there’s something about geometry + architecture

February 24, 2009

Beauty in Deconstructivist Architecture

Filed under: classical aesthetics,contemporary theories — Sheila P. Narita @ 18:09
Tags: , , ,

“We don’t want architecture to exclude everything that is disquieting. We want architecture to have more… Architecture should be cavernous, fiery, smooth, hard, angular, brutal, round, delicate, colorful, obscene, voluptuous, dreamy, alluring, repelling, wet, dry and throbbing.” (Himmelblau 1988: 95)

Apabila kita melihat dekonstruksi arsitektur dimana ia menggunakan geometri sebagai ekspresi kebebasan bentuk dalam berarsitektur, bagaimana bila ia dihubungkan dengan prinsip Vitruvius dalam buku Ten Books on Architecture? Dapatkah saya mengatakan bahwa keindahan yang menurut Vitruvius adalah ketika elemen pembentuk berada dalam proporsi yang sesuai dengan prinsip simetri tidak berlaku dalam dekonstruksi arsitektur? Mungkinkah mengatakan sesuatu yang brutal, berada di luar konsep harmony, unity dan stability dapat kita katakan beauty?

“…and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry” (Vitruvius: Ten Books On Architecture. Book One. Chapter Three)

Secara pribadi, well, saya mengatakan bahwa karya – karya mereka sangat indah karena menggambarkan adanya kebebasan dari keterikatan aturan proporsi dan simetri. Karya – karya mereka menggambarkan lepasnya diri mereka dari doktrin ataupun pengalaman manusia di masa lalu. Pengalaman dari masa lalu, contohnya pendidikan yang diperoleh dari masa Taman Kanak – Kanak hingga SMU, kita hanya dikenalkan pada bentuk – bentuk geometri dasar; kubus, pyramid, balok, prisma, silinder, bola, dan lainnya. Pada saat itu, karakter diri kita sebagai pihak pasif yang menerima begitu saja, tanpa disadari membentuk pemikiran tersendiri bahwa itulah yang dimaksud geometri. Apakah memang geometri hanya sekedar itu? Padahal bila kita telaah kembali arti kata geometri, yaitu mengukur bumi (measuring the earth), geometri bukan hanya sekedar itu. Bumi adalah alam, dan alam, menurut saya, secara mendasar adalah suatu hal yang dinamis dan tidak statis atau diam, dalam arti penuh perubahan. Alam adalah suatu hal yang dapat saya katakan bebas, tidak terikat. Dari pemahaman ini, saya kemudian menyimpulkan bahwa geometri adalah suatu hal yang bebas dan penuh kedinamisan.

Kembali kepada topik, jika memang segala yang kita katakan indah adalah berdasar apa yang dikatakan Vitruvius, maka dapatkah saya katakan bahwa dekonstruksi arsitektur tidak memiliki nilai keindahan? Melihat karya mereka tidak berdasar pengetahuan atau pengalaman banyak orang yang cenderung melihat keharmonisan dalam bentuk ataupun berdasar feeling akan adanya proporsi. Mereka juga tidak melakukan perhitungan matematika terlebih dahulu untuk menemukan nilai phi. Keindahan menurut Vitruvius, tidakkah ia bersifat mengikat terhadap bentuk arsitektur yang ada? Apakah adanya golden section untuk menemukan proporsi yang baik sedikit ‘kejam’ sehingga apapun yang berada di luar hitungannya tidak dapat kita katakan indah? If that so, then what will we call this deconstructivist architecture? Bad? Ugly?

Reference:
1. Johnson and Wigley. Deconstructivist Architecture. The Museum of Modern Art, New York.
2. Vitruvius. The Ten Books on Architecture.

3 Comments »

  1. Permasalahan tentang sesuatu yang indah dan jelek itu menjadi sebuah permasalahan yang cukup kompleks, menurut saya, apalagi ketika hal tersebut dikaitkan dengan sebuah paham dekonstruksi dan membandingkannya dengan prinsip proporsi vitruvius. tidak dapat dikatakan begitu saja jika dekonstruksi itu kemudian menjadi sesuatu yang salah, jelek, atau kebalikannya sesuatu yang baik, indah. tapi satu hal yang menurut saya pasti adalah kedua hal tersebut mempunyai sebuah kaitan satu dengan yang lainnya.

    kita tidak dapat mengatakan bahwa dekonstruksi itu sesuatu yang diluar prinsip vitruvius mengenai proporsi dll, jika kita tidak mengetahui bagaimana sebuah proporsi itu dikatakan ‘ baik ‘

    dan satu lagi… dekonstruksi itu sendiri menurut saya adalah bagaimana cara kita membongkar sesuatu sehingga kita mendapatkan inti sari dari hal tesebut dan kemudian mencoba menyusunnya kembali menjadi suatu yang baru yang berbeda tanpa menghilangkan esensi dari sesuatu tersebut….. Lalu … Buakan kah sangat mungkin bahwa dalam penyusunan kembali itu kita menggunakan prinsip-prinsip proporsi ??

    Comment by arwn — March 6, 2009 @ 00:28

  2. jika sudah ‘merenungi’ yg mendalam, maka suatu hari anda akan mengatakan bentuk2 vitruvius juga naif dan menghayal. bagaimana mungkin menerjemahkan ruang dengan bujursangkar_lingkaran_segitiga? coba berdiri disudut dinding yang lurus (didalam ruangan kotak), anda akan melihat ruangan itu sebenarnya distorsi lagi. makanya ada gambar persepektif (gambar distorsi_orang arab yg nemukan).Jadi, dekonstruksi yg dipelopori oleh_jaques derida atau roland barthes sudah keluar dari norma2 keteraturan itu….ekspresi ruang itu bebas aja sebenarnya.Tidak ada bagus dan tidak bagus. Yang ada apakah ‘muat’ atau ‘cukup sempit’ saja.

    Comment by murni khuarizmi — May 26, 2009 @ 12:47

  3. Kita tidak bisa mengikuti prinsip keindahan ala Vitruvius yang muncul pada ribuan tahun silam sampai sekarang. Itu sudah sangat mendasar dan tidak dapat dijadikan acuan utama kembali pada masa kini.
    Menurut saya, keindahan tidak bisa diterjemahkan berdasarkan hanya pada satu teori saja, melainkan keindahan harus diterjemahkan dari pengalaman seseorang yang menikmati suatu objek yang dituju. Hal ini disebabkan oleh pengalaman yang dimiliki seseorang yang tinggal di suatu tempat dan hidup pada suatu waktu akan berbeda dengan orang lainnya. Sebagai contoh, coba tanyakan kepada para masyarakat senior yang lahir dan besar pada masa perkembangan arsitektur modern yang tinggal di sebuah desa di Jawa dan tidak memiliki latar belakang arsitektur, apakah mereka akan merasakan keindahan pada karya-karya Zaha Hadid atau Frank Gehry? Pastilah jawaban mereka akan berbeda dengan jawaban para mahasiswa arsitektur tingkat akhir di kota besar yang sedang mengerjakan tugas akhir mereka. Oleh karena itu keindahan akan dipahami berbeda oleh setiap orang dan tidak ada yang salah apabila terdapat perbedaan akan definisi keindahan antar satu orang dengan orang yang lain.

    Comment by ignatiusadrian — March 18, 2015 @ 00:00


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: