there’s something about geometry + architecture

March 29, 2011

kekuatan cahaya menghasilkan bayangan yang tak terbayangkan sebelumnya

Filed under: perception — murhardiningtyas @ 19:31
Tags: ,

Ketika anda melihat gambar di atas, maka anda akan melihat bayangan dari dua orang yang sedang duduk, dan otak anda pun akan berpikir bahwa memang ada dua orang yang sedang duduk tak jauh dari bayangan itu.

Tapi pada kenyataannya apa yang anda lihat itu belum tentu benar. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:


Tak ada dua orang yang sedang duduk. Yang ada hanyalah tumpukan berbagai macam benda yang sama sekali tidak terlihat seperti dua orang yang sedang duduk.

Itulah yang dilakukan oleh Tim Noble dan Sue Webster. Mereka membuat ilusi bayangan (shadow illusions) dengan mencoba menghadirkan sesuatu yang lain dari bentuk asal mulanya. Bentuk asal mula itu mereka ciptakan dari tumpukan berbagai bentuk sampah. Persepsi mata si penglihatlah yang dimainkan oleh mereka.

Dalam mencapai hasil seperti itu mereka menggunakan seni proyeksi yang merupakan simbol dari seni transformasi. Sebuah cahaya diproyeksikan terhadap tumpukan sampah dan bayangan pada dinding menciptakan gambaran yang sama sekali berbeda. Noble dan Webster sudah sangat familiar dengan proses ini melalui persepsi psikologi dan bagaimana orang menilai bentuk-bentuk abstrak. Sepanjang karier mereka telah bermain dengan ide tentang bagaimana manusia memandang dan mendefinisikan gambar abstrak dengan artinya.

Peranan cahaya dalam proses ini memegang peranan penting karena dengan arah cahaya yang berbeda akan menghasilkan bayangan yang berbeda pula dan itu akan mempengaruhi bentuk bayangan yang diinginkan.

Berikut adalah hasil karya lainnya:


http://www.refashinoso.com/2010/06/09/junk-art-illusion-shadows/

March 27, 2011

Arsitektur Malam Hari

Filed under: perception — rangsiadzani @ 15:54
Tags: ,

Bangunan yang di siang hari terlihat biasa, di malam hari dapat menjadi lebih menarik dengan pengunaan LED. Lampu LED adalah lampu solid-state yang menggunakan dioda pemancar cahaya (LED) sebagai sumber cahaya. Lampu ini dapat memancarkan cahaya yang berwarna-warni karena memiliki panjang gelombang yang kecil. sejumlah LED harus ditempatkan bersama  dan dekat, karena cahaya yang dipancarkan tidak seterang lampu biasa.

gambar dari: blog.360dgrs.nl

Ternyata selain dapat membuat fasad lebih menarik, penggunaan LED dapat ‘memainkan’ bentuk bangunan.

gambar dari: www.interactivearchitecture.org

Pemberian pencahayaan menggunakan LED ini mampu ‘menipu’ mata kita. Bangunan yang semula bentuknya terlihat biasa, kotak dan lengkung diberi LED, sehingga secara visual terlihat dinamis dan berbeda.

Gambar: www.china-led-lamp.com, www.coolhunting.com, blog.vegasondemand.com

Referensi:www.wikipedia.com

March 24, 2011

Light Graffiti dan Cahaya yang Bergerak

Filed under: architecture and other arts — klarapuspaindrawati @ 19:45
Tags: , ,

Ketika kita melaju dengan kecepatan tertentu di dalam sebuah mobil pada malam hari melalui sebuah jalan, mungkin kita tidak menyadari bahwa gerakan dari kendaraan yang kta kendarai menghasilkan garis – garis dinamis dari cahaya lampu yang terpancar dari badan kendaraan. Bagaikan menggoreskan warna – warna menarik dari kuas di situasi malam yang gelap, begitulah yang terjadi ketika kendaraan yang meluncur di jalan meninggalkan berkas cahaya di sepanjang jalurnya.

Image and video hosting by TinyPic

Cahaya yang bergerak di sepanjang jalan yang sebenarnya berasal dari kendaraan yang melintas di malam hari pada gambar di atas, tertangkap kamera dan menampilkan gambaran yang sangat menarik, cahaya – cahaya itu seakan sedang memacu kecepatan di atas sebuah jalur. Kesan yang ditampilkan mempengaruhi persepsi kita yang melihat foto – foto yang menangkap kecepatan cahaya ini. Salah satunya, cahaya yang sebenarnya hanya merupakan “jejak” peninggalan gerakan kendaraan itu justru menjadi seperti objek yang sedang melalui jalan, padahal kita tidak akan bisa menyentuh objek tadi.
Persepsi ini lalu dikembangkan dalam light graffiti, salah satu bentuk seni painting yang kini semakin populer. Light graffiti merupakan seni menggambar atau menulis di medium udara pada kondisi ruang atau lingkungan gelap dengan menggunakan benda yang mengeluarkan cahaya, seperti senter. Hasil goresan – goresan itu bisa menjadi sangat menarik, lucu, atau unik sesuai kreasi dari orang yang menggambarnya. Kreasi light graffiti dapat mempengaruhi persepsi orang yang melihat hasil jepretan kamera yang mengabadikannya. Beberapa contoh foto di bawah menunjukkan bagaimana light graffiti mampu membuyarkan batasan antara objek manusia yang dapat disentuh dengan objek cahaya yang tak dapat disentuh yang turut difoto bersama manusia tadi. Bahkan bentukan cahaya – cahaya tadi yang menggambarkan bentuk – bentuk barang yang biasa digunakan oleh manusia atau bahkan hewan peliharaan difoto seakan – akan sedang digunakan oleh manusia, terjadi interaksi antara manusia dan objek bentukan cahaya tadi di dalam foto. Contohnya saja, gaun yang dibentuk dari garis – garis cahaya, orang yang sedang bermain gitar dari cahaya, atau seseorang yang sedang menuntun anjingnya yang berasal dari garis – garis cahaya.

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Lalu, mengapa semakin banyak orang yang tertarik dengan light graffiti? Salah satunya mungkin karena seni ini menawarkan cara baru dalam menggambar dan menulis, yaitu dengan medium udara, bukan lagi kertas atau kanvas. Selain itu, cahaya yang menjadi bahan “cat warna” untuk menggambar juga menjadi daya tarik tersendiri, sifatnya yang bersinar di tengah kegelapan menjadikan lukisan – lukisan yang terdiri dari goresan – goresan cahaya tadi “bersinar”. Tetapi, ada satu syarat yang harus dipenuhi untuk membuat sebuah gambar light graffiti, gambar hanya akan dapat diproduksi dengan tangkapan kamera, hasil dari tangkapan tadilah yang baru bisa dinikmati sebagai light graffiti. Proses produksi gambar, yaitu saat menggores cahaya dengan cara menggerakkan benda yang mengeluarkan cahaya harus dilakukan dengan cepat sebelum jejak cahaya meghilang. Begitu pula saat harus menangkap gerakan benda yang meninggalkan jejak cahaya, prosesnya harus dilakukan dengan cepat sebelum jejak cahaya menghilang dan bentuk objek dengan demikian tidak dapat terbentuk dengan sempurna. Light graffiti merupakan salah satu jenis karya seni yang mendorong kreativitas tinggi dengan teknik yang jitu dan tentunya imajinasi yang memanfaatkan persepsi akan interaksi yang terjadi dengan manusia yang bermain dengan cahaya tersebut.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Light_painting

http://www.google.co.id/imglanding?q=speed+of+light&um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=fF5SC91yiwB5JM:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbm=isch&tbnid=E09Y0jkGg27w9M:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=H988GY47x3xrgM:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=cPeCb2DyknYBHM:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=_5ZSR1NjaxaUpM:&imgrefurl

March 23, 2011

Gambar Apa Ini???

Filed under: perception — androkaliandi @ 15:39
Tags: , , ,

Image and video hosting by TinyPic

Pada gambar A dan B kita cenderung belum mengetahui benda apa yang ditangkap kamera. Kita menebak gambar adalah sumber cahaya, bulan atau lampu. Dengan gambar C kita sudah dapat mengenal benda apa yang terpapar yakni lampu downlight, namun belum jelas geometri tiga dimensional-nya. Karena saya memotret secara orthogonal, kita cenderung menebak lampu downlight bundar yang tertanam di plafon. Ketika kita telah melihat gambar D, kita tidak hanya tahu benda apa yang terpapar, tetapi kita juga tahu bentuk geometrinya (tabung). Ternyata lampu downlight-nya tidak ditanam di plafon, tetapi justru muncul keluar dari plafon. Berbeda dengan gambar C yang saya potret secara orthogonal, gambar D saya potret secara perspektif. Apabila ketika memotret gambar C, saya memosisikan diri tegak lurus dengan objek (lampu). Namun ketika memotret gambar D, saya memposisikan diri lebih bebas dari objek. Ketika saya mengamati objek lebih bebas, saya lebih dapat memahami benda secara keseluruhan. Mungkin hal serupa juga yang dikritik Gibson tentang teori Gestaalt. Ketika Gestaalt mengalami persepsi visual secara dua dimensional, maka Gibson mengajukan teori persepsi tiga dimensional. Karena memang manusia mengalami ruang secara tiga dimensional. Gambar A dan B saya potret ketika malam hari, lampu sedang dalam keadaan menyala. Gambar A saya potret secara orthogonal, sedangkan gambar B saya potret secara perspektif. Meskipun saya memotretnya dengan dua cara, orthogonal dan perspektif, tetapi keduanya nampak seperti gambar dua dimensional. Mengapa? Menurut saya hal ini dapat dihubungkan dengan jenis lampu, yakni downlight. Lampu downlight memberikan cahaya ke arah bawah (lantai), sehingga tidak memberikan kesempatan plafon mendapat cahaya langsung, kecuali dari pantulan lantai. Selain itu warna juga memberikan pengaruh. Warna hitam pada plafon sifatnya menyerap cahaya, bukan memantulkan. Sehingga ketika saya memotret lampu dari bawah, yang tertangkap oleh kamera adalah gambar cahaya dengan latar hitam (kegelapan). Dengan demikian bentuk tabung tiga dimensional tidak nampak, meskipun dipotret secara perspektif. Sepertinya ada kesempatan untuk melakukan manipulasi ruang dengan permainan cahaya. Dan kita perlu banyak belajar dari James Turrel: “what we see is not depth as such but one thing behind another”

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.