there’s something about geometry + architecture

May 31, 2009

Geometri sebagai Material dalam Pembentukan Arsitektur

Filed under: process — r1ss @ 09:27
Tags: ,

Dalam mendapatkan ide dalam mendesign seringkali kita terinspirasi dari design karya arsitek lain. Tapi mungkin design tersebut kita ubah sedikit dengan di distort,invert atau di twist. Dimana pada dasarnya pembentukan massa pada kedua design itu sama namun dengan perlakuan yang berbeda. Dan hal ini seringkali disangkal para arsitek apabila designya dikatakan mirip dengan design orang lain. Sering terjadinya kemiripan design ini sebenarnya mungkin karena para arsitek sudah tidak punya ide lagi bagaimana untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar berbeda. Walaupun pertanyaan sebenarnya adalah apa mungkin apabila saat ini seorang arsitek benar-benar bisa menghasilkan design arsitektur yang benar-benar berbeda dengan yang lainnya?Karena sudah begitu banyaknya design arsitektur yang muncul di dunia ini, lalu apa mungkin ada bisa muncul design lain yang benar-benar tidak menyerupai design-design yang sudah muncul sebelumnya?
Dalam kuliah geometri ini saya belajar bahwa geometri seperti sebuah material dalam pembentukan design arsitektur. Dimana material-material ini berperan sebagai metode yang berbeda-beda yang ditawarkan geometri dalam membantu kita untuk mendesign sebuah arsitektur. Metode-metode inilah yang seperti membuka pikiran kita untuk mencari cara lain agar bisa menghasilkan sebuah design arsitektur yang berbeda. Mungkin pada awalnya saya berpikir bahwa geometri adalah bentuk-bentuk kotak atau segitiga yang malah bersifat mengekang bentuk-bentuk dalam arsitektur itu sendiri. Namun setelah dipelajari sebenarnya geometri inilah yang membebaskan kita untuk mencari sebuah design yang lain dan tidak hanya dengan mengikuti design orang lain. Material-material yang berbeda dalam pembentukan geometri bukan hanya kotak atau segitiga namun bisa melalui metode music, persepsi, golden section (aturan yang sudah ada pada arsitektur), Euclidean atau bahkan dengan ilmu-ilmu biologi. Dahulu kalau saya ditanya bagaimana music atau persepsi bisa membentuk geometri maka mungkin saya juga akan bingung menjawabnya. Bagaimana bisa geometri yang merupakan rumus matematika bisa dihubungkan dengan music atau persepsi,karena kedua hal itu ada pada bidang yang berbeda. Karena seringkali kita menganggap bahwa apabila ada kedua hal yang berbeda maka kita tetap akan menganggapnya berbeda, yang padahal mungkin saja dual hal yang berbeda belum tentu tidak berhubungan. Mungkin sebenarnya di sekeliling kita masih banyak material lain yang dapat kita temukan dalam pembentukan arsitektur, namun kita tidak menyadarinya karena kita sudah terkekang dengan metode-metode yang sudah kita kenal selama ini dan sudah terpatri di kepala kita. Arsitektur merupakan sebuah lahan dimana kita bisa menggunakan banyak metode untuk mengisi lahan itu. Dan metode-metode yang kita ketahui selama ini masihlah sangat sedikit sehingga kita selalu meingisi lahan itu dengan metode yang sama atau dengan mengikuti metode yang orang lain lakukan. Dan peran geometri disinilah yang membantu kita untuk membebaskan kita dari metode-metode konvensional yang kita kenal sehingga kita tidak terkekang dengan metode yang lama, dan membuat arsitektur menjadi lahan yang berisi berbagai hal yang penuh dengan keberagaman dan kekreatifan kembali.

May 21, 2009

Geometri sebagai Permainan Arsitektur

Filed under: architecture and other arts,perception — def1 @ 06:36
Tags: , ,

Arsitektur adalah bagaimana kita mengutak-atik sebuah bentuk. Inilah yang sekilas terlintas di pikiran ketika saya mengingat kembali apa yang telah saya dapatkan dari selama belajar geometri arsitektur. Entah itu mengenai masalah pengaturan penyusunannya, proporsinya, unsur titik, garis, bidang sampai bagaimana kita mampu mengolah dari apa yang sudah ada dengan keluar dari yang seharusnya dan biasanya. Dan yang lebih menariknya bentuk-bnetuk yang lahir tersebut tidak selalu dari bentuk-bentuk persegi, segitiga, lingkaran dan lainnya tetapi dari sebuah music. Interval dari sebuah music seperti sebuah pola yang dalam arsitektur adalah golden section, passage (bagian dari lagu) disamakan dengan sebuah fasad dari bangunan. Betapa luasnya hal-hal yang dapat diterjemahkan ke dalam sebuah bentuk arsitektur. Seperti pada bangunan Le Corbusier yakni de La Tourette, dimana saat itu Le Corbusier bekerja sama dengan seorang musisi, Xenakis. Beliau mengaplikasikan harmoni dan ritme dari sebuah musik yang hasilnya adalah dapat dilihat pada panel-panel kaca sebagai efek dari lirik sebuah musik.

Permainan dari bentuk-bentuk yang terjadi tidaklah terlepas dari yang namanya persepsi. Ketika manusia melihat suatu bentuk atau mendengarkan music maka pikiran mereka akan menangkap apa yang dilihat dan didengarnya yang kemudian diterjemahkan pada sebuah pembentukan dalam pikiran. Hasil dari terjemahan tersebut kadang diolah kembali oleh manusia atau langsung dituangkan begitu saja. Misalnya seseorang yang mendengarkan music dengan alunan yang lambat dan kemudian diterjemahkan olehnya menjadi sebuah bentuk garis bergelombang dengan jarak puncak gelombang berbeda-beda sesuai dengan irama music yang didengarnya. Lalu dari bentuk garis gelombang tersebut apa yang dapat diambil poin-poinnya, apakah spasi antar titik puncak gelombangnya, ketinggian dari masing-masing titik puncak atau mungkin alur yang terbentuk darinya (surfacenya). Proses dari pengolahan penerjemahan itulah yang menurut saya dapat adalah bagian permainan bentuk dalam sebuah arsitektur. Di dalam permainan tersebut ada proses berpikir, trial and error, dan proses menelusuri (yang menurut saya adalah proses dimana kita mencoba untuk mengetahui bagaimana bentuk tersebut diperoleh, apa saja yang menyusun bentuk-bentuk tersebut) juga cara pandang kita (melihatnya dengan menyederhanakan, melihatnya seperti semut yang mengelilingi surface, dll)

Pada intinya proses saat permainan itulah yang menjadi sesuatu yang menarik dalam arsitektur. Seperti seorang anak kecil yang bermain balok-balok yang disusun-susun, jika ia tidak puas maka ia akan membongkarnya kembali dan mencobanya untuk menysun kembali sampai ia berhasil menyusunnya sesuai dengan apa yang ia suka. Dan ketika susunan balok-balok itu berdiri maka dalam arsitektur sama saja dengan ketika bangunan hasil dari permainan bentuk-bentuk berhasil terbangun.

April 5, 2009

Belajar

Filed under: process — ayushekar @ 21:35
Tags: ,

“ Seorang arsitek yang berpraktek tanpa dasar teori tidak dapat menjelaskan alasan dan dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara arsitek yang berteori tanpa berpraktek hanya berpegang kepada “bayangan” dan bukannya substansi. Seorang arsitek yang berpegang pada teori dan praktek, ia memiliki senjata ganda. Ia dapat membuktikan kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat mewujudkannya dalam pelaksanaan.” (http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur)

Kutipan diatas secara tidak langsung menjelaskan adanya dan perlunya cabang ilmu yang lain dalam pemahaman akan dunia arsitektur khususnya menjadi seorang arsitek. Itulah mengapa pada dahulu kala vitruvius mengemukakan pentingnya pemahaman akan filsafat, musik, astronomi, matematika, dan lainnya agar semua hal dan setiap langkah yang dilakukan oleh seorang arsitek menjadi beralasan, bukan tanpa penjelasan. Untuk itu diperlukan model studi, scoring, presentasi, design report, dan media lainnya untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya tersebut.

Yang menjadi bahan perenungan dan pertannyaan saat ini adalah ternyata sulit untuk melaksanakan berpraktek dan berteori dengan satu langkah yang sama. Dan pada kenyataan sekarang ini, saya justru bertanya benarkah para arsitek hari ini berpraktek dengan teori? Teori siapa? Teori yang telah disimpulkan oleh dirinya sendiri atau teori yang memang sudah dengan baik dikuasainya. Tidak perlu jauh-jauh menganalisa para praktisi arsitek tersebut, cukup dengan mengetahui bahwa apakah yang sudah saya lakukan, sebagai calon sarjana arsitek, sudah berpraktek dan berteori-kah?

Secara sadar atau pun tidak sistem atau urutan perancangan saya selalu berulang dengan mencari site, membuat preseden, penjelasan ide, membuat model studi dan scoring, hingga bentuk bangunan saya tercipta. Entah apakah ini suatu teori dasar perancangan atau tidak yang secara tidak langsung diperkenalkan oleh jurusan, tetapi pastinya saya pernah mendapatkan sistematika bentuk perancangan ini saat di mata kuliah metoling (metode dan perancangan lingkungan) dan teori lainnya seperti dekonstruksi, fenomenologi, kedekatan ruang, dan lainnya. Tapi pada kenyataannya semua yang pernah diajarkan tersebut hilang saat proses perancangan berlangsung. Padahal bukankah semua materi tersebut diberikan sebagai pendukung proses perancangan. Yang nantinya setiap tindakan yang saya lakukan dalam merancang memiliki arti dan tujuan sehingga bukan “ngasal” merancang yang bentuknya tercipta tanpa tahu dari mana dia tercipta. Agar semua karya yang saya ciptakan sebelumnya punya asal, sehingga dirinya bisa menjawab pertanyaan “siapa kamu?”

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.