there’s something about geometry + architecture

April 5, 2009

Belajar

Filed under: process — ayushekar @ 21:35
Tags: ,

“ Seorang arsitek yang berpraktek tanpa dasar teori tidak dapat menjelaskan alasan dan dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara arsitek yang berteori tanpa berpraktek hanya berpegang kepada “bayangan” dan bukannya substansi. Seorang arsitek yang berpegang pada teori dan praktek, ia memiliki senjata ganda. Ia dapat membuktikan kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat mewujudkannya dalam pelaksanaan.” (http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur)

Kutipan diatas secara tidak langsung menjelaskan adanya dan perlunya cabang ilmu yang lain dalam pemahaman akan dunia arsitektur khususnya menjadi seorang arsitek. Itulah mengapa pada dahulu kala vitruvius mengemukakan pentingnya pemahaman akan filsafat, musik, astronomi, matematika, dan lainnya agar semua hal dan setiap langkah yang dilakukan oleh seorang arsitek menjadi beralasan, bukan tanpa penjelasan. Untuk itu diperlukan model studi, scoring, presentasi, design report, dan media lainnya untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya tersebut.

Yang menjadi bahan perenungan dan pertannyaan saat ini adalah ternyata sulit untuk melaksanakan berpraktek dan berteori dengan satu langkah yang sama. Dan pada kenyataan sekarang ini, saya justru bertanya benarkah para arsitek hari ini berpraktek dengan teori? Teori siapa? Teori yang telah disimpulkan oleh dirinya sendiri atau teori yang memang sudah dengan baik dikuasainya. Tidak perlu jauh-jauh menganalisa para praktisi arsitek tersebut, cukup dengan mengetahui bahwa apakah yang sudah saya lakukan, sebagai calon sarjana arsitek, sudah berpraktek dan berteori-kah?

Secara sadar atau pun tidak sistem atau urutan perancangan saya selalu berulang dengan mencari site, membuat preseden, penjelasan ide, membuat model studi dan scoring, hingga bentuk bangunan saya tercipta. Entah apakah ini suatu teori dasar perancangan atau tidak yang secara tidak langsung diperkenalkan oleh jurusan, tetapi pastinya saya pernah mendapatkan sistematika bentuk perancangan ini saat di mata kuliah metoling (metode dan perancangan lingkungan) dan teori lainnya seperti dekonstruksi, fenomenologi, kedekatan ruang, dan lainnya. Tapi pada kenyataannya semua yang pernah diajarkan tersebut hilang saat proses perancangan berlangsung. Padahal bukankah semua materi tersebut diberikan sebagai pendukung proses perancangan. Yang nantinya setiap tindakan yang saya lakukan dalam merancang memiliki arti dan tujuan sehingga bukan “ngasal” merancang yang bentuknya tercipta tanpa tahu dari mana dia tercipta. Agar semua karya yang saya ciptakan sebelumnya punya asal, sehingga dirinya bisa menjawab pertanyaan “siapa kamu?”

3 Comments »

  1. haha, benar sekali sekar..saya juga menjadi sadar kalau banyak sekali teori2 metode perancangan yang hilang dari diri saya..hilang disini bisa berarti bener2 hilang dari diri saya😛 atau hilang ketika saya merancang suatu bangunan..mungkin terjadi proses reduksi dalam diri kita saat merancang..artinya begini, kita cenderung fokus melihat apa yang ada di site dulu, kan..supaya kontekstual..nah, pada saat itulah kita mereduksi, mengurang – ngurangi teori2 metode perancangan yang telah kita pelajari sebelumnya..sebenarnya pada moment itu, kita sedang memilih mau pake metode yang mana dalam mengeksekusi..toh tidak bisa semuanya kita aplikasikan..jadi pada akhirnya, kita lebih mengikuti step by step kelas studio perancangan saja, kan..dan, voila, metode2 perancangan lain hilang tak terpakai dan hanya menjadi teori di kepala kita..tapi teori2 ini bekal untuk kita nanti erpraktek..siapa tau nanti akan ada kesempatan untuk kita mengeksekusi design dari metode2 perancangan yang pernah diajarkan pak gunawan..

    Comment by .:sheilanarita:. — April 9, 2009 @ 02:21

  2. Saya rasa, sebenarnya dalam perkuliahan ini, kita juga berpraktek untuk mencari cara mendesign ala kita sendiri. Mungkin proses design ala kita, tidak sesuai dengan yang diajarkan di metoling, tapi sesuai dengan yang kita anggap benar di dalam kepala kita. Kalau kita mendesign selama ini prosesnya dengan analasis site, membuat preseden, penjelasan ide, membuat model studi dan scoring, maka proses itulah yang kita pikir benar dan perlu untuk hasil designnya. Analisis site, preseden juga sebenarnya adalah teori yang kita dapat dalam arsitektur, dan kita mempraktekannya dalam studio perancangan aritektuer tersebut.Mungkin kalau kita pikirkan apabila teori dan praktek dilakukan dalam langkah yang sama, kita akan bilank itu sulit,namun menurut saya sebenarnya kita melakukan hal itu tanpa sadar dalam kuliah kita. Contohnya yaitu dalam sistem struktur,apabila kita tidak tahu tentang teori struktur maka bagaimana kita bisa menggunakannya dalam studio perancangan untuk dipraktekan dalam design kita?

    Comment by r1ss — April 11, 2009 @ 14:15

  3. menurut saya, teori yang diajarkan ketika kita belajar metode perancangan lingkungan tidak sepenuhnya hilang, pasti ada beberapa yang sudah tertanam di dalam otak kita sehingga tanpa sadar kita terapkan namu kita lupa dengan nama teori tersebut. contohnya teori merancang dari Universal Traveller (ada 7 langkah: accept situation, analyze, define, ideate, select ,implement dan evaluate), dalam mata kuliah Perancangan Arsitektur pasti kita melakukan hal tersebut karena setiap minggu ada progress yang diminta oleh dosen pembimbing.
    Contoh lainnya yaitu teori fenomenologi, seperti biasa sebelum memulai merancang proyek baru, kita diberikan verbs atau keyword untuk mengarahkan kita merancang, dari verbs atau keywords tersebut kita mulai mem-fenomenologikan apa arti sesungguhnya sehingga kita dapat mulai berproses dengan terarah.
    Selain itu juga ada teori shape grammar yang ternyata banyak diterapkan ketika membuat maket studi, model-model awal. Karena pada awalnya kita pasti memikirkan bentuk dasar dari bangunan yang akan kita buat, yang menjadi initial shape kita kemudian dikembangkan menjadi model akhir yang memuaskan bagi kita.
    Memang tidak semua teori teraplikasi secara keseluruhan dengan baik dan benar, namun paling tidak kita sudah memiliki dasar yang membuat proses perancangan yang kita lakukan menjadi lebih dapat dipertanggungjawabkan.

    Comment by jessicaseriani — March 21, 2011 @ 22:20


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: