there’s something about geometry + architecture

April 5, 2009

Denah, Tampak, Potongan

Filed under: classical aesthetics — ayushekar @ 21:37
Tags:

Geometri merupakan bahasa yang mengungkapkan makna melalui rupa dan bentuk. Dengan begitu geometri menjadi penting dalam dunia arsitektur karena arsitektur juga berbicara melalui bentuk, meski tentunya bentuk bukanlah satu-satunya syarat berkomunikasi dalam dunia arsitektur. Bagaimana rupa itu terbentuk, hubungan antara bentuk yang satu dengan yang lainnya, sehingga membentuk suatu kesatuan yang harmonis, menjadi ranah pembahsan dalam geometri. Dan salah satu pendekatan geometri, melalui bentuk, dapat dilihat melalui denah, tampak, dan potongan.

ABC of Architecure menjelaskan bahwa arsitektur hadir ketika seseorang atau suatu institusi memiliki masalah yang hanya dapat dipecahkan melalui bangunan (building). Dan medianya adalah gambar arsitektural (architectural drawing), yang di dalamnya mencakup 3 dasar gambar arsitektural, yaitu denah (plan), potongan (section), dan tampak (elevation). Apa yang dikatakan di dalam buku ini sejauh kalimat diatas masih saya anggap sangat benar. Karena sampai saat ini tuntutan akan kehadiran 3 gambar tersebut selalu ada. Namun yang dipertanyakan kemudian adalah apakah kita akan memulai rancangan dengan sebuah denah atau tidak. Namun jika dimulai dengan denah pun, apa yang salah?

Dahulu membuat denah terlebih dahulu menjadi penting karena, dinyatakan lebih lanjut di dalam buku tersebut, bahwa denah (plan) merupakan manifestasi dari kenginan client dan menunjukkan keseimbangan spatial melalui hubungan antara ruang dan dampaknya. Potongan (section) tujuan utamanya untuk memperlihatkan sistem strukur yang akan digunaan sehingga bisa diketahui kekokohannya. Sedangkan tampak (elevation) merupakan pertunjukan seni yang dituangkan pada bangunan yang akan senantiasa bisa dilihat oleh setiap orang dan dapat dikagumi keidahannya. Sehingga melalui denah kita dapat membayangkan pengalaman spatial saat kita hadir disana. Jika demikian justru membuat denah terlebih dahulu merupakan proses pembentukan kenyamanan spatial yang baik. Namun seiring perkembangan dunia arsitektur, ternyata denah dianggap tidak cukup mampu untuk memperlihatkan ke-spatial-an suatu ruang, karena telah ada suatu kebutuhan yang dinamakan pengalaman ruang, yang dianggap tidak mampu dihadirkan hanya melalui denah dan dengan melihat denah.

Pengalaman ruang berbicara melalui indra semaksimal mungkin. Artinya tidak hanya visual,audio, sentuhan, tetapi juga bermain dengan perasaan (feeling). Sehingga pengertian arstektur saat ini menjadi lebih kompleks, karena tidak hanya menciptakan bangunan indah yang kokoh dan fungional, tetapi bisa saja arsitektur tersebut hadir dalam bentuk instalasi yang kaya akan sensasi. Karena tututan arsitektur saat ini adalah lebih kepada bagaima sesuatu yang hadir bisa memberikan efek yang dapat dirasakan tidak hanya diluar sesuatu tersebut, tetapi juga saat manusia hadir didalamnya.

3 Comments »

  1. Tidak ada yang salah dengan pengolahan denah, tampak, potongan dalam merancang, karena penggambaran ketiganya memang yang menjadi ‘nyawa’ deskripsi sebuah ruang, secara teknis. Memulai perancangan dengan denah? Setuju, tidak ada yang salah dengannya. Begitu juga bila memulainya dengan potongan, atau tampak terlebih dahulu, atau malah dengan memulai rancangan dari bentuk kasar 3 dimensinya terlebih dahulu.

    Kalaupun ada yang bisa disalahkan, mungkin adalah kebiasaan memisah-misah proses perancangan dalam masing-masing tahap, pengolahan denah, dilanjutkan pengolahan potongan, lalu pengolahan tampak, baru kemudian pengolahan bentuk 3 dimensinya belakangan, atau malah dengan urutan lainnya, seperti yang jamak ditemui di pembelajaran arsitektur di kampus (belakangan saya baru tahu di dunia praktek, kejadiannya juga mirip adanya).

    Proses perancangan mustinya proses yang sekaligus, bukannya linear, namun terintegrasi. Bukannya terpisah-pisah, namun terhubung sekalian. Ketika mengutak-atik denah (ruang)nya sejatinya telah terbayang akan seperti apa potongan (ruang)nya, dan tahu bagaimana bentukan 3 dimensinya bersama tampakannya nanti. Bayangan tersebut memang tidak akan langsung tepat. Bisa saja ada penyesuaian untuk setiap goresan garis yang tidak sengaja terbentuk di potongan, yang sekaligus menambah beberapa goresan lain di denah, yang kemudian menambah sebuah bayangan lain akan bentukan 3 dimensinya, atau sebaliknya.

    Itulah yang namanya proses perancangan. Bolak-balik terus. Memisah-misahnya hanya akan membuat bayangan dan imajinasi kita akan sebentuk ruang dan form menjadi terbatas sosok tak bergerak di belakang kepala kita.

    Comment by saintoghien — April 6, 2009 @ 07:56

  2. pertama, haha, saya setuju sekali dengan saintoghien pada comment di atas..
    nggak ada yang salah jika memulai proses perancangan dari bentuk 2 dimensi dahulu..toh pada kenyataannya, klien maupun arsitek yang ada saat ini pun masih menyukai metode itu..ayah saya yang menerima pelajaran arsitektur di tahun2 lalu selalu diajarkan merancang dimulai dari denah dulu..katanya,”denah itu inti dari bangunan!!! kalo denahnya jelek, semuanya pasti jelek”..sehingga ketika beliau merancang, itu yang diliat hubungan antar ruang dulu..sama fungsi yang dipengen klien..tampak? tinggal tanya klien maunya style apa..potongan? barulah logika struktur masuk..simpel sekali dalam merancang, dalam hati saya..nggak ada salahnya sih..tapi kan arsitektur itu sendiri bukanlah suatu sculpture besar yang berdiri di tanah dan hanya kita nikmati dari luar saja (maaf ya papa)..tapi arsitektur lebih kepada bagaimana kita menikmati ruang di dalamnya, antara masif, void, dan lain2nya..sehingga ngk mungkin kita merancang hanya melihat 2D saja, pada zaman ini, perlu juga merasakan lekukan bidang, mengintip maket, atau menundukkan level pandang seolah2 kita ini manusia pengguna di maket 3D yang kita buat..

    Comment by .:sheilanarita:. — April 9, 2009 @ 02:08

  3. kak aq mau tanya,,
    definisi ma tujuan membuat denah, potongan, ma tampak tu aph kak ??

    Comment by faris arsitektur its — October 4, 2010 @ 12:07


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: