there’s something about geometry + architecture

April 5, 2009

Superblok, Wujud Kota Ideal..??

Filed under: ideal cities — dyahnajjah @ 21:14
Tags:

Beberapa hari yang lalu, saya menyalakan televisi, dan tanpa sengaja menonton dengan siaran ‘iklan’ merangkap acara bincang-bincang properti di MetroTV. Tidak hanya pagi itu saja, hamper setiap minggunya acara itu disiarkan. Pembawa acara tersebut berusaha meyakinkan penonton bahwa Perusahaan property tersebut telah mendiriikan sebuah kawasan Superblok di daerah Kelapa Gading, yang katanya bakal menjadi kawasan masa depan perkotaan yang warganya menghendaki kemudahan fasilitas, aktivitas yang menyatu, lepas dari kepadatan dan kemacetan kota.

Kurang lebih, berikut promosi mereka: ”Kelapa Gading Square adalah suatu kawasan hunian dan komersiil dengan tema “One Stop Living Concept”, yaitu suatu kawasan hunian yang didukung dengan adanya kawasan komersiil yang saling terintegrasi dan melengkapi dengan mengedepankan 4 aspek yaitu living, business, shopping dan pleasure dalam satu kawasan terpadu. Sehingga penghuni dapat memenuhi segala kebutuhannya hanya dengan selangkah ke kawasan komersiil yaitu Mall of Indonesia yang dilengkapi oleh Carrefour, Italian Walk Shopping Arcade dan Rukan di bawah apartemen. Semua serba lengkap dan dapat dicapai tanpa perlu membuang-buang waktu macet di jalan. Hal ini dikarenakan jaraknya yang sangat dekat sehingga semua dapat dicapai dengan berjalan kaki. Selain itu, penghuni dapat menikmati kenyamanan 20 fasilitas bintang lima seperti swimming pool, tennis court, squash, clinic, coffee shop, day care center, club house, jacuzzi, whirl pool, laundry, post office, mini market, play group, putting green, salon, spa dan atm center. Benar-benar suatu hunian yang menawarkan kelengkapan dan kenyamanan hidup. Kelapa Gading Square merupakan super block seluas +/- 17 hektar dan mixed use terpadu yang terbesar di Kelapa Gading, sehingga memungkinkan pengembang melengkapi kawasan hunian ini dengan fasilitas bintang lima yang akan memberi kenyamanan bagi penghuni dan meningkatkan nilai investasi bagi seluruh pemilik produk di Kelapa Gading Square. Kelapa Gading Square berlokasi di bagian Barat Kelapa Gading yang cenderung lebih prestigious dan lebih tinggi market valuenya dari kawasan lain di dalam wilayah Kelapa Gading. Serta mudah diakses dan memiliki akses langsung dengan jalan Toll Inner Ring Road (Tol Lingkar Dalam) dan dekat dengan akses ke Outer Ring Road (Tol Lingkar Luar). Hal ini akan menyebabkan akses pencapaian yang mudah dari dan ke kawasan ini, sehingga pertumbuhan nilai investasi akan meningkat pesat. Terlebih lagi dengan dibangunnya akses langsung dari arah Sunter dan akan diwujudkan akses langsung dari arah Mal Artha Gading, sehingga penghuni dapat memiliki alternatif jalan selain dari jalan Yos Sudarso. Hadirnya +/- 4000 hunian apartemen yang dilengkapi fasilitas mewah didalamnya dan Mall of Indonesia serta pertokoan, menjadikan kawasan ini semakin bertumbuh dan saling mendukung. Maka, bergabunglah di Kelapa Gading Square, pilihan tepat yang mewujudkan mimpi Anda menjadi kenyataan. Kunjungi show unit kami sekarang juga di kantor pemasaran”.

Mendengar kalimat-kalimat di atas, saya kembali terpikir soal sebuah kota ideal, Sebuah kota ideal, Sebagaimana yang pernah saya pelajari, berbagai teori jelas mengatakan bahwa kota yang ideal adalah kota yang memiliki kondisi fisik yang sempurna, pemerintahan yang baik, Sesuatu yang baru, yang tidak memiliki bau yang tidak sedap, tidak bising, tidak ada gubuk, kuburan. Di sana hanya terdapat rumah-rumah “bagus”. Dikatakan pula bahwa dalam kota ideal, kemiskinan, kotoran, penyakit, dan ke”jelekkan” harus dihancurkan. Bila kita mengacu pada teori tersebut, maka Superblok (kawasan yang menggabungkan pusat hunian (apartemen), perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan, sekolah, pusat kesehatan, tempat olahraga, bahkan juga tempat rekreasi. Pendeknya, segala fasilitas yang dibutuhkan menyatu dalam satu kawasan. dimana penghuni superblok tak bakalan kerepotan karena bisa melakukan aktivitas keseharian hanya dalam satu kawasan. Bahkan cukup berjalan kaki tanpa berkendaraan,dan seluruh kegiatan bisa dilakukan di superblok.), nampaknya merupakan solusi yang kurang lebih bisa memenuhi hasrat akan sebuah kota yang ideal. Perwujudan sebuah kota yang ideal.

Namun, Saya menyimpulkan begini, berarti, kota ideal sama dengan harus mahal. Mengapa demikian? Lihat saja, berapa uang yang harus kita kocek untuk dapat merasakan ke-ideal-an tersebut? Bayangkan untuk sebuah hunian di kawasan superblock tersebut kita harus mengeluarkan uang hingga ratusan juta rupiah. Yah, memang hal ini bukanlah sebuah kewajiban, melainkan sebuah pilihan, kalau ingin hidup enak, kalau ingin menjadi seorang yang idealis, beli saja apartemen. Bagi mereka yang beruntung, hal ini semudah membalikkan telapak tangan. Dengan demikian, teori tersebut memang dapat dirasakan kebenarannya. Kota yang ideal haruslah berisikan orang-orang elit yang berkantong tebal.

Apakah perwujudan kota ideal ini sudah ideal? Dalam artian, apakah usaha menciptakan kota yang ideal sudah memperhatikan hal-hal yang mendasar? Apakah mereka memperhatikan tata ruang?atau sekedar membangun? Atau, apakah Pembangunan superblock ini sudah memperhatikan dampak-dampak apa yang akan mereka hasilkan bila mereka tidak meneliti dengan seksama bahwa mereka sudah menggunakan lahan yang sangat Super? apakah mereka sudah menyadari bahwa tidak hanya kaum elit saja yang punya hak untuk hidup, hak untuk merasakan kesenangan, sehingga perwujudan kota ideal sudah cukup berperikemanusiaan?

1 Comment »

  1. apa yang salah dengan pemikiran dan keinginan untuk bersih, rapi, dan indah?
    bukankah kita semua juga menginginkan kualitas yang sama?
    jika tidak demikian, buat apa kita setiap hari mandi untuk membersihkan diri setiap hari? keluar rumah dengan memperhatikan apakah pakaiannya tidak terlalu norak atau berlebihan misalny? menutur saya itu semua hal yang lumrah diinginkan oleh orang lain…
    yang saja, kualitas tadi merupakan sesuatu yang sangat relatif, jadi ya namanya relatif, maka nilainya bisa berbeda antara yang satu dengan yang lain, walau sedikit banyak biasanya ada pola pikir yang sama, yang menjadi permasalahan menurut saya adalah saat orang mulai menyamaratakan pemikirannya dengan yang lain, inilah yang kemudian menurut saya menimbulkan konflik.
    yah, g ada salahnya sih orang berangan2, kan gratis..

    Comment by keith — June 21, 2009 @ 20:37


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: