there’s something about geometry + architecture

April 2, 2012

Form and Gender Perception

Filed under: perception — mezanomuhammad @ 22:37
Tags: ,

Pernahkah anda iseng untuk mencoba menyebutkan gender apakah barang-barang di sekitar anda? Misalnya garpu dan sendok di meja makan, ataupun benda-benda kecil di sekitar anda yang lainnya. Saya kerap kali mencoba untuk iseng menyebutkan gender dari bentuk-bentuk yang umum kita lihat di sekitar kita. Hasilnya, sering kali saya menemukan orang lain berpendapat sama akan apa yang saya sebutkan. Dari situ, saya mencoba membuat riset kecil dalam keluarga saya (7 orang responden), dengan menanyakan apakah gender dari benda-benda berikut:

Manakah yang masculine dan manakah yang feminine?

Hasil yang cukup mengejutkan bahwa semua responden mengasosiasikan bentuk-bentuk tersebut pada gender yang sama, dari respon yang diberikan, semua responden menjawab sebagai berikut:

Jawaban responden

Lalu apakah yang didapat dari riset kecil ini? Mutlaknya jawaban responden atas gender preference dari bentuk-bentuk diatas menandakan adanya persepsi pada pikiran manusia yang secara umum memandang karakteristik sebuah bentuk yang diasosiasikan pada suatu sifat, baik masculine maupun feminine. Bagaimanakah persepsi pandangan ini dapat terbentuk dalam pikiran kita? Saya mencoba mencari sebab-sebab kecil yang mungkin mentrigger terbentuknya persepsi kita akan karakteristik bentuk-bentuk tersebut.

Karena dalam hal ini saya membicarakan mengenai sifat masculine dan feminine dari suatu bentuk, saya mencoba mengembalikan persepsi tersebut pada bentuk dasar dari masculine dan feminine, yaitu tubuh manusia. Berikut ialah gambar dari proporsi ideal tubuh pria dan wanita.

Proporsi ideal tubuh pria dan wanita

Dari bentukan proporsi tubuh tersebut, bisa kita lihat bahwa tubuh pria lebih digambarkan menggunakan garis-garis yang tegas dan kaku, sementara penggambaran tubuh wanita lebih menggunakan garis yang lembut dan melengkung. Tentunya garis-garis pembentuk proporsi tubuh manusia ini seringkali menjadi acuan saat kita sendiri mencoba menggambar pria ataupun wanita. Saat kita mencoba menggambar seorang pria, sesuai dengan proporsi tubuh diatas, garis yang kita gunakan akan berbeda dengan saat kita mencoba menggambar seorang wanita.

Menggambar sosok pria dan wanita

Dari garis-garis tersebutlah saya mencoba mencari titik temunya dengan bentuk-bentuk pada kuesioner di awal tadi. Ternyata, bentuk yang dianggap memiliki gender ‘pria’ atau bersifat masculine, cenderung menggunakan garis-garis yang tegas dan kaku, sementara kebalikannya, bentuk feminine lebih menggunakan garis yang meliuk dan melengkung sebagai pembentuk formnya.

Garis tegak = Masculine? , Garis Lengkung = Feminine?

Mungkin, secara tidak sadar, otak kita seringkali mengasosiasikan bentuk dan garis-garis pada suatu benda dengan garis-garis masculine dan feminine yang ada dialam persepsi kita. Apakah memang suatu bentuk dapat membuat otak kita mengklasifikasikannya menjadi golongan-golongan tertentu berdasarkan karakteristik sifat garisnya? Atau elemen-elemen lain seperti warna juga dapat mempengaruhi persepsi kita akan sifat dari suatu bentuk? Tentu ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi persepsi kita akan suatu bentuk. Mungkin ini pun hanya persepsi dari saya, karena bisa saja anda berpendapat berbeda dari yang dipaparkan diatas :D

April 4, 2011

Impossible Figures

Filed under: perception — dewibudiyanti @ 20:29
Tags: ,

Mata menangkap dan merekam hal-hal yang telah dilihatnya. Ketika kita sering melihat berbagai hal berulang kali. Maka ketika kita melihat sesuatu, walaupun tidak terlalu jelas maka mata kita akan memunculkan memori-memori yang lama sehingga kita dapat langsung mengetahui benda yang kita lihat. Jika pun benda itu tidak sama, maka memori yang lama itu akan menggugah kita untuk membandingkan kemiripan kedua benda itu (yang ditunjukkan dari memori dan yang dilihat secara langsung)

Contohnya adalah jika seseorang melihat atau memikirkan sebuah kubus yang memiliki warna berbeda setiap sisinya maka beberapa orang akan mengingat ‘oh, Rubiks ya’ karena keduanya memiliki warna dan bentuk yang serupa. Lalu misalnya ada sebuah coffee table dan dining table, kita akan menganggap kedua fungsinya sama karena bentuk keduanya serupa, berdasarkan memori kita sebelumnya.

But we don’t always see what we see, begitulah kata beberapa orang. Tidak semua yang kita lihat itu benar, beberapa hanya merupakan ilusi mata saja. Apa yang kita anggap benda A bisa saja ternyata benda B, atau mungkin malah bukan keduanya.

Contohnya adalah pada gambar  ini. Gambar ini menceritakan tentang sebuah gerbang. Ketika kita melihat bagian atas gerbang tersebut maka kita dapat memastikan bahwa gerbang itu menghadap ke kiri. Namun ketika kita hanya melihat bagian bawah gerbang maka kita pun menganggap gerbang itu menghadap ke kanan. Ketika melihat keseluruhan gambar akan sulit menentukan sebenarnya dimanakan arah sebenarnya gerbang itu menghadap.

Contoh ke-2 adalah gambar trident di bawah ini. Ketika melihatnya secara sekilas kita akan menganggap bahwa ujung persegi panjang di bagian kiri adalah di persegi di kanan, dan persegi di tengahnya adalah perpanjangan dari tengah-tengahnya. Namun setelah kita lihat lebih jauh, yang terlihat bukanlah persegi panjang namun sebuah balok. Lalu berubah lagi dengan balok yang ujungnya menjadi silindris dan menghadap ke atas. Lalu setelah kita lihat lebih lanjut maka kita akan menyadari bahwa balok kiri tidak berujung balok yang di kanan. Keduanya tidak berhubungan dan bukan dari bagian yang sama.

Apa yang dilihat oleh mata tidak selalu benar. Kita harus lebih teliti ketika melihat segala sesuatu. Sebenarnya kedua gambar di atas tidak dapat ditemukan kebenarannya. Karena setiap orang akan memiliki pemikiran dan alasan masing-masing untuk setiap pendapatnya. Menurut saya, yang membuat sesuatu menjadi benar adalah seberapa paham kita atas apa yang kita lihat. Dan kebenaran itu tidak selalu hanya ada satu.

Persepsi terhadap Air Mancur

Filed under: perception — meiyogo89 @ 20:25
Tags:

Persepsi manusia memang berbeda-beda terhadap suatu hal ataupun benda yang dilihatnya. Terkadang manusia sering melihat sesuatu dari persepsinya sendiri tanpa membandingkan persepsi orang lain. Kali ini saya ingin menunjukkan bagaimana persepsi manusiapun bisa disamakan walupun tidak keseluruhan.Hal ini dilakukan disalah satu tempat disungai yang terdapat di Tokyo Jepang yaitu pada sebuah pertunjukkan air mancur.

Dari gambar-gambar tersebut dapt dilihat bahwa dari air mancur tersebut muncul gambar-gambar seperti lumba-lumba,gajah,angsa dan lain-lain. Gambar tersebut muncul akibat proyeksi lampu sorot yang mengenai air mancur tersebut. Yang ingin saya bahas adalah bagaimana pengaruh air mancur dan sorot lampu tersebut mampu mempengaruhi persepsi kita. Lampu yang menyorot air mancur menghasilkan gambar proyeksi yang bermacam-macam yang menyebabkan kita berpersepsi bahwa di air mancur tersebut terdapat lumba-lumba,gajah dan lain-lain.

Hal ini menarik menurut saya. Karena akibat hal ini kita dapat ,menyimpulkan begitu mudahnya memepengaruhi persepsi manusia terhadap sesuatu. Kita menganggap dari air mancur itu muncul lumba-lumba dan sebagainya yang sebenarnya benda-benda itu tidak ada disana. Dari kasus ini saya menarik sebuah pertanyaan, apakah kita sebagai seorang desainer harus bisa menyampaikan persepsi kita dan bisa  membuat klien setuju dengan persepsi kita tersebut? Sama seperti air mancur tersebut yang membuat kita berpersepsi bahwa air mancur tersebut memunculkan berbagai benda. Atau mungkin justru kita harus bisa menerima menerima persepsi dari klien kita nantinya sehingga persepsi kita hanya melengkapinya?

sumber :http://www.techeblog.com/index.php/tech-gadget/incredible-water-illumination-show-in-japan

March 29, 2011

Is it green? Is it yellow? No! It’s…

Filed under: perception — elitanuraeny @ 19:37
Tags:

Nah, silakan isi kelanjutan dari judul setelah anda membaca habis posting ini :)

Pertama-tama, biar saya bercerita sedikit mengenai apa yang akan saya bahas. Sebenarnya, apa yang akan saya bicarakan disini tak jauh beda dengan ilusi optik dan permainan mata seperti yang sering kita lihat. Tapi, untuk kali ini, ada sedikit perbedaannya. Ilusi-ilusi mata yang biasa kita lihat selalu mendapatkan efek ganda pada saat bersamaan. Misalnya, coba lihat gambar di bawah ini:

Gambar tersebut secara bersamaan menyampaikan dua pesan yang berbeda pada mata kita: gambar seorang perempuan muda dari belakang DAN seorang wanita tua memakai head dress yang sedang tersenyum.

Mari kita coba satu gambar lagi.

Kali ini, ada dua suasana sekaligus dua persona yang ditampilkan. Pertama, adalah sepasang kakek dan nenek yang saling bertatapan, yang satunya lagi adalah perbedaan antara suasana Meksiko dengan India. Keduanya disampaikan secara bersamaan melalui satu gambar.

Kali ini, saya ingin membahas bahwa persepsi ganda seperti ini tidak selamanya diberikan secara nyata–terlukis jelas di atas bidang gambar–seperti pada dua contoh di atas. Kali ini, saya ingin memberikan kepada anda sekalian bahwa persepsi kali ini, kita tidak dikerjai oleh sang ilustrator, tapi kita dikerjai oleh otak dan mata kita sendiri.

Berharap melihat gambar yang lebih spektakuler dari dua gambar di atas, ya? Sayang sekali, gambarnya memang hanya sebuah hati berwarna hijau dengan pinggiran kuning dan noda hitam setitik di tengahnya. Tapi, jangan terkecoh dengan gambar yang sederhana dan terkesan remeh tersebut. Di balik gambar ini, rupanya tersimpan sebuah permainan ilusi yang sangat amat mengagumkan! Sini, mari saya beritahu triknya!

1. Pandangi titik hitam tersebut dengan konsentrasi penuh selama 20 detik (ada juga yang berhasil hanya dengan memandang dalam 15 dengan konsentrasi penuh).

2. Jangan mengedip selama menatap titik hitam tersebut! Hiraukan sejenak rasa pedih di mata!

3. Setelah 20 detik, pejamkan mata sesaat.

4. Alihkan pandangan ke bidang polos berwarna putih.

5. Silakan lihat hasilnya sendiri :)

Sekali lagi saya berikan gambarnya supaya anda tidak perlu meng-scroll ke atas

Untuk kalian yang mencoba, gambar yang terpantul pada bidang putih polos akan muncul dengan warna yang jauh berbeda dengan warna yang terpampang pada gambar asli. Kenapa? Hal ini karena mata masih menangkap sinyal dari gambar hati tersebut meskipun kita sudah tak memandangi gambar yang sama dan mengirimnya ke otak. Penjelasan lebih lanjut, silakan cek video ini.

Bagi saya, percobaan ilusi ini menarik karena berbeda dari ilusi-ilusi yang selama ini saya jumpai. Dalam ilusi kali ini, kita tidak bisa langsung mengambil persepsi yang berbeda di saat bersamaan. Dibutuhkan media lain yaitu waktu dan ruang untuk memperoleh efek kejutan tersebut.

Nah, sekarang sudah tahu, kan, jawaban dari kelanjutan judul posting ini? Medianya tidak harus kertas putih, kok. Coba dengan berbagai macam kertas warna, dan hasilnya akan sama saja. Tatap layar komputer, layar handphone, warna yang sama yang akan keluar. Diambil kertas putih hanya untuk memperjelas warna yang tampil.

Selamat mencoba!

Sumber :

www.youtube.com

www.google.co.id/image

The Spinning Dancer

Filed under: architecture and other arts,perception — murhardiningtyas @ 19:34
Tags:

Gambar di atas, diciptakan oleh Nobuyuki Kayahara dan disebut sebagai The Spinning Dancer atau the silhoutte illusion. Uniknya, perputaran gambar tersebut dapat berubah arah dengan posisi gerakan yang sama. Gambar tersebut bisa dilihat memutar searah jarum jam dan berlawanan arah jarum jam.

Gambar ini hanyalah sebuah ilusi optik yang disebut a reversible / ambiguous image. Gambar seperti ini telah lama dipelajari ilmuwan untuk mempelajari lebih lanjut tentang fungsi penglihatan dan bukan merupakan tes otak seperti yang dikemukakan oleh tabloid Australia bahwa Anda bisa menggunakan putaran arah penari sebagai indikasi apakah anda berotak kanan atau berotak kiri. 1

Awalnya saya melihat gambar ini berputar berlawanan arah jarum jam. Lalu saya mencoba untuk melihatnya berkebalikan arah. Memang cukup sulit untuk melakukannya apalagi saya memandangi gambar ini terus menerus. Lalu saya coba alihkan pandangan saya dan saya lihat lagi gambar ini dan saya melihat gambar ini berputar searah jarum jam. Cara lain bisa dengan memejamkan mata lalu melihat gambar itu lagi atau fokus pada bagian tertentu.

Spinning Dancer merupakan contoh dari apa yang disebut bistable perception. Sebagai objek yang dapat dilihat dalam salah satu atau dua cara. Sama halnya seperti ilusi The Necker Cube dan The Face-vase.

The Necker Cube

The Face-vase

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 The spinning dancer and the brain. http://greengabbro.net/2007/10/20/the-spinning-dancer-and-the-brain/

Parker-Pope, T. (2008, April 28). The truth about the spinning dancer. The New York Timeshttp://well.blogs.nytimes.com/2008/04/28/the-truth-about-the-spinning-dancer/index.html

March 26, 2011

Dari Persepsi Artis Termodern, James Turrell

Filed under: architecture and other arts,perception — ferafarwah08 @ 21:48
Tags: , ,

Sebuah teori gestalt bisa digunakan dalam menganalisis elemen-elemen desain. Dengan melihat karya-karya James Turrell, seorang artis ahli light dan space. kita bisa mempesepsikan mana garis mana shape dan mana yang negative space mana yang positif space. Kita bisa memecah pengkomposisiannya dengan mudah karena ia sangat menegaskan elemen desain yang ditampilkan apa. Kemudahan ini dikaitkan kembali karena James Turrell berkaitan dengan light dan space yang sangat mudah kita lihat.

Teori gestalt terdiri dari law of proximity yang menjelaskan kemudahan untuk mengelompokkan, law of similarity yang menjelaskan kemudahan  untuk mendekatkan hal-hal yang sama, law of continuity yang menjelaskan pencarian kontinuitas, dan law of enclosure yang menjelaskan tentang penghilangan elemen lainnya dengan tetap mempertahankan kesederhanaannya. semuanya berujung pada kesederhanaan.

Mari kita lihat gambar-gambar kerja hasil James Turrell, dan menganalisis elemen desain apa saja yang dia tegaskan. Sebelumnya, terlebih dahulu adakalanya untuk mengenal elemen desain secara hakiki, elemen desain terdiri dari Point, Line, Form, shape and, space, Movement, Color, Pattern, dan Texture.

Dari gambar http://www.digicult.it/images/2010/ott/turrel.jpg , Dengan mencari kesederhanaan elemen desain, James Turrell menegaskan elemen desain yang ingin ia sampaikan dengan membuat negatif dan positif space yang mepunyai shape kotak dan memperlihatkan garis-garis yang keluar dari shape melalui tingkat warna yang berbeda dengan memainkan light.

Dari gambar http://www.digicult.it/images/2010/ott/turrel2.jpg ,

James Turrell menegaskan tiga trapesium yang berbeda-beda warnanya. Dengan ada bayangan trapesiumberjumlah 5. tidak ada garis lain, hanya trapesium.

Jadi, dari analisis yang saya perkirakan, saya menganggap James Turrell berusaha untuk membuat shape diatas space,membuat 2d diatas 3d dengan cara “menegaskan melalui persepsi”. Tidak heran ia melakukan cara penegasan melalui persepsi karena asistennya seorang psikolog.

Ada artikel yang menjelaskan penegasan James Turrell melalui persepsi manusia, menurut artikel yang menyorot the James Turrell exhibition di Almine Rech Gallery di Brussel,

“An unconventional and unclassifiable artist, James Turrell incites viewers to look within themselves and question their own perception of light, matter, color, shape and their position as spectator, their role in the definition and the existence of the work of art.”

Artikel ini sangat terpercaya karena mencantumkan website the Almine Rech Gallery secara langsung. Dengan pernyataan artikel ini sangat jelas bahwa James Turrell menegaskan elemen desain yang ia desain.

Sumber bacaan:

Kuliah Geometri tanggal 16 maret 2011,rabu

http://www.digicult.it/en/2010/jamesturrelsoloexhibition.asp

http://en.wikipedia.org/wiki/James_Turrell

Optical Art

Filed under: architecture and other arts,perception — Prillia Indranila @ 15:43
Tags: ,

“Optical art is a method of painting concerning the interaction between illusion and picture plane, between understanding and seeing.” Op art works are abstract, with many of the better known pieces made in only black and white. When the viewer looks at them, the impression is given of movement, hidden images, flashing and vibration, patterns, or alternatively, of swelling or warping.” (http://en.wikipedia.org/wiki/Op_art)

Ilusi optik bukanlah hal yang asing lagi bagi kita, bahkan banyak seniman yang menggunakannya dalam karyanya sehingga menjadi karya seni yang menarik, yaitu optical art. Tahun lalu saya berkunjung ke Science Center di Singapore, dan di sana banyak karya-karya seni yang berkaitan dengan sains dan teknologi, termasuk pula optical art dengan bermacam-macam jenis. Kami sempat memotret beberapa optical yang terdapat di sana, contohnya adalah seperti ini:

Optical Art

Jika kita perhatikan, gambar tersebut menunjukkan wajah seorang bapak-bapak yang memakai topi seperti topi tentara dan baju berkerah dengan huruf dan angka di kerahnya. Apakah hanya itu saja? Ternyata tidak, setelah gambar tersebut dibalik 180 derajat, maka akan menghasilkan gambar seperti ini:

Optical Art

Ternyata apabila kita melihat gambar tersebut dari posisi yang berbeda maka akan menghasilkan gambar yang berbeda. Kalau dilihat dengan cara seperti ini, yang terlihat adalah wajah bapak-bapak berkumis yang sedang membuka mulutnya dan mengenakan topi yang berbeda. Selain karya tersebut, ada satu karya lagi yang membuat saya tertarik:

Optical Art

Foto-foto oleh Annisa Marwati

Gambar tersebut terlukis di lantai. Apabila kita melihat gambar yang ada di lantai, akan terlihat gambar sebuah perahu yang terombang-ambing oleh ombak. Namun bagaimana kalau dilihat melalui sebuah silinder yang sengaja ditaruh di depan gambar tersebut? Wah, ternyata pada silinder yang merefleksikan gambar tersebut terlihat gambar yang sama sekali berbeda, yaitu gambar seorang laki-laki. Sungguh hebat menurut saya, sampai sekarang saya pun belum mengerti benar bagaimana cara membuatnya agar bisa tepat menghasilkan gambar yang berbeda. :D

Kedua contoh tersebut merupakan optical art yang mengandalkan persepsi manusia, tergantung bagaimana cara mereka melihatnya, walaupun dengan cara yang berbeda: pada gambar pertama diperlukan posisi yang berbeda untuk melihat sesuatu yang lain, sedangkan gambar kedua diperlukan media lain yang berbeda jenis permukaan untuk dapat menemukan bentuk lain, yaitu permukaan cembung pada silinder. Hal tersebut sesuai dengan teori Gibson (1979), yaitu “Ecological approach to perception”. Jadi, apabila manusia sebagai observer-nya itu bergerak, maka persepsi akan ikut beruban. Prinsip inilah yang digunakan para seniman untuk membuat karya-karya seperti ini, walaupun pada kedua contoh di atas hanya arah memandangnya saja yang berubah.

Apabila menyangkut tentang moving observer, ada contoh menarik yang saya temukan kemarin, yaitu Roy Lichtenstein House yang terletak di National Gallery of Art’s Sculpture Garden di Washington DC, Amerika Serikat.

Lichtenstein House

Video tentang Lichtenstein House:

 

(kalau videonya nggak muncul, ini link-nya: http://www.youtube.com/watch?v=jIpdajUHVtI)

Pada foto tersebut, jika kita melihatnya dalam posisi orang yang memotret Lichtenstein House ini, ‘rumah’ tersebut seolah-olah terlihat seperti rumah dalam wujud tiga dimensi, padahal sebenarnya ‘rumah’ ini hanya berupa sebuah bidang dua dimensi. Apabila kita melihatnya seperti yang ditunjukkan dalam video, ternyata rumah tersebut seolah-olah bergerak sesuai dengan arah pandang kita seiring kita bergerak seperti benda tiga dimensi. Teori Gibson tentang kita sebagai moving observer inilah yang digunakan pembuatnya sebagai ilusi optik ini, untuk ‘mentransformasikan’ bidang dua dimensi menjadi bidang 3 dimensi.

Teori Gibson menjelaskan mengenai human behavior dalam dunia tiga dimensi, sehingga apa yang kita lihat tergantung bagaimana dan dari mana kita memandangnya, itulah persepsi. Persepsi inilah yang dimanfaatkan seniman optical art dalam membuat karya seninya sehingga karya tersebut seolah-olah bermain dengan penglihatan kita. Tertarik untuk mencoba membuat optical art? :D

Referensi:

http://www.coolopticalillusions.com/blog/2007/06/06/house-illusion-3-different-videos-artist-roy-lichtenstein/

March 25, 2011

Hotel Sampah Madrid: Perbedaan Persepsi Baik dan Buruk

Filed under: ideal cities — ajengdwiastuti @ 17:12
Tags: , ,

Tulisan ini berawal dari ketertarikan saya tentang topic mata kuliah Geometry dan arsitektur tentang Ideal City. Namun mungkin yang saya bahas bukanlah hal yang berhubungan dengan ideal city, melainkan yang berhubungan dengan persepsi baik dan buruknya sebuah kota. Salah satu ucapan Geddes, “all of the ugly should be destroyed” memicu saya untuk bertanya, siapakah yang begitu berkuasanya untuk yang mengatur mana baik dan buruknya akan sesuatu? Apakah konsep baik dan buruk itu tetap sama dari zaman ke zaman? Topik tentang Order x disorder juga mengantar saya pada ucapan Jean Jacob tentang “the mistake of zoning is it leads to monotony and disintegration of environments”. Dunia yang semakin kompleks memaksa kita untuk meninjau ulang apakah konsep order tentang baik dan buruk masa lalu masih relevan dengan kondisi saat ini. Untuk sedikit menunjukkan hal ini, saya mengajak melihat lihat hotel sampah di Madrid.

hotel front” alt=”front” />

Beach Garbage Hotel adalah hotel yang terbuat seluruhnya dari sampah dan merupakan bagian dari kampanye Corona Save the Beach hotel. Hotel ini di desain oleh seniman Jerman bernama HA Schult. Hotel ini terdiri dari 5 buah kamar tidur, terbuat dari 12 ton sampah yang benar-benar ditemukan mengotori pantai-pantai di seluruh Eropa. Hotel ini dipamerkan di kota Madrid, Spanyol hingga 23 Januari.

Tujuan membangun hotel dari sampah ini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan kondisi buruk pantai dan laut di seluruh dunia, yang semakin terganggu oleh sampah. Pembangunan hotel ini banyak dianggap unik dan aneh oleh sebagian orang. Beberapa orang juga tidak dapat menerimanya karena dianggap jelek (ugly). Akan tetapi mari kita lihat maksud dari pembangunan hotel tersebut. Apakah hal buruk yang ditujukan untuk sesuatu yang baik tidak bisa mengubah nilai dari sesuatu yang buruk. Sekali lagi, hal ini berujung kembali pada persepsi masing – masing orang. Ini adalah salah satu gambar interior dari hotel tersebut

interior” alt=”interior” />

Bagus/jelekkah ruang dari hotel sampah ini?

Saya menemukan berita tentang hotel ini dari situs www.kaskus.us, dimana situs tersebut terkenal dengan sebutan The Large Indonesian Community. Berbagai orang dari seluruh Indonesia dengan latar belakang berbeda pula bergabung disini. Dalam situs ini, persepsi menjadi hak merdeka tiap individu. Pikiran kita adalah milik kita sendiri, tanpa ada yang meengintervensi atau memberi instruksi tentang baik dan buruknya sesuatu.

Hotel di Madrid ini dari sampah, memang. Seluruh dinding dari hotel ini terbuat dari tumpukan sampah. Dindingnya tidak terpoles rapi. Hampir tidak ada keseragaman bentuk dalam komponen yang membentuk bangunan ini. Namun apakah hal – hal diatas menjadikan hotel ini juga ‘sampah’? hal tersebut silahkan anda jawab sendiri.

http://www.lintasberita.com/Dunia/Berita-Dunia/unik-hotel-dari-sampah

http://www.indiumglassfilm.com/serba-serbi/1342-hotel-terbuat-dari-sampah-di-madrid.html

March 24, 2011

Light Graffiti dan Cahaya yang Bergerak

Filed under: architecture and other arts — klarapuspaindrawati @ 19:45
Tags: , ,

Ketika kita melaju dengan kecepatan tertentu di dalam sebuah mobil pada malam hari melalui sebuah jalan, mungkin kita tidak menyadari bahwa gerakan dari kendaraan yang kta kendarai menghasilkan garis – garis dinamis dari cahaya lampu yang terpancar dari badan kendaraan. Bagaikan menggoreskan warna – warna menarik dari kuas di situasi malam yang gelap, begitulah yang terjadi ketika kendaraan yang meluncur di jalan meninggalkan berkas cahaya di sepanjang jalurnya.

Image and video hosting by TinyPic

Cahaya yang bergerak di sepanjang jalan yang sebenarnya berasal dari kendaraan yang melintas di malam hari pada gambar di atas, tertangkap kamera dan menampilkan gambaran yang sangat menarik, cahaya – cahaya itu seakan sedang memacu kecepatan di atas sebuah jalur. Kesan yang ditampilkan mempengaruhi persepsi kita yang melihat foto – foto yang menangkap kecepatan cahaya ini. Salah satunya, cahaya yang sebenarnya hanya merupakan “jejak” peninggalan gerakan kendaraan itu justru menjadi seperti objek yang sedang melalui jalan, padahal kita tidak akan bisa menyentuh objek tadi.
Persepsi ini lalu dikembangkan dalam light graffiti, salah satu bentuk seni painting yang kini semakin populer. Light graffiti merupakan seni menggambar atau menulis di medium udara pada kondisi ruang atau lingkungan gelap dengan menggunakan benda yang mengeluarkan cahaya, seperti senter. Hasil goresan – goresan itu bisa menjadi sangat menarik, lucu, atau unik sesuai kreasi dari orang yang menggambarnya. Kreasi light graffiti dapat mempengaruhi persepsi orang yang melihat hasil jepretan kamera yang mengabadikannya. Beberapa contoh foto di bawah menunjukkan bagaimana light graffiti mampu membuyarkan batasan antara objek manusia yang dapat disentuh dengan objek cahaya yang tak dapat disentuh yang turut difoto bersama manusia tadi. Bahkan bentukan cahaya – cahaya tadi yang menggambarkan bentuk – bentuk barang yang biasa digunakan oleh manusia atau bahkan hewan peliharaan difoto seakan – akan sedang digunakan oleh manusia, terjadi interaksi antara manusia dan objek bentukan cahaya tadi di dalam foto. Contohnya saja, gaun yang dibentuk dari garis – garis cahaya, orang yang sedang bermain gitar dari cahaya, atau seseorang yang sedang menuntun anjingnya yang berasal dari garis – garis cahaya.

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Lalu, mengapa semakin banyak orang yang tertarik dengan light graffiti? Salah satunya mungkin karena seni ini menawarkan cara baru dalam menggambar dan menulis, yaitu dengan medium udara, bukan lagi kertas atau kanvas. Selain itu, cahaya yang menjadi bahan “cat warna” untuk menggambar juga menjadi daya tarik tersendiri, sifatnya yang bersinar di tengah kegelapan menjadikan lukisan – lukisan yang terdiri dari goresan – goresan cahaya tadi “bersinar”. Tetapi, ada satu syarat yang harus dipenuhi untuk membuat sebuah gambar light graffiti, gambar hanya akan dapat diproduksi dengan tangkapan kamera, hasil dari tangkapan tadilah yang baru bisa dinikmati sebagai light graffiti. Proses produksi gambar, yaitu saat menggores cahaya dengan cara menggerakkan benda yang mengeluarkan cahaya harus dilakukan dengan cepat sebelum jejak cahaya meghilang. Begitu pula saat harus menangkap gerakan benda yang meninggalkan jejak cahaya, prosesnya harus dilakukan dengan cepat sebelum jejak cahaya menghilang dan bentuk objek dengan demikian tidak dapat terbentuk dengan sempurna. Light graffiti merupakan salah satu jenis karya seni yang mendorong kreativitas tinggi dengan teknik yang jitu dan tentunya imajinasi yang memanfaatkan persepsi akan interaksi yang terjadi dengan manusia yang bermain dengan cahaya tersebut.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Light_painting

http://www.google.co.id/imglanding?q=speed+of+light&um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=fF5SC91yiwB5JM:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbm=isch&tbnid=E09Y0jkGg27w9M:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=H988GY47x3xrgM:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=cPeCb2DyknYBHM:&imgrefurl

http://www.google.co.id/imglanding?q=light+graffity&um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=_5ZSR1NjaxaUpM:&imgrefurl

Cara Unik Menciptakan Ruang Apapun

Filed under: perception — Ryan Tjahjadi @ 06:36
Tags: , , , ,

Saya tertarik ketika membaca sebuah artikel mengenai sekelompok orang yang membuat ruang arsitektural hanya dengan menggunakan lukisan 2 dimensi. Mungkin anda juga pernah mendengar mengenai hal ini. Berikut contoh-contoh karya yang mereka lakukan..
Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Saya terkagum-kagum melihat hasil-hasil karya ini. Tentunya ini merupakan sebuah ilusi yang dapat membuat ruang yang sebenarnya tidak ada menjadi terlihat ada.

Secara tidak langsung , hal ini mempengaruhi persepsi visual kita. Atau mungkin lebih tepatnya mengecoh persepsi visual. Orang-orang yang membuat hal ini tampaknya paham betul mengenai teori persepsi Gestalt dan Gibson. Di satu sisi mereka membuat komposisi dan karya ini di bidang 2 dimensi untuk mengubah persepsi orang (gestalt). Namun di sisi lain mereka tetap sadar bahwa mereka hidup di dunia 3 dimensi (gibson) dan dengan cara sedemikian rupa dapat membuat apa yang dibuat secara 2 dimensi ternyata dapat dinikmati sebagai 3 dimensi.

Jika saya perhatikan, yang mereka lakukan hanya mengikuti garis perspektif mata kita. Lalu dimana garis itu berhenti pada suatu bidang , maka mereka meneruskan garis perspektif mata kita itu dengan menggambarkannya pada bidang tersebut. Sehingga garis perspektif kita pun tampak tidak lagi terhalang oleh bidang itu melainkan dilanjutkan. Ruang pun akan tampak lebih luas sebab garis perspektif kita bertambah panjang.
Image Hosted by ImageShack.us
Tidak hanya memperluas ruang, mereka juga dapat mempersempitnya. Saya perhatikan cara mereka mempersempit yaitu dengan memblokir garis perspektif mata kita. Biasanya dengan cara menggambarkan objek pada lantai di depan bidang. Sehingga garis perspektif kita akan terhenti pada objek itu sebelum mencapai bidang yang sebenarnya.
Image Hosted by ImageShack.us
Hal ini membuat saya berpikir bahwa saya dapat menciptakan ruang apapun yang saya inginkan hanya dengan memainkan perspektif dengan objek 2 dimensi saja. Ruang yang tadinya sempit dapat dibuat luas. Ruang yang tadinya luas dapat dibuat seolah sempit. Ruang yang tadinya tertutup dapat dibuat seolah sangat terbuka. Semua itu berkat permainan perspektif saja.

Yaa.. walaupun memang jika karya-karya ini dilihat dari sudut yang salah maka karya ini akan kehilangan esensinya (lebih banyak mengarah ke Gestalt daripada Gibson). Namun hal itu tentunya dapat diakali dengan mengatur ruang sedemikian rupa suatu ruang agar orang-orang terarahkan untuk melihat dari sudut perspektif yang diharapkan.

Sumber: http://weburbanist.com/2007/10/10/3d-architectural-illusions-amazing-paintings-murals-and-mosaics/

March 23, 2011

Gambar Apa Ini???

Filed under: perception — androkaliandi @ 15:39
Tags: , , ,

Image and video hosting by TinyPic

Pada gambar A dan B kita cenderung belum mengetahui benda apa yang ditangkap kamera. Kita menebak gambar adalah sumber cahaya, bulan atau lampu. Dengan gambar C kita sudah dapat mengenal benda apa yang terpapar yakni lampu downlight, namun belum jelas geometri tiga dimensional-nya. Karena saya memotret secara orthogonal, kita cenderung menebak lampu downlight bundar yang tertanam di plafon. Ketika kita telah melihat gambar D, kita tidak hanya tahu benda apa yang terpapar, tetapi kita juga tahu bentuk geometrinya (tabung). Ternyata lampu downlight-nya tidak ditanam di plafon, tetapi justru muncul keluar dari plafon. Berbeda dengan gambar C yang saya potret secara orthogonal, gambar D saya potret secara perspektif. Apabila ketika memotret gambar C, saya memosisikan diri tegak lurus dengan objek (lampu). Namun ketika memotret gambar D, saya memposisikan diri lebih bebas dari objek. Ketika saya mengamati objek lebih bebas, saya lebih dapat memahami benda secara keseluruhan. Mungkin hal serupa juga yang dikritik Gibson tentang teori Gestaalt. Ketika Gestaalt mengalami persepsi visual secara dua dimensional, maka Gibson mengajukan teori persepsi tiga dimensional. Karena memang manusia mengalami ruang secara tiga dimensional. Gambar A dan B saya potret ketika malam hari, lampu sedang dalam keadaan menyala. Gambar A saya potret secara orthogonal, sedangkan gambar B saya potret secara perspektif. Meskipun saya memotretnya dengan dua cara, orthogonal dan perspektif, tetapi keduanya nampak seperti gambar dua dimensional. Mengapa? Menurut saya hal ini dapat dihubungkan dengan jenis lampu, yakni downlight. Lampu downlight memberikan cahaya ke arah bawah (lantai), sehingga tidak memberikan kesempatan plafon mendapat cahaya langsung, kecuali dari pantulan lantai. Selain itu warna juga memberikan pengaruh. Warna hitam pada plafon sifatnya menyerap cahaya, bukan memantulkan. Sehingga ketika saya memotret lampu dari bawah, yang tertangkap oleh kamera adalah gambar cahaya dengan latar hitam (kegelapan). Dengan demikian bentuk tabung tiga dimensional tidak nampak, meskipun dipotret secara perspektif. Sepertinya ada kesempatan untuk melakukan manipulasi ruang dengan permainan cahaya. Dan kita perlu banyak belajar dari James Turrel: “what we see is not depth as such but one thing behind another”

Fokus dan Ilusi Optik

Filed under: perception — mutiahapsari @ 15:29
Tags: ,

Kita semua barangkali sering menemukan gambar-gambar dua dimensional yang mengandung ilusi visual dan terkadang menimbulkan pertanyaan atas kemampuannya “menipu” otak kita. Ilusi visual atau ilusi optikal didapat dari gambar yang kita tangkap secara visual dan dipersepsikan dalam otak kita sehingga gambar tersebut menjadi berbeda dari kenyataannya. Jika ditelaah dari teori persepsi Gibson, gambar di bawah ini misalnya, termasuk optical illusion jika fokus pandangan bergeser.

Sisi mana  yang Anda lihat terlebih dahulu? Apakah bagian kanan yang tumpul dan massive? Jika ya, maka gambar yang akan dilihat adalah gambar kelinci. Sekarang pindahkan fokus pada sisi kiri yang memiliki dua bidang memanjang. Si kelinci akan menghilang dan Anda justru akan melihat gambar bebek. Coba fokus kembali pada sisi tumpul di kanan, maka si kelinci akan muncul kembali.

Hal ini dapat terjadi karena ketika melihat gambar, mata kita secara otomatis akan menempatkan fokus pandangan pada suatu titik. Bisa jadi fokus pandangan jatuh di sisi kiri ataupun kanan gambar, akan berbeda bagi tiap orang tergantung sisi mana yang lebih dominan menurutnya. When a person moves their head, body, or eyes, the entire visual world moves uniformly in the opposite direction to the person’s movement (Allard, 2001). Visual world ini yang membentuk bebek dan kelinci dalam otak kita.

Dalam desain, dapatkah teori ini kita pergunakan untuk menciptakan pengalaman ruang yang berbeda?

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Perception

http://en.wikipedia.org/wiki/Visual_perception

http://ahsmail.uwaterloo.ca/kin356/theories/direct.htm

Teori Gestalt dalam WWF Advertisement

Filed under: perception — catherineviriya @ 15:20
Tags: ,
World Wide Fun for Nature, atau yang lebih dikenal dengan nama WWF merupakan sebuah organisasi non-pemerintah internasional yang bergerak di bidang konservasi, restorasi, serta research dan pembudidayaan lingkungan hidup di seluruh dunia. Organisasi yang banyak didukung oleh kaum muda ini tentunya membutuhkan kampanye yang kreatif dan menarik guna mengundang masyarakat untuk mendukung project yang mereka ajukan.

Salah satu cara melakukan kampanye yang menarik adalah dengan mempublikasikan iklan yang unik dan dapat dicerna dengan baik oleh masyarakat tanpa kehilangan inti dari tujuannya sendiri. Setelah saya melakukan pengamatan pada beberapa advertisement dari organisasi ini, saya melihat bahwa beberapa darinya menerapkan teori Geometri dan Persepsi Psikologi Gestalt, sebagai contohnya adalah logo WWF sendiri:


Uploaded with ImageShack.us

Gambar ini menerapkan Law of Closure dimana walaupun objek yang ada tidak komplit dan bagian-bagian tertentu tidak tertutup rapat, namun dengan menggunakan persepsi, kita dapat mengetahui bahwa gambar ini merupakan gambar seekor panda.

Uploaded with ImageShack.us

Gambar kedua ini menerapkan Law of Proximity dan Law of Closure dalam Teori Gestalt dimana apabila objek daun terletak berjauhan dan terpisah maka akan nampak sebagai sekedar daun, sedangkan dengan penyusunan sedemikian rupa keenam helai daun ini dapat terlihat sebagai objek baru yang sangat berbeda yaitu figure wajah seekor panda walaupun ada bagian yang tidak tertutup dengan sempurna

Uploaded with ImageShack.us

Gambar ketiga menerapkan Law of Similarity dimana objek yang sama disusun secara beraturan sedemikian sehingga menimbulkan persepsi bagi orang yang melihatnya menjadi sebuah pola yang membentuk objek yang berbeda, dalam gambar ini potongan-potongan kayu yang disusun sedemikian rupa menghasilkan bentuk yang menyerupai seekor jerapah.

Uploaded with ImageShack.us

Gambar keempat merupakan gambar yang paling kompleks karena menerapkan tiga aspek dalam teori Gestalt yaitu Law of Closure, Law of Proximity, serta Figure and Ground. Law of Closure terlihat dari gabungan objek-objek tidak tertutup yang menghasilkan gambar panda sebagai elemen dari gambar ini. Law of Proximity nampak dari gabungan objek-objek panda yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk siluet gambar rusa. Dan Figure and Ground dapat dilihat melalui warna hitam dan putih yang dapat dilihat dengan persepsi yang berbeda, antara berupa gambar dua buah rusa besar dan lima rusa kecil atau merupakan gambar panda-panda yang dirangkai sedemikian rupa membentuk pola.

Melalui gambar-gambar ini diketahui bahwa Teori Geometri dan Persepsi sangat dekat hubungannya dengan kehidupan manusia sehari-hari dan sangat menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut.



March 22, 2011

Behind Holism and Reductionism

Filed under: perception — austronaldo @ 08:41
Tags: , , ,

Dengan mengambil contoh matahari, saya ingin mengupas persepsi orang mengenai objek tersebut. Gambar di bawah ini merupakan foto matahari. Namun apabila kita melihat gambar di sampingnya, yang pertama kali kita persepsikan adalah gambar matahari, meskipun bentuk ataupun komponen bentuk dari kedua gambar tersebut berbeda dengan gambar aslinya. Padahal pada gambar matahari

asli tidak ada elemen segitiga maupun elemen garis lurus seperti pada kedua gambar dua-dimensional tersebut. Mengapa komponen bentuk lain yang sebenarnya tidak ada pada gambar aslinya ditambahkan? Dan bukannya direduksi menjadi gambar lingkaran saja..

Mari kita pecahkan bentuk di atas menjadi komponen- komponennya (reductionism).

Dengan jelas kita bisa melihat bahwa meskipun bentuk secara keseluruhan dipersepsikan sebagai matahari, namun apabila bentuk keseluruhan tersebut di reduksi, komponen-komponen bentuk tersebut tidak bisa dipersepsikan sebagai matahari lagi. Komponen A terdiri dari bentuk lingkaran dan segitiga, sedangkan komponen B terdiri dari bentuk lingkaran dan garis lurus yang jelas-jelas bukan berbentuk matahari.

Lalu jika kita menggabungkan komponen-komponen bentuk menjadi bentuk secara keseluruhan (holism).

Meskipun komponen bentuknya berbeda, apabila digabung bisa menjadi bentuk yang sama (yaitu matahari). Namun, kita juga bisa melihat bentuk yang berbeda-beda dapat dihasilkan oleh komponen-komponen bentuk yang sama. Tidak semua hasil yang didapatkan memiliki bentuk yang kita persepsikan sebagai matahari lagi. Mungkin gambar (a),(b) dan (c) masih kita persepsikan sebagai matahari namun mungkin tidak dengan (d).

Meskipun berakar dari komponen bentuk yang sama, namun properti komponen bentuk dan bentuk secara keseluruhan berbeda. Kita tidak lagi menyebut lagi sebagai 8 segitiga dan satu lingkaran namun sebagai ‘matahari’ yang otomatis memiliki karakteristik hangat, silau besar, agung.

Jadi, bentuk yang digabung memiliki properti yang tidak dimiliki oleh komponen benda-benda itu sendiri. Alangkah menariknya bahwa benda benda sederhana seperti segitiga, lingkaran dan garis lurus yang semula kita ketahui memiliki properti matematis (misalnya segitiga yang terdiri dari 3 sudut dan jumlah sudutnya 180 derajat) ternyata memiliki properti yang lebih dari sekedar properti matematis apabila bentuk bentuk sederhana tersebut digabungkan. Siapa sangka ketika kita menggabungkan segitiga dan lingkaran kita bisa mendapatkan bentuk dengan karakteristik hangat! Jadi di balik eksperimen holism dan reductionism ini kita bisa mengetahui bahwa komposisi bidang- bidang dapat memunculkan persepsi lebih dari sekedar visual tapi juga kualitas hangat/ agung dst yang muncul akibatnya.

Referensi:
Raman V, Varadaraja. Reductionism and Holism: Two Sides of the Perception of Reality. http://www.metanexus.net/magazine/tabid/68/id/9338/Default.aspx

March 18, 2011

Apa yang Sesungguhnya Terlihat dari Mata Kita

Filed under: perception — nurrisinda @ 20:35
Tags: ,

Betapa menariknya hal ini!
Sebuah hal yang baru pertama kali saya liat, sebuah gambar dengan prespektif yang saya tak pernah terpikir sebelumnya..

Tanpa kita sadari, selama ini kita melihat benda, langsung ke benda itu, mengartikan benda itu sesuai dengan apa yang ada jauh di depan kita.

Tak sadarkah kita bahwa sebelum mencapai benda itu, kita juga melihat benda-benda lain?
Bahwa tanpa sadar sebetulnya kita melihat hidung kita, bagian atas philtrum kita (antara hidung dan mulut), lengkungan mata, bingkai kacamata yang kita pakai,dll. Tanpa sadar tubuh kita sendiri memiliki perspektif yang menarik dari arah mata langsung.

Selama ini kita selalu melihat jauh kedepan, ke benda yang memang kita ingin lihat saja. Padahal ada yang lebih dekat itu.

Gambar dari The Ecological Approach To Visual Perception karya James J. Gibson ini menceritakan itu bagi saya, bahwa selama ini yang kita gambar tentang apa yang dihadapan kita, ya bisa dibilang seperti ini.

Agak geli juga memang melihatnya bahwa ada hidung, kumis, dan terkesan aneh perspektifnya, tapi mungkin inilah yang sesungguhnya kita alami.

Mungkin saja di kehidupan sehari-haripun, banyak hal yang sesungguhnya turut penting, namun justru jadi kita tidak indahkan karena terlalu terfokus pada yang kita ingin fokuskan.

Dalam merancang juga begitu, bukan hanya sekedar desain ini dan itu saja sesuai yang kita inginkan, tapi juga belajarlah melihat lebih luas lagi. Hal-hal yang sederhana namun penting justru kadang kita perhatikan.
Nyatanya, hidung itu memang sudah ada di wajah penggambar kan, tapi tidak ada terpikirkan bahwa ternyata itu juga masuk dalam penglihatan kita.

Karena itu gambar ini sangat menarik bagi saya.

Dan sayapun mencoba melakukan yang sama
Berikut gambar ala saya yang ala kadarnya.. ^^

ketiga gambar diatas saya ambil dari mata kanan saya, entah kenapa bagi saya saya lebih suka dari mata kanan saya daripada mata kiri. ini hanya opini pribadi saya saja, bisa saja berbeda dengan pendapat yang lain

Walau begitu, entah kenapa saya jadi bersyukur, tentang mata ini, dan tentang hidung ini yang apa adanya.. paling tidak saya masih bisa melihatnya..^^

Selanjutnya saya akan mencoba melihat lebih luas lagi.

Semoga anda semua juga begitu.^^

Sumber
Gibson, James J. 1979. The Ecological Approach to Visual Perception. Houghton Mifflin: Chicago.

Persepsi bagi Si Buta

Filed under: perception — Abdul Hady @ 20:34
Tags: ,

Dalam perkuliahan Geometri dan Arsitektur tentang persepsi, saya merasa sepertinya persepsi itu hanya berlaku bagi orang yang mampu melihat saja. Terlihat bahwa contoh – contoh yang diberikan adalah gambar – gambar yang hanya bisa dimengerti orang non-tunanetra. Gambar yang memiliki bentuk, warna, dan pola. Lalu bagaimana dengan orang tunanetra? Meski bisa meraba, gambar tersebut berupa refleksi cahaya pada layar yang tidak akan muncul tekstur apapun.

Berkaitan dengan meraba, manusia, yang tunanetra sekalipun, beruntung memiliki indera peraba. Kita ambil contoh umum bagaimana si buta ini mengalami persepsi, yaitu cerita orang buta dengan gajah.

Orang pertama  meraba kaki gajah, mengatakan gajah itu seperti pohon kelapa.

Orang kedua meraba buntutnya mengatakan gajah seperti ular.

Orang ketiga meraba gading gajah, mengatakan gajah seperti alat bajak.

Orang keempat meraba telinga gajah, mengatakan gajah itu seperti kipas, tipis, lebar dan bergerak-gerak.

Orang kelima meraba badan gajah, mengatakan gajah itu seperti tembok. Keras dan tinggi dan luas.

Apakah diantara jawaban mereka ada yang benar? Tentu tidak, karena mereka hanya mengutarakan persepsi mereka.

Yang jadi pertanyaan berikutnya adalah darimana mereka mendapat persepsi rupa gajah tersebut padahal yang mereka analogikan pun belum tentu mereka pernah melihatnya?

Dalam perkuliahan tersebut pun saya mendapat pengertian persepsi, yaitu proses mendapat informasi dan mengalami objek. Orang tunanetra tersebut mungkin saja pernah mendapat informasi tentang analogi yang mereka utarakan tapi mereka belum pernah mendapat informasi tentang gajah. Lalu ketika mereka mengalami objek (bagian dari gajah) mereka pun mengemukakan persepsi mereka melalui analogi.

Sekarang mari kita hubungkan teori Gestalt terhadap penggambaran gajah dari persepsi tunanetra.

Penganalogian yang dilakukan orang tunanetra sama seperti yang orang normal lakukan jika ia melihat rupa awan seperti sesuatu yang mereka kenali. Misalnya pola awan yang rumit tersebut disederhanakan menjadi bentuk wajah seseorang atau hewan. Si tunanetra pun menyederhanakan apa yang ia raba. Seperti kaki yang terasa kasar, besar, dan tinggi. Dalam bayangan dia bentuk paling sederhana adalah batang pohon. Hal ini terkait dengan Law of Pragnanz di mana kita menyederhanakan sesuatu yang rumit.

Karena gajah memiliki empat kaki, tentu saja jika orang tunanetra itu memegang keempatnya maka dia akan menyimpulkan kaki gajah ada empat. Seperti Law of Similarity yang menyamakan berbagai elemen berdasarkan kesamaan ciri – cirinya lalu mengumpulkannya menjadi satu grup.

Selanjutnya, dengan analogi berdasarkan persepsi si tunanetra, dia pasti akan membayangkan secara utuh bagaimana bentuk gajah tersebut. Jika anda membayangkan gajah sesuai deskripsi mereka, tentu akan menjadi aneh bentuknya. Tapi berhubung kita tidak tahu apa yang ada dalam pikiran si tunanetra, kita juga tidak akan tahu persepsi dia akan gajah secara utuh. Hal itu terkendala karena si tunanetra tidak dapat menggambar.

Penjabaran saya diatas tentu hanya berdasarkan pendapat saya pribadi. Bisa benar, bisa sebagian benar, atau justru salah semua.

Pertanyaan terakhir saya, bagaimana orang tunanetra bisa menikmati keindahan arsitektur dan desain interior?

Jika semua orang buta punya kemampuan seperti superhero Dare Devil, mungkin mereka bisa menikmatinya.

Sumber:

http://ferrydjajaprana.multiply.com/journal/item/74

http://psychology.about.com/od/sensationandperception/ss/gestaltlaws.htm

March 16, 2011

Bagaimana Persepsi Psikologi dapat Menentukan Karakter Arsitek dalam Desainnya?

Filed under: contemporary theories — safiraalkatiri @ 20:16
Tags:

Setelah mengikuti kuliah Geometri & Arsitektur pada 16 Maret yang lalu tentang Geometry & Perception, timbul pertanyaan dalam diri saya apakah dengan mengembangkan pemahaman tentang psikologi dapat menciptakan karakter tertentu seorang designer terhadap proses designnya?

Sebagai contoh adalah arsitektur pada masa post modern. Pada masa post modern, seperti halnya sejarah kehidupan manusia, prinsip arsitektur yang digunakan adalah menginginkan untuk kembali kepada masa lalu. Maka Arsitek post modern berupaya untuk menerjemahkan semiotics ke dalam bentuk-bentuk arsitektur. Semiotics adalah studi hubungan antara signs (tanda) dengan simbol, dan bagaimana orang memberikan arti (meaning) antara keduanya. Dalam keadaan ini secara tidak sadar atau mungkin secara sadar para arsitek di masa post modern ini telah terbentuk karakternya sesuai dengan teori Gibson (1979); registered by observer, perception process as “meaningful”.

Apakah persepsi seseorang tentang arti dengan sendirinya akan berubah sesuai dengan perkembangan sejarah, sehingga arti dari sebuah bentuk arsitektur telah berubah antara era Romawi, Gothic, Renaissance, Baroque, dan era modern, atau oleh masing-masing karakter arsitek itu sendiri?

Referensi:

Framton, Kenneth, (1980), “A Critical History of Modern Architecture”,
Thames and Hudson.

http://jurnalrona.files.wordpress.com/2008/02/04-psikologi-arsitektur-post-modern.pdf

June 2, 2010

Geometri Bukan Mengenai Benar atau Salah, Melainkan Mengenai Bagaimana Memilih

Filed under: process — gemala @ 14:28
Tags: ,

Setelah mengenal berbagai teori yang terkait dengan geometri dan arsitektur, sangat jelas bagi saya bahwa terdapat banyak pilihan untuk mengekspresikan citra dari sebuah bangunan atau wujud arsitektural melalui geometri yang diterapkan. Pertanyaannya adalah cara mana yang akan dipilih dan diterapan. Order, beauty, rigid, ugly, Euclidean, non-Euclidean, dan persepsi lainnya yang mewakili geometri yang diterapkan pada sebuah desain arsitektur merupakan sesuatu yang diterjemahkan berbeda oleh pemikiran-pemikiran yang berbeda pula. Namun perbedaan tersebut tidak dapat menyalahkan satu sama lain (sewajarnya).

“One geometry cannot be more true than another; it can only be more convenient”. [Poincaré]

Bagi arsitek sebagai perancang, semua persepsi dan teori tersebut sangat membantu dalam penciptaan suatu wujud arsitektural. Dengan demikian, hasil karya arsitektur yang terbentuk menjadi logis dan dapat dijelaskan secara geometrikal sehingga tidak terbentuk suatu karya yang ‘tidak pada tempatnya’. Bagi pengguna dan penikmat hasil karya arsitektur, persepsi dan teori tersebut menjadi penting saat mereka menuntut suatu karya yang benar-benar tepat guna dari berbagai sudut pandang.

Dari sini dapat dilihat bahwa tanggung jawab seorang arsitek sebagai perancang ternyata tidak hanya sebatas memenuhi tuntutan kebutuhan ruang kliennya namun juga terhadap setiap unsur geometrikal yang mereka terapkan pada desain termasuk hal sederhana seperti garis dan bidang. Hal ini mungkin dapat disamakan dengan apa yang Y. B. Mangunwijaya sebut dengan berarsitektur secara budayawan; dengan nurani dan tanggung jawab penggunaan bahasa arsitektural yang baik, karena berarsitektur berarti berbahasa dengan garis dan bidang, ruang dan gatra, bahan material dan suasana tempat.[1] Di sinilah dituntut kemampuan seorang perancang untuk memilih geometri seperti apa yang akan ia terapkan pada desainnya.


[1] Y. B. Mangunwijaya. 1995. Wastu Citra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama (hal. 7)

April 6, 2010

False Memories dalam Penciptaan Geometri

Filed under: perception — nurulislami @ 00:01
Tags: ,

Dalam bahasan Persepsi dan Arsitektur kita mengetahui dua teori yang mempengaruhi perwujudan geometri. Gestalt, merupakan kecenderungan manusia yang menyederhanakan sesuatu (secara visual) berdasarkan pemahaman yang dibawa oleh manusia tersebut. Dalam prosesnya manusia bersinggungan dengan ingatan akan kejadian dan objek yang dilaluinya kemudian di persepsikan kembali dalam bentuk dengan mengorganisasikan komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola atau kemiripan. Dalam perkembangan persepsi visual Gibson menjelaskan bahwa manusia mempelajari apa yang ada di lingkungan, lebih dari hanya sekedar masukan visual atau sensori. Lebih jauh lagi Gibson menjelaskan informasi yang kita dapat (berupa objek atau kejadian) kemudian dipahami bergantung pada bagaimana dan siapa yang melihat informasi tersebut.

Dalam prosesnya, persepsi yang tertangkap pertama kali (oleh indera) akan menjadi sebuah memori dalam pikiran. Dan dalam jangka waktu tertentu ingatan kita akan objek atau kejadian ini dapat mengalami distorsi dari informasi atau pengalaman yang sesungguhnya yang menyebabkan terjadinya False Memory. False Memory ini secara sadar atau tidak dapat mempengaruhi hasil persepsi kita terhadap informasi yang didapat. False memory terjadi disebabkan oleh intervensi terhadap informasi yang kita dapat yang kita visualkan kembali sehingga menciptakan gambaran mental dalam pikiran. False memory yang terjadi secara langsung dapat berpengaruh pada proses persepsi kita. Hasilnya yaitu perubahan/distorsi pengungkapan memori dari informasi yang sebenarnya. Dikembangkan oleh psikolog Elizabeth F. Loftus seorang profesor psikologi dan dosen hukum di University of Washington. Intervensi disini menurut Elizabeth F. Lotus terjadi akibat kita yang melupakan sumber informasi dan dominasi “saran” yang bersumber dari orang lain (faktor eksternal).

Proses persepsi visual yang di bawa oleh Gestalt dan Gibson memiliki kecenderungan rentan akan adanya intervensi. Kekuatan sumber informasi kita dalam melahirkan persepsi menjadi penekanan dalam penciptaan geometri (dalam hal ini bentuk atau form). Faktor eksternal dalam hal ini dapat berupa force yang dengan sangat kuat mempengaruhi memori kita. Hasilnya yaitu kekeliruan memori yang dibenarkan kemudian menghasilkan pembenaran dari bentuk yang seharusnya tidak seperti itu. Sebagai seorang arsitek yang menghadirkan representasi yang bergantung oleh pengetahuan dan pengalaman besar kemungkinan kita akan menghadapi intervensi (force) dari luar. Pemahaman atas sebuah informasi (objek atau kejadian) yang sebenarnya menjadi semakin samar dengan adanya intervensi faktor eksternal. Konteks lingkungan, manusia, kegiatan/event, pengalaman, penngetahuan proporsi, komposisi, dll, merupakan informasi yang dikumpulkan untuk diolah menjadi sebuah representasi (geometri atau arsitektur). Pemahaman dan monitoring dalam proses representasi (design) seharusnya dapat membedakan antara sumber internal dan eksternal, sehingga pada akhirnya desain dapat hadir secara proporsional terhadap informasi konteksnya.

Referensi

Gibson, J. J. (1986). An ecological approach to visual perception. Hillsdale, N.J.: Lawrence Erlbaum.

http://faculty.washington.edu/eloftus/Articles/sciam.htm

http://brainethics.wordpress.com/2006/01/02/the-making-of-false-memories

http://findarticles.com/p/articles/mi_g2699/is_0001/ai_2699000153

May 21, 2009

Geometri sebagai Permainan Arsitektur

Filed under: architecture and other arts,perception — def1 @ 06:36
Tags: , ,

Arsitektur adalah bagaimana kita mengutak-atik sebuah bentuk. Inilah yang sekilas terlintas di pikiran ketika saya mengingat kembali apa yang telah saya dapatkan dari selama belajar geometri arsitektur. Entah itu mengenai masalah pengaturan penyusunannya, proporsinya, unsur titik, garis, bidang sampai bagaimana kita mampu mengolah dari apa yang sudah ada dengan keluar dari yang seharusnya dan biasanya. Dan yang lebih menariknya bentuk-bnetuk yang lahir tersebut tidak selalu dari bentuk-bentuk persegi, segitiga, lingkaran dan lainnya tetapi dari sebuah music. Interval dari sebuah music seperti sebuah pola yang dalam arsitektur adalah golden section, passage (bagian dari lagu) disamakan dengan sebuah fasad dari bangunan. Betapa luasnya hal-hal yang dapat diterjemahkan ke dalam sebuah bentuk arsitektur. Seperti pada bangunan Le Corbusier yakni de La Tourette, dimana saat itu Le Corbusier bekerja sama dengan seorang musisi, Xenakis. Beliau mengaplikasikan harmoni dan ritme dari sebuah musik yang hasilnya adalah dapat dilihat pada panel-panel kaca sebagai efek dari lirik sebuah musik.

Permainan dari bentuk-bentuk yang terjadi tidaklah terlepas dari yang namanya persepsi. Ketika manusia melihat suatu bentuk atau mendengarkan music maka pikiran mereka akan menangkap apa yang dilihat dan didengarnya yang kemudian diterjemahkan pada sebuah pembentukan dalam pikiran. Hasil dari terjemahan tersebut kadang diolah kembali oleh manusia atau langsung dituangkan begitu saja. Misalnya seseorang yang mendengarkan music dengan alunan yang lambat dan kemudian diterjemahkan olehnya menjadi sebuah bentuk garis bergelombang dengan jarak puncak gelombang berbeda-beda sesuai dengan irama music yang didengarnya. Lalu dari bentuk garis gelombang tersebut apa yang dapat diambil poin-poinnya, apakah spasi antar titik puncak gelombangnya, ketinggian dari masing-masing titik puncak atau mungkin alur yang terbentuk darinya (surfacenya). Proses dari pengolahan penerjemahan itulah yang menurut saya dapat adalah bagian permainan bentuk dalam sebuah arsitektur. Di dalam permainan tersebut ada proses berpikir, trial and error, dan proses menelusuri (yang menurut saya adalah proses dimana kita mencoba untuk mengetahui bagaimana bentuk tersebut diperoleh, apa saja yang menyusun bentuk-bentuk tersebut) juga cara pandang kita (melihatnya dengan menyederhanakan, melihatnya seperti semut yang mengelilingi surface, dll)

Pada intinya proses saat permainan itulah yang menjadi sesuatu yang menarik dalam arsitektur. Seperti seorang anak kecil yang bermain balok-balok yang disusun-susun, jika ia tidak puas maka ia akan membongkarnya kembali dan mencobanya untuk menysun kembali sampai ia berhasil menyusunnya sesuai dengan apa yang ia suka. Dan ketika susunan balok-balok itu berdiri maka dalam arsitektur sama saja dengan ketika bangunan hasil dari permainan bentuk-bentuk berhasil terbangun.

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.