there’s something about geometry + architecture

April 5, 2009

The City of Tomorrow Khas Indonesia

Filed under: ideal cities — fathur05 @ 21:22
Tags: ,

Le Corbusier dalam gambaranya tentangThe City of Tomorrow mengusulkan bahwa pusat kota harus berupa banguinan tingkat tinggi yang ekslusif untuk fungsi komersial, bagian ini tidak lebih dari 5 %. Sedangkan 95% sisanya berupa taman. Di pusat kota dia juga menyebutkan dibutuhkan adanya stasiun kereta yang akan menghubungkan pusat ini dengan wilayah disekitarnya serta keberadaan bangunan untuk toko-toko mewah, restauran dan kafe. Si pusat kota kemudian akan dikelilingi oleh perumahan dalam bentuk block zigzag (1933, competition for the renewal of Stockholm’s city centre)

Sekilas dibayangkan gambaran kota masa depan ini nyaman ditempati. Banyak mungkin yang akan mengaku mempunyai pandangan yang sama tentang bagaimana kota masa depan seharusnya, saya salah satu diantaranya. Namun membayangkan Jakarta atau kota-kota di Indonesia berubah seperti bayangan Le Corbusier rasanya tidak rela.

“But we want an order that gives to each things its proper place, and we want to give each thing what is suitable to its nature.” Pernyataan diatas yang diungkapkan oleh Adrian Forty yang saya rasa sejalan dengan pemikiran Le Corbusier, tentang pemahaman order bahwa sesuatu harus ditempatkan sesuai tempatnya saya rasa perlu dikaji. Apa yang diusulkan Le Corbusier: “A city made for speed is made for succes. Therefore, nothing could be come in the way of the traffic flow, and the separation was seen as the part way to achieved on struction freemovement in the city” yang akhirnya merujuk pada zoning bukan pilihan yang bijak menurut saya. Terutama untuk Indonesia. Penempatan sesuai tempatnya bukan berati tiap elemen dipisahkan, terpisah, mempunyai tempatnya masing-masing. Akan membosankan jika memang diberlakukan demikian. Kemungkinan suatu elemen melebur dengan elemen lain dalam tempat yang sama harus dipertimbangkan. Perpaduan, tabrakan, kekacauan tidak boleh dilihat selalu sebagai hal yang ”disorder” yang perlu ditata dengan memisahkan elemen-elemennya. Saya rasa makan di pinggir jalan diiringi pengamen dan klakson mobil orang yang kejebak macet punya kualitas yang sayang untuk dihilangkan. Dan lagi uang yang beredar di area hangat seperti ini dapat menghidupi banyak kepala.

Namun tentu tidak untuk semua tempat. Pemisahan untuk beberapa konteks bisa jadi pilihan yang harus diambil. Jalan tol , salah satu contoh pengembangannya, sangat membantu efisiensi dan efektivitas dalam banyak hal. Terakhir, saya rasa pengembangan kota ala Indonesia bisa hadir sebagai hasil dari perpaduan antara pemikiran besar Le Corbusier dan Lofland yang mengatakan bahwa “city is many things.”

2 Comments »

  1. Le Corbusier identik dengan keberadaan arsitektur Modern. Ide tentang kota di masa Modern adalah sebuah utopia, yang bila diwujudkan nyata akan menjadi kota yang mati. Mati dengan artian tanpa adanya keramaian manusia, kecuali mereka yang berada dalam kendaraan, melaju kencang. Lihat saja penggambaran kota oleh Corbusier, tak ada keramaian manusia di situ. Jalanan lebar-lebar dengan sisi-sisi pinggirnya yang kosong, dengan gedung-gedung besar tinggi. Tak mungkin ada kegiatan manusia di jalanan selebar itu, kalaupun ada mungkin ada dalam gedung-gedung tinggi itu. Bukan di luar, namun di dalam. Tak ada “kehidupan” di situ.

    “A city made for speed is made for success”, adalah pretensi akibat dari kemajuan jaman modern, ketika moda transportasi manusia telah berkembang jauh dari jaman mereka berkereta kuda dan berjalan kaki di kota-kota klasik dulu. Perancang Modern melupakan fakta bahwa mobilitas dasar manusia adalah berjalan kaki.

    CIAM, dan Atlantic Charter dibuat untuk menjadi pegangan bagi setiap perancang urban (baca: kota) dengan orientasi pada kendaraan. “nothing could be in the way of traffic flow”, karena akan berbahaya bila manusia berada di antara laju kendaraan, yang harus diakomodasi agar dapat melaju sekencang mungkin, karena peranannya yang (dianggap) sedemikian penting. Maka perlu dipikirkan bagaimana agar mereka tidak menjadi berbahaya, dan sayangnya jawabannya menjadi: singkirkan pejalan kaki.

    Sebegitu pentingnya peranan kendaraan hingga orang kemudian melupakan pentingnya berjalan kaki di kota yang dirancang oleh mereka. Dirancang tanpa orientasi pada pejalan kaki, namun lebih peduli pada kendaraan bermotor. Padahal hidup-matinya sebuah kota dilihat dari aktivitas manusia di luarannya, dan pejalan kaki adalah aktor utama kehidupan kota.

    Bukan hal yang aneh bila kemudian ruang publik menjadi terlupakan, “people cease to value public places”.

    Kenapa tidak: “nothing comes in the way when people are walking, celebrating city’s life?”, adalah kritik yang kemudian seringkali dilempar untuk perancang Modern melihat kondisi yang semakin tidak sehat.

    Bagaimana di Jakarta? Jakarta bukanlah sebuah kota, ia hanya sebuah kumpulan kampung-kampung besar yang kebetulan tumbuh saling berdekatan dalam batas administratifnya, tak ada rancangan jelas untukknya. Dan mungkin malah hal itu yang membuatnya amat “hidup”?

    Penuh keramaian di pinggir jalan, namun meleng sedikit tertabrak kendaraan yang melaju kencang.

    Comment by saintoghien — April 6, 2009 @ 08:29

  2. apa yang dipikirkan oleh bapak corbusier sebenarnya g salah? yah seperti yang dibilang, semuanya ada tempatnya, merancang suatu kota tuh menurut saya g bisa dipatok standarnya, secara yang diomongin adalah manusia, dewa abis kalo manusia bisa mengatur manusia lain bicara mengenai kota tuh harus liat konteksnya, jika tidak, maka akan timbul konflik, kita tak bisa menyamaratakannya,
    kota jakarta = kampung besar? benar begitu? bukannya selama itu kota memang kayak begitu ya? kecuali kalo dia termasuk kota baru, mungkin hanya perbedaan istilah saja, mau gimana lagi, saat jakarta ditinggalkan belanda, kita masih belum tau apa2 dan jakarta sudah berkembang cukup besar, jadi ibaratnya saat itu masih kecil tapi sudah mulai mengerti, jadinya sekarang masa bandel2nya, yah, mungkin suatu saat nanti jakarta bisa ‘dewasa’…amin..

    Comment by keith — June 21, 2009 @ 21:09


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: