there’s something about geometry + architecture

May 23, 2009

Hierarchy Reversal

Filed under: contemporary theories — ayushekar @ 20:30
Tags: ,

Konsep dekonstruksi yang dilahirkan Derrida memang sangat asyik untuk dibahas dan tak ada habisnya. Salah satu prinsip dalam konsep dekonstruksi adalah Pembalikan hirarki (hierarchy reversal).

Jika kita berbicara tentang hirarki tentunya berarti ada sesuatu yang lebih unggul dari pada yang lain sehingga memunculkan asosiasi adanya perbedaan posisi atau derajat antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Jika sesuatu itu dianggap penting, berarti kita meyakini dan menyadari kehadirannya. Sementara jika sesuatu tersebut dinggap tidak penting atau memiliki posisi atau derajat lebih rendah maka kehadirannya lebih diabaikan, bahkan cenderung dianggap tidak ada.

Artinya ketika kita membicarakan masalah hirarki maka secara tidak langsung menyebutkan makna atau ide tentang kehadiran dan ketidakhadiran (presence and absence). Salah satu keunikan yang dimiliki oleh konsep dekonstruksi Derrida adalah adanya oposisi yang harmonis. Maksud oposisi yang harmonis adalah konsep oposisi di dunia ini dapat kita sebutkan dengan jelas misalnya siang-malam, gelap-terang, luar-dalam, baik-salah, juga presence-absence. Presence (kehadiran) akan ada atau akan eksis ketika kita tahu keberadaan, dimana bisanya cara paling mudah bagi kita

untuk mengetahui keber-ada-annya adalah melalui keadirannya. Dan absence (ketidakhadiran) kita ketahui setelah kita mengerti akan kehadiran. Seperti kita tidak akan mengetahui terang jika sebelumnya kita tidak mengetahui apa itu gelap. Maka konsep hirarki menunjukkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya secara hubungan vertikal, sehingga menciptakan ke-tidak sejajar-an.

Pembalikan hirarki (hierarchy reversal) berarti menjelasan mengenai tingkatan atau hubungan yang tadinya terbentuk secara vertikal, posisi yang satu berada dibawah atau diatas yang lain, yang menunjukkan sesuatu yang lebih baik/penting dari yang lain, sehingga memberikan kesan bahwa ada suatu keberadaan yang tidak peting, seolah dihilangkan atau ditindas menjadi tidak berlaku. Semua hal diangap sejajar dan sama. Bahkan sesuatu yang absence atau ada namun tidak hadir (ketidak hadiran pada tataran ini lebih diartikan sebagi kehadiran yang tertunda, bukan tiada) dimunculkan sehingga semua dianggap sejajar sehingga secara bersama-sama dapat menguak makna (kebenaran) yang lebih luas dan mendalam. Semua menjadi sama pentingnya.Banyak bidang yang telah mampu menunjukkan prinsip ini baik di bidang seni, bahasa, maupun arsitektur.

February 24, 2009

Beauty in Deconstructivist Architecture

“We don’t want architecture to exclude everything that is disquieting. We want architecture to have more… Architecture should be cavernous, fiery, smooth, hard, angular, brutal, round, delicate, colorful, obscene, voluptuous, dreamy, alluring, repelling, wet, dry and throbbing.” (Himmelblau 1988: 95)

Apabila kita melihat dekonstruksi arsitektur dimana ia menggunakan geometri sebagai ekspresi kebebasan bentuk dalam berarsitektur, bagaimana bila ia dihubungkan dengan prinsip Vitruvius dalam buku Ten Books on Architecture? Dapatkah saya mengatakan bahwa keindahan yang menurut Vitruvius adalah ketika elemen pembentuk berada dalam proporsi yang sesuai dengan prinsip simetri tidak berlaku dalam dekonstruksi arsitektur? Mungkinkah mengatakan sesuatu yang brutal, berada di luar konsep harmony, unity dan stability dapat kita katakan beauty?

“…and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry” (Vitruvius: Ten Books On Architecture. Book One. Chapter Three)

Secara pribadi, well, saya mengatakan bahwa karya – karya mereka sangat indah karena menggambarkan adanya kebebasan dari keterikatan aturan proporsi dan simetri. Karya – karya mereka menggambarkan lepasnya diri mereka dari doktrin ataupun pengalaman manusia di masa lalu. Pengalaman dari masa lalu, contohnya pendidikan yang diperoleh dari masa Taman Kanak – Kanak hingga SMU, kita hanya dikenalkan pada bentuk – bentuk geometri dasar; kubus, pyramid, balok, prisma, silinder, bola, dan lainnya. Pada saat itu, karakter diri kita sebagai pihak pasif yang menerima begitu saja, tanpa disadari membentuk pemikiran tersendiri bahwa itulah yang dimaksud geometri. Apakah memang geometri hanya sekedar itu? Padahal bila kita telaah kembali arti kata geometri, yaitu mengukur bumi (measuring the earth), geometri bukan hanya sekedar itu. Bumi adalah alam, dan alam, menurut saya, secara mendasar adalah suatu hal yang dinamis dan tidak statis atau diam, dalam arti penuh perubahan. Alam adalah suatu hal yang dapat saya katakan bebas, tidak terikat. Dari pemahaman ini, saya kemudian menyimpulkan bahwa geometri adalah suatu hal yang bebas dan penuh kedinamisan.

Kembali kepada topik, jika memang segala yang kita katakan indah adalah berdasar apa yang dikatakan Vitruvius, maka dapatkah saya katakan bahwa dekonstruksi arsitektur tidak memiliki nilai keindahan? Melihat karya mereka tidak berdasar pengetahuan atau pengalaman banyak orang yang cenderung melihat keharmonisan dalam bentuk ataupun berdasar feeling akan adanya proporsi. Mereka juga tidak melakukan perhitungan matematika terlebih dahulu untuk menemukan nilai phi. Keindahan menurut Vitruvius, tidakkah ia bersifat mengikat terhadap bentuk arsitektur yang ada? Apakah adanya golden section untuk menemukan proporsi yang baik sedikit ‘kejam’ sehingga apapun yang berada di luar hitungannya tidak dapat kita katakan indah? If that so, then what will we call this deconstructivist architecture? Bad? Ugly?

Reference:
1. Johnson and Wigley. Deconstructivist Architecture. The Museum of Modern Art, New York.
2. Vitruvius. The Ten Books on Architecture.

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.