there’s something about geometry + architecture

June 2, 2010

Geometry in Traditional Architecture ‘Rumah Gadang’ (Part 2)

Filed under: locality and tradition — gemala @ 14:32
Tags: ,

Rumah gadang merupakan rumah tradisonal Minangkabau yang arsitekturnya cukup unik. Bangunan rumah gadang khas dengan atap gonjongnya. Tidak hanya itu, jika diperhatikan,  massa bangunan rumah gadang juga terlihat besar ke atas yang memberikan kesan ‘besar kepala’.

Bukan tidak ada alasan mengapa masyarakat Minangkabau menghasilkan karya arsitektur dengan bentuk seperti ini. Sebagai arsitektur tradisional, geometri-geometri yang diterapkan pada rumah gadang tentunya mempunyai arti yang sangat penting bagi masyarakat Minangkabau sebagai simbol yang merujuk pada identitas budaya mereka. Jika geometri-geometri tersebut lahir sebagai sebuah simbol, tentu ada sesuatu yang disimbolkannya. Misalnya, simbol dari sesuatu yang berbentuk fisik seperti alam (hewan, tumbuhan ataupun kondisi alam yang dianggap ‘penting’ dalam suatu golongan masyarakat) ataupun simbol dari sesuatu yang bersifat non-fisik seperti cara hidup (way of life) dan keyakinan atau kepercayaan. Namun dibalik semua itu, bagi saya sendiri terdapat hal yang cukup menarik perhatian yaitu bagaimana cara masyarakat Minangkabau mentransformasikan apa yang ingin mereka simbolkan ke dalam bentuk geometri arsitektural. Metode desain seperti apa yang mereka terapkan hingga lahir bentuk rumah gadang seperti yang kita lihat sekarang, khususnya bentuk atap gonjongnya.

Untuk menelaah metode desain yang diterapkan pada arsitektur tradisional dibutuhkan penelitian yang cukup mendalam. Banyak faktor yang mempengaruhi cara berarsitektur dan hasil karya arsitektur yang lahir pada suatu golongan atau etnis masyarakat tertentu. Oleh karena itu dibutuhkan pula pendekatan dari berbagai sudut pandang untuk dapat menjelaskan metode seperti apa yang mereka pakai dalam mencitrakan arsitektur tradisionalnya.

Saat berbicara mengenai rumah gadang, hal yang langsung tebayang di benak kita biasanya adalah bentuk atap yang runcing menjulang tinggi ke langit. Atap ini disebut atap gonjong yang pada akhirnya menginspirasi masyarakat Minangkabau untuk menerapkannya pada bangunan modern sebagai identitas budaya mereka, walaupun sebenarnya hal seperti ini masih menjadi perdebatan mengenai layak atau tidaknya. Terlepas dari semua itu, atap gonjong merupakan hasil dari proses berarsitektur dan berbudaya masyarakat Minangkabau yang telah mengalami trial and error[1]. Seperti yang telah dituliskan sebelumnya, bentuk-bentuk geometri yang hadir dalam wujud fisik rumah gadang merupakan simbol terhadap segala sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Segala sesuatu tersebut dapat berupa hal yang bersumber dari alam, cara hidup, sejarah dan kepercayaan. Namun saat sesuatu hadir sebagai sebuah simbol, sesuatu tersebut tidak harus serupa dengan apa yang disimbolkannya.[2]

Wujud fisik rumah gadang secara keseluruhan yang terbagi atas kaki badan dan kepala  yang pada dasarnya terbentuk dari geometri-geometri sederhana. Denah rumah gadang sangat sederhana yaitu persegi panjang dengan pembagian ruang yang juga sederhana, massa badan bangunan juga sederhana dengan hanya menerapkan geometri-geometri dalam kaidah bidang planar. Denah dan massa badan bangunan pada dasarnya merupakan simbol dari hal yang lebih bersifat non-fisik seperti cara hidup dan kepercayaan. Cara hidup masyarakat Minangkabau yang dipengaruhi oleh sistem genealogis matrilineal yang mereka anut dimana posisi kaum perempuan dalam masyarakat dianggap penting, kepercayaan yang mereka anut yaitu agama Islam yang mempengaruhi batasan ruang antara perempuan dan laki-laki, yang kesemuanya mempunyai penjelasan yang amat panjang dan rumit, tergambar dalam denah yang sederhana ini.

Namun saat melihat atap gonjong, terlihat geometri yang berbeda dan seolah keluar dari kaidah yang diterapkan pada denah. Berbeda denah yang didominasi oleh garis-garis lurus yang terkesan kaku, atap gonjong terbentuk dari komposisi garis-garis lengkung yang terkesan lebih dinamis. Persamaannya, bentuk atap gonjong juga merupakan simbol serta rekaman terhadap sesuatu yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Namun hal yang disimbolkan oleh atap gonjong lebih bersifat pada sesuatu yang fisik, seperti sesuatu yang berasal dari alam atau benda kenangan masa lampau. Secara sederhana, bentuk dasar dari gonjong adalah segitiga sama kaki namun dengan jumlah besar sudut kurang dari 180o, segitiga yang berada pada kaidah non-Euclidean geometry.

Ada beberapa pendapat mengenai apa yang masyarakat Minangkabau simbolkan dan rekam melalui atap gonjong antara lain,

  • Atap gonjong merupakan simbol dari tanduk kerbau, karena kerbau merupakan hewan yang dianggap sangat erat kaitannya dengan penamaan daerah Minangkabau.[3]
  • Atap gonjong adalah simbol dari pucuk rebung (bakal bambu), karena bagi masyarakat Minangkabau rebung merupakan bahan makanan adat, olahan rebung merupakan hidangan yang selalu ada saat upacara-upacara adat. Selain itu, bambu dianggap tumbuhan yang sangat penting dalam konstruksi tradisional.[4]

  • Atap gonjong menyimbolkan kapal sebagai rekaman untuk mengenang asal usul nenek moyang orang Minangkabau yang dianggap berasal dari rombongan Iskandar Zulkarnaen yang berlayar dengan kapal dari daerah asalnya yang kemudian terdampar di dataran Minangkabau sekarang.[5]

  • Atap gonjong merupakan rekaman terhadap alam Minangkabau yang berbukit yang terdiri dari punggungan-punggungan dan landaian-landaian.[6]

Bagi orang Minangkabau, alam adalah sesuatu yang dinamis, kedinamisan ini secara sederhana mereka simbolkan dengan garis lengkung, seperti garis lengkung pada atap gonjong.[7]

Keseluruhan pendapat tersebut menyiratkan bahwa garis-garis lengkung yang tajam pada atap gonjong merupakan tracing/jiplakan terhadap bentuk-bentuk yang berasal dari alam atau benda yang dianggap penting oleh masyarakat Minangkabau. Proses tracing atau penjiplakan ini dilakukan dalam jangka waktu berarsitektur yang sangat panjang. Di dalam proses tersebut terdapat trial and error akibat penyesuaian terhadap alam dimana atap gonjong itu eksis (alam Minangkabau). Di dalam proses tracing ini dilakukan penyederhaaan dengan mengurangi garis-garis rumit atau detail dari kondisi nyata objek yang ingin disimbolkan, seperti dengan mengambil siluetnya ataupun hanya geometri dasarnya. Dengan demikian, walaupun geometri yang kemudian hadir tidak sama dengan apa yang disimbolkannya, tetap ada bagian yang dipertahankan seperti kedinamisan dari objek tersebut.

Dari uraian di atas, terlihat sepintas lalu metode desain yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau terkesan sangat sederhana, hanya dengan men-trace suatu objek yang dianggap penting dengan ‘mengabaikan’ detail geometri dari objek tersebut. Proses yang berlangsung sekian lama berhenti saat masyarakat Minangkabau menemukan geometri arsitektural yang tepat sebagai simbol dari pandangan hidup mereka dan sesuai dengan kondisi alam tempat mereka hidup. Dengan demikian lahirlah desain arsitektur tradisional rumah gadang seperti yang eksistensinya masih dapat kita lihat di wilayah Minangkabau. Proses tracing dalam pembentukan wujud arsitektural atap gonjong rumah gadang merupakan penjiplakan benda tiga dimensi ke dalam wujud tiga dimensi pula. Hilangnya detail-detail dari benda yang di-trace membuat wujud baru yang terbentuk dapat diartikan lain oleh orang yang berbeda karena wujud baru tersebut dapat mewakili beberapa benda yang berbeda pula. Dengan demikian tidak salah jika ada beberapa pendapat mengenai benda apa yang disimbolkan oleh atap gonjong rumah gadang.


[1] Hasil wawancara dengan St. Mahmud, tokoh ahli dalam hal sejarah rumah gadang

[2] Harries, Karsten.1997.The Ethical Function of Architecture.MIT Press (pg. 98)

[3] Ismael, Sudirman.2007. Arsitektur Tradisional Minangkabau Nilai-Nilai Budaya Dalam Arsitektur Rumah Adat. Bung Hatta University Press (hal. 52)

[4] Wawancara dengan Dt. Majo Setio, Ketua Kerapatan Adat Nagari Sungaitarap, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat

[5] Ismael, Sudirman.2007. Arsitektur Tradisional Minangkabau Nilai-Nilai Budaya Dalam Arsitektur Rumah Adat. Bung Hatta University Press (hal. 52)

[6] Wawancara dengan Dt. Atiah, salah seorang tokoh adat di Nagari Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

[7] Wawancara dengan Dt. Majo Setio, Ketua Kerapatan Adat Nagari Sungaitarap, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat

Geometri “Bersih-Kotor”

Filed under: locality and tradition — nurulislami @ 14:21
Tags:

Sehari-hari kita selalu berhadapan dengan aktivitas membersihkan diri dengan mandi, wudhu, mencuci tangan, buang air, dll. Beragam cara dilakukan untuk melakukan aktivitas “kebersihan“, mulai dari pendidikan kita dengan program pengajaran dari TK kita mengenal tata cara mencuci tangan, menggosok gigi dan serangkaian kegiatan membersihkan diri lainya. Konsep bersih dan kotor ini juga menjadi sesuatu yang diajarkan dalam agama. Kebersihan sebagian dari Iman merupakan salah satu kalimat yang paling sering kita dengar. Konsep bersih kotor yang berhubungan dengan diri seseorang dalam sistem masyarakat, berkaitan dengan ajaran agama Islam misalnya, sebelum melaksanakan sholat terlebih dahulu harus mensucikan diri dengan berwudhu menurut tata cara tertentu. Sebelum hari pertama puasa sebagian masyarakat di daerah melakukan serangkaian ritual mensucikan diri dengan menceburkan diri di laut atau Kungkum atau mandi beramai-ramai di sumber air. Aspek yang tidak dapat diamati oleh manusia adalah kebersihan rohaniah pada saat menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Begitu melekatnya konsep bersih kotor ini juga berkaitan dengan diri pribadi juga mencakup kata-kata dan tindakan. Sebagian dari masyarakat kita menghindari kata dan tindakan kotor baik pada saat sendirian maupun didepan orang lain.

Namun begitu bagaimana perwujudan konsep ini dalam arsitektur?

Dalam Feng Shui dijelaskan  bahwa kegiatan yang berlangsung di dalam kamar mandi melibatkan energi lima elemen (air, api, kayu, logam dan tanah), karena itu lokasi kamar mandi harus dipilih dengan cermat. Posisi kamar mandi yang tidak baik dapat memberi efek berbahaya, melarutkan energi chi ruangan yang lain di rumah itu. Sebaiknya letak kamar mandi berada di sudut belakang dan agak ke belakang rumah. Yang penting tidak di bagian depan rumah dan sejajar dengan dinding luar. Kalau letaknya harus berada di ruang keluarga atau kamar tidur, sebaiknya posisi kamar mandi sedikit tersembunyi dengan ventilasi alam yang baik dan benar, seperti jendela yang bisa mengakses udara dari taman atau ruang terbuka. Untuk kamar mandi yang terjepit di antara dua kamar tidur, sebaiknya di bagian plafon memiliki rongga dan kaca yang tembus cahaya, agar bau tak sedap dan kelembaban bisa dikurangi. Pintu kamar mandi jangan berhadapan dengan pintu ruang lainnya. Bila ada yang berhadapan, sebaiknya mengeser salah satu pintu atau memberi satu penyekat diantara dua pintu tersebut.

Kita mengenal sumbu-sumbu dalam geometri, konsep bersih kotor ini juga kemudian didefinisikan dalam atas-bawah, kiri-kanan, depan belakang. Ke arah muka adalah menuju kepada kemajuan dari gerakan berjalan. Dimensi muka adalah waktu yang mendatangi manusia, alam harapan, dan keberanian. Arah atas menyimbolkan dimensi cita-cita, dunia para dewa, dan dimensi Yang Maha Agung, sedangkan kiri-kanan memberikan simbol  kemudian kiri-kanan memberikan simbol dualitas. Dalam budaya Jawa, manusia akan selalu mengarungi kehidupan di dalam kancah peperangan dualitas: baik-buruk, suka-duka, hitam-putih, dan seterusnya. Bagian kanan merupakan dunia yang baik dan bersih dan bagian kiri merupakan dunia yang buruk dan kotor. Dalam pembagian ruangnya rumah joglo didasarkan pada sistem sumbu dan hirarki. Letak pawon dan kamar mandi terpisah dari rumah utama dan terletak pada bagian belakang.

Konsep bersih-kotor merupakan salah satu  hasil proses belajar dari lingkungannya. Proses ini kemudian digunaan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan disekitarnya sehingga melahirkan suatu sistem kategorisasi tentang lingkungan yang mencakup banyak hal, yang berkaitan dengan baik dan buruk, benar dan salah, kiri dan kanan, kotor dan bersih. Kategori tersebut sebagai pengendali tingkah laku dan tindakan. Pengendali tersebut harus diikat oleh suatu sistem etika dan pandangan hidup.

Pustaka

http://www.rumahdanproperti.com/news/13/fengshuikamarmandi-78.aspx

http://www.djojosastro.info/_kisah.php

April 6, 2010

Kontekstualitas Dalam Berkarya

Filed under: classical aesthetics — agungsetyawan89 @ 00:00
Tags: , ,

Perbedaan aturan dalam dunia barat dan timur dapat terlihat pada cara pandang terhadap sang seniman terhadap objek dan penerapan terhadap suatu karya. Penggambaran alam melalui sebuah karya dilakukan dengan cara yang berbeda.

Pada masa klasik, terdapat segenap aturan dalam berkarya. Ditinjau dari asal bahasanya maka kata klasik akan berkaitan pada golongan atau status ekonomi pada masyarakat, dalam hal ini golongan paling atas atau yang golongan yang mampu-lah yang menciptakan tata atau aturan dalam seni.

Pada masyarakat Jawa didapat pula hal yang kurang lebih serupa dengan terbentuknya seni klasik. Pada masyarakat jawa terdapat banyak motif batik, dari motif-motif tersebut dapat menggambarkan siapa pemiliknya dari golongan mana dia berasal. Misalnya motif parang yang hanya dapat dipakai pada kalangan keraton, bahkan motif tersebut tidak boleh keluar dari lingkungan keraton. Hal ini menandakan karya tersebut memiliki sifat eksklusif, dimana tidak sembarang orang dapat menggunakannya.

Pengalaman saya ketika mengikuti kelas batik membuat saya sadar bahwa dalam batik tidak ditemukan garis-garis yang lurus. Bila ditinjau dari proses berkarya hal ini disebabkan oleh proses pembuatan motif gambarnya yang tidak menggunakan alat bantu untuk membuat garis lurus seperti penggaris. Pada proses memblok motif dengan malam(lilin) atau proses men-canthing, pembatik menggunakan tangannya langsung tanpa bantuan penggaris untuk mengikuti pola yang telah ia buat sebelumnya (biasanya menggunakan pensil).

Sebelumnya dosen pembimbing saya menerangkan perihal nilai yang terkandung pada garis tidak lurus pada motif batik memiliki makna bahwa di alam tidak ada garis yang lurus. Cabang pohon, ranting, garis pantai, maupun bentuk-bentuk yang ada di alam tidak ada yang lurus.

Sedangkan yang terjadi di dunia barat, dalam membuat sebuah karya aturan-aturan yang harus digunakan adalah komposisi renaissance dan golden section dengan menggunakan garis-garis tertentu. Semua bentuk alam digambarkan ulang berdasarkan garis-garis yang membuat suatu komposisi.

Terlihat bahwa, meski memiliki maksud yang sama yakni penggambaran benda alam pada suatu media, sang pembuat karya memiliki penerapan yang berbeda berkaitan pada cara pandang terhadap alam itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan budaya mereka masing-masing, sedangkan budaya tiap bangsa berkaitan dengan lingkungan alam sekitar tempat mereka hidup. Pemaknaan manusia terhadap alam juga dipengaruhi oleh cara pandang mereka, salah satunya adalah alasan kepercayaan yang mereka anut.

Dikaitkan pada persoalan geometri, kata geo juga memiliki makna yang berhubungan dengan tempat atau konteks yang mempengaruhi wujud suatu benda. Pada suatu karya, konteks tidak hanya mengenai tempat atau lingkungan dimana benda tersebut berada, pola pikir yang mempengaruhi sang seniman, waktu, teknologi dan mungkin masih banyak lagi yang mempengaruhi bentuk suatu benda itu hadir.

March 31, 2010

Geometry in Traditional Architecture – ‘Rumah Gadang’

Filed under: locality and tradition — gemala @ 21:10
Tags: ,

Saat berbicara mengenai arsitektur, secara tidak langsung kita juga berbicara mengenai geometri yang merupakan salah satu unsur pembentuk arsitektur. Dan saat saya mengolah skripsi yang terkait dengan arsitektur tradisonal Minangkabau, saya menyadari ternyata hal ini tidak hanya berlaku untuk arsitektur modern tetapi juga berlaku untuk arsitektur tradisional yang eksis tanpa campur tangan arsitek.

Rumah gadang sebagai hasil dari proses berarsitektur masyarakat Minangkabau, bagi saya merupakan salah satu karya arsitektur yang sangat menarik. Hal ini bukan hanya karena saya adalah orang Minang tetapi juga karena saat melihat rumah gadang, secara visual kita disuguhkan pada permainan geometri yang tidak lazim. Ketidaklaziman ini salah satunya dapat dilihat dari massa rumah gadang yang besar ke atas sehingga memberi kesan tidak proporsional. Selain itu, hal yang juga cukup menonjol adalah permainan garis-garis lengkung pada atap gonjongnya yang curam dan runcing menjulang ke langit.

Bentuk-bentuk geometri seperti ini ternyata tidak muncul begitu saja tapi juga tidak berdasarkan pada teori-teori yang terkait dengan geometri seperti teori Vitruvius, Euclidean Geometry, Gestalt ataupun lainnya. Bentukan geometri seperti ini ternyata lahir sebagai simbol yang mewakili penghormatan dan penyesuain terhadap alam yang telah melewati proses trial and error. Proses ini berlangsung sekian lama hingga diperoleh bentuk seperti bentuk rumah gadang yang kita lihat sekarang ini.

Hal lain yang menarik saat mengenal arsitektur rumah gadang adalah bahwa ternyata ukuran yang dipakai tidak mengikuti kaidah metrik ataupun Golden Section yang dianggap dapat menciptakan sesuatu yang proporsional. Ukuran yang dipakai adalah ukuran tubuh manusia yaitu jari, jengkal, hasta dan depa. Namun walaupun menggunakan satuan yang secara metrik tidak dapat dipastikan keakuratannya (karena ukuran jari, jengkal, hasta dan depa pada tiap orang berbeda), rumah gadang tetap dapat dibangun dengan baik (dalam artian tidak ada masalah yang diakibatkan kesalahan ukuran). Hal ini bagi saya, lagi-lagi membuktikan bahwa alam atau sesuatu yang natural itu menyimpan kaidah-kaidah geometri yang ajaib.

Selain itu dalam kaitannya dengan arsitektur tradisional, geometri dianggap dapat merepresentasikan pandangan hidup masyarakat yang juga berlaku bagi arsitektur tradisional Minangkabau. Pandangan hidup orang Minang disimbolkan ke dalam bentuk-bentuk tertentu dan dijadikan sebagai bagian dari arsitektur. Disinilah geometri berperan sebagai penerjemah simbol-simbol tersebut kedalam bentuk visual.

Dengan mempelajari arsitektur tradisional khususnya rumah gadang ini,  saya melihat ada cara lain dalam memandang geometri sebagai bagian dari arsitektur. Geometri tidak hanya dinilai sebagai unsur arsitektur yang membantu memberikan nilai estetika pada bangunan namun juga sebagai representasi dari nilai-nilai yang dianut oleh suatu golongan masyarakat tertentu.

March 29, 2009

Kota adalah untuk manusia

Filed under: ideal cities — snayoe @ 19:31
Tags: , ,

Salah satu dari pesan Peter Eisenman yang saya kutip dari blog Ridwan Kamil:

Eisenman melihat banyaknya karya arsitektur kontemporer yang sibuk dengan geometri yang semakin rumit, namun seringkali tidak memiliki kualitas yang mampu menghadirkan makna mendalam. “Just a piece of meaningless form,” kritiknya. Selain itu, banyak pula arsitektur yang tidak mampu memperkuat konteks kota dan budaya tempat ia berdiri. Karenanya Eisenman membenci Dubai. Baginya Dubai adalah sirkus arsitektur, segala bentuk bisa hadir tanpa korelasi, tanpa preferensi dan tanpa didahului oleh esensi `livability’ atau roh berkehidupan dari sebuah kota. Kota adalah untuk manusia dan Dubai tidak memilikinya

Pernyataan ini amat berhubungan dengan kebimbangan saya minggu lalu akan sebuah konteks kota ideal dimana dikatakan salah satunya adalah uniformity, penyeragaman tatanan, rumah harus seperti ini, jalan harus ada ini tidak ada itu dsb, sampai penyeragaman arsitektur – dimana yang paling ekstrim dikatakan harus dimusnakannya kejelekan (ugliness) dan kemiskinan (poorness), “orang miskin pergi aje lo ke laut”, Akan dikemanakannya kultur Indonesia yang kaya akan bentuk-bentuk geometri (termasuk disini adalah rumah-rumah gubug tradisionil yang -mungkin akan- masuk dalam kategori poorness) dan tentu saja sangat mampu memperkuat konteks kota dan budaya Indonesia itu sendiri, jika ternyata tidak masuk kedalam kategori Uniformity of Ideal City.

Untungnya, senin kemarin secepatnya dibahas bahwa konsep ideal city ternyata juga banyak membawa kritik pedas, terutama kritik yang membahas apakah konsep UTOPIA, kota surga negeri impian dapat relevan dengan keadaan kota negeri kenyataan, terutama jika menyangkut konteks budaya setempat dan lain sebagainya, sampai pada intinya mengutip pesan selanjutnya dari Peter Eisenman. Eisenman berpesan bagi para arsitek di Negara-negara berkembang untuk tetap optimis dan selalu merasa beruntung. Beruntung karena pada umumnya Negara berkembang seperti kebanyakan negara di Asia masih memiliki referensi eksotisme budaya. Budaya yang masih memiliki tradisikultural sebagai sumber konsep, legenda yang emosional sebagai sumber makna dan ritual referensional sebagai sumber cerita. Kekayaan-kekayaan kultural inilah yang tidak dimiliki di negara Barat seperti halnya Amerika Serikat tempatnya bermukim dan berpraktek.

Sependapat dengan pernyataan Eisenman bahwa segala bentuk yang hadir mewarnai suatu kota harus hadir dengan korelasi, preferensi dan dengan didahului oleh esensi `livability’ atau roh berkehidupan dari sebuah kota, karena Kota adalah untuk manusia. Bagaimana dengan Anda ???

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.