there’s something about geometry + architecture

April 7, 2009

Hidden Geometry

Filed under: classical aesthetics,contemporary theories — Kiekie21 @ 01:02
Tags: ,

Pernahkah anda merasakan, bahwa terdapat sebuah garis yang menghubungkan sebuah objek dengan objek lain di kehidupan sehari-hari? Secara tidak sadar hal yang sama saya rasakan saat saya melihat sebuah keteraturan yang ada. Walau tidak ada yang sangat presisi tetapi jika anda pernah merancang pasti anda pernah merasakan perasaan ingin meletakan sesuatu terhadap sesuatu yang lain dalam kondisi yang fit.

Seperti yang telah dibahas oleh tezza pada “Alam sebagai Basis Perancangan, Kaidah Proporsi dan Arsitektur”. Saya berpikiran bahwa manusia telah menyederhanakan bentuk kedalam kaidah geometri sederhana. Dimana didalamnya terdapat sebuah garis yang tidak tercitra secara nyata, yang hanya ada dalam pikiran manusia, yang kemudian dijadikan patokan (standard) dalam skala proporsi dan ritme. Seperti yang sering ditampilkan dalam perancangan arsitektur klasik.

Photobucket
Lalu apakah sekarang garis-garis bantu tersebut tidak terpakai lagi? Bila kita lihat perkembangan arsitektur dari classic – modern – postmodern – hingga sekarang ini maka banyak yang masih menggunakan garis imaginer tersebut terhadap metode perancangan mereka. Contohnya mungkin grid dan garis as untuk menentukan kolom dan tembok. Lalu bagaimana dengan geometri pada arsitektur ‘Zaha Hadid’? apakah masih menggunakan hidden geometri yang sama dengan yang digunakan vitruvius jaman dahulu?

Walau belum mendapatkan sumber yang jelas mengenai hal ini, tetapi saya memiliki judgment sendiri. Ketika jaman arsitektur modern orang beranggapan yang mengikuti garis adalah yang indah. Lalu pada jaman post-modern beranggapan bahwa yang rapi-rapi tersebut sangatlah membosankan. Sehingga timbul ‘less is bore’ sebuah counter dari ‘less is more’ sehingga mengubah posisi dan sumbu garis imaginer yang sebelumnya dijadikan standard utama merancang menjadi relatif dan cenderung berantakan, Seperti yang diperagakan Frank Gerry. Satu titik yang mengahiri jamannya adalah ketika orang sudah mulai bosan melihatnya. Maka jaman yang baru telah tiba dimana arsitektur bergaya futuristik lahir sebagai sebuah utopia baru. Sehingga bila saya gambarkan dalam garis akan seperti demikian.

Photobucket

2 Comments »

  1. menurut saya postingan ini cukup menarik karena membahas mengenai hidden geometry yang muncul seperti anda katakan, tidak tercitra secara nyata..menarik bila melihat bagaimana feeling seorang manusia dengan yang lainnya dapat menghasilkan suatu kesamaan dalam hal proporsi dan keteraturan dan lainnya..padahal patokan atau standart tersebut tidak pernah dinyatakan secara gamblang, “gini loh biar bagus”..manusia melihat garis imajiner tersebut hanya dalam kepala dan berdasar feeling saja..bagaimana dengan garis2 zaha hadid? apakah ia masih menggunakan geometri seperti jaman vitruvius?menurut pendapat saya, ya, dia masih menggunakan kaidah2 vitruvius yang berhubungan dengan proporsi, grid, dan lain sebagainya..sebenarnya saya tidak spesifik kepada zaha hadid’nya tapi lebih kepada arsitektur dekonstruksi itu sendiri..contoh karya arsitek dekonstruksi adalah parc de la vilette..jika melihat bentuk folie2 yang ada, seolah2 sang arsitek asal bikin, tidak memperhatikan kaidah vitruvius..tapi sebenarnya, bila dilihat secara keseluruhan..garis2 tabrak yang muncul dalam bentuk folie2 tersebut adalah hasil superimpose layer2 grid, nodes dan line..yang mana saat pembagian layer2 tersebut ia sang arsitek menggunakan metode grid durand..ada proporsi, ritme, dan pola tersendiri..maka, bukan tidak mungkin zaha hadid menghasilkan bentuk2nya yang futuristik tanpa garis geometri imajiner ala vitruvius tersebut..mungkin perlu kita telaah lebih dalam tentang geometri dalam arsitektur futuristik..

    Comment by .:sheilanarita:. — April 9, 2009 @ 01:50

  2. ketika kita membahas sebuah desain dalam arsitektur maka sebenarnya itu semua adalah berawal dari sebuah goresan garis yang kemudian berlanjut mengikuti apa yang ingin dibentuknya. Goresan garis itu dapat kita katakan akan berlanjut dengan dasar-dasar dari sebuah prinsip geometri seperti misalnya proporsi, linear dan non linear. Dan tak dipungkiri walaupun goresan garis tersebut memiliki dasar yang sama dari sebuah geometry namun keberadaannya akan terus berubah mengikuti trend dan perkembangan zaman. mungkin disinilah uniknya arsitektur, dalam setiap perkembangan waktu akan memiliki salah satu kekhasan yang mewakili zamannya. Dan saya juga ingin berpendapat bahwasanya arsitektur itu adalah sebuah kebebasan, tak ada yang membatasinya berawal dari sebuah titik lalu menjadi garis dan garis itu akan berlanjut menjadi bentuk yang bermacam-macam sesuai dengan kebebasan. Dan penekanan yang diinginkannyapun bisa menjadi berbeda beda.Seperti halnya zaha hadid menurut saya walaupun komposisi garis-garis bantunya sudah tidak terlihat secara nyata tapi jika kita bertolak dari pembentukkan sebuah geometri maka bahwa sebenarnya dibalik bentuk yang demikian terdapat garis-garis yang membentuknya menjadi demikian.intinya menurut saya semua itu berawal dari sebuah tarikan garis dari sebuah titik yang kemudian saling terkait satu sama lain.

    Comment by def1 — April 25, 2009 @ 17:53


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: