there’s something about geometry + architecture

March 29, 2009

Kota adalah untuk manusia

Filed under: ideal cities — snayoe @ 19:31
Tags: , ,

Salah satu dari pesan Peter Eisenman yang saya kutip dari blog Ridwan Kamil:

Eisenman melihat banyaknya karya arsitektur kontemporer yang sibuk dengan geometri yang semakin rumit, namun seringkali tidak memiliki kualitas yang mampu menghadirkan makna mendalam. “Just a piece of meaningless form,” kritiknya. Selain itu, banyak pula arsitektur yang tidak mampu memperkuat konteks kota dan budaya tempat ia berdiri. Karenanya Eisenman membenci Dubai. Baginya Dubai adalah sirkus arsitektur, segala bentuk bisa hadir tanpa korelasi, tanpa preferensi dan tanpa didahului oleh esensi `livability’ atau roh berkehidupan dari sebuah kota. Kota adalah untuk manusia dan Dubai tidak memilikinya

Pernyataan ini amat berhubungan dengan kebimbangan saya minggu lalu akan sebuah konteks kota ideal dimana dikatakan salah satunya adalah uniformity, penyeragaman tatanan, rumah harus seperti ini, jalan harus ada ini tidak ada itu dsb, sampai penyeragaman arsitektur – dimana yang paling ekstrim dikatakan harus dimusnakannya kejelekan (ugliness) dan kemiskinan (poorness), “orang miskin pergi aje lo ke laut”, Akan dikemanakannya kultur Indonesia yang kaya akan bentuk-bentuk geometri (termasuk disini adalah rumah-rumah gubug tradisionil yang -mungkin akan- masuk dalam kategori poorness) dan tentu saja sangat mampu memperkuat konteks kota dan budaya Indonesia itu sendiri, jika ternyata tidak masuk kedalam kategori Uniformity of Ideal City.

Untungnya, senin kemarin secepatnya dibahas bahwa konsep ideal city ternyata juga banyak membawa kritik pedas, terutama kritik yang membahas apakah konsep UTOPIA, kota surga negeri impian dapat relevan dengan keadaan kota negeri kenyataan, terutama jika menyangkut konteks budaya setempat dan lain sebagainya, sampai pada intinya mengutip pesan selanjutnya dari Peter Eisenman. Eisenman berpesan bagi para arsitek di Negara-negara berkembang untuk tetap optimis dan selalu merasa beruntung. Beruntung karena pada umumnya Negara berkembang seperti kebanyakan negara di Asia masih memiliki referensi eksotisme budaya. Budaya yang masih memiliki tradisikultural sebagai sumber konsep, legenda yang emosional sebagai sumber makna dan ritual referensional sebagai sumber cerita. Kekayaan-kekayaan kultural inilah yang tidak dimiliki di negara Barat seperti halnya Amerika Serikat tempatnya bermukim dan berpraktek.

Sependapat dengan pernyataan Eisenman bahwa segala bentuk yang hadir mewarnai suatu kota harus hadir dengan korelasi, preferensi dan dengan didahului oleh esensi `livability’ atau roh berkehidupan dari sebuah kota, karena Kota adalah untuk manusia. Bagaimana dengan Anda ???

5 Comments »

  1. Sesungguhnya saya setuju bahwa setiap bangunan hendaknya memiliki makna yang mendalam dan ramah penghuni termasuk kaum papa. Namun, arsitektur kontemporer tidak harus dihilangkan karena dapat berdiri bersama dengan arsitektur tradisonal. Kedua-keduanya memiliki potensi meningkatkan perekonomian, seperti yang dijelaskan dalam “kanvas’ bersih untuk arsitek?”. Arsitektur kontemporer dapat memukaukan para pengunjung melelui kemuthakiran struktur bangunan. Ini akan menunjukkan citra kemajuan negara tersebut. Sedangkan arsitektur tradisional dapat menjelaskan asal usul dan kebudayaannya sehingga orang luar dapat mengetahui identitas asli nenek moyang yang pernah tinggal di negara itu.

    Namun, apapun jenis arsitektur yang dipakai, yang terpenting adalah jangan mengabaikan kebutuhan orang. Sebisa mungkin, diusahakan agar setiap pembangunan gedung juga memiliki manfaat bagi kaum papa baik secara langsung maupun tidak langsung. Lebih baik lagi jika setiap gedung memiliki makna yang tersirat.

    Comment by meurin — March 31, 2009 @ 01:55

  2. Kota menurut saya adalah sebuah tempat dimana manusia mengembangkan kehidupan didalamnya.Memang seringkali sebuah kota dirancang hanya dengan berdasarkan keindahan arsitekturnya atau kerapihan geometrinya, tanpa memperhatikan everyday dari masyarakat di dalamnya. Padahal kalau dipikir-pikir lagi,masyarakat tentunya tidak peduli dengan kerapihan geometry pada kotanya asalkan kota itu nyaman untuk ditinggali. Arsitektur yang tercipta tanpa memperhatikan manusia sekelilingnya menurut saya bukanlah arsitektur. Karena arsitektur itu sendiri adalah dari dan untuk manusia. Sehingga apa yang dimiliki oleh Dubai mungkin sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai sirkus arsitektur. Apabila pembangunan di Dubai tidak memperhatikan kehidupan di sekelilingnya,maka itu tidak bisa dikatakan sebagai arsitektur. Mungkin namanya akan menjadi sirkus pembentukan massa tiga dimensi?dimana diciptakan hanya untuk dipamerkan namun tidak untuk digunakan oleh manusia.

    Comment by r1ss — April 5, 2009 @ 19:48

  3. cuma mo share nih…terutama buat risti
    saya kurang setuju kalau disebutkan bahwa seringkali sebuah kota dirancang hanya dengan berdasarkan keindahan arsitekturnya atau kerapihan geometrinya, tanpa memperhatikan everyday dari masyarakat di dalamnya,tapi justru sebaliknya. ada dua sudut pandang merancang sebuah kota, dirancang baru kemudian diisi manusia, dan ada manusia baru kemudian dirancang(atau lebih tepatnya dirancang ulang). inilah yang perlu dilihat lebih jeli, kehidupan manusia di dalamnya yang diperhatikan. sebagai contoh kecil, perbedaan konsep “road” dan “street” dari segi kecepatan,potensi terjadinya aktivitas urban, dan lainnya membuat beberapa kasus perancangan mencoba untuk mengembalikan fungsi “street” yang disana pasti terjadi aktivitas atau interaksi urban dari yang awalnya “road”.

    Dari hal yang mendasar seperti itu, tentunya sebuah perancangan kota menjadi hal besar (dan tentu saja kompleks) dalam kaitannya dengan bagaimana sistem kehidupan masyarakat di dalam kota tersebut

    Comment by ranggaayatullah — April 11, 2009 @ 19:53

  4. Mungkin kalau kasusnya seperti perancangan ulang memang benar,pasti diperhatikan manusianya seperti road yg diubah menjadi street.Tapi kalau kota baru yang dirancang sebelum ditempati pada umumnya order dari geomteri kota itu akan dibuat serapih mungkin dan akan menjadi terasa sangat steril.Namun terkadang perancangan kembali pada kota pun hanya memperhatikan kerapihan dari order kota tsb, contohnya yaitu ketika perkonstruksian kota rotterdam yang habis dibom oleh Jepang.Setelah direkonstruksi kota itu memiliki grid2 dan terasa sangat steril bagi masyarakatnya.
    “Orthogonality become suspect..The new centre was ‘not really a city’..How about freedom of rules,propositions,purpose”(S,M,L,XL.Rem Koolhas).

    Comment by r1ss — April 12, 2009 @ 12:30

  5. yah, itu memang paling sering dilupakan orang, bahwa yang mereka rancang sebenarnya adalah untuk manusia, bukan rumah boneka, yang maket rumahnya cantik, barbie aja demen…atau kandang ayam, yang cuma numpang tidur n makan ampe lumayan berisi untuk di potong, trus ntar diisi lagi ama ayam berikutnya, tapi yang kita bangun adalah untuk manusia, jadi lebih rumit…

    Comment by keith — June 21, 2009 @ 21:27


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: