there’s something about geometry + architecture

March 24, 2011

Fractal in Traditional Art

Filed under: architecture and other arts,locality and tradition — austronaldo @ 06:34
Tags: ,

Fraktal, secara sederhana, merupakan konsep matematika yang membahas kesamaan pola pada semua skala. Jadi pola yang sama dapat diulangi dalam skala yang berbeda. Ketika mendengar disebutnya keterkaitan fraktal dengan batik di mata kuliah lain, saya menjadi tertarik untuk mengetahui lebih detail mengenai batik fraktal ini. Ternyata dibalik karya seni tradisional yang indah terdapat logika matematis berupa pola-pola yang tercipta dan dapat diterjemahkan lagi ke dalam software untuk menciptakan pola-pola baru.

Contoh: “E=[A][B][C][D],A=C+FAE,B=C-FBE,C=C?FCE, D=C&FDE” artinya lambang [ ] menandakan percabangan, ‘+’, ‘-‘, ‘&’, ?, menandakan sudut dalam 3 dimensi.
Pola batik yang sudah diterjemahkan dalam rumus fraktal ini dapat dimodifikasi dengan bantuan teknologi komputer sehingga menghasilkan desain pola baru yang sangat beragam. Kita bisa melihat keragaman dari segi grafis, warna, ukuran, sudut dan perulangannya. Disebutkan bahwa fraktal muncul sebagai tanda keteraturan dalam kekacauan (chaos) dalam suatu sitem yang kompleks. Jadi batik memiliki pola yang kompleks dan dapat disederhanakan dengan menggunakan fraktal. Begitu juga alam yang kompleks di dunia ini dapat disederhanakan dengan menggunakan fraktal. Hal ini terkait dengan law of pragnanz pada teori persepsi gestalt dimana orang cenderung untuk mempersepsikan esensi dari suatu objek. “Reality is organized or reduced to teh simplest form possible” – Law of Pragnanz

Batik fraktal ini menggunakan rumus matematis, maka pengolahan dan pengembangan desain selanjutnya akan lebih mudah dan lebih banyak mendapatkan variasi desain yang berbeda dan sangat cepat sekali bila dibandingkan dengan langkah mendesain secara manual. Dengan batik fraktal ini, kita bisa memperbesar dan memperkecil gambar, membuat simulasi gambar, membuat visualisasi desain dengan tiga dimensi sehingga desain batik yang dihasilkan bisa lebih variatif.

Maka saya bisa membuat suatu kesimpulan bahwa pola dapat dirumuskan. Pola dapat diterjemahkan dalam rumusan matematis. Dengan demikian pola-pola lain dapat ditemukan.
Lalu saya menemukan bangunan-bangunan yang menggunakan unsur batik dalam desainnya dimana batik digunakan pada bagian surfacenya. Bentuknya memang kotak namun permainan batik fraktalnya secara kosmetik atau pada bagian kulitnya saja. Inilah contoh yang saya temukan.

Apabila kita melihat pola batik pada kulit bangunan, pola yang digunakan mengikuti pola yang cukup sederhana dan tidak sekompleks pola batik yang ada pada umumnya.
Lalu pada interior Hotel Hilton di Bandung, kita bisa melihat penerapan pola geometris Batik Jawa pada ukiran tekstur tembok yang terbuat dari batu.
Ataupun penerapannya pada bentuk seperti pada contoh karya instalasi ‘A Swirl of Giant Batik’ pada London Festival of Architecture.

Referensi:
Kudiya, Komarudin. Proses Pembuatan Batik Fractal vs Batik Tradisional http://netsains.com/2009/10/proses-pembuatan-batik-fractal-vs-batik-tradisional/

http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=250006&page=67

http://jakartalifestyle.com/news/2010/July/jakarta-news-batik-represents-ri-in-london-festival-of-architecture.html

Institut Teknologi Bandung. “Mathematics in Batik Fractal”, Kombinasi Seni, Sains, dan Teknologi. http://www.itb.ac.id/news/2262.xhtml

March 23, 2011

Persepsi Arsitektur dan Desain dengan Geometri yang Saling Terkait

Filed under: architecture and other arts — evita18 @ 14:52
Tags: , ,

Ketika seorang perancang (dalam hal ini pelukis, seniman, ataupun arsitek) menuangkan idenya di suatu media yang menurutnya sesuai dengan idenya, maka si perancang tersebut tidak akan terlepas dari suatu bentuk.
Di dunia ini terdapat begitu macam bentuk yang tak terhitung jumlahnya. Namun menurut ahli-ahli zaman dahulu yang telah meneliti angka agung yaitu phi =1,618 secara geometris, bentuk yang dianggap proporsional dan indah apabila mengikuti perbandingan agung ini. Ini menunjukkan bahwa konsep sebuah ke proporsionalan diukur dari perbandingan geometri yang ada.
Yang saya pikirkan disini adalah jika semua bentuk seperti sudah memiliki perbandingan geometri yang ada lalu apakah itu berarti semua bentuk di dunia ini harus “terikat” pada geometri?
Ketika melihat bentuk-bentuk di alam pun, kita melihat bahwa tidak ada yang benar-benar lurus atau bentuk kaku dari bentuk tumbuh-tumbuhan atau binatang, mereka sangat flexible. Namun sesungguhnya, ke flexibelan mereka pun mengandung order tertentu yang disebut fractal geometri. Fractal geometri merupakan suatu pengorderan pengorganisasian yang menjelaskan bentuk-bentuk alam.
Jika sudah begitu, bentuk alam yang tidak beraturan saja dapat dijelaskan dengan istilah fractal “geometri”,berarti semua bentuk di dunia benar-benar terikat geometri bukan? Benar begitu? Lalu bagaimana dengan para seniman penggambar abstrak?
“Sekilas Seni Abstrak

Louis Fichner dalam Understanding Art (1995) menyatakan, seni abstrak merupakan penyederhanaan atau pendistorsian bentuk-bentuk, sehingga hanya berupa esensinya saja dari bentuk alam atau objek yang diabstraksikan. Abstraksi, mengubah secara signifikan objek-objek sehingga menjadi esensinya saja.

Seni abstrak diciptakan melalui dua pendekatan. Pertama, seni abstrak diciptakan tanpa merujuk secara langsung pada bentuk-bentuk eksternal atau realitas. Ke dua, seni abstrak berupa citraan-citraan yang diabstraksikan yang berasal dari alam. Seni abstrak diciptakan melalui proses mengubah atau menyederhanakan bentuk-bentuk menjadi bentuk geometrik atau biomorfik. Seni abstrak juga dapat diciptakan dalam bentuk ekspresif”.
Melalui bacaan diatas, saya berasumsi bahwa jika memang seni abstrak adalah penyederhanaan bentuk menjadi makna utama atau esensinya saja, berarti kembali pada bentuk-bentuk yang memang telah ada di dunia ini, bahkan bentuk alam yang terkadang menjadi inspirasi bagi seni abstrak pun memiliki order yaitu fractal geometri. Jikalau begitu, mungkin saja, secara subjektif, dapat disimpulkan bahwa abstrak sekalipun mengikuti suatu bentuk geometris yang ada di alam.

sumber :http://liza-pecintasenimurni.blogspot.com/2010/06/membaca-makna-seni-lukis-abstrak.html

June 2, 2010

Fractal Architecture

Filed under: contemporary theories — arumthequeen @ 14:18
Tags: ,

Fractal, pada saat kita mendengar kata ini kita pasti akan langsung mengaitkannya dengan matematika, pelipat gandaan dan geometry. Beberapa definisi yang saya temukan berkenaan dengan fractal menyatakan bahwa fractal adalah sebuah kajian didalam matematika yang mempelajari mengenai bentuk atau geometri yang didalamnya menunjukan sebuah proses penggandaan yang tanpa batas. Geometri yang dilipat gandakan tersebut memiliki kemiripan bentuk satu sama lain (self-similarity), dan pada penyusunan pelipatgandaannya tersebut tidak mengacu pada satu pakem orientasi tertentu bahkan cenderung meliuk liuk dengan detail dan dimensi yang beragam mulai dari kecil hingga besar.
Fractal ini banyak ditemui di alam, seperti pada pola yang terdapat di daun, ranting ranting disebuah pohon, pada detail yang bisa kita lihat pada sebuah kepingan salju, di sayur brokoli yang kita makan, di gugusan awan putih yang kita pandang, di dalam riak ombak, dan banyak lagi bila kita mencoba memperhatikan sekitar kita secara lebih teliti.
Fractal bisa dikatakan sebagai sebuah simetri yang terbentuk di alam. Simetri yang selama ini kita kenal terutama yang biasa digunakan dalam Euclydian Geometri adalah simetri yang sama dan sebangun. Sementara simetri yang terdapat di dalam fractal geometri mengandung campuran antara unsur order seperti yang terdapat di dalam simetri euclydian sekaligus memiliki unsur kejutan di dalam bentuk komposisi ritmis yang tidak dapat ditemui di dalam euclydian geometri.
Kaitannya dengan desain dan arsitektur, euclydian geometri dianggap tidak menunjukkan adanya alur dengan unsur kedalaman tekstur di dalamnya, bahkan bila kita amati lebih lanjut, bentuk yang terdapat di dalam euclydian geometri hanya terdiri dari garis dan lengkung. Dan di dalam arsitektur menurut Carl Bovill di dalam bukunya Fractal Geometry In Architecture And Design, penggunaan bentuk bentuk euclydian geometri di dalam arsitektur menghasilkan karya arsitektur yang datar dan tidak alami, sementara penggunaan fractal geometri dianggap lebih mendekati bentuk dan proses transformasi bentuk yang terjadi di alam. Terutama dalam menghasilkan komposisi ritmis yang lebih kompleks, yang dapat memberikan elemen order dan surprise pada saat yang bersamaan.
Fractal di dalam arsitektur dipahami sebagai komponen dari bangunan yang mengulangi bentuknya kembali di dalam skala skala yang berbeda. Beberapa arsitek ternama dunia ternyata telah menggunakan pendekatan fractal geometry di dalam karya arsitektur mereka. Seperti contohnya yang dilakukan oleh Le Corbusier pada Villa Savoye atau Frank Llyod Wright pada Palmer House. Bila kita tarik mundur jauh ke belakang, ternyata karya karya arsitektur klasik atau beberapa arsitektur tradisional pun dapat dijelaskan melalui matematika fractal. Dalam hal ini saya melihat Candi Borobudur dengan sebaran stupanya dapat diurai dan dijelaskan dengan geometri fractal.
Sementara untuk arsitek postmodern atau contemporer sekarang ini banyak dari mereka yang menggunakan pendekatan geometri fraktal dalam karya karyanya. Seperti yang bisa kita lihat pada beberapa karya Zaha Hadid, salah satunya yaitu kompleks Masjid di Strasbourg, Prancis. Yang oleh Zaha Hadid dikatakan merupakan sebuah bangunan yang dirancang dengan pendekatan ‘fractal space’, terinspirasi oleh geometri Islami, bentuk fisik dan simbolik dari air, metafora kaligrafi dan metodelogi pembentukan pola, yang menurutnya gabungan dari semua itu menghasilkan karya yang puitis dengan bentuk yang mengalir.

http://math.unipa.it/~grim/Jsalaworkshop.PDF

http://en.wikipedia.org/wiki/Fractal

http://books.google.co.id/books?id=9YxYdih3TEoC&pg=PT47&lpg=PT47&dq=zaha+hadid+fractal

Carl Bovill, Fractal Geometry in Architecture and Design. Boston: Birkhauser Verlag ag, 1996.

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.