Anda mungkin pernah mendengar kata samurai bukan? Seorang ahli pedang yang dapat menghabisi musuhnya hanya dengan sekali tebasan. Sekarang coba bayangkan anda adalah seorang samurai dan seseorang yang iseng meminta anda untuk membelah sebuah apel yang dilemparkannya pada anda di udara. Tanpa kesulitan sedikitpun anda membelah apel tersebut dengan sekali tebasan. Saya tidak akan mempertanyakan jurus atau aliran samurai apa yang terlintas dibenak anda saat membelah apel tersebut, melainkan kondisi apel tersebut setelah dibelah. Apakah anda membelahnya menjadi dua bagian tepat di tengah seperti pada gambar 1(a) atau tebasan anda terlalu cepat 0,1 detik hingga membelah pada bagian ujungnya saja seperti pada gambar 1(b)? Pada umumnya, dari percobaan yang saya lakukan setidaknya, mayoritas akan membelah apel tersebut tepat di tengah menjadi dua bagian sama besar, simetris.

Apa sih simetri? Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia didapat pengertian seimbang, selaras, sama kedua belah bagiannya. Jika ditelusuri dari asal katanya, kata simetri diambil dari bahasa Yunani symmetros digunakan dalam bahasa Inggris menjadi symmetrical, suatu keseimbangan dalam proporsi. Apa sih proporsi? Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia didapat pengertian perbandingan, bagian, perimbangan. Jika ditelusuri dari asal katanya, kata proporsi diambil dari bahasa Inggris abad pertengahan proporcion digunakan pertama kali pada abad ke – 14, suatu hubungan yang harmonis sebuah elemen baik dengan elemen lain maupun secara keseluruhan .
Manusia secara alami memiliki ikatan dengan simetri baik raga maupun rohani. Misalnya saja tim forensik menemukan hanya separuh wajah manusia, tim dapat merekonstruksi ulang menjadi sebuah wajah yang utuh karena ada simetri pada tubuh manusia. Dalam teknik menggambar misalnya, Scott Mcloud dalam bukunya “Membuat komik” menjelaskan bahwa dalam kondisi netral, tubuh manusia itu simetris. Perubahan pada posisi tubuh akan memberikan pesan lain pada karakter gambar tersebut. Selain itu, posisi tubuh pun dapat mempengaruhi emosi dan pikiran manusia. Jika anda sedang kesal, cobalah untuk memposisikan tubuh anda menjadi simetris hal ini biasa dilakukan saat orang akan bermeditasi maka perasaan anda berangsur – angsur akan membaik. Baik sadar ataupun tidak, bentuk simetri mempengaruhi kehidupan manusia dan memiliki tempat khusus pada pikiran kita semua. Maka tidak aneh jika hasil cipta karya manusia mendapatkan pengaruh yang besar dari sesuatu yang disebut simetri ini.
Mulai dari kuil Parthenon di Yunani hingga bangunan – bangunan pencakar langit pada abad ke -21, bangunan rancangan manusia masih (meskipun tidak semua) memperlihatkan bentuk – bentuk simetris pada elemen – elemen bahkan hingga bentuk keseluruhan. Vitruvius dalam bukunya “THE TEN BOOKS ON ARCHITECTURE” menjelaskan bahwa simetri merupakan bagian dari prinsip dasar arsitektur karena simetri merupakan penyesuaian yang tepat bagi elemen – elemen pada sebuah bangunan. Bangsa Yunani kuno sangat menggemari bangunan simetris karena kemegahan yang ditimbulkannya yang hingga kini tetap dikagumi bahkan dijadikan contoh untuk bangunan – bangunan pemerintahan di dunia. Manusia memang memiliki ikatan khusus dengan simetri dan cipta karya yang dihasilkan oleh bentuk simetri pun diakui memang memiliki kualitas yang baik namun, sebagai seorang arsitek, seorang perancang, apakah rancangan yang dilakukan harus berdasarkan hukum simetri? Mengutip perkataan guru saya saat SMA yang melakukan percobaan samurai dan apel di atas pada saya beberapa tahun yang lalu, “Kalau kamu membayangkan apel tadi terbelah dua sama besar, berarti pikiran kamu belum terbebaskan”. Saya menyimpulkan bahwa pikiran mengenai aturan yang ada, trend, sesuatu yang seharusnya, hal yang wajar merupakan hal – hal yang membatasi imajinasi dan pemikiran. Walaupun begitu, jawaban dari pertanyaan haruskah mengikuti hukum simetri tentu kembali pada diri masing – masing. Mungkin kembali membayangkan menjadi samurai bisa membantu?
Referensi
Vitruvius. The Ten Books of Arcitecture. trans by Morris Hicky Morgan, Ph.D, Ll.D
Mcloud, Scott. 2008. Membuat komik.Gramedia Pustaka Utama : Jakarta





