there’s something about geometry + architecture

March 26, 2011

Negeri Impian dalam Benak Sang Pemimpi…

Filed under: ideal cities — rangsiadzani @ 07:45
Tags: , ,

Coba bandingkan gambar-gambar diatas… apakah memiliki kemiripan satu dengan lainnya?

Gambar dari kiri ke kanan, adalah pulau utopia (Thomas Moore), Atlantis, Tenochittlan, neverland, dan ideal city… Semuanya adalah kota-kota atau negeri impian,beberapa adalah  tempat yang sebenarnya tidak pernah eksis (neverland, utopia), atau hanya berupa mitos (Atlantis, Tenochittlan).

Bila dilihat, ada beberapa hal yang mirip, yang pertama bentuknya hampir  semua  menyerupai radial. Saya mengatakan ‘menyerupai’  adalah karena hanya menggunakan persepsi pribadi. Seperti teori  persepsi Gestalt, terjadi pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. (Wikipedia)

Bentuk radial pada utopia, terlihat dari bangunan yang mengelilingi pulaunya. Sedikit berbeda dengan peta Atlantis yang memang terlihat seperti lingkaran sempurna (meski sebenarnya lingkaran terbagi 4). Lalu Tenochittlan, meski terlihat berantakan, namun dalam persepsi saya masih tetap radial, ditandai dengan bangunan dikeliling luar kota, dan juga posisi bangunan kota yang berada di air. Neverland, yang paling nampak tidak jelas, tapi kalau diperhatikan.. nama-nama tempat yang ada di dalam pulau dapat membentuk lingkaran. Lalu yang terakhir adalah ideal city, bentuk radial terlihat apabila kita ‘menghilangkan’ ujung benteng yang mengelilingi kotanya.

Kesamaan berikutnya dalam persepsi saya, adalah bentuk yang memusat.. Utopia Nampak memiliki bangunan besar ditengahnya yang menjadi pusat.  Bagi Atlantis terlihat jelas memiliki grid-grid yang memusat menuju lingkaran di atas air. Tenochittlan, memiliki pusat berupa bangunan di tengahnya (kuil/istana), meski gridnya tidak rapi, namun alur-alurnya menuju ke tengah. Sedangkan gunung menjulang di tengah pulau diantara nama-nama tempat di Neverland nampak menjadi pusatnya.  Ideal City memusat menuju menara di tengah kotanya.

Pertanyaannya adalah, mengapa orang yang ‘menciptakan’ tempat-tempat ini  membentuknya seperti itu? Apakah memang seperti teori Gestalt bahwa manusia cenderung menerima  bentuk dasar yang mudah dipahami?

March 25, 2011

Wet Grid: There is Rule behind Chaos

Filed under: contemporary theories — ajengdwiastuti @ 17:22
Tags: ,

Dalam mendesain berdasar grid, kita seperti terbang ke atas helicopter dan melihat dunia dari atas, lalu melemparkan sebuah jala berupa grid, dan membagi dunia kedalam kotak – kotak. Dalam essay yang saya lakukan untuk mencari alasan penggunaan grid, saya mencapai kesimpulan bahwa manusia menyukai kemudahan, keteraturan, dan kecepatan dalam menyelesaikan masalah. Hal tersebut adalah hal yang ditawarkan pada grid. Akan tetapi tentunya kita tidak usah bersekolah di bidang desain jika hanya ingin memakai apa yang sudah ada. Kita butuh inovasi. Pada, grid, inovasi tersebut berupa wet grid. Secara singkat, wet grid adalah eksplorasi lebih lanjut tentang grid, terutama memasukkan grid 2 dimensi kedalam dunia 3 dimensi. Dibawah ini adalah contoh hasil akhir sebuah wet grid

wet grid 2

Dapat terlihat bahwa bentuk yang dicapai sudah mengambil bentuk 3 dimensi. Garis – garis yang saling terhubung terlihat tidak lagi kotak – kotak. Namun pada awalnya, garis tersebut tak lain tak tak bukan adalah axis – axis pada grid. Dibawah ini adalah penggambaran proses grid menjadi wet grid.

wet grid
Dapat dilihat bahwa proses terjadinya wet grid membutuhkan dua elemen, yaitu grid dan titik. Grid berfungsi sebagai connector, sedangkan titik berfungsi sebagai acuan tempat terhubungnya grid – grid yang melaluinya. Proses yang terjadi adalah meregangnya, membeloknya garis – garis grid yang tidak terkena titik. Garis – garis ini kemudian akan merapat atau menjauh serta menyatu sedemikian rupa namun tetap melekat pada titik awal. Hasil akhir yang terbentuk tidak lagi berupa kotak – kotak melainkan sebuah bentuk yang variatif, tergantung persebaran titik – titik yang diletakkan pada grid awal.

Apabila melihat hasil akhir dari wet grid ini, tentunya agak sulit membayangkan pada awalnya bentuk tersebut merupakan grid kotak yang sangat sering ditemui. Akan tetapi bila dilihat secara cermat, ada keteraturan yang membentuk sesuatu yang tidak teratur seperti itu. Ini adalah hasil akhir terbentuknya ruang dari metode wet grid

wetgridmodel1

Inovasi wet grid ini menurut saya sangat brilian. Memang sudah saatnya kita berpikir dan mengambangkan sesuatu. Metode desain bentuk dengan wet grid ini sangat layak untuk anda coba, ketimbang hanya pasrah pada bentuk akhir yang terkotak – kotak

Karena kita tidak terbang diudara dan menentukan dunia dari pandangan atas secara 2d. kita hidup dalam dunia 3 dimensi dan bermain dengan ruang.

Sumber :

Yoo Jin Kim Diploma 2,2010,  Choreographing microrevolution project. (www.projectreview2010.aaschool.ac.uk)

http://books.google.co.id/books?id=lCXZggElfpcC&printsec=frontcover&dq=architecture+of+continuity&hl=id&ei=SkaLTbOkDo_svQPp4f3ODg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CC0Q6AEwAA#v=onepage&q&f=false” alt=”proses” />

May 31, 2009

Radiant City

Filed under: ideal cities — arnugo @ 20:02
Tags: , ,

Le Corbusier pernah memberikan suatu gagasan mengenai konsep kota ideal yang kemudian dikenal dengan “Radiant City”. Beberapa ciri mengenai “Radiant City” yang digagas Le Corbusier adalah

“ Very large streets, suitable for several lanes of automobile traffic. Very large buildings, typically glass-walled high rises of ten to one-hundred stories tall. Buildings are widely spaced. Buildings typically not built to the edge of the sidewalk/roadway, but rather surrounded by some sort of “landscaping,” either grass or a paved “plaza.” Streets are widely spaced, and “blocks” are large. Streets are often on a rigid grid design, or if not a grid, at least a pattern that looks very well-thought-out when observed in a scale model”. (Art : Future Cities, Time.com)

Bangunan-bangunan tinggi akan dibentuk dengan ukuran dalam skala yang begitu besar atau kini dapat kita kenal sebagai superblock. Dan sistem bangunan di dalam perkotaan lebih mengacu kepada pola vertikal dibandingkan dengan horizontal, seperti yang masih banyak dilakukan hingga saat ini. Dan pola bangunan vertikal tersebut mengakomodir segala bentuk kegiatan manusia di dalam kota ,seperti : perdagangan, pemerintahan, rekreasi hingga hunian.

Namun salah satu hal yang amat terlihat dari pola “Radiant City” adalah mengenai tata kota yang teratur dimana setiap bagian kota tersusun dalam kesatuan grid geometrical yang sama. Bagian-bagian kota terbagi atas bentuk geometris persegi dan terhubungkan melalui jalan-jalan antar blok tersebut.

Le Corbusier memperhatikan faktor efisiensi produksi akan keadaan di masa mendatang, terutama pusat kota yang terbagi sama rata. Hal ini berfungsi untuk meminimalisasi titik-titik kepadatan pada area tertentu di pusat kota. Jalan-Jalan antar blok geometris tadi juga dibuat sangat lebar dengan beberapa pemisahan lajur. Seperti lajur kendaraan produksi dan kendaraan umum dengan lajur kendaraan pribadi. Hal ini sekali lagi bertujuan untuk memberikan efesiensi waktu produksi dari keterlambatan karena kepadatan lalu lintas.

Bagaimana dengan fungsi pedestrian : Area pedestrian/pejalan kaki termasuk dalam bagian blok-blok geometris dan luasan ruang terbuka diakomodir melalui lantai dasar bangunan bertingkat yang dirancang terbuka menyatu dengan keseluruhan bagian dasar dari blok yang tersedia. Jadi area terbuka terdapat pada keseluruhan area dasar blok, antara area komunal yang terbuka dan tertutup.

Pembangunan kota melalui konsep “Radiant City” juga dimaksudkan untuk meminimalisasi penggunaan lahan secara horizontal. Dengan “Radiant City” area pinggiran kota dapat lebih difungsikan sebagai area penghijauan ataupun digunakan sebagai kawasan bercocok tanam/pertanian/perkebunan sebagai penunjang fungsi kota inti. “Radiant City” jika dilihat dari segi konsep akan dapat membentuk kota-kota yang mandiri karena setiap kota nantinya akan memiliki lahan-lahan kosong dipinggiran kota sebagai penunjang kehidupan kota inti, baik dari segi pangan maupun sirkulasi udara yang lebih baik dari kota inti sebagai kawasan produksi.

Sumber :
Art : Future Cities
Radiant city/LeCorbusier/Boozy: The Life, Death, & Subsequent Vilification of Le Corbusier

April 7, 2009

Hidden Geometry

Filed under: classical aesthetics,contemporary theories — Kiekie21 @ 01:02
Tags: ,

Pernahkah anda merasakan, bahwa terdapat sebuah garis yang menghubungkan sebuah objek dengan objek lain di kehidupan sehari-hari? Secara tidak sadar hal yang sama saya rasakan saat saya melihat sebuah keteraturan yang ada. Walau tidak ada yang sangat presisi tetapi jika anda pernah merancang pasti anda pernah merasakan perasaan ingin meletakan sesuatu terhadap sesuatu yang lain dalam kondisi yang fit.

Seperti yang telah dibahas oleh tezza pada “Alam sebagai Basis Perancangan, Kaidah Proporsi dan Arsitektur”. Saya berpikiran bahwa manusia telah menyederhanakan bentuk kedalam kaidah geometri sederhana. Dimana didalamnya terdapat sebuah garis yang tidak tercitra secara nyata, yang hanya ada dalam pikiran manusia, yang kemudian dijadikan patokan (standard) dalam skala proporsi dan ritme. Seperti yang sering ditampilkan dalam perancangan arsitektur klasik.

Photobucket
Lalu apakah sekarang garis-garis bantu tersebut tidak terpakai lagi? Bila kita lihat perkembangan arsitektur dari classic – modern – postmodern – hingga sekarang ini maka banyak yang masih menggunakan garis imaginer tersebut terhadap metode perancangan mereka. Contohnya mungkin grid dan garis as untuk menentukan kolom dan tembok. Lalu bagaimana dengan geometri pada arsitektur ‘Zaha Hadid’? apakah masih menggunakan hidden geometri yang sama dengan yang digunakan vitruvius jaman dahulu?

Walau belum mendapatkan sumber yang jelas mengenai hal ini, tetapi saya memiliki judgment sendiri. Ketika jaman arsitektur modern orang beranggapan yang mengikuti garis adalah yang indah. Lalu pada jaman post-modern beranggapan bahwa yang rapi-rapi tersebut sangatlah membosankan. Sehingga timbul ‘less is bore’ sebuah counter dari ‘less is more’ sehingga mengubah posisi dan sumbu garis imaginer yang sebelumnya dijadikan standard utama merancang menjadi relatif dan cenderung berantakan, Seperti yang diperagakan Frank Gerry. Satu titik yang mengahiri jamannya adalah ketika orang sudah mulai bosan melihatnya. Maka jaman yang baru telah tiba dimana arsitektur bergaya futuristik lahir sebagai sebuah utopia baru. Sehingga bila saya gambarkan dalam garis akan seperti demikian.

Photobucket

April 5, 2009

Kota Membentuk Dirinya Sendiri

Filed under: ideal cities — arsnu @ 21:27
Tags: , , , ,

“The grid, the orthogonal plan with parallel streets, right angles, used frequently in ancient planning, appears to be the ideal city form..” (Eaton)

“the separation of activities as the prominent character of modern cities to avoid the ‘pile-up’ of activities.” (Lofland)

Ideal city, dianggap dapat direalisasikan dengan grid-grid, jika dilihat dari atas dapat dilihat zoningnya. Ada yang mengatakan itu agar rapih, agar teratur, namun ketika kita zoom in, apakah masih se-teratur seperti skala sebelumnya? Apakah zoning tadi masih jelas? atau justru zoning tadi sudah menjadi blur?

“the grid denies the existence of contrast, complexity and difference, which are the basic characteristic of urban ife” (Sennet)

“the greatest mistake in zoning is that it permits monotony, and leads to disintegration of environtment” (Jacobs)

Begitu juga ada yang berpendapat bahwa grid-grid itu monoton, terlalu dipisahkan, menghilangkan kompleksitas sebuah kota. Bahkan kata Jacobs, itu dapat mengakibatkan disintegrasi. Lagi-lagi ketika kita zoom in, apakah masih monoton? Apakah antara satu zona dengan zona lain benar-benar terpisah oleh dinding besar sehingga disintegrasi itu terjadi? tidak sebegitunya kan? Itu hanyalah God’s eye, seperti kata Sasaki, “the visuality of the Cartesian city was abstract, since it was addressed not to human eyes but to God’s eye”. Itu hanya dilihat dari atas saja, yang dari plan terlihat rapih dan bergrid seakan teratur sekali, ketika kita masuk didalamnya, tidak akan sebegitu rapihnya juga. Begitu juga dengan kemonotonannya, di plan kita lihat ‘ah monoton, grid-grid, zona-zona, sini bisnis, situ residential, bosan’, padahal ketika kita didalamnya tidak akan sebegitu monotonnya.

Menurut saya hal tersebut karena isi dari kota itu sendiri. Diversity yang sudah pasti ada dalam sebuah kota akan memblurkan zona-zona yang tadi telah dirancang, dan akan memvariasikan kemonotonan dari grid-grid yang ada. Urban planner yang menata sedikimian rupa hanyalah merapihkan dan mempermudah segala sesuatunya, dan lagi-lagi itu hanyalah God’s eye. Nantinya kota itu sendiri yang akan merancang dan membentuk dirinya. Kota itu sendiri yang akan menjalarkan segala yang ada didalam dirinya, menjalarkan sisi sosial, sejarah, budaya, ekonomi, masyarakat, arsitektur, geografis, order, disorder, semuanya. Semua itu akan mengisi kota dan akan saling berhubungan, sehingga bentuk-bentuk urban planning bukanlah hal terpenting lagi. Apakah ia grid, apakah ia memusat, apakah ia indah, apakah ia teratur, atau monoton. Itu hanyalah sebuah wadah, geometri yang menjadi wadah geometri yang lebih kecil lagi, yang bisa saja ditata berbeda-beda, dan tetap sah-sah saja. Tidak ada bentuk mutlak yang diTuhankan dan dianggap paling ideal. Karena ideal akan terus menjauh ketika kita berlomba-lomba untuk mengejarnya, hanyalah sebuah utopia.

March 29, 2009

The Marriage of Order and Disorder, Probably?

Filed under: ideal cities — meurin @ 19:28
Tags: , , , ,

Menurut saya, itu justru pasti dan mereka tak terpisahkan. Karena mereka berdua sangat dibutuhkan. Dalam kuliah Geometri tanggal 16 dan 23 Maret 2009 yang membahas tentang geometri dan kota ideal, order dan disorder tampak terpisah dan tak memiliki kaitan di antaranya. Namun, apabila diselami lebih mendalam, justru saya menemukan bahwa makna order dan disorder yang mereka sebutkan hanyalah salah satu dari banyaknya dan bermacam-macam sudut pandang. Pada kenyataannya, order dan disorder benar-benar tak dapat dipisahkan. Mereka ada di mana-mana, baik distrik terkecil maupun seluruh kota.

Misalkan, kutipan Eaton: ”The grid, the orthogonal plan with parallel streets, right angles, used frequently in ancient planning, appears to be the ideal city form..”. Ini jelas bahwa order itu hanya meliputi tampilan saja. Namun, bagaimana dengan keanekaragaman penggunaan (disorder) di dalam kota? Di dalam kota yang berpenampilan seperti kotak-kotak, terdapat bangunan-bangunan dengan fungsinya yang beragam, seperti toko, apotek, sekolah, dan sebagainya. Bisa juga, itu berupa bentuk-bentuk bangunan yang bervariasi. Hanya saja, kota itu ditata menurut grid, tanpa ada pembagian fungsi atau bentuk bangunan.

Atau mengacu kutipan Lofland : “the separation of activities as the prominent character of modern cities to avoid the ‘pile-up’ of activities.” Maksud kutipan ini adalah perzonaan itu penting agar tampak teratur. Misalkan sebuah kota terbagi menjadi tiga zona. Zona pertama adalah zona perbisnisan, zona kedua adalah zona permukiman, dan terakhitnya, zona peribadahan umum. Bagi Jane Jacobs, perzonaan itu adalah order dan itu monoton. Akan tetapi, jika kita melihat keseluruhan kota, bukan salah satu zonanya, justru terlihat keragamannya. Kita melihat ada tiga zona yang berbeda seperti merah, biru, dan kuning. Dari bukunya berjudul ”The Death and Life of Great American Cities”, Jacobs sesungguhnya hanya menyoroti keragaman dalam suatu distrik yaitu bervariasi dan lengkapnya fasilitas yang tersedia di situ, adanya elemen yang multifungsi seperti jalan, dan bangunan-bangunan yang berbeda usia (old and new style). Namun, bagaimana dengan jalan? Dalam buku, ia sering menggambarkan jalan sebagai garis lurus dan tidak berliku-liku . Tanpa disadarinya, jalan itu justru adalah order. Jalan itu yang membagi dan menata kota. Kita tidak mungkin bisa berjalan di jalan yang berliku-liku setiap meter karena itu akan menghabiskan banyak waktu dibandingkan jalan lurus.

Seperti yang dikatakan Venturi dan Brown, ”’complex order’ or ‘difficult order’ the order that includes the mixture of clashing elements and it is not order dominated by the expert and not easy for the eye”. Selain ditafsirkan bahwa keanekaragaman juga bentuk order, ini juga dapat diartikan bahwa order dan disorder tidak terpisahkan.

Bagi saya, sesungguhnya order dan disorder itu tidak penting karena order dan disorder itu akan selalu berpasangan seperti suami istri. Kita tidak mungkin bisa hidup di dunia yang order atau disorder. Di kota yang order, pasti ada disorder misalkan hal yang tak terduga terjadi. Begitu juga sebaliknya. Di kota yang disorder, pasti ada order, misalkan pola jalan. Order dan disorder ada untuk saling menyeimbangi. Yang terpenting, adalah mana penataan kota yang cocok bagi kita sebagai penghuninya, yang dapat kita pilih dari bermacam-macamnya cara penataan kota.

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.