there’s something about geometry + architecture

March 25, 2011

Sadari, amati untuk mengeksplorasi

Filed under: locality and tradition — ajengnadia @ 23:12
Tags: ,

Teknik mengikat atau menyimpul seperti sudah mendarah daging di tubuh manusia. Dahulu, ketika manusia ingin membuat ruang berlindung dirinya, manusia menyambung dua ranting kayu dengan menggunakan simpul, belum ada paku, lem atau bahan perekat lainnya. Kemudian teknik menyimpul berkembang ke segala arah, seperti kerajinan, kebutuhan sehari-hari hingga mengikat rambut. Tidak heran, beberapa budaya di dunia menggunakannya sebagai hal yang bernilai sakral, seperti sebagai persembahan kepada Yang Agung, pada masyarakat Bali.

Teknik mengikat membentuk pita merupakan hal yang sangat familiar dalam kehidupan kita setiap harinya. Ketika kita keluar rumah dan menggunakan sepatu bertali, ketika bertemu seorang perempuan cilik dengan hiasan rambut di kepalanya, hingga pada pembalut telepon gengam yang kini sangat mewabah di tangan para remaja putri.

Mencoba sedikit mengulasnya dalam essay yang saya kumpulkan beberapa hari lalu. Proses dalam membentuk pita seolah menggunakan dasar matematik serta geometrik sehingga mendapatkan hasil seperti itu. Menggunakan dua tali kemudian tali tersebut disimpul, diputar, sehingga membentuk bentuk lingkaran, dan disimpulkan kembali akan membentuk sebuah bow atau pita yang biasa kita temui (lihat gambar). Bila kita mengikuti dasar matematis, maka yang dilakukan adalah merotasi, mencerminkan dan kembali merotasinya. Ya. Rotasi dan pencerminan –seolah terjadi pada sumbu y- merupakan bentuk dari pengikatan pada dua tali tersebut.

Image and video hosting by TinyPic

Seolah menjadi salah satu contoh yang mungkin tidak kita sadari, sebuah hal yang sederhana dan sering berada di sekitar kita dan sering pula kita lakukan, ternyata memiliki proses pembentukan yang sangat ilmiah. Mungkin kita bisa coba menyadari hal ini, mungkin masih banyak hal yang sangat sederhana yang bisa kita amati karena hal-hal yang dasar masih dapat kita cari “beyond” dari hal tersebut. Setelah mendapati hal dibalik itu semua, mungkin kita bisa kembangkan lebih lanjut lagi untuk kita gunakan saat mendesain nanti. Inspirasi bisa datang dari mana saja, bukan?

Froebel’s Gift: One Thing Leads to Another, A Process of Recognizing and Exploration

Filed under: architecture and other arts,process — belonia90 @ 17:23
Tags: ,

“…Every existing thing is connected to every other thing in past, present, and future existence…”

Adalah sebuah kalimat yang saya kutip setelah menangkap satu dari beberapa hal yang sekiranya Bapak Friederich Wilhelm August Fröbel atau sebut saja Bapak Froebel ingin sampaikan pada dunia melalui Froebel’s Gift yang beliau ciptakan. Siapa Bapak Froebel dan apa itu Froebel’s Gift?mari kita kenali.

Bapak Froebel menurut Wikipedia adalah seorang Pedagogi (pendidik) dan sumber lainnya menyatakan bahwa Bapak Froebel ini adalah seorang ilmuwan, seseorang yang sangat spiritual, naturalist (pecinta alam), bahkan seorang garderner karena beliau mencintai kebun dengan segala isinya. Dari semua yang telah disebutkan nampaknya ia mendedikasikan dirinya bagi pendidikan terutama bagi anak-anak, mulai usia pra sekolah sampai anak menuju remaja. Beliau juga sampai membuat panduan bagi orang tua terutama Ibu untuk mengasuh dan memandu anak dalam tahap perkembangannya. Dari yang saya baca hal ini ada kaitannya dengan perasaan longing atas asuhan dari sosok ibu yang meninggal pada saat Beliau baru berumur 9 bulan, ya “every existing thing is connected to every other thing in past, present and future”. Dari sini saya ingin menyebutnya sebagai inventor juga atau penemu, penemu apa? Ya, Froebel’s Gift. Saya tiba-tiba jatuh cinta padanya begitu mencari tahu mengenai Froebel’s Gift dengan segala rincian dari setiap “gift” yang beliau buat. Semua dibuat dengan alasan, dengan tujuan bagi perkembangan anak.

Anak bagai secarik kertas kosong, siap ditulisi dengan apa saja. Dunia mereka bagaikan tak berbatas, mereka bisa memakan pasir, memasukkan tangannya ke dalam mulut, melompat dari kursi, memegang yang menarik bagi mereka, semua dilakukan dengan tawa kecil, ya eksplorasi, menjelajah,mengenal  dan mencoba dengan bermain.  Menganalogikan kebun, anak menurut Froebel seperti tunas yang sangat membutuhkan perhatian bahkan mulai dari kecil, dan karena anak = bermain maka bermain sambil belajarlah ide pencetus Froebel’s Gift ini.

Terdiri atas 10 Gift, yaitu 10 kotak kayu yang berisi perangkat permainan-belajar yang berarti juga ada 10 tahapan karena semakin atas levelnya, semakin kompleks dan detail pula arti dibaliknya. Terlihat pola yang semakin mengerucut dari setiap tahapan giftnya. Mengerucut disini artinya semakin kecil yang bisa dipegang dan makin rumit dalam perangkaiannya jika boleh saya katakan jika gift 1 adalah sebuah bentuk yang utuh, semakin naik levelnya adalah lepasan-lepasan dari bentuk utuh itu. Perkenalan umum hingga khusus, makin mendalam seperti itu.

froebel's gifts

Dimulai dengan bentukan utuh solid 3 dimensi (Gift 1 -6), bentukan 2 dimensi (Gift 7), garis (lurus-lengkung) (Gift 8), Titik (Gift 9), Rangka dari 3 dimensi (Gift 10). Disini saya melihat “mulai dari mana” yang berbeda sewaktu saya tekomars dulu. Dulu saya memulai dengan menentukan titik di sembarang atau tempat yang sudah diatur (atas-bawah), masuk ke garis (menghubungkan titik-titik),dan jika diteruskan dari garis yang ditarik tercipta bidang 2 dimensi dan jika antar 2 dimensi dibayangkan dipertemukan dapat menjadi sebuah 3 dimensi.

proses

Tetapi mulai dari mana ini menurut saya bukanlah masalah karena jika dilihat, perkembangan indera anak-anak itu dimulai dari sentuhan (dengan ibu) dan juga grasp (genggam), sedangkan saat kita sudah lebih dewasa, sudah lebih berkembang kita sudah bisa mengkombinasikan indera dan kemampuan otak, melihat titiknya lalu memperkirakan jauhnya membayangkan dimana garis akan tercipta lalu mulai menggaris. Sehingga saat anak dapat dengan mudah mengenali bentuk dasarnya dengan pertama melihat (belum kenal-no perception) lalu sentuhan (mulai kenal), genggam (kenal) disitulah ia memulai eksplorasinya. Eksplorasi itu tak terpaksa tak dipaksa, dilakukan satu-persatu secara perlahan (gradually)ia dimulai dan bisa saja tak berakhir (sebuah proses kreatif), eksplorasi juga sebuah rangkaian pencarian, sebuah pengenalan lebih lanjut dan setiap titik yang dicapai dalam eksplorasinya, sang eksplorer akan belajar sebuah hal baru ataupun pengembangan dari eksplorasi sebelumnya, inilah Froebel’s Gift, gift 2 adalah eksplorasi lanjutan dari gift 1, begitu pula gift 3 terhadap gift 2 dan tidak lupa dalam tiap tahapannya Pak Froebel menyisipkan 3 pembelajaran besar yang sinambung, 1. Form of Life (bentukan yang bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari,mengaitkannya dengan kejadian/fenomena sehari-hari), 2. Form of Knowledge (bentukan matematis-penambahan,pengurangan,posisi dll-, 3. Form of Beauty (pola,komposisi,ritme). Bapak Froebel yakin bahwa nothing in the world is ever destroyed – only modified” , sehingga saat pengenalan dan eksplorasi dimulai dia akan berlanjut, dari satu hal ke hal lain, dari satu hal menjadi hal lain, one thing leads to another.

Sumber bacaan dan referensi:

http://www.babyclassroom.com/froebels-gifts.html

http://www.froebelgifts.com/gift1.htm sampai dengan http://www.froebelgifts.com/gift10.htm

http://www.froebelweb.org/gifts/

http://id.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Fr%C3%B6bel

http://en.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Fr%C3%B6bel

March 22, 2011

Daya Tarik Geometri

Filed under: process — jessicaseriani @ 08:40
Tags: ,

Apa yang membuat geometri menjadi menarik untuk dipelajari oleh banyak orang? Berdasarkan Buku Poetics of Architecture: Theory of Design karangan Anthony C. Antoniades, geometri sudah dikagumi oleh manusia sejak zaman dahulu. Filosofer seperti Plato, Phytagoras dan Archimedes; raja seperti Ptolemy dan arsitek-arsitek seperti Imhotep, Iktinos, Anthemios dan Isidoros adalah contoh matematikawan dan ilmuwan geometri yang hebat. Geometri telah dianggap sebagai ilmu pengetahuan, kepemilikan, sebuah ‘senjata rahasia’ bagi imam dan pemimpin pada masa itu untuk menjadi dominasi di antara masyarakat.

Arsitek selalu menjadi penggemar dan pengguna aplikasi geometri. Mereka menemukan Euclidean geometry sebagai sebuah sistem peraturan dan kebenaran dasar dimana mereka dapat mengambil keputusan yang mudah dilakukan dan perlahan-lahan digunakan dalam membuat karya arsitektural. Geometri menarik arsitek dengan berbagai alasan sebagai berikut:

  1. Menghasilkan palet lahirnya berbagai bentuk yang tidak dapat disangkal secara rasional bagi arsitek (menjadi bukti/alasan formal adanya bentuk-bentuk lain).
  2. Membuat arsitek merasa nyaman dengan penggunaan bentuk yang bisa diperbanyak dan diulang jika diperlukan tanpa rasa takut akan membuat kesalahan.
  3. Menawarkan kebebasan luar biasa dan tanpa paksaan untuk keluar dari bentuk-bentuk yang sudah di-‘pakem’-kan di masa lalu (seperti bujur sangkar yang mendapat interpretasi proporsional yang tidak terbatas; maka akan demikian halnya dengan bentuk-bentuk lain).
  4. Menawarkan disiplin baru mengenai pandangan dunia luas. Dulu, ketika diperkenalkan kepada arsitek, diibaratkan ada kemungkinan untuk mencapai Tuhan dan mencapai suatu keagungan jika mereka menggunakan bentuk-bentuk umum seperti bujur sangkar, lingkaran dan segitiga.
  5. Menawarkan jaminan psikologis, dimana geometri memungkinkan variasi pengaruh psikologis manusia (perasaan berbeda) yang muncul ketika ada perbedaan proporsi pada suatu bentuk.
  6. Memberikan komunikasi yang kuat kepada masyarakat akan keikutsertaan arsitek melalui pengetahuan geometri dan itu berarti ada identifikasi  secara sosial dan jasa arsitek diakui secara profesional.
  7. Memberi lebih banyak waktu untuk berpikir, mengeksplor, memanipulasi dan menggunakan bentuk-bentuk dasar secara maksimal daripada menghabiskan waktu mereka untuk menemukan bentuk baru setiap harinya.

March 18, 2011

Seniman: Bakat atau Belajar?

Dalam perkuliahan Geometry dan Arsitektur yang membahas tentang Golden Section muncul pertanyaan, apakah mereka (seniman, arsitek) telah mengetahui tentang Golden Section atau memang hanya sebuah kebetulan mereka membuat karya dan ditemukan Golden Section dalam karya mereka?

Atas pertanyaan ini saya membuat eksperimen dalam tugas essay pertama saya, yaitu mencari Golden Section dalam karya fotografi saya. Menariknya memang semua hal berbau “Golden” tersebut ada dalam foto – foto tersebut.

Dari hal ini muncul pertanyaan baru dalam diri saya, apakah semua itu memang sebatas kebetulan, atau saya berbakat dalam fotografi sehingga bisa membuat foto seperti itu?

*foto tidak disertai karena tidak bisa upload sendiri

Lalu apakah bakat itu?

Bakat adalah pola pikir, perasaan atau perilaku alami yang kita miliki.
Merupakan pembawaan sejak lahir. Pengembangan bakat dilakukan dengan pelatihan dalam keseharian.

Dalam teorinya mengenai multiple inteligences, Howard Gardner mengemukakan ada beragam bakat, yang disebut sebagai kecerdasan.

• Kecerdasan Linguistik
Kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif.
• Kecerdasan Logis-Matematis
Keterampilan mengolah angka dan/atau kemahiran menggunakan logika.
• Kecerdasan Spasial
Kecerdasan gambar dan visualisasi.
• Kecerdasan Kinestetik-Jasmani
Kecerdasan tubuh (atlet, penari, dll) termasuk kecerdasan tangan (montir, penjahit, dll).
• Kecerdasan Musikal
kemampuan menyanyikan sebuah lagu, mengingat melodi musik, mempunyai kepekaan akan irama atau sekedar menikmati musik.
• Kecerdasan Antarpribadi
Kemampuan memahami dan bekerja dengan orang lain.
• Kecerdasan Intrapribadi
Kemampuan mengetahui kelebihan dan kekurangan diri
• Kecerdasan Naturalis
Kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam di sekitar.
• Kecerdasan Moral
Kemampuan untuk memiliki nilai-nilai & norma yang ada di masyarakat dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kehidupan sehari – hari kita sering menemukan orang – orang yang memiliki kecerdasan – kecerdasan tersebut bahkan sebelum mereka mempelajarinya.

Contoh pertama, kita pasti pernah melihat di televisi seorang anak kecil yang pandai bernyanyi dengan suara indah dan permainan nada yang baik. Padahal orang tuanya berkata bahwa anaknya itu hanya punya kebiasaan menyanyi tanpa pernah mempelajari not balok sekalipun.

Contoh kedua, kita juga pasti pernah melihat perlombaan menggambar dan mewarnai tingkat Taman Kanak – Kanak (TK). Ketika sang juara telah ditetapkan dan gambarnya diperlihatkan, kita juga akan berpendapat, “wah bagus sekali gambar anak itu, memang sudah bakat”. Mungkin orang yang sudah mempelajari tentang seni bisa mengatakan, pemilihan warnanya baik, komposisi gambar baik, pesan gambar juga tersampaikan. Yang jadi pertanyaan saya, apakah anak TK itu sudah mempelajari cara menggambar yang juga dipelajari oleh mahasiswa jurusan seni tingkat 1? Saya rasa tidak.

Meski tidak jelas apakah orang – orang seperti Le Corbusier atau Monet pernah mempelajari Golden Section sebelum mereka berkaya, tapi saya rasa mereka juga pasti punya bakat tersebut.

Dari kejadian – kejadian seperti ini, saya berpendapat bahwa bakat dimiliki oleh setiap orang dan untuk menjadi seorang profesional dalam bidang tertentu pun ada pengaruh dari bakat yang tentunya memang butuh belajar lebih mendalam untuk meningkatkan bakat tersebut menjadi keahlian.

sumber:

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081010030958AAg3Klw

June 2, 2010

Transformasi Permainan Domino

Filed under: contemporary theories — andisuryakurnia @ 14:24
Tags: , ,

Pada dasarnya manusia suka bermain, yang disebut “Homo Ludens” (Man The Player) oleh ahli sejarah Johan Huizinga. Permainan yang mem-’bumi’ ialah permainan kartu, ’domino’ adalah salah satu jenis permainan yang paling populer di kalangan anak-anak maupun orang dewasa. Kartu domino ialah kartu yang memiliki ’dot’ berbentuk lingkaran penuh berwarna sebagai penunjuk ’muatan’ kartu.

Permainannya ialah dengan menyambung salah satu ujung dari kartu tersebut sesuai dengan muatan yang tertera pada ujung kartu tersebut. Pemenang didasarkan pada pemain yang berhasil melengkapi sambungan kartu tersebut dengan sempurna, dan jika belum sempurna maka pemain yang memiliki jumlah muatan terbanyak dari kartu ’sisa’ dianggap sebagai pemain yang kalah.

Muatan dari kartu berupa ’dot’ ini menjadi penanda dalam pikiran untuk menyelesaikan permainan. Pada bidang yang lain (baca: psikologi), kartu domino juga dapat digunakan untuk mengasah kemampuan otak anak-anak dalam mengingat dan membaca kata-kata yang terucap dalam bahasa Inggris.

Dalam permainan domino ini, pikiran kita sudah ter-’doktrin’ untuk melihat salah satu sisi dari satu kartu (yang dipisahkan oleh garis tengah berwarna yang sama). Permainan di alam pikiran ini kemudian menggerakkan saya untuk melakukan intervensi terhadap permainan domino secara utuh dengan memasukkan konsep pembuatan kemasan (baca: 3 prinsip dasar) yang bertujuan untuk memberikan tantangan baru dalam membaca dot-dot yang tertera dalam sebuah kartu. Kebiasaan umum permainan yang hanya menyambung kartu berdasarkan salah satu sisi kartu coba saya kaji lebih jauh. Ternyata jika diselipkan prinsip dasar kemasan maka saya dapat memperoleh muatan lain dari dot yang hadir pada kedua sisi dalam satu kartu domino. Hal ini saya angkat untuk memberikan alternatif penyambungan kartu pada saat kartu yang kita miliki tidak berjumlah dot yang sama dengan jumlah dot pada salah satu sisi kartu domino ini, selain itu juga untuk memberikan alternatif strategi baru dalam menyelesaikan permainan dengan bantuan ’lipatan’ dalam pikiran (tidak nampak nyata).

Tiga prinsip dasar kemasan saya aplikasikan dalam penentuan ’muatan’ baru yang ditampilkan oleh jumlah dot-dot kartu sebagai berikut:

Struktur Dasar ]Domino]

Sebagai kumpulan kartu permainan, domino memiliki struktur dasar berupa dot-dot (bisa juga kosong) pada kedua sisi dalam satu kartu yang dipisahkan oleh sebuah garis tengah. Garis tengah yang pada umumnya dilihat sebagai garis pemisah kedua sisi kemudian saya asumsikan sebagai garis ’lipat’ yang juga hadir pada pola pembuatan kemasan. Dengan melipat kartu ini maka kedua sisi pada kartu tersebut dapat dipertemukan. Proses pelipatan ini kemudian memberikan ’jejak’ pada kedua sisi yang baru saja bertemu. Jejak yang membekas ini kemudian menjadi komponen dot pada kedua sisi tersebut. Dan dari semua struktur dasar kartu domino, terditeksi enam buah kartu yang dapat memiliki muatan yang berbeda dari tampilan yang terlihat (1-2, 2-2, 2-3, 3-3, 3-4, 4-1). Keenam kartu ini kemudian di’lipat’ untuk memberikan muatan baru.

Metode Kunci ]Dot]

Hasil dari proses pelipatan ini kemudian dikembalikan pada struktur dasar kartu, seperti metode kunci pada kemasan, sehingga didapatkan kartu dengan struktur yang menyerupai hasil pelipatan. Hal ini juga berlaku pada proses kelima kartu lainnya sehingga seakan-akan didapatkan beberapa kartu ’tambahan’ untuk dapat menyambung kartu domino yang ada dalam permainan ini.

Proses Penyusunan [Kartu]

Setelah didapat ’kartu tambahan’ ini maka permainan mendapatkan alternatif baru dalam proses penyusunan kartu domino. Dengan ’bentuk’ baru ini, permainan domino mampu menstimulus otak untuk berpikir ’melipat’ dalam mencari penyelesaian dan memunculkan alternatif strategi untuk memenangkan permainan. Jadi permainan yang kasat mata dapat dikembangkan menjadi permainan di alam pikiran dan tetap asyik untuk dimainkan.

Dari percobaan kecil yang diintervensi ini saya belajar bagaimana koneksi menjadi penting dalam proses (penyusunan) baik dalam permainan maupun bidang serius (tidak main-main) lainnya yang lebih luas dan kompleks. Sekali lagi hal ini menunjukkan pula peran geometri dalam sebuah proses, tak terkecuali proses berarsitektur untuk menghasilkan alternatif-alternatif baru sebagai tanggapan atas perkembangan dunia arsitektur itu sendiri.

Bagaimana tanggapan anda?

Sumber:

http://teachingkinders.com/pages%20for%20samples/left.html

Transformasi me-Ruang

Filed under: process — andisuryakurnia @ 14:22
Tags: , ,

Proses yang berlangsung dalam pembuatan kemasan, dari pola yang terdapat pada bidang dua dimensi (dwimatra) menjadi wujud tiga dimensi (trimatra), menunjukkan suatu perubahan yang dikenal dengan istilah transformasi. Istilah ini dapat ditemukan dalam beragam aplikasi di dunia ini seperti musik, permainan, dan film. Belum lama ini dunia dipukau oleh film layar lebar yang menggabungkan teknologi industri film dengan teknologi komputer tingkat tinggi, berjudul ‘Transformer’, yang menggangkat tema perhelatan dunia di masa yang akan datang dimana terjadi interaksi antara manusia dan robot yang ‘hidup’ sebagai suatu transformasi dari bermacam-macam alat sederhana seperti perkakas dapur sampai pada alat transportasi canggih seperti jet kecepatan tinggi.

Dalam konsep me-‘ruang’ juga ditemukan beberapa contoh proses transformasi yang diaplikasikan baik dalam perencanaan maupun produk akhirnya, seperti pada furniture ‘transformer-shelf‘. Furniture ini bertujuan untuk dapat menampung berbagai material (seperti buku, alat tulis, perkakas, aksesoris, dsb), seperti layaknya sebuah rak atau lemari, pada ruang yang relatif sempit sehingga tidak membuat sesak ruangan yang ada dengan membagi lemari tersebut menjadi beberapa komponen yang memiliki fungsi penyimpanan masing-masing dan peng-’operasi’-annya ialah dengan menggeser komponen lemari lainnya sehingga efektifitas penggunaan lemari tersebut menjadi lebih tinggi.

Keringkasan menjadi dasar pertimbangan dalam pengadaan produk interior ini. Tujuan untuk meringkas suatu produk interior juga diperlihatkan melalui contoh lainnya dengan prinsip kerja yang berbeda yaitu dengan menumpuk (obelisk-transformer-chairs) atau menggabungkan komponen-komponen dari furniture tersebut  sehingga menjadi suatu bentuk yang compact (tennis-arm-chair).

Lain halnya dengan contoh karya arsitektur yang menjadi contoh aplikasi konsep transformasi yang dilakukan oleh OMA, Rem Koolhaas pada proyek ruang fashion terkemuka Prada di Korea Selatan (2008) tepat di kawasan bersejarah istana Gyeonghui. Transformasi diterapkan pada konsep perubahan wujud dan fungsi perusahaan fashion internasional Prada dimana mewadahi pelbagai event yang akan dilakukan di dalamnya – fashion exhibition), film festival, art exhibition, Prada fashion show). Transformasi didasarkan pada area lantai dasar yang dapat diputar bergantian dengan empat bentuk geometri seperti lingkaran, cross, segi empat, dan segi enam. Masing-masing bentuk geometri tersebut mewakili fungsi yang terkait dengan event dalam kurun waktu pergantian sebanyak 4 kali dalam setahun (3 bulan/event).

Transformasi yang terjadi mungkin tidak sehebat yang diilustrasikan pada film ‘Transformer‘, namun sebagai suatu pemikiran yang kemudian tertuang dalam dimensi yang dapat di-’tinggal’-i oleh manusia menjadi fenomena baru dalam proses berarsitektur. Dengan perputaran bentuk dan fungsi (form and function) maka kaidah form follow function ataupun function follow form bukan menjadi hal yang utama lagi. Yang menjadi perhatian utama adalah proses transformasi itu sendiri sehingga berbagai event dalam space dapat dinaungi oleh place di posisi yang sama. Skala bangunan ini kemudian berdampak pada skala kota yang lebih luas dimana atmosfer di sekitar bangunan turut terpengaruh oleh atmosfer event yang sedang berlangsung dalam kurun waktu tertentu.

Dari contoh-contoh ini kita dapat belajar bahwa dunia ini tidak statis melainkan dinamis, selalu terjadi perkembangan yang menunjukkan peningkatan pemikiran manusia terhadap dunia. Dan secara sadar pemikiran manusia juga mengalami transformasi, sehingga kondisi unreal dalam film ‘Transformer‘ bisa jadi real pada beberapa sektor kehidupan. Hal ini tak terelakkan dengan penemuan-penemuan mutakhir dari teknologi komputerisasi sebagai suatu bentuk transformasi sebuah peradaban. Aplikasi teknologi dalam ruang juga sangat dimungkinkan sehingga ruang nyata sekarang ini mampu bertransformasi menjadi cyber-space.

Siapkah kita menghadapi transformasi ini?

Sudah sejauh mana transformasi yang terjadi pada diri anda? Pemikiran dan ‘ruang’ anda?

April 1, 2010

Musik & Arsitektur = Ide

Filed under: architecture and other arts — caesarch @ 19:58
Tags: ,

Musik adalah bunyi yang dikeluarkan oleh satu atau beberapa alat musik yang dihasilkan oleh individu yang berbeda-beda berdasarkan sejarah, budaya, lokasi dan selera seseorang. Musik merupakan sebuah bentuk seni dengan menggunakan medium suara. Biasanya unsur musik terdiri dari pitch (yang mengatur melodi dan harmoni), rhythm (berkaitan dengan konsep tempo, meter, dan artikulasi), dinamika, dan kualitas sonik timbre dan tekstur.

Bagaimana dengan musik yang dimainkan oleh John Cage (seorang composer Avant Garde) yang berjudul “Four Minutes Thirty Three Second of Silent” (4’33”) yang terbagi dalam 3 bagian, dimana dia menginstruksikan para pemainnya untuk tidak memainkan satu pun alat musik pada sebuah konser. Yang ternyata ini menjadi karya John Cage yang sangat kontroversial dan terkenal

“Architecture is both the process and product of planning, designing and constructing space that reflects functional, social, and aesthetic considerations. Architecture also encompasses the pragmatic aspects of realizing designed spaces, such as project planning, cost estimating and construction administration”. (http://en.wikipedia.org/wiki/Architecture)

Yang selama ini kita (saya) tahu, arsitektur adalah sesuatu yang terlihat kasat mata, bangunan yang berdiri karena desain yang diwujudkan, jadi kita bisa melihat bahwa itu adalah arsitektur. Tetapi apa yang dikatakan Louis Kahn bahwa arsitektur tidak ada merupakan wacana tersendiri. Dia berkata bahwa yang ada adalah sebuah realitas yang dibangun dari perwujudan ide arsitektur.

Seperti yang dimainkan oleh John Cage dalam “Four Minutes Thirty Three Second of Silent”. Musik adalah ide, jadi bunyi yang kita dengar adalah perwujudan dari ide itu sendiri. Jadi menurut saya musik dan arsitektur mempunyai benang merah yang sama yaitu musik dan arsitektur adalah sebuah ide yang jika diwujudkan akan menjadi lagu dan juga bangunan seperti yang selama ini kita lihat.

March 31, 2010

Geometry in Traditional Architecture – ‘Rumah Gadang’

Filed under: locality and tradition — gemala @ 21:10
Tags: ,

Saat berbicara mengenai arsitektur, secara tidak langsung kita juga berbicara mengenai geometri yang merupakan salah satu unsur pembentuk arsitektur. Dan saat saya mengolah skripsi yang terkait dengan arsitektur tradisonal Minangkabau, saya menyadari ternyata hal ini tidak hanya berlaku untuk arsitektur modern tetapi juga berlaku untuk arsitektur tradisional yang eksis tanpa campur tangan arsitek.

Rumah gadang sebagai hasil dari proses berarsitektur masyarakat Minangkabau, bagi saya merupakan salah satu karya arsitektur yang sangat menarik. Hal ini bukan hanya karena saya adalah orang Minang tetapi juga karena saat melihat rumah gadang, secara visual kita disuguhkan pada permainan geometri yang tidak lazim. Ketidaklaziman ini salah satunya dapat dilihat dari massa rumah gadang yang besar ke atas sehingga memberi kesan tidak proporsional. Selain itu, hal yang juga cukup menonjol adalah permainan garis-garis lengkung pada atap gonjongnya yang curam dan runcing menjulang ke langit.

Bentuk-bentuk geometri seperti ini ternyata tidak muncul begitu saja tapi juga tidak berdasarkan pada teori-teori yang terkait dengan geometri seperti teori Vitruvius, Euclidean Geometry, Gestalt ataupun lainnya. Bentukan geometri seperti ini ternyata lahir sebagai simbol yang mewakili penghormatan dan penyesuain terhadap alam yang telah melewati proses trial and error. Proses ini berlangsung sekian lama hingga diperoleh bentuk seperti bentuk rumah gadang yang kita lihat sekarang ini.

Hal lain yang menarik saat mengenal arsitektur rumah gadang adalah bahwa ternyata ukuran yang dipakai tidak mengikuti kaidah metrik ataupun Golden Section yang dianggap dapat menciptakan sesuatu yang proporsional. Ukuran yang dipakai adalah ukuran tubuh manusia yaitu jari, jengkal, hasta dan depa. Namun walaupun menggunakan satuan yang secara metrik tidak dapat dipastikan keakuratannya (karena ukuran jari, jengkal, hasta dan depa pada tiap orang berbeda), rumah gadang tetap dapat dibangun dengan baik (dalam artian tidak ada masalah yang diakibatkan kesalahan ukuran). Hal ini bagi saya, lagi-lagi membuktikan bahwa alam atau sesuatu yang natural itu menyimpan kaidah-kaidah geometri yang ajaib.

Selain itu dalam kaitannya dengan arsitektur tradisional, geometri dianggap dapat merepresentasikan pandangan hidup masyarakat yang juga berlaku bagi arsitektur tradisional Minangkabau. Pandangan hidup orang Minang disimbolkan ke dalam bentuk-bentuk tertentu dan dijadikan sebagai bagian dari arsitektur. Disinilah geometri berperan sebagai penerjemah simbol-simbol tersebut kedalam bentuk visual.

Dengan mempelajari arsitektur tradisional khususnya rumah gadang ini,  saya melihat ada cara lain dalam memandang geometri sebagai bagian dari arsitektur. Geometri tidak hanya dinilai sebagai unsur arsitektur yang membantu memberikan nilai estetika pada bangunan namun juga sebagai representasi dari nilai-nilai yang dianut oleh suatu golongan masyarakat tertentu.

May 23, 2009

Hasrat Ber-Arsitektur

Filed under: contemporary theories — ayushekar @ 20:32
Tags: ,

Arsitektur tidak hanya melulu ruang dan hadir dalam keindahan bentuk, tetapi juga proses. Banyak arsitek ternama menghasilkan karya yang bisa dibilang terlihat biasa saja, tetapi ternyata diberikan apresiasi tinggi, karena prosesnya. Yang terpenting bukanlah B yang berasal dari A, tetapi area diantara A dan B. “Perjalanan” A menjadi B. Mengapa mereka terlihat dengan mudah menemukan metode tersebut? Karena mereka memiliki kepercayaan (belief).

Salah satunya adalah FOA (Foreign Office Architects). FOA percaya bahwa bentuk-bentuk yang dihasilkan memiliki suatu kedekatan atau kekerabatan dengan bentuk yang lain. Seperti sistem klasifikasi kekerabatan pada dunia biologi. Apa yang kemudian mereka sebut dengan PHYLOGENESIS. Kepercayaan tersebut yang menuntun mereka untuk meneliti dan menemukan apa yang mereka yakini.

Pada dasarnya FOA mencoba mencari parameter yang nantinya bisa mereka pakai dalam menentukan hubungan kekerabatan mereka. Meski dalam hal ini saya belum mengerti benar alasan mereka mengemukakan faciality, function, balance, continuity, dan lainnya. Meski banyak pertanyaan disekitar metode ini, seperti apakah bisa dipakai untuk semua bentuk bangunan dan semua arsitek, mengapa beranjak dari hubungan kekerabatan, dan pertanyaan lainnya, namun yang perlu digaris bawahi adalah proses penemuan metode tersebut, Sikap dan mental mereka.

Walaupun mereka menyadari betul metode yang mereka ciptakan akan menuai banyak protes, pertanyaan, dan sikap skeptis dari berbagai pihak, toh mereka tetap menjalaninya. Entah apakah mereka memang memiliki banyak waktu atau memang suatu tanggung jawab yang harus dilakukan, namun saya jadi berpikir bahwa bukankah seharusnya kita bersikap demikian. Mempertahankan dan membuktikan apa yang kita yakini, sehingga nantinya mahakarya tersebut tidak hanya sekedar berlabel “Iya bangunannya bagus.” tetapi juga “ wow ternyata …” ada sesuatu yang bisa dibawa siapa saja kedalam pengetahuan mereka. Hasrat seperti ini sulit ditemukan, tidak hanya di dalam diri saya, studio perkuliahan, hingga arsitek parktisi Indonesia saat ini.

Jadi, arsitektur tidak hanya berbicara hasil akhir, tetapi juga proses.

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.