there’s something about geometry + architecture

March 25, 2011

Sisi Indah dari “Earth Intruders” yang Chaotic

Filed under: architecture and other arts — febyhk @ 17:16
Tags: , ,

Pada kelas geometri sempat dipaparkan mengenai order. Spesifiknya, hal ini dijelaskan dengan gambaran ‘ideal’ kota-kota yang tampak rapi dengan bentuk-bentuk solidnya. Penjelasan (sekilas) mengenai order dan gambaran ideal itu membuat saya bertanya-tanya “apa sebenarnya order dan apa pengaruhnya order (dan disorder) pada persepsi kita?”

Pada bukunya yang berjudul “Aesthetic Order” Ruth Lorand menulis bahwa rumusan paling kuno dari “kecantikan” (beauty) adalah “unity in diversity“. Hal ini ia perjelas lagi dengan pernyataan bahwa “… no order exists in simple, totally homogeneous system. It also follows that if beauty is indeed an expression of order, beauty is never simple” . Mungkin hal ini dapat dilihat dari cara kita mengkelaskan sesuatu. Kita ambil contoh saat kita sedang survey site, maka kita kerap kali mendokumentasikan data yang kita dapat secara acak dan baru mengelompokannya ketika selesai survey. Kita mengelompokkan data itu karena kita memiliki keinginan untuk memberitahukan apa yang kita dapat lalu menganalisanya dengan mudah. Tentu untuk mengelompokkan data-data itu bukanlah hal yang mudah. Kompleks, lebih tepatnya.

Jika begitu, bagaimana dengan “disorder” ? Apakah ia lawan dari “order” itu sendiri sehingga bentuknya tidaklah sekompleks “order”? Ruth Lorand juga menjelaskan, bahwa disorder dalam “kekacauannya” membuat semua hal terkesan sama. Hal ini disebabkan tidak adanya pengelasan yang biasa kita lakukan pada ranah “order”. Namun, Lorand juga berkata bahwa “… disorder also appears in sets (which are complex by definition).
Consequently, order and disorder do have some common features and thus
disorder is not an outright opposite of order“. Hmm..membingungkan!

Bagaimanapun, saya tetap mencoba menafsirkan apa itu “order” dan “disorder” yang dimaksud Lorand. Mungkin dengan video klip seorang penyanyi terkenal asal Islandia, Bjork, order dan disorder tersebut dapat diketahui.

Pertama kali melihat video ini saya terpukau dengan background-nya yang surrealist dan tarian-tarian yang dilakukan oleh para siluet. Setelah saya  menonton sampai selesai ternyata tarian tersebut saya tangkap sebagai representasi dari lirik lagunya:

Siluet serupa pohon dengan batang dan rantingnya, merepresentasikan “twigs and branches
koreografi tarian bertambah, tidak hanya siluet orang berjalan sambil menunduk tetapi juga siluet orang-orang yang merentangkan tangannya. Koreografi ini tepat ketika Bjork menyanyikan lirik “turmoil!…carnage!” (kacau!…pembunuhan massal!). Sisi “kekacauan” dapat dilihat dari kepala Bjork sebagai background yang dipampang terbalik
Warna background berubah menjadi biru dengan salju yang turun perlahan-lahan disertai tarian dengan tangan terbuka oleh para siluet. Hal ini dilakukan tepat ketika Bjork menyanyikan “Goodness“. Dengan kata lain, “Shower of goodness..” direpresentasikan dengan background yang menyerupai hujan salju disertai siluet yang seolah-olah menyambut hujan salju tersebut.
Di sini mulai terjadi permainan warna yang lebih banyak dari sebelumnya, tidak hanya pada background tetapi juga cahaya yang seolah-olah keluar dari tangan para siluet. Sinar-sinar itu merepresentasikan “sharp shooters” atau penembak. ‘Tembakan’ semakin banyak seiring kata “voodoo” dinyanyikan seolah-olah menampilkan kutukan yang keluar dari tangan para siluet.

Dari sekilas apa yang telah diperhatikan dari video klip Bjork ini dapat dilihat representasi “disorder” (atau “chaos”) dengan bentuk terbaliknya kepala Bjork, koreografi  tembak-menembak, perubahan warna background, dan sebagainya. Jika melihat lirik keseluruhannya memang lagu yang berjudul “Earth Intruders” ini mengisahkan persepsi Bjork tentang kita, manusia, sebagai pengganggu bumi. Kita membuat kekacauan dengan membunuh secara massal, membuat kebisingan, menghilangkan segala kebaikan, dan merusak lahan bumi. Itulah “chaos” di mata seorang Bjork.

Ketika saya cari infonya lagi ternyata lagu ini dibuat karena Bjork bermimpi mengenai tsunami dan banyaknya orang yang jatuh miskin karenanya. Bjork sendiri menganggap lagu ini memang kacau. “It’s a quite chaotic song,” ucapnya. Video klip ini diakhiri dengan Bjork yang membuk.  matanya dengan background pegunungan yang indah (tidak surrealist lagi). Bjork seolah-olah lepas dari mimpi buruknya.

Terlepas dari pengalaman Bjork, video klip ini sebenarnya memiliki “order” yang kemudian menciptakan “beauty“. “Order” tersebut terbentuk dari koreografi-koreografi yang serentak dan kompak meskipun berbeda-beda. Namun, di beberapa saat ada koreografi yang memang terlihat tidak kompak, mengindikasikan “disorder” (seperti ketika bagian “tembak-menembak”) Dari hal tersebut saya melihat bahwa “order” dan “disorder”, entah bagaimanapun persepsi kita mengenai kedua hal itu, sebenarnya dapat menjadi komposisi yang menarik, semenarik video ini. Tidak hanya itu, permainan dinamika antara musik, lirik, dan tarian juga menjadi pengalaman yang menarik ketika menonton video ini. Terlebih video ini juga memberi pesan yang mendalam bagi kita.

Untuk tahu lebih banyak soal videonya, silakan: http://www.youtube.com/watch?v=s-V_CtrVj5U&feature=related

sumber:

“Aesthetic Order” oleh Ruth Lorand

http://en.wikipedia.org/wiki/Earth_Intruders

April 5, 2009

Kota Membentuk Dirinya Sendiri

Filed under: ideal cities — arsnu @ 21:27
Tags: , , , ,

“The grid, the orthogonal plan with parallel streets, right angles, used frequently in ancient planning, appears to be the ideal city form..” (Eaton)

“the separation of activities as the prominent character of modern cities to avoid the ‘pile-up’ of activities.” (Lofland)

Ideal city, dianggap dapat direalisasikan dengan grid-grid, jika dilihat dari atas dapat dilihat zoningnya. Ada yang mengatakan itu agar rapih, agar teratur, namun ketika kita zoom in, apakah masih se-teratur seperti skala sebelumnya? Apakah zoning tadi masih jelas? atau justru zoning tadi sudah menjadi blur?

“the grid denies the existence of contrast, complexity and difference, which are the basic characteristic of urban ife” (Sennet)

“the greatest mistake in zoning is that it permits monotony, and leads to disintegration of environtment” (Jacobs)

Begitu juga ada yang berpendapat bahwa grid-grid itu monoton, terlalu dipisahkan, menghilangkan kompleksitas sebuah kota. Bahkan kata Jacobs, itu dapat mengakibatkan disintegrasi. Lagi-lagi ketika kita zoom in, apakah masih monoton? Apakah antara satu zona dengan zona lain benar-benar terpisah oleh dinding besar sehingga disintegrasi itu terjadi? tidak sebegitunya kan? Itu hanyalah God’s eye, seperti kata Sasaki, “the visuality of the Cartesian city was abstract, since it was addressed not to human eyes but to God’s eye”. Itu hanya dilihat dari atas saja, yang dari plan terlihat rapih dan bergrid seakan teratur sekali, ketika kita masuk didalamnya, tidak akan sebegitu rapihnya juga. Begitu juga dengan kemonotonannya, di plan kita lihat ‘ah monoton, grid-grid, zona-zona, sini bisnis, situ residential, bosan’, padahal ketika kita didalamnya tidak akan sebegitu monotonnya.

Menurut saya hal tersebut karena isi dari kota itu sendiri. Diversity yang sudah pasti ada dalam sebuah kota akan memblurkan zona-zona yang tadi telah dirancang, dan akan memvariasikan kemonotonan dari grid-grid yang ada. Urban planner yang menata sedikimian rupa hanyalah merapihkan dan mempermudah segala sesuatunya, dan lagi-lagi itu hanyalah God’s eye. Nantinya kota itu sendiri yang akan merancang dan membentuk dirinya. Kota itu sendiri yang akan menjalarkan segala yang ada didalam dirinya, menjalarkan sisi sosial, sejarah, budaya, ekonomi, masyarakat, arsitektur, geografis, order, disorder, semuanya. Semua itu akan mengisi kota dan akan saling berhubungan, sehingga bentuk-bentuk urban planning bukanlah hal terpenting lagi. Apakah ia grid, apakah ia memusat, apakah ia indah, apakah ia teratur, atau monoton. Itu hanyalah sebuah wadah, geometri yang menjadi wadah geometri yang lebih kecil lagi, yang bisa saja ditata berbeda-beda, dan tetap sah-sah saja. Tidak ada bentuk mutlak yang diTuhankan dan dianggap paling ideal. Karena ideal akan terus menjauh ketika kita berlomba-lomba untuk mengejarnya, hanyalah sebuah utopia.

Apakah Ideal City Merupakan Sesuatu yang Teratur dan Positif?

Filed under: ideal cities — f3br1ant1 @ 16:20
Tags: , ,

Setelah mengikuti kuliah dua minggu ini yang membahas “ideal city” saya menjadi bertanya-tanya seperti apa sebenarynya sebuah kota itu dapat dikatakan sebagai kota yang ideal. Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa kota yang ideal itu harus terlihat sempurna dan tidak boleh terlihat satu kejelekan apapun dari nya dan tertata rapi membentuk grid-grid atau pun segala sesuatu yang bentuk dan susunannya teratur. Salah satu yang berpendapat seperti itu adalah oleh Barnet, menurutnya “The ideal city will be new…
No smell filth, danger or noise, no old houses, no cemeteries, no prisons, no slaughter houses with ugly appearance. Instead there are good houses with broad and lighted streets”. Namun ada pendapat yang lain yang membantah pernyataan-pernyataan tentang ideal city yang pada awal nya disebutkan sebagai segala sesuatu yang berada di dalam sebuah kota yang ideal hanyalah segala sesuatu yang baik-baik. Pendapat yang menentang nya mengatakan bahwa ideal city itu menyatakan bahwa kota yang ideal itu didalam terdapat order dan disorder (terdapat campuran sesuatu yang bersifat positif dan negative di dalamnya).
Hal senada juga dikatan oleh Sennett, “Disorder is actually a good thing that should happen in the cities.”

Dari dua macam pendapat di atas saya lebih setuju dengan pendpat kedua, yang mengatakan bahwa ideal city, itu di dalam nya terdapat order dan disorder. Mengapa? Karena menurut saya order dan disorder itu sangat berkaitan satu sama lain, tanpa adanya disorder tidak mungkin terbentuk order (jika semuanya sudah terusun dengan rapi dan tidak ada yang di katakan tidak baik itu maka mungkin saja sesuatu yang sudah order itu suatu saat berubah menjadi disorder, karena tidak ada yang menjadi perbandingan. Hal ini bisa saja membuat pandangan orang mengenai sesuatu yang order itu berubah menjadi sesuatu yang disorder karena terjadinya perkembangan pemikiran manusia dan kemajuan ilmu pengetahuan).

Menurut pendapat saya ideal city itu merupakan suatu keadaan kota yang seimbang (terdapat keseimbangan antara segala sesuatu). Hal-hal yang positif dan negative tersebut saling melengkapi dan saling mempengaruni dan membutuhkan satu sama lain. Menurut saya, kita tidak bisa membuat sebuah patokan seperti apa sebuah kota yang dikatakan “Ideal City” secara global, karena terdapat banyak hal yang mempengaruhinya seperti dalam hal kebudayaan dan kebiasaan yang ada di dalam suatu masyarakat (misalnya, di salah satu Negara di Kamboja wanita yang dikatakan cantik oleh mereka adalah wanita yang memiliki leher yang panjang dan mereka mulai dari anak-anak mulai memasukkan kalung-kalung di leher mereka agar semakin panjang. Namun hal itu hanya berlaku di daerah tersebut, mungkin bagi kita yang melihat hal itu tidak cantik sama sekali). Begitu juga dalam perencanaan sebuah kota, karena setiap daerah memiliki kebudayaan masing-masing dan hal tersebut mempengaruhi cara pandang mereka mengenai suatu kota yang dikatakan ideal tersebut.

April 2, 2009

Order dan Disorder, Seberapa Penting dalam Kota Ideal?

Filed under: ideal cities — ranggaayatullah @ 20:13
Tags: , ,

Jika mewacanakan tantang sebuah kota yang ideal, mungkin hanya berujung pada sebuah utopia. Menurut asal katanya pun, kota ini hanya ada dalam angan-angan, di tempat yang mungkin tepat disebut antah berantah. Ada dua kubu yang mempertentangkan bagaimana sebenarnya kota yang ideal, yang mengambil tema besar, sempurna dan tidak sempurnanya kondisi sebuah kota.

Kevin Lynch menyatakan bahwa, ”Ideal city reflects order, precision, clear form, extended, space, and perfect control”. Dengan kata lain, isi dari sebuah kota idel adalah sesuatu yang dianggap baik, bagus, indah, sempurna dalam pandangan umum. Le Corbusier mendukung pendapat tersebut dengan menyatakan bahwa “city of tomorrow” adalah separating dan zoning. Di pihak lain, Lofland, Jacobs, dan Sennett berpendapat sebaliknya bahwa dalam sebuah kota, tak mungkin hanya ada sesuatu yang baik, bagus, indah, sempurna. Lofland mengatakan bahwa “city is many things”, ada sesuatu yang sempurna dan tidak sempurna, baik dan buruk.

Kemudian pertanyaannya adalah sebenarnya yang disebut ideal yang seperti apa? Saya cenderung berada pada kubu Lofland Dkk dengan semacam propaganda bahwa mungkin kota ideal tidak akan pernah ada, bahwa mungkin tidak salah bahwa kota ideal berisi segala sesuatu yang sempurna, tapi faktanya tidak ada sesuatu yang sempurna, bukan?

Order, dianggap mewakili kesempurnaan, dimana ada keteraturan, sedangkan disorder sebaliknya. Mungkin sesuatu yang dilupakan, dalam konteks perancangan, order dan disorder ini cenderung lebih dapat dilihat secara dua dimensi, bukan dirasakan secara ruang. Dalam perancangan kota, merancang dengan zoning, pola grid-grid yang beraturan sejak lama telah dilakukan.
Namun, urbanisme adalah sesuatu yang pasti memunculkan urban sprawl yang tidak bisa dihindari. Tapi justru disinilah sesuatu yang dianggap disorder itu bersama dengan sesuatu yang order selalu berjalan berdampingan, saling melangkapi.

Ambil contoh kota Jakarta yang tidak dirancang dengan pola yang order, Jakarta berkembang dengan sendirinya, dengan orang-orang dan aktivitas masing-masing. Sebuah pertanyaan, Jakarta adalah kota yang penuh kemacetan, bagaimana sesungguhnya keadaan disorder ini terhadap kota Jakarta? Dari satu hal, macet, sessuatu yang disorder ini bisa membawa kepada sesuatu yang order, misalnya orang yang bekerja, karena dia tahu akan mengalami macet, maka dia bisa membuat semuanya menjadi lebih teratur. Lebih luas lagi, berhubungan dengan urban sprawl, sesuatu yang dibuat dengan order, lama-kelamaan akan tumbuh disorder, dan jangan-jangan sesuatu yang disorder itu justru menjadi keadaan yang order. Kemacetan di Jakarta mungkin bisa jadi salah satu contoh, hal ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial. Jangan-jangan justru macet ini yang membuat Kota Jakarta menjadi “JAKARTA”. Ketika terjadi disorder dengan kondisi ini, misalnya saat Idul Fitri, Jakarta menjadi kota yang sama sekali berbeda, warga Jakarta justru menikmati keadaan ini. Jakarta dengan kemacetan dan tanpa macet juga telah menjadi sesuatu yang order, menjadi sebuah siklus tahunan.

Order dan disorder tidak selalu baik atau buruk dan sebaliknya, meraka mutlak ada dan sebenarnya keduanya menjembatani proses perjalanan sebuah kota untuk (hanya) mendekati kondisi ideal. Ya, City is both perfect and imperfect things…

March 29, 2009

The Marriage of Order and Disorder, Probably?

Filed under: ideal cities — meurin @ 19:28
Tags: , , , ,

Menurut saya, itu justru pasti dan mereka tak terpisahkan. Karena mereka berdua sangat dibutuhkan. Dalam kuliah Geometri tanggal 16 dan 23 Maret 2009 yang membahas tentang geometri dan kota ideal, order dan disorder tampak terpisah dan tak memiliki kaitan di antaranya. Namun, apabila diselami lebih mendalam, justru saya menemukan bahwa makna order dan disorder yang mereka sebutkan hanyalah salah satu dari banyaknya dan bermacam-macam sudut pandang. Pada kenyataannya, order dan disorder benar-benar tak dapat dipisahkan. Mereka ada di mana-mana, baik distrik terkecil maupun seluruh kota.

Misalkan, kutipan Eaton: ”The grid, the orthogonal plan with parallel streets, right angles, used frequently in ancient planning, appears to be the ideal city form..”. Ini jelas bahwa order itu hanya meliputi tampilan saja. Namun, bagaimana dengan keanekaragaman penggunaan (disorder) di dalam kota? Di dalam kota yang berpenampilan seperti kotak-kotak, terdapat bangunan-bangunan dengan fungsinya yang beragam, seperti toko, apotek, sekolah, dan sebagainya. Bisa juga, itu berupa bentuk-bentuk bangunan yang bervariasi. Hanya saja, kota itu ditata menurut grid, tanpa ada pembagian fungsi atau bentuk bangunan.

Atau mengacu kutipan Lofland : “the separation of activities as the prominent character of modern cities to avoid the ‘pile-up’ of activities.” Maksud kutipan ini adalah perzonaan itu penting agar tampak teratur. Misalkan sebuah kota terbagi menjadi tiga zona. Zona pertama adalah zona perbisnisan, zona kedua adalah zona permukiman, dan terakhitnya, zona peribadahan umum. Bagi Jane Jacobs, perzonaan itu adalah order dan itu monoton. Akan tetapi, jika kita melihat keseluruhan kota, bukan salah satu zonanya, justru terlihat keragamannya. Kita melihat ada tiga zona yang berbeda seperti merah, biru, dan kuning. Dari bukunya berjudul ”The Death and Life of Great American Cities”, Jacobs sesungguhnya hanya menyoroti keragaman dalam suatu distrik yaitu bervariasi dan lengkapnya fasilitas yang tersedia di situ, adanya elemen yang multifungsi seperti jalan, dan bangunan-bangunan yang berbeda usia (old and new style). Namun, bagaimana dengan jalan? Dalam buku, ia sering menggambarkan jalan sebagai garis lurus dan tidak berliku-liku . Tanpa disadarinya, jalan itu justru adalah order. Jalan itu yang membagi dan menata kota. Kita tidak mungkin bisa berjalan di jalan yang berliku-liku setiap meter karena itu akan menghabiskan banyak waktu dibandingkan jalan lurus.

Seperti yang dikatakan Venturi dan Brown, ”’complex order’ or ‘difficult order’ the order that includes the mixture of clashing elements and it is not order dominated by the expert and not easy for the eye”. Selain ditafsirkan bahwa keanekaragaman juga bentuk order, ini juga dapat diartikan bahwa order dan disorder tidak terpisahkan.

Bagi saya, sesungguhnya order dan disorder itu tidak penting karena order dan disorder itu akan selalu berpasangan seperti suami istri. Kita tidak mungkin bisa hidup di dunia yang order atau disorder. Di kota yang order, pasti ada disorder misalkan hal yang tak terduga terjadi. Begitu juga sebaliknya. Di kota yang disorder, pasti ada order, misalkan pola jalan. Order dan disorder ada untuk saling menyeimbangi. Yang terpenting, adalah mana penataan kota yang cocok bagi kita sebagai penghuninya, yang dapat kita pilih dari bermacam-macamnya cara penataan kota.

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.