there’s something about geometry + architecture

April 5, 2009

Ideal vs Slum

Filed under: ideal cities — mirantimanisyah @ 21:31
Tags: ,

Setelah saya mengikuti kuliah mengenai Geometry and Ideal City, saya merasa terusik oleh adanya isu mengenai konsep ideal city yang menentang kehadiran slum area. Dari beberapa kutipan para filsuf perkotaan mengenai makna ideal city, menyatakan bahwa ideal city adalah kota yang cantik, bersih, dan berpenampilan baik. Sedangkan slum dimaknai sebagai momok yang paling menakutkan dalam mewujudkan kota yang ideal, yaitu kemiskinan, kotor, tidak sehat dan jelek.

“poverty, dirt, disease and ugliness as the evils of the city life which need to be destroyed” (Geddes)
Kemunculan slum, kadang-kadang terjadi begitu saja dan tidak bisa dihindari. Slum terjadi begitu spontan dan sporadis. Apakah slum selalu identik dengan hal yang negatif?
Saya mencoba mengkaji fenomena kawasan slum yang sempat dijuluki The Darkness City yaitu Kowloon Walled City (KWC). KWC merupakan kawasan megablok yang masih terletak di daratan Hong Kong. Saat KWC ini masih berdiri, kawasan ini mungkin menjadi kawasan terpadat di dunia, dimana menampung sekitar 50.000 penduduk dalam luasan 0.026 km². Sempat terjadi kekosongan kekuasaan dimana pemerintah China ataupun Inggris enggan untuk bertanggung jawab dalam menangani pembangunan di daerah tersebut. KWC menjadi tumbuh tak terkendali. Dalam The Convention for Extension of Hong Kong Territory pada tahun 1898, mengenai penyerahan Hong Kong ke tangan Inggris selama 99 tahun, KWC tidak termasuk di dalamnya.

Kawasan ini terus mengalami pergolakan waktu. Sempat diinvasi oleh Jepang. Setelah beberapa tahun, Jepang mengalami kekalahan dan meninggalkan KWC. Kemudian saat RRC berdiri, banyak penduduk yang berimigrasi ke wilayah ini. Tanpa campur tangan pemerintah Inggris maupun Republik China, KWC tumbuh secara organik di bawah kuasa organisasi kriminal China yang memegang kendali kawasan ini. bangunan-bangunan berdiri tanpa keterlibatan arsitek. Akibatnya pembangunan menjadi tak terkendali, kawasan terbentuk menjadi monolit yang semrawut. Bangunan tersebut dibangun tinggi, antara bangunan satu dengan yang lain berhimpitan, sehingga sinar matahari tak mampu menerobos celah-celah kecil, sehingga koridor-koridor antara bangunan menjadi gelap. Hal tersebut memunculkan istilah dark side of KWC. Bahkan terdapat rumor bahwa “sekali kita memasuki kawasan ini, kita tak akan bisa keluar”.

Pada saat itu, hanya ada dua peraturan pembangunan yang mereka pegang. Pertama adalah penyediaan listrik demi menghindari pemakaian api dalam bangunan, kemudian tinggi bangunan tidak boleh lebih dari 14 tingkat karena letaknya tidak jauh dari airport. A real band-aid architecture, itulah istilah yang dapat dikemukakan dalam menggambarkan kondisi fisik kawasan ini.

MVRDV dalam bukunya FARMAX, mengadakan research yang fokus pada density, fluid organization, dan blurred typologies of space. Namun terlepas dari permasalahan lingkungan fisik, banyak hal yang dapat kita telusuri dari kebudayaan yang terdapat di kawasan ini. Bahwa “sesuatu yang tak ideal” menjadi “hal yang ideal untuk ditelusuri kembali”, untuk dilihat kembali dari segi yang lain. Kenyataan bahwa kawasan tersebut telah dihuni oleh penduduknya selama berpuluh-puluh tahun, mengalami regenerasi hingga mereka survive di sana. Mereka memiliki cara tersendiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari, seolah menegaskan teori tentang kemampuan adaptasi manusia yang luar biasa.


Buku City of Darkness: Life in Kowloon Walled City oleh Greg Girard dan Ian Lambot, mengangkat fenomena KWC dalam dua sisi. Lambot membahas sisi dari fenomena arsitektur, sedangkan Girard membahas sisi kebudayaan yang terjadi disana. Bagaimana seorang tukang pos sangat hafal dengan struktur kota yang begitu rumit. Kriminal yang memanfaatkan efek perbatasan, mereka merampok dan lari ke dalam KWC dan polisi Hong Kong tak dapat mengejarnya (karena di luar batas wilayah mereka). Fenomena terbentuknya komunitas yang mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri tanpa campur tangan pemerintah manapun. Fenomena ruang atap sebagai tempat bermain, tempat menghirup udara segar dan tempat melepas kepenatan kota. Ruang atap juga digunakan sebagian warga untuk bergerak secara horizontal.

Sisi negatif KWC juga sering menjadi inspirasi dan diangkat dalam film juga sering menginspirasi film, antara lain Bloodsport, The Killer, dan Batman Begins (dengan distrik “tha Narrows”-nya). Juga video game, seperti Kowloon’s Gate, Final Fantasy VII, Shadow Hearts (Playstation), dan Shenmue2 (SEGA Dreamcast). Fenomena yang terjadi di KWC memang merupakan realita lingkungan fisik yang negatif dilihat dari segi arsitektur dan tatanan kota. Di awal tulisan ini, terdapat pertanyaan bahwa apakah slum selalu identik dengan hal yang negatif? Menurut saya tidak, karena begitu banyak yang dapat kita pelajari dari fenomena slum yang terjadi pada suatu kawasan, yang dapat memberikan inspirasi menuju suatu yang lebih baik. Seperti halnya yang terjadi di KWC, tidak hanya dari segi arsitektur saja yang dapat kita kritisi sebenarnya. Masih ada yang lain yang dapat kita gali, yaitu sejarahnya, penyebab dan akibat kehadirannya, serta kebudayaan yang berkembang. Dan pada akhirnya, slum memberikan kontribusi dalam menciptakan sesuatu yang ideal.

1 Comment »

  1. “poverty, dirt, disease and ugliness as the evils of the city life which need to be destroyed” (Geddes)

    Membaca essay dari Mirantimanisyah, dalam bayangan saya langsung terhubung dengan kawasan Penjaringan, Jakarta Utara salah satu kawasan padat dan kumuh di Jakarta. Satu kawasan penting yang menjadi riset kecil kita semester ini.
    Selama beberapa waktu menyelami studi tentang kawasan, terdapat banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang kadang terangkai dan menjadi pelengkap seperti puzzle. Kadang bisa melengkapi, tetapi kadang bisa timbul pertanyaan baru yang sangat jauh berbeda penyelesaiannya.
    Berbicara sesuatu yang “ideal” adalah berbicara tentang mimpi-mimpi kita, sesuatu yang akan terus kita kejar dan kita upayakan. Berbicara tentang “slum” berarti berbicara tentang potret kawasan di beberapa spot di Jakarta. Masalah yang seharusnya tidak diselesaikan sekedar dengan pendekatan pembangunan rusunawa. Potret tingginya daya adaptif masyarakat kaum marjinal di Jakarta.Potret kaum marjinal yang seharusnya bisa diangkat dan dientaskan dengan memberdayakan potensi yang mereka miliki. Sebenarnya kalau peta kawasan slum dikatakan sporadis, mungkin ada benarnya, disamping faktor kecenderungan tidak adanya pilihan lain untuk berada dalam radius yang bisa dijangkau dari tempat dimana dia mencari nafkah, disesuaikan dengan pemasukan yang mereka terima.Jadi terdapat titik-titik penting sebetulnya yang bisa dijelaskan dengan munculnya kawasan slum ini.Titik kawasan hunian kumuh dan titik kawasan industri terdekat.
    Sampai sejauh mana akhirnya konsep “destroyed” oleh Geddes ini akan bisa kita terapkan dalam mengatasi kekumuhan di Jakarta adalah menjadi rentang waktu tanpa variabel angka, selama pemerintah mengatasi masalah dengan melahirkan masalah baru. Yang semestinya mampu menjadi impian ideal kita di masa depan tentang kota tanpa kawasan kumuh termasuk didalamnya.

    Comment by ninadwihandajani — March 8, 2010 @ 01:01


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: