there’s something about geometry + architecture

April 4, 2011

Graffiti dan Ideal City

Filed under: architecture and other arts,ideal cities — adrianadhin @ 20:27
Tags: , ,

Tulisan ini akan membahas mengenai graffiti yang menurut saya adalah salah satu pembentuk ideal city.

Sebelumnya, graffiti adalah coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Dalam perkembangannya kini, graffiti sering digunakan sebagai sarana ekspresi ketidakpuasan terhadap keadaan sosial maupun politik. Karena itu, banyak orang yang beranggapan bahwa graffiti merupakan salah satu bentuk vandalism/perusakan sarana umum yang merusak atau mengotori ruang publik.

Pandangan yang demikian menurut saya adalah pandangan yang terlalu sempit dan sebelah mata. Bagi saya, graffiti yang banyak berkembang di Jakarta belakangan ini justru merupakan sebuah alternatif untuk menciptakan Jakarta sebagai kota yang ideal bagi para penduduknya. Seperti yang disebutkan dalam kuliah sebelumnya yaitu :

ideal city : an alternative to the chaotic situation, which can be achieved through social reconstructing and ordering of the chaotic environment.

Sebagai contoh penjelas, sebut saja salah satu grafiti Popo (seorang seniman Graffiti yang cukup ternama di Jakarta) yang bertajuk “Jangan Pucat Liat Jakarta Macet” tepat di tembok sebelum gerbang tol Lenteng Agung I di Jalan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Gambar tersebut memperlihatkan Popo yang sedang kesal ketika berada di dalam kendaraan menyerupai UFO atau pesawat luar angkasa yang terjebak dalam kondisi kemacetan.

Sang seniman mengaku terinspirasi oleh masyarakat yang sering sekali mengeluh tentang kemacetan, padahal hal tersebut memang sangatlah sering terjadi di Jakarta. Melalui graffiti yang ia buat, ia ingin mengkritik pemerintah, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih sabar menghadapi kemacetan yang terjadi setiap hari tersebut.

Graffiti disini menjelaskan bahwa ideal city harapan masyarakat adalah kota yang tidak macet dan memiliki arus lalu lintas yang lancar. Mengingat hal tersebut tidak pernah terlaksana selama bertahun-tahun lamanya, sang seniman berusaha melakukan social reconstructing, dengan berusaha mengubah cara pandang masyarakat, dan membuat masyarakat lebih menerima hal tersebut.

Selain sebagai kalimat penenang bagi orang-orang yang dilanda kemacetan, kalimat ini juga berfungsi ganda sebagai kalimat sarkastik yang ditujukan bagi pemerintah. Dengan demikian, sang seniman telah berusaha ‘merapikan’ lingkungan yang tidak seharusnya (ordering of the chaotic environment)

Bagi saya, yang dilakukan oleh Popo sang seniman graffiti ini adalah salah satu bentuk penyuaraan diri mengenai ideal city dengan menggunakan versinya sendiri. Walaupun hingga sekarang, tidak ada tindakan langsung dari pemerintah untuk menjawab kritikan tersebut, setidaknya Popo dan seniman graffiti lainnya telah berusaha memasukkan konsep ideal city mereka ke dalam hati orang-orang yang melihat karya mereka. Ideal city disini memang bukan yang dilihat secara fisik, namun dengan dapat menerima kondisi Jakarta apa adanya sekarang, orang-orang telah membentuk ideal city baru bagi dirinya masing-masing yang terasa lebih harmonis dan menyenangkan.


Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Grafiti

http://bataviase.co.id/node/524679

March 26, 2011

Optical Art

Filed under: architecture and other arts,perception — Prillia Indranila @ 15:43
Tags: ,

“Optical art is a method of painting concerning the interaction between illusion and picture plane, between understanding and seeing.” Op art works are abstract, with many of the better known pieces made in only black and white. When the viewer looks at them, the impression is given of movement, hidden images, flashing and vibration, patterns, or alternatively, of swelling or warping.” (http://en.wikipedia.org/wiki/Op_art)

Ilusi optik bukanlah hal yang asing lagi bagi kita, bahkan banyak seniman yang menggunakannya dalam karyanya sehingga menjadi karya seni yang menarik, yaitu optical art. Tahun lalu saya berkunjung ke Science Center di Singapore, dan di sana banyak karya-karya seni yang berkaitan dengan sains dan teknologi, termasuk pula optical art dengan bermacam-macam jenis. Kami sempat memotret beberapa optical yang terdapat di sana, contohnya adalah seperti ini:

Optical Art

Jika kita perhatikan, gambar tersebut menunjukkan wajah seorang bapak-bapak yang memakai topi seperti topi tentara dan baju berkerah dengan huruf dan angka di kerahnya. Apakah hanya itu saja? Ternyata tidak, setelah gambar tersebut dibalik 180 derajat, maka akan menghasilkan gambar seperti ini:

Optical Art

Ternyata apabila kita melihat gambar tersebut dari posisi yang berbeda maka akan menghasilkan gambar yang berbeda. Kalau dilihat dengan cara seperti ini, yang terlihat adalah wajah bapak-bapak berkumis yang sedang membuka mulutnya dan mengenakan topi yang berbeda. Selain karya tersebut, ada satu karya lagi yang membuat saya tertarik:

Optical Art

Foto-foto oleh Annisa Marwati

Gambar tersebut terlukis di lantai. Apabila kita melihat gambar yang ada di lantai, akan terlihat gambar sebuah perahu yang terombang-ambing oleh ombak. Namun bagaimana kalau dilihat melalui sebuah silinder yang sengaja ditaruh di depan gambar tersebut? Wah, ternyata pada silinder yang merefleksikan gambar tersebut terlihat gambar yang sama sekali berbeda, yaitu gambar seorang laki-laki. Sungguh hebat menurut saya, sampai sekarang saya pun belum mengerti benar bagaimana cara membuatnya agar bisa tepat menghasilkan gambar yang berbeda. :D

Kedua contoh tersebut merupakan optical art yang mengandalkan persepsi manusia, tergantung bagaimana cara mereka melihatnya, walaupun dengan cara yang berbeda: pada gambar pertama diperlukan posisi yang berbeda untuk melihat sesuatu yang lain, sedangkan gambar kedua diperlukan media lain yang berbeda jenis permukaan untuk dapat menemukan bentuk lain, yaitu permukaan cembung pada silinder. Hal tersebut sesuai dengan teori Gibson (1979), yaitu “Ecological approach to perception”. Jadi, apabila manusia sebagai observer-nya itu bergerak, maka persepsi akan ikut beruban. Prinsip inilah yang digunakan para seniman untuk membuat karya-karya seperti ini, walaupun pada kedua contoh di atas hanya arah memandangnya saja yang berubah.

Apabila menyangkut tentang moving observer, ada contoh menarik yang saya temukan kemarin, yaitu Roy Lichtenstein House yang terletak di National Gallery of Art’s Sculpture Garden di Washington DC, Amerika Serikat.

Lichtenstein House

Video tentang Lichtenstein House:

 

(kalau videonya nggak muncul, ini link-nya: http://www.youtube.com/watch?v=jIpdajUHVtI)

Pada foto tersebut, jika kita melihatnya dalam posisi orang yang memotret Lichtenstein House ini, ‘rumah’ tersebut seolah-olah terlihat seperti rumah dalam wujud tiga dimensi, padahal sebenarnya ‘rumah’ ini hanya berupa sebuah bidang dua dimensi. Apabila kita melihatnya seperti yang ditunjukkan dalam video, ternyata rumah tersebut seolah-olah bergerak sesuai dengan arah pandang kita seiring kita bergerak seperti benda tiga dimensi. Teori Gibson tentang kita sebagai moving observer inilah yang digunakan pembuatnya sebagai ilusi optik ini, untuk ‘mentransformasikan’ bidang dua dimensi menjadi bidang 3 dimensi.

Teori Gibson menjelaskan mengenai human behavior dalam dunia tiga dimensi, sehingga apa yang kita lihat tergantung bagaimana dan dari mana kita memandangnya, itulah persepsi. Persepsi inilah yang dimanfaatkan seniman optical art dalam membuat karya seninya sehingga karya tersebut seolah-olah bermain dengan penglihatan kita. Tertarik untuk mencoba membuat optical art? :D

Referensi:

http://www.coolopticalillusions.com/blog/2007/06/06/house-illusion-3-different-videos-artist-roy-lichtenstein/

March 24, 2011

Light Graffiti dan Cahaya yang Bergerak

Filed under: architecture and other arts — klarapuspaindrawati @ 19:45
Tags: , ,

Ketika kita melaju dengan kecepatan tertentu di dalam sebuah mobil pada malam hari melalui sebuah jalan, mungkin kita tidak menyadari bahwa gerakan dari kendaraan yang kta kendarai menghasilkan garis – garis dinamis dari cahaya lampu yang terpancar dari badan kendaraan. Bagaikan menggoreskan warna – warna menarik dari kuas di situasi malam yang gelap, begitulah yang terjadi ketika kendaraan yang meluncur di jalan meninggalkan berkas cahaya di sepanjang jalurnya.

Image and video hosting by TinyPic

Cahaya yang bergerak di sepanjang jalan yang sebenarnya berasal dari kendaraan yang melintas di malam hari pada gambar di atas, tertangkap kamera dan menampilkan gambaran yang sangat menarik, cahaya – cahaya itu seakan sedang memacu kecepatan di atas sebuah jalur. Kesan yang ditampilkan mempengaruhi persepsi kita yang melihat foto – foto yang menangkap kecepatan cahaya ini. Salah satunya, cahaya yang sebenarnya hanya merupakan “jejak” peninggalan gerakan kendaraan itu justru menjadi seperti objek yang sedang melalui jalan, padahal kita tidak akan bisa menyentuh objek tadi.
Persepsi ini lalu dikembangkan dalam light graffiti, salah satu bentuk seni painting yang kini semakin populer. Light graffiti merupakan seni menggambar atau menulis di medium udara pada kondisi ruang atau lingkungan gelap dengan menggunakan benda yang mengeluarkan cahaya, seperti senter. Hasil goresan – goresan itu bisa menjadi sangat menarik, lucu, atau unik sesuai kreasi dari orang yang menggambarnya. Kreasi light graffiti dapat mempengaruhi persepsi orang yang melihat hasil jepretan kamera yang mengabadikannya. Beberapa contoh foto di bawah menunjukkan bagaimana light graffiti mampu membuyarkan batasan antara objek manusia yang dapat disentuh dengan objek cahaya yang tak dapat disentuh yang turut difoto bersama manusia tadi. Bahkan bentukan cahaya – cahaya tadi yang menggambarkan bentuk – bentuk barang yang biasa digunakan oleh manusia atau bahkan hewan peliharaan difoto seakan – akan sedang digunakan oleh manusia, terjadi interaksi antara manusia dan objek bentukan cahaya tadi di dalam foto. Contohnya saja, gaun yang dibentuk dari garis – garis cahaya, orang yang sedang bermain gitar dari cahaya, atau seseorang yang sedang menuntun anjingnya yang berasal dari garis – garis cahaya.

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Lalu, mengapa semakin banyak orang yang tertarik dengan light graffiti? Salah satunya mungkin karena seni ini menawarkan cara baru dalam menggambar dan menulis, yaitu dengan medium udara, bukan lagi kertas atau kanvas. Selain itu, cahaya yang menjadi bahan “cat warna” untuk menggambar juga menjadi daya tarik tersendiri, sifatnya yang bersinar di tengah kegelapan menjadikan lukisan – lukisan yang terdiri dari goresan – goresan cahaya tadi “bersinar”. Tetapi, ada satu syarat yang harus dipenuhi untuk membuat sebuah gambar light graffiti, gambar hanya akan dapat diproduksi dengan tangkapan kamera, hasil dari tangkapan tadilah yang baru bisa dinikmati sebagai light graffiti. Proses produksi gambar, yaitu saat menggores cahaya dengan cara menggerakkan benda yang mengeluarkan cahaya harus dilakukan dengan cepat sebelum jejak cahaya meghilang. Begitu pula saat harus menangkap gerakan benda yang meninggalkan jejak cahaya, prosesnya harus dilakukan dengan cepat sebelum jejak cahaya menghilang dan bentuk objek dengan demikian tidak dapat terbentuk dengan sempurna. Light graffiti merupakan salah satu jenis karya seni yang mendorong kreativitas tinggi dengan teknik yang jitu dan tentunya imajinasi yang memanfaatkan persepsi akan interaksi yang terjadi dengan manusia yang bermain dengan cahaya tersebut.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Light_painting

http://www.google.co.id/imglanding?q=speed+of+light&um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=fF5SC91yiwB5JM:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbm=isch&tbnid=E09Y0jkGg27w9M:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=H988GY47x3xrgM:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=cPeCb2DyknYBHM:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=_5ZSR1NjaxaUpM:&imgrefurl

Fractal in Traditional Art

Filed under: architecture and other arts,locality and tradition — austronaldo @ 06:34
Tags: ,

Fraktal, secara sederhana, merupakan konsep matematika yang membahas kesamaan pola pada semua skala. Jadi pola yang sama dapat diulangi dalam skala yang berbeda. Ketika mendengar disebutnya keterkaitan fraktal dengan batik di mata kuliah lain, saya menjadi tertarik untuk mengetahui lebih detail mengenai batik fraktal ini. Ternyata dibalik karya seni tradisional yang indah terdapat logika matematis berupa pola-pola yang tercipta dan dapat diterjemahkan lagi ke dalam software untuk menciptakan pola-pola baru.

Contoh: “E=[A][B][C][D],A=C+FAE,B=C-FBE,C=C?FCE, D=C&FDE” artinya lambang [ ] menandakan percabangan, ‘+’, ‘-‘, ‘&’, ?, menandakan sudut dalam 3 dimensi.
Pola batik yang sudah diterjemahkan dalam rumus fraktal ini dapat dimodifikasi dengan bantuan teknologi komputer sehingga menghasilkan desain pola baru yang sangat beragam. Kita bisa melihat keragaman dari segi grafis, warna, ukuran, sudut dan perulangannya. Disebutkan bahwa fraktal muncul sebagai tanda keteraturan dalam kekacauan (chaos) dalam suatu sitem yang kompleks. Jadi batik memiliki pola yang kompleks dan dapat disederhanakan dengan menggunakan fraktal. Begitu juga alam yang kompleks di dunia ini dapat disederhanakan dengan menggunakan fraktal. Hal ini terkait dengan law of pragnanz pada teori persepsi gestalt dimana orang cenderung untuk mempersepsikan esensi dari suatu objek. “Reality is organized or reduced to teh simplest form possible” – Law of Pragnanz

Batik fraktal ini menggunakan rumus matematis, maka pengolahan dan pengembangan desain selanjutnya akan lebih mudah dan lebih banyak mendapatkan variasi desain yang berbeda dan sangat cepat sekali bila dibandingkan dengan langkah mendesain secara manual. Dengan batik fraktal ini, kita bisa memperbesar dan memperkecil gambar, membuat simulasi gambar, membuat visualisasi desain dengan tiga dimensi sehingga desain batik yang dihasilkan bisa lebih variatif.

Maka saya bisa membuat suatu kesimpulan bahwa pola dapat dirumuskan. Pola dapat diterjemahkan dalam rumusan matematis. Dengan demikian pola-pola lain dapat ditemukan.
Lalu saya menemukan bangunan-bangunan yang menggunakan unsur batik dalam desainnya dimana batik digunakan pada bagian surfacenya. Bentuknya memang kotak namun permainan batik fraktalnya secara kosmetik atau pada bagian kulitnya saja. Inilah contoh yang saya temukan.

Apabila kita melihat pola batik pada kulit bangunan, pola yang digunakan mengikuti pola yang cukup sederhana dan tidak sekompleks pola batik yang ada pada umumnya.
Lalu pada interior Hotel Hilton di Bandung, kita bisa melihat penerapan pola geometris Batik Jawa pada ukiran tekstur tembok yang terbuat dari batu.
Ataupun penerapannya pada bentuk seperti pada contoh karya instalasi ‘A Swirl of Giant Batik’ pada London Festival of Architecture.

Referensi:
Kudiya, Komarudin. Proses Pembuatan Batik Fractal vs Batik Tradisional http://netsains.com/2009/10/proses-pembuatan-batik-fractal-vs-batik-tradisional/

http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=250006&page=67

http://jakartalifestyle.com/news/2010/July/jakarta-news-batik-represents-ri-in-london-festival-of-architecture.html

Institut Teknologi Bandung. “Mathematics in Batik Fractal”, Kombinasi Seni, Sains, dan Teknologi. http://www.itb.ac.id/news/2262.xhtml

March 23, 2011

Ikebana: Bentuk Kecantikan dari Keasimetrisan dan Kekosongan

Filed under: architecture and other arts — klarapuspaindrawati @ 15:49
Tags: , ,

Ikebana, seni merangkai bunga yang berasal dari Jepang merupakan salah satu metode merangkai bunga yang kaya akan nilai seni serta filosofi. Dari sejarahnya, seni merangkai bunga ini muncul di abad ke enam, ketika ajaran Buddha masuk ke Jepang. Salah satu bagian dari ritual di dalam agama Buddha adalah merangkai bunga di altar sebagai persembahan untuk roh – roh orang yang sudah meninggal. Ikebana berasal dari padanan kata ikeru, yang berarti menempatkan atau menyusun kehidupan dan kata hana yang berarti bunga, seni ini mulai dikembangkan di Jepang sejak abad ke 15.

Ikebana memiliki perbedaan pada seni merangkai bunga pada umumnya yang menekan pada komposisi warna yang menarik dari kelopak – kelopak bunga dengan bentuk yang juga beragam. Ikebana justru menekankan pada bagian tangkai dan daun bunga dengan jumlah bunga dalam satu rangkaian diminimalkan. Struktur yang digunakan dalam merangkai bunga adalah geometri dari scalene triangle, atau yang kita kenal dengan segitiga sembarang. Struktur segitiga sembarang ini memiliki filosofi mengenai unsur – unsur pembentuk kehidupan: surga, bumi, dan manusia, atau menggambarkan matahari, bulan, dan bumi.

Beberapa aturan yang diterapkan dalam ikebana adalah:
1. Menggunakan jumlah bunga yang minimal dibanding jumlah tangkai dan daunnya.
2. Layer rangkaian bunga diminimalkan, sehingga akan menampilkan banyak ruang kosong .
3. Penekanan dalam komposisi diberikan pada garis pemberi bentuk.
4. Mengacu pada imajinasi bentuk segitiga sembarang dan asimetri.
5. Perangkai bunga harus dalam situasi hening saat sedang merangkai sebagai wujud rasa hormat terhadap alam dan meresapi alam sebagai pemberi ketenangan bagi pikiran, jiwa, dan tubuh.

Image and video hosting by TinyPic

Dari komposisi dan metode yang diterapkan pada seni ikebana, sebenarnya terkandung beberapa filosofi yang mengajarkan berbagai makna hidup. Dari proses pembuatannya, ikebana mengajarkan ketenangan bagi perangkainya dengan penghayatan terhadap benda alam sebagai sumber ketenangan hidup. Konsep kata Ma, merupakan konsep mengenai kekosongan yang diterapkan pada ikebana. Ma, berarti kosong, ruang void. Kekosongan dalam hal ini menajdi poin utama, hal yang ditonjolkan sebagai sumber energi. Ruang kosong yang terbentuk di dalam rangkaian meemberikan kehidupan bagi bunga – bunga yang dirangkai karena dengan demikian ada ruang – ruang untuk bernafas. Dalam kehidupan, ruang kosong dalam jiwa dan pikiran dibutuhkan untuk menjauhkan diri dari tekanan dan kondisi stres. Ruang kosong pada rangkaian ikebana menjadi penghubung elemen – elemen penyusun yang digunakan dan menciptakan keutuhan. Komposisi asimetris dalam ikebana justru menciptakan keseimbangan dan menggambarkan keasimetrisan sebagai hal yang terjadi secara natural pada benda – benda alam. Ikebana memang bentuk kesenian yang sangat berkaitan dengan penenangan jiwa baik bagi perangkai, maupun bagi orang yang melihat hasil karya ikebana melalui komposisi garis dan keseluruhan elemen rangkaian.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Ikebana

http://www.presentationzen.com/presentationzen/2009/09/0-design-lessons-from-ikebana.html

http://www.suite101.com/content/ikebana-flower-arranging-a98237

http://www.essortment.com/ikebana-flower-arranging-58233.html

http://outsiderjapan.pbworks.com/w/page/24318046/Ikebana

http://www.google.co.id/imglanding?q=ikebana&um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=jKnLVK9XIlbL_M:&imgrefurl

Persepsi Arsitektur dan Desain dengan Geometri yang Saling Terkait

Filed under: architecture and other arts — evita18 @ 14:52
Tags: , ,

Ketika seorang perancang (dalam hal ini pelukis, seniman, ataupun arsitek) menuangkan idenya di suatu media yang menurutnya sesuai dengan idenya, maka si perancang tersebut tidak akan terlepas dari suatu bentuk.
Di dunia ini terdapat begitu macam bentuk yang tak terhitung jumlahnya. Namun menurut ahli-ahli zaman dahulu yang telah meneliti angka agung yaitu phi =1,618 secara geometris, bentuk yang dianggap proporsional dan indah apabila mengikuti perbandingan agung ini. Ini menunjukkan bahwa konsep sebuah ke proporsionalan diukur dari perbandingan geometri yang ada.
Yang saya pikirkan disini adalah jika semua bentuk seperti sudah memiliki perbandingan geometri yang ada lalu apakah itu berarti semua bentuk di dunia ini harus “terikat” pada geometri?
Ketika melihat bentuk-bentuk di alam pun, kita melihat bahwa tidak ada yang benar-benar lurus atau bentuk kaku dari bentuk tumbuh-tumbuhan atau binatang, mereka sangat flexible. Namun sesungguhnya, ke flexibelan mereka pun mengandung order tertentu yang disebut fractal geometri. Fractal geometri merupakan suatu pengorderan pengorganisasian yang menjelaskan bentuk-bentuk alam.
Jika sudah begitu, bentuk alam yang tidak beraturan saja dapat dijelaskan dengan istilah fractal “geometri”,berarti semua bentuk di dunia benar-benar terikat geometri bukan? Benar begitu? Lalu bagaimana dengan para seniman penggambar abstrak?
“Sekilas Seni Abstrak

Louis Fichner dalam Understanding Art (1995) menyatakan, seni abstrak merupakan penyederhanaan atau pendistorsian bentuk-bentuk, sehingga hanya berupa esensinya saja dari bentuk alam atau objek yang diabstraksikan. Abstraksi, mengubah secara signifikan objek-objek sehingga menjadi esensinya saja.

Seni abstrak diciptakan melalui dua pendekatan. Pertama, seni abstrak diciptakan tanpa merujuk secara langsung pada bentuk-bentuk eksternal atau realitas. Ke dua, seni abstrak berupa citraan-citraan yang diabstraksikan yang berasal dari alam. Seni abstrak diciptakan melalui proses mengubah atau menyederhanakan bentuk-bentuk menjadi bentuk geometrik atau biomorfik. Seni abstrak juga dapat diciptakan dalam bentuk ekspresif”.
Melalui bacaan diatas, saya berasumsi bahwa jika memang seni abstrak adalah penyederhanaan bentuk menjadi makna utama atau esensinya saja, berarti kembali pada bentuk-bentuk yang memang telah ada di dunia ini, bahkan bentuk alam yang terkadang menjadi inspirasi bagi seni abstrak pun memiliki order yaitu fractal geometri. Jikalau begitu, mungkin saja, secara subjektif, dapat disimpulkan bahwa abstrak sekalipun mengikuti suatu bentuk geometris yang ada di alam.

sumber :http://liza-pecintasenimurni.blogspot.com/2010/06/membaca-makna-seni-lukis-abstrak.html

March 31, 2010

Art Berbasis Hitungan (Logika dan Argumen)

Filed under: classical aesthetics — meitha28 @ 20:55
Tags: ,

Apakah desain hanya mengandalkan sisi art?? Pertanyaan ini selalu tebayang oleh saya lalu apakah ada suatu desain yang berdasarkan atas logika scientist?? saya sempat terperangah dengan salah satu film ‘Da Vinci Code’ dimana lukisan monalisa tidak hanya berdasarkan atas art dan spontanitas namun dibalik yang terlihat spontanitas terdapat hitungan dan argument yang berdasarkan akan logika hitungan

Hitungan (logika argumen) –>art

Sebagai contoh argumen bahwa art dapat dibasickan atas dasar hitungan bahwa Da Vinci melukis jarak kemiringan hidung memiliki hitungan tersendiri atas dasar jarak antara bumi dengan bulan dan masih banyak contoh lainnya yang membuat saya terperangah bahwa contoh satu buah karya seni dapat dengan sangat mengejutkan bedasarkan logika hitungan yang dapat menghasilkan suatu art yang sangat unik. Terkadang banyak karya seni yang mulanya terlihat art spontan namun ternyata art tersebut memiliki basic kuat lain (logika) yang melatar belakanginya yang membuat karya art tersebut indah. Jadi tidak semua karya art dapat berlangsung secara spontanitas namun terkadang dibalik karya yang baik terdapat argument tersendiri.

“ The concept of proportion is in compotition the most important one wheather it is used consciously or un consciously ” (Matila Ghyka, 1952)

Namun apakah ini juga terpakai dalam bidang arsitektur?? Hal ini juga menjadi suatu pertanyaan besar bagi saya. Apakah suatu karya arsitektur berdasarkan logika hitungan yang kemudian dapat menghasilkan karya tiga dimensi arsitekur dengan seni tinggi??

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.