there’s something about geometry + architecture

April 4, 2011

Coruscant dan Radiant City

Filed under: ideal cities — elitanuraeny @ 20:29
Tags: ,

Melalui posting kali ini, saya ingin membandingkan antara Radiant City: sebuah kota ideal yang digagas oleh Le Corbusier dengan Coruscant: sebuah planet pusat dalam saga “Star Wars”.

Meskipun keduanya berbeda konteks (yang satu adalah gagasan dalam tata kota, sementara yang satunya lagi merupakan planet khayalan yang ada di film), rupanya ada kesamaan ciri yang dimiliki oleh dua kota tersebut. Yang pertama, mari kita lihat pada Coruscant, sang planet pusat galaksi dalam saga “Star Wars”

Terlihat pada gambar di atas bangunan-bangunan tinggi futuristik yang tak hanya berfungsi sebagai area perkantoran, namun juga sebagai area tempat tinggal. Tak ada area yang dibiarkan kosong, semuanya dimanfaatkan untuk pembangunan planet. Lalu lintas berada tinggi di udara, memberikan daratan di bawah untuk tempat para pejalan kaki. Planet ini juga terbagi-bagi areanya antara area pemerintahan, area kumuh, dan area industrial.

Sekarang, mari kita bandingkan dengan Radiant City yang diusung oleh Le Corbusier.

Di bawah ini adalah penuturan dari Le Corbusier yang menceritakan tentang Radiant City-nya:

“‘Recessed’ apartment buildings in the Radiant City. Parks and schools in the middle. Elevator shafts spaced out at optimum distances (it is never necessary to walk more than 100 meters inside the buildings). Auto-ports at the foot of the shafts, linked to the roadways […]. The floor directly above the pilotis is given over to communal services. Under the pilotis, pedestrians walking unobstructed in all directions. In the park, one of the large swimming pools. Along the roofs, the continuous ribbon of roof gardens with beaches for sunbathing.”–Le Corbusier

All motor vehicles are up on the highway network [...].”–Le Corbusier

Penuturan Le Corbusier mengenai kota ideal baginya hampir sama dengan penggambaran Coruscant oleh George Lucas. Pembangunan vertikal, pedestrian yang diberi ruang khusus pada bagian dasar perkotaan, serta alur kendaraan yang dinaikan untuk menjaga kelancaran sirkulasi.

Kebetulan? Hmm… Saya sendiri juga tidak tahu. Mungkin Le Corbusier dan George Lucas punya pemikiran yang sama mengenai kota (khusus untuk Star Wars–planet) ideal yang sama.

Sumber :

http://www.nyu.edu/classes/reichert/sem/city/lecorbu_img.html

http://www.nyu.edu/classes/reichert/sem/city/lecorbu.html

“Star Wars episode II: Attack of the Clone”, 20th Century Fox, 2002

“Star Wars episode III: Revenge of the Sith”, 20th Century Fox, 2005

starwars.wikia.com

Ideal City

Filed under: ideal cities — dewibudiyanti @ 20:28
Tags: ,

Kata Ideal sebenarnya bukan hal yang dapat dicapai. Karena pandangan seseorang akan arti kata ‘ideal’ itu berbeda satu sama yang lainnya sehingga sempurna di mata seseorang mungkin saja biasa di mata orang lain. Ideal City, sebuah kota yang ideal, memiliki pengartian yang berbeda di setiap orang.

Kebanyakan orang membandingkan ‘Ideal City’ dengan kota dimana dia hidup atau tinggal. Contohnya adalah orang di daerah pedalaman mungkin menganggap kota yang ideal adalah kota yang memiliki banyak lapangan pekerjaan sehingga dia dapat menghidupi dirinya dan keluarganya, seperti di Jakarta. Maka beberapa orang memilih untuk hidup dijakarta karena menurut mereka Jakarta lebih baik dari tempat asalnya. Namun banyak penduduk kota Jakarta yang bosan dan suntuk akan kehidupan di Jakarta dan memilih untuk tinggal di pinggir kota yang lebih tenang.

Contoh lain adalah di kota Quetta yang dianggap Ideal bagi penduduk Afghanistan karena kota ini dibangun sebagai kota militer dan terletak di antara Afghanistan dan Iran yang sedang mengalami peperangan pada masa ini. Dianggap sebagai kota yang memperjuangkan dan mempertahankan negaranya, Quetta dianggap kota yang ideal bagi beberapa orang.

Sama hal nya dengan Palmanova, kota pertahanan yang dianggap ideal pada jamannya. Namun ideal itu sebenarnya tidak kekal, seperti kota ini yang kini lebih ditujukan sebagai kota sejarah sebagai tempat pariwisata dan tidak lagi dianggap berjaya karena tidak banyak mendukung hal-hal yang dibutuhkan pada masa ini. Seperti dinding dan sungai pertahanan, lalu bangunan pencakar langit yang modern akan sulit diletakkan di dalam kota ini karena akan merusak keindahan dan keselarasan kota secara keseluruhan.

Sebenarnya sampai kapan kita akan mencari arti sebuah ‘Ideal City’? Manusia sebagai makhluk yang tidak pernah puas ini terus menggali pikiran dan idenya untuk mencapai kesempurnaan. Walaupun sempurna secara universal tidak bisa diraih, namun memiliki dan merancang kota yang sempurna bagi dirinya sendiri tetap dilakukan untuk mencapai kepuasan pribadi.

Daftar Pustaka

http://kabulperspective.wordpress.com/2010/07/11/in-the-city-of-taliban-shura—quetta/

http://www.palmanova.it

Graffiti dan Ideal City

Filed under: architecture and other arts,ideal cities — adrianadhin @ 20:27
Tags: , ,

Tulisan ini akan membahas mengenai graffiti yang menurut saya adalah salah satu pembentuk ideal city.

Sebelumnya, graffiti adalah coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Dalam perkembangannya kini, graffiti sering digunakan sebagai sarana ekspresi ketidakpuasan terhadap keadaan sosial maupun politik. Karena itu, banyak orang yang beranggapan bahwa graffiti merupakan salah satu bentuk vandalism/perusakan sarana umum yang merusak atau mengotori ruang publik.

Pandangan yang demikian menurut saya adalah pandangan yang terlalu sempit dan sebelah mata. Bagi saya, graffiti yang banyak berkembang di Jakarta belakangan ini justru merupakan sebuah alternatif untuk menciptakan Jakarta sebagai kota yang ideal bagi para penduduknya. Seperti yang disebutkan dalam kuliah sebelumnya yaitu :

ideal city : an alternative to the chaotic situation, which can be achieved through social reconstructing and ordering of the chaotic environment.

Sebagai contoh penjelas, sebut saja salah satu grafiti Popo (seorang seniman Graffiti yang cukup ternama di Jakarta) yang bertajuk “Jangan Pucat Liat Jakarta Macet” tepat di tembok sebelum gerbang tol Lenteng Agung I di Jalan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Gambar tersebut memperlihatkan Popo yang sedang kesal ketika berada di dalam kendaraan menyerupai UFO atau pesawat luar angkasa yang terjebak dalam kondisi kemacetan.

Sang seniman mengaku terinspirasi oleh masyarakat yang sering sekali mengeluh tentang kemacetan, padahal hal tersebut memang sangatlah sering terjadi di Jakarta. Melalui graffiti yang ia buat, ia ingin mengkritik pemerintah, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih sabar menghadapi kemacetan yang terjadi setiap hari tersebut.

Graffiti disini menjelaskan bahwa ideal city harapan masyarakat adalah kota yang tidak macet dan memiliki arus lalu lintas yang lancar. Mengingat hal tersebut tidak pernah terlaksana selama bertahun-tahun lamanya, sang seniman berusaha melakukan social reconstructing, dengan berusaha mengubah cara pandang masyarakat, dan membuat masyarakat lebih menerima hal tersebut.

Selain sebagai kalimat penenang bagi orang-orang yang dilanda kemacetan, kalimat ini juga berfungsi ganda sebagai kalimat sarkastik yang ditujukan bagi pemerintah. Dengan demikian, sang seniman telah berusaha ‘merapikan’ lingkungan yang tidak seharusnya (ordering of the chaotic environment)

Bagi saya, yang dilakukan oleh Popo sang seniman graffiti ini adalah salah satu bentuk penyuaraan diri mengenai ideal city dengan menggunakan versinya sendiri. Walaupun hingga sekarang, tidak ada tindakan langsung dari pemerintah untuk menjawab kritikan tersebut, setidaknya Popo dan seniman graffiti lainnya telah berusaha memasukkan konsep ideal city mereka ke dalam hati orang-orang yang melihat karya mereka. Ideal city disini memang bukan yang dilihat secara fisik, namun dengan dapat menerima kondisi Jakarta apa adanya sekarang, orang-orang telah membentuk ideal city baru bagi dirinya masing-masing yang terasa lebih harmonis dan menyenangkan.


Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Grafiti

http://bataviase.co.id/node/524679

March 26, 2011

Kota Ideal Masa Kini, London?

Filed under: ideal cities — sikimangifera @ 07:43
Tags: ,

Bagaimana bentuk kota yang ideal itu? Apakah gagasan Thomas More mengenai Utopia, atau kota yang tidak ada masih sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat modern? Hal ini menjadi sebuah pertanyaan yang terlintas di kepala saya akhir-akhir ini. Dalam tulisan ini saya akan mencoba untuk menjawab pertanyaan itu. Menurut saya, kota yang ideal merupakan sebuah kota yang dapat mengikuti serta  mengakomodasi kedinamisan penduduk yang tinggal di dalamnya dan juga dapat memberi jaminan keberlangsungan hidup di masa mendatang.

Bentuk kota yang yang dapat menjamin keberlanjutan kehidupan masa mendatang tersebut, merupakan kota yang dapat menjawab isu akan efisiensi konsumsi energi dan kepadatan penduduk yang terus bertambah. Berdasarkan pengetahuan yang saya dapat dari kelas perencanaan kota dan wilayah, kota kompak (compact city) merupakan bentuk kota yang saya anggap adalah bentuk kota yang berkelanjutan. Bentuk kota yang baik merupakan kota yang memiliki ketepatan dalam bentuk dan skala untuk berjalan kaki, bersepeda, efisien transportasi masal, dan dengan kekompakan dan ketersediaan interaksi sosial. Compact  city sendiri  fokus kepada perencanaan penggunaan lahan secara mix used, pemusatan pembangunan, dan mengurangi pembangunan infrastruktur jalan guna mengurangi jumlah kendaraan pribadi. Penggunaan lahan secara mix used akan memberi dampak bertambahnya pejalan kaki atau pengguna sepeda karena untuk memenuhi kebutuhan, mereka tidak harus menempuh jarak jauh karena mix used lahan di wilayah sekitarnya.

Bentuk kota tersebut dapat kita lihat di kota London. Pemerintah London, membangun kota ini dengan beberapa prinsip rancangan diantaranya memaksimalkan potensial site, dapat beradaptasi  dengan perubahan iklim, mengahargai sejarah, konteks lokal, bangunan bersejarah, dan komunitas. Selain itu pembangunan kota juga harus berdasar pada kemudahaan akses bagi semua pengguna, pemanfaatan lahan secara mix used, dan menarik secara visual.

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Dapat dilihat pada gambar, di bagian tengah kota London merupakan pusat dari segala kegiatan perkantoran , ekonomi, serta hunian vertikal. Hunian ini, menurut data rata-rata dihuni oleh 1 – 1,2 orang tiap unitnya. Lalu di bagian pinggir kota merupakan wilayah hunian horizontal yang rata rata dihuni oleh 2-4 orang. Lalu lintas kota London, merupakan sumbangan dari mobil pribadi warga yang tinggal di bagian pinggir, transportasi umum, sedangkan penduduk yang menetap di bagian pusat kota lebih banyak menggunakan sepeda atau berjalan kaki. Hal ini memberi dampak terhadap efisiensi energi yang dikonsumsi untuk berpindah tempat.

www.london.gov.uk/thelondonplan/policies/4b-01.jsp

March 25, 2011

Kota dalam Film Kolosal – Bentuk Pencitraan Teori Vitruvius

Filed under: classical aesthetics — ajengnadia @ 23:14
Tags:

Materi saat pertama kali kuliah geometri sangat mengingatkan saya terhadap film-film yang sering saya saksikan di bioskop,fim bergenre drama action kolosial seperti 300, King Arhtur, Kingdom of Heaven, dan sebaginyalah yang membuat saya menjadi lebih merasa familiar dengan workshop Theory Vitruvius saat itu. Seolah melihat gambaran nyata apa yang disarankan oleh seorang panglima perang asal negeri Yunani ini. Bukan saran atas perlunya tiga hal utama di dunia arsitektur, seperti Firmitas, Utilitas dan Venustas, tetapi saran yang ia berikan kepada Paduka Raja nya dalam membangun sebuah kota yang bertahan dalam era saat itu, yaitu era penjajahan, guna pelebaran kekuasaan. Kota yang memiliki tembok tinggi kokoh dengan gerbang yang menjulang, tower pengawas di setiap sudut kota, pembagian jalan dengan sistem grid radial, dan sebagainya. Segala hal itu berdasar atas puluhan tahun pengalaman ia berperang, menyerbu kota jajahan atau mempertahankan kota kekuasaan.

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Seperti yang saya katakan sebelumnya, semua yang dikatakan oleh Vitruvius seolah digunakan pada kota karangan sang penulis cerita. Seolah kota tersebut memiliki tipikal yang harus digunakan dalam setiap kota saat jaman tersebut. Hal yang menarik bagi saya, apakah proses pembentukan semua kota yang tercipta sama dengan apa yang dikatakan oleh Vitruvius? Jika ya, lalu mengapa menjadi suatu hal yang sulit bila semua panglima perang dapat melihat bagaimana situasi kota jajahannya?

Gridlock vs Speed

Filed under: ideal cities — mutiahapsari @ 17:20
Tags: , ,

“A city made for speed is made for success” -Le Corbusier

Jakarta dan kemacetan ibaratnya mie ayam dan sambal, sulit untuk dipisahkan. Hampir semua orang yang tinggal di Jakarta pasti pernah merasakan terjebak di jalanan ibukota. Hal ini bisa dikatakan salah satu masalah terbesar di Jakarta, bayangkan saja, kerugian yang ditimbulkan kemacetan di Jakarta mencapai angka 27 triliun per tahun!  Jika mengacu pada konsep ideal city Le Corbusier di atas, tentu hal ini menjadi masuk akal, begitu banyak waktu yang  bisa kita pergunakan jika Jakarta dibangun dengan memperhitungkan efisiensi dan ease of  tranportation, ketimbang untuk dihabiskan di jalanan. Saya sendiri, jika ingin mencapai daerah Sudirman yang terletak di pusat kota dari rumah saya di Cinere, perlu menyediakan spare waktu paling tidak 2 jam untuk waktu perjalanan. 2 jam yang bisa saya gunakan untuk bekerja, berkumpul dengan teman dan keluarga, atau bahkan untuk sekedar menikmati sarapan.

Tapi apakah city of speed ini merupakan suatu konsep yang ideal untuk Jakarta? Mari bayangkan, apabila jalanan yang setiap pagi dipenuhi oleh berbagai jenis kendaraan bermotor, pejalan kaki berlalu lalang, hingga pengamen berkeliling dari mobil ke mobil, sepi layaknya jalan tol. Bayangkan jalan yang menjadi akses transportasi benar-benar berfungsi hanya untuk sirkulasi penduduk kota.

Lalu bagaimana dengan pedagang asongan yang sehari-hari bersyukur atas kemacetan, karena orang yang terjebak macet pasti tergoda untuk membeli dagangannya? Bagaimana dengan pengamen jalanan yang hanya bisa bernyanyi jika kendaraan berhenti saat macet? Bagaimana dengan orang-orang yang bisa kita ajak berinteraksi ketika bus yang kita tumpangi harus berhenti dalam antrian di jalanan?

Dalam pandangan saya, Jakarta yang seperti itu adalah Jakarta yang dingin,  bagaikan mie ayam tanpa sambal. Hambar. Tetapi Jakarta dengan kemacetan yang tidak terkendali juga bagaikan menuang sebotol sambal ke dalam mie ayam, terlalu pedas hingga membuat perut sakit. Kemacetan yang tak terkendali akan membuat Jakarta lumpuh suatu saat nanti. Menurut saya, sekarang yang menjadi tantangan adalah bagaimana menciptakan Jakarta dengan speed dan ease of transportation dalam takaran yang tepat. Bagaimana mengatur jalanan Jakarta dengan prinsip-prinsip ideal city dan geometri, agar Jakarta menjadi kota yang “as close to perfection as possible” tanpa kehilangan identitas dan local content yang dimilikinya.

Sumber: 

http://humanitieslab.stanford.edu/UrbanSustainability/941

http://fathur05.wordpress.com/2009/04/03/the-city-of-tomorrow-khas-indonesia/

March 16, 2011

Ideal City, is it or isn’t it?

Filed under: ideal cities — larasatisopa @ 20:13
Tags: ,

Apakah ideal city itu?

Dari apa yang saya pelajari pada kelas geometri yang saya tangkap mengenai ideal cities adalah sebuah kota yang berusaha semaksimal mungkin untuk meraih kesempurnaan. Seperti terdapatnya keharmonisan, keteraturan dan kemerataan tingkat sosial.

Dalam pembelajaran mengenai ideal cities ini muncul “Principles Of Ideal/Utopian City Design” oleh Windsor Liscombe, yaitu :

  1. Perencanaan menyeluruh sebuah lingkungan binaan
  2. Melihat fungsi sosial
  3. Anggapan adanya hubungan yang merata antara segala bidang sosial
  4. Harapan adanya kepatuhan masyarakat, servis dan komunitas
  5. Kepuasan pemenuhan harapan dan aspirasi warga secara individu
  6. Pemanfaatan sumber daya alam dan manusia yang berguna bagi kebaikan
  7. Perlindungan terhadap masyarakat yang ideal.

Pada intinya bisa dikatakan bahwa “Everybody Happy”.

Lalu untuk mencapai ini semua diperlukan sebuah kontrol yang ketat, agar keadaan ini dapat terus tercipta dan terjaga.

Pengadaan kontrol inilah yang membuat saya menjadi tidak begitu setuju dengan konsep ideal city di atas, karena dengan adanya kontrol ini, prinsip pada nomor 5 menurut saya kurang terpenuhi.

Karena saat sebuah kontrol yang ketat ditetapkan, keinginan dan aspirasi masyarakat secara sadar maupun tidak sadar akhirnya ikut terkontrol pula oleh aturan ini. Sehingga pada akhirnya, tidak semua penduduknya bisa bahagia, karena aspirasi yang sesungguhnya terkekang oleh aturan ini. Meskipun awal adanya sebuah aturan ini adalah untuk menjaga keidealan sebuah kota, namun ideal sebuah kota belum tentu sama bagi setiap penduduknya.

Ini adalah pendapat saya, bagaimana dengan anda?

June 2, 2010

Peta dan Geometri

Filed under: ideal cities — arumthequeen @ 14:20
Tags: , ,

Sebetulnya tulisan ini hanya mengenai sesuatu yang sederhana yang muncul dalam benak saya ketika menikmati macetnya Jakarta. Saat terjebak tak bergerak, dan mencoba mencari satu jalan tak berpapan nama diantara puluhan jalan lainnya di kawasan yang tidak saya akrabi sebelumnya. Lalu yang terlintas dalam pikiran saya adalah, “Hm……andaikan saya punya peta saat ini….”.

Mengingat peta, membuat saya mengingat juga geometri. Secara harafiah, geometri diartikan sebagai mengukur bumi, dan peta bisa dikatakan sebagai gambaran bumi. Dan saat mengingat peta, yang terlintas dalam pikiran saya adalah sangat beragamnya jenis peta. Bagaimana satu kawasan dapat digambarkan melalui beberapa peta yang berbeda. Mungkin buat yang terbiasa pergi keluar kota terutama pada saat hari raya, bisa melihat keragaman jenis peta pada peta perjalanan yang biasa dibagikan oleh posko – posko hari raya.

Di lembar peta tersebut kita bisa menemukan peta bumi, peta jalan atau kawasan , dan peta topologi. Lalu apa kaitannya dengan geometri?. Yang pertama sekali saya pahami pada saat melihat peta adalah bagaimana bumi sebagai obyek tiga dimensional dipindahkan atau ditransformasikan ke dalam obyek planar atau obyek dua dimensional. Dan yang kedua adalah, bagaimana kemudian obyek dua dimensional ini dapat menjelaskan suatu kondisi tiga dimensional melalui representasi dua dimensional. Kemudian apa yang terjadi dengan geometri di dalam peta?.

Pada saat melihat peta bumi, saya menyandingkannya dengan peta kontur. Pada peta bumi, daratan dan laut dibagi dalam kelompok kelompok warna yang menjelaskan posisi tinggi rendah kawasan di atas bumi. Secara lebih detail di dalam peta kontur, bentuk bentuk garis dan lengkung yang tersusun secara rapat dan renggang, digunakan untuk menjelaskan kedalaman dan ketinggian. Susunan garis yang rapat menunjukan kecuraman sebuah tempat sementara garis yang renggang menunjukan posisinya yang landai. Di dalam peta seperti ini, saya melihat bagaimana geometri dapat digunakan untuk menggambarkan bentuk tiga dimensional sesungguhnya yang ada di alam, menunjukan posisi sebuah obyek atau kawasan di dalam orientasi vertikalnya.

Di dalam peta kedua yaitu peta jalan atau kawasan yang biasanya merupakan gambaran lebih detail dari peta bumi, dimana yang digambarkan adalah kondisi sesungguhnya yang terdapat di dunia aslinya. Di dalam peta ini, kita bisa mengetahui pola yang terdapat di dalam sebuah kawasan. Kita bisa mengetahui sebaran jalan, taman, dan ruang ruang kota yang dijelaskan melalui representasi garis dan geometris. Disini saya melihat geometri digunakan untuk menjelaskan posisi, jarak, orientasi horisontal dari obyek yang berada di kawasan tersebut melalui representasi dua dimensionalnya.

Dan selanjutnya, yang umum kita temui dalam peta perjalanan adalah peta topologi. Dimana posisi dan lokasi dijelaskan melalui titik dan garis yang dihubungkan satu sama lain. Disini yang saya lihat adalah penyederhanaan dari kondisi yang sesungguhnya. Lokasi dan posisi digambarkan tidak lagi berdasarkan jarak dan orientasi tetapi lebih pada koneksitas yang terjalin antara posisi atau lokasi yang satu dengan yang lainnya.

Dari pengamatan sederhana ini, saya melihat bahwa geometri di dalam sebuah peta sebagai sebuah kesimpulan awal dapat berfungsi sebagai representasi tiga dimensional di dalam obyek dua dimensional, yang dapat menunjukan orientasi vertikal, horisontal, posisi, jarak, dan lokasi, serta koneksitas yang terdapat di dalamnya.



May 31, 2010

Kota Kita Manusiawikah?

Filed under: ideal cities — agungsetyawan89 @ 23:26
Tags: , ,

Berikut adalah tulisan saya yang acak-acakan tentang kota Jakarta. Sudah saya coba untuk merunutkan sampai akhirnya saya jemu bahkan hampir frustasi dan ingin batal memposting tulisan ini. Masalah kota sudah terjalin sedemikian rumitnya, hingga bingung mana yang kiranya perlu dituliskan lebih dulu. Semuanya saling berhubungan maka saya jadi maklum bila pemerintah beserta pihak-pihak yang peduli tentang kota juga pusing mengurai permasalahan yang ada.
Saya mulai tulisan ini dengan pemicu awal yang membuat saya ingin menulis tulisan ini. video tentang kota batavia tahun 1941 dimana kebanyakan lalu lintas berjalan cukup lambat dan terasa ruang-ruang yang ada lebih manusiawi. (berikut link nya http://www.youtube.com/watch?v=kpHttkGF5PM)

Kecepatan tidak manusiawi.
Semua kendaraan melaju dengan kencang. Berbahaya bila berada di dekat jalan raya, dekat rel KA, takut tersambar. Bahkan di pedestrian dan jembatan penyebrangan pun berbahaya karena motor mampu melahap track offroad tersebut. Bisa dibilang ruang-ruang tersebut tidak manusiawi. karena manusia tidak bisa merasa aman dengan menjadi dirinya sendiri.
Kota semakin tidak kompak. Jarak yang berjauhan memaksa kaki untuk menginjak pedal lebih dalam agar mendapatkan kecepatan yang tinggi berharap waktu tempuh semakin singkat. Namun apa mau dikata, bukan hanya kita seorang yang melakukan hal ini. Macet menahan kita untuk bisa cepat sampai dirumah, dikantor, dimana-mana.

Macet.
Pemandangan yang jamak ditemukan di jalan raya pada pagi maupun sore hari adalah macet. Ketika lambat pun, keadaan jalan ini tetap tidak nyaman dilalui manusia(baca: pejalan kaki). terlalu tebal untuk bisa ditembus dengan nyaman. Terlalu panas, terlalu berasap, keterlaluan. Sehingga berkendara menjadi terlalu menyenangkan dibanding naik kendaraan umum atau berjalan kaki.

Sebuah anomali melihat munculnya komunitas bike to work, saya kerap tertegun melihat mereka begitu anggun melintasi padatnya jalan kota. Merayap dengan pasti melewati semua pesaing2nya yang berbadan tambun. Celah yang sedemikian kecil cukup bagi mereka untuk dapat melenggang dengan gaya seorang juara.
Berkembangannya permukiman di pinggiran kota membuat kota semakin tidak kompak. Selain harga yang lebih murah alasan lainnya adalah keinginan warga untuk dapat hidup dilingkungan yang lebih sehat dipinggir kota.

Makam.
Saya kembali ingat buku yang mengkritisi ruang terbuka hijau di jakarta, berjudul komedi lenong: satire ruang terbuka hijau. Salah satunya isinya membahas tentang potensi makam yang juga berperan sebagai ruang terbuka.
Keberadaan makam seperti menentang teori bahwa kota adalah pusat konsentrasi manusia membuat setiap jengkal lahan yang ada mesti berkepadatan tinggi.
Sehingga seperti sudah digariskan bahwa makam akan terus menerus dipinggirkan. Mesti keluar dari kota, digusur.
namun apakah demikian cara kita menghormati para pendahulu-pendahulu kita?
Mungkin suatu saat makam sebagai ruang terbuka hijau yang berkontribusi dalam perbaikan kualitas udara cuma bisa ditemui di pinggiran kota. Dengan kata lain udara dan lingkungan yang sehat cuma bisa didapat di pinggiran kota. Beruntunglah mereka yang tinggal di pinggir kota. Namun alangkah kasihan bila mereka tetap bekerja di pusat kota yang dengan kata lain mesti berdesakkan ikut arus padat para komuter tiap pagi dan sore di hari kerja.
Potensi makam sebagai ruang interaksi juga terabaikan, citra yang sedemikian angker membuat banyak dari kita sedari kecil menjauhi keberadaannya. meninggalkan noda-noda hitam di peta pikiran kita, daerah yang sebisa mungkin dihindari agar tidak dilalui.
Entah merupakan sindiran atau memang ingin menggugah pikiran kita akan potensi pemakaman sebagai ruang terbuka, dalam film garuda di dadaku pemakaman-pun akhirnya dijadikan tempat berlatih sepak bola. namun tetap saja, bumbu hantu kembali dihadirkan. Membuat kesan keterpaksaan ketika mereka bermain di pemakaman itu.
Pada masyarakat sumba, makam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. makam ada dihalaman rumah, diruang terbuka tempat mereka kerap berkumpul dengan para tetangga, juga tempat anak-anak bermain. Kita bisa melihat bagaimana mengormati bukan dengan cara menjadi takut dengan keberadaannya.

PKL: ancaman atau kesempatan.
Saya yakin bila suatu saat area pemakaman sudah menjadi ruang yang aktif digunakan warga kota sebagai ruang berkumpul akan banyak pedagang kaki lima yang mangkal disana.
Yah mau bilang apa? Keberadaannya memang membuat kota kita terlihat semrawut. Tak heran demi menggapai adipura pemda mesti mengerahkan kekuatannya demi mensterilkan kota dari keberadaan mereka. Coba lihat muka stasiun tebet, tempat yang tadinya berupa lapak kakilima yang ramai karena memang strategis dilalui banyak orang kini berganti taman kecil yang rasanya tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perbaikan kualitas udara disana. Mungkin sudah terpatri dikepala bahwa taman dan pkl tidak bisa hidup dengan harmonis.
Seakan rakyat kecil yang diwakili para pkl ini tidak pernah berdamai dengan pemerintah. Pemerintah punya visi, warga tidak terlalu peduli akan hal itu. apa musyawarah cuma jadi pelajaran disekolah. Itupun kalau masih ingat.

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.