there’s something about geometry + architecture

April 17, 2009

Music in Architecture

Filed under: architecture and other arts — r1ss @ 17:37
Tags:

Musik merupakan bagian penting dalam hidup manusia. Terkadang music juga memberikan experience of feeling yang berbeda-beda pada setiap orang. Ada music jazz atau klasik yang menenangkan, music rock yang membuat semangat, atau musik-musik yang mengingatkan kita pada momen-momen yang spesial. Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari musik. Namun ketika music ini dikaitkan dengan arsitektur, apa peran music ini menjadi berubah menjadi tidak hanya untuk dinikmati? Sebenarnya di dalam music dan arsitektur terdapat kesamaan yaitu dimana kedua-duanya membutuhkan kedisiplinan. Dalam memainkan music yang indah dan harmoni maka pemain music harus memainkannya sesuai naskah lagu yang ada sehingga tidak ada yang sumbang atau tidak cocok. Dan begitu juga dengan arsitektur dimana dalam membentuk sebuah produk arsitektur maka tidak bisa kita langsung membuatnya. Aturan-aturan yang ada di dalam arsitektur yaitu berupa konteks sekitarnya, orang-orang yang akan menghuni nya sehingga terbentuk keharmonian antara produk arsitektur itu dengan konteks sekelilingnya dan dengan orang yang ada di dalamnya. Namun itu apabila kita mengartikan terpisah antara music dan arsitektur dan membahas persamaannya. Lalu bagaimana bila dikaitkan antara music dan arsitektur itu?

le-corbusier21le-corbusier

Salah satu ketergabungan antara music dan arsitektur dilakukan oleh Le Corbusier dalam mendesign Philips Pavilion Poeme Electronic. Le Corbusier bekerja sama dengan Iannis Xenakis yang menciptakan music untuk bangunan itu yang nantinya akan diterjemahkan ke dalam matematika dan kemudian diubah menjadi space. Apa yang dilakukan Le Corbusier seakan-akan bisa ditarik kesimpulan bahwa music mempunyai peran yang lebih besar dibandingkan arsitektur, dimana musik berperan sebagai pembentuk dari arsitektur itu sendiri. Ketika bangunan itu akan didesign maka bangunan itu akan mengikuti naskah music yang telah diciptakan sebelumnya, dimana yang nantinya naskah itulah yang berfungsi sebagai pembentuk space. Lalu ketika music ini diterjemahkan menjadi space, maka akankah arsitektur itu menjadi berbeda dengan arsitektur yang berisi space yang dibuat tanpa berdasarkan terjemahan music? Musik dalam design Le Corbusier hanyalah berperan sebagai pembentukan benda arsitektural itu secara visual yaitu menjadi bentuk hyperbolic paraboloid shapes. Tapi dari experience feeling of space, apakah akan ada bedanya antara bangunan yang didesign berdasarkan terjemahan music ataupun yang bukan? Bukan music itu sangatlah berkaitan dengan feeling yang bisa kita rasakan keindahannya? Apa yang dilakukan Le Corbusier ini sangatlah bertentangan yang dilakukan oleh Daniel Libeskind dimana, Libeskind menjadikan music dan arsitektur menjadi Music Space Reflection.

“Architecture is an acoustical reality. Most people think about it as something visual or spatial. But the sense of balance is in the inner ear and orientation is through the ear. So the acoustics of a building — the sound of a space — is an incredibly important part of my work. And the whole process of architecture is also musical, both in its end characteristic and in its relationship to time.”
— Daniel Libeskind

Libeskind beranggapan bahwa arsitektur yang seringnya dinilai dengan visual maka sebenarnya untuk mencapai arsitektur yang seimbang itu juga harus mempertimbangkan dari akustiknya, tidak hanya spatial of space tapi juga sound of space. Yang dipentingkan oleh Libeskind antara music dan arsitektur ini yaitu bukanlah bagaimana music membentuk arsitektur itu hanya secara visual tapi juga secara experience, dimana sound of space itu bisa memberikan perasaan yang khusus untuk orang-orang yang ada didalamnya, sehingga keindahan music itu tidak hanya bisa dilihat namun juga dirasakan seperti music yang sebenarnya sering kita dengar,dan kemudian bisa terjalinlah keindahan yang harmoni antara musik dan arsitektur itu sendiri.

“Architecture can be felt with eyes, ear, touch, and feeling”

http://www.schirmer.com & at.or.at

1 Comment »

  1. ehm…. menu baru untuk santapan otakku yang dangkal ini. Tapi ada sugestion gak, kemana aku harus mencari literatur mengenai Arsitektur dan Musik?
    Butuh buat tugas akhir nih…..

    Comment by Putra Perdana — January 30, 2010 @ 09:42


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: