa yang akan anda bawa? Tas jinjing? Tas selempang? Tas ransel? Atau semuanya dibawa sekaligus hingga tak ada tangan yang kosong?

Jika anda memilih tas selain ransel, dan jika anda melakukannya dengan cukup sering dan membawa beban yang berat, alangkah baiknya anda cepat berpindah ke tas punggung/ransel? Mengapa?

Banyak alasan… yaitu tas ransel yang besar dapat mengangkat beban berat hingga 10 kg, yang mengandalkan berat sebagian besar dari badan mereka, memakai kekuatan pinggul dan meninggalkan kekuatan bahu untuk menstabilkan muatan, dikarenakan pinggul lebih kuat dari bahu, dan menambah keseimbangan, karena itu kita merasa lebiih nyaman menggunakannya.

Sedangkan tas tangan (clutch) pasti tidak akan sanggup dan akan terjadi timpang, dan penelitian menunjukkan bahwa banyak perempuan yang mendapati penyakit pegal-pegal di bagian pundak dan punggung dibanding laki-laki, karena perempuan membawa barang-barang mereka yang cukup berat dengan tas jinjing atau selempang yang menyebabkan beban yang tidak seimbang, apakah anda juga pernah merasakan sakit itu? Berhati-hatilah..:) berarti sudah saatnya pindah ke tas punggung:p

            Lalu apa hubungannya saya membahas tentang tas ransel ini dengan mata kuliah kita? Saya ingin mengaitkan penggunaan tas terutama tas ransel ini dengan proporsi tubuh, bagaimana atau apa yang diperlukan untuk membuat dan menjadikan tas ransel yang nyaman? Tentu pastinya harus melihat bagaimana proporsi tubuh manusia, dan proporsi sangat berkaitan dengan geometri dan arsitektur.

‪            Bentuk tubuh kita memiliki bagian-bagian yang mirip dengan sebuah bangunan, kaki dari telapak sampai pinggul menjadi sebuah fondasi yang menopang bangunan yaitu badan kita, dan untuk membuat sebuah tas ransel yang baik harus bisa menyalurkan beban secara merata, yaitu dengan memindahkan sebagian besar bebannya pada pinggul dan kaki, dimana hal ini sama dengan bagaimana kita merancang sebuah bangunan, harus memperhatikan strukturnya bagaimana menyalurkan beban dengan merata melalui fondasi. Jika beban tertuju pada bahu, akan mengurangi kemungkinan cedera dari tekanan tali bahu serta membatasi jangkauan gerak tubuh bagian atas.

Untuk membuat desain tas ransel yang nyaman, semua hal harus dikaitkan dengan penyaluran beban ke bawah secara merata, dimulai dari bagian badan/tasnya, ukurannya harus disesuaikan dengan kebutuhan, apa saja yang dibawa, dan tidak boleh terlalu besar agar pengguna nyaman, rata-rata tas ransel untuk sekolah dimensinya  50 x 36 x 12, sedangkan bagian yang penting juga yaitu strap/tali bahu, rata-rata panjangnya 80-90 cm dan bisa diatur panjang pendeknya, sehingga sesuai dengan tubuh penggunanya, dan untuk menambah kenyamanan lagi, strap bahu lebih baik agak lebar dan mempunyai bantalan, agar tidak membuat bahu pegal.

Mendesain sesuatu yang nyaman bagi penggunanya sangat penting bukan…

http://www.lovelytoday.com/trendlifestyle/2012/01/02/6208/tips-pilih-tas-tepat-demi-kesehatan-bahu

http://id.wikipedia.org/wiki/Ransel

Transformasi dari Permainan Tetris 2 Dimensi menjadi Karya Arsitektur 3 Dimensi

Filed under: Uncategorized — meidesta @ 20:52
Tags: , , ,

Image

Pada permainan, berbagai macam tetromino yang terdiri dari empat balok akan jatuh. Tujuan dari permainan ini adalah dengan memanipulasi tetromino yang jatuh, dengan mengerakannya ke samping atau memutarnya, sehingga akan terbentuk garis horizontal tanpa celah, ketika sudah terbentuk, tetromino tersebut akan menghilang, sehingga tetromino diatasnya akan terjatuh. Ketika permainan berlanjut, tetromino tersebut akan jatuh lebih cepat. Permainan akan berakhir apabila tetromino berikutnya terhalang sehingga tidak bisa masuk. (www.wikipedia.org)

     Jika menilik kembali ke masa lalu, permainan masa kecil menjadi salah satu memori yang tidak terlupakan. Anak-anak seusia kita, sekitar belasan tahun lalu sudah cukup senang ketika bisa dimanja hanya oleh sebuah mainan genggam yang bahkan layarnya belum berwarna. Foto diatas mengingatkan kita tentang bagaimana serunya menghabiskan waktu di depan TV sambil sibuk memencet tombol-tombol handheld game. Kita fokus untuk menata brick-brick yang jatuh secara bergantian, memutar-mutar brick untuk menemukan posisi yang paling sesuai sekaligus mengambil nafas dalam-dalam karena deg-degan atas keterbatasan waktu, sampai tiba-tiba kesal karena kadang brick-brick yang kita paksa untuk turun lebih cepat akhirnya tidak jatuh ke tujuan awal. Sebagian dari kita semestinya familiar dengan fitur mainan utama pada handheld game yang sangat populer sejak awal tahun 1985, yaitu tetris. Tetris ditemukan oleh Alexey Pajitnov. Tetris menjadi sebuah games yang sangat dan dianggap sebagai permainan terbaik sepanjang masa. Ketika dulu tetris bisa dinikmati melalui permainan di handheld game, kini tetris pun dapat dimainkan di komputer, handphone, sampai IPad. Pada awal kemunculannya, bentuk tetris hanya terdiri dari beberapa bentuk tetromino dengan warna hitam putih saja. Sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi, tetris kini sudah memiliki beragam kemasan dan bentuk permainan. Ketika saya mencoba googling kata “tetris”, yang muncul pada tampilan layar komputer saya adalah sebagai berikut

Image

Image

     Dari gambar diatas kita dapat melihat perkembangan tetris sebagai permainan sepanjang masa yang sangat kuat dengan karakter bentuk-bentuk geometris yang tersusun rapi dan membentuk komposisi baru tanpa celah. Meskipun terkesan sederhana, permainan taktik penumpukan pola tetromino lah yang kemudian membuat orang-orang ketagihan untuk memainkan tetris.

 
   

     Saya penasaran mengenai hubungan tetris dan arsitektur. Kemudian saya mencoba memasukkan keyword “tetris architecture” dan yang muncul pada tampilan layar komputer saya adalah sebagai berikut

Image

Image

     Dari foto diatas kita dapat melihat bahwa memang banyak bangunan dan furniture yang menggunakan konsep dasar tetris sebagai ide desain. Dari berbagai macam desain bangunan dan furniture tersebut, saya tertarik dengan sebuah bangunan flat “VM House” di Copenhagen yang didesain oleh Bjarke Ingels dan Julien De Smedt. Sesuai dengan ide “tetris”, bangunan flat ini terdiri atas berbagai macam komposisi dari brick-brick yang disusun sehingga bangunan terlihat solid tanpa celah namun terlihat indah karena paduan tetromino yang saling bertumpuk dan tersusun dari beragam warna. Bentuk elemen bangunan yang serupa dengan tetromino pada tetris tidak diulang lebih dari duabelas kali sehingga keunikan dan ciri khas tetris yang memiliki komposisi acak namun tanpa celah semakin terlihat menonjol pada bangunan. 

Image

Berikut elemen-elemen bentuk pada flat tersebut yang identik dengan bentuk-bentuk brick atau tetromino pada tetris

Image

Image

Image

Image

     Melihat pola perkembangan tetris yang kemudian juga diaplikasikan dalam dunia arsitektur, saya semakin melihat bahwa ternyata dalam beberapa pembentukan desain arsitektur terdapat unsur-unsur geometri yang sudah lebih dahulu dikenal dan dengan berbagai macam pendekatan bentuk geometri yang berbeda-beda. Tetris, sebuah permainan sederhana yang fenomenal dan dianggap sebagai permainan sepanjang masa pun menjadi ide sebuah karya arsitektur sehingga menciptakan ruang-ruang yang memiliki beragam komposisi dan warna. Karya arsitektur tersebut berangkat dari sebuah permainan di layar dua dimensi, ditransformasikan dalam bentuk tiga dimensi dan menjadi ruang gerak bagi manusia yang beraktivitas di dalamnya. Menakjubkan!

Sumber Pustaka

http://inilah-rusia.blogspot.com/2012/03/tetris.html ”Tetris”, 28 Maret 2012

http://it.toolbox.com/blogs/composite-apps/the-tetris-architecture-pattern-12911 ”The Tetris Architecture Pattern”, 13 N0vember 2006

http://www.faconnable.com/en/corporate/blogs/tetris-architecture/ ”Tetris Architecture”, 30 Januari 2011

http://bldgblog.blogspot.com/2006/07/architectural-tetris.html ”Architectural Tetris”, 12 Juli 2006

Revolution 9: disturbing song or masterpiece

Filed under: Uncategorized — agustinusleonardo @ 20:42

Siapa yang tidak mengenal the beatles. Sebuah band asal Inggris yang memilik anggota John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, Ringgo star. Namun ada salah satu lagu yang cukup fenomenal yaitu “Revolution 9”. Lagu ini merupakan lagu ciptaan John lennon dan merupakan salah satu lagu kebanggaannya, ia menganggap lagu ini sebagai lagu masa depan. Komposer yang menjadi inspirasi John Lennon adalah Stockhausen dan John Cage. dia adalah komposer yang membuat lagu-lagu eksperimental.Apa bila kita mendengarkan lagu revolution 9, mungkin kita akan berpikiran bahwa ini lagu yang mengganggu  karena sama sekali tidak jelas ritmenya. liriknya pun mayoritas hanya kata- kata “number 9″, “right” Lagu ini terkesan seperti lagu yang dibuat asal-asalan. Namun lagu ini pernah dibawakan oleh orkestra namun berbeda sekali presepsi yang muncul. Ketika dibawakan oleh orkestra Will Alarm Sound lagu ini biasa saja tidak menimbulkan kesan mengganggu dll. Bahkan terdengar seperti lagu-lagu orkestra kebanyakan.

Nah apakah setiap lagu harus diciptakan selalu jelas ada bagian-bagiannya?yang tidak muncul di lagu Revolution 9. Lalu kenapa ketika lagu ini dimainkan oleh orkestra lagu ini menjadi enak didengar tanpa orkestra tersebut mengaransemen ulang (baik itu mengubah tempo dll, hanya berbeda alat musik saja).

silahkan dilihat videonya di youtube.com

http://www.youtube.com/watch?v=_WjfQSxcq0c (versi orkestra)

http://www.youtube.com/watch?v=wdPvN7HOLh8 (versi the beatles)

masih banyak lagu-lagu seperti ini seperti salah satu album pink floyd “Ummagumma”

 

rule of third sebagai metode “golden section” pada photography

Filed under: Uncategorized — nirmalahayatiars08 @ 18:04

Dalam arsitektur golden section dikenal sebagai salah satu metode untuk menghadirkan sebuah bangunan yang dapat dikatakan bagus secara proporsi. Golden section digunakan untuk mengatur komposisi elemen-elemen bangunan. Tidak hanya dalam arsitektur, dalam photography juga dikenal metode rule of third, yang mengatur komposisi objek-objek yang akan ditangkap kamera. Metode rule of third adalah metode yang membagi  layar kamera menjadi tiga bagian sama besar secara horizontal dan vertical. Metode ini menggunakan garis dan titik dari pertemuan garis-garisnya sebagai paduan dalam memposisikan objek yang ingin di foto pada layar kamera.

             

 Rule of third  merupakan salah satu metode dalam photography yang dapat memberikan kesan aestetik terhadap fotonya. Selain itu metode ini juga merupakan metode yang dapat menciptakan foto yang komposisinya enak dilihat mata. dalam fotografi metode ini merupakan metode yang wajib untuk diketahui namun tidak selalu wajib untuk diterapkan. Karena untuk menghasilkan foto yang bagus tidak serta merta menggunakan metode ini. Dalam perkembangn dunia fotografi, metode  lain untuk menghasilkan foto bagus lebih banyak  dieksplorasi, salah satunya adalah mencari momen atau karakter foto. Sedangkan dari segi komposisi, sekarang ini komposisi yang rapih dan teratur kadang lebih terlihat biasa atau membosankan, sebagian banyak yang mencoba komposisi yang acak atau berantakan. Namun, tidak semuanya foto yang menggunakan rule of third tidak bagus, banyak juga yang bagus dan enak dilihat.

Dibawah ini merupakan foto-foto yang menggunakan metode rule of third:

 

  

Dibawah ini merupakan foto-foto momen:

  

Bagaimana pendapat anda terhadap foto-foto diatas, semuanya tergantung dari selera yang melihatnya. Banyak hal yang dijadikan penilaian dan salah satunya adalah tren saat ini. Photograpy juga merupakan dunia yang depengaruhi oleh banyak perkembangan tren. Bukan berarti metode rule of third yang sudah dikenal lama dan menjadi salah satu metode dasar photography tidak bermanfaat. metode rule of third sebenarnya dapat di eksplorasi dengan menggabungkan dengan metode lain sehingga foto juga tampak lebih hidup dan dinamis (tidak datar atau kuno). Karena sejatinya pada saat kita mengambil foto, pertimbangan awal pastilah momen yang ingin kita tangkap, dan metode-metode seperti rule of third merupakan salah satu metode yang dapat membantu kita mengambil foto dengan baik.

Begitu juga halnya dunia arsitektur bukan berarti suatu metode yang sudah lama dan menjadi dasar dalam bidang tersebut menjadi satu-satunya pertimbangan untuk menilai bangunan aritektur tersebut bagus. Tapi kita juga dapat menggunakan berbagai metode. Karena sejatinya orang menikmati seni dengan cara yang berbeda-beda.

Sumber foto:

http://www.flickr.com/photos/21644167@N04/3032912523/lightbox/

http://www.flickr.com/photos/cjb22222222/5400854473/lightbox/

http://www.flickr.com/photos/57511321@N00/6261565597/

http://www.flickr.com/photos/captainkimo/6056017832/

http://www.flickr.com/photos/captainkimo/6056017832/

http://www.flickr.com/photos/john/144190539/

http://www.exposureguide.com/soccer-photography-tips.htm#tip5

http://www.capturedmomentphoto.com/default.asp

http://www.photographymad.com/pages/view/rule-of-thirds

Next Page »

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.