there’s something about geometry + architecture

March 23, 2011

Manusia dan Simetri

Filed under: classical aesthetics — adefadli14 @ 15:27
Tags: ,

Anda mungkin pernah mendengar kata samurai bukan? Seorang ahli pedang yang dapat menghabisi musuhnya hanya dengan sekali tebasan. Sekarang coba bayangkan anda adalah seorang samurai dan seseorang yang iseng meminta anda untuk membelah sebuah apel yang dilemparkannya pada anda di udara. Tanpa kesulitan sedikitpun anda membelah apel tersebut dengan sekali tebasan. Saya tidak akan mempertanyakan jurus atau aliran samurai apa yang terlintas dibenak anda saat membelah apel tersebut, melainkan kondisi apel tersebut setelah dibelah. Apakah anda membelahnya menjadi dua bagian tepat di tengah seperti pada gambar 1(a) atau tebasan anda terlalu cepat 0,1 detik hingga membelah pada bagian ujungnya saja seperti pada gambar 1(b)? Pada umumnya, dari percobaan yang saya lakukan setidaknya, mayoritas akan membelah apel tersebut tepat di tengah menjadi dua bagian sama besar, simetris.

www.freeimagehosting

Apa sih simetri? Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia didapat pengertian seimbang, selaras, sama kedua belah bagiannya. Jika ditelusuri dari asal katanya, kata simetri diambil dari bahasa Yunani  symmetros digunakan dalam bahasa Inggris menjadi symmetrical, suatu keseimbangan dalam proporsi. Apa sih proporsi? Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia didapat pengertian perbandingan, bagian, perimbangan. Jika ditelusuri dari asal katanya, kata proporsi diambil dari bahasa Inggris abad pertengahan   proporcion digunakan pertama kali pada abad ke – 14, suatu hubungan yang harmonis sebuah elemen baik dengan elemen lain maupun secara keseluruhan .

Manusia secara alami memiliki ikatan dengan simetri baik raga maupun rohani. Misalnya saja tim forensik menemukan hanya separuh wajah manusia, tim dapat merekonstruksi ulang menjadi sebuah wajah yang utuh karena ada simetri pada tubuh manusia. Dalam teknik menggambar misalnya, Scott Mcloud dalam bukunya “Membuat komik” menjelaskan bahwa dalam kondisi netral, tubuh manusia itu simetris. Perubahan pada posisi tubuh akan memberikan pesan lain pada karakter gambar tersebut. Selain itu, posisi tubuh pun dapat mempengaruhi emosi dan pikiran manusia. Jika anda sedang kesal, cobalah untuk memposisikan tubuh anda menjadi simetris hal ini biasa dilakukan saat orang akan bermeditasi maka perasaan anda berangsur – angsur akan membaik. Baik sadar ataupun tidak, bentuk simetri mempengaruhi kehidupan manusia dan memiliki tempat khusus pada pikiran kita semua. Maka tidak aneh jika hasil cipta karya manusia mendapatkan pengaruh yang besar dari sesuatu yang disebut simetri ini.

Mulai dari kuil Parthenon di Yunani hingga bangunan – bangunan pencakar langit pada abad ke -21, bangunan rancangan manusia masih (meskipun tidak semua) memperlihatkan bentuk – bentuk simetris pada elemen – elemen bahkan hingga bentuk keseluruhan. Vitruvius dalam bukunya “THE TEN BOOKS ON ARCHITECTURE” menjelaskan bahwa simetri merupakan bagian dari prinsip dasar arsitektur karena simetri merupakan penyesuaian yang tepat bagi elemen – elemen pada sebuah bangunan. Bangsa Yunani kuno sangat menggemari bangunan simetris karena kemegahan yang ditimbulkannya yang hingga kini tetap dikagumi bahkan dijadikan contoh untuk bangunan – bangunan pemerintahan di dunia. Manusia memang memiliki ikatan khusus dengan simetri dan cipta karya yang dihasilkan oleh bentuk simetri pun diakui memang memiliki kualitas yang baik namun, sebagai seorang arsitek, seorang perancang, apakah rancangan yang dilakukan harus berdasarkan hukum simetri? Mengutip perkataan guru saya saat SMA yang melakukan percobaan samurai dan apel di atas pada saya beberapa tahun yang lalu, “Kalau kamu membayangkan apel tadi terbelah dua sama besar, berarti pikiran kamu belum terbebaskan”.  Saya menyimpulkan bahwa pikiran mengenai aturan yang ada, trend, sesuatu yang seharusnya, hal yang wajar merupakan hal – hal yang membatasi imajinasi dan pemikiran. Walaupun begitu, jawaban dari pertanyaan haruskah mengikuti hukum simetri tentu kembali pada diri masing – masing. Mungkin kembali membayangkan menjadi  samurai bisa membantu?

Referensi

Vitruvius. The Ten Books of Arcitecture. trans by Morris Hicky Morgan, Ph.D, Ll.D

Mcloud, Scott. 2008. Membuat komik.Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

http://www.merriam-webster.com/dictionary/symmetry

http://www.merriam-webster.com/dictionary/proportion

March 22, 2011

Melihat Perkembangan Probolinggo sebagai Kota Klasik

Filed under: ideal cities — mijohanes @ 08:44
Tags: ,

Ketika saya sedang mencari bahan di tugas geometri saya, tidak sengaja saya melihat paper yang menarik , yang menceritakan perkembangan Kota Probolinggo di bawah pemerintahan Kolonial Belanda, menurut saya perkembangan kota ini dapat memberi gambaran kepada kita bagaimana sebuah kota dibentuk, dalam kasus ini dibentuk oleh pemerintahan Belanda. Kota Probolinggo merupakan kota pesisir yang berada di Pantai Utara Jawa Timur, Kota ini dibentuk Oleh pemerintahan Belanda sejak dikuasai oleh VOC pada tahun 1973. Dalam Tulisan ini saya ingin memperlihatkan perkembangan kota ini secara singkat dan bagaimana kota itu bisa terbentuk seperti sekarang.  Letaknya yang berada di pesisir membuat kota ini dianggap strategis, terutama setelah Jawa Timur berkembang, Probolinggo dibuat menjadi pusat dagang dan produksi oleh pemerintahan kolonial pada saat itu. Latar belakang sejarah dibalik perkembangan kota ini sangat panjang, dalam blog ini saya hanya ingin memperlihatkan perkembagan kota ini secara morfologi. Perkembangan dari kota ini saya ambil langsung dari tulisan yang saya dapat.

Tahap 1
Free Image Hosting

Analisis tahap 1, kota Probolinggo. Pada masa prakolonial (sebelum th.1743) Pada awalnya Belanda hanya mendirikan pos dagang yang berfungsi ganda sebagai benteng ditepi pantai dan dekat mulut sungai. Diperkirakan pada waktu itu alun-alun dan bangunan yang ada disekelilignya (Mesjid, Kabupaten, dsb.nya) sudah ada. Selain itu juga diduga daerah Pecinan yang memainkan peran utama dalam pasar domestik yang sudah ada.

Disini saya melihat kaitannya dengan Vitruvius, dalam bukunya ditulis bahwa setelah menentukan site sebuah kita, diperlukan akses yang mudah. Dalam hal ini lokasi di pesisir dan dekat dengan pelabuhan. Selanjutnya membangun benteng pertahanan, pemerintahan Belanda tepat melakukan hal ini sebagai batu pertama dalam mengembangkan kota. Tampaknya itulah pola umum yang dikembangkan sejak romawi kuno dan tetap dipakai setidaknya sampai saat itu.

Tahap 2
Free Image Hosting

Analisis tahap 2, kota Probolinggo (th 1743-1850). Pada masa itu Belanda sudah berkuasa penuh atas kota Probolinggo. Pembentukan sumbu utama kota (Heerenstraat- Jl. Suroyo), sudah tampak. Poros utama Benteng – Alun-alun Kantor Asisten Residen) yang menuju Grotepos.

Pada tahapan ini pembangunan akses jalan utama dilakukan, Akses utama tepat arahnya dari pelabuhan menuju Rumah Residen, penggunaan sumbu yang simetri ini mengingatkan kita dengan gambaran klasik sebuah istana yang dapat dilihat dari gerbang utama kota, tepat simetris.

Tahap 3

Free Image Hosting

Analisis tahap 3, Kota Probolinggo (th 1850-1880). Pada tahap ini kota Probolinggo sudah terbentuk seperti ujudnya sekarang. Wujudna berbentuk segi Empat (1.2 x 1.3 Km). Kurang lebih 160 HA. Hanya jalan kereta api yang belum ada waktu itu.

Dari sini kita dapat melihat simetri dari kota, tampak adalah usaha untuk mencapai konsep Ideal City pada masa klasik, Dengan jalan utama sebagai sumbu simetri.

Sebagai perkembangan selanjutnya adalah penambahan akses rel kereta api dan tidak terdapat perubahan mendasar dari struktur kotanya. Dari sini dapat dilihat bagaimana bangsa Eropa, dalam hal ini bangsa Belanda mencoba membuat kota yang Ideal menurut mereka, beberapa tahap utama masih ada keterkaitan dengan pembangunan kota masa masa romawi kuno (vitruvius) pembangunan benteng, jalan utama, dan alun alun dan pemerintahan dibangun berdasarkan urutan yang sesuai dengan apa yang diutarakan oleh Vitruvius.

Pada Kesimpulannya pembangunan kota ini tentu merupakan pembangunan kota pada masa lalu, dengan cara melihat bagaimana kota ini dibentuk dan melihat masyarakat sekarang, maka dapat dipelajari bagaimana pengaruh cara perkembangan kota terhadap masyarakat, apakah konsep ideal city yang dicita-citakan berhasil atau tidak. Apakah simetri pada kota benar-benar membuat kota menjadi lebih baik. Semua ini perlu dianalisis lebih jauh dan menurut saya ini menarik.

referensi:
Handinoto. 1997. BENTUK DAN STRUKTUR KOTA PROBOLINGGO TIPOLOGI SEBUAH
KOTA ADMINISTRATIF BELANDA
. Universitas Petra: Surabaya.(http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/81-005/KOTA%20PROBOLINGGO.pdf

Vitruvius. The Ten Books of Arcitecture. trans by Morris Hicky Morgan, Ph.D, Ll.D

March 31, 2010

Firmitas, Utilitas, dan Venustas

Filed under: classical aesthetics — dinastiagilang @ 21:16
Tags:

“1. There are three departments of architecture: the art of building, the making of timepieces, and the construction of
machinery.
….

2. All these must be built with due reference to durability, convenience, and beauty. ….” (Vitruvius : Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III.)

Pernyataannya inilah yang membuatnya dikenal. Jika ditanya, siapa itu Vitruvius ? Kebanyakan dari kita akan menjawabnya seperti ini : “Oh..yang menyatakan firmitas, venustas, dan utilitas”. Hal ini tidak sepenuhnya salah, walaupun sebenarnya banyak hasil pemikiran Vitruvius lainnya yang juga ia nyatakan dalam buku tersebut. Pengertian tentang firmitas, venustas, dan utilitas bisa menjadi salah apabila maksudnya tidak dipahami dengan benar.

1. Firmitas

“Durability will be assured when foundations are carried down to the solid ground and materials wisely and liberally selected;…” (Vitruvius : Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III.)

Firmitas yang dimaksud Vitruvius mencakup penyaluran beban yang baik dari bangunan ke tanah dan juga pemilihan material yang tepat. Vitruvius menjelaskan setiap material yang ia pakai dalam bangunannya, seperti batu bata, pasir, kapur, pozzolana, batu dan kayu. Setiap material dijelaskan mulai dari karakteristik dari tiap jenis-jenisnya hingga cara mendapatkanya/membuatnya. Kemudian, ia menjelaskan metode membangunnya (konstruksi).

2. Utilitas

“…convenience, when the arrangement of the apartments is faultless and presents no hindrance to use, and when each class of building is assigned to its suitable and appropriate exposure;..” (Vitruvius : Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III.)

Sedangkan, pada utilitas yang ditekankan adalah pengaturan ruang yang baik, didasarkan pada fungsi, hubungan antar ruang, dan teknologi bangunan (pencahayaan, penghawaan, dan lain sebagainya). Pengaturan seperti ini juga berlaku untuk penataan kota. Misalnya : dimana kita harus menempatkan kuil, benteng, dan lain-lainya di ruang kota.

3. Venustas

“…and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry.” (Vitruvius : Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III.)

Proporsi dan simetri merupakan faktor yang dianggap Vitruvius mempengaruhi keindahan. Hal ini ia dasarkan pada tubuh manusia yang setiap anggota tubuhnya memiliki proporsi yang baik terhadap keseluruhan tubuh dan hubungan yang simetrikal dari beberapa anggota tubuh yang berbeda ke pusat tubuh. Hal ini, kemudian, diilustrasikan oleh Leonardo daVinci pada Vitruvian Man.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah bagaimana relevansi firmitas, venustas, dan utilitas dengan arsitektur kini? Menurut saya, firmitas, utilitas, dan venustas merupakan tiga aspek yang masih relevan untuk dijadikan dasar untuk membangun sebuah arsitektur yang baik. Tapi, dengan beberapa pengurangan dan penambahan di tiap-tiap aspeknya.

Saat ini, kita masih harus mempelajari tentang sistem struktur dan material bangunan. Perkembangan teknologi yang cepat memaksa kita agar selalu stay up-to-date pada berkembangnya dan beragamnya metode konstruksi bangunan serta material bangunan yang dapat digunakan. Di sisi lain, kita tidak perlu lagi mengetahui teknisnya.

Pengaturan ruang yang baik juga masih kita  terapkan dengan  berdasar pada fungsi, hubungan antar ruang, dan teknologi bangunan (pencahayaan, penghawaan, dan lain sebagainya). Tantangannya sekarang adalah, dengan semakin berkembangnya aktivitas manusia yang berakibat pada berkembangnya kebutuhan ruang, kita juga harus semakin kreatif dalam merancang. Selain itu, kita juga perlu memikirkan penggunaan alat-alat elektronik seperti AC, lift, dan lain sebagainya dengan tepat dalam bangunan.

Dari ketiga aspek tersebut, aspek venustaslah yang tidak dapat disamakan ukurannya. Keindahan memiliki ukurannya sendiri-sendiri bergantung pada konteks dan waktunya. Keindahan yang dimaksud oleh Vitruvius dalam bukunya berasal dari latar belakang yang terjadi saat itu (waktu dan konteks). Hal inilah yang menjadikan keindahan baik dalam bidang arsitektur maupun seni merupakan hal yang terus dicari melalui kreatifitas para pelakunya.

Selain firmitas, utilitas, dan venustas, beberapa pendapat mengemukakan tentang perlunya menambahkan satu aspek lagi, yakni sustainable (berkelanjutan). Kesadaran akan pemanasan global menggalakkan aspek berkelanjutan (sustainable) dalam perancangan arsitektur saat ini.  Aspek ini, sama seperti ketiga aspek lainnya, berkorelasi dengan aspek lainnya. Aspek berkelanjutan dapat digunakan dalam firmitas, utilitas, maupun venustas dan begitu juga sebaliknya.

Banyak pendapat lain yang coba diutarakan terkait firmitas, utilitas, dan venustas. Ketiga aspek yang merupakan dasar penentuan sebuah arsitektur yang baik hingga saat ini pun masih dipakai. Hal ini, menurut saya, disebabkan karena walaupun ia hanyalah sebuah dasar, penggunaannya menjadi bermacam-macam bergantung pada bagaimana kita memahami dan merefleksikannya pada perancangan kita. Jika kita menggunakannya dengan benar, sudah sewajarnya kita mendapatkan produk perancangan yang berbeda-beda tapi dengan hasil akhir yang sama, yaitu sebuah arsitektur yang baik.

March 1, 2009

The Good Classical Architecture?

Filed under: classical aesthetics — r1ss @ 21:20
Tags: , , ,

Di dalam arsitektur klasik terdapat beberapa metode order yang berbeda-beda. Namun sebenarnya metode-metode order ini mempunyai persamaan dan inilah yang menurut saya sebagi ciri pemikiran arsitektur klasik yaitu dimana metode order klasik selalu mempunyai beberapa principle procedures yang selalu dinyatakan sebagai syarat untuk arsitektur yang baik. Metode-metode klasik ini entah metode Vitruvius ataupun metode JNL Durand menganggap untuk membentuk arsitektur yang baik adalah dengan metode mereka masing-masing. Mereka secara gamblang menyatakan dengan pasti bahwa metode mereka adalah bertujuan untuk membentuk arsitektur yang baik atau arsitektur yang memiliki keindahan.

“Good Architecture guaranteed by a radically systematic principle” (JNL Durand)

“The good is always beautiful and the beautiful never lacks proportion“ (Plato)

Dalam arsitektur klasik selalu terdapat metode-metode pasti yang bertujuan untuk membentuk arsitektur yang baik. Metode itu seperti tidak memberikan pilihan lain yang mungkin bisa membentuk arsitektur. Seperti juga yang dikatakan oleh Durand bahwa untuk mengkomunikasikan bangunan maka yang diperlukan hanyalah denah, tampak,p otongan. Dan dalam proses perancangan dengan metode ini maka yang dioperasikan yang pertama juga denah dan tampak. Dimana didalam denah ini didesign dengan hitungan-hitungan yang seirama seperti 1-1/2-1-1/2. Apabila ada hitungan yang tidak seirama seperti 1-1/2-2-1 maka apa akan dianggap tidak baik? Apa kebutuhan luasan ruang dapat ditentukan hanya dengan hitungan yang seirama? Lalu apabila denah dan tampak sebegitu pentingnya, apakah konteks sekitar menjadi tidak penting untuk metode ini? Apa sistematika seperti ini yang dikatakan sebagai arsitektur yang baik?

Dan apabila Metode Vitruvius yang dikatakan baik dengan menitikberatkan pada proporsi dan kesimetrian, yang tujuan dibentuknya sesuatu yang proporsional mungkin sebenarnya untuk beauty appearance, apa ini juga yang dikatakan sebagi arsitektur yang baik?

Baik metode Durand ataupun metode Vitruvius yang berperan dalam arsitektur klasik sebenarnya malah membentuk kekhasan dari arsitektur klasik itu sendiri. Dimana selalu ada ketentuan-ketentuan yang dianggap baik. Dan pengaplikasian arsitektur klasik yang terjadi pada masa sekarang mungkin malah sebenarnya tidak mengaplikasikan metode siapapun, karena pada kenyataannya arsitektur klasik mempunyai ciri yang khas yaitu seperti adanya pediment triangle, kolom-kolom, atau arc. Pengaplikasian arsitektur klasik yang saat ini lebih hanya menggunakan komponen-komponen arsitektur klasik itu seperti kolom tau arch yang mungkin tidak memenuhi golden section atau hitungan denah yang seirama.

piazza-d

Contohnya yaitu yang ada di Indonesia seperti pembangunan resident-resident atau mal yang bergaya arsitektur klasik seperti gambar disamping. Dimana bangunan itu dikatakan arsitektur klasik karena adanya komponen-komponen arsitektur klasik seperti kolom dan arch. Dikatakan hanya bergaya arsitektur klasik namun entah menggunakan metode Vitruvius atau Durand. Lalu apa arsitektur ini juga bisa dikatakan arsitektur klasik? Atau mungkin ini arsitektur klasik yang baik?

February 24, 2009

Beauty in Deconstructivist Architecture

“We don’t want architecture to exclude everything that is disquieting. We want architecture to have more… Architecture should be cavernous, fiery, smooth, hard, angular, brutal, round, delicate, colorful, obscene, voluptuous, dreamy, alluring, repelling, wet, dry and throbbing.” (Himmelblau 1988: 95)

Apabila kita melihat dekonstruksi arsitektur dimana ia menggunakan geometri sebagai ekspresi kebebasan bentuk dalam berarsitektur, bagaimana bila ia dihubungkan dengan prinsip Vitruvius dalam buku Ten Books on Architecture? Dapatkah saya mengatakan bahwa keindahan yang menurut Vitruvius adalah ketika elemen pembentuk berada dalam proporsi yang sesuai dengan prinsip simetri tidak berlaku dalam dekonstruksi arsitektur? Mungkinkah mengatakan sesuatu yang brutal, berada di luar konsep harmony, unity dan stability dapat kita katakan beauty?

“…and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry” (Vitruvius: Ten Books On Architecture. Book One. Chapter Three)

Secara pribadi, well, saya mengatakan bahwa karya – karya mereka sangat indah karena menggambarkan adanya kebebasan dari keterikatan aturan proporsi dan simetri. Karya – karya mereka menggambarkan lepasnya diri mereka dari doktrin ataupun pengalaman manusia di masa lalu. Pengalaman dari masa lalu, contohnya pendidikan yang diperoleh dari masa Taman Kanak – Kanak hingga SMU, kita hanya dikenalkan pada bentuk – bentuk geometri dasar; kubus, pyramid, balok, prisma, silinder, bola, dan lainnya. Pada saat itu, karakter diri kita sebagai pihak pasif yang menerima begitu saja, tanpa disadari membentuk pemikiran tersendiri bahwa itulah yang dimaksud geometri. Apakah memang geometri hanya sekedar itu? Padahal bila kita telaah kembali arti kata geometri, yaitu mengukur bumi (measuring the earth), geometri bukan hanya sekedar itu. Bumi adalah alam, dan alam, menurut saya, secara mendasar adalah suatu hal yang dinamis dan tidak statis atau diam, dalam arti penuh perubahan. Alam adalah suatu hal yang dapat saya katakan bebas, tidak terikat. Dari pemahaman ini, saya kemudian menyimpulkan bahwa geometri adalah suatu hal yang bebas dan penuh kedinamisan.

Kembali kepada topik, jika memang segala yang kita katakan indah adalah berdasar apa yang dikatakan Vitruvius, maka dapatkah saya katakan bahwa dekonstruksi arsitektur tidak memiliki nilai keindahan? Melihat karya mereka tidak berdasar pengetahuan atau pengalaman banyak orang yang cenderung melihat keharmonisan dalam bentuk ataupun berdasar feeling akan adanya proporsi. Mereka juga tidak melakukan perhitungan matematika terlebih dahulu untuk menemukan nilai phi. Keindahan menurut Vitruvius, tidakkah ia bersifat mengikat terhadap bentuk arsitektur yang ada? Apakah adanya golden section untuk menemukan proporsi yang baik sedikit ‘kejam’ sehingga apapun yang berada di luar hitungannya tidak dapat kita katakan indah? If that so, then what will we call this deconstructivist architecture? Bad? Ugly?

Reference:
1. Johnson and Wigley. Deconstructivist Architecture. The Museum of Modern Art, New York.
2. Vitruvius. The Ten Books on Architecture.

February 23, 2009

What is Geometry?

Filed under: classical aesthetics — r1ss @ 00:38
Tags: , ,

Sebenarnya apa itu geometry? Dan apa peranan geometry dalam arsitektur? Selama ini saya beranggapan bahwa geometry adalah sesuatu yang berkaitan dengan matematika,rumus,hitungan dan aturan-aturan yang mendasari dari hitungan-hitungan tersebut. Karena di dalam geometry ada aturan-aturan yang harus diikuti seperti adanya rumus-rumus dalam matematika. Dan seperti dalam hitungan matematika, apabila kita menggunakan rumus yang salah, maka hitungan itu pun akan salah.
“Geometry is a branch of mathematics. It involves studying the shape, size, and position of geometric figures. These figures include plane (flat) figures, such as triangles and rectangles, and solid (three-dimensional) figures, such as cubes and spheres ” (http://en.wikipedia.org/wiki/Geometry).

Dan dari kutipan diatas, entah kenapa geometri seperti lebih merujuk ke bentuk-bentuk yang sudah pasti seperti segitiga, segiempat, lingkaran, atau cube. Di dalam bentuk-bentuk ini pun juga terdapat rumus-rumus yang mendasarinya. Lalu apabila geometri dipadupadankan dengan arsitektur, mungkinkah geometri ini juga menjadi aturan-aturan pada arsitektur? Seperti contohnya pada hitungan golden section yang digunakan untuk hitungan proporsi. Di dalam golden section terdapat perbandingan-perbandingan yang apabila perbandingan itu sesuai maka hasilnya adalah golden section yaitu 1,618..

Maka bukankah golden section ini adalah contoh penarapan aturan yang diberikan geometry untuk arsitektur? Bahkan apabila di dalam matematika, ada kemungkinan terdapat hasil yang berbeda-beda dengan rumusnya sama. Sedangkan di dalam golden section, terdapat rumus dan hasil yang sama. Maka bukankah ini menjadi aturan yang sangat mengikat dalam arsitektur? Apakah setiap bagian dari design harus menggunakan aturan dan hasil yang sama seperti aturan golden section?
Apabila saya katakan geomerty merupakan pengikat untuk arsitektur, maka bisa dikatakan geomerty sangat menentukan dalam arsitektur. Namun ternyata hal ini tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Vitruvius dalam buku Ten Books of Architecture. Kutipan dari beliau adalah:
“ Geometry, also, is of much assistance in architecture, and in particular it teaches us the use of the rule and compasses, by which especially we acquire readiness in making plans for buildings in their grounds, and rightly apply the square, the level, and the plummet…difficult questions involving symmetry are solved by means of geometrical theories and methods.” (Ten Books of Architecture)

Geometri dikatakan sebagai bantuan untuk arsitektur dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan simetri, membuat plans, dan segala sesuatu yang berbuhubungan dengan ruler dan compass. Geometri tidak dikatakan sebagai leader namun hanya sebagai assistance. Menurut Vitruvius, geometri juga bukan satu-satunya yang harus dipelajari oleh seorang arsitek. Banyak cabang ilmu yang tidak hanya geometri, namun juga filosofi, medicine, music, history, astronomy, dan hukum yang harus diketahui oleh arsitek.

“Let him be educated, skilful with the pencil, instructed in geometry, know much history, have followed the philosophers with attention, understand music, have some knowledge of medicine, know the opinions of the jurists, and be acquainted with astronomy and the theory of the heavens.” (Ten Books of Architecture)

Bukankah ini juga menjelaskan bahwa geometri bukanlah satu-satunya yang harus dijadukan patokan utama dalam arsitektur? Banyak aspek-aspek lain seperti music, filosofi, hukum, kedokteran, dan astronomi juga berperan dalam arsitektur. Geometri yang dikatakan Vitruvius seperti merujuk ke sebuah metode yang digunakan utnuk menyelesaikan permasalahan simetri dan proporsi pada bangunan. Namun apa sebenarnya geometri hanya berperan sebagai metode untuk  simetri dan proporsi dalam arsitektur? Dan  apabila geometry hanya sebagai sebuah metode dalam arsitektur, lalu  bisakah arsitektur terlepas dari geometri, proporsi atau simetri tersebut?

February 15, 2009

Classical Architecture

Filed under: classical aesthetics — r1ss @ 20:27
Tags: , , ,

Style Vitruvius pada arsitektur yang lebih condong ke Arsitektur Klasik merupakan arsitektur yang sangat terpaku pada order, proporsi, dan simetri pada setiap aspek bangunannya. Seperti yang dikatakannya dalam buku Ten Books of Architecture bahwa arsitektur bergantung pada order, pengaturan (arrangement),eurythmy, simetri,propierty,dan ekonomi. Dan kemudian keenam aspek ini yang mengatur setiap aspek-aspek pada design arsitektur klasik tersebut. Seperti peletakan bangunan yang cocok yang sesuai dengan penerangan Jupiter, bulan, atau kecocokan proporsi antara lebar dan panjang pada setiap bagian bangunan. Bahkan Vitruvius juga menjelaskan banhwa proporsi yang tepat pada bangunan bisa mengacu pada proporsi tubuh manusia dimana ada kepala,badan, dan, kaki.

Thus in the human body there is a kind of symmetrical harmony between forearm, foot, palm, finger, and other small parts; and so it is with perfect buildings.” (Ten Books of Architecture)
Dijelaskan bahwa dengan proporsi yang sempurna seperti pada tubuh manusia maka bangunan itu akan menjadi bangunan yang sempurna. Namun yang ingin saya pertanyakan adalah apa bangunan itu bisa selalu dikatakan sempurna ketika bangunan itu selalu terpaku pada aturan-aturan yang sudah ditetapkan pada arsitektur klasik. Apakah bangunan yang terbagi dengan tepat antara kepala, badan, dan kaki bisa dijadikan acuan sebagai arsitektur yang baik?
klasik-edit

Mungkin sebenarnya apabila dilihat dari perspektif lain, aturan-aturan ini malah seperti mengikat kita untuk membuat sesuatu yang sama secara terus-menerus. Sehingga geometri dari arsitektur ini pun menjadi sangat kaku. Dan ini mungkin yang mambuat arsitektur klasik sangat khas dalam fasad maupun denahnya. Keterikatan akan aturan-aturan arsitektur klasik ini juga sempat dikatakan dalam sebuah buku S,M,L,XL, dimana ketika diadakan rekonstruksi kembali kota Rotterdam muncul pendapat-pendapat bahwa mereka menginginkan kota baru yang tidaklah ideal, dimana harus terikat dengan rules,propositions sehingga membuat kota itu malah terasa sangat steril bagi mereka.
“ Orthogonality become suspect. “What about 60 degrees, or 120 degrees?”..It can dance on angle..The new centre was “not really a city”..How about freedom of rules,propositions,purpose..”(S,M,L,XL.Rem Koolhas)

Arsitektur klasik yang dominan sangat orthogonal menjadi dianggap kaku, dan tidak diinginkan. Karena kakuan dari aturan-aturan itu membuat kota tersebut menjadi tidak familiar bagi masyarakatnya sendiri. Lalu muncul pertanyaan lain, apakah adanya ketidakcocokan ini berkaitan dengan waktu. Dimana mungkin arsitektur klasik itu sangat cocok di waktunya dulu namun tidak lagi cocok di waktu yang sekarang? Pengembangan arsitektur klasik pada zaman-zaman setelahnya juga sempat dilakukan dimana memunculkan style yang baru yaitu style neo-classical. Namun pengembangan ini juga tidak mengubah sebagian besar aturan-aturan pada arsitektur klasik. Contohnya yaitu pada Gereja Immanuel yang dibangun pada tahun 1832.

gereja-gambir

Penggunaan proporsi kepala,badan,dan kaki seperti pada arsitektur klasik itu tetap ada, namun muncul pengembangan seperti digunakannya dome(kubah) pada bagian belakang bangunan. Namun pengembangan ini tidak berarti terlalu besar karena penampakan bangunan yang tetap menyerupai dengan arsitektur klasik pada masa-masa sebelumnya. Aturan-aturan yang terus diikuti ini membuat arsitektur neo-classic juga memiliki bentuk-bentuk geometri yang kaku sama seperti arsitektur klasik. Lalu apakah arsitektur yang seperti ini yang disebut sebagai arsitektur yang baik? Apakah perkembangan bentuk-bentuk geometri yang lebih beragam dan telah berkembang saat ini tidak bisa dikatakan sebagai arsitektur yang baik juga?

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.