there’s something about geometry + architecture

February 15, 2009

Classical Architecture

Filed under: classical aesthetics — r1ss @ 20:27
Tags: , , ,

Style Vitruvius pada arsitektur yang lebih condong ke Arsitektur Klasik merupakan arsitektur yang sangat terpaku pada order, proporsi, dan simetri pada setiap aspek bangunannya. Seperti yang dikatakannya dalam buku Ten Books of Architecture bahwa arsitektur bergantung pada order, pengaturan (arrangement),eurythmy, simetri,propierty,dan ekonomi. Dan kemudian keenam aspek ini yang mengatur setiap aspek-aspek pada design arsitektur klasik tersebut. Seperti peletakan bangunan yang cocok yang sesuai dengan penerangan Jupiter, bulan, atau kecocokan proporsi antara lebar dan panjang pada setiap bagian bangunan. Bahkan Vitruvius juga menjelaskan banhwa proporsi yang tepat pada bangunan bisa mengacu pada proporsi tubuh manusia dimana ada kepala,badan, dan, kaki.

Thus in the human body there is a kind of symmetrical harmony between forearm, foot, palm, finger, and other small parts; and so it is with perfect buildings.” (Ten Books of Architecture)
Dijelaskan bahwa dengan proporsi yang sempurna seperti pada tubuh manusia maka bangunan itu akan menjadi bangunan yang sempurna. Namun yang ingin saya pertanyakan adalah apa bangunan itu bisa selalu dikatakan sempurna ketika bangunan itu selalu terpaku pada aturan-aturan yang sudah ditetapkan pada arsitektur klasik. Apakah bangunan yang terbagi dengan tepat antara kepala, badan, dan kaki bisa dijadikan acuan sebagai arsitektur yang baik?
klasik-edit

Mungkin sebenarnya apabila dilihat dari perspektif lain, aturan-aturan ini malah seperti mengikat kita untuk membuat sesuatu yang sama secara terus-menerus. Sehingga geometri dari arsitektur ini pun menjadi sangat kaku. Dan ini mungkin yang mambuat arsitektur klasik sangat khas dalam fasad maupun denahnya. Keterikatan akan aturan-aturan arsitektur klasik ini juga sempat dikatakan dalam sebuah buku S,M,L,XL, dimana ketika diadakan rekonstruksi kembali kota Rotterdam muncul pendapat-pendapat bahwa mereka menginginkan kota baru yang tidaklah ideal, dimana harus terikat dengan rules,propositions sehingga membuat kota itu malah terasa sangat steril bagi mereka.
“ Orthogonality become suspect. “What about 60 degrees, or 120 degrees?”..It can dance on angle..The new centre was “not really a city”..How about freedom of rules,propositions,purpose..”(S,M,L,XL.Rem Koolhas)

Arsitektur klasik yang dominan sangat orthogonal menjadi dianggap kaku, dan tidak diinginkan. Karena kakuan dari aturan-aturan itu membuat kota tersebut menjadi tidak familiar bagi masyarakatnya sendiri. Lalu muncul pertanyaan lain, apakah adanya ketidakcocokan ini berkaitan dengan waktu. Dimana mungkin arsitektur klasik itu sangat cocok di waktunya dulu namun tidak lagi cocok di waktu yang sekarang? Pengembangan arsitektur klasik pada zaman-zaman setelahnya juga sempat dilakukan dimana memunculkan style yang baru yaitu style neo-classical. Namun pengembangan ini juga tidak mengubah sebagian besar aturan-aturan pada arsitektur klasik. Contohnya yaitu pada Gereja Immanuel yang dibangun pada tahun 1832.

gereja-gambir

Penggunaan proporsi kepala,badan,dan kaki seperti pada arsitektur klasik itu tetap ada, namun muncul pengembangan seperti digunakannya dome(kubah) pada bagian belakang bangunan. Namun pengembangan ini tidak berarti terlalu besar karena penampakan bangunan yang tetap menyerupai dengan arsitektur klasik pada masa-masa sebelumnya. Aturan-aturan yang terus diikuti ini membuat arsitektur neo-classic juga memiliki bentuk-bentuk geometri yang kaku sama seperti arsitektur klasik. Lalu apakah arsitektur yang seperti ini yang disebut sebagai arsitektur yang baik? Apakah perkembangan bentuk-bentuk geometri yang lebih beragam dan telah berkembang saat ini tidak bisa dikatakan sebagai arsitektur yang baik juga?

3 Comments »

  1. Dari yang saya tangkap dari kuliah yang lalu, saya berpikir bahwa metode yang dilontarkan Vitruvius hanya salah salah satu cara atau contoh orang-orang pada zamannya mendefinisikan keindahan berdasarkan pentingnya keberadaan proporsi. Yang perlu ditekankan di sini adalah tentang ide Vitruvius bahwa sesuatu yang dikatakan proporsional memiliki perbandingan Φ (Φ=1,618…) antara bagian satu dengan yang lainnya, terkait dengan kalimat “harmony” yang berikutnya dia sertakan dengan perbandingan antara forearm, foot, palm, finger, and other small parts.

    Dalam hal ini, bukan berarti tuntunan yang dikatakan Vitruvius, seperti tata kota di mana ada acuan terhadap peletakan Temple terhadap Dewa-Dewa mereka dan fasilitas umum lainnya, bentuk tower harus begini, bentuk kota harus begitu, dan sebagainya, menjadi suatu acuan yang baku terhadap perancangan hal serupa di masa yang akan datang. Hal itu, menurut saya, hanyalah suatu adaptasi dari kultur yang berlaku di konteksnya. Ambil contoh tata kota kerajaan Majapahit di Trowulan (cari sendiri ya…), Lihat bagaimana masyarakat pada zaman itu memenuhi hasrat mereka akan keindahan sedemikian rupa sehingga itu juga dapat kita katakan sebagai sesuatu yang indah, sesuatu yang proporsional. Atau lihat tata kota Dubai yang terangkai atas garis-garis dinamis yang jauh dari ‘kekakuan’ tata kota Vitruvius. Mungkin mereka memenuhi perbandingan Φ, mungkin juga tidak, atau mungkin mereka memiliki tuntunan lain yang juga dijadikan acuan proporsi ketika mereka mendesain pada saat itu.

    Apapun quote yang dilontarkan orang pada zaman itu, atau di zaman yang lainnya, intinya adalah: sesuatu yang indah adalah sesuatu memenuhi proporsi, dan ini berlaku pada seluruh desain. Proporsi ini menjadi sedemikian penting dalam geometri dalam arsitektur sehingga mereka mencari metode yang bisa dijadikan acuan. Lalu bila ada pertanyaab apakah acuan mereka harus diterapkan pada perkembangan geometri masa kini yang sekarang sudah berjenjang jauh dari masa kejayaan arsitektur klasik? Mungkin saja sebenarnya kita juga bisa membuat suatu metode yang lebih relevan untuk zaman kita. Mungkin saja secara tidak sadar ternyata kita mengikuti acuan mereka dengan cara yang berbeda.

    Penerapannya terhadap desain bisa saja berjalan dengan cara yang berbeda, hanya satu yang sama: esensinya, di mana kita mengatakan sesuatu indah karena sesuatu itu proporsional, baik antarbagian dalam dirinya maupun antara dirinya dengan hal lain.

    Apakah bangunan yang mengikuti kaidah Vitruvius dapat dikatakan arsitektur yang baik? Ya. Lalu apakah bangunan yang tidak mengikuti kaidah Vitruvius juga dapat dikatakan arsitektur yang baik? Ya. _seffi

    Comment by annisa seffiliya — February 17, 2009 @ 16:43

  2. Pengaplikasian golden ratio sebagai standar proporsi yang baik guna mendapatkan keindahan pada seni dan arsitektur, ini sering dikritik. Apakah kita harus menggunakannya untuk memperoleh bangunan yang baik dan indah? Tidakkah itu akan membuat bangunan terkesan kaku? Haruskah kebebasan eksplorasi kita dipacung oleh golden ratio? Dan masih banyak lagi.

    Sejujurnya, saya juga berpendapat bahwa desain yang baik tidak harus berpatokan pada golden ratio. Tetapi perlu diingat, penerapan golden ratio ini sangatlah sarat makna. Ini merupakan salah satu bentuk komunikasi spiritual antara manusia Tuhan. Sebagaimana yang dikutip dari buku Architecture in the Age of Divided Representation karya Dalibor Vesely :

    “Communication with the divine is possible only through the likeness of human and divine mind. The human mind represent in one sense the unity of vision, in another sense a reference to a measure (mensura), which as “ the essence of number is the first exemplar of the mind.” Because is the measure is the main characteristic of proportion, the association of human mind and measure also speaks about the proportional structure of mind….,”

    yang merupakan penafsiran hasil pemikiran Nicolaus Cusanus, filsuf.

    Sejak dahulu, orang-orang menyakini bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi, lebih hebat daripada manusia. Dialah Tuhan, yang menciptakan kita semua, manusia. Tuhan dianggap amat sempurna, tanpa ada celanya. Yang menjadi pertanyaan, seperti apa kesempurnaan Tuhan itu? Oleh karena itu, orang-orang memulai perhitungan terhadap alam seperti daun, matahari, dan lain-lain sebagai salah satu upaya mencari arti kesempurnaan Tuhan sekaligus jawaban pertanyaan itu. Dari hasil pencarian itu, ditemukan bahwa adanya pengulangan pada benda-benda alam. Ya, itulah golden ratio. Mengacu tradisi pemikiran nondogmatik dan definsi proporsi:

    ” Proportion is a correspondence among the measures of the members of an entire work…” (Vituvius, The Ten Books on Architecture)

    Proporsi dianggap sebagai tanda pengulangan (analogi). Itu sebabnya, golden ratio dianggap tanda kesempurnaan Tuhan karena sering ditemukan. Tidak mengherankan, itu menjadi patokan standar proporsi yang baik. Itu adalah semacam bentuk pengagungan Tuhan. Itu juga menjadi penyebab maraknya penggunaan golden ratio pada masa Renaissance yang sedang tinggi rasa spiritualnya.

    Jadi, aplikasi golden ratio ini harus dihargai karena merupakan representasi kepercayaan terhadap Tuhan. Yang menjadi pertanyaaan adalah dapatkah muncul bentuk baru yang merupakan simbol kepercayaan kita terhadap Tuhan (agama) di masa kini? (^-^)_ meutia

    Note: kata “Tuhan” tidak hanya mengacu Tuhan dari agama yang kita anut di masa kini, tetapi juga dewa-dewi Yunani Kuno.

    Comment by meurin — February 21, 2009 @ 03:13

  3. manusia atau makhluk hidup sering kali dijadikan acuan atau inspirasi dalam membuat arsitektur atau produk, hal ini dikarenakan bentukan, proporsi atau susunan dari tiap bagiannya sudah teruji dapat digunakan dengan baik, dan kesemuanya dapat saling mendukung makhluk tersebut ketika menjalankan kegiatannya.

    aturan-aturan, atau pola hubungan antar bagian ini kemudian dipelajari, untuk kemudian dapat diambil hal yang berguna sehingga bisa diterapkan dalam merancang sesuatu. adapun bila ada kekurangan, manusia bisa memperbaiki dan mengembangkan gagasan tersebut agar dapat sesuai dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.

    namun bila aturan-aturan ini dianggap sebagai suatu hal yang baku tanpa bisa diganggu gugat dan membatasi kreativitas, saya merasa pendapat ini kurang bijak. menurut saya akan lebih baik bila menjadikan salah satu metode merancang ini sebagai acuan, atau pemicu dalam merancang. mengembangkan dari aturan itu sendiri.

    merancang atau berkarya adalah bagaimana menyampaikan gagasan, dengan metode ataupun media apapun, kita bebas menggunakan alat apa saja pada saat berkarya tanpa harus terpaku pada cara menggunakan alat tersebut karena ternyata yang membatasi itu adalah kita sendiri.

    indah atau baik hasilnya, penilaian ini adalah dua hal yang berbeda. satu hal (indah) bisa dinilai secara subjektif sedangkan baik mesti dinilai secara objektif. bila karya tersebut sudah memenuhi hasrat pembuatnya dalam menyampaikan gagasannya bisa dikatakan baik.

    Comment by agungsetyawan89 — March 28, 2010 @ 23:04


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: