there’s something about geometry + architecture

March 22, 2011

Melihat Perkembangan Probolinggo sebagai Kota Klasik

Filed under: ideal cities — mijohanes @ 08:44
Tags: ,

Ketika saya sedang mencari bahan di tugas geometri saya, tidak sengaja saya melihat paper yang menarik , yang menceritakan perkembangan Kota Probolinggo di bawah pemerintahan Kolonial Belanda, menurut saya perkembangan kota ini dapat memberi gambaran kepada kita bagaimana sebuah kota dibentuk, dalam kasus ini dibentuk oleh pemerintahan Belanda. Kota Probolinggo merupakan kota pesisir yang berada di Pantai Utara Jawa Timur, Kota ini dibentuk Oleh pemerintahan Belanda sejak dikuasai oleh VOC pada tahun 1973. Dalam Tulisan ini saya ingin memperlihatkan perkembangan kota ini secara singkat dan bagaimana kota itu bisa terbentuk seperti sekarang.  Letaknya yang berada di pesisir membuat kota ini dianggap strategis, terutama setelah Jawa Timur berkembang, Probolinggo dibuat menjadi pusat dagang dan produksi oleh pemerintahan kolonial pada saat itu. Latar belakang sejarah dibalik perkembangan kota ini sangat panjang, dalam blog ini saya hanya ingin memperlihatkan perkembagan kota ini secara morfologi. Perkembangan dari kota ini saya ambil langsung dari tulisan yang saya dapat.

Tahap 1
Free Image Hosting

Analisis tahap 1, kota Probolinggo. Pada masa prakolonial (sebelum th.1743) Pada awalnya Belanda hanya mendirikan pos dagang yang berfungsi ganda sebagai benteng ditepi pantai dan dekat mulut sungai. Diperkirakan pada waktu itu alun-alun dan bangunan yang ada disekelilignya (Mesjid, Kabupaten, dsb.nya) sudah ada. Selain itu juga diduga daerah Pecinan yang memainkan peran utama dalam pasar domestik yang sudah ada.

Disini saya melihat kaitannya dengan Vitruvius, dalam bukunya ditulis bahwa setelah menentukan site sebuah kita, diperlukan akses yang mudah. Dalam hal ini lokasi di pesisir dan dekat dengan pelabuhan. Selanjutnya membangun benteng pertahanan, pemerintahan Belanda tepat melakukan hal ini sebagai batu pertama dalam mengembangkan kota. Tampaknya itulah pola umum yang dikembangkan sejak romawi kuno dan tetap dipakai setidaknya sampai saat itu.

Tahap 2
Free Image Hosting

Analisis tahap 2, kota Probolinggo (th 1743-1850). Pada masa itu Belanda sudah berkuasa penuh atas kota Probolinggo. Pembentukan sumbu utama kota (Heerenstraat- Jl. Suroyo), sudah tampak. Poros utama Benteng – Alun-alun Kantor Asisten Residen) yang menuju Grotepos.

Pada tahapan ini pembangunan akses jalan utama dilakukan, Akses utama tepat arahnya dari pelabuhan menuju Rumah Residen, penggunaan sumbu yang simetri ini mengingatkan kita dengan gambaran klasik sebuah istana yang dapat dilihat dari gerbang utama kota, tepat simetris.

Tahap 3

Free Image Hosting

Analisis tahap 3, Kota Probolinggo (th 1850-1880). Pada tahap ini kota Probolinggo sudah terbentuk seperti ujudnya sekarang. Wujudna berbentuk segi Empat (1.2 x 1.3 Km). Kurang lebih 160 HA. Hanya jalan kereta api yang belum ada waktu itu.

Dari sini kita dapat melihat simetri dari kota, tampak adalah usaha untuk mencapai konsep Ideal City pada masa klasik, Dengan jalan utama sebagai sumbu simetri.

Sebagai perkembangan selanjutnya adalah penambahan akses rel kereta api dan tidak terdapat perubahan mendasar dari struktur kotanya. Dari sini dapat dilihat bagaimana bangsa Eropa, dalam hal ini bangsa Belanda mencoba membuat kota yang Ideal menurut mereka, beberapa tahap utama masih ada keterkaitan dengan pembangunan kota masa masa romawi kuno (vitruvius) pembangunan benteng, jalan utama, dan alun alun dan pemerintahan dibangun berdasarkan urutan yang sesuai dengan apa yang diutarakan oleh Vitruvius.

Pada Kesimpulannya pembangunan kota ini tentu merupakan pembangunan kota pada masa lalu, dengan cara melihat bagaimana kota ini dibentuk dan melihat masyarakat sekarang, maka dapat dipelajari bagaimana pengaruh cara perkembangan kota terhadap masyarakat, apakah konsep ideal city yang dicita-citakan berhasil atau tidak. Apakah simetri pada kota benar-benar membuat kota menjadi lebih baik. Semua ini perlu dianalisis lebih jauh dan menurut saya ini menarik.

referensi:
Handinoto. 1997. BENTUK DAN STRUKTUR KOTA PROBOLINGGO TIPOLOGI SEBUAH
KOTA ADMINISTRATIF BELANDA
. Universitas Petra: Surabaya.(http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/81-005/KOTA%20PROBOLINGGO.pdf

Vitruvius. The Ten Books of Arcitecture. trans by Morris Hicky Morgan, Ph.D, Ll.D

April 6, 2010

Kontekstualitas Dalam Berkarya

Filed under: classical aesthetics — agungsetyawan89 @ 00:00
Tags: , ,

Perbedaan aturan dalam dunia barat dan timur dapat terlihat pada cara pandang terhadap sang seniman terhadap objek dan penerapan terhadap suatu karya. Penggambaran alam melalui sebuah karya dilakukan dengan cara yang berbeda.

Pada masa klasik, terdapat segenap aturan dalam berkarya. Ditinjau dari asal bahasanya maka kata klasik akan berkaitan pada golongan atau status ekonomi pada masyarakat, dalam hal ini golongan paling atas atau yang golongan yang mampu-lah yang menciptakan tata atau aturan dalam seni.

Pada masyarakat Jawa didapat pula hal yang kurang lebih serupa dengan terbentuknya seni klasik. Pada masyarakat jawa terdapat banyak motif batik, dari motif-motif tersebut dapat menggambarkan siapa pemiliknya dari golongan mana dia berasal. Misalnya motif parang yang hanya dapat dipakai pada kalangan keraton, bahkan motif tersebut tidak boleh keluar dari lingkungan keraton. Hal ini menandakan karya tersebut memiliki sifat eksklusif, dimana tidak sembarang orang dapat menggunakannya.

Pengalaman saya ketika mengikuti kelas batik membuat saya sadar bahwa dalam batik tidak ditemukan garis-garis yang lurus. Bila ditinjau dari proses berkarya hal ini disebabkan oleh proses pembuatan motif gambarnya yang tidak menggunakan alat bantu untuk membuat garis lurus seperti penggaris. Pada proses memblok motif dengan malam(lilin) atau proses men-canthing, pembatik menggunakan tangannya langsung tanpa bantuan penggaris untuk mengikuti pola yang telah ia buat sebelumnya (biasanya menggunakan pensil).

Sebelumnya dosen pembimbing saya menerangkan perihal nilai yang terkandung pada garis tidak lurus pada motif batik memiliki makna bahwa di alam tidak ada garis yang lurus. Cabang pohon, ranting, garis pantai, maupun bentuk-bentuk yang ada di alam tidak ada yang lurus.

Sedangkan yang terjadi di dunia barat, dalam membuat sebuah karya aturan-aturan yang harus digunakan adalah komposisi renaissance dan golden section dengan menggunakan garis-garis tertentu. Semua bentuk alam digambarkan ulang berdasarkan garis-garis yang membuat suatu komposisi.

Terlihat bahwa, meski memiliki maksud yang sama yakni penggambaran benda alam pada suatu media, sang pembuat karya memiliki penerapan yang berbeda berkaitan pada cara pandang terhadap alam itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan budaya mereka masing-masing, sedangkan budaya tiap bangsa berkaitan dengan lingkungan alam sekitar tempat mereka hidup. Pemaknaan manusia terhadap alam juga dipengaruhi oleh cara pandang mereka, salah satunya adalah alasan kepercayaan yang mereka anut.

Dikaitkan pada persoalan geometri, kata geo juga memiliki makna yang berhubungan dengan tempat atau konteks yang mempengaruhi wujud suatu benda. Pada suatu karya, konteks tidak hanya mengenai tempat atau lingkungan dimana benda tersebut berada, pola pikir yang mempengaruhi sang seniman, waktu, teknologi dan mungkin masih banyak lagi yang mempengaruhi bentuk suatu benda itu hadir.

April 3, 2009

Munculnya Classical Order

Filed under: classical aesthetics — synurqamariah @ 19:12
Tags: ,

Classical order adalah aturan-aturan seni yang muncul yang diciptakan oleh beberapa orang tertentu pada masa Romawi dan Yunani kuno. Gaya-gaya seni kuno ini khususnya terdapat pada desain bangunan, dibedakan oleh proporsi, profil, detail dan karakteristiknya. Cara paling cepat mengenalinya yaitu dengan melihat tipe kolom bagian utamanya, dimana setiap gaya memiliki entablature-nya masing-masing.

Munculnya classical order ini bukan tanpa sebab. Seperti yang dikatakan oleh D’Arcy Thompson yang mengemukakan bahwa terbentuknya sebuah bentuk (form) merupakan resultan dari kehadiran banyak force yang berada di dalam atau di sekitarnya. Banyak dorongan yang menyebabkan munculnya suatu bentuk. Pada buku berjudul Classical Architecture Oleh Alexander Tzonis, Liane Lefaivre dikatakan bahwa pada masa itu klasik sangat berhubungan aturan sosial dan perkembangan politik [buku berjudul Classical architecture Oleh Alexander Tzonis, Liane Lefaivre]. Aturan sosial pada masa itu yaitu adanya kelas-kelas sosial dalam masyarakatnya. Dalam suatu seminar, Prof Ir. Gunawan Tjahjono, pakar di bidang sejarah arsitektur, pernah mengatakan :“Klasik berasal dari kata bahasa latin CIassicus artinya kelas satu untuk warga (negara) kelas satu. Warga negara terpilih ini yang kemudian menentukan cita rasa baku sekaligus yang dianggap sebagai yang terbaik atau kelas satu pada jaman itu. Termasuk dalam penampilan bangunan. Maka kemudian kata klasik digunakan untuk menunjukkan sebuah karya unggul. Kelas-kelas unggul ini berasal dari Romawi kuno yang memang membagi masyarakatnya ke dalam beberapa tingkatan / kelas. Itu sebabnya setiap hasil karya bangunan dilakukan dengan sangat serius dan begitu indah. Aturan dan proporsinya bertujuan mencapai kesempurnaan.”

Warga negara kelas satu yang dibicarakan adalah merupakan warga yang memiliki kekayaan dan harga diri tinggi. Mereka yang memiliki prestise tinggi ini tentu memiliki selera yang tinggi pula. Mereka tentu menginginkan sesuatu yang mewah dan megah di sekitar mereka. Sesuatu yang mewah dan megah ini tentunya tidak didapat dengan mudah. Oleh karena itu bangunan-bangunan yang dibangun pada masa itu dirancang sedemikian megahnya. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Gunawan, “aturan dan proporsinya bertujuan mencapai kesempurnaan”.

Jadi salah satu force atau dorongan yang mempengaruhi munculnya Classical Order yaitu keadaan warga pada saat itu yang tergolong ke dalam kelas-kelas tertentu, kemudian warga dari kelas tinggi itulah yang menginginkan kesempurnaan, dalam arti kemegahan dan kemewahan, maka dari itu muncullah bentuk-bentuk Classical Order.
p
Salah satu classical order yaitu Doric Order. Doric order merupakan order yang paling sederhana dari order lainnya, bisa dilihat pada bangunan Parthenon yang dibangun pada masa Yunani kuno. Parthenon dikatakan sebagai ‘kesempurnaan terbesar dari karya kuil Doric yang pernah dibangun’, sebuah penampilan dengan proporsi sempurna yang dihsilkan ole ahli maya-loka Athena. Perbandingan antara tinggi dan ketebalannya adalah 8 : 1, yang memberikan kesan megah dan besar.

March 1, 2009

The Good Classical Architecture?

Filed under: classical aesthetics — r1ss @ 21:20
Tags: , , ,

Di dalam arsitektur klasik terdapat beberapa metode order yang berbeda-beda. Namun sebenarnya metode-metode order ini mempunyai persamaan dan inilah yang menurut saya sebagi ciri pemikiran arsitektur klasik yaitu dimana metode order klasik selalu mempunyai beberapa principle procedures yang selalu dinyatakan sebagai syarat untuk arsitektur yang baik. Metode-metode klasik ini entah metode Vitruvius ataupun metode JNL Durand menganggap untuk membentuk arsitektur yang baik adalah dengan metode mereka masing-masing. Mereka secara gamblang menyatakan dengan pasti bahwa metode mereka adalah bertujuan untuk membentuk arsitektur yang baik atau arsitektur yang memiliki keindahan.

“Good Architecture guaranteed by a radically systematic principle” (JNL Durand)

“The good is always beautiful and the beautiful never lacks proportion“ (Plato)

Dalam arsitektur klasik selalu terdapat metode-metode pasti yang bertujuan untuk membentuk arsitektur yang baik. Metode itu seperti tidak memberikan pilihan lain yang mungkin bisa membentuk arsitektur. Seperti juga yang dikatakan oleh Durand bahwa untuk mengkomunikasikan bangunan maka yang diperlukan hanyalah denah, tampak,p otongan. Dan dalam proses perancangan dengan metode ini maka yang dioperasikan yang pertama juga denah dan tampak. Dimana didalam denah ini didesign dengan hitungan-hitungan yang seirama seperti 1-1/2-1-1/2. Apabila ada hitungan yang tidak seirama seperti 1-1/2-2-1 maka apa akan dianggap tidak baik? Apa kebutuhan luasan ruang dapat ditentukan hanya dengan hitungan yang seirama? Lalu apabila denah dan tampak sebegitu pentingnya, apakah konteks sekitar menjadi tidak penting untuk metode ini? Apa sistematika seperti ini yang dikatakan sebagai arsitektur yang baik?

Dan apabila Metode Vitruvius yang dikatakan baik dengan menitikberatkan pada proporsi dan kesimetrian, yang tujuan dibentuknya sesuatu yang proporsional mungkin sebenarnya untuk beauty appearance, apa ini juga yang dikatakan sebagi arsitektur yang baik?

Baik metode Durand ataupun metode Vitruvius yang berperan dalam arsitektur klasik sebenarnya malah membentuk kekhasan dari arsitektur klasik itu sendiri. Dimana selalu ada ketentuan-ketentuan yang dianggap baik. Dan pengaplikasian arsitektur klasik yang terjadi pada masa sekarang mungkin malah sebenarnya tidak mengaplikasikan metode siapapun, karena pada kenyataannya arsitektur klasik mempunyai ciri yang khas yaitu seperti adanya pediment triangle, kolom-kolom, atau arc. Pengaplikasian arsitektur klasik yang saat ini lebih hanya menggunakan komponen-komponen arsitektur klasik itu seperti kolom tau arch yang mungkin tidak memenuhi golden section atau hitungan denah yang seirama.

piazza-d

Contohnya yaitu yang ada di Indonesia seperti pembangunan resident-resident atau mal yang bergaya arsitektur klasik seperti gambar disamping. Dimana bangunan itu dikatakan arsitektur klasik karena adanya komponen-komponen arsitektur klasik seperti kolom dan arch. Dikatakan hanya bergaya arsitektur klasik namun entah menggunakan metode Vitruvius atau Durand. Lalu apa arsitektur ini juga bisa dikatakan arsitektur klasik? Atau mungkin ini arsitektur klasik yang baik?

February 15, 2009

Classical Architecture

Filed under: classical aesthetics — r1ss @ 20:27
Tags: , , ,

Style Vitruvius pada arsitektur yang lebih condong ke Arsitektur Klasik merupakan arsitektur yang sangat terpaku pada order, proporsi, dan simetri pada setiap aspek bangunannya. Seperti yang dikatakannya dalam buku Ten Books of Architecture bahwa arsitektur bergantung pada order, pengaturan (arrangement),eurythmy, simetri,propierty,dan ekonomi. Dan kemudian keenam aspek ini yang mengatur setiap aspek-aspek pada design arsitektur klasik tersebut. Seperti peletakan bangunan yang cocok yang sesuai dengan penerangan Jupiter, bulan, atau kecocokan proporsi antara lebar dan panjang pada setiap bagian bangunan. Bahkan Vitruvius juga menjelaskan banhwa proporsi yang tepat pada bangunan bisa mengacu pada proporsi tubuh manusia dimana ada kepala,badan, dan, kaki.

Thus in the human body there is a kind of symmetrical harmony between forearm, foot, palm, finger, and other small parts; and so it is with perfect buildings.” (Ten Books of Architecture)
Dijelaskan bahwa dengan proporsi yang sempurna seperti pada tubuh manusia maka bangunan itu akan menjadi bangunan yang sempurna. Namun yang ingin saya pertanyakan adalah apa bangunan itu bisa selalu dikatakan sempurna ketika bangunan itu selalu terpaku pada aturan-aturan yang sudah ditetapkan pada arsitektur klasik. Apakah bangunan yang terbagi dengan tepat antara kepala, badan, dan kaki bisa dijadikan acuan sebagai arsitektur yang baik?
klasik-edit

Mungkin sebenarnya apabila dilihat dari perspektif lain, aturan-aturan ini malah seperti mengikat kita untuk membuat sesuatu yang sama secara terus-menerus. Sehingga geometri dari arsitektur ini pun menjadi sangat kaku. Dan ini mungkin yang mambuat arsitektur klasik sangat khas dalam fasad maupun denahnya. Keterikatan akan aturan-aturan arsitektur klasik ini juga sempat dikatakan dalam sebuah buku S,M,L,XL, dimana ketika diadakan rekonstruksi kembali kota Rotterdam muncul pendapat-pendapat bahwa mereka menginginkan kota baru yang tidaklah ideal, dimana harus terikat dengan rules,propositions sehingga membuat kota itu malah terasa sangat steril bagi mereka.
“ Orthogonality become suspect. “What about 60 degrees, or 120 degrees?”..It can dance on angle..The new centre was “not really a city”..How about freedom of rules,propositions,purpose..”(S,M,L,XL.Rem Koolhas)

Arsitektur klasik yang dominan sangat orthogonal menjadi dianggap kaku, dan tidak diinginkan. Karena kakuan dari aturan-aturan itu membuat kota tersebut menjadi tidak familiar bagi masyarakatnya sendiri. Lalu muncul pertanyaan lain, apakah adanya ketidakcocokan ini berkaitan dengan waktu. Dimana mungkin arsitektur klasik itu sangat cocok di waktunya dulu namun tidak lagi cocok di waktu yang sekarang? Pengembangan arsitektur klasik pada zaman-zaman setelahnya juga sempat dilakukan dimana memunculkan style yang baru yaitu style neo-classical. Namun pengembangan ini juga tidak mengubah sebagian besar aturan-aturan pada arsitektur klasik. Contohnya yaitu pada Gereja Immanuel yang dibangun pada tahun 1832.

gereja-gambir

Penggunaan proporsi kepala,badan,dan kaki seperti pada arsitektur klasik itu tetap ada, namun muncul pengembangan seperti digunakannya dome(kubah) pada bagian belakang bangunan. Namun pengembangan ini tidak berarti terlalu besar karena penampakan bangunan yang tetap menyerupai dengan arsitektur klasik pada masa-masa sebelumnya. Aturan-aturan yang terus diikuti ini membuat arsitektur neo-classic juga memiliki bentuk-bentuk geometri yang kaku sama seperti arsitektur klasik. Lalu apakah arsitektur yang seperti ini yang disebut sebagai arsitektur yang baik? Apakah perkembangan bentuk-bentuk geometri yang lebih beragam dan telah berkembang saat ini tidak bisa dikatakan sebagai arsitektur yang baik juga?

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.