there’s something about geometry + architecture

March 29, 2009

Formula for ‘ Ideal City ‘ ????? Hmmmm……

Filed under: ideal cities — arwn @ 19:39
Tags: , ,

Permasalahan urban dalam sebuah perkotaan sering kali atau pasti disangkut pautkan dengan peran arsitek di dalamnya. Arsitek sering kali dianggap sebagai seorang yang dapat menyelesaikan segala permasalahan yang menyangkut urban. Kenyataannya… memang arsitek dibekali oleh pengetahuan-pengetahuan untuk menghadapi permasalahan seperti itu tetapi belum tentu seorang arsitek dapat menyelesaikan segala permasalahan yang menyangkut ‘urban’ yang ada dalam satu kota.<

Dari hal diatas, arsitek seakan dipandang sebagai seorang yang mempunyai sebuah ‘pandangan’ yang paling baik, sehingga ‘utopia’ dari seorang arsitek kemudian menjadi begitu penting dan banyak orang yang hidup dalam utopia, yang tercetus oleh seorang atau beberapa orang yang disebut dengan ‘arsitek’. Yang menjadi permasalahannya sekarang adalah apakah benar pandangan dan utopia yang diciptakan oleh seorang arsitek kemudian dapat menyelesaikan masalah, apalagi masalah yang sudah menjadi sindrom dalam satu kota, yang sudah menyangkut masalah urban? Atau lebih umumnya bisa dipertanyakan apakah ide-ide tentang ideal city yang selama ini sudah dikeluarkan oleh arsitek terkenal, misalnya, kemudian dapat menyelesaikan permasalahan urban di semua tempat?

“The Ideal City will be new” ( Barnett )
Ambil satu contoh misalnya, Barnett berpendapat bahwa kota ideal adalah kota yang dibuat baru, yang tidak boleh ada bau, kuburan, pejagalan, penjara, segala yang berpenampilan jelek, dll. Semua itu diciptakan seakan untuk membuat sebuah kota menjadi sangat indah, sangat sempurna. Betapa senangnya jika kita hidup di dalam kota seperti itu, sebuah kota yang sempurna, seperti hidup dalam ‘city of angel’, bisa dikatakan seperti itu. Tetapi yang menjadi sebuah pertanyaan sekarang adalah apakah kemudian hal ini benar-benar dapat tercapai, dapat dilakukan? Atau jika hal itu benar-benar terjadi apakah kemudian ‘kota’ itu akan benar-benar menjadi ’kota’? Seperti yang dipertanyakan oleh Ram Koolhas dalam bukunya s,m,l,xl bahwa apakah kota yang benar-benar steril kemudian akan benar-benar manjadi kota? Bukankah kota itu justru malah akan membuat kota itu seakan mati. Seperti contoh kota yang dijadikan contoh oleh koolhas yaitu kota Rotterdam, Belanda.

Memang tidak semua kejadiannya akan seperti itu, jika kita menapak tilas lagi pada arsitektur zaman The Empire ( 1804 – 1815 ) dalam periode ‘Urban Development in France’, dimana Napoleon menginkan untuk membuat Paris menjadi Kota yang paling indah di dunia dengan salah satu caranya yaitu memerintahkan Bernard Poyet untuk mengubah fasad bangunan di sekitar ‘The Church of Madalaine’ agar style bangunan dan garis jalan sesuai dan harmonis dengan gereja Madalaine tsb. Masih banyak lagi yang dilakukan oleh Napoleon untuk membuat Paris menjadi kota yang benar-benar indah, menjadi sesuai dengan ‘utopia’nya dan memang jejak sejarah itu menjadikan Paris menjadi salah satu kota terindah hingga sekarang, yang membuat orang yang berkunjung ke sana, pertama-tama akan merasakan keindahannya tanpa memperhatikan hal-hal yang jelek, seperti yang dikatakan oleh Barnett: “a visitor of the ideal city would be changed by it’s first aspect, it’s variety of architecture, it’s beauty of colour, it’s fressness and purity.”( Barnett )

Tetapi kemudian, apakah hal tersebut masih cocok hingga sekarang?
“ The ideal city of the modern city is like the ideal of a well ordered home: a place for everything and everything in its place. “( Lofland)
“ A city made for speed is made for succes. Therefore, nothing could be come in the way of the traffic flow, and the separation was seen as the part way to achieved on struction freemovement in the city.” ( Le Corbusier )

Banyak juga ide yang kemudian dikeluarkan mengenai bagaimana kota yang ideal pada masa modern ( ideal modern city ), yang ujung-ujungnya akan berlabuh pada ‘penzoningan’ (mengkotak-kotakan) dari jenis-jenis aktivitas, kebutuhan, benda, bangunan, dll. Dan hal itu berlangsung hingga sekarang . Seperti contoh ide yang dikemukakan oleh Le Corbusier, di mana ia memisahkan jalan untuk mobil dan jalan untuk pejalan kaki sehingga terjadi sebuah order lewat pemisahan yang berujung pada zoning. Dan ide ini juga berlangsung hingga sekarang. Lalu apakah menjadikan kota itu ideal?

Indonesia, Jakarta terutama, tanpa terkecuali, terpengaruh dengan ide kota yang dikeluarkan ole Le corbusier, lalu apakah Jakarta kemudian menjadi kota yang ideal???? TENTU TIDAK……dari hal ini bisa saya ambil kesimpulan bahwa ide itu menjadi tidak kontekstual, dan bila dipaksakan pada sebuah konteks yang berbeda….ya hasilnya dapat dilihat sendiri……ta….aa..a…..rraa…aa….. kota Jakarta yang jauh dari ideal.

Lalu Bagaimana kota yang ideal itu sebenarnya???? Yang bisa cocok di masa modern ataupun masa datang… Bagaimana ‘Formula’ tentang Ideal City yang seharusnya….apakah ‘ia’ harus menjadi kontekstual atau tidak??? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi hal yang harus dijawab oleh seorang arsitek, mengingat arsitek mampunyai / memegang kontrol dan orang lain akan hidup dalam utopia yang diciptakan oleh pemegang kontrol itu. Seperti yang dikemukakan oleh Jacobs :“Many ideal plans of the cities as garden city and radiant city bassically attempt to create harmony and order in the physical enviroment under the total absolute and unchallanged control of the arcitect ( Jacobs )

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: