there’s something about geometry + architecture

February 18, 2009

Proportion in Design; Feeling or Calculation?

Filed under: classical aesthetics — def1 @ 13:10
Tags: ,

Ketika kita melihat sesuatu itu indah atau jelek sebenarnya apa yang kita lihat sehingga dapat menyimpulkan demikian, hal apa yang membedakannya. Mungkin salah satunya kita melihat adanya ketidaksesuaian atau ketidak pas-an pada sesuatu yang kita katakan jelek. Sesuatu (sebuah benda) terbentuk dari komponen – komponen yang tersusun sehingga membentuk bentuk tertentu, komponen –komponen tersebut membentuk suatu komposisi dengan memperhatikan perbandingan jarak dan atau ukuran antar bagiannya sehingga komposisi yang terbentuk menciptakan suatu kesan yang ‘pas/sesuai’. Dimana disebutkan oleh Plato,in Timaeus : “the good is always beautiful and beautiful never lacks proportion” yang menjadi pertanyaan bagi saya disini adalah perbandingan yang kita peroleh sehingga membentuk komposisi yang indah itu sebenarnya kita peroleh darimana? Berdasarkan feeling kah atau harus berdasarkan pada hitungan tertentu? Dan apakah yang menggunakan feeling akan menghasilkan suatu komposisi dengan perbandingan yang sama tepatnya dengan bila perbandingan itu dihitung berdasarkan hitungan tertentu, apakah bisa sama indahnya?

Ketika seorang arsitek mencoba untuk mensketsa sebuah desain apakah saat itu mereka memperhitungkan perbandingannya secara ‘matematika’? tentunya mereka akan membuat dengan proporsi yang pas tapi menurut saya sebagian besar adalah hasil dari feeling, entah pendapat saya benar atau tidak. Tetapi dari pengalaman saya selama menjalani studio perancangan, rasanya sedikit sekali yang mengacu dan berdasarkan pada perhitungan secara matematika, yang justru diutamakan adalah desain itu terlihat indah dan itu adalah berdasarkan feeling kita, kita mencoba sampai kita mendapatkan suatu komposisi yang pas. Atau mungkin selama ini sebenarnya ketika kita mencoba untuk menemukan proporsi yang pas kita telah melakukan perhitungan-perhitungan yang secara tidak langsung kita lakukan, jadi feeling yang kita dapat itu sebenarnya kita peroleh karena kita telah mendapatkan perhitungan yang sesuai?

3 Comments »

  1. Berbicara mengenai proporsi dalam desain, memang tampaknya murni muncul dari feeling sang desainer. Namun, benarkah bahwa feeling yang kita diskusikan di sini merupakan sesuatu yang benar-benar abstrak dan sangat-sangat subjektif? Dari pandangan saya, penilaian tiap orang terhadap sebuah karya bernilai estetika selalu saja merujuk pada penilaian berdasarkan feeling. Feeling akan suatu nilai estetika dipupuk dari pengalaman tiap-tiap orang dalam tahap pembelajaran semasa hidupnya dan semuanya itu sedikit banyak pasti dipengaruhi oleh lingkungan.

    Kita ambil contoh seorang anak kecil dalam usia 3 tahun yang sedang mengikuti kelas mewarnai gambar. Anak tersebut mewarnai gambar sesuka hatinya dan bahkan tak memperdulikan outline dari gambar yang ia warnai. Melihat hal tersebut, gurunya selalu saja menekankan bahwa gambar tersebut akan terlihat indah apabila diwarnai mengikuti outline yang ada. Si anak yang terus tumbuh, belajar, memahami dan membentuk pengetahuan bahwa pelajaran dari sang guru memang tepat. Pengetahuan itu akhirnya melekat dan terbawa sepanjang hidupnya. Hal seperti itulah yang nantinya dibawa terus menerus dan secara tanpa sadar membentuk pemikiran si anak dalam menilai gambar-gambarnya.

    Dari contoh di atas, kita dapat melihat relevansi nya dengan materi kuliah geometri dan arsitektur yang lalu yang sempat menyinggung sebuah quote dari buku Geometrical Composition & Design (Matila Ghyka, 1952) “the concept of proportion is in composition the most important, whether it is used consciously or unconsciously.”
    Contoh di atas dapat dikategorikan sebagai penilaian terhadap proporsi secara tak sadar (unconsciously) karena telah tertanam sejak lama dan dimanfaatkan secara terus menerus sehingga membentuk kebiasaan yang membuat penilaian terhadap proporsi yang baik hanya berdasarkan memori dan sebagainya.

    Sedangkan kalkulasi dalam menentukan proporsi (dapat dikatakan sebagai penilaian secara sadar(consciously)), saya melihatnya sebagai sebuah implikasi pada era lampau ketika sebuah ilmu pengetahuan dituntut untuk memberikan penjelasan yang logis dan terukur yang mampu diterima dan dicerna oleh semua orang.

    Pada akhirnya, apakah penilaian itu dapat dikatakan subjektif? Ataukah objektif, karena telah menjadi kesepakatan bersama mengenai standar “baik/buruk” dalam proporsi dan estetika?

    -mando_yang_masih_perlu_banyak_belajar-

    Comment by holydragoon — February 19, 2009 @ 02:10

  2. Menurut saya, sebenarnya penilaian proporsi yang ada di pikiran kita juga merupakan hasil penghitungan yang telah kita pelajari sebelumnya. Sebelum kita belajar arsitektur, mungkin kita tidak memperhatikan masalah kecocokan proporsi. Apabila ada sesuatu yang tidak proporsional kita hanya mengatakan “aneh”. Namun setelah kita belajar arsitektur tentang proporsi yang bagus dan “enaknya” seperti apa, maka di pikiran kita pun akan secara tidak langsung merekam penghitungan proporsi itu. Mungkin penghitungan itu tidak secara bilangan matematika namun lebih seperti perbandingan satu bagian dengan bagian lainnya. Menurut saya pribadi, penghitungan seperti ini sebenarnya lebih logis dibandingkan penghitungan proporsi secara matematika seperti yang dilakukan oleh arsitektur klasik. Karena apa yang dilakukan arsitektur klasik selalu menggunakan hitungan yang sama sehingga bangunan yang dihasilkan menjadi terkesan kaku dan khas sekali, sehingga keunikannya juga menjadi khas.

    Comment by r1ss — February 22, 2009 @ 13:09

  3. asumsi saya..proporsi yang hadir dan diinterpretasi merupakan kolaborasi bawaan genetik(semacam archetype meurut Lobel, ide menurut plato, cetak biru, atu roh mungkin).) dan alam pengalaman eksternal (konsepnya aristo), Pendapat saya mungkin sedikit diperkuat pada kenyataan adanya kesamaan bentuk2 dasar misalnya segita),piramid, lingkaran pada dua atau ;ebih kebudayaan dan peradapan yang tidak pernah saling berkomunikasi dan bertukar informasi (lihat ide bentuk peiramid mesir, mirp dengan die piramid di suku inca maya di amerika. Tapi walaupun ciri dasarnya sama, ia mendapatkan variannya karena bersinggungan dengan konteks lingkungan pengalaman eksternal,

    Comment by masdar — February 15, 2010 @ 05:12


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: