there’s something about geometry + architecture

March 25, 2011

Sisi Indah dari “Earth Intruders” yang Chaotic

Filed under: architecture and other arts — febyhk @ 17:16
Tags: , ,

Pada kelas geometri sempat dipaparkan mengenai order. Spesifiknya, hal ini dijelaskan dengan gambaran ‘ideal’ kota-kota yang tampak rapi dengan bentuk-bentuk solidnya. Penjelasan (sekilas) mengenai order dan gambaran ideal itu membuat saya bertanya-tanya “apa sebenarnya order dan apa pengaruhnya order (dan disorder) pada persepsi kita?”

Pada bukunya yang berjudul “Aesthetic Order” Ruth Lorand menulis bahwa rumusan paling kuno dari “kecantikan” (beauty) adalah “unity in diversity“. Hal ini ia perjelas lagi dengan pernyataan bahwa “… no order exists in simple, totally homogeneous system. It also follows that if beauty is indeed an expression of order, beauty is never simple” . Mungkin hal ini dapat dilihat dari cara kita mengkelaskan sesuatu. Kita ambil contoh saat kita sedang survey site, maka kita kerap kali mendokumentasikan data yang kita dapat secara acak dan baru mengelompokannya ketika selesai survey. Kita mengelompokkan data itu karena kita memiliki keinginan untuk memberitahukan apa yang kita dapat lalu menganalisanya dengan mudah. Tentu untuk mengelompokkan data-data itu bukanlah hal yang mudah. Kompleks, lebih tepatnya.

Jika begitu, bagaimana dengan “disorder” ? Apakah ia lawan dari “order” itu sendiri sehingga bentuknya tidaklah sekompleks “order”? Ruth Lorand juga menjelaskan, bahwa disorder dalam “kekacauannya” membuat semua hal terkesan sama. Hal ini disebabkan tidak adanya pengelasan yang biasa kita lakukan pada ranah “order”. Namun, Lorand juga berkata bahwa “… disorder also appears in sets (which are complex by definition).
Consequently, order and disorder do have some common features and thus
disorder is not an outright opposite of order“. Hmm..membingungkan!

Bagaimanapun, saya tetap mencoba menafsirkan apa itu “order” dan “disorder” yang dimaksud Lorand. Mungkin dengan video klip seorang penyanyi terkenal asal Islandia, Bjork, order dan disorder tersebut dapat diketahui.

Pertama kali melihat video ini saya terpukau dengan background-nya yang surrealist dan tarian-tarian yang dilakukan oleh para siluet. Setelah saya  menonton sampai selesai ternyata tarian tersebut saya tangkap sebagai representasi dari lirik lagunya:

Siluet serupa pohon dengan batang dan rantingnya, merepresentasikan “twigs and branches
koreografi tarian bertambah, tidak hanya siluet orang berjalan sambil menunduk tetapi juga siluet orang-orang yang merentangkan tangannya. Koreografi ini tepat ketika Bjork menyanyikan lirik “turmoil!…carnage!” (kacau!…pembunuhan massal!). Sisi “kekacauan” dapat dilihat dari kepala Bjork sebagai background yang dipampang terbalik
Warna background berubah menjadi biru dengan salju yang turun perlahan-lahan disertai tarian dengan tangan terbuka oleh para siluet. Hal ini dilakukan tepat ketika Bjork menyanyikan “Goodness“. Dengan kata lain, “Shower of goodness..” direpresentasikan dengan background yang menyerupai hujan salju disertai siluet yang seolah-olah menyambut hujan salju tersebut.
Di sini mulai terjadi permainan warna yang lebih banyak dari sebelumnya, tidak hanya pada background tetapi juga cahaya yang seolah-olah keluar dari tangan para siluet. Sinar-sinar itu merepresentasikan “sharp shooters” atau penembak. ‘Tembakan’ semakin banyak seiring kata “voodoo” dinyanyikan seolah-olah menampilkan kutukan yang keluar dari tangan para siluet.

Dari sekilas apa yang telah diperhatikan dari video klip Bjork ini dapat dilihat representasi “disorder” (atau “chaos”) dengan bentuk terbaliknya kepala Bjork, koreografi  tembak-menembak, perubahan warna background, dan sebagainya. Jika melihat lirik keseluruhannya memang lagu yang berjudul “Earth Intruders” ini mengisahkan persepsi Bjork tentang kita, manusia, sebagai pengganggu bumi. Kita membuat kekacauan dengan membunuh secara massal, membuat kebisingan, menghilangkan segala kebaikan, dan merusak lahan bumi. Itulah “chaos” di mata seorang Bjork.

Ketika saya cari infonya lagi ternyata lagu ini dibuat karena Bjork bermimpi mengenai tsunami dan banyaknya orang yang jatuh miskin karenanya. Bjork sendiri menganggap lagu ini memang kacau. “It’s a quite chaotic song,” ucapnya. Video klip ini diakhiri dengan Bjork yang membuk.  matanya dengan background pegunungan yang indah (tidak surrealist lagi). Bjork seolah-olah lepas dari mimpi buruknya.

Terlepas dari pengalaman Bjork, video klip ini sebenarnya memiliki “order” yang kemudian menciptakan “beauty“. “Order” tersebut terbentuk dari koreografi-koreografi yang serentak dan kompak meskipun berbeda-beda. Namun, di beberapa saat ada koreografi yang memang terlihat tidak kompak, mengindikasikan “disorder” (seperti ketika bagian “tembak-menembak”) Dari hal tersebut saya melihat bahwa “order” dan “disorder”, entah bagaimanapun persepsi kita mengenai kedua hal itu, sebenarnya dapat menjadi komposisi yang menarik, semenarik video ini. Tidak hanya itu, permainan dinamika antara musik, lirik, dan tarian juga menjadi pengalaman yang menarik ketika menonton video ini. Terlebih video ini juga memberi pesan yang mendalam bagi kita.

Untuk tahu lebih banyak soal videonya, silakan: http://www.youtube.com/watch?v=s-V_CtrVj5U&feature=related

sumber:

“Aesthetic Order” oleh Ruth Lorand

http://en.wikipedia.org/wiki/Earth_Intruders

Hotel Sampah Madrid: Perbedaan Persepsi Baik dan Buruk

Filed under: ideal cities — ajengdwiastuti @ 17:12
Tags: , ,

Tulisan ini berawal dari ketertarikan saya tentang topic mata kuliah Geometry dan arsitektur tentang Ideal City. Namun mungkin yang saya bahas bukanlah hal yang berhubungan dengan ideal city, melainkan yang berhubungan dengan persepsi baik dan buruknya sebuah kota. Salah satu ucapan Geddes, “all of the ugly should be destroyed” memicu saya untuk bertanya, siapakah yang begitu berkuasanya untuk yang mengatur mana baik dan buruknya akan sesuatu? Apakah konsep baik dan buruk itu tetap sama dari zaman ke zaman? Topik tentang Order x disorder juga mengantar saya pada ucapan Jean Jacob tentang “the mistake of zoning is it leads to monotony and disintegration of environments”. Dunia yang semakin kompleks memaksa kita untuk meninjau ulang apakah konsep order tentang baik dan buruk masa lalu masih relevan dengan kondisi saat ini. Untuk sedikit menunjukkan hal ini, saya mengajak melihat lihat hotel sampah di Madrid.

hotel front” alt=”front” />

Beach Garbage Hotel adalah hotel yang terbuat seluruhnya dari sampah dan merupakan bagian dari kampanye Corona Save the Beach hotel. Hotel ini di desain oleh seniman Jerman bernama HA Schult. Hotel ini terdiri dari 5 buah kamar tidur, terbuat dari 12 ton sampah yang benar-benar ditemukan mengotori pantai-pantai di seluruh Eropa. Hotel ini dipamerkan di kota Madrid, Spanyol hingga 23 Januari.

Tujuan membangun hotel dari sampah ini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan kondisi buruk pantai dan laut di seluruh dunia, yang semakin terganggu oleh sampah. Pembangunan hotel ini banyak dianggap unik dan aneh oleh sebagian orang. Beberapa orang juga tidak dapat menerimanya karena dianggap jelek (ugly). Akan tetapi mari kita lihat maksud dari pembangunan hotel tersebut. Apakah hal buruk yang ditujukan untuk sesuatu yang baik tidak bisa mengubah nilai dari sesuatu yang buruk. Sekali lagi, hal ini berujung kembali pada persepsi masing – masing orang. Ini adalah salah satu gambar interior dari hotel tersebut

interior” alt=”interior” />

Bagus/jelekkah ruang dari hotel sampah ini?

Saya menemukan berita tentang hotel ini dari situs www.kaskus.us, dimana situs tersebut terkenal dengan sebutan The Large Indonesian Community. Berbagai orang dari seluruh Indonesia dengan latar belakang berbeda pula bergabung disini. Dalam situs ini, persepsi menjadi hak merdeka tiap individu. Pikiran kita adalah milik kita sendiri, tanpa ada yang meengintervensi atau memberi instruksi tentang baik dan buruknya sesuatu.

Hotel di Madrid ini dari sampah, memang. Seluruh dinding dari hotel ini terbuat dari tumpukan sampah. Dindingnya tidak terpoles rapi. Hampir tidak ada keseragaman bentuk dalam komponen yang membentuk bangunan ini. Namun apakah hal – hal diatas menjadikan hotel ini juga ‘sampah’? hal tersebut silahkan anda jawab sendiri.

http://www.lintasberita.com/Dunia/Berita-Dunia/unik-hotel-dari-sampah

http://www.indiumglassfilm.com/serba-serbi/1342-hotel-terbuat-dari-sampah-di-madrid.html

March 23, 2011

Ikebana: Bentuk Kecantikan dari Keasimetrisan dan Kekosongan

Filed under: architecture and other arts — klarapuspaindrawati @ 15:49
Tags: , ,

Ikebana, seni merangkai bunga yang berasal dari Jepang merupakan salah satu metode merangkai bunga yang kaya akan nilai seni serta filosofi. Dari sejarahnya, seni merangkai bunga ini muncul di abad ke enam, ketika ajaran Buddha masuk ke Jepang. Salah satu bagian dari ritual di dalam agama Buddha adalah merangkai bunga di altar sebagai persembahan untuk roh – roh orang yang sudah meninggal. Ikebana berasal dari padanan kata ikeru, yang berarti menempatkan atau menyusun kehidupan dan kata hana yang berarti bunga, seni ini mulai dikembangkan di Jepang sejak abad ke 15.

Ikebana memiliki perbedaan pada seni merangkai bunga pada umumnya yang menekan pada komposisi warna yang menarik dari kelopak – kelopak bunga dengan bentuk yang juga beragam. Ikebana justru menekankan pada bagian tangkai dan daun bunga dengan jumlah bunga dalam satu rangkaian diminimalkan. Struktur yang digunakan dalam merangkai bunga adalah geometri dari scalene triangle, atau yang kita kenal dengan segitiga sembarang. Struktur segitiga sembarang ini memiliki filosofi mengenai unsur – unsur pembentuk kehidupan: surga, bumi, dan manusia, atau menggambarkan matahari, bulan, dan bumi.

Beberapa aturan yang diterapkan dalam ikebana adalah:
1. Menggunakan jumlah bunga yang minimal dibanding jumlah tangkai dan daunnya.
2. Layer rangkaian bunga diminimalkan, sehingga akan menampilkan banyak ruang kosong .
3. Penekanan dalam komposisi diberikan pada garis pemberi bentuk.
4. Mengacu pada imajinasi bentuk segitiga sembarang dan asimetri.
5. Perangkai bunga harus dalam situasi hening saat sedang merangkai sebagai wujud rasa hormat terhadap alam dan meresapi alam sebagai pemberi ketenangan bagi pikiran, jiwa, dan tubuh.

Image and video hosting by TinyPic

Dari komposisi dan metode yang diterapkan pada seni ikebana, sebenarnya terkandung beberapa filosofi yang mengajarkan berbagai makna hidup. Dari proses pembuatannya, ikebana mengajarkan ketenangan bagi perangkainya dengan penghayatan terhadap benda alam sebagai sumber ketenangan hidup. Konsep kata Ma, merupakan konsep mengenai kekosongan yang diterapkan pada ikebana. Ma, berarti kosong, ruang void. Kekosongan dalam hal ini menajdi poin utama, hal yang ditonjolkan sebagai sumber energi. Ruang kosong yang terbentuk di dalam rangkaian meemberikan kehidupan bagi bunga – bunga yang dirangkai karena dengan demikian ada ruang – ruang untuk bernafas. Dalam kehidupan, ruang kosong dalam jiwa dan pikiran dibutuhkan untuk menjauhkan diri dari tekanan dan kondisi stres. Ruang kosong pada rangkaian ikebana menjadi penghubung elemen – elemen penyusun yang digunakan dan menciptakan keutuhan. Komposisi asimetris dalam ikebana justru menciptakan keseimbangan dan menggambarkan keasimetrisan sebagai hal yang terjadi secara natural pada benda – benda alam. Ikebana memang bentuk kesenian yang sangat berkaitan dengan penenangan jiwa baik bagi perangkai, maupun bagi orang yang melihat hasil karya ikebana melalui komposisi garis dan keseluruhan elemen rangkaian.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Ikebana

http://www.presentationzen.com/presentationzen/2009/09/0-design-lessons-from-ikebana.html

http://www.suite101.com/content/ikebana-flower-arranging-a98237

http://www.essortment.com/ikebana-flower-arranging-58233.html

http://outsiderjapan.pbworks.com/w/page/24318046/Ikebana

http://www.google.co.id/imglanding?q=ikebana&um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=jKnLVK9XIlbL_M:&imgrefurl

Indah Diukur dengan Geometri, Betulkah?

Filed under: classical aesthetics — stellanindya @ 14:46
Tags: ,

Geometri merupakan ilmu pengukuran terhadap bumi dan ruangnya. Ketika dipikir-pikir, apakah guna Geometri dalam Arsitektur itu? Mengapa kita perlu mempelajarinya?

“Architecture has some of the strongest educational ties to geometric organization because of the necessity for order and efficiency in construction, and the desire to create aesthetically pleasing structures” (Kimberly Elam, 2001: 101)

Elam mengungkapkan bahwa arsitektur mempunyai hubungan erat dengan geometri. Salah satu yang menghubungkan adalah nilai estetika. Hal ini terbukti dari adanya jasa arsitek rumah, arsitek bangunan, dsb. Darimanakah nilai estetis itu diukur? Karya arsitektur dibatasi oleh aturan-aturan geometri yang ada, sehingga bentuk menjadi terikat. Aturan geometri yang paling populer adalah Golden Section.

for without symmetry and proportion, no temple can have a regular plan” (Vitruvius, 1960)

Vitruvius berkata untuk membuat kuil diperlukan rasio dan proporsi ukuran yang tepat. Sebenarnya hal ini membuat keterbatasan dalam hal desain dan ide bentuk kuil. Apakah geometri seperti ini bukan justru untuk membelenggu kreativitas perancang? Suatu bangunan dikatakan indah jika rasio dan proporsi ukuran sesuai dengan kaidah yang berlaku. Barulah estetik. Dengan aturan seperti itu, para arsitek jaman itu memiliki keterbatasan ide kreatifitas mereka. Yang seharusnya bisa merancang apa, ternyata hanya bisa apa. Namun, hal tersebut yang menjadi patokan keindahan mereka. Yang sesuai proporsi dan rasio, itulah yang indah.

Namun, akankah semua bangunan diukur secara geometri untuk mendapatkan estetika tersebut? Apakah hal itu berlaku sampai sekarang secara sadar maupun tidak sadar?

May 31, 2009

Ideal

Filed under: ideal cities — ayushekar @ 09:26
Tags: , ,

Ideal..
kata ideal dipakai untuk menunjukkan tingkat kepuasan seseorang atau sekelompok masa akan sesuatu. Ideal berarti sesuai, dan sering diartikan sesuai dengan order, tidak disorder. Entah itu bekaitan dengan keinginan, pemikiran, fungsi, estetik, dan sebagainya atau bahkan kesemua unsur tersebut. Karena ideal merupakan simbol tertinggi, maka akan sulit dicapai seseorang terlebih lagi kelompok, bahkan masyarakat untuk memenuhinya. Tulisan ini dilatarbelakangi oleh keraguan-raguan saya terhadap segala sesuatu yang mereka bilang ideal. Hal ini karena sebenarnya tentu ada unsur ataupun nilai yang telah mereka reduksi dari tujuan atau maksud sebenarnya untuk mencapai kata ideal, sehingga yag terjadi bukalah ke-ideal-an sebenarnya. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya utopia setiap manusia terlalu tinggi untuk dijangkau. Bukankah manusia tidak pernah puas? Kata-kata ideal yang mereka gunakan adalah bentuk dari keputusasaan terhadap kondisi yang diinginkan, tetapi bagi orang lain itulah ke-ideal-an mereka. Dan ketika mereka sampai ke titik tersebut mereka tidak pernah lagi megatakan bahwa “Ini ideal untuk saya.”

Maka bagaimana manusia bisa membuat kota ideal?

Kota merupakan ekosistem yang kompleks. Kota ideal adalah kota yang dapat memenuhi segala kebutuhan hidup manusia di dalamnya, memberi keamanan, ketenangan, kenyamanan, keindahan, kesejahteraan, dan keteraturan. Tapi sebenarnya manusia golongan mana yang kebutuhannya dipenuhi? Dan siapa atau golongan mana yang memberi status ideal tersebut?

Mari kita mengambil contoh yang lebih kecil agar ke-ideal-an ini mudah dipahami. Anggap saja sebuah rumah adalah sebuah kota dan anggota keluarga yang tinggal di dalamnya adalah penduduk yang memiliki beragam umur, status sosial, aktivitas, dan kebutuhan. Ketika seseorang wartawan dari sebuah majalah rumah tinggal bertanya,
wartawan : “Apakah menurut anda rumah ini telah ideal bagi anda?”
kepala keluarga : “Oh tentu, kami telah membuat kolam renang di taman belakang, ada home
theatre, juga ada ruang fitness.setaip kamar memiliki kamar mandi didalamnya, juga televisi. Hal ini membuat keluarga saya tidak perlu kemana-mana lagi. Saya telah memenuhi semua kebutuhan keluarga saya.”

Itu adalah ungkapan ideal sang kepala keluarga, dimana ternyata definisi ideal sang ayah bukanlah definisi ideal anggota keluarga yang lain. Bagi si Ibu rumah ideal adalah rumah yang tak perlu ada kamar mandi disetiap kamar sehingga setiap paginya beliau bisa mendengar anak2nya berteriak berebutan kamar mandi, menggedor-gedor pintu, dan akhirnya belajar berbagi. Rumah yang ideal bagi si ibu adalah rumah yang televisinya hanya satu, sehingga di setap malamnya semua anggota keluarga bisa berkumpul bersama, menonton dan mengobrol.

Bagi si anak, rumah yang ideal adalah rumah yang lega sehingga iya bisa bermain sepeda di dalam saat hari hujan. Tanpa perlu takut dimarahi si ibu dan ayah barang-barang berharga mereka yang mahal itu pecah atau rusak. Rumah yang dindingnya bisa dijadikan kanvas untuk menggambar apa saja yang dia inginkan.

Keadaan diatas menunjukkan bahwa definisi ideal setiap orang belum tentu sebuah keteraturan, dimana segala sesuatu harus berjalan sesuai order, indah dan dilakukan pada tempatnya. Dengan demikian, segala sesuatu yang disorder dianggap jelek, buruk, dan tidak boleh muncul kepermukaan. padahal seperti contoh diatas bahwa ideal tentunya berurusan dengan “rasa” masing-masing orang yang nantinya membentuk definisi ideal-nya.

March 30, 2009

Beauty and The Beast & Ideal City

Filed under: ideal cities — dewiandhika @ 16:03
Tags: , ,

Pada kuliah awal mengenai ‘ideal city’ dalam salah satu presentasi menyebutkan bahwa dalam sebuah ideal city tidak boleh ada sesuatu yang jelek,
…no ugliness, no poverty...
no old houses, no cemeteries, no prisons, no slaughter houses with ugly appereance…
Bahkan ada pula yang menyebutkan bahwa ugliness = evils of the city

Menurut Cousin (1994) ugly dikatakan sebagai suatu objek yang ada dan dianggap sebagai suatu objek yang tidak berada di tempat seharusnya.
The ugly object is an object which is experienced both as being there and as something that not should be there. That is the ugly object is an object in the wrong place (Cousins, 1994: 64).
Sehingga pada salah satu pandangan yang berkaitan dengan ideal city, ugly adalah sesuatu yang ditolak, harus tidak terlihat, dan bahkan harus dihilangkan “need to be destroyed”.

Namun apakah benar seperti itu?, apakah semua yang ugly itu harus lenyap dari muka bumi?. Seperti dalam cerita Beauty and The Beast, dimana The Beast―makhluk yang memiliki banyak bulu, berwajah mirip binatang hidup di lorong-lorong bawah tanah, sembunyi dari manusia lainnya karena keadaannya yang berbeda. Apakah kemudian The Beast ini tidak berhak untuk hidup?, apakah lalu ia berpengaruh buruk terhadap sekitarnya?. Bila kita mencoba membalik keadaan, bahwa semua yang dianggap Beauty memiliki keadaan fisik seperti The Beast, dan ada satu The Beauty yang jauh berbeda dari The Beast. Apakah kita masih menganggap The Beast merupakan sebuah objek ugly?, ataukah The Beauty yang berbeda dari kebanyakan The Beast itu yang dianggap ugly?, sehingga kemudian yang awalnya dianggap The Beast disebut sebagai The Beauty, dan The Beauty lah yang kemudian disebut The Beast?.

Maka bukankan ugly hanyalah sebuah masalah biasa atau tidak terbiasa dalam menghadapinya?. Seperti The Beast yang tetap membutuhkan makan, minum, tidur, dan kebutuhan hidup lainnya. Bahkan ia tidak berhati jahat, bahwa ia suka menolong dan menyelamatkan orang lain. Bahkan sebenarnya ada manusia yang memiliki penampilan pada umumnya, namun sebenarnya ialah yang memiliki hati dan tindakan yang seharusnya disebut The Beast. Bukankah yang sepatutnya dikatakan evil of the city adalah si manusia berhati buruk rupa?. Sehingga sebenarnya karakter hati yang buruk rupalah yang seharusnya dihilangkan, bukan The Beast yang dilihat secara fisik oleh mata yang harus dihilangkan dari muka bumi.
…And so it is, from the point of view of desire, that ugly object should not be there. Its character as an obstacle is what makes it ugly (Cousins, 1994: 64).

Daftar pustaka
Cousins, Mark (1994). The Ugly. AA Files 28

March 1, 2009

The Good Classical Architecture?

Filed under: classical aesthetics — r1ss @ 21:20
Tags: , , ,

Di dalam arsitektur klasik terdapat beberapa metode order yang berbeda-beda. Namun sebenarnya metode-metode order ini mempunyai persamaan dan inilah yang menurut saya sebagi ciri pemikiran arsitektur klasik yaitu dimana metode order klasik selalu mempunyai beberapa principle procedures yang selalu dinyatakan sebagai syarat untuk arsitektur yang baik. Metode-metode klasik ini entah metode Vitruvius ataupun metode JNL Durand menganggap untuk membentuk arsitektur yang baik adalah dengan metode mereka masing-masing. Mereka secara gamblang menyatakan dengan pasti bahwa metode mereka adalah bertujuan untuk membentuk arsitektur yang baik atau arsitektur yang memiliki keindahan.

“Good Architecture guaranteed by a radically systematic principle” (JNL Durand)

“The good is always beautiful and the beautiful never lacks proportion“ (Plato)

Dalam arsitektur klasik selalu terdapat metode-metode pasti yang bertujuan untuk membentuk arsitektur yang baik. Metode itu seperti tidak memberikan pilihan lain yang mungkin bisa membentuk arsitektur. Seperti juga yang dikatakan oleh Durand bahwa untuk mengkomunikasikan bangunan maka yang diperlukan hanyalah denah, tampak,p otongan. Dan dalam proses perancangan dengan metode ini maka yang dioperasikan yang pertama juga denah dan tampak. Dimana didalam denah ini didesign dengan hitungan-hitungan yang seirama seperti 1-1/2-1-1/2. Apabila ada hitungan yang tidak seirama seperti 1-1/2-2-1 maka apa akan dianggap tidak baik? Apa kebutuhan luasan ruang dapat ditentukan hanya dengan hitungan yang seirama? Lalu apabila denah dan tampak sebegitu pentingnya, apakah konteks sekitar menjadi tidak penting untuk metode ini? Apa sistematika seperti ini yang dikatakan sebagai arsitektur yang baik?

Dan apabila Metode Vitruvius yang dikatakan baik dengan menitikberatkan pada proporsi dan kesimetrian, yang tujuan dibentuknya sesuatu yang proporsional mungkin sebenarnya untuk beauty appearance, apa ini juga yang dikatakan sebagi arsitektur yang baik?

Baik metode Durand ataupun metode Vitruvius yang berperan dalam arsitektur klasik sebenarnya malah membentuk kekhasan dari arsitektur klasik itu sendiri. Dimana selalu ada ketentuan-ketentuan yang dianggap baik. Dan pengaplikasian arsitektur klasik yang terjadi pada masa sekarang mungkin malah sebenarnya tidak mengaplikasikan metode siapapun, karena pada kenyataannya arsitektur klasik mempunyai ciri yang khas yaitu seperti adanya pediment triangle, kolom-kolom, atau arc. Pengaplikasian arsitektur klasik yang saat ini lebih hanya menggunakan komponen-komponen arsitektur klasik itu seperti kolom tau arch yang mungkin tidak memenuhi golden section atau hitungan denah yang seirama.

piazza-d

Contohnya yaitu yang ada di Indonesia seperti pembangunan resident-resident atau mal yang bergaya arsitektur klasik seperti gambar disamping. Dimana bangunan itu dikatakan arsitektur klasik karena adanya komponen-komponen arsitektur klasik seperti kolom dan arch. Dikatakan hanya bergaya arsitektur klasik namun entah menggunakan metode Vitruvius atau Durand. Lalu apa arsitektur ini juga bisa dikatakan arsitektur klasik? Atau mungkin ini arsitektur klasik yang baik?

February 24, 2009

Beauty in Deconstructivist Architecture

“We don’t want architecture to exclude everything that is disquieting. We want architecture to have more… Architecture should be cavernous, fiery, smooth, hard, angular, brutal, round, delicate, colorful, obscene, voluptuous, dreamy, alluring, repelling, wet, dry and throbbing.” (Himmelblau 1988: 95)

Apabila kita melihat dekonstruksi arsitektur dimana ia menggunakan geometri sebagai ekspresi kebebasan bentuk dalam berarsitektur, bagaimana bila ia dihubungkan dengan prinsip Vitruvius dalam buku Ten Books on Architecture? Dapatkah saya mengatakan bahwa keindahan yang menurut Vitruvius adalah ketika elemen pembentuk berada dalam proporsi yang sesuai dengan prinsip simetri tidak berlaku dalam dekonstruksi arsitektur? Mungkinkah mengatakan sesuatu yang brutal, berada di luar konsep harmony, unity dan stability dapat kita katakan beauty?

“…and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry” (Vitruvius: Ten Books On Architecture. Book One. Chapter Three)

Secara pribadi, well, saya mengatakan bahwa karya – karya mereka sangat indah karena menggambarkan adanya kebebasan dari keterikatan aturan proporsi dan simetri. Karya – karya mereka menggambarkan lepasnya diri mereka dari doktrin ataupun pengalaman manusia di masa lalu. Pengalaman dari masa lalu, contohnya pendidikan yang diperoleh dari masa Taman Kanak – Kanak hingga SMU, kita hanya dikenalkan pada bentuk – bentuk geometri dasar; kubus, pyramid, balok, prisma, silinder, bola, dan lainnya. Pada saat itu, karakter diri kita sebagai pihak pasif yang menerima begitu saja, tanpa disadari membentuk pemikiran tersendiri bahwa itulah yang dimaksud geometri. Apakah memang geometri hanya sekedar itu? Padahal bila kita telaah kembali arti kata geometri, yaitu mengukur bumi (measuring the earth), geometri bukan hanya sekedar itu. Bumi adalah alam, dan alam, menurut saya, secara mendasar adalah suatu hal yang dinamis dan tidak statis atau diam, dalam arti penuh perubahan. Alam adalah suatu hal yang dapat saya katakan bebas, tidak terikat. Dari pemahaman ini, saya kemudian menyimpulkan bahwa geometri adalah suatu hal yang bebas dan penuh kedinamisan.

Kembali kepada topik, jika memang segala yang kita katakan indah adalah berdasar apa yang dikatakan Vitruvius, maka dapatkah saya katakan bahwa dekonstruksi arsitektur tidak memiliki nilai keindahan? Melihat karya mereka tidak berdasar pengetahuan atau pengalaman banyak orang yang cenderung melihat keharmonisan dalam bentuk ataupun berdasar feeling akan adanya proporsi. Mereka juga tidak melakukan perhitungan matematika terlebih dahulu untuk menemukan nilai phi. Keindahan menurut Vitruvius, tidakkah ia bersifat mengikat terhadap bentuk arsitektur yang ada? Apakah adanya golden section untuk menemukan proporsi yang baik sedikit ‘kejam’ sehingga apapun yang berada di luar hitungannya tidak dapat kita katakan indah? If that so, then what will we call this deconstructivist architecture? Bad? Ugly?

Reference:
1. Johnson and Wigley. Deconstructivist Architecture. The Museum of Modern Art, New York.
2. Vitruvius. The Ten Books on Architecture.

February 21, 2009

Siapa(kah) Indah ?

Filed under: classical aesthetics — ayushekar @ 14:35
Tags:

BEAUTY atau indah merupakan suatu sifat yang sulit terdefinisi dengan baik. Artinya tanyakan pada diri anda sendiri apakah arti indah itu? Indah.. ya indah… enak dilihat. dengan jawaban demikian, ada banyak sanggahan yang akan mendarat kepada anda. Enak dilihat oleh siapa, dari sudut pandang apa, pada kondisi apa, dan lain nya yang dapat melemahkan argumenasi anda. Oleh karena itu variabel keindahan pada arsitektural penting untuk dijabarkan. Dengan demikian ketika seseorang ingin membuat sesuatu yang indah dia harus memenuhi variabel A,B,C,D,E….. Tapi bukankah ke-indah-an tersebut merupakan suatu rasa yang mudah dipengaruhi dan sulit dijelaskan.

Saya sendiri membagi definisi indah ke dalam dua pendapat, pertama deinisi berdasarkan pendapat pribadi, kedua definisi berdasarkan pendapat umum.

Definisi berdasarkan pendapat pribadi bersifat bebas karena dikembalikan lagi kepada pengalaman, pengetahauan,latar belakang, kondisi, dan rasa yang dimiliki oleh seseorang. Jadi sesuatu benda bisa saja dikatakan indah sekali oleh manusia A, setengah indah oleh manusia B, atau tidak indah oleh manusia C. bahkan manusia pun bisa mengangkat pendapatnya diantara sangat indah-setengah indah, misalnya cukup indah oleh manusia pra B. Tentunya akan ada argumentasi dibelakang semua pendapat itu apakah sadar atau tidak sadar. Argumentasi yang secara sadar dikemukakan karena pengalaman, latar belakang, atau pengetahuan seseorang terhadap benda tersebut. Sehingga dia bisa membandingkan dengan baik benda tersebut, karena pada dasarnya argumentasi sadar ini dipengaruhi oleh logika. Sementara argumentasi tak sadar lebih dipengaruhi oleh kondisi kesehatan atau emosi si manusia itu sendiri. Sehingga variabel situasi, kondisi, mood (perasaan) yang saat itu terjadi sangat mempengaruhinya.

Definisi indah menurut pendapat umum merujuk pada definisi yang tidak lebih luas dari definisi pribadi. Hal ini dikarenakan adanya suatu kesepakatan atau keterpaksaan. Karena pada kenyataannya definisi indah seperti dimonopoli oleh segelintir orang atau kelompok yang punya kuasa lebih atau dipercaya pnya kuasa tersebut. Misalkan saja pada abad ke 19, modern style dianggap sebagai parameter keindahan banguna pada masa tersebut. Dimana modern style ini dicetuskan oleh beberapa arsitek yang diyakini sebagai “star” , atau berkeahlian (capable) di masa itu. Sehingga paradigma bangunan indah yang diyakini adalah yang berbentuk kotak, tanpa ornament, beratap datar, berjendela besar, dan sebagainya. Sehingga muncullah istilah spirit of the age pada dunia arsitektur.

Jadi, apakah definisi indah tersebut?

February 18, 2009

Proportion in Design; Feeling or Calculation?

Filed under: classical aesthetics — def1 @ 13:10
Tags: ,

Ketika kita melihat sesuatu itu indah atau jelek sebenarnya apa yang kita lihat sehingga dapat menyimpulkan demikian, hal apa yang membedakannya. Mungkin salah satunya kita melihat adanya ketidaksesuaian atau ketidak pas-an pada sesuatu yang kita katakan jelek. Sesuatu (sebuah benda) terbentuk dari komponen – komponen yang tersusun sehingga membentuk bentuk tertentu, komponen –komponen tersebut membentuk suatu komposisi dengan memperhatikan perbandingan jarak dan atau ukuran antar bagiannya sehingga komposisi yang terbentuk menciptakan suatu kesan yang ‘pas/sesuai’. Dimana disebutkan oleh Plato,in Timaeus : “the good is always beautiful and beautiful never lacks proportion” yang menjadi pertanyaan bagi saya disini adalah perbandingan yang kita peroleh sehingga membentuk komposisi yang indah itu sebenarnya kita peroleh darimana? Berdasarkan feeling kah atau harus berdasarkan pada hitungan tertentu? Dan apakah yang menggunakan feeling akan menghasilkan suatu komposisi dengan perbandingan yang sama tepatnya dengan bila perbandingan itu dihitung berdasarkan hitungan tertentu, apakah bisa sama indahnya?

Ketika seorang arsitek mencoba untuk mensketsa sebuah desain apakah saat itu mereka memperhitungkan perbandingannya secara ‘matematika’? tentunya mereka akan membuat dengan proporsi yang pas tapi menurut saya sebagian besar adalah hasil dari feeling, entah pendapat saya benar atau tidak. Tetapi dari pengalaman saya selama menjalani studio perancangan, rasanya sedikit sekali yang mengacu dan berdasarkan pada perhitungan secara matematika, yang justru diutamakan adalah desain itu terlihat indah dan itu adalah berdasarkan feeling kita, kita mencoba sampai kita mendapatkan suatu komposisi yang pas. Atau mungkin selama ini sebenarnya ketika kita mencoba untuk menemukan proporsi yang pas kita telah melakukan perhitungan-perhitungan yang secara tidak langsung kita lakukan, jadi feeling yang kita dapat itu sebenarnya kita peroleh karena kita telah mendapatkan perhitungan yang sesuai?

February 15, 2009

Classical Architecture

Filed under: classical aesthetics — r1ss @ 20:27
Tags: , , ,

Style Vitruvius pada arsitektur yang lebih condong ke Arsitektur Klasik merupakan arsitektur yang sangat terpaku pada order, proporsi, dan simetri pada setiap aspek bangunannya. Seperti yang dikatakannya dalam buku Ten Books of Architecture bahwa arsitektur bergantung pada order, pengaturan (arrangement),eurythmy, simetri,propierty,dan ekonomi. Dan kemudian keenam aspek ini yang mengatur setiap aspek-aspek pada design arsitektur klasik tersebut. Seperti peletakan bangunan yang cocok yang sesuai dengan penerangan Jupiter, bulan, atau kecocokan proporsi antara lebar dan panjang pada setiap bagian bangunan. Bahkan Vitruvius juga menjelaskan banhwa proporsi yang tepat pada bangunan bisa mengacu pada proporsi tubuh manusia dimana ada kepala,badan, dan, kaki.

Thus in the human body there is a kind of symmetrical harmony between forearm, foot, palm, finger, and other small parts; and so it is with perfect buildings.” (Ten Books of Architecture)
Dijelaskan bahwa dengan proporsi yang sempurna seperti pada tubuh manusia maka bangunan itu akan menjadi bangunan yang sempurna. Namun yang ingin saya pertanyakan adalah apa bangunan itu bisa selalu dikatakan sempurna ketika bangunan itu selalu terpaku pada aturan-aturan yang sudah ditetapkan pada arsitektur klasik. Apakah bangunan yang terbagi dengan tepat antara kepala, badan, dan kaki bisa dijadikan acuan sebagai arsitektur yang baik?
klasik-edit

Mungkin sebenarnya apabila dilihat dari perspektif lain, aturan-aturan ini malah seperti mengikat kita untuk membuat sesuatu yang sama secara terus-menerus. Sehingga geometri dari arsitektur ini pun menjadi sangat kaku. Dan ini mungkin yang mambuat arsitektur klasik sangat khas dalam fasad maupun denahnya. Keterikatan akan aturan-aturan arsitektur klasik ini juga sempat dikatakan dalam sebuah buku S,M,L,XL, dimana ketika diadakan rekonstruksi kembali kota Rotterdam muncul pendapat-pendapat bahwa mereka menginginkan kota baru yang tidaklah ideal, dimana harus terikat dengan rules,propositions sehingga membuat kota itu malah terasa sangat steril bagi mereka.
“ Orthogonality become suspect. “What about 60 degrees, or 120 degrees?”..It can dance on angle..The new centre was “not really a city”..How about freedom of rules,propositions,purpose..”(S,M,L,XL.Rem Koolhas)

Arsitektur klasik yang dominan sangat orthogonal menjadi dianggap kaku, dan tidak diinginkan. Karena kakuan dari aturan-aturan itu membuat kota tersebut menjadi tidak familiar bagi masyarakatnya sendiri. Lalu muncul pertanyaan lain, apakah adanya ketidakcocokan ini berkaitan dengan waktu. Dimana mungkin arsitektur klasik itu sangat cocok di waktunya dulu namun tidak lagi cocok di waktu yang sekarang? Pengembangan arsitektur klasik pada zaman-zaman setelahnya juga sempat dilakukan dimana memunculkan style yang baru yaitu style neo-classical. Namun pengembangan ini juga tidak mengubah sebagian besar aturan-aturan pada arsitektur klasik. Contohnya yaitu pada Gereja Immanuel yang dibangun pada tahun 1832.

gereja-gambir

Penggunaan proporsi kepala,badan,dan kaki seperti pada arsitektur klasik itu tetap ada, namun muncul pengembangan seperti digunakannya dome(kubah) pada bagian belakang bangunan. Namun pengembangan ini tidak berarti terlalu besar karena penampakan bangunan yang tetap menyerupai dengan arsitektur klasik pada masa-masa sebelumnya. Aturan-aturan yang terus diikuti ini membuat arsitektur neo-classic juga memiliki bentuk-bentuk geometri yang kaku sama seperti arsitektur klasik. Lalu apakah arsitektur yang seperti ini yang disebut sebagai arsitektur yang baik? Apakah perkembangan bentuk-bentuk geometri yang lebih beragam dan telah berkembang saat ini tidak bisa dikatakan sebagai arsitektur yang baik juga?

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.