there’s something about geometry + architecture

March 24, 2011

Cara Unik Menciptakan Ruang Apapun

Filed under: perception — Ryan Tjahjadi @ 06:36
Tags: , , , ,

Saya tertarik ketika membaca sebuah artikel mengenai sekelompok orang yang membuat ruang arsitektural hanya dengan menggunakan lukisan 2 dimensi. Mungkin anda juga pernah mendengar mengenai hal ini. Berikut contoh-contoh karya yang mereka lakukan..
Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Saya terkagum-kagum melihat hasil-hasil karya ini. Tentunya ini merupakan sebuah ilusi yang dapat membuat ruang yang sebenarnya tidak ada menjadi terlihat ada.

Secara tidak langsung , hal ini mempengaruhi persepsi visual kita. Atau mungkin lebih tepatnya mengecoh persepsi visual. Orang-orang yang membuat hal ini tampaknya paham betul mengenai teori persepsi Gestalt dan Gibson. Di satu sisi mereka membuat komposisi dan karya ini di bidang 2 dimensi untuk mengubah persepsi orang (gestalt). Namun di sisi lain mereka tetap sadar bahwa mereka hidup di dunia 3 dimensi (gibson) dan dengan cara sedemikian rupa dapat membuat apa yang dibuat secara 2 dimensi ternyata dapat dinikmati sebagai 3 dimensi.

Jika saya perhatikan, yang mereka lakukan hanya mengikuti garis perspektif mata kita. Lalu dimana garis itu berhenti pada suatu bidang , maka mereka meneruskan garis perspektif mata kita itu dengan menggambarkannya pada bidang tersebut. Sehingga garis perspektif kita pun tampak tidak lagi terhalang oleh bidang itu melainkan dilanjutkan. Ruang pun akan tampak lebih luas sebab garis perspektif kita bertambah panjang.
Image Hosted by ImageShack.us
Tidak hanya memperluas ruang, mereka juga dapat mempersempitnya. Saya perhatikan cara mereka mempersempit yaitu dengan memblokir garis perspektif mata kita. Biasanya dengan cara menggambarkan objek pada lantai di depan bidang. Sehingga garis perspektif kita akan terhenti pada objek itu sebelum mencapai bidang yang sebenarnya.
Image Hosted by ImageShack.us
Hal ini membuat saya berpikir bahwa saya dapat menciptakan ruang apapun yang saya inginkan hanya dengan memainkan perspektif dengan objek 2 dimensi saja. Ruang yang tadinya sempit dapat dibuat luas. Ruang yang tadinya luas dapat dibuat seolah sempit. Ruang yang tadinya tertutup dapat dibuat seolah sangat terbuka. Semua itu berkat permainan perspektif saja.

Yaa.. walaupun memang jika karya-karya ini dilihat dari sudut yang salah maka karya ini akan kehilangan esensinya (lebih banyak mengarah ke Gestalt daripada Gibson). Namun hal itu tentunya dapat diakali dengan mengatur ruang sedemikian rupa suatu ruang agar orang-orang terarahkan untuk melihat dari sudut perspektif yang diharapkan.

Sumber: http://weburbanist.com/2007/10/10/3d-architectural-illusions-amazing-paintings-murals-and-mosaics/

March 23, 2011

Gambar Apa Ini???

Filed under: perception — androkaliandi @ 15:39
Tags: , , ,

Image and video hosting by TinyPic

Pada gambar A dan B kita cenderung belum mengetahui benda apa yang ditangkap kamera. Kita menebak gambar adalah sumber cahaya, bulan atau lampu. Dengan gambar C kita sudah dapat mengenal benda apa yang terpapar yakni lampu downlight, namun belum jelas geometri tiga dimensional-nya. Karena saya memotret secara orthogonal, kita cenderung menebak lampu downlight bundar yang tertanam di plafon. Ketika kita telah melihat gambar D, kita tidak hanya tahu benda apa yang terpapar, tetapi kita juga tahu bentuk geometrinya (tabung). Ternyata lampu downlight-nya tidak ditanam di plafon, tetapi justru muncul keluar dari plafon. Berbeda dengan gambar C yang saya potret secara orthogonal, gambar D saya potret secara perspektif. Apabila ketika memotret gambar C, saya memosisikan diri tegak lurus dengan objek (lampu). Namun ketika memotret gambar D, saya memposisikan diri lebih bebas dari objek. Ketika saya mengamati objek lebih bebas, saya lebih dapat memahami benda secara keseluruhan. Mungkin hal serupa juga yang dikritik Gibson tentang teori Gestaalt. Ketika Gestaalt mengalami persepsi visual secara dua dimensional, maka Gibson mengajukan teori persepsi tiga dimensional. Karena memang manusia mengalami ruang secara tiga dimensional. Gambar A dan B saya potret ketika malam hari, lampu sedang dalam keadaan menyala. Gambar A saya potret secara orthogonal, sedangkan gambar B saya potret secara perspektif. Meskipun saya memotretnya dengan dua cara, orthogonal dan perspektif, tetapi keduanya nampak seperti gambar dua dimensional. Mengapa? Menurut saya hal ini dapat dihubungkan dengan jenis lampu, yakni downlight. Lampu downlight memberikan cahaya ke arah bawah (lantai), sehingga tidak memberikan kesempatan plafon mendapat cahaya langsung, kecuali dari pantulan lantai. Selain itu warna juga memberikan pengaruh. Warna hitam pada plafon sifatnya menyerap cahaya, bukan memantulkan. Sehingga ketika saya memotret lampu dari bawah, yang tertangkap oleh kamera adalah gambar cahaya dengan latar hitam (kegelapan). Dengan demikian bentuk tabung tiga dimensional tidak nampak, meskipun dipotret secara perspektif. Sepertinya ada kesempatan untuk melakukan manipulasi ruang dengan permainan cahaya. Dan kita perlu banyak belajar dari James Turrel: “what we see is not depth as such but one thing behind another”

Fokus dan Ilusi Optik

Filed under: perception — mutiahapsari @ 15:29
Tags: ,

Kita semua barangkali sering menemukan gambar-gambar dua dimensional yang mengandung ilusi visual dan terkadang menimbulkan pertanyaan atas kemampuannya “menipu” otak kita. Ilusi visual atau ilusi optikal didapat dari gambar yang kita tangkap secara visual dan dipersepsikan dalam otak kita sehingga gambar tersebut menjadi berbeda dari kenyataannya. Jika ditelaah dari teori persepsi Gibson, gambar di bawah ini misalnya, termasuk optical illusion jika fokus pandangan bergeser.

Sisi mana  yang Anda lihat terlebih dahulu? Apakah bagian kanan yang tumpul dan massive? Jika ya, maka gambar yang akan dilihat adalah gambar kelinci. Sekarang pindahkan fokus pada sisi kiri yang memiliki dua bidang memanjang. Si kelinci akan menghilang dan Anda justru akan melihat gambar bebek. Coba fokus kembali pada sisi tumpul di kanan, maka si kelinci akan muncul kembali.

Hal ini dapat terjadi karena ketika melihat gambar, mata kita secara otomatis akan menempatkan fokus pandangan pada suatu titik. Bisa jadi fokus pandangan jatuh di sisi kiri ataupun kanan gambar, akan berbeda bagi tiap orang tergantung sisi mana yang lebih dominan menurutnya. When a person moves their head, body, or eyes, the entire visual world moves uniformly in the opposite direction to the person’s movement (Allard, 2001). Visual world ini yang membentuk bebek dan kelinci dalam otak kita.

Dalam desain, dapatkah teori ini kita pergunakan untuk menciptakan pengalaman ruang yang berbeda?

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Perception

http://en.wikipedia.org/wiki/Visual_perception

http://ahsmail.uwaterloo.ca/kin356/theories/direct.htm

Persepsi dan Makna

Filed under: perception — arichichristika @ 14:55
Tags: , , ,

Persepsi adalah sebuah proses untuk mendapatkan informasi, suatu cara memahami sebuah objek dan hubungannya dengan objek lain disekitarnya.

Sebuah persepsi dapat berbeda antara orang yang satu dan yang lainnya walaupun berada dalam situasi yang sama. Tetapi lebih dari itu ketika melihat sesuatu yang berbeda maka akan timbul makna yang berbeda pula.

Contohnya seperti gambar di atas, apa yang anda lihat waktu pertama kali melihatnya? Kalau saya langsung melihat seorang wanita muda yang sedang menoleh ke arah belakang, tetapi ternyata kalau dilihat dan diamati, gambar tersebut dapat menggambarkan seorang wanita tua yang sedang menunduk. Apakah anda melihatnya? Nah, dengan cara melihat yang berbeda seperti itu maka makna yang timbul pun berbeda. Ini sesuai dengan teori Gibson, ‘moving observer changing perception’ walaupun sebenarnya observer tidak berpindah, hanya cara melihat saja yang berubah dan perubahan tersebut mengubah makna.

Persepsi dan makna inilah yang menurut saya menarik, dan saya terpikir bagaimana sebuah desain dapat seperti gambar diatas. Desain yang dapat mengubah persepsi seseorang di dalam sebuah ruang sehingga makna ruang tersebut berbeda dari yang sebenarnya.

Sebenarnya tanpa kita sadari ruang yang mata manusian lihat adalah berbentuk 2D tetapi mata manusia mempunyai kemampuan seperti halnya  komputer, mata kita seperti bisa merender sebuah pengelihatan yang 2D menjadi 3D dengan cara menangkap perbedaan cahaya dan warna.

Setelah mencari sumber, ini adalah salah satu desain manipulatif yang dapat merubah makna sebuah ruang dari proses memahami objek dan objek lain disekitarnya ( persepsi )

Ini ada beberapa contoh dari space perception :

Dan masih banyak contoh lainnya seperti WideOut-nya James Turrel.

The meaning of something will change when you look at it differently.

You can look at anything differently and it will have a different meaning.

There is no fixed meaning to anything.

You can always change perspectives and change meanings.

Why not change them to what you prefer them to be?

referensi :

  1. The Meaning of Perception (http://www.worldtrans.org/TP/TP1/TP1-9.HTML)
  2. faculty.washington.edu/inanici/Publications/35_Paper.pdf ( Space Perception and Luminance Contrast)

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.