there’s something about geometry + architecture

April 4, 2011

Coruscant dan Radiant City

Filed under: ideal cities — elitanuraeny @ 20:29
Tags: ,

Melalui posting kali ini, saya ingin membandingkan antara Radiant City: sebuah kota ideal yang digagas oleh Le Corbusier dengan Coruscant: sebuah planet pusat dalam saga “Star Wars”.

Meskipun keduanya berbeda konteks (yang satu adalah gagasan dalam tata kota, sementara yang satunya lagi merupakan planet khayalan yang ada di film), rupanya ada kesamaan ciri yang dimiliki oleh dua kota tersebut. Yang pertama, mari kita lihat pada Coruscant, sang planet pusat galaksi dalam saga “Star Wars”

Terlihat pada gambar di atas bangunan-bangunan tinggi futuristik yang tak hanya berfungsi sebagai area perkantoran, namun juga sebagai area tempat tinggal. Tak ada area yang dibiarkan kosong, semuanya dimanfaatkan untuk pembangunan planet. Lalu lintas berada tinggi di udara, memberikan daratan di bawah untuk tempat para pejalan kaki. Planet ini juga terbagi-bagi areanya antara area pemerintahan, area kumuh, dan area industrial.

Sekarang, mari kita bandingkan dengan Radiant City yang diusung oleh Le Corbusier.

Di bawah ini adalah penuturan dari Le Corbusier yang menceritakan tentang Radiant City-nya:

“‘Recessed’ apartment buildings in the Radiant City. Parks and schools in the middle. Elevator shafts spaced out at optimum distances (it is never necessary to walk more than 100 meters inside the buildings). Auto-ports at the foot of the shafts, linked to the roadways […]. The floor directly above the pilotis is given over to communal services. Under the pilotis, pedestrians walking unobstructed in all directions. In the park, one of the large swimming pools. Along the roofs, the continuous ribbon of roof gardens with beaches for sunbathing.”–Le Corbusier

All motor vehicles are up on the highway network [...].”–Le Corbusier

Penuturan Le Corbusier mengenai kota ideal baginya hampir sama dengan penggambaran Coruscant oleh George Lucas. Pembangunan vertikal, pedestrian yang diberi ruang khusus pada bagian dasar perkotaan, serta alur kendaraan yang dinaikan untuk menjaga kelancaran sirkulasi.

Kebetulan? Hmm… Saya sendiri juga tidak tahu. Mungkin Le Corbusier dan George Lucas punya pemikiran yang sama mengenai kota (khusus untuk Star Wars–planet) ideal yang sama.

Sumber :

http://www.nyu.edu/classes/reichert/sem/city/lecorbu_img.html

http://www.nyu.edu/classes/reichert/sem/city/lecorbu.html

“Star Wars episode II: Attack of the Clone”, 20th Century Fox, 2002

“Star Wars episode III: Revenge of the Sith”, 20th Century Fox, 2005

starwars.wikia.com

March 23, 2011

Planning Ideal City

Filed under: ideal cities — triwahyuni89 @ 15:00
Tags: ,

The ideal of the modern city is like the ideal of a well-ordered home : a place for everything and everything in its place. (Lofland)

Ideal city dianggap sebagai pencapaian atas kesempurnaan hidup. Dimana semua keinginan dan kebutuhan manusia bisa didapat dalam satu kota yang ideal. Terhindarnya manusia yang hidup di dalam system ideal city jauh dari rasa ketidaknyamanan atau dapat dikatakan Ideal City merupakan pendekatan mengenai kesejahteraan. Mungkin ini hanya sedikit pembuka dari Lofland yang akhirnya membuat tokoh-tokoh terkenal setingkat Le Corbusier dan Ebenezer Howard ikut memutar otak untuk mendapatkan konsepsi Ideal City. Le Corbusier melihat Ideal city lebih kepada bagaimana semua yang ingin didapatkan mudah dicapai, penghematan lahan, serta kegiatan ekonomi yang dapat berjalan dengan baik. A contemporary city (1922) dan berlanjut dengan Plan Voisin (1925) menjadi contoh dari rencana ideal city yang ditawarkan oleh Le Corbusier.

Di sini sangat jelas bahwa Le Corbusier lebih senang dengan system grid yang ia anggap akan mempermudah untuk di lay-out, mudah untuk dipahami dan mudah untuk membagi lahan kota, setidaknya Le Corbusier pernah mengutarakan mengenai grid design : “Streets are often on a rigid grid design, or if not a grid, at least a pattern that looks very well-thought-out when observed in a scale model.”, opininya mengenai system grid memang banyak kita jumpai pada pola kota-kota sekarang ini. Namun, sayangnya pada dua ide mengenai Ideal city ini, Le Corbusier memaksakan para penghuninya untuk tinggal di gedung-gedung tinggi dan semua kegiatan terjadi di sana. Konsep ideal city yang modern memaksa bentukan dari bangunan terjebak pada bangunan tingkat tinggi yang berada dalam superblock dan memaksakan kehadiran taman sebagai penembus dosa akan vertical city yang dibangun ini. Dua rencana milik Le Corbusier ini dianggap hanya diperuntukan bagi kaum elit, sedangkan penduduk dengan ekonomi biasa tidak dapat menjadi bagian dari Ideal city yang dicanangkan Le Corbusier. Berbeda dengan konsepsi Ideal City dari Le Corbusier yang lain, yaitu Radiant City. Radiant City lebih merakyat, dalam hal ini, keberadaan apartemen bukan dilihat dari kekayaan namun lebih kepada kebutuhan, dimana kaum elit dan yang tidak elit dapat berkegiatan bersama dalam satu tempat. Le Corbusier menawarkan kebebasan dalam radiant city. Karena di dalam apartemen ini, ia memastikan para penghuni dapat menikmati tiap kemudahan yang ada, seperti restaurant yang memungkinkan para penghuni memesan makanan untuk di antar ke kamarnya atau adanya jasa laundry yang tentu memudahkan mereka. Bila ingin menikmati suasana alam, jangan sungkan ke rooftop garden. Namun dengan konsep Le Corbusier, penghuni menjadi tidak mengenal dunia luar, karena vertical city yang ia buat membuat penghuni akan berkegiatan tanpa berpindah keluar dari lingkungannya.

Berbeda dengan Le Corbusier, berbeda pula dengan Ebenezer Howard yang mengajukan dengan “The Town-Country Magnet”

Bila melihat dari bentuknya system yang digunakan jelas berbeda dengan Le Corbusier, di sini lebih terlihat bagaimana pembagian yang jelas terlihat dimana ada hunian, dimana letak industri, dimana letak pertanian yang menjadi sumber hidup mereka. Howard lebih memikirkan bagaimana menyatukan kota dan desa, memikirkan bagaimana menaikan kualitas hidup di desa dan di kota. Seakan-akan howard menskenariokan bagaimana proses kehidupan hasil dari rural yang bisa digunakan di area kota. Dan central park sebagai pusatnya merupakan tujuan tempat berkumpulnya orang-orang, bukan sekedar sibuk dengan kawasan hunian mereka saja. Howard tidak membatasi sebuah kota yang ideal adalah kota yang bersih sampai steril, namun ia lebih menekankan kehidupan yang sejahtera karena intervensi yang ia lakukan.

Referensi :

http://www.uky.edu/Classes/PS/776/Projects/Lecorbusier/lecorbusier.html

www.contemporaryurbananthropology.com/…/Howard,%20Garden%20Cities.pdf

May 31, 2009

Radiant City

Filed under: ideal cities — arnugo @ 20:02
Tags: , ,

Le Corbusier pernah memberikan suatu gagasan mengenai konsep kota ideal yang kemudian dikenal dengan “Radiant City”. Beberapa ciri mengenai “Radiant City” yang digagas Le Corbusier adalah

“ Very large streets, suitable for several lanes of automobile traffic. Very large buildings, typically glass-walled high rises of ten to one-hundred stories tall. Buildings are widely spaced. Buildings typically not built to the edge of the sidewalk/roadway, but rather surrounded by some sort of “landscaping,” either grass or a paved “plaza.” Streets are widely spaced, and “blocks” are large. Streets are often on a rigid grid design, or if not a grid, at least a pattern that looks very well-thought-out when observed in a scale model”. (Art : Future Cities, Time.com)

Bangunan-bangunan tinggi akan dibentuk dengan ukuran dalam skala yang begitu besar atau kini dapat kita kenal sebagai superblock. Dan sistem bangunan di dalam perkotaan lebih mengacu kepada pola vertikal dibandingkan dengan horizontal, seperti yang masih banyak dilakukan hingga saat ini. Dan pola bangunan vertikal tersebut mengakomodir segala bentuk kegiatan manusia di dalam kota ,seperti : perdagangan, pemerintahan, rekreasi hingga hunian.

Namun salah satu hal yang amat terlihat dari pola “Radiant City” adalah mengenai tata kota yang teratur dimana setiap bagian kota tersusun dalam kesatuan grid geometrical yang sama. Bagian-bagian kota terbagi atas bentuk geometris persegi dan terhubungkan melalui jalan-jalan antar blok tersebut.

Le Corbusier memperhatikan faktor efisiensi produksi akan keadaan di masa mendatang, terutama pusat kota yang terbagi sama rata. Hal ini berfungsi untuk meminimalisasi titik-titik kepadatan pada area tertentu di pusat kota. Jalan-Jalan antar blok geometris tadi juga dibuat sangat lebar dengan beberapa pemisahan lajur. Seperti lajur kendaraan produksi dan kendaraan umum dengan lajur kendaraan pribadi. Hal ini sekali lagi bertujuan untuk memberikan efesiensi waktu produksi dari keterlambatan karena kepadatan lalu lintas.

Bagaimana dengan fungsi pedestrian : Area pedestrian/pejalan kaki termasuk dalam bagian blok-blok geometris dan luasan ruang terbuka diakomodir melalui lantai dasar bangunan bertingkat yang dirancang terbuka menyatu dengan keseluruhan bagian dasar dari blok yang tersedia. Jadi area terbuka terdapat pada keseluruhan area dasar blok, antara area komunal yang terbuka dan tertutup.

Pembangunan kota melalui konsep “Radiant City” juga dimaksudkan untuk meminimalisasi penggunaan lahan secara horizontal. Dengan “Radiant City” area pinggiran kota dapat lebih difungsikan sebagai area penghijauan ataupun digunakan sebagai kawasan bercocok tanam/pertanian/perkebunan sebagai penunjang fungsi kota inti. “Radiant City” jika dilihat dari segi konsep akan dapat membentuk kota-kota yang mandiri karena setiap kota nantinya akan memiliki lahan-lahan kosong dipinggiran kota sebagai penunjang kehidupan kota inti, baik dari segi pangan maupun sirkulasi udara yang lebih baik dari kota inti sebagai kawasan produksi.

Sumber :
Art : Future Cities
Radiant city/LeCorbusier/Boozy: The Life, Death, & Subsequent Vilification of Le Corbusier

April 5, 2009

The City of Tomorrow Khas Indonesia

Filed under: ideal cities — fathur05 @ 21:22
Tags: ,

Le Corbusier dalam gambaranya tentangThe City of Tomorrow mengusulkan bahwa pusat kota harus berupa banguinan tingkat tinggi yang ekslusif untuk fungsi komersial, bagian ini tidak lebih dari 5 %. Sedangkan 95% sisanya berupa taman. Di pusat kota dia juga menyebutkan dibutuhkan adanya stasiun kereta yang akan menghubungkan pusat ini dengan wilayah disekitarnya serta keberadaan bangunan untuk toko-toko mewah, restauran dan kafe. Si pusat kota kemudian akan dikelilingi oleh perumahan dalam bentuk block zigzag (1933, competition for the renewal of Stockholm’s city centre)

Sekilas dibayangkan gambaran kota masa depan ini nyaman ditempati. Banyak mungkin yang akan mengaku mempunyai pandangan yang sama tentang bagaimana kota masa depan seharusnya, saya salah satu diantaranya. Namun membayangkan Jakarta atau kota-kota di Indonesia berubah seperti bayangan Le Corbusier rasanya tidak rela.

“But we want an order that gives to each things its proper place, and we want to give each thing what is suitable to its nature.” Pernyataan diatas yang diungkapkan oleh Adrian Forty yang saya rasa sejalan dengan pemikiran Le Corbusier, tentang pemahaman order bahwa sesuatu harus ditempatkan sesuai tempatnya saya rasa perlu dikaji. Apa yang diusulkan Le Corbusier: “A city made for speed is made for succes. Therefore, nothing could be come in the way of the traffic flow, and the separation was seen as the part way to achieved on struction freemovement in the city” yang akhirnya merujuk pada zoning bukan pilihan yang bijak menurut saya. Terutama untuk Indonesia. Penempatan sesuai tempatnya bukan berati tiap elemen dipisahkan, terpisah, mempunyai tempatnya masing-masing. Akan membosankan jika memang diberlakukan demikian. Kemungkinan suatu elemen melebur dengan elemen lain dalam tempat yang sama harus dipertimbangkan. Perpaduan, tabrakan, kekacauan tidak boleh dilihat selalu sebagai hal yang ”disorder” yang perlu ditata dengan memisahkan elemen-elemennya. Saya rasa makan di pinggir jalan diiringi pengamen dan klakson mobil orang yang kejebak macet punya kualitas yang sayang untuk dihilangkan. Dan lagi uang yang beredar di area hangat seperti ini dapat menghidupi banyak kepala.

Namun tentu tidak untuk semua tempat. Pemisahan untuk beberapa konteks bisa jadi pilihan yang harus diambil. Jalan tol , salah satu contoh pengembangannya, sangat membantu efisiensi dan efektivitas dalam banyak hal. Terakhir, saya rasa pengembangan kota ala Indonesia bisa hadir sebagai hasil dari perpaduan antara pemikiran besar Le Corbusier dan Lofland yang mengatakan bahwa “city is many things.”

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.