there’s something about geometry + architecture

March 30, 2009

Beauty and The Beast & Ideal City

Filed under: ideal cities — dewiandhika @ 16:03
Tags: , ,

Pada kuliah awal mengenai ‘ideal city’ dalam salah satu presentasi menyebutkan bahwa dalam sebuah ideal city tidak boleh ada sesuatu yang jelek,
…no ugliness, no poverty...
no old houses, no cemeteries, no prisons, no slaughter houses with ugly appereance…
Bahkan ada pula yang menyebutkan bahwa ugliness = evils of the city

Menurut Cousin (1994) ugly dikatakan sebagai suatu objek yang ada dan dianggap sebagai suatu objek yang tidak berada di tempat seharusnya.
The ugly object is an object which is experienced both as being there and as something that not should be there. That is the ugly object is an object in the wrong place (Cousins, 1994: 64).
Sehingga pada salah satu pandangan yang berkaitan dengan ideal city, ugly adalah sesuatu yang ditolak, harus tidak terlihat, dan bahkan harus dihilangkan “need to be destroyed”.

Namun apakah benar seperti itu?, apakah semua yang ugly itu harus lenyap dari muka bumi?. Seperti dalam cerita Beauty and The Beast, dimana The Beast―makhluk yang memiliki banyak bulu, berwajah mirip binatang hidup di lorong-lorong bawah tanah, sembunyi dari manusia lainnya karena keadaannya yang berbeda. Apakah kemudian The Beast ini tidak berhak untuk hidup?, apakah lalu ia berpengaruh buruk terhadap sekitarnya?. Bila kita mencoba membalik keadaan, bahwa semua yang dianggap Beauty memiliki keadaan fisik seperti The Beast, dan ada satu The Beauty yang jauh berbeda dari The Beast. Apakah kita masih menganggap The Beast merupakan sebuah objek ugly?, ataukah The Beauty yang berbeda dari kebanyakan The Beast itu yang dianggap ugly?, sehingga kemudian yang awalnya dianggap The Beast disebut sebagai The Beauty, dan The Beauty lah yang kemudian disebut The Beast?.

Maka bukankan ugly hanyalah sebuah masalah biasa atau tidak terbiasa dalam menghadapinya?. Seperti The Beast yang tetap membutuhkan makan, minum, tidur, dan kebutuhan hidup lainnya. Bahkan ia tidak berhati jahat, bahwa ia suka menolong dan menyelamatkan orang lain. Bahkan sebenarnya ada manusia yang memiliki penampilan pada umumnya, namun sebenarnya ialah yang memiliki hati dan tindakan yang seharusnya disebut The Beast. Bukankah yang sepatutnya dikatakan evil of the city adalah si manusia berhati buruk rupa?. Sehingga sebenarnya karakter hati yang buruk rupalah yang seharusnya dihilangkan, bukan The Beast yang dilihat secara fisik oleh mata yang harus dihilangkan dari muka bumi.
…And so it is, from the point of view of desire, that ugly object should not be there. Its character as an obstacle is what makes it ugly (Cousins, 1994: 64).

Daftar pustaka
Cousins, Mark (1994). The Ugly. AA Files 28

1 Comment »

  1. saya setuju dengan argumen anda bahwa belum tentu ugly adalah ugly namun suatu hal yang ugly dapat juga diartikan beaty diantara beuty yang standar bahkan yang tekesan beauty dapat dikatan ugly ( bahkan hal ini dapat dikatakan mengenai taste akan output, namun dont just by the think). jani sesuatu hal ugly belum tentu harus dihilangkan bahkan ugly bisa menjadi hal yang beauty.

    Comment by meitha28 — March 27, 2010 @ 23:23


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: