there’s something about geometry + architecture

May 21, 2009

Deaf + Music = Architecture?

Filed under: architecture and other arts — meurin @ 06:42
Tags:

Sepanjang kuliah geometri tentang arsitektur dan musik, saya menangkap kesan bahwa penciptaan arsitektur yang didasarkan pada musik seolah-olah hanya diperuntukkan untuk orang yang mampu mendengar saja karena sebagian besar arsitektur menekankan bagaimana agar suara yang tercipta dari bangunan dapat dinikmati oleh orang yang non tunarungu. Saya tidak mengatakan itu sesuatu yang salah.  Saya juga mengakui bahwa ada juga bangunan yang merupakan hasil translasi visual dari musik seperti  yang tertulis pada artikel Y-Condition yang terdapat pada buku Architecture as a Translation of Music. Artikel ini tertulis oleh Elizabeth Martin. Saya hanya ingin mengatakan bagaimana seharusnya musik itu dapat dinikmati oleh orang tunarungu juga melalui arsitektur. Tidak hanya orang non tunarungu.

Perlu diketahui bahwa tunarungu memiliki tiga cara menikmati musik yaitu melalui suara, getaran,dan visual. Memang tidak semua orang tunarungu dapat menikmati musik melalui suara karena tingkat ketuliannya berbeda-beda. Akan tetapi, dengan alat bantu dengar, barulah ada beberapa orang tunarungu dapat merasakan keindahan musik. Saya menyebutkan kata “ beberapa” karena tidak semua orang bisa mendengar dengan alat bantu dengar. Ada juga yang menderita ketulian total. Ada juga tidak suka mengenakan alat itu karena membuat kepala pusing.

Sedangkan, getaran merupakan sarana yang sangat umum atau paling sering digunakan orang tunarungu untuk menikmati musik. Memang ada orang tunarungu yang memilih menikmati musik melalui pendengaran sehingga kurang mengembangkan kemampuan ’mendengar’ musik melalui getaran. Tubuh manusia merupakan konduktor getaran yang cukup baik. Dengan memegangi alat musik atau radio, kulit sudah mampu merasakan getaran. Getaran itu merambat cukup cepat. Bahkan otak juga dapat merasakannya

Sebagai orang tunarungu, saya termasuk orang yang sering memanfaatkan getaran sebagai sarana untuk merasakan ’keindahan’ musik. Dulu, pada saat memainkan piano, saya suka menempelkan kakiku pada pedal. Dengan demikian, saya merasakan keindahan musik dari getaran. Ditambah feeling, kenikmatan musik makin terasa. Dengan feeling, saya sering membayangkan bagaimana rasanya jika musik itu dinikmati orang non tunarungu. Kendatipun, tidak selalu benar, saya tetap menikmatinya. Bahkan ditambah dengan alat bantu dengar, musik terasa lebih indah. Saya harus mengakui itu lebih indah daripada melalui getaran. Bagaimanapun, getaran tetap paling sering saya gunakan. Ketika bermain piano, saya masih suka menempelkan kakiku pada piano walaupun sudah mengenakan alat bantu. Apalagi jika alat bantu dengar itu rusak, saya tetap bisa menikmatinya meksipun rasanya agak berbeda.

Visual memang tidak banyak membantu untuk menangkap apa yang dimaksud dari sebuah lagu. Tetapi visual bisa memperdalam feeling sehingga orang tunarungu makin bisa merasakan kenikmatan musik. Jika saya melihat orang sedang memainkan piano di tengah ruang yang gelap, tepatnya di bawah lampu yang redup, saya langsung mendapat feeling. Saya bisa membayangkan seperti apa musik itu,. Dengan demikian, saya tetap bisa menikmati musik walaupun ruangan itu tidak mendukung baik getaran maupun suara. Jadi, kesimpulannya, agar orang tunarungu dapat merasakan musik melalui bangunan, maka arsitek harus menekankan suara, getaran, dan visual. Ketiga itu akan membentuk pengalaman ruang atau feeling. Feeling yang mengakibatkan orang tunarungu dapt menikmati musik, sama seperti orang non tunarungu.

Berikutnya merupakan contoh arsitektur yang baik sehingga orang tunarungu dapat menikmati musik , tidak hanya suara tetapi juga getaran dan visual, yaitu Synaptic Island. Synaptic Island adalah ruang yang menjadi perantara dari ruang luar ke ruang dalam the Tokushima 21 st Century Cultural Information Center selama CyberSound Week (30 April-5 Mei 1992). The Tokushima 21 st Century Cultural Information Center merupakan bagian dari Tokushima Bunka-no–Mori Park.  Ruang ini mengeksplorasi akustik, persepsi, arsitektur, dan komputer. Ruang ini membuat kita tidak hanya mendengar tetapi juga merasakan getaran dan visual.

Ruang ini sengaja dibuat persis dengan bentuk anatomi telinga musik  untuk menghadirkan perpectual geography. Perceptual geography akan memperkuat persepsi kita akan ruang daripada suara. Synaptic island sengaja dibuat untuk menunjukan spatial dimensions dari musik. Dalam hal ini, arsitektur dijadikan sebagai alat memperlebarkan dimensi baru musik. Komposisi musik di dalam ruang ini ditentukan oleh tinggi dan lokasi. Material bangunan ini dijadikan sebagai media perambatan musik (getaran). Ini mengakibatkan kecepatan suara bertambah tinggi sekaligus memperbesarkan gelombang suara. Panjang gelombang suara untuk nada C yang melalui udara (airborne sound) hanya empat kaki. Sedangkan yang melalui material bangunan (structure-borne sound) panjangnya justru lebih dari dua puluh kaki. Ini membuat tubuh kita merasakan getaran suara lebih cepat daripada melalui udara. Ini menimbulkan sensasi dalam merasakan ruang, seperti kutipan berikutnya:

” Tactile in prescene, they appear both larger than life and small enough to touch, heard as tough miles away, or felt inside the listener” (Maryamme Amacher, 1994).

Sebagai responnya, neuroanatomy memberi sinyal data bentuk yang paling rumit (getaran) ke dalam telinga yang mengakibatkan kita mendengar tiga bunyi, satu dari getaran dan dua lainnya berasal dari udara. Suara yang terdengar ini tidak berasal dari electronic multispeaker tetapi dari resonasi suara pada ruang itu. Dengan kata lain, bangunan berfungsi sebagai speaker dan otak sebagai mixing board. Selain itu, interior yang berbeda-beda dalam ruangan itu makin menambah variasi dalam mengalami keruangan.

Jadi, Synaptic Island benar-benar memeberi pengalaman ruang dari segi visual, pendengaran, dan getaran. Sekarang, terserah pada arsitek, mau membuat bangunan yang ‘ramah’ tunarungu atau tidak.

Referensi:

Martin, Elizabeth, et.al, 1994. Arhitecture as Translation of Music. New York: Princenton Architectural Press.

4 Comments »

  1. wah blog ini menurut saya sangat menarik..karena melihat segi arsitektur dari sudut pandang atau mungkin sudut “feeling” seorang tuna rungu. saya juga sering bertanya-tanya arsitektur yang melibatkan musik apakah hanya menterjemahkan musik itu sendiri secara langsung kedalam arsitektur atau experience of feeling dalam musik itu yang dimasukkan kedalam arsitektur.Karena penerjemahan musik secara langsung kedalam arsitektur tidaklah membawa musik itu kedalam bangunan arsitektur nantinya, karena musik bisa kita rasakan keindahannya tidak dengan dilihat tapi didengar dan dirasakan. Dan seringkali arsitektur hanya mementingkan pandangan visual saja sehingga bangunan itu tidak bermakna apa-apa. Untuk membuat bangunan yang bisa dirasakan oleh eseorang tuna rungu,maka mau tidak mau arsitek itu harus bisa membuat bangunan itu menonjolkan experience of feeling dalam bangunan itu,sehingga keindahan bangunan itu bisa kita rasakan. Dan experience of feeling ini mungkin bisa didapatkan oleh ketiga hal yang disebutkan oleh mutia diatas yaitu getaran,pendengaran,dan visual (yang sudah sering diaplikasikan oleh arsitek sekarang).

    Comment by r1ss — May 24, 2009 @ 08:26

  2. wah. pembahasan kamu sangat inspiratif. dulu saya berpikir, bagaimana seorang tunarungu dapat menikmati musik. sekarang saya mengerti, bahkan juga saya jadi merasa lebih alert, bahwa ada cara lain untuk menikmati musik. sebenarnya, esensi musik adalah getaran yang menghasilkan bunyi, dan kelemahan kita adalah sering melupakan esensi itu.

    dulu saya mengkritisi translasi musik ke arsitektur yang hanya melibatkan fasad bangunan yang tinggi-rendahnya disesuaikan dengan musik. saya bertanya-tanya, “adakah cara yang lebih esensial dari sekedar menerjemahkan musik ke dalam visual bangunan? bukankah musik untuk didengar dan dirasakan, bukan untuk dilihat? maka ruang yang diciptrakan pun selayaknya tidak mencerminkan musik dari visualnya, melainkan yang lebih esensi dari itu, yakni perasaan yang ditimbulkannya.” dan sekarang saya menemukan jawabannya. terima kasih yaaa meutia…

    Comment by annisa seffiliya — June 1, 2009 @ 04:02

  3. Tulisan ini sangat inspiratif.
    Saya merasa menjadi tuna rungu saat ‘mendengar’ 4’33”-nya John Cage. Namun saat menyaksikan video silent music ini, saya merasa dapat mendengarkan alunan musik samar-samar di telinga. Saya merasa menikmati alunan tersebut dan merasakan melodi-melodi seperti saat saya benar-benar mendengarkan pertunjukan orchestra. Saya sadar saat menyaksikan video ini, terntata tidak ada peserta di kelas yang bersuara,,hening,,,begitu juga dengan orang yang menyaksikan pertunjukan tersebut secara langsung..mereka semua hening seolah-olah memang sedang mendengar secara nyata alunan musik yang sangat apik. Dengan melihat ruang , dirigen dan jajaran pemain musik seperti yang ditampilkan video, saya atau juga mungkin mereka merasa seperti benar-benar mendengar musik. Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa musik tidak hanya dapat didengar, namun juga dapat dirasakan dan arsitektur adalah salah satu wadah yang dapat membantu kita, khususnya tuna rungu untuk ‘mendengarkan’ musik.

    Comment by gemala — March 28, 2010 @ 21:40

  4. betul sekali. tulisan yang sangat inspiratif ya..karena disadari atau tidak, kadangkala semua hal diprioritaskan untuk kelompok-kelompok non-difable. Yang mampu mendengar sempurna, melihat sempurna, berjalan sempurna dan seterusnya. tapi, perkembangan ilmu pengetahuan dalam banyak hal sudah bergerak untuk menempatkan semua dalam proporsinya, mengatasi kekurangan dengan metode lain, termasuk dalam arsitektur. Seperti halnya pengalaman “menikmati” John Cage beberapa minggu yang lalu. Kalau menurut saya, mungkin sensasi silent-music hanya akan terjadi sekali saja, pada saat momentum itu diulang oleh musisi lain di dunia akan berbeda pastinya. Yang saya rasakan, John Cage berusaha menampilkan sesuatu yang “bahkan dalam kesunyian sekalipun terdapat musik yang mengalun”. Dalam konteks itu,Cage berusaha menampilkan unsur bunyi di luar yang biasa kita dengar, suara kertas partitur dibalik, suara detik jam, suara helaan nafas, suara batuk pengunjung, atau apapun itu menjadi satu nada yang bisa dinikmati dengan cara yang sama sekali berbeda bukan?
    Ninadwihandajani.

    Comment by datunpaksi — April 1, 2010 @ 17:32


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: