there’s something about geometry + architecture

April 7, 2009

Geometri Sebagai Alat Visualisasi “idealisme”

Filed under: ideal cities — rannymonita @ 01:13
Tags: ,

“Ideal” adalah conception of something in its perfection. Kata perfect bersifat amat sangat subjektif pada konteks ini dikarenakan “ideal” itu sendiri masih berupa suatu keabstrakan yang ada dalam pikiran tiap orang. Oleh karena tiap orang memiliki kapasitas pengalaman dan pengetahuan yang berbeda-beda, maka bentuk abstrak akan idealism itu sendiri pastinya akan berbeda-beda pula. Tapi perbedaan idealism yang abstrak tersebut bukanlah inti dari pembahasan ini. Yang ditekankan dalam bahasan kali ini adalah idealism merupakan suatu ide akan angan-angan atas keinginan (desire) dan kebutuhan (need) yang ingin diwujudkan demi mendapatkan kehidupan yang lebih berkualitas dan lebih baik.

Contoh kasus: Kamakura House
kamakura

Kamakura House dirancang untuk kolektor Buddhism art. Bangunan ini digunakan sebagai tempat retreat (tempat untuk menyepi). Rumah ini terdiri atas paviliun memanjang, ruang besar multi fungsi, dan tempat tinggal. Arsiteknya menyatakan desain bangunan ini didasarkan atas kepercayaan orang Jepang, yaitu penyatuan antara alam dengan bangunan buatan manusia akan melahirkan keindahan. Di sini penyatuan dengan alam diwujudkan pada olahan bentukan geometri yang berkesan simple dan unite. Kesederhanaan diwujudkan melalui susunan bentuk-bentuk geometri yang berkesan simple berupa bidang persegi dan balok. Selain mudah dikenal, bentuk persegi dan balok memiliki kesan yang sederhana dan lugas. Karakter sudutnya yang tegak lurus mudah disatukan membentuk karakter yang unite.

The purpose of geometry of design is not to quantify aestheticsthrough geometry but rather to reveal visual relationships that have foundations in the essential qualities of life such as proportion and growth patterns as well as mathematics. Its purpose is to lend insight into the design process and give visual coherence to design through visual structure. It is through this insight that the artist or designer may find worth and value for themselves and their own work” (Elam, 2001: 5)

Pada kutipan di atas, dijelaskan bahwa tujuan dari geometri bukanlah untuk mengukur suatu estetika, melainkan menguak dan membeberkan hubungan antara suatu ‘visual’ melalui proporsi dan pola secara matematis (numerial indicating a number).

Crowe (1997) dalam prespektif humanismenya menyebutkan bahwa geometri arsitektur dimunculkan dari sumber alami bangunan, yaitu: menunjuk pada ketertiban atau order dari bangunan, juga proses membentuk bangunan, yaitu karakteristik struktural dari material-material konstruksi.
Pada kutipan di atas, dijelaskan bahwa suatu geometri arsitektur menunjukan suatu ketertiban/order dari suatu bangunan tertentu. Pada kasus di atas, idelisme yang ingin disampaikan oleh sang arsitek (tentang nilai kepercayaan yang dianalogikan sebagai penyatuan antara alam dan buatan manusia) diwujudkan dan dihadirkan melalui bentuk arsitektural yang berupa olahan bentuk-bentuk geometri (kesederhanaan diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang terlihat familiar seperti bentuk balok dan persegi). Itu berarti, geometri telah dijadikan sebagai alat yang tepat mengvisualisasikan ide/makna (idealism) yang ingin disampaikan oleh sang arsitek tersebut. Geometry dapat dijadikan sebagai alat yang dapat mewujudkan/menggambarkan/mengvisualisasikan idealisme-idealisme tersebut Karena geometry terdiri dari variable angka (yang mana merupakan bahasa universal yang dapat dimengerti banyak orang) sehingga dengan bahasa yang dimengerti oleh banyak orang itulah maka makna “ideal” yang ingin disampaikan akan semakin dapat dirasakan kehadirannya.

Jika dilihat dari kasus di atas, maka hubungan antara nilai “ideal” , order, dan geometry dapat saya simpulkan melalui bagan di bawah ini:

bagan-idelisme1

Pada bagan di atas, terlihat hubungan yang jelas antara nilai “ideal” sebagai suatu makna, karakteristik, dan identitas yang ingin dicapai merupakan suatu variable-variabel yang jika diuraikan lebih dalam akan membentuk suatu rumusan-rumusan yang akan menjadi cikal bakal suatu bentuk arsitektur (order). Dari rumusan-rumusan tersebutlah maka peran seorang arsitek dituntut untuk sekreatif mungkin menemukan bentuk-bentuk ruang yang bisa “berbicara” / mengvisualisasikan nilai-nilai ideal yang dimaksud. Dan geometri sendiri berperan sebagai bahasa universal yang menjelaskan bentuk suatu ruang yang dihasilkan dari rumusan-rumusan nilai-nilai ideal tersebut. Untuk itu, suatu rangkaian nilai-nilai ideal, menurut saya, hanya tepat menghasilkan suatu order dan geometry tertentu. Jika nilai-nilai ideal tersebut berubah (bertambah/berkurang variable nilai idealnya) maka rumusan order yang dihasilkan akan berbeda pula sehingga nantinya geometry yang dihasilkan akan berbeda pula.

Sumber:
http://jurnalrona.files.wordpress.com/2008/02/06-tipologi-geometri
http://arsitekiki.blogspot.com/2008/02/kamakura-house
http://www.fosterandpartners.com/Projects/0932/Default.aspx
www.dictionary.com

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: