there’s something about geometry + architecture

April 2, 2009

Order dan Disorder, Seberapa Penting dalam Kota Ideal?

Filed under: ideal cities — ranggaayatullah @ 20:13
Tags: , ,

Jika mewacanakan tantang sebuah kota yang ideal, mungkin hanya berujung pada sebuah utopia. Menurut asal katanya pun, kota ini hanya ada dalam angan-angan, di tempat yang mungkin tepat disebut antah berantah. Ada dua kubu yang mempertentangkan bagaimana sebenarnya kota yang ideal, yang mengambil tema besar, sempurna dan tidak sempurnanya kondisi sebuah kota.

Kevin Lynch menyatakan bahwa, ”Ideal city reflects order, precision, clear form, extended, space, and perfect control”. Dengan kata lain, isi dari sebuah kota idel adalah sesuatu yang dianggap baik, bagus, indah, sempurna dalam pandangan umum. Le Corbusier mendukung pendapat tersebut dengan menyatakan bahwa “city of tomorrow” adalah separating dan zoning. Di pihak lain, Lofland, Jacobs, dan Sennett berpendapat sebaliknya bahwa dalam sebuah kota, tak mungkin hanya ada sesuatu yang baik, bagus, indah, sempurna. Lofland mengatakan bahwa “city is many things”, ada sesuatu yang sempurna dan tidak sempurna, baik dan buruk.

Kemudian pertanyaannya adalah sebenarnya yang disebut ideal yang seperti apa? Saya cenderung berada pada kubu Lofland Dkk dengan semacam propaganda bahwa mungkin kota ideal tidak akan pernah ada, bahwa mungkin tidak salah bahwa kota ideal berisi segala sesuatu yang sempurna, tapi faktanya tidak ada sesuatu yang sempurna, bukan?

Order, dianggap mewakili kesempurnaan, dimana ada keteraturan, sedangkan disorder sebaliknya. Mungkin sesuatu yang dilupakan, dalam konteks perancangan, order dan disorder ini cenderung lebih dapat dilihat secara dua dimensi, bukan dirasakan secara ruang. Dalam perancangan kota, merancang dengan zoning, pola grid-grid yang beraturan sejak lama telah dilakukan.
Namun, urbanisme adalah sesuatu yang pasti memunculkan urban sprawl yang tidak bisa dihindari. Tapi justru disinilah sesuatu yang dianggap disorder itu bersama dengan sesuatu yang order selalu berjalan berdampingan, saling melangkapi.

Ambil contoh kota Jakarta yang tidak dirancang dengan pola yang order, Jakarta berkembang dengan sendirinya, dengan orang-orang dan aktivitas masing-masing. Sebuah pertanyaan, Jakarta adalah kota yang penuh kemacetan, bagaimana sesungguhnya keadaan disorder ini terhadap kota Jakarta? Dari satu hal, macet, sessuatu yang disorder ini bisa membawa kepada sesuatu yang order, misalnya orang yang bekerja, karena dia tahu akan mengalami macet, maka dia bisa membuat semuanya menjadi lebih teratur. Lebih luas lagi, berhubungan dengan urban sprawl, sesuatu yang dibuat dengan order, lama-kelamaan akan tumbuh disorder, dan jangan-jangan sesuatu yang disorder itu justru menjadi keadaan yang order. Kemacetan di Jakarta mungkin bisa jadi salah satu contoh, hal ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial. Jangan-jangan justru macet ini yang membuat Kota Jakarta menjadi “JAKARTA”. Ketika terjadi disorder dengan kondisi ini, misalnya saat Idul Fitri, Jakarta menjadi kota yang sama sekali berbeda, warga Jakarta justru menikmati keadaan ini. Jakarta dengan kemacetan dan tanpa macet juga telah menjadi sesuatu yang order, menjadi sebuah siklus tahunan.

Order dan disorder tidak selalu baik atau buruk dan sebaliknya, meraka mutlak ada dan sebenarnya keduanya menjembatani proses perjalanan sebuah kota untuk (hanya) mendekati kondisi ideal. Ya, City is both perfect and imperfect things…

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: