there’s something about geometry + architecture

March 29, 2009

Geometry in Ideal City

Filed under: ideal cities — r1ss @ 09:17
Tags: ,

Apa peran geometri dalam pembentukan kota ideal? Kota adalah sebuah tempat dimana banyak kehidupan masyarakat yang terbentuk didalamnya, sedangkan dimana geometri? Ada sebuah kutipan yang menghubungkan geometri dengan kota ideal dimana hasilnya bahwa di dalam kota ideal tersebut harus ada order serta pattern yang rapih dan teratur dalam kota tersebut dan tidak ada yang salah penempatan (full of perfect control).

Windsor-Liscombe: “Geometry has been used to develop the layout of ideal cities. Most often the use of geometry results in a regular pattern of streets and space in the city”
Lofland : ”The ideal of the modern city is like the ideal of a well-ordered home. A place for everything and everything in its place”

Pada kutipan diatas, geometri dijelaskan hanya berperan dalam pembentukan order, pola jalan serta space dalam kota ideal. Tapi apa order dan pattern yang rapih benar-benar merupakan syarat terbentuknya kota ideal? Dan apakah bisa pasti dikatakan sebagai sesuatu yang ideal apabila sesuatu tersebut selalu harus berada di tempatnya yang sesuai? Kota ideal juga sempat tercetus seperti kota utopia atau kota impian oleh Thomas More tentang The Island of Utopia. Apabila disebutkan sebagai utopia atau impian, maka sewajarnya masyarakat didalamnya juga dilibatkan didalam kota itu, karena dikatakan sebagai kota impian tentunya kota itu merupakan impian dari masyarakat yang tinggal didalamnya. Dan apabila ingin menjadi impian bagi masyarakatnya, maka harus ada pemenuhan untuk masyarakat itu sendiri. Namun ternyata Thomas More berpendapat kota ideal adalah dimana ada order pada jalan serta rumah-rumahnya.

More : “The fine appearance and the orderliness of the streets, houses, and gardens.”

Ketika geometri dimasukan ke dalam kota ideal maka muncullah persyaratan order dan pattern, lalu masyarakat yang ada didalamnya seperti budaya dan kehidupan sehari-hari masayrakat itu menjadi tak terbahas lagi. Padahal kemungkinan besar, masyarakat yang tinggal di sebuah kota mungkin tidak mempedulikan bagaimana order kota mereka, karena yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana kota tersebut dapat nyaman untuk mereka tinggali dan dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Kota yang dikatakan sebagai kota utopia adalah kota impian untuk masyarakatnya sehingga pertimbangan kehidupan masyakat didalamnya pun menjadi penting, seperti yang dijelaskan dalam sebuah buku Archis tentang sebuah ide kota utopia.
“The district of the utopia city could correspondent to the whole spectrum of diverse feeling that one encounters by chance in everyday life.”

Ide kota utopia lain ini juga dicontohkan yaitu seperti ide Peter Cook pada “Plug-in City”. Dikatakan tentang kota tersebut yaitu,

“A city which is districts evoke moods…Every quarter has its ambience, its own décor, its own emotion, its own constellation of desires” (archis).

Plug-in city adalah sebuah mobile society, dimana orang-orang yang tinggal didalamnya dapat berpindah dan juga dapat berfungsi sebagai penentu. Di dalam kota ini, yang diutamakan yaitu bagaimana setiap tempat tinggal dapat memenuhi keinginan (desires) dari orang yang tinggal didalamnya, bahkan bisa mengikuti mood dari penghuni di dalamnya. Ide plug-in city merupakan sebuah usaha untuk memenuhi kebutuhan dari masyarakatnya dengan salah satunya yaitu kemungkinan penghuni tersebut dapat berpindah beserta tempat tinggalnya. Dan tidak ada pengaturan order khusus dalam kota ini. Lalu pada bagian ini, dimanakah geometri berperan? Karena tidak adanya order jalan dan rumah yang harus dipenuhi. Apabila melihat dari beberapa pendapat arsitek seperti Le Corbusier dan lofland maka Ideal City = Order.

Apabila ada geometri dalam kota ideal maka akan ada order dan hanya mempertimbangkan kondisi fisik kota seperti pattern jalan dan rumah-rumah. Lalu kalau tidak ada geometri dalam kota ideal maka apa mungkin barulah kota ideal dihubungkan dengan masyarakatnya seperti yang terjadi pada plug-in city? Dan apabila geometri hanya berperan sebagai order dalam sebuah ideal city, lalu apabila order itu tak ada, apakah berarti tidak ada peran apapun untuk geometri dalam sebuah kota ideal?

3 Comments »

  1. Ingat bahwa geometri adalah geometri, bedakan dengan geometri adalah bentuk2 order. Anggapan bahwa peran geometri dalam tata kota berhubungan dengan order menurut saya salah kaprah. Masalahnya bukan terletak pada geometri=order pada suatu kota. Namun geometri seperti apa, dilihat dari sudut pandang bagaimana, yang terdapat, berperan, dalam suatu kota?

    Plug-in City tentu saja memiliki geometri. Hanya saja dia tidak memiliki order, atau keluar dari order seperti yang dimaksud ideal city versi Windsor-Liscombe, Lofland, dan Thomas More. Perhatikan juga bahwa pendapat Windsor-Liscombe “Geometry has been used to develop the layout of ideal cities” dapat diterima, namun pernyataan selanjutnya “Most often the use of geometry results in a regular pattern of streets and space in the city” merupakan pernyataan yang perlu dikritisi lagi.

    Masalahnya hanya terletak pada dari sudut pandang mana kita menggunakan geometri dalam pembentukan tata kota. Kota adalah tempat yang di dalamnya kita tinggal, jadi mari tidak meihanya dari ‘god eye’, melainkan dari ‘human view’. Dari pengalaman ruanglah kita menggunakan geometri dalam mewujudkan suatu kota. Ingatkah bahwa dalam Chambers of … (*nanti saya ingat2 lagi dan meralat tulisan ini sesegera mungkin setelahnya), dia tidak pernah menjelaskan kota yang ia maksud dengan peta, melainkan dengan acuan/ panduan ruang. Mengapa? Karena memang demikianlah kita merasakan kota, sebagai ruang, bukan hanya sebagai tatanan yang terlihat rapi atau tidaknya dari sebuah peta atau masterplan. Bukankah itu geometri juga yang membuat kita dapat membedakan bentuk dan menjabarkan perbedaan ruang yang kita alami?

    Comment by annisa seffiliya — March 29, 2009 @ 17:37

  2. Ingat bahwa geometri adalah geometri, bedakan dengan geometri adalah bentuk2 order. Anggapan bahwa peran geometri dalam tata kota berhubungan dengan order menurut saya salah kaprah. Masalahnya bukan terletak pada geometri=order pada suatu kota. Namun geometri seperti apa, dilihat dari sudut pandang bagaimana, yang terdapat, berperan, dalam suatu kota?

    Plug-in City tentu saja memiliki geometri. Hanya saja dia tidak memiliki order, atau keluar dari order seperti yang dimaksud ideal city versi Windsor-Liscombe, Lofland, dan Thomas More. Perhatikan juga bahwa pendapat Windsor-Liscombe “Geometry has been used to develop the layout of ideal cities” dapat diterima, namun pernyataan selanjutnya “Most often the use of geometry results in a regular pattern of streets and space in the city” merupakan pernyataan yang perlu dikritisi lagi.

    Masalahnya hanya terletak pada dari sudut pandang mana kita menggunakan geometri dalam pembentukan tata kota. Kota adalah tempat yang di dalamnya kita tinggal, jadi mari tidak meihanya dari ‘god eye’, melainkan dari ‘human view’. Dari pengalaman ruanglah kita menggunakan geometri dalam mewujudkan suatu kota. Ingatkah bahwa dalam Chambers of a Memory Palace(*nanti saya ingat2 lagi dan meralat tulisan ini sesegera mungkin setelahnya), Donlyn Lyndon tidak pernah menjelaskan kota yang ia maksud dengan peta, melainkan dengan acuan/ panduan ruang. Mengapa? Karena memang demikianlah kita merasakan kota, sebagai ruang, bukan hanya sebagai tatanan yang terlihat rapi atau tidaknya dari sebuah peta atau masterplan. Bukankah itu geometri juga yang membuat kita dapat membedakan bentuk dan menjabarkan perbedaan ruang yang kita alami?

    Comment by annisa seffiliya — March 29, 2009 @ 17:40

  3. Hemm,,mungkin cara pandangnya harus dibalik.
    Ideal city itu terkait dengan keteraturan sebuah kota, dan untuk menjadi teratur ia memerlukan order (aturan/tatanan). Geometri selamanya akan terkait dengan order, karena geometri sejak awal juga berbicara mengenai tatanan. Oleh karena itu, penerapan geometri dalam konsep ideal city menurut saya tidak akan pernah terlepas dari keberadaan order. Mungkin pertanyaan yang harus diajukan adalah: order yang bagaimana? order menurut sudut pandang siapa? Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan menentukan geometri seperti apa sebenarnya yang bisa merealisasikan konsep kota ideal.
    Lalu terkait dengan peryataan Lofland mengenai konsep kota ideal, perlu digarisbawahi bahwa ia mengambil analogi rumah sebagai konteks ia berbicara mengenai ” … everything in its place”. Ini kembali terkait dengan order. saya yakin kita semua pernah mendengar mengenai domestisitas, di mana order dalam sebuah rumah bergantung pada siapa yang menjadi penghuninya, sehingga apa yang disebut order dalam satu rumah belum tentu dipandang sebagai order dalam derajat yang sama pada rumah lain. “Everything in its place” pada sebuah rumah tergantung bagaimana penghuninya memaknai keteraturan dalam rumah tersebut, dan mungkin pemaknaan keteraturan ini akan berbeda dengan orang lain; ini yang kemudian menjadi aspek kontekstualitas dalam pembentukan keteraturan dan konsep ideal tadi. jika direfleksikan pada konsep kota ideal, maka ini akan mengarah pada bagaimana order yang disetujui oleh citizen kota tersebut (sebagai analogi dari ‘penghuni’ sebuah rumah) mengenai apa yang seharusnya terletak di mana, dan jika kondisi yang ada memenuhi order tersebut, maka mungkin saja ‘ideal city’ itu bisa tercapai atau sedang dalam proses untuk coba diwujudkan.

    Comment by notjusthenny — April 10, 2010 @ 01:10


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: