there’s something about geometry + architecture

March 25, 2011

Leonardo Da Vinci : Geometri Tanpa Batas

Leonardo Da Vinci : seorang buta huruf. Benarkah ??? Demikianlah sebaris teks terjemahan yang tersebutkan dalam buku “Sains Leonardo “ karangan Fritjof Capra di baris pertama halaman dua pada bagian pendahuluan. Sebuah buku yang mencuri perhatian saya akan keagungan sejati dari sang Genius Leonardo Da Vinci- sang Penafsir alam semesta yang terus mengiangi pikiran sadar saya dalam kelas Geometri dan Arsitektur. Omo sanza lettere, begitulah kira-kira teks aslinya. Namun, itu bukan soal yang harus digarisbawahi karena quotes itu melainkan hanya semacam ironi dan kebanggaan Leonardo atas metode barunya. Sehingga saya pun ikut tergelitik untuk meng-copy paste teks itu dan menaruhnya pada bagian awal tulisan ini.

Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa Leonardo adalah representasi peradaban sintesis antara sains dan seni, atau lebih ekstrim lagi bahwa sesungguhnya Leonardo adalah pendiri sejati sains modern, bukan Galileo Galilei yang selama ini diagung-agungkan. Mengapa tidak ? andai saja para pemikir ilmiah barat telah menemukan notebook nya yang memuat kurang lebih 13.000 halaman dan langsung mempelajarinya secara detail setelah kematiannya.  Karya-karyanya yang sungguh luar biasa membuktikan kepada kita bahwa betapa imajinasi itu tanpa batas dan bisa melampaui pengetahuan yang ada. Namun, tidak banyak yang tergerak untuk mempelajari karyanya pada masa itu (masa Renaisans) karena belum terekspos, barulah beberapa abad setelah kematian nya, transkrip-transkrip ilmiahnya tergali dan memberikan dentuman yang sangat keras di tiap masanya dengan berbagai karya disiplin ilmu.

Salah satu yang menjadi ketertarikan saya adalah  bagaimana Leonardo mengeksplorasi bentuk geometri dalam kajian ilmiahnya. Ada tiga jenis transformasi kurvilinear yang sering digunakan Leonardo dengan berbagai kombinasi. Pada jenis pertama, sebuah bentuk dengan satu sisi kurvilinear digeser ke sebuah posisi baru sedemikian sehingga kedua bentuk itu saling overlap (lihat gambar 1). Karena kedua bentuk tersebut identik, dua bagian yang tersisa ketika bagian yang dimiliki bersama itu (B) dikurangi, pasti mempunyai luas yang sama (A=C). Teknik ini memungkinkan Leonardo mengubah bidang apa pun yang dibatasi oleh dua kurva identik menjadi sebuah bidang segi empat, artinya, “mengubah menjadi segi empat”.


Transformasi jenis kedua diperoleh dengan memotong sebuah segmen dari suatu bentuk tertentu, misalnya sebuah segitiga, dan kemudian melekarkannya lagi pada sisi yang lain (lihat gambar 2). Bentuk kurvilinear yang baru, mempunyai luas yang sama dengan segitiga awal. Seperti diterangkan oleh Leonardo dalam teks yang menyertainya: “Aku akan mengambil b dari segitiga ab, dan aku akan melekatkannya lagi pada c…Kalau aku melekatkan lagi kepada suatu bidang apa yang telah kuambil darinya, maka bidang itu kembali pada keadaan semula”. Ia sering menggambar segitiga-segitiga kurvilinear semacam itu, yang diberi nama falcate (falcates), diturunkan dari istilah falce, kata dalam bahasa Italia yang berarti sabit (scythe).

Transformasi jenis ketiga Leonardo melibatkan deformasi bertahap dan bukannya gerakan bentuk-bentuk tetap, misalnya, deformasi sebuah persegi panjang, seperti ditunjukkan dalam gambar 3. Kesetaraan kedua bidang datar ditunjukkan dengan membagi persegi panjang menjadi potongan-potongan tipis paralel, dan kemudian mendorong setiap potongan ke posisi baru, sehingga kedua garis lurus vertikalnya berubah menjadi kurva.

<img src="

Leonardo begitu senang dalam menggambar berbagai variasi tanpa akhir persamaan topologis ini, sebagaimana para matetmatikawan Arab pada abad-abad sebelumnya takjub ketika mengeksplorasi berbagai variasi persamaan aljabar. Namun yang khas dalam geometri Leonardo adalah variasi bentuk-bentuk geomteris tanpa batas di mana luas atau volum selalu dipertahankan, dimaksudkan untuk mencerminkan transmutasi tanpa lelah pada bentuk-bentuk alam yang hidup, dalam kuantitas materi yang tak terbatas dan tak berubah.
Satu lagi metode disain yang dapat menjadi terapan dasar eksplorasi kita dalam studio perancangan. Selain itu, tidak menutup kemungkinan kita dapat menemukan ragam bentuk dan konsepsi yang lebih kaya lagi dari tipologi geomteri Leonardo ini. Oleh karena itu, saya menyarankan kenpa kita tidak mencobanya…
(Sumber : Saduran dari buku “Sains Leonardo : Menguak Kecerdasan Terbesar Masa Renasisan” karya Fritjof Capra, 2007)

March 22, 2011

Leonardo Da Vinci : Geometri Tanpa Batas

Filed under: classical aesthetics,process — miktha24 @ 08:36
Tags: , ,

Leonardo Da Vinci : seorang buta huruf. Benarkah ??? Demikianlah sebaris teks terjemahan yang tersebutkan dalam buku “Sains Leonardo “ karangan Fritjof Capra di baris pertama halaman dua pada bagian pendahuluan. Sebuah buku yang mencuri perhatian saya akan keagungan sejati dari sang Genius Leonardo Da Vinci- sang Penafsir alam semesta yang terus mengiangi pikiran sadar saya dalam kelas Geometri dan Arsitektur. Omo sanza lettere, begitulah kira-kira teks aslinya. Namun, itu bukan soal yang harus digarisbawahi karena quotes itu melainkan hanya semacam ironi dan kebanggaan Leonardo atas metode barunya. Sehingga saya pun ikut tergelitik untuk meng-copy paste teks itu dan menaruhnya pada bagian awal tulisan ini.

Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa Leonardo adalah representasi peradaban sintesis antara sains dan seni, atau lebih ekstrim lagi bahwa sesungguhnya Leonardo adalah pendiri sejati sains modern, bukan Galileo Galilei yang selama ini diagung-agungkan. Mengapa tidak ? andai saja para pemikir ilmiah barat telah menemukan notebook nya yang memuat kurang lebih 13.000 halaman dan langsung mempelajarinya secara detail setelah kematiannya.  Karya-karyanya yang sungguh luar biasa membuktikan kepada kita bahwa betapa imajinasi itu tanpa batas dan bisa melampaui pengetahuan yang ada. Namun, tidak banyak yang tergerak untuk mempelajari karyanya pada masa itu (masa Renaisans) karena belum terekspos, barulah beberapa abad setelah kematian nya, transkrip-transkrip ilmiahnya tergali dan memberikan dentuman yang sangat keras di tiap masanya dengan berbagai karya disiplin ilmu.

Salah satu yang menjadi ketertarikan saya adalah  bagaimana Leonardo mengeksplorasi bentuk geometri dalam kajian ilmiahnya. Ada tiga jenis transformasi kurvilinear yang sering digunakan Leonardo dengan berbagai kombinasi. Pada jenis pertama, sebuah bentuk dengan satu sisi kurvilinear digeser ke sebuah posisi baru sedemikian sehingga kedua bentuk itu saling overlap (lihat gambar 1). Karena kedua bentuk tersebut identik, dua bagian yang tersisa ketika bagian yang dimiliki bersama itu (B) dikurangi, pasti mempunyai luas yang sama (A=C). Teknik ini memungkinkan Leonardo mengubah bidang apa pun yang dibatasi oleh dua kurva identik menjadi sebuah bidang segi empat, artinya, “mengubah menjadi segi empat”.

Gambar 1 : Transformasi dengan translasi (pergeseran)

Transformasi jenis kedua diperoleh dengan memotong sebuah segmen dari suatu bentuk tertentu, misalnya sebuah segitiga, dan kemudian melekarkannya lagi pada sisi yang lain (lihat gambar 2). Bentuk kurvilinear yang baru, mempunyai luas yang sama dengan  segitiga awal. Seperti diterangkan oleh Leonardo dalam teks yang menyertainya: “Aku akan mengambil b dari segitiga ab, dan aku akan melekatkannya lagi pada c…Kalau aku melekatkan lagi kepada suatu bidang apa yang telah kuambil darinya, maka bidang itu kembali pada keadaan semula”. Ia sering menggambar segitiga-segitiga kurvilinear semacam itu, yang diberi nama falcate (falcates), diturunkan dari istilah falce, kata dalam bahasa Italia yang berarti sabit (scythe).

Gambar 2 : Transformasi sebuah segitga menjadi falcate

Transformasi jenis ketiga Leonardo melibatkan deformasi bertahap dan bukannya gerakan bentuk-bentuk tetap, misalnya, deformasi sebuah persegi panjang, seperti ditunjukkan dalam gambar 3. Kesetaraan kedua bidang datar ditunjukkan dengan membagi persegi panjang menjadi potongan-potongan tipis paralel, dan kemudian mendorong setiap potongan ke posisi baru, sehingga kedua garis lurus vertikalnya berubah menjadi kurva.

Gambar 3 : Deformasi sebuah persegi panjang

Leonardo begitu senang dalam menggambar berbagai variasi tanpa akhir persamaan topologis ini, sebagaimana para matetmatikawan Arab pada abad-abad sebelumnya takjub ketika mengeksplorasi berbagai variasi persamaan aljabar. Namun yang khas dalam geometri Leonardo adalah variasi bentuk-bentuk geomteris tanpa batas di mana luas atau volum selalu dipertahankan, dimaksudkan untuk mencerminkan transmutasi tanpa lelah pada bentuk-bentuk alam yang hidup, dalam kuantitas materi  yang tak terbatas dan tak berubah.

Satu lagi metode disain yang dapat menjadi terapan dasar eksplorasi kita dalam studio perancangan. Selain itu, tidak menutup kemungkinan kita dapat menemukan ragam bentuk dan konsepsi yang lebih kaya lagi dari tipologi geometri Leonardo ini. Oleh karena itu, saya menyarankan kenapa kita tidak mencobanya…

(Sumber  : Saduran dari buku “Sains Leonardo : Menguak Kecerdasan Terbesar Masa Renasisan” karya Fritjof Capra, 2007)

June 2, 2010

Geometry in Traditional Architecture ‘Rumah Gadang’ (Part 2)

Filed under: locality and tradition — gemala @ 14:32
Tags: ,

Rumah gadang merupakan rumah tradisonal Minangkabau yang arsitekturnya cukup unik. Bangunan rumah gadang khas dengan atap gonjongnya. Tidak hanya itu, jika diperhatikan,  massa bangunan rumah gadang juga terlihat besar ke atas yang memberikan kesan ‘besar kepala’.

Bukan tidak ada alasan mengapa masyarakat Minangkabau menghasilkan karya arsitektur dengan bentuk seperti ini. Sebagai arsitektur tradisional, geometri-geometri yang diterapkan pada rumah gadang tentunya mempunyai arti yang sangat penting bagi masyarakat Minangkabau sebagai simbol yang merujuk pada identitas budaya mereka. Jika geometri-geometri tersebut lahir sebagai sebuah simbol, tentu ada sesuatu yang disimbolkannya. Misalnya, simbol dari sesuatu yang berbentuk fisik seperti alam (hewan, tumbuhan ataupun kondisi alam yang dianggap ‘penting’ dalam suatu golongan masyarakat) ataupun simbol dari sesuatu yang bersifat non-fisik seperti cara hidup (way of life) dan keyakinan atau kepercayaan. Namun dibalik semua itu, bagi saya sendiri terdapat hal yang cukup menarik perhatian yaitu bagaimana cara masyarakat Minangkabau mentransformasikan apa yang ingin mereka simbolkan ke dalam bentuk geometri arsitektural. Metode desain seperti apa yang mereka terapkan hingga lahir bentuk rumah gadang seperti yang kita lihat sekarang, khususnya bentuk atap gonjongnya.

Untuk menelaah metode desain yang diterapkan pada arsitektur tradisional dibutuhkan penelitian yang cukup mendalam. Banyak faktor yang mempengaruhi cara berarsitektur dan hasil karya arsitektur yang lahir pada suatu golongan atau etnis masyarakat tertentu. Oleh karena itu dibutuhkan pula pendekatan dari berbagai sudut pandang untuk dapat menjelaskan metode seperti apa yang mereka pakai dalam mencitrakan arsitektur tradisionalnya.

Saat berbicara mengenai rumah gadang, hal yang langsung tebayang di benak kita biasanya adalah bentuk atap yang runcing menjulang tinggi ke langit. Atap ini disebut atap gonjong yang pada akhirnya menginspirasi masyarakat Minangkabau untuk menerapkannya pada bangunan modern sebagai identitas budaya mereka, walaupun sebenarnya hal seperti ini masih menjadi perdebatan mengenai layak atau tidaknya. Terlepas dari semua itu, atap gonjong merupakan hasil dari proses berarsitektur dan berbudaya masyarakat Minangkabau yang telah mengalami trial and error[1]. Seperti yang telah dituliskan sebelumnya, bentuk-bentuk geometri yang hadir dalam wujud fisik rumah gadang merupakan simbol terhadap segala sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Segala sesuatu tersebut dapat berupa hal yang bersumber dari alam, cara hidup, sejarah dan kepercayaan. Namun saat sesuatu hadir sebagai sebuah simbol, sesuatu tersebut tidak harus serupa dengan apa yang disimbolkannya.[2]

Wujud fisik rumah gadang secara keseluruhan yang terbagi atas kaki badan dan kepala  yang pada dasarnya terbentuk dari geometri-geometri sederhana. Denah rumah gadang sangat sederhana yaitu persegi panjang dengan pembagian ruang yang juga sederhana, massa badan bangunan juga sederhana dengan hanya menerapkan geometri-geometri dalam kaidah bidang planar. Denah dan massa badan bangunan pada dasarnya merupakan simbol dari hal yang lebih bersifat non-fisik seperti cara hidup dan kepercayaan. Cara hidup masyarakat Minangkabau yang dipengaruhi oleh sistem genealogis matrilineal yang mereka anut dimana posisi kaum perempuan dalam masyarakat dianggap penting, kepercayaan yang mereka anut yaitu agama Islam yang mempengaruhi batasan ruang antara perempuan dan laki-laki, yang kesemuanya mempunyai penjelasan yang amat panjang dan rumit, tergambar dalam denah yang sederhana ini.

Namun saat melihat atap gonjong, terlihat geometri yang berbeda dan seolah keluar dari kaidah yang diterapkan pada denah. Berbeda denah yang didominasi oleh garis-garis lurus yang terkesan kaku, atap gonjong terbentuk dari komposisi garis-garis lengkung yang terkesan lebih dinamis. Persamaannya, bentuk atap gonjong juga merupakan simbol serta rekaman terhadap sesuatu yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Namun hal yang disimbolkan oleh atap gonjong lebih bersifat pada sesuatu yang fisik, seperti sesuatu yang berasal dari alam atau benda kenangan masa lampau. Secara sederhana, bentuk dasar dari gonjong adalah segitiga sama kaki namun dengan jumlah besar sudut kurang dari 180o, segitiga yang berada pada kaidah non-Euclidean geometry.

Ada beberapa pendapat mengenai apa yang masyarakat Minangkabau simbolkan dan rekam melalui atap gonjong antara lain,

  • Atap gonjong merupakan simbol dari tanduk kerbau, karena kerbau merupakan hewan yang dianggap sangat erat kaitannya dengan penamaan daerah Minangkabau.[3]
  • Atap gonjong adalah simbol dari pucuk rebung (bakal bambu), karena bagi masyarakat Minangkabau rebung merupakan bahan makanan adat, olahan rebung merupakan hidangan yang selalu ada saat upacara-upacara adat. Selain itu, bambu dianggap tumbuhan yang sangat penting dalam konstruksi tradisional.[4]

  • Atap gonjong menyimbolkan kapal sebagai rekaman untuk mengenang asal usul nenek moyang orang Minangkabau yang dianggap berasal dari rombongan Iskandar Zulkarnaen yang berlayar dengan kapal dari daerah asalnya yang kemudian terdampar di dataran Minangkabau sekarang.[5]

  • Atap gonjong merupakan rekaman terhadap alam Minangkabau yang berbukit yang terdiri dari punggungan-punggungan dan landaian-landaian.[6]

Bagi orang Minangkabau, alam adalah sesuatu yang dinamis, kedinamisan ini secara sederhana mereka simbolkan dengan garis lengkung, seperti garis lengkung pada atap gonjong.[7]

Keseluruhan pendapat tersebut menyiratkan bahwa garis-garis lengkung yang tajam pada atap gonjong merupakan tracing/jiplakan terhadap bentuk-bentuk yang berasal dari alam atau benda yang dianggap penting oleh masyarakat Minangkabau. Proses tracing atau penjiplakan ini dilakukan dalam jangka waktu berarsitektur yang sangat panjang. Di dalam proses tersebut terdapat trial and error akibat penyesuaian terhadap alam dimana atap gonjong itu eksis (alam Minangkabau). Di dalam proses tracing ini dilakukan penyederhaaan dengan mengurangi garis-garis rumit atau detail dari kondisi nyata objek yang ingin disimbolkan, seperti dengan mengambil siluetnya ataupun hanya geometri dasarnya. Dengan demikian, walaupun geometri yang kemudian hadir tidak sama dengan apa yang disimbolkannya, tetap ada bagian yang dipertahankan seperti kedinamisan dari objek tersebut.

Dari uraian di atas, terlihat sepintas lalu metode desain yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau terkesan sangat sederhana, hanya dengan men-trace suatu objek yang dianggap penting dengan ‘mengabaikan’ detail geometri dari objek tersebut. Proses yang berlangsung sekian lama berhenti saat masyarakat Minangkabau menemukan geometri arsitektural yang tepat sebagai simbol dari pandangan hidup mereka dan sesuai dengan kondisi alam tempat mereka hidup. Dengan demikian lahirlah desain arsitektur tradisional rumah gadang seperti yang eksistensinya masih dapat kita lihat di wilayah Minangkabau. Proses tracing dalam pembentukan wujud arsitektural atap gonjong rumah gadang merupakan penjiplakan benda tiga dimensi ke dalam wujud tiga dimensi pula. Hilangnya detail-detail dari benda yang di-trace membuat wujud baru yang terbentuk dapat diartikan lain oleh orang yang berbeda karena wujud baru tersebut dapat mewakili beberapa benda yang berbeda pula. Dengan demikian tidak salah jika ada beberapa pendapat mengenai benda apa yang disimbolkan oleh atap gonjong rumah gadang.


[1] Hasil wawancara dengan St. Mahmud, tokoh ahli dalam hal sejarah rumah gadang

[2] Harries, Karsten.1997.The Ethical Function of Architecture.MIT Press (pg. 98)

[3] Ismael, Sudirman.2007. Arsitektur Tradisional Minangkabau Nilai-Nilai Budaya Dalam Arsitektur Rumah Adat. Bung Hatta University Press (hal. 52)

[4] Wawancara dengan Dt. Majo Setio, Ketua Kerapatan Adat Nagari Sungaitarap, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat

[5] Ismael, Sudirman.2007. Arsitektur Tradisional Minangkabau Nilai-Nilai Budaya Dalam Arsitektur Rumah Adat. Bung Hatta University Press (hal. 52)

[6] Wawancara dengan Dt. Atiah, salah seorang tokoh adat di Nagari Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

[7] Wawancara dengan Dt. Majo Setio, Ketua Kerapatan Adat Nagari Sungaitarap, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat

Falling Water, Frank Lloyd Wright

Filed under: nature and architecture — meitha28 @ 14:31
Tags: ,

Geometri blog
Falling water merupakan salah satu karya dari Frank Lloyd wright yang memadukan unsur alam dengan arsitektur berdasarkan pengakuan Frank Llyod Wright menyatakan mengenai karyanya falling water:

Frank Lloyd Wright,
‘ the visit to the water falling in the woods stays with me, and a domicile has taken vague shape in my mind to the music of stream. When contours come you will see it’
(Frank Lloyd Wright, The Master Works p.152).
Berdasarkan pernyataan Frank Llyod Wright maka saya berpendapat adanya faktor yakni adanya unsure air merupakan unsure utama dari ide Frank Llyod Wright .
Saya akan mencoba menguraikan perlakuan air yang pertama bagaimana sifat air yakni air mengalir memiliki debit sehingga baimana jika air terhadap debit yang mengalir, yang kedua bagaimana jika adanya kaitan antara air dengan gravitasi (secara natural yang terjadi) sertayang ketiga bagaimana jika air diberlakukan beda dengan adanya gaya sentripetalatau kaitan antara air dengan gaya snetripetal (hal yang mungkin terjadi pada falling water).
Yang pertama adalah kaitan antara air dengan debit:
Hal ini yang mungkin terjadi antara air dengan debit secara natural bagaimana jika debit air diberlakukan secara cepat atau debit air diberlakukan secara lambat hal ini mungkin terjadi pada aliran air falling water dan hal ini juga mempegaruhi ‘the music of stream’.
Karya frank llyod wright berdasarkan debit air juga dapat dibuktikan secara fisika mengenai debit air:
P = ᵨ x g x h
Yang kedua adalah kaitan antara air dengan gravitasi:
Hal yang mungkin terjadi antara air dengan gravitasi Gravitasi merupakan gaya tarik yang dialami object (air) tehadap bumi. Gravitasi yang biasa terjadi dibumi ± 10 m/s². gravitasi yang terjadi dibumi tidak berubah yakni ±10 m/s² tidak mengalami penambahan dan terjadi merata diseluruh bumi. Maka jika gravitasi bertambah besar atau dinolkan (tiadakan) hal tersebut hamper tidak mungkin kecuali hal ini akan terjadi diluar bumi atau ruang kedap udara dengan peniadaan gravitasi.
Keterkaitan antara gravitasi dengan falling water, Frank Lloyd Wright terjadi gravitasi pada jatuhnya air, namun jatuhnya air yang terjadi pada air falling water konstan dan dipengaruhi oleh gravitasi ± 10 m/s², sehingga untuk terjadinya gravitasi lebih besar ±10 m/s² atau ditiadakan hampir tidak mungkin.

Keterkaitan antara air dengan kontur:
Kontur yang terjadi bermacam-macam dapat terjadi secara vertical dan dapat terjadi secara horizontal. Saya akan membuat lebih spesifik yakni secara horizontal, suatu aliran air jika terhalang suatu batu atau kontur yang tidak rata maka akan membuat aliran air yang berbeda yakni berlakunya air jika terkena batu (misalkan) maka air akan tertahan namun karna ir memiliki daya dorong (debit) maka air akan tetap melewati batu yakni dengan cara bebrbelok dan dengan cara berputar dahulu baru berbelok. Hal yang berputar pada air ini tanpa disadari partikel air mengalami gaya secara fisika yakni sentripetal. Fs=(m x v²) /r
                                                                   

Masing-masing kemungkinan akan terjadi dan dapat mempengaruhi ‘the music of stream’ falling water.

Belajar dari Kemasan

Filed under: locality and tradition — andisuryakurnia @ 14:10
Tags: ,

Dewasa ini, suatu produk tersaji lengkap dengan kemasannya. Kemasan bukan saja bertujuan untuk mempermudah transportasi suatu produk, tetapi juga mampu melindungi produk dan memiliki daya simpan yang baik. Bahkan seringkali keputusan untuk memiliki suatu produk ditentukan oleh kemasannya. Sehingga kemasan bukan hanya bersifat pelengkap semata namun juga menjadi faktor kunci sebuah pemasaran produk. Dengan demikian faktor estetika turut menjadi pertimbangan sebuah desain kemasan untuk menarik minat pembeli.

Masa lalu kemasan dapat ditemukan pada beragam bahan alami seperti: keranjang dari alang-alang, wadah simpan anggur dari kulit kambing, kotak dan drum dari kayu, vas tembikar, dsb. Di dunia arkeologi, kemasan merupakan suatu studi penting dalam mempelajari sebuah artefak. Kemasan kemudian banyak dijumpai menggunakan bahan lainnya seperti gelas dan logam. Pada awal abad ke-19 mulai diperkenalkan penggunaan kaleng berbahan campuran besi dan aluminium sebagai material sebuah kemasan. Dan di akhir abad ke-19 kemasan terbuat dari karton berbahan dasar kertas maupun fiber.

Bahan karton ini memiliki elastisitas yang cukup tinggi sehingga kemasan dapat diwujudkan dalam pelbagai rupa sesuai dengan kebutuhan dan keinginan perancangnya. Kreativitas menjadi kunci utama dalam desain suatu kemasan yang bertujuan untuk menampilkan produk semenarik mungkin sekaligus berfungsi sebagai pelindung produk yang ringkas dibawa-bawa kemana-mana baik dalam perjalanan jarak dekat maupun jauh serta memberikan kemudahan dalam penyimpanannya. Dengan bahan karton ini, kemasan dapat terbentuk dari proses memotong dan melipat sehingga kemasan tidak lagi berwujud seperti pada umumnya namun bisa beraneka ragam rupa yang seringkali mencerminkan karakter dari sebuah produk.

Desain kemasan ini kemudian menginspirasi saya untuk mempelajarinya lebih jauh melalui proses kreatif yang terjadi di dalamnya, yang bukan saja mengedepankan fungsi ‘wadah’ saja tetapi terdapat tahapan pembentukan untuk mencapai tampilan akhir.
Yang menarik dari pembuatan kemasan ini ialah proses desain kemasan secara struktural sehingga didapatkan beragam wujud yang memerlukan percobaan-percobaan sebagai proses pembelajaran sebelum sampai pada wujud akhir yang diinginkan. Proses desain struktur kemasan ini terbagi dalam tiga prinsip utama pembelajaran yaitu: studi tentang struktur dasar (basic structures), studi tentang metoda kunci (locking methods), dan studi tentang proses penyusunan (terminology).

Dalam keseharian sering kali kita juga melakukan hal serupa (baca: 3 prinsip utama kemasan) dalam suatu perencanaan dari skala kecil sampai skala besar. Seperti misalnya perencanaan liburan yang diawali dengan menetapkan kegiatan ataupun tempat untuk mengisi liburan sebagai struktur dasar dalam perencanaan, kemudian dilanjutkan dengan penetapan waktu ataupun tempat yang tepat untuk berlibur (misalnya saat liburan anak sekolah) sebagai ‘kunci’ perencanaan liburan, dan pada akhirnya disusun jadwal kegiatan, tempat, dan waktu sebagai suatu agenda besar untuk mengisi liburan tersebut (sebagai proses penyusunan). Dengan prinsip-prinsip ini liburan yang direncanakan kemungkinan besar dapat berlangsung dengan baik, kecuali jika terganggu oleh faktor alam seperti cuaca buruk.

Dalam skala besar seperti perencanaan kota sebenarnya prinsip yang sama masih bisa diberlakukan dengan melibatkan kajian yang mendalam tentang ‘struktur dasar’ suatu kota misalnya pengetahuan bahwa pertumbuhan kota yang diawali dari keberadaan sumber kehidupan (air) seperti sungai, kemudian dilanjutkan dengan penetapan ‘kunci’ berupa pengetahuan mengenai faktor-faktor berkehidupan masyarakat kota, dan pada akhirnya dihasilkan kebijakan-kebijakan yang merupakan bagian dari ‘proses penyusunan’.

Namun seringkali juga kita jumpai ketiga prinsip utama ini berlangsung kurang/tidak terkait satu sama lain dalam suatu perencanaan, sehingga rencana yang telah ditetapkan (skala besar dan kecil) kurang/tidak memberikan hasil yang memuaskan. Tulisan ini menjadi bahan pembelajaran bagi saya untuk mengingat kembali akan proses yang seharusnya berlangsung dalam berbagai perencanaan termasuk perencanaan arsitektur.

Bagaimana menurut anda?

Sumber:

http://e.wikipedia.org/wiki/Packaging_and_Labelling

Structural Package Designs. Amsterdam: The Pepin Press. 2003

April 6, 2010

Good Framing Good Cinema?

Filed under: architecture and other arts,contemporary theories — datunpaksi @ 00:02
Tags: , ,

Menikmati film apapun bentuknya sepertinya dahulu tidak begitu memperhatikan apa yang biasa disebut dengan framing dalam bahasa sinematografi. Framing adalah aspek yang bisa jadi tidak cukup akrab untuk dicermati. Karena kita memperhatikan aspek lain yang bisa jadi, bisa kita kaji secara lebih mudah dalam sebuah film, tema, pewarnaan dan setting, isu yang dominan, cukup baguskah casting para pemainnya, fotografinya sampai pada skenario cerita. Ketika kita cukup mengenal terdapat pula unsur geometri dalam proses kelahiran sebuah frame dalam film, kita jadi sejenak merenungkan dan membayangkan film-film yang pernah kita nikmati.

Ketika kita berbicara tentang frame pada sebuah gambar , kita berhadapan pada sebuah pola yaitu pola dua dimensi, untuk identifikasi pola tersebut dan berbagai elemen didalamnya yang di atur diatas permukaan dua dimensi tersebut, dimana di dalam pola tersebut kita mengenali dan menata bentuk grafis, warna dan berbagi bentuk lain yang berhubungan dengan frame, untuk menciptakan sebuah komposisi. Struktur ini tidak terbentuk begitu saja dengan sendirinya , tetapi disusun berdasarkan tujuan tertentu yang akan dicapai , dalam hal ini sebuah frame komposisi sebisa mungkin merupakan media penyampaian sebuah ide, pesan dan makna tersirat ataupun tersurat.

Sutradara film Kala, Joko Anwar juga menyajikan konsep pembabakan dalam scene dalam penyajian sebuah film, didalamnya terdapat unsur pergerakan dan komposisi secara lengkap. Bagaimana pada saat figure manusia berhadapan dengan figure lain  yang berlawanan dan tetap harus menjadi point of interest dari semua keseluruhan adegan. Apakah adegan tersebut menjadi sebuah horizontal-composition, macam ilustrasi komposisi yang ditampilkan dalam lukisan Wheatfield atau Stormy Wheater karya Ruisdael.  Sebaliknya berbicara tentang vertical-composition seperti yang diilustrasikan dalam lukisan Friedrich. Komposisi lingkaran circular-composition biasanya digunakan untuk menggambarkan kebajikan , keabadian ataupun sesuatu yang dinamis, penggunaan komposisi circular/lengkung sebagai komposisi utama akan menghasilkan kesan yang harmoni. Seniman Renaissance seperti pelukis Raphael The Betrothal of the Virgin  ( Sposalizio) dan Arsitek Brunelleschi biasa menggunakan sesuatu yang berbentuk circular untuk menggabungkan sesuatu yang statis dengan garis lengkung yang harmonis , dalam dunia iklan , lingkaran selalu digunakan untuk menggambarkan dan memberi kesan pada produk awet dan tahan lama. Diagonal-composition secara khas menekankan suatu drama pergerakan atau kedalaman yang berarti bahwa diagonal bekerja pada 2 dan 3 dimensi.seperti untuk mengilustrasikan perbedaan penggunaan efek yang  dramatis.

Dari sedikit ilustrasi tentang metode pengolahan frame tadi, dalam takaran yang sangat ideal setiap frame dalam film selalu melalui proses penyusunan story-board yang terukur letak komposisi dan arahan adegan apa yang akan menjadi titik penting dalam satu scene. Story-board yang baik akan merangkum semua detail penting yang akan ditampilkan tanpa terkecuali. Dimana sang tokoh akan berdiri, gesture tubuhnya, pola interaksi dan dialog yang harus terjadi.

Membayangkan kita menikmati adegan dalam Trainspotting arahan sutradara Danny Boyle. Sebuah film satir tentang sekumpulan pemuda Scottish yang berada dalam lapisan masyarakat paling rendah karena pengaruh obat bius dan pergaulan bebas. Dalam salah satu scenenya, terdapat adegan yang meleburkan kondisi realitas dan unrealitas para pelakunya dikarenakan pengaruh obat bius yang sedemikian hebat. Dalam beberapa menit penonton dibawa dalam kondisi nyata, tapi dalam beberapa menit kemudian semuanya hancur berantakan karena semuanya ternyata hanya ilusi. Penonton tentu sudah tidak akan berpikir akan seperti apakah komposisi yang baik itu akan berlangsung, karena ritme dan klimaks berlangsung demikian cepat. Sangat jauh berbeda pada saat kita menikmati Bulan Tertusuk Ilalang karya Garin Nugroho semisal. Tempo yang sangat lambat dan masif sepertinya memberikan kita cukup waktu untuk menemukan komposisi apa yang akan dihadirkan. Meskipun pada akhirnya, proses kesadaran akan pola framing ini kadangkala berjalan sendiri-sendiri dan mungkin kita tidak perlu framing yang sempurna untuk menilai sebuah film bagus atau tidak. Framing yang sempurna adalah nilai tambah yang sempurna sejatinya, tapi unsur lain akan tetap berada dalam porsinya untuk dijadikan sebagai parameter penilaian juga.

Ninadwihandajani.

 

Referensi.

Materi Kuliah Sinematografi oleh Arif Pribadi

Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta
2007

Layout, content, graphics v. Lise Mark ©2005

Public-Lecture Joko Anwar, The Cinematic story Telling, November 2009

http://www.imdb.com/title/tt0117951 : Trainspotting 1996

 

April 5, 2010

Metafora Sebagai Pendekatan dalam Mencapai Geometri

Filed under: contemporary theories — notjusthenny @ 23:58
Tags: , ,

“Architecture, in other words, is a form of communication, and this communication is conditioned to take place without common rules because it takes place with the other.” (Karatani, 1995, p.127)

Metafora berasal dari bahasa Yunani metapherein, berasal dari kata ‘meta’ yang berarti memindahkan atau menurunkan, dan ‘pherein’ yang berarti mengandung atau memuat. Jadi secara etimologi, metafora dapat diartikan sebagai pemindahan makna yang dikandungnya kepada obyek atau konsep lain sehingga makna tersebut terkandung pada obyek yang dikenakan baik melalui perbandingan langsung maupun analogi. Penggunaan metafora ini pada umumnya terdapat dalam suatu tata bahasa, di mana kemudian suatu kalimat tertentu jika dimaknai secara denotatif maka akan terlihat mengandung makna yang tidak sesuai tetapi jika dipahami secara konotatif akan menyampaikan makna lain yang sesuai dengan konteks yang sedang dibicarakan. Namun tentu saja, tanpa konteks terkait, kalimat yang sama tetap dapat dipahami sebagai sesuatu yang bermakna denotatif. Namun dengan demikian, ia tidak memegang peranan sebagai sebuah metafora.

Seperti yang dinyatakan Karatani, arsitektur dapat dipahami sebagai suatu bentuk komunikasi yang selalu terkait dengan hal-hal lain di luar dirinya. Sebagai suatu bentuk komunikasi, arsitektur sering dikaitkan dengan suatu sistem bahasa. Dengan pemahaman bahwa arsitektur sering sekali dipahami sebagai suatu sistem  bahasa yang menyampaikan makna tertentu, maka metafora juga menjadi suatu hal yang sering dipakai sebagai pendekatan mendisain arsitektur, terutama dalam proses menemukan bentuk geometrinya.

Pendekatan metafora dalam mendisain biasanya dilakukan dengan analogi. Dalam mencari bentuk arsitektur ketika merancang, tidak jarang kita akan menggunakan analogi dari sebuah benda untuk diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk arsitektur. Dengan melakukan ini, kita seolah memindahkan karakter pada benda yang sebelumnya ke dalam arsitektur, sehingga bentuk arsitektur yang muncul adalah penggambaran dari karakteristik tersebut. Metode ini dilakukan dengan mengambil suatu makna tertentu yang akan ‘dibawa’ oleh suatu bentuk arsitektur. Seringkali kemudian, bentuk arsitektural yang muncul melambangkan makna yang dikenakan padanya tersebut.

Dalam studio perancangan dulu, seringkali ada yang mengambil suatu obyek tertentu untuk dijadikan dasar dalam pencarian dan pengolahan bentuk arsitektural. Obyek tersebut direfleksikan karakternya ke dalam bentuk arsitektur yang akan dihasilkan nantinya. Misalnya bunga dengan karakternya yang sedang mekar (blossoming) dan lalu hal itu diterjemahkan ke dalam sebuah bentuk geometri dengan menampilkan geometri yang seolah-olah menggambarkan setangkai bunga yang mekar, atau karakter perempuan yang anggun diterjemahkan ke dalam bentuk yang meliuk-liuk yang dianggap elegan dan menggambarkan karakter feminin. Metafora seperti inilah yang kemudian sering disebut ekspresi dalam arsitektur. Bentuk-bentuk arsitektur tertentu mengekspresikan suatu makna yang sengaja dilekatkan padanya melalui analogi dengan obyek lain.

Seringkali, dalam menghasilkan bentuk arsitektur, metafora ini digunakan secara literal. Ini menyebabkan arsitektur yang dihasilkan tidak lagi sebuah ‘ekspresi’, tetapi benar-benar penggambaran dari obyek yang dianalogikan dengannya. Ini dapat dilihat dari beberapa bangunan yang memiliki bentuk-bentuk iconic sebagai berikut:

a .)     Home Office of The Longaberger Company, Amerika Serikat

b.)     Gedung Piano, An Hui, China

c.)     Kansas City Library, Amerika Serikat

Obyek yang dijadikan sebagai awal penggalian ide bentuk benar-benar dihadirkan secara literal dalam bentuk bangunannya. Lalu apakah ini, sebenarnya, bernilai metafora?

Jika melihat dalam konteks bahasa, suatu kalimat yang bermakna metaforikal biasanya akan membuka kemungkinan terhadap interpretasi dan pengekpresian lainnya di samping jika ia dicoba untuk dipahami secara denotatif (literal). Misalnya jika sebuah kalimat menyatakan ‘kakek tua itu banyak makan garam’, tentu saja ia dapat bermakna baik secara literal maupun metaforikal. Secara literal, ia dipahami sebagaimana kalimat itu hadir, seorang kakek tua benar-benar mengkonsumsi garam dalam jumlah banyak, namun secara metaforikal, ia akan dipahami sebagai suatu ekspresi yang menyatakan bahwa kakek tua yang dimaksud memiliki banyak pengalaman hidup (‘banyak makan garam’).

Jika ini direfleksikan dalam arsitektur, maka jika kita melihat contoh-contoh bangunan di atas, kita akan langsung dapat memahaminya sebagai ekspresi yang literal. Misalnya pada bangunan ketiga, bangunan tersebut adalah sebuah gedung perpustakaan di Connecticut, dan lalu untuk menyatakan bahwa fungsi tersebutlah yang ditampungnya dalam gedung itu, kita akan langsung dapat membacanya dari tampak bangunan tersebut. Tidak ada lagi ruang tersisa untuk interpretasi dan pemaknaan lainnya dari bentuk yang ia tampilkan.

Arsitek seperti Frank Gehry juga kerap menggunakan metafora dalam proses pencapaian bentuk geometrinya. Salah satu contohnya adalah Guggenheim di Bilbao. Bentuk bangunan ini sering diinterpretasikan  sebagai seekor ikan, walaupun ia tidak secara eksplisit tergambar seperti itu. Namun konteks kota Bilbao yang berada di antara dua sungai dan tapak Guggenheim sendiri yang berada di tepi air menjadi salah satu faktor yang mengundang orang-orang untuk berinterpretasi mengenai gambaran ‘ikan’ tersebut.

Guggenheim Museum, Bilbao

Sejauh ini, metafora kemudian hanya sebatas digunakan untuk menemukan bentuk luar (shape). Apakah hanya sedemikian jauh metafora dapat digunakan dalam mendisain, untuk mencari bentuk fisik?

Mungkin kita harus melihat bagaimana arsitek Jepang Tadao Ando memanfaatkan metafora dalam menggagas tidak hanya shape tetapi form secara keseluruhan. Ia menggunakan analogi metaforikal untuk mengolah suasana dan kualitas ruang dalam bangunannya. Analogi yang digunakan berasal dari upacara minum teh Jepang yang disebut ‘sukiya’, di mana orang yang mengikuti upacara tersebut akan duduk dalam keheningan yang memungkinkan untuk mengantarkannya pada sebuah kontemplasi. Di sini kualitas silent dan contemplative adalah dua hal yang paling utama yang digarisbawahi Ando. Oleh karena itu, Ando merefleksikan kualitas ini ke dalam ruang-ruang yang dirancangnya. Hal ini dapat dilihat dalam karya-karya arsitektural Ando yang banyak mengesankan keheningan (silence), sehingga arsitektur Ando sering disebut sebagai architecture of silence. Kesan hening tersebut diwujudkan Ando dalam form arsitektural dengan menggunakan material beton ekspos yang berkesan diam, dan memanfaatkan pencahayaan natural yang memperkuat kesan hening tersebut dengan hanya memasukkan beberapa berkas cahaya saja ke ruang dalamnya. Ini dapat dilihat pada karya Ando seperti Church of the Light.

Church of Light.JPG Church of the Light, Osaka.

Dari sini kita dapat melihat analogi metaforikal kemudian tdak hanya dapat digunakan untuk membentuk shape, tetapi lebih jauh ke dalam, untuk menghasilkan kualitas ruang dan form yang membentuknya.

Selain Ando, arsitek yang banyak menggunakan metode metafora ini adalah arsitek Spanyol Santiago Calatrava. Calatrava sering menggunakan metafora tubuh makhluk hidup sebagai basis perancangannya. Ini kemudian ia terapkan dalam sistem struktur yang sering menjadi karakter rancangan arsitektural Calatrava.

Dari sini kita dapat melihat bagaimana metafora juga dapat digunakan untuk mempelajari suatu sistem yang kemudian diterapkan dalam disain arsitektur. Analogi yang dilakukan Calatrava berdasar pada  sistem tubuh makhluk hidup dapat ia manfaatkan untuk menghasilkan tidak hanya sebatas shape tetapi sistem yang membentuknya, dalam hal ini yang Calatrava wujudkan dalam sistem struktur.

Karya arsitektural Calatrava:

a.)     Milwaukee Art Museum

b.)   Chords Bridge

Dari contoh-contoh di atas, kita dapat melihat bagaimana metafora dapat digunakan dalam menemukan dan menghasilkan geometri sebuah arsitektur. Penggunaan metafora sering direduksi hingga hanya berupa analogi langsung yang kadang lebih bersifat literal dan bahkan simbolisasi langsung dari obyek yang digunakan sebagai pemicu gagasan, yang kemudian menghasilkan bentuk-bentuk yang langsung terlihat sebagai obyek yang dimetaforakan. Padahal, pendekatan metafora ini seharusnya dapat digunakan untuk menghasilkan arsitektur yang lebih kaya dari pada hanya di permukaan seperti itu. Metafora, sebagai sebuah pendekatan mendisain, akan lebih baik jika dipahami sebagai sebuah penggalian yang dalam terhadap sebuah konsep yang akan digunakan sebagai basis dalam merancang, sehingga arsitektur yang dihasilkan nantinya tidak sebatas di permukaan, tetapi lebih dalam, metafora tersebut juga membentuk ruang-ruangnya.

Daftar Pustaka :

Karatani, Kojin. (1995). Architecture as Metaphor. Cambridge: MIT Press

Francesco Dal Co, Ed. (1995). Tadao Ando: Complete Works. London: Phaidon Press

http://en.wikipedia.org/wiki/Church_of_the_Light

http://en.wikipedia.org/wiki/Santiago_Calatrava

http://en.wikipedia.org/wiki/Guggenheim_Museum_Bilbao

http://en.wikipedia.org/wiki/Bilbao

http://secret-architecture.blogspot.com/2008/12/arsitektur-terunik-di-dunia.html

Geometry + Architecture = Spatiology ?

Filed under: classical aesthetics — andisuryakurnia @ 10:33
Tags: ,

Geometri setahuku berhubungan dengan matematika, sudah benarkah pengetahuanku?
Arsitektur setahuku berhubungan dengan ruang, sudah benarkah pengetahuanku?
Lalu apa hubungan antara geometri dengan arsitektur?

Melalui beberapa pertanyaan awal ini saya mencoba menemukan jawabannya..

Penelusuran cepat memberikan saya gambaran awal;

Geometry dalam bahasa Yunani γεωμετρία; terdiri dari kata geo- yang berarti bumi (dalam bahasa Inggris “earth“), dan -metria yang berarti ukuran (dalam bahasa Inggris “measurement“), sehingga diperoleh pengertian sebagai berikut:

Earth-Measuring is a part of mathematics concerned with questions of size, shape, relative position of figures, and the properties of space.”

http://en.wikipedia.org/wiki/Geometry

Architecture dalam bahasa Latin architectura, dan dari bahasa Yunani ἀρχιτέκτων – arkhitekton; terdiri dari kata ἀρχι- yang berarti kepala (dalam bahasa Inggris “chief“), dan τέκτων yang berarti tukang (dalam bahasa Inggris “builder, carpenter“), sehingga pengertiannya menjadi sebagai berikut:

Architecture is the art and science of designing buildings and other physical structures.”

http://en.wikipedia.org/wiki/Architecture

Dengan demikian pengetahuan awalku mungkin ada benarnya, namun disadari ternyata pengertian awal tersebut ada yang kurang lengkap seperti saat memahami geometri terdapat hal yang terkait dengan ruang dan saat memahami arsitektur terdapat hal yang terkait dengan struktur.

Lebih jauh untuk mencari jawaban atas pertanyaan lanjutan yang menghubungkan antara geometri dan arsitektur saya memperoleh pelajaran berharga dari buah pikir seorang arsitek kelahiran Florence, Italia yang kemudian menetap di Amerika Vittorio Giorgini (1926-19 Februari 2010). Giorgini dikenal sebagai arsitek yang menaruh perhatian besar pada hubungan arsitektur dan sistem biologi. Karya yang mengangkat namanya yaitu Saldarini House (1962) di Baratti, Italia yang memiliki tampilan seperti siput. Struktur membran yang diterapkan pada rumah tersebut kemudian hari menjadikannya turut ambil bagian pada pelaksanaan pembangunan Guggenheim Museum di Bilbao, Italia dimana Giorgini bekerjasama dengan Frank Gehry.

Dari tampilan karya yang dihasilkannya saya berasumsi bahwa proses berarsitektur Giorgini sangat erat berhubungan dengan insting, tetapi ternyata asumsi saya tersebut mulai terbantahkan setelah membaca bukunya “Spatiology, The Morphology of The Natural Science in Architecture and Design” (1995). Dalam bukunya, Giorgini memperkenalkan istilah baru spatiology yaitu sebuah studi tentang geometri sebagai aturan dasar untuk semua ilmu statistik dan struktur.

Giorgini melakukan proses berkarya dengan mengkaitkan secara erat tiga bagian pokok yaitu geometri, statistika, dan sistem. Setiap bagian dari proses yang dilaluinya dengan mudah dipahami perkembangan pemikirannya dari tingkat yang sederhana sampai pada tingkat yang sangat rumit. Berikut ketiga bagian tersebut:

Geometry is the basic order which models are developed so that analysis, quantification and verification are made possible.”

Geometri klasik yang dimulai dari sebuah titik (point) mempunyai tekanan (forces) sehingga menjadikannya memiliki peran (magnitude). Geometri selalu diletakkan pada bidang cartesius dengan 3 sumbu (X, Y, Z) sehingga selalu ada pada ‘ruang’ (space).

In statics Giorgini speaks of the behaviour of forces, the response of forces to outsides destabilizing conditions and also of forces acting on curved line and plane.”

Tekanan (forces) yang ada diperlakukan berdasarkan perpindahan dan perputaran.

On the subject of systems Giorgini explains the space frame with its structural members performing in patterns which are interrelated and interacting.”

Sebagai sebuah sistem, hubungan timbal-balik atau sebab-akibat antar bagian menjadi sangat penting untuk dapat menjadikannya ‘utuh’ baik secara simetri maupun asimetri.

Dalam bukunya, Giogini lebih jauh memaparkan perkembangan metoda perancangan yang dilakukannya pada masing-masing bagian (geometry, statics, systems) – yang tersaji pada tulisan ini hanya proses awal – yang kemudian mempengaruhi proses berarsitektur beliau sampai pada penciptaan karya yang erat berhubungan dengan sistem biologis mahluk hidup dan penggunaan teknologi tingkat tinggi pada masanya. Jika pada awal tulisan ini sudah diungkapkan karya Giorgini yang bersifat biologis, maka berikut ini saya mengangkat salah satu karyanya yang sangat erat berhubungan dengan teknologi canggih yaitu Mono-Beam System.

Mono-Beam System (1993) ialah sebuah diagram jaringan transportasi massal yang mewadahi aktivitas pergerakan ‘lambat’ dengan berjalan kaki dan aktivitas pergerakan ‘cepat’ dengan menggunakan kereta kecepatan tinggi. Struktur utama berupa baja dengan profil ‘Y’ yang dipadukan dengan beton cetak. Karya inovatif ini dihasilkan Giorgini saat berkolaborasi dengan Eric Nelson, Chris Pfaeffel, Ji Won Kim. Hal ini menunjukkan bahwa Giorgini tidak segan-segan bekerjasama dengan pihak lain khususnya dari sisi teknis (engineering) untuk mewujudkan idenya yang sarat dengan proses analisa dan sintesa.

Dengan berbekal geometri inilah, Giorgini dianggap ‘kebal’ terhadap berbagai terpaan trend dalam sejarah perkembangan arsitektur (formism, utopianism, stylism, post-modernism) karena proses yang dilaluinya selalu memiliki dasar pijakan yang dapat dimengerti secara umum sehingga mampu menjelaskan ‘makna’ dari setiap tampilan yang hadir. Hal ini sesuai dengan jawaban Giorgini saat ditanyakan oleh rekan sejawatnya, John M. Johansen mengenai usaha kerasnya melakukan riset, analisis, verifikasi, dan proses desain yaitu karena kepedulian beliau yang sangat dalam terhadap pengungkapan makna (the meaning) dari sebuah tampilan (the image).

Dari pembalajaran ini saya tertantang untuk mengupas hubungan geometri dengan arsitektur secara lebih mendalam, bagaimana dengan Anda?

Referensi:

Giorgini, Vittorio, Spatiology, The Morphology of the Natural Sciences in Architecture and Design, Italy: I’Arca Edizioni, 1995

http://en.wikipedia.org/wiki/Geometry

http://en.wikipedia.org/wiki/Architecture

http://it.wikipedia.org/wiki/Vittorio_Giorgini

http://www.archpaper.com/e-board_rev.asp?News_ID=4350

http://rogallery.com/Giorgini_Vittorio/giorgini-biography.html

The Sixth Sense

Filed under: perception — arumthequeen @ 10:29
Tags: , ,

First of all, before you go further reading this, I remind you this is just unconstructed thought of mine. Excuse my English, and excuse the scattered non ordering thought that I will lay it in front of your eyes after this opening.

I chose ‘The Sixth Sense’ title consciously. That might trigger a question, why sixth sense? And how can it related to geometry? Something pops up in my mind when we have discussion about music and architecture, and how, through some kind of research and measurement, in music, we can also find the perfection of Fibonacci numbers.

The Fibonacci numbers are Nature’s numbering system. They appear everywhere in Nature, from the leaf arrangement in plants, to the pattern of the florets of a flower, the bracts of a pinecone, or the scales of a pineapple. The Fibonacci numbers are therefore applicable to the growth of every living thing, including a single cell, a grain of wheat, a hive of bees, and even all of mankind.

Stan Grist

http://www.stangrist.com/fibonacci.htm

Through vision and hearing senses that man have, scientifically proven we can find a nature’s numbering system. Isn’t that odd? A composition we usually see, now we find it in sounds. But after a few moment of thinking (when I said a few moment, actually it take days) I see that possible, and that possibility might go further in so many aspect of our life.

Vision and hearing senses, I understand it as a tool, our personal nature tool to recognizese distance, to predict some measures. Well, that so easy to explain, through our vision we can easily tell a distance between one object to other object. How about the hearing? In a rainy thunder, you can know how further the thunder from where you stand, by counting the time different between the lightning and the sound of thunder strikes the earth.

By Vitruvius description, we know how sounds can be related to measure the distance. For example, how the catapult can work accurately by listen to the right tune of the string. But so far we just talk about two senses, what happen with the other three?.

I believe all of our senses works together as a system. All of our senses works mysteriously, mostly for our own pleasures. We can find the nature mapping of visions and sounds by studying it with numbers, I don’t know if anyone ever study this yet, but maybe we can also find that in taste, touch and smell senses too.

For someone with different ability, if they have disfunction on one of their senses, they trained the other senses to replaced it and give them a balance for doing their everyday life. As sounds work based on the waves principles, we can calculate distance by touch, and counting the period between one move to another. By that, we can learn to measure as well.

And, if the quote that I put above about nature’s numbering systems is right, I think we can find ‘nature perfections’ everywhere. Then, according to, once again, my unconstructed thought, all part of our body is familiar, sensitive, and responsive to certain way to measure, measure our world and measure how we interact within it. That’s why I think man should have more than five senses, and coincidently I found out that some, thinks man have one, two, or five more senses.

Some said our sixth sense is proprioception, the unconscious perception of movement and spatial orientation arising from stimuli within the body itself and some other said our sixth sense is kinesthetics, the ability to understand and interact with dimensional shapes such that we are able to navigate successfully through a room and as a sense of timing and coordination, fine-motor control and the manner in which both the whole body and its parts move, its deportment or dynamics.

So, when I start talking about sixth sense, from the very beginning I know it has nothing to do with supernatural things, but more to a question, when we learn about geometry and make our body responsive to it, perhaps we develop something in our own body, in our own brain. And I think it’s an interesting view to see the relation between man and geometry, between man and the world surrounding.

May 31, 2009

Geometri sebagai Material dalam Pembentukan Arsitektur

Filed under: process — r1ss @ 09:27
Tags: ,

Dalam mendapatkan ide dalam mendesign seringkali kita terinspirasi dari design karya arsitek lain. Tapi mungkin design tersebut kita ubah sedikit dengan di distort,invert atau di twist. Dimana pada dasarnya pembentukan massa pada kedua design itu sama namun dengan perlakuan yang berbeda. Dan hal ini seringkali disangkal para arsitek apabila designya dikatakan mirip dengan design orang lain. Sering terjadinya kemiripan design ini sebenarnya mungkin karena para arsitek sudah tidak punya ide lagi bagaimana untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar berbeda. Walaupun pertanyaan sebenarnya adalah apa mungkin apabila saat ini seorang arsitek benar-benar bisa menghasilkan design arsitektur yang benar-benar berbeda dengan yang lainnya?Karena sudah begitu banyaknya design arsitektur yang muncul di dunia ini, lalu apa mungkin ada bisa muncul design lain yang benar-benar tidak menyerupai design-design yang sudah muncul sebelumnya?
Dalam kuliah geometri ini saya belajar bahwa geometri seperti sebuah material dalam pembentukan design arsitektur. Dimana material-material ini berperan sebagai metode yang berbeda-beda yang ditawarkan geometri dalam membantu kita untuk mendesign sebuah arsitektur. Metode-metode inilah yang seperti membuka pikiran kita untuk mencari cara lain agar bisa menghasilkan sebuah design arsitektur yang berbeda. Mungkin pada awalnya saya berpikir bahwa geometri adalah bentuk-bentuk kotak atau segitiga yang malah bersifat mengekang bentuk-bentuk dalam arsitektur itu sendiri. Namun setelah dipelajari sebenarnya geometri inilah yang membebaskan kita untuk mencari sebuah design yang lain dan tidak hanya dengan mengikuti design orang lain. Material-material yang berbeda dalam pembentukan geometri bukan hanya kotak atau segitiga namun bisa melalui metode music, persepsi, golden section (aturan yang sudah ada pada arsitektur), Euclidean atau bahkan dengan ilmu-ilmu biologi. Dahulu kalau saya ditanya bagaimana music atau persepsi bisa membentuk geometri maka mungkin saya juga akan bingung menjawabnya. Bagaimana bisa geometri yang merupakan rumus matematika bisa dihubungkan dengan music atau persepsi,karena kedua hal itu ada pada bidang yang berbeda. Karena seringkali kita menganggap bahwa apabila ada kedua hal yang berbeda maka kita tetap akan menganggapnya berbeda, yang padahal mungkin saja dual hal yang berbeda belum tentu tidak berhubungan. Mungkin sebenarnya di sekeliling kita masih banyak material lain yang dapat kita temukan dalam pembentukan arsitektur, namun kita tidak menyadarinya karena kita sudah terkekang dengan metode-metode yang sudah kita kenal selama ini dan sudah terpatri di kepala kita. Arsitektur merupakan sebuah lahan dimana kita bisa menggunakan banyak metode untuk mengisi lahan itu. Dan metode-metode yang kita ketahui selama ini masihlah sangat sedikit sehingga kita selalu meingisi lahan itu dengan metode yang sama atau dengan mengikuti metode yang orang lain lakukan. Dan peran geometri disinilah yang membantu kita untuk membebaskan kita dari metode-metode konvensional yang kita kenal sehingga kita tidak terkekang dengan metode yang lama, dan membuat arsitektur menjadi lahan yang berisi berbagai hal yang penuh dengan keberagaman dan kekreatifan kembali.

May 23, 2009

Hasrat Ber-Arsitektur

Filed under: contemporary theories — ayushekar @ 20:32
Tags: ,

Arsitektur tidak hanya melulu ruang dan hadir dalam keindahan bentuk, tetapi juga proses. Banyak arsitek ternama menghasilkan karya yang bisa dibilang terlihat biasa saja, tetapi ternyata diberikan apresiasi tinggi, karena prosesnya. Yang terpenting bukanlah B yang berasal dari A, tetapi area diantara A dan B. “Perjalanan” A menjadi B. Mengapa mereka terlihat dengan mudah menemukan metode tersebut? Karena mereka memiliki kepercayaan (belief).

Salah satunya adalah FOA (Foreign Office Architects). FOA percaya bahwa bentuk-bentuk yang dihasilkan memiliki suatu kedekatan atau kekerabatan dengan bentuk yang lain. Seperti sistem klasifikasi kekerabatan pada dunia biologi. Apa yang kemudian mereka sebut dengan PHYLOGENESIS. Kepercayaan tersebut yang menuntun mereka untuk meneliti dan menemukan apa yang mereka yakini.

Pada dasarnya FOA mencoba mencari parameter yang nantinya bisa mereka pakai dalam menentukan hubungan kekerabatan mereka. Meski dalam hal ini saya belum mengerti benar alasan mereka mengemukakan faciality, function, balance, continuity, dan lainnya. Meski banyak pertanyaan disekitar metode ini, seperti apakah bisa dipakai untuk semua bentuk bangunan dan semua arsitek, mengapa beranjak dari hubungan kekerabatan, dan pertanyaan lainnya, namun yang perlu digaris bawahi adalah proses penemuan metode tersebut, Sikap dan mental mereka.

Walaupun mereka menyadari betul metode yang mereka ciptakan akan menuai banyak protes, pertanyaan, dan sikap skeptis dari berbagai pihak, toh mereka tetap menjalaninya. Entah apakah mereka memang memiliki banyak waktu atau memang suatu tanggung jawab yang harus dilakukan, namun saya jadi berpikir bahwa bukankah seharusnya kita bersikap demikian. Mempertahankan dan membuktikan apa yang kita yakini, sehingga nantinya mahakarya tersebut tidak hanya sekedar berlabel “Iya bangunannya bagus.” tetapi juga “ wow ternyata …” ada sesuatu yang bisa dibawa siapa saja kedalam pengetahuan mereka. Hasrat seperti ini sulit ditemukan, tidak hanya di dalam diri saya, studio perkuliahan, hingga arsitek parktisi Indonesia saat ini.

Jadi, arsitektur tidak hanya berbicara hasil akhir, tetapi juga proses.

Hierarchy Reversal

Filed under: contemporary theories — ayushekar @ 20:30
Tags: ,

Konsep dekonstruksi yang dilahirkan Derrida memang sangat asyik untuk dibahas dan tak ada habisnya. Salah satu prinsip dalam konsep dekonstruksi adalah Pembalikan hirarki (hierarchy reversal).

Jika kita berbicara tentang hirarki tentunya berarti ada sesuatu yang lebih unggul dari pada yang lain sehingga memunculkan asosiasi adanya perbedaan posisi atau derajat antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Jika sesuatu itu dianggap penting, berarti kita meyakini dan menyadari kehadirannya. Sementara jika sesuatu tersebut dinggap tidak penting atau memiliki posisi atau derajat lebih rendah maka kehadirannya lebih diabaikan, bahkan cenderung dianggap tidak ada.

Artinya ketika kita membicarakan masalah hirarki maka secara tidak langsung menyebutkan makna atau ide tentang kehadiran dan ketidakhadiran (presence and absence). Salah satu keunikan yang dimiliki oleh konsep dekonstruksi Derrida adalah adanya oposisi yang harmonis. Maksud oposisi yang harmonis adalah konsep oposisi di dunia ini dapat kita sebutkan dengan jelas misalnya siang-malam, gelap-terang, luar-dalam, baik-salah, juga presence-absence. Presence (kehadiran) akan ada atau akan eksis ketika kita tahu keberadaan, dimana bisanya cara paling mudah bagi kita

untuk mengetahui keber-ada-annya adalah melalui keadirannya. Dan absence (ketidakhadiran) kita ketahui setelah kita mengerti akan kehadiran. Seperti kita tidak akan mengetahui terang jika sebelumnya kita tidak mengetahui apa itu gelap. Maka konsep hirarki menunjukkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya secara hubungan vertikal, sehingga menciptakan ke-tidak sejajar-an.

Pembalikan hirarki (hierarchy reversal) berarti menjelasan mengenai tingkatan atau hubungan yang tadinya terbentuk secara vertikal, posisi yang satu berada dibawah atau diatas yang lain, yang menunjukkan sesuatu yang lebih baik/penting dari yang lain, sehingga memberikan kesan bahwa ada suatu keberadaan yang tidak peting, seolah dihilangkan atau ditindas menjadi tidak berlaku. Semua hal diangap sejajar dan sama. Bahkan sesuatu yang absence atau ada namun tidak hadir (ketidak hadiran pada tataran ini lebih diartikan sebagi kehadiran yang tertunda, bukan tiada) dimunculkan sehingga semua dianggap sejajar sehingga secara bersama-sama dapat menguak makna (kebenaran) yang lebih luas dan mendalam. Semua menjadi sama pentingnya.Banyak bidang yang telah mampu menunjukkan prinsip ini baik di bidang seni, bahasa, maupun arsitektur.

April 5, 2009

Denah, Tampak, Potongan

Filed under: classical aesthetics — ayushekar @ 21:37
Tags:

Geometri merupakan bahasa yang mengungkapkan makna melalui rupa dan bentuk. Dengan begitu geometri menjadi penting dalam dunia arsitektur karena arsitektur juga berbicara melalui bentuk, meski tentunya bentuk bukanlah satu-satunya syarat berkomunikasi dalam dunia arsitektur. Bagaimana rupa itu terbentuk, hubungan antara bentuk yang satu dengan yang lainnya, sehingga membentuk suatu kesatuan yang harmonis, menjadi ranah pembahsan dalam geometri. Dan salah satu pendekatan geometri, melalui bentuk, dapat dilihat melalui denah, tampak, dan potongan.

ABC of Architecure menjelaskan bahwa arsitektur hadir ketika seseorang atau suatu institusi memiliki masalah yang hanya dapat dipecahkan melalui bangunan (building). Dan medianya adalah gambar arsitektural (architectural drawing), yang di dalamnya mencakup 3 dasar gambar arsitektural, yaitu denah (plan), potongan (section), dan tampak (elevation). Apa yang dikatakan di dalam buku ini sejauh kalimat diatas masih saya anggap sangat benar. Karena sampai saat ini tuntutan akan kehadiran 3 gambar tersebut selalu ada. Namun yang dipertanyakan kemudian adalah apakah kita akan memulai rancangan dengan sebuah denah atau tidak. Namun jika dimulai dengan denah pun, apa yang salah?

Dahulu membuat denah terlebih dahulu menjadi penting karena, dinyatakan lebih lanjut di dalam buku tersebut, bahwa denah (plan) merupakan manifestasi dari kenginan client dan menunjukkan keseimbangan spatial melalui hubungan antara ruang dan dampaknya. Potongan (section) tujuan utamanya untuk memperlihatkan sistem strukur yang akan digunaan sehingga bisa diketahui kekokohannya. Sedangkan tampak (elevation) merupakan pertunjukan seni yang dituangkan pada bangunan yang akan senantiasa bisa dilihat oleh setiap orang dan dapat dikagumi keidahannya. Sehingga melalui denah kita dapat membayangkan pengalaman spatial saat kita hadir disana. Jika demikian justru membuat denah terlebih dahulu merupakan proses pembentukan kenyamanan spatial yang baik. Namun seiring perkembangan dunia arsitektur, ternyata denah dianggap tidak cukup mampu untuk memperlihatkan ke-spatial-an suatu ruang, karena telah ada suatu kebutuhan yang dinamakan pengalaman ruang, yang dianggap tidak mampu dihadirkan hanya melalui denah dan dengan melihat denah.

Pengalaman ruang berbicara melalui indra semaksimal mungkin. Artinya tidak hanya visual,audio, sentuhan, tetapi juga bermain dengan perasaan (feeling). Sehingga pengertian arstektur saat ini menjadi lebih kompleks, karena tidak hanya menciptakan bangunan indah yang kokoh dan fungional, tetapi bisa saja arsitektur tersebut hadir dalam bentuk instalasi yang kaya akan sensasi. Karena tututan arsitektur saat ini adalah lebih kepada bagaima sesuatu yang hadir bisa memberikan efek yang dapat dirasakan tidak hanya diluar sesuatu tersebut, tetapi juga saat manusia hadir didalamnya.

March 2, 2009

More Efficient: Square or Circle?

Filed under: classical aesthetics — meurin @ 16:48
Tags: , ,

Dalam kuliah geometri, 23 Februari 2009, tentang relevansi classical aesthetic dengan contemporary architecture. Di sela-selanya, sempat disebutkan Jean Nicholas Louis Durand ( 1760-1834), penulis buku “Receuil et parallele des édifices en tout genre, anciens et modernes” yang memuat berbagai gambar bangunan modern dan kuno dan “Precis des lecons d’architecture données à l’ecole polythechnique” tentang metode perancangan dan analisis bangunan yang merupakan temuannya sendiri. Dikatakan bahwa ada yang menafsirkan bahwa Durand menganggap square is the most beautiful because it is very efficient and circle is the second. Tidak jelas, itu efisien dalam segi apa? Segi pembentukan? Keuangan? Daya tampung?

Namun, menurut hemat saya, dari segi pembentukan, justru lingkaran itu lebih efisien daripada persegi. Mengapa? Coba perhatikan, ketika kita hendak menggambar bujur sangkar baik tanpa maupun dengan penggaris, kita harus terputus-putus untuk membuat empat garis. Maksudnya kita harus menarik satu garis dari atas ke bawah, lalu berhenti. Kemudian menorehkan garis lagi dari kiri ke kanan dan berhenti. Selanjutnya, kita menarik garis dari bawah ke atas. Sesudah itu , berhenti lagi. Lalu buat garis lagi dari kanan ke kiri dan selesailah bentuk bujur sangkar itu.

Berbeda dengan lingkaran yang pembuatannya hanya tinggal menggoreskan garis dengan jalan melingkar tanpa terputus-putus baik dengan tangan maupun alat bantu seperti jangkar. Melihat kemudahan ini, mungkin itulah yang menyebabkan banyaknya rumah tradisional yang berbentuk lingkaran, kurva, kubah, atau kerucut. Aku tahu mungkin kurva, kubah, atau kerucut mungkin kurang relevan dengan lingkaran. Tetapi saya mengacu pada bentuk kurva dan kubah karena memiliki kesamaan dengan lingkaran yaitu bentuk yang melengkung dan kemudahan pembuatan. Kerucut, ini diambil karena alas lingkarannya. Bayangkan, ketika kita membuat maket dari kawat, kita tinggal melengkungkan kawat guna mendapatkan kubah atau kurva. Atau mengikat sebuah himpuanan potongan-potongan kawat pada satu ujung saja untuk memperoleh bentuk kerucut. Lain dengan persegi yang memerlukan empat simpul atau bulatan lem tembak di setiap sudutnya atau membengkokkan kawat sebanyak empat kali.

Sebagai contohnya, Yurt, rumah portable kaum penggembara asal Mongol. Karena harus berpindah ke padang rumput lain untuk mendapatkan makanan bagi gembalanya, mereka memerlukan shelter yang praktis dan cepat pembuatan. Dalam ini, bentu tabung dengan atap kerucut diambil karena gampang dibuat. Mereka tinggal menyusun kerangka melingkar itu lalu ditutup dengan kain wol. Pendirian ini memakan waktu 30 menit. Atau bisa juga lihat contoh rumah tradisional Indian Amerika yang berentuk kerucut.

February 23, 2009

What is Geometry?

Filed under: classical aesthetics — r1ss @ 00:38
Tags: , ,

Sebenarnya apa itu geometry? Dan apa peranan geometry dalam arsitektur? Selama ini saya beranggapan bahwa geometry adalah sesuatu yang berkaitan dengan matematika,rumus,hitungan dan aturan-aturan yang mendasari dari hitungan-hitungan tersebut. Karena di dalam geometry ada aturan-aturan yang harus diikuti seperti adanya rumus-rumus dalam matematika. Dan seperti dalam hitungan matematika, apabila kita menggunakan rumus yang salah, maka hitungan itu pun akan salah.
“Geometry is a branch of mathematics. It involves studying the shape, size, and position of geometric figures. These figures include plane (flat) figures, such as triangles and rectangles, and solid (three-dimensional) figures, such as cubes and spheres ” (http://en.wikipedia.org/wiki/Geometry).

Dan dari kutipan diatas, entah kenapa geometri seperti lebih merujuk ke bentuk-bentuk yang sudah pasti seperti segitiga, segiempat, lingkaran, atau cube. Di dalam bentuk-bentuk ini pun juga terdapat rumus-rumus yang mendasarinya. Lalu apabila geometri dipadupadankan dengan arsitektur, mungkinkah geometri ini juga menjadi aturan-aturan pada arsitektur? Seperti contohnya pada hitungan golden section yang digunakan untuk hitungan proporsi. Di dalam golden section terdapat perbandingan-perbandingan yang apabila perbandingan itu sesuai maka hasilnya adalah golden section yaitu 1,618..

Maka bukankah golden section ini adalah contoh penarapan aturan yang diberikan geometry untuk arsitektur? Bahkan apabila di dalam matematika, ada kemungkinan terdapat hasil yang berbeda-beda dengan rumusnya sama. Sedangkan di dalam golden section, terdapat rumus dan hasil yang sama. Maka bukankah ini menjadi aturan yang sangat mengikat dalam arsitektur? Apakah setiap bagian dari design harus menggunakan aturan dan hasil yang sama seperti aturan golden section?
Apabila saya katakan geomerty merupakan pengikat untuk arsitektur, maka bisa dikatakan geomerty sangat menentukan dalam arsitektur. Namun ternyata hal ini tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Vitruvius dalam buku Ten Books of Architecture. Kutipan dari beliau adalah:
“ Geometry, also, is of much assistance in architecture, and in particular it teaches us the use of the rule and compasses, by which especially we acquire readiness in making plans for buildings in their grounds, and rightly apply the square, the level, and the plummet…difficult questions involving symmetry are solved by means of geometrical theories and methods.” (Ten Books of Architecture)

Geometri dikatakan sebagai bantuan untuk arsitektur dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan simetri, membuat plans, dan segala sesuatu yang berbuhubungan dengan ruler dan compass. Geometri tidak dikatakan sebagai leader namun hanya sebagai assistance. Menurut Vitruvius, geometri juga bukan satu-satunya yang harus dipelajari oleh seorang arsitek. Banyak cabang ilmu yang tidak hanya geometri, namun juga filosofi, medicine, music, history, astronomy, dan hukum yang harus diketahui oleh arsitek.

“Let him be educated, skilful with the pencil, instructed in geometry, know much history, have followed the philosophers with attention, understand music, have some knowledge of medicine, know the opinions of the jurists, and be acquainted with astronomy and the theory of the heavens.” (Ten Books of Architecture)

Bukankah ini juga menjelaskan bahwa geometri bukanlah satu-satunya yang harus dijadukan patokan utama dalam arsitektur? Banyak aspek-aspek lain seperti music, filosofi, hukum, kedokteran, dan astronomi juga berperan dalam arsitektur. Geometri yang dikatakan Vitruvius seperti merujuk ke sebuah metode yang digunakan utnuk menyelesaikan permasalahan simetri dan proporsi pada bangunan. Namun apa sebenarnya geometri hanya berperan sebagai metode untuk  simetri dan proporsi dalam arsitektur? Dan  apabila geometry hanya sebagai sebuah metode dalam arsitektur, lalu  bisakah arsitektur terlepas dari geometri, proporsi atau simetri tersebut?

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.