there’s something about geometry + architecture

April 4, 2012

Persepsi simetri asimetri pada tokoh protagonis dan antagonis disney

Filed under: classical aesthetics — asysyifaazzahra @ 19:49
Tags: , ,

Berikut adalah pandangan beberapa tokoh mengenai hubungan simetri dan asimetri

Symmetry means rest and tie, asymmetry means movement and detachment. Order    and law here, arbitrariness and chance there; stiffness and compulsion here,  liveliness, play, and freedom there. [...] On the one extreme … the stiffness of complete standstill; on the other … the equally terrifying formlessness of chaos. Somewhere at the ladder between the two extremes, every style, every individual, and every artwork finds its own particular place. – Rudolf Arnheim

 Symmetry signifies rest and binding, asymmetry motion and loosening, the one order and law, the other arbitrariness and accident, the one formal rigidity and constraint, the other life, play and freedom. - Dagobert Frey

 a struggle between two opponents of equal power, the formless chaos, on which we impose our ideas, and the all too formed monotony, which we brighten up by new accents – Ernst Gombrich

 kutipan-kutipan diatas mengindikasikan bahwa simetri dan asimetri masing-masing memiliki deskripsi psikologi dan estetis yang saling melengkapi atau bahkan bertolak belakang satu sama lainnya. Tabel berikut merupakan rangkuman dari sifat-sifat psikologis dan estetika dari simetri dan asimetri

 

Symmetry

Asymmetry

Rest

Motion

Binding

Loosening

Order

Arbitrariness

Law

Accident

Formal Rigidity

Life, play

Constraint

Freedom

Boredom

Interest

Stillness

Chaos

Monotony

Surprise

Fixity

Detachment

Statis

Flux

Simplicity

Complexity

 

Aspek-aspek psikologis dan estetis diatas inilah yang akan saya jadikan acuan dalam menganalisa hubungan antara perspesi simetri-asimetri dengan penggambaran beberapa tokoh disney’s protagonist dan villains.

Secara umum, dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang cukup mencolok dari segi bentuk penggambaran tokoh protagonis dan antagonis dari film animasi disney. Tokoh-tokoh protagonis digambarkan dengan bentuk-bentuk yang lebih sleek, simetri dan teratur, sedangkan tokoh antagonis memiliki bentuk-bentuk yang lebih ‘acak’ dan bervariasi. Pada tokoh protagonis contohnya, semua Disney princesses memiliki bentuk tubuh dan wajah yang cenderung sama, sehingga penggambarannya terkesan monoton. Selain itu, elemen-elemen pembentuk karakternya, seperti rambut dan pakaian/gaun juga digambarkan dalam bentuk-bentuk yang teratur.

Lain halnya dengan penggambaran tokoh-tokoh antagonis. Bentuk-bentuk yang terdapat pada bagian tubuh tokoh-tokohnya cenderung abstrak dan acak, dan seringkali ada bagian-bagian tubuh atau pakaian yang unik dan kompleks, yang menjadi signature item dari si tokoh tersebut, sehingga ia terlihat lebih mencolok. Hal-hal tersebut memiliki hubungan dengan 2 pasangan sifat yang telah disebutkan pada tabel diatas, yaitu Monotony – Surprise, serta simplicity – complexity.

Pada film little mermaid, saya menemukan aspek lain yang memiliki hubungan selain dari segi bentuk fisik dan penokohan (sifat), yaitu dari segi pergerakan sang tokoh (movement). Ursula dan ariel sama-sama hidup dibawah laut dan bergerak dengan cara berenang. Namun, pergerakan dan bahasa tubuh Ursula terlihat lebih bebas dan dinamis, seolah-olah benar-benar mengekspresikan dirinya. Pergerakan rambut dan tentakel guritanya saat ia bergerak tidak selalu dalam arah yang sama, sedangkan bentuk yang ditimbulkan dari pergerakan ariel cenderung konstan dan teratur, arah pergerakan rambutnya cenderung mengikuti arah siripnya. Hal ini bisa dikaitkan dengan sifat binding dan loosening yang terdapat pada tabel.

Dapat disimpulkan bahwa penggambaran bentuk tokoh pada Disney’s protagonist dan villains dimana sang tokoh protagonist cenderung memiliki bentuk-bentuk simetri dan antagonis berbentuk asimetri, memiliki kesesuaian hubungan dengan sifat-sifat dari simetri dan asimetri itu sendiri. Yang pada konteks ini, hubungan yang saya lihat terdapat pada penokohan, yaitu sifat serta karakter masing-masing tokoh, dan juga movement dan gesture dari si tokoh tersebut

 

Sumber :

D. Frey (1949) Zum Problem der Symmetrie in der bildenden Kunst,

Studium Generale,

268–278. 10. J. Schummer (2003) Aesthetics of chemical products: materials,

molecules, and molecular models, HYLE – International Journal for Philosophy of Chemistry, , 73–104.

Kesimetrisan & Golden Ratio Wajah Yoona SNSD

Filed under: classical aesthetics,perception — ekaint09 @ 13:28
Tags: ,

Dalam buku Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III , Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III, Vitruvius menyatakan “…and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry.” Menurut Vitruvius ada dua hal yang mempengaruhi unsure keindahan yaitu proporsi dan simetri. Hal ini berdasarkan tubuh manusia yang memiliki proporsi yang baik pada setiap anggota  tubuhnya dan juga ada beberapa bagian tubuh yang simetri seperti tangan kanan dan tangan kiri, kaki kanan-kai kiri atau tentang letak mata dan telinga yang simetri dengan garis lurus di bagian tengan tubuh yang mebagi dua tubuh secara seimbang sebagai sumbunya.

Dalam bukunya pula , Vitruvius menjelaskan mengenai proposionalistas dan kesimetrisan setiap anggota tubuh manusia, dia menyatakan di ban on Symmetry: in Temples and in The Human Body “…if we take height of the face itself, the distance of the bottom of the underside proportion, and it was by employing them that the famous painters and sculptors of antiquity attained to great and endless renown. ” (Ten Books in Architecture, page 72). Vitruvius menjelaskan bahwa terdapat rasio disetiap bagian tubuh manusia secara keseluruhan. Pada kesempatan ini saya akan mencoba mencari tau kesimetrisan wajah Yoona SNSD yang notabene dianggap cantik oleh banyak orang terutama pria. dia juga merupakan salah satu wanita tercantik di Korea.

saya akan mencoba membuktikan apakah benar semua yang simetri itu indah, bagaimana kalu tidak simetri? apakah tetap indah? selain itu apakah pola golden ratio wajah yang baik atau cantik itu bisa memastikan wajah tersebut cantik? apakah kalau tidak pas dengan pola tersebut, berati orang tersebut tidak cantik?

berikut merupakan hasil analisa yang saya lakukan:

Gambar 3. Golden Ratio Wajah Yoona SNSD

Dari hasil analis diatas terlihat bahwa wajah Yoona itu tidak benar-benar simetri, karena apabila benar-benar simetri rasio wajahnya adalah 1. tetapi justru ketika saya menyimetrikan wajahnya baik dari sebelah kanan maupun dari sebelah kiri, malah membuat wajahnya terlihat aneh. ketidaksimetrian ini justru menciptakan sebuah keindahan, namun keindahan memang relatif. kesimetrisan memang menciptakan keindahan bila di arsitektur tetapi tidak pada proporsi manusia.

sedangkan pada gambar ketiga bisa dilihat wajah Yoona setelah diberi pola golden ratio, hampir semua bagian cocok dengan pola tersebut kecuali dibagian mata, matanya lebih sipit dan kecil dibandingkan dengan pola tersebut. mungkin dikarenakan Yoona ini orang Asia yang bermata sipit, dan Golden Ratio tersebut tidak dibuat dengan menyesuaikan proposional wajah Asia yang baik, melainkan untuk orang Eropa ataupun Amerika, menurut pendapat saya.Tetapi hal ini menurut saya tidak menggeser penilaian orang termasuk saya bahwa Yoona SNSD itu cantik, walaupun wajahnya tidak terlalu pas dengan pola golden ratio wajah yang sempurna.

sumber:

Vitruvius. 1960. Ten Books of Architecture

http://www.intmath.com/numbers/math-of-beauty.php

http://majorityrights.com/weblog/comments/the_facial_proportions_of_beautiful_people

Teori Klasik pada Tas Klasik

Filed under: classical aesthetics — ariestaokke @ 11:20
Tags: ,

Dalam matematika, dua kuantitas dalam golden ratio yaitu jika rasio antara jumlah dari dua kuantitas tersebut dan kuantitas yang terbesar sama dengan rasio antara kuantitas yang lebih besar dan lebih kecil.

Golden ratio sering dinotasikan dengan huruf Yunani phi (Φ atau φ). Golden section menggambarkan hubungan geometris yang mendefinisikan hubungan konstan ini. Golden ratio merupakan sebuah konstanta matematika yang irasional, sekitar 1,6180339887. Angka tersebut didapat dari deret Fibonacci yaitu sebagai berikut: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, ..

Sebuah golden rectangle adalah persegi panjang yang sisinya memiliki golden ratio 1: Φ

Golden spiral di bawah ini dibuat dengan membuat persegi dari dimensi deret Fibonacci. Golden spiral didasarkan pada pola persegi yang dapat dibangun dengan golden rectangle. Jika kita mengambil satu titik dan titik kedua adalah seperempat dari jarak titik pertama, titik kedua lebih panjang Phi kali dari pusat daripada titik pertama ke pusat.

Teori klasik seperti yang sudah dipaparkan di atas secara tidak langsung ternyata fit dengan beberapa fenomena seperti pada bangunan arsitektur maupun manusia serta alam ciptaan Tuhan. Lalu bagaimana dengan hasil karya seni lain? Seperti misalnya pada rancangan tas klasik yang sejak pertama kali dirancang hingga sekarang masih diproduksi. Apa yang menyebabkan tas tersebut masih diproduksi? Pastinya karena desainnya yang tidak lekang oleh jaman. Lantas mengapa desain tersebut tidak lekang oleh jaman sehingga tas tersebut masih digemari? Hal ini bisa dikarenakan estetikanya. Salah satu yang mempengaruhi estetika dalam seni adalah proporsi.

Salah satu tas wanita paling ikonik di dunia adalah tas Chanel dimana pegangan tas terbuat dari rantai. Tas Chanel 2.55 masih sebagai tas yang populer hingga kini walaupun diluncurkan sejak awal tahun 1955. Chanel 2.55 rantai tas yang mewakili lambang gaya dan simbol kemapanan tertinggi.

Pada gambar di atas ini, ternyata proporsi tas Channel 2.55 sesuai saat saya men-trace dengan golden spiral. Dimensi tas secara keseluruhan fit dengan sisi luar golden spiral, yaitu golden rectangle. Bagian “klep” penutup tas yang berlambang juga fit dengan garis dalam golden spiral (lihat gambar a). Jarak penutup tas dari bagian bawah juga fit dengan garis pada golden spiral.

Tas klasik selanjutnya adalah tas rancangan Louis Vuitton. Pertengahan abad ke-19, Eropa memasuki “era bepergian” dengan munculnya kereta listrik, mobil dan rute kapal laut yang menyeberang sampai Amerika. Louis Vuitton kemudian terinspirasi untuk membuat koper dengan konsep travelling in style, yang dimulai pada tahun 1867. Selain model koper, tas Louis Vuitton lain yang masih diproduksi hingga saat ini dengan model yang sama yaitu LV Speedy Bag.

Pada gambar di atas ini, saat gambar koper di-trace dengan golden spiral, yang benar-benar fit hanya pada bagian sisi luar golden spiral. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi koper, entah dibuat perancangnya membuat secara sadar atau tidak, sesuai dengan proporsi pada golden rectangle. Elemen pada koper yang merupakan bagian detail sebaga penambah fungsi estetis (lihat gambar c), hampir fit  dengan garis di dalam golden spiral (lihat gambar d).

Pada gambar di atas, proporsi LV Speedy Bag sesuai saat di-trace dengan golden spiral, walaupun juga tidak keseluruhan sesuai. Sisi luar golden spiral, yaitu golden rectangle fit dengan dimensi tas tidak secara keseluruhan yaitu hanya sampai dengan bagian pada pegangan tas (lihat gambar g).  Jarak pegangan tas hampir fit dengan garis dalan golden spiral (lihat gambar f).

Pada gambar di atas, terlihat bahwa prinsip golden spiral dan golden rectangle yang berdasar kepada golden ratio dari deret Fibonacci juga ditemui pada tas-tas bermerk yang muncul selanjutnya dan juga menjadi trend. Prinsip proporsi tersebut juga tidak semua benar-benar fit. Beberapa contoh fit secara dimensi keseluruhan yang berdasarkan golden rectangle. Ada juga yang fit di bagian peletakan detail, seperti elemen estetis (corak, dll), pegangan tas dan penutup tas.

Teori klasik seperti golden ratio, golden rectangle, serta golden spiral ternyata terkandung dalam beberapa karya seni seperti seni merancang tas. Prinsip proporsi yang mengacu pada teori-teori tersebut menghasilkan desain tas yang memiliki nilai estetika tinggi dan tetap long-lasting dan digemari pecinta tas dari masa tas tersebut pertama dibuat hingga saat ini. Berdasarkan pembuktian saya pada gambar tracing golden spiral terhadap tas-tas klasik tersebut seperti Chanel dann LV, secara umum prinsip proporsinya mengikuti teori tersebut, baik mengenai dimensi tas secara keseluruhan ataupun bagian peletakan elemen estetis dan fungsional. Bahkan prinsip klasik ini juga diikuti oleh perancang-perancang tas masa kini. Namun, apakah para desainer pernah mempelajari teori ini secara sadar, ataukah secara tidak sadar mereka belajar dari pengalaman dan menerapkan konsep teori ini ke dalam desain?

Sumber:

http://archnetwork.wordpress.com/?s=golden+section

http://mathworld.wolfram.com/GoldenRatio.html

http://britton.disted.camosun.bc.ca/goldslide/jbgoldslide.htm

http://www.xgoldensection.com/xgoldensection.html

http://www.goldennumber.net/hand.htm

http://collectionunique.blogspot.com/2011/11/kisah-coco-chanel-255.html

http://kue-unik.com/2010/10/cake-tas-louis-vuitton/

http://www.world-mysteries.com/sci_17.htm

March 26, 2011

Belajar dari Tuhan

Filed under: classical aesthetics — ferafarwah08 @ 21:45
Tags:

ini sebenarnya blog postingan untuk masukan ke site geometri. tetapi karena ada masalah dalam pemasukan gambar (belum diijinkan upload gambar oleh admin), akhirnya saya tulis diblog saya. silahkan berkunjung :)

http://ferafarwah08.wordpress.com/2011/03/26/belajar-dari-tuhan/

 

March 25, 2011

Peran Golden Section dalam Estetika Fotografi

Filed under: architecture and other arts — catherineviriya @ 17:09
Tags: , ,

Benarkah dalam Fotografi peranan Golden Section sangat berpengaruh? Apakah dalam melakukan teknik pengabilan gambar harus mengikuti aturan Golden Section baru suatu foto dikatakan proporsional dan memiliki komposisi yang tepat?

Di bawah ini saya melakukan sedikit analisis terhadap empat buah foto yang merupakan karya dari dua orang fotografer ternama di Indonesia yaitu Jerry Aurum dan Nicoline Patricia Malina dan kaitan foto tersebut terhadap Teori Golden Section.

Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic

karya Jerry Aurum                                                                                                                            karya Nicoline Patricia

Dua buah foto di atas yang merupakan contoh pertama ini merupakan hasil karya yang mengikuti kaidah Golden Section, dimana letak objek dititikberatkan pada pusat spiral yang merupakan acuan Golden Section, dari sini terlihat bahwa memang gambar yang mengikuti kaidah ini nampak proporsional dan memiliki nilai estetika yang baik

Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

karya Jerry Aurum                                                                                                                            karya Nicoline Patricia

Kedua foto diatas, masih merupakan karya dari fotografer yang sama dan bila dilihat juga memiliki komposisi yang baik dan proporsional, namun ketika saya memasukkan spiral acuan Golden Section ternyata kedua karya ini tidak mengikuti kaidah tersebut, karena objek yang ada di dalam foto dititikberatkan di tengah bidang foto, bukan pada pusat spiral seperti dua foto yang pertama.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa aturan Golden Section yang berlaku bukanlah sesuatu yang mutlak dan harus diikuti demi mendapatkan hasil yang baik, namun hanya merupakan “garis bantu” untuk menentukan komposisi dan proporsi yang tepat dalam sebuah karya fotografi.

March 23, 2011

Manusia dan Simetri

Filed under: classical aesthetics — adefadli14 @ 15:27
Tags: ,

Anda mungkin pernah mendengar kata samurai bukan? Seorang ahli pedang yang dapat menghabisi musuhnya hanya dengan sekali tebasan. Sekarang coba bayangkan anda adalah seorang samurai dan seseorang yang iseng meminta anda untuk membelah sebuah apel yang dilemparkannya pada anda di udara. Tanpa kesulitan sedikitpun anda membelah apel tersebut dengan sekali tebasan. Saya tidak akan mempertanyakan jurus atau aliran samurai apa yang terlintas dibenak anda saat membelah apel tersebut, melainkan kondisi apel tersebut setelah dibelah. Apakah anda membelahnya menjadi dua bagian tepat di tengah seperti pada gambar 1(a) atau tebasan anda terlalu cepat 0,1 detik hingga membelah pada bagian ujungnya saja seperti pada gambar 1(b)? Pada umumnya, dari percobaan yang saya lakukan setidaknya, mayoritas akan membelah apel tersebut tepat di tengah menjadi dua bagian sama besar, simetris.

www.freeimagehosting

Apa sih simetri? Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia didapat pengertian seimbang, selaras, sama kedua belah bagiannya. Jika ditelusuri dari asal katanya, kata simetri diambil dari bahasa Yunani  symmetros digunakan dalam bahasa Inggris menjadi symmetrical, suatu keseimbangan dalam proporsi. Apa sih proporsi? Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia didapat pengertian perbandingan, bagian, perimbangan. Jika ditelusuri dari asal katanya, kata proporsi diambil dari bahasa Inggris abad pertengahan   proporcion digunakan pertama kali pada abad ke – 14, suatu hubungan yang harmonis sebuah elemen baik dengan elemen lain maupun secara keseluruhan .

Manusia secara alami memiliki ikatan dengan simetri baik raga maupun rohani. Misalnya saja tim forensik menemukan hanya separuh wajah manusia, tim dapat merekonstruksi ulang menjadi sebuah wajah yang utuh karena ada simetri pada tubuh manusia. Dalam teknik menggambar misalnya, Scott Mcloud dalam bukunya “Membuat komik” menjelaskan bahwa dalam kondisi netral, tubuh manusia itu simetris. Perubahan pada posisi tubuh akan memberikan pesan lain pada karakter gambar tersebut. Selain itu, posisi tubuh pun dapat mempengaruhi emosi dan pikiran manusia. Jika anda sedang kesal, cobalah untuk memposisikan tubuh anda menjadi simetris hal ini biasa dilakukan saat orang akan bermeditasi maka perasaan anda berangsur – angsur akan membaik. Baik sadar ataupun tidak, bentuk simetri mempengaruhi kehidupan manusia dan memiliki tempat khusus pada pikiran kita semua. Maka tidak aneh jika hasil cipta karya manusia mendapatkan pengaruh yang besar dari sesuatu yang disebut simetri ini.

Mulai dari kuil Parthenon di Yunani hingga bangunan – bangunan pencakar langit pada abad ke -21, bangunan rancangan manusia masih (meskipun tidak semua) memperlihatkan bentuk – bentuk simetris pada elemen – elemen bahkan hingga bentuk keseluruhan. Vitruvius dalam bukunya “THE TEN BOOKS ON ARCHITECTURE” menjelaskan bahwa simetri merupakan bagian dari prinsip dasar arsitektur karena simetri merupakan penyesuaian yang tepat bagi elemen – elemen pada sebuah bangunan. Bangsa Yunani kuno sangat menggemari bangunan simetris karena kemegahan yang ditimbulkannya yang hingga kini tetap dikagumi bahkan dijadikan contoh untuk bangunan – bangunan pemerintahan di dunia. Manusia memang memiliki ikatan khusus dengan simetri dan cipta karya yang dihasilkan oleh bentuk simetri pun diakui memang memiliki kualitas yang baik namun, sebagai seorang arsitek, seorang perancang, apakah rancangan yang dilakukan harus berdasarkan hukum simetri? Mengutip perkataan guru saya saat SMA yang melakukan percobaan samurai dan apel di atas pada saya beberapa tahun yang lalu, “Kalau kamu membayangkan apel tadi terbelah dua sama besar, berarti pikiran kamu belum terbebaskan”.  Saya menyimpulkan bahwa pikiran mengenai aturan yang ada, trend, sesuatu yang seharusnya, hal yang wajar merupakan hal – hal yang membatasi imajinasi dan pemikiran. Walaupun begitu, jawaban dari pertanyaan haruskah mengikuti hukum simetri tentu kembali pada diri masing – masing. Mungkin kembali membayangkan menjadi  samurai bisa membantu?

Referensi

Vitruvius. The Ten Books of Arcitecture. trans by Morris Hicky Morgan, Ph.D, Ll.D

Mcloud, Scott. 2008. Membuat komik.Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

http://www.merriam-webster.com/dictionary/symmetry

http://www.merriam-webster.com/dictionary/proportion

Boom Sale!!!

Filed under: perception — androkaliandi @ 15:19
Tags:

Siapa hari ini yang tidak senang mendengar kata sale, atau kata discount? Apabila kita jalan-jalan di pusat perbelanjaan kota, pasti kita pernah menemukan kata ini. Meskipun niatnya jalan-jalan, setidaknya mata kita melirik ke retail yang memasang poster sale atau discount. Tidak jarang ada orang yang masuk untuk melihat barang apa saja yang di-discount dan membelinya (laper mata).
Nah apakah yang membuat poster sale atau discount itu menjadi ajang promosi?
Kemudian saya googling tentang sale dan discount, kemudian menemukan gambar dibawah ini:

Image and video hosting by TinyPic
Gambar A

Image and video hosting by TinyPic
Gambar B

Kemudian saya menemukan definisi sale dan discount.
Definisi sale:
a selling of shop goods at lower prices than usual (www.etymonline.com)
sedangkan kamus Merriam-webster mengkategorikan beberapa jenis sale, antara lain:
Midnight sale
Bargain sale
Yard sale
Garage sale

Definisi discount:
dis- (see dis-) + computare “to count” (www.etymonline.com)
a reduction made from the gross amount or value of something: as a (1) : a reduction made from a regular or list price (2) : a proportionate deduction from a debt account usually made for cash or prompt payment b : a deduction made for interest in advancing money upon or purchasing a bill or note not due (www.merriam-webster.com)

Gambar A adalah hasil pencarian Google terhadap kata sale, sedangkan gambar B adalah hasil pencarian Google tentang kata discount. Gambar yang muncul pada hasil pencarian google tehadap kata sale adalah gambar-gambar label/poster/logo yang cenderung memiliki bentuk kotak (persegi). Mengapa demikian? Menurut saya sale merupakan event (Midnight sale, Bargain sale, Yard sale, Garage sale), belum mencantumkan berapa besar potongan harga yang diberikan. Sehingga posternya simple (menggunakan geometri yang sederhana: persegi) menyajikan informasi yang general.
Sedangkan gambar yang muncul pada hasil pencarian google terhadap kata discount adalah gambar-gambar label/poster/logo yang cenderung memiliki bentuk lebih random (bentukan boom, bentukan splash). Poster discount tampil eksentrik diantara bentuk persegi yang hadir di ruang pusat perbelanjaan. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian pembeli untuk mengetahui seberapa besar potongan yang diberikan (30%, 50% atau bahkan 70%).
Desain persegi dan boom-a-like ini masih menarik ditelusuri terkait dengan brand imaging dan target market. Atau ada hal-hal lain yang diperhatikan perancang dalam menentukan geometri posternya.

Golden Ratio of Beautiful Face

Filed under: classical aesthetics — Ryan Tjahjadi @ 14:41
Tags: ,

Banyak orang yang mengatakan bahwa kecantikan seseorang itu relatif. Namun manusia selalu ingin mengobjektifkan sesuatu yang dianggap subjektif. Lalu apakah ada kecantikan yang absolut? Apakah ada parameter yang akurat mengenai cantik atau tidaknya seseorang?
Banyak sekali wacana yang membahas mengenai kecantikan dan dikaitkan dengan Golden Ratio atau Golden Section.
Golden Ratio pada wajah dibentuk oleh deret Fibonacci yaitu 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, .. yang dari deret ini diapatkanlah golden ratio / Φ = 1.618 033 …
Dari Φ inilah dapat dibuat proporsi-proporsi untuk tubuh manusia. Sebenarnya golden ratio pada tubuh dan wajah manusia ini sudah ditemukan oleh Leonardo Da Vinci berabad-abad yang lalu. Namun apakah ini menjadi patokan yang absolut untuk menguji kecantikan manusia??
Maka dari golden ratio itu dibentuklah Golden Ratio Mask untuk menguji kecantikan wajah seseorang. Seperti inilah bentuknya..golden ratio maskhollywood

Mask ini sudah banyak dicobakan ke wajah-wajah manusia di penjuru bumi khususnya di kalangan artis-artis hollywood. Dan ada beberapa artis yang sangat cocok dengan ‘mask’ ini sehingga kecantikannya dianggap absolut. Beberapa diantaranya adalah Angelina Jolie, Jessica Simpson, Tom Cruise, dan lain lain..
Namun ada pula artis-artis hollywood yang tidak cocok dengan ‘mask’ ini seperti Kirsten Dunst, Audrey Hepburn, Olivia Hussey, dan lain-lain.. namun tetap saja menurut saya mereka sangat cantik.
Lalu apakah golden ratio itu akurat / absolut? Mungkin memang akurat namun tidak untuk mendefinisikan kecantikan.. kembali lagi pada teori relativitas dari Bung Einstein..
Saya pun tergoda untuk mencobakan golden ratio masks itu pada beberapa foto orang termasuk foto saya sendiri. Dan beginilah hasilnya…

Sekilas memang terlihat bahwa wajah saya secara keseluruhan cocok dengan golden ratio mask ini. Namun jika diperhatikan lebih lanjut, ada bagian-bagian yang tidak cocok seperti pada cuping hidung dan alis mata.
So.., do you think I’m beautiful ?? :)

Sumber :

http://www.intmath.com/numbers/math-of-beauty.php

http://vladayvozkjusys.blogspot.com/2011/03/proportions-of-face.html

March 22, 2011

Mari Bermain dengan Proporsi

Filed under: classical aesthetics — mijohanes @ 08:42
Tags:

Dalam buku Architecture and Mathematics in Ancient Egypt, Corrina Rossi mencoba untuk menganalisa bentuk bentuk arsitektur pada Mesir Kuno secara matematis. Pada bab pertama membahas tentang proporsi-proporsi yang dianggap baik dan juga aturan proporsi yang mungkin berlaku. Pada awalnya saya tertarik dengan penggunaan segitiga-segitiga yang dianggap sebagai elemen utama dalam arsitektur Mesir. Rossi merujuk pada hasil observasi Viollet-le-Duc (1863) terhadap “egyptian triangle” yang memiliki perbandingan tingga dan alassnya 5:8. Tetapi mengapa proporsi 5:8 itu menarik seperti layaknya golden section. Kutipan selanjutnya menjelaskan bagaimana proporsi tersebut menjadi menarik mata.

“the relation to 5 in height and 8 in breadth satisfies the eye. Now, while it is difficult to prove why a visual sensation is pleasing or displeasing, it is at least possible to define this sensation.
As I said above, dimensions become proportions sensible to the eye, – that is, comparative relations of lengths, breadths, and surfaces, – only as far as there are dissimilarities between these dimensions. The relations of 1 to 2 or of 2 to 4 are not dissimilarities, but equal divisions of similars, reproducing similars. When a method of proportions obliges the designer, so to speak, to give divisions which are as 8 to 5, e.g. 5 being neither the half nor the third, nor the fourth of 8, sustaining a relation to 8 which the eye cannot define, you have already, at the very outset, a means of obtaining the contrasts which are necessary for satisfying the “first law of proportions.”
Viollet-le-Duc, Lectures on Architecture, pp. 405–6.

Ternyata yang menjadi sumber dari keindahan sebuah proporsi adalah hubungan antara elemen panjang dan lebar harus tidak dapat didefinisikan oleh mata, setidaknya itulah menurut Viollet-le-Duc. Pernyataan ini mengingatkan saya bahwa banyak produk-produk yang berbentuk persegi empat memang tidak memiliki perbandingan yang mudah terbaca oleh mata. Misalnya saja layar televisi memiliki proporsi 4:3, layar televisi widescreen saat ini berproporsi 16:9. Berikut contoh-contoh persegi panjang dalam berbagai proporsi, sekarang saatnya bagi pembaca untuk membuktikan apakah Viollet-le-Duc benar mengenai hukum proporsinya.

Uploaded with ImageShack.us

Disini pembaca dapat melihat sendiri, menurut saya gambar di sebelah kiri memang lebih memiliki dinamika dan sulit untuk ditebak oleh mata proporsinya. Hal yang remeh tetapi cukup berperan dalam menghadirkan keindahan.

Referensi:
Viollet-le-Duc, Eug`ene, Lectures on Architecture (Entretiens sur l’architecture, Paris 1863), English translation by Benjamin Bucknall, New York: Dover Publications, 1987.
(diambil dari kutipan Architecture and Mathematics in Ancient Egypt oleh Corinna Rossi:2003)

March 31, 2010

Art Berbasis Hitungan (Logika dan Argumen)

Filed under: classical aesthetics — meitha28 @ 20:55
Tags: ,

Apakah desain hanya mengandalkan sisi art?? Pertanyaan ini selalu tebayang oleh saya lalu apakah ada suatu desain yang berdasarkan atas logika scientist?? saya sempat terperangah dengan salah satu film ‘Da Vinci Code’ dimana lukisan monalisa tidak hanya berdasarkan atas art dan spontanitas namun dibalik yang terlihat spontanitas terdapat hitungan dan argument yang berdasarkan akan logika hitungan

Hitungan (logika argumen) –>art

Sebagai contoh argumen bahwa art dapat dibasickan atas dasar hitungan bahwa Da Vinci melukis jarak kemiringan hidung memiliki hitungan tersendiri atas dasar jarak antara bumi dengan bulan dan masih banyak contoh lainnya yang membuat saya terperangah bahwa contoh satu buah karya seni dapat dengan sangat mengejutkan bedasarkan logika hitungan yang dapat menghasilkan suatu art yang sangat unik. Terkadang banyak karya seni yang mulanya terlihat art spontan namun ternyata art tersebut memiliki basic kuat lain (logika) yang melatar belakanginya yang membuat karya art tersebut indah. Jadi tidak semua karya art dapat berlangsung secara spontanitas namun terkadang dibalik karya yang baik terdapat argument tersendiri.

“ The concept of proportion is in compotition the most important one wheather it is used consciously or un consciously ” (Matila Ghyka, 1952)

Namun apakah ini juga terpakai dalam bidang arsitektur?? Hal ini juga menjadi suatu pertanyaan besar bagi saya. Apakah suatu karya arsitektur berdasarkan logika hitungan yang kemudian dapat menghasilkan karya tiga dimensi arsitekur dengan seni tinggi??

Keterkaitan antara Golden Section dengan Bilangan Fibonacci

Filed under: classical aesthetics — meitha28 @ 20:51
Tags: ,

Dalam geometri membahas dengan berbagai macam hal salah satu geometri memang erat kaitannya dengan golden section. Namun tidak hanya membahas apakah geometri itu namun apakah golden section dengan bilangan Fibonacci saling terkait?? Pertama-tama perkenalan akan golden section, apakah golden section? Golden section merupakan salah satu hitungan yang banyak dipakai dalam barbagai hal (pembuatan piramid, struktur wajah manusia, tubuh manusia, struktur keong, alam dll) dengan perhitungan:

Φ = ( 1 + √5)/2

Φ = 1.618…

Namun apakah bilangan Fibonacci?? Bilangan Fibonacci banyak digunakan sebagai pengaturan lantai dengan kotak berukuran (segi arsitektur) denga latar belakang perhitungan:

0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, 233, 377, 610, 987, 1597, 2584, 4181, 6765, 10946…

Barisan bilangan Fibonacci dapat dinyatakan sebagai berikut: Fn = (x1^n – x2^n)/ sqrt(5) dengan

  • Fn adalah bilangan Fibonacci ke-n
  • x1 dan x2 adalah penyelesaian persamaan x^2-x-1=0

Perbandingan antara Fn+1 dengan Fn hampir selalu sama untuk sebarang nilai n dan mulai nilai n tertentu, perbandingan ini nilainya tetap. Perbandingan itu disebut Golden Ratio yang nilainya mendekati 1,618.

Maka dengan hasil yang hampir sama dengan angka yang mendekati 1,618 maka golden ratio dengan bilangan Fibonacci memiliki benang merah tersendiri yaitu kesamaan hasil dan hitingan walaupun memiliki kegunaan yang berbeda dalam terapannya.

April 3, 2009

Munculnya Classical Order

Filed under: classical aesthetics — synurqamariah @ 19:12
Tags: ,

Classical order adalah aturan-aturan seni yang muncul yang diciptakan oleh beberapa orang tertentu pada masa Romawi dan Yunani kuno. Gaya-gaya seni kuno ini khususnya terdapat pada desain bangunan, dibedakan oleh proporsi, profil, detail dan karakteristiknya. Cara paling cepat mengenalinya yaitu dengan melihat tipe kolom bagian utamanya, dimana setiap gaya memiliki entablature-nya masing-masing.

Munculnya classical order ini bukan tanpa sebab. Seperti yang dikatakan oleh D’Arcy Thompson yang mengemukakan bahwa terbentuknya sebuah bentuk (form) merupakan resultan dari kehadiran banyak force yang berada di dalam atau di sekitarnya. Banyak dorongan yang menyebabkan munculnya suatu bentuk. Pada buku berjudul Classical Architecture Oleh Alexander Tzonis, Liane Lefaivre dikatakan bahwa pada masa itu klasik sangat berhubungan aturan sosial dan perkembangan politik [buku berjudul Classical architecture Oleh Alexander Tzonis, Liane Lefaivre]. Aturan sosial pada masa itu yaitu adanya kelas-kelas sosial dalam masyarakatnya. Dalam suatu seminar, Prof Ir. Gunawan Tjahjono, pakar di bidang sejarah arsitektur, pernah mengatakan :“Klasik berasal dari kata bahasa latin CIassicus artinya kelas satu untuk warga (negara) kelas satu. Warga negara terpilih ini yang kemudian menentukan cita rasa baku sekaligus yang dianggap sebagai yang terbaik atau kelas satu pada jaman itu. Termasuk dalam penampilan bangunan. Maka kemudian kata klasik digunakan untuk menunjukkan sebuah karya unggul. Kelas-kelas unggul ini berasal dari Romawi kuno yang memang membagi masyarakatnya ke dalam beberapa tingkatan / kelas. Itu sebabnya setiap hasil karya bangunan dilakukan dengan sangat serius dan begitu indah. Aturan dan proporsinya bertujuan mencapai kesempurnaan.”

Warga negara kelas satu yang dibicarakan adalah merupakan warga yang memiliki kekayaan dan harga diri tinggi. Mereka yang memiliki prestise tinggi ini tentu memiliki selera yang tinggi pula. Mereka tentu menginginkan sesuatu yang mewah dan megah di sekitar mereka. Sesuatu yang mewah dan megah ini tentunya tidak didapat dengan mudah. Oleh karena itu bangunan-bangunan yang dibangun pada masa itu dirancang sedemikian megahnya. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Gunawan, “aturan dan proporsinya bertujuan mencapai kesempurnaan”.

Jadi salah satu force atau dorongan yang mempengaruhi munculnya Classical Order yaitu keadaan warga pada saat itu yang tergolong ke dalam kelas-kelas tertentu, kemudian warga dari kelas tinggi itulah yang menginginkan kesempurnaan, dalam arti kemegahan dan kemewahan, maka dari itu muncullah bentuk-bentuk Classical Order.
p
Salah satu classical order yaitu Doric Order. Doric order merupakan order yang paling sederhana dari order lainnya, bisa dilihat pada bangunan Parthenon yang dibangun pada masa Yunani kuno. Parthenon dikatakan sebagai ‘kesempurnaan terbesar dari karya kuil Doric yang pernah dibangun’, sebuah penampilan dengan proporsi sempurna yang dihsilkan ole ahli maya-loka Athena. Perbandingan antara tinggi dan ketebalannya adalah 8 : 1, yang memberikan kesan megah dan besar.

April 2, 2009

Alam sebagai Basis Perancangan, Kaidah Proporsi dan Arsitektur

Filed under: classical aesthetics,nature and architecture — tezzanurghina @ 08:13
Tags: , ,

Hampir sepuluh tahun yang lalu, saya menonton sebuah film kartun yang berjudul “Donald in Mathmagic Land”. Maklum, karena sepuluh tahun lalu saya masih duduk di bangku SD, saya kurang memahami isi dari film kartun ini karena menggunakan Bahasa Inggris dan tidak ada subtitle-nya. Apalagi saya tidak tertarik untuk menontonnya karena film kartun ini membahas matematika. Tetapi dari sinilah awal saya mengenal geometri dalam arsitektur, walaupun masih dalam pengertian sederhana.

Di dalam film ini diceritakan bahwa bentuk-bentuk alam memiliki geometri yang ‘ajaib’. Bintang adalah salah satu bentuk (wujud) yang sangat banyak ditemukan pada alam, misalnya pada bunga, dan beberapa jenis organisme air. Bintang merupakan bentuk geometri yang ‘ajaib’ karena garis-garis penyusun bentuk bintang dapat menghasilkan golden proportion.

Natural forms

Dari golden proportion, dapat terbentuk golden rectangles, yang bila disusun terus menerus seperti pada ilustrasi berikut akan menghasilkan pola bentuk spiral, seperti pola spiral pada keong.

golden-rectangles

Kemudian, golden rectangles ini banyak diaplikasikan sebagai suatu kaidah perancangan pada arsitektur klasik. Contohnya pada bangunan Parthenon berikut, yang menggunakan kaidah golden rectangles (atau golden proportions) mulai dari lingkup bangunan secara keseluruhan sampai pada detail terkecilnya. Tidak hanya digunakan pada arsitektur, kaidah tersebut juga banyak diaplikasikan pada karya seni klasik, seperti patung atau lukisan.

parthenon

sculpture-and-paintings

Manusia banyak terinspirasi dari alam. Manusia cenderung hidup dengan belajar dari alam sekitarnya, mensarikan yang ia pelajari, kemudian mengaplikasikan hasil pembelajarannya tersebut terhadap apa yang ia ciptakan.
.. For Aristotle, imitation (mimesis in Greek) is the natural human ability to envision things as they ought to be, as a modified version of the way they are.. (Crowe:1999)

.. Vitruvius therefore is saying that mimesis is natural to man, that it involves learning from things as they are found to be and then building upon that knowledge to make things “as they ought to be”.. (Crowe:1999)

Saya melihat ada suatu kesinambungan antara bentuk-bentuk alam, proporsi, dan arsitektur. Menurut saya, pada zaman arsitektur klasik, manusia mempelajari geometri dari bentuk-bentuk alam dan mensarikan pola-pola yang berhasil terungkap. Seperti bentuk bintang tadi yang banyak ditemukan di alam, ternyata menghasilkan golden proportion. Atau tubuh kita sendiri yang ternyata juga mengandung kaidah golden proportion. Dan kaidah tersebut diterapkan pada karya-karya manusia, termasuk arsitektur.

Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, bila saat itu manusia memang mempelajari bentuk-bentuk alam, mengapa “rumusan” yang dihasilkan berupa kaidah proporsi yang cenderung terkotak-kotak (ber-grid-grid), dan penuh dengan perhitungan matematis (seperti pada golden proportion atau teori Fibonacci)?

Eugene Tsui, seorang pengarang buku Evolutionary Architecture (Nature as a Basis for Design), mengatakan …the designation of space is determined by purely responsive and compositional elements, not as a grid-plane layout… (Tsui:1999)

Ruang merupakan sesuatu yang memiliki variasi bentuk dan pola, dinamis, dapat menekuk, melengkung, dan berliku-liku. Tidak ada order. Bila alam adalah basis untuk merancang, mengapa harus membuatnya terkotak-kotak?

Nature does not come forth with a predetermined shape (like the box) and then try to negotiate forces acting on that shape. In nature, the shape is determined by the forces act on it. (Tsui:1999)

Kembali lagi kepada film kartun “Donald in Mathmagic Land” dan perhatikan ilustrasi berikut. Siluet seorang gadis menggambarkan proporsi yang “ideal”, dan Donald digambarkan tidak memiliki postur yang proporsional. Jika siluet gadis saya analogikan sebagai arsitektur klasik yang menerapkan kaidah-kaidah proporsi golden rectangles, dan Donald Duck adalah arsitektur yang tidak memenuhi prinsip golden rectangles. Donald Duck tidak akan ada bila ia tidak menyimpang dari kaidah proporsi golden rectangles. Begitupula dengan arsitektur kontemporer, arsitektur kontemporer tidak ada bila tidak menyimpang dari kaidah proporsi arsitektur klasik. Arsitektur tidak harus memenuhi kaidah proporsi golden rectangles, bukan?

donald-trying-to-be-proportional1

Sumber:
1. VCD Donald in Mathmagic Land by Walt Disney Pictures
2. Evolutionary Architecture by Eugene Tsui
3. Nature and the Idea of a Man-Made World by Norman Crowe

February 24, 2009

Beauty in Deconstructivist Architecture

“We don’t want architecture to exclude everything that is disquieting. We want architecture to have more… Architecture should be cavernous, fiery, smooth, hard, angular, brutal, round, delicate, colorful, obscene, voluptuous, dreamy, alluring, repelling, wet, dry and throbbing.” (Himmelblau 1988: 95)

Apabila kita melihat dekonstruksi arsitektur dimana ia menggunakan geometri sebagai ekspresi kebebasan bentuk dalam berarsitektur, bagaimana bila ia dihubungkan dengan prinsip Vitruvius dalam buku Ten Books on Architecture? Dapatkah saya mengatakan bahwa keindahan yang menurut Vitruvius adalah ketika elemen pembentuk berada dalam proporsi yang sesuai dengan prinsip simetri tidak berlaku dalam dekonstruksi arsitektur? Mungkinkah mengatakan sesuatu yang brutal, berada di luar konsep harmony, unity dan stability dapat kita katakan beauty?

“…and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry” (Vitruvius: Ten Books On Architecture. Book One. Chapter Three)

Secara pribadi, well, saya mengatakan bahwa karya – karya mereka sangat indah karena menggambarkan adanya kebebasan dari keterikatan aturan proporsi dan simetri. Karya – karya mereka menggambarkan lepasnya diri mereka dari doktrin ataupun pengalaman manusia di masa lalu. Pengalaman dari masa lalu, contohnya pendidikan yang diperoleh dari masa Taman Kanak – Kanak hingga SMU, kita hanya dikenalkan pada bentuk – bentuk geometri dasar; kubus, pyramid, balok, prisma, silinder, bola, dan lainnya. Pada saat itu, karakter diri kita sebagai pihak pasif yang menerima begitu saja, tanpa disadari membentuk pemikiran tersendiri bahwa itulah yang dimaksud geometri. Apakah memang geometri hanya sekedar itu? Padahal bila kita telaah kembali arti kata geometri, yaitu mengukur bumi (measuring the earth), geometri bukan hanya sekedar itu. Bumi adalah alam, dan alam, menurut saya, secara mendasar adalah suatu hal yang dinamis dan tidak statis atau diam, dalam arti penuh perubahan. Alam adalah suatu hal yang dapat saya katakan bebas, tidak terikat. Dari pemahaman ini, saya kemudian menyimpulkan bahwa geometri adalah suatu hal yang bebas dan penuh kedinamisan.

Kembali kepada topik, jika memang segala yang kita katakan indah adalah berdasar apa yang dikatakan Vitruvius, maka dapatkah saya katakan bahwa dekonstruksi arsitektur tidak memiliki nilai keindahan? Melihat karya mereka tidak berdasar pengetahuan atau pengalaman banyak orang yang cenderung melihat keharmonisan dalam bentuk ataupun berdasar feeling akan adanya proporsi. Mereka juga tidak melakukan perhitungan matematika terlebih dahulu untuk menemukan nilai phi. Keindahan menurut Vitruvius, tidakkah ia bersifat mengikat terhadap bentuk arsitektur yang ada? Apakah adanya golden section untuk menemukan proporsi yang baik sedikit ‘kejam’ sehingga apapun yang berada di luar hitungannya tidak dapat kita katakan indah? If that so, then what will we call this deconstructivist architecture? Bad? Ugly?

Reference:
1. Johnson and Wigley. Deconstructivist Architecture. The Museum of Modern Art, New York.
2. Vitruvius. The Ten Books on Architecture.

February 18, 2009

Proportion in Design; Feeling or Calculation?

Filed under: classical aesthetics — def1 @ 13:10
Tags: ,

Ketika kita melihat sesuatu itu indah atau jelek sebenarnya apa yang kita lihat sehingga dapat menyimpulkan demikian, hal apa yang membedakannya. Mungkin salah satunya kita melihat adanya ketidaksesuaian atau ketidak pas-an pada sesuatu yang kita katakan jelek. Sesuatu (sebuah benda) terbentuk dari komponen – komponen yang tersusun sehingga membentuk bentuk tertentu, komponen –komponen tersebut membentuk suatu komposisi dengan memperhatikan perbandingan jarak dan atau ukuran antar bagiannya sehingga komposisi yang terbentuk menciptakan suatu kesan yang ‘pas/sesuai’. Dimana disebutkan oleh Plato,in Timaeus : “the good is always beautiful and beautiful never lacks proportion” yang menjadi pertanyaan bagi saya disini adalah perbandingan yang kita peroleh sehingga membentuk komposisi yang indah itu sebenarnya kita peroleh darimana? Berdasarkan feeling kah atau harus berdasarkan pada hitungan tertentu? Dan apakah yang menggunakan feeling akan menghasilkan suatu komposisi dengan perbandingan yang sama tepatnya dengan bila perbandingan itu dihitung berdasarkan hitungan tertentu, apakah bisa sama indahnya?

Ketika seorang arsitek mencoba untuk mensketsa sebuah desain apakah saat itu mereka memperhitungkan perbandingannya secara ‘matematika’? tentunya mereka akan membuat dengan proporsi yang pas tapi menurut saya sebagian besar adalah hasil dari feeling, entah pendapat saya benar atau tidak. Tetapi dari pengalaman saya selama menjalani studio perancangan, rasanya sedikit sekali yang mengacu dan berdasarkan pada perhitungan secara matematika, yang justru diutamakan adalah desain itu terlihat indah dan itu adalah berdasarkan feeling kita, kita mencoba sampai kita mendapatkan suatu komposisi yang pas. Atau mungkin selama ini sebenarnya ketika kita mencoba untuk menemukan proporsi yang pas kita telah melakukan perhitungan-perhitungan yang secara tidak langsung kita lakukan, jadi feeling yang kita dapat itu sebenarnya kita peroleh karena kita telah mendapatkan perhitungan yang sesuai?

February 15, 2009

Classical Architecture

Filed under: classical aesthetics — r1ss @ 20:27
Tags: , , ,

Style Vitruvius pada arsitektur yang lebih condong ke Arsitektur Klasik merupakan arsitektur yang sangat terpaku pada order, proporsi, dan simetri pada setiap aspek bangunannya. Seperti yang dikatakannya dalam buku Ten Books of Architecture bahwa arsitektur bergantung pada order, pengaturan (arrangement),eurythmy, simetri,propierty,dan ekonomi. Dan kemudian keenam aspek ini yang mengatur setiap aspek-aspek pada design arsitektur klasik tersebut. Seperti peletakan bangunan yang cocok yang sesuai dengan penerangan Jupiter, bulan, atau kecocokan proporsi antara lebar dan panjang pada setiap bagian bangunan. Bahkan Vitruvius juga menjelaskan banhwa proporsi yang tepat pada bangunan bisa mengacu pada proporsi tubuh manusia dimana ada kepala,badan, dan, kaki.

Thus in the human body there is a kind of symmetrical harmony between forearm, foot, palm, finger, and other small parts; and so it is with perfect buildings.” (Ten Books of Architecture)
Dijelaskan bahwa dengan proporsi yang sempurna seperti pada tubuh manusia maka bangunan itu akan menjadi bangunan yang sempurna. Namun yang ingin saya pertanyakan adalah apa bangunan itu bisa selalu dikatakan sempurna ketika bangunan itu selalu terpaku pada aturan-aturan yang sudah ditetapkan pada arsitektur klasik. Apakah bangunan yang terbagi dengan tepat antara kepala, badan, dan kaki bisa dijadikan acuan sebagai arsitektur yang baik?
klasik-edit

Mungkin sebenarnya apabila dilihat dari perspektif lain, aturan-aturan ini malah seperti mengikat kita untuk membuat sesuatu yang sama secara terus-menerus. Sehingga geometri dari arsitektur ini pun menjadi sangat kaku. Dan ini mungkin yang mambuat arsitektur klasik sangat khas dalam fasad maupun denahnya. Keterikatan akan aturan-aturan arsitektur klasik ini juga sempat dikatakan dalam sebuah buku S,M,L,XL, dimana ketika diadakan rekonstruksi kembali kota Rotterdam muncul pendapat-pendapat bahwa mereka menginginkan kota baru yang tidaklah ideal, dimana harus terikat dengan rules,propositions sehingga membuat kota itu malah terasa sangat steril bagi mereka.
“ Orthogonality become suspect. “What about 60 degrees, or 120 degrees?”..It can dance on angle..The new centre was “not really a city”..How about freedom of rules,propositions,purpose..”(S,M,L,XL.Rem Koolhas)

Arsitektur klasik yang dominan sangat orthogonal menjadi dianggap kaku, dan tidak diinginkan. Karena kakuan dari aturan-aturan itu membuat kota tersebut menjadi tidak familiar bagi masyarakatnya sendiri. Lalu muncul pertanyaan lain, apakah adanya ketidakcocokan ini berkaitan dengan waktu. Dimana mungkin arsitektur klasik itu sangat cocok di waktunya dulu namun tidak lagi cocok di waktu yang sekarang? Pengembangan arsitektur klasik pada zaman-zaman setelahnya juga sempat dilakukan dimana memunculkan style yang baru yaitu style neo-classical. Namun pengembangan ini juga tidak mengubah sebagian besar aturan-aturan pada arsitektur klasik. Contohnya yaitu pada Gereja Immanuel yang dibangun pada tahun 1832.

gereja-gambir

Penggunaan proporsi kepala,badan,dan kaki seperti pada arsitektur klasik itu tetap ada, namun muncul pengembangan seperti digunakannya dome(kubah) pada bagian belakang bangunan. Namun pengembangan ini tidak berarti terlalu besar karena penampakan bangunan yang tetap menyerupai dengan arsitektur klasik pada masa-masa sebelumnya. Aturan-aturan yang terus diikuti ini membuat arsitektur neo-classic juga memiliki bentuk-bentuk geometri yang kaku sama seperti arsitektur klasik. Lalu apakah arsitektur yang seperti ini yang disebut sebagai arsitektur yang baik? Apakah perkembangan bentuk-bentuk geometri yang lebih beragam dan telah berkembang saat ini tidak bisa dikatakan sebagai arsitektur yang baik juga?

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.