there’s something about geometry + architecture

March 31, 2010

Geometry in Traditional Architecture – ‘Rumah Gadang’

Filed under: locality and tradition — gemala @ 21:10
Tags: ,

Saat berbicara mengenai arsitektur, secara tidak langsung kita juga berbicara mengenai geometri yang merupakan salah satu unsur pembentuk arsitektur. Dan saat saya mengolah skripsi yang terkait dengan arsitektur tradisonal Minangkabau, saya menyadari ternyata hal ini tidak hanya berlaku untuk arsitektur modern tetapi juga berlaku untuk arsitektur tradisional yang eksis tanpa campur tangan arsitek.

Rumah gadang sebagai hasil dari proses berarsitektur masyarakat Minangkabau, bagi saya merupakan salah satu karya arsitektur yang sangat menarik. Hal ini bukan hanya karena saya adalah orang Minang tetapi juga karena saat melihat rumah gadang, secara visual kita disuguhkan pada permainan geometri yang tidak lazim. Ketidaklaziman ini salah satunya dapat dilihat dari massa rumah gadang yang besar ke atas sehingga memberi kesan tidak proporsional. Selain itu, hal yang juga cukup menonjol adalah permainan garis-garis lengkung pada atap gonjongnya yang curam dan runcing menjulang ke langit.

Bentuk-bentuk geometri seperti ini ternyata tidak muncul begitu saja tapi juga tidak berdasarkan pada teori-teori yang terkait dengan geometri seperti teori Vitruvius, Euclidean Geometry, Gestalt ataupun lainnya. Bentukan geometri seperti ini ternyata lahir sebagai simbol yang mewakili penghormatan dan penyesuain terhadap alam yang telah melewati proses trial and error. Proses ini berlangsung sekian lama hingga diperoleh bentuk seperti bentuk rumah gadang yang kita lihat sekarang ini.

Hal lain yang menarik saat mengenal arsitektur rumah gadang adalah bahwa ternyata ukuran yang dipakai tidak mengikuti kaidah metrik ataupun Golden Section yang dianggap dapat menciptakan sesuatu yang proporsional. Ukuran yang dipakai adalah ukuran tubuh manusia yaitu jari, jengkal, hasta dan depa. Namun walaupun menggunakan satuan yang secara metrik tidak dapat dipastikan keakuratannya (karena ukuran jari, jengkal, hasta dan depa pada tiap orang berbeda), rumah gadang tetap dapat dibangun dengan baik (dalam artian tidak ada masalah yang diakibatkan kesalahan ukuran). Hal ini bagi saya, lagi-lagi membuktikan bahwa alam atau sesuatu yang natural itu menyimpan kaidah-kaidah geometri yang ajaib.

Selain itu dalam kaitannya dengan arsitektur tradisional, geometri dianggap dapat merepresentasikan pandangan hidup masyarakat yang juga berlaku bagi arsitektur tradisional Minangkabau. Pandangan hidup orang Minang disimbolkan ke dalam bentuk-bentuk tertentu dan dijadikan sebagai bagian dari arsitektur. Disinilah geometri berperan sebagai penerjemah simbol-simbol tersebut kedalam bentuk visual.

Dengan mempelajari arsitektur tradisional khususnya rumah gadang ini,  saya melihat ada cara lain dalam memandang geometri sebagai bagian dari arsitektur. Geometri tidak hanya dinilai sebagai unsur arsitektur yang membantu memberikan nilai estetika pada bangunan namun juga sebagai representasi dari nilai-nilai yang dianut oleh suatu golongan masyarakat tertentu.

6 Comments »

  1. Menarik sekali melihat geometri dari pendekatan kultural, tapi pada saat bicara mengenai golden sections, sesungguhnya yang kita bicarakan adalah kesempurnaan proporsi di alam yang merupakan hasil pengamatan dari berbagai obyek, seperti bila kita mengamati bentuk spiral pada cangkang kerang atau pada bunga pohon pinus, perbandingan besar antara lingkar satu dengan lingkar disebelahnya selalu merupakan perbandingan yang sesuai dengan golden section. Ukuran tubuh manusia menurut saya adalah satuan tertua yang banyak digunakan di berbagai kebudayaan di dunia, yang termasuk juga digunakan oleh Vitruvius (Ten Books on Architecture, Book 3). Dan bila kita baca lebih lanjut, perbandingan antara tiap tiap anggota tubuh kita selalu membentuk persamaan angka golden section itu. Mulai dari perbandingan ruas ruas jari kita hingga komposisi wajah manusia, oleh Vitruvius dituliskan sebagai ‘perfect numbers’, angka yang sempurna. Bila kita mengingat apa yang digambar oleh Leonardo Da Vinci, gambar yang kemudian kita kenal sebagai ‘Vitruvian Man’, gambar tersebut merupakan penggambaran yang dilakukan oleh Da Vinci terhadap tulisan Vitruvius berkenaan dengan ‘perfect numbers’ itu tadi.
    Tapi yang sesungguhnya menarik adalah, ketidaksamaan ukuran tubuh manusia tersebut. Di masa belum banyak ditemukannya teknologi dan manusia bergantung pada apa yang diberikan oleh alam kepadanya, termasuk juga anggota tubuhnya yang kemudian digunakan sebagai alat ukur, arsitektur yang terbentuk kemudian itulah yang menurut saya menarik. Pada saat seseorang membuat rumah, hunian, dimana di tempat itulah menjadi ruang hidupnya, ia membuatnya sesuai dengan kebutuhannya, mengenali dengan baik ruang gerak tubuhnya sendiri. Arsitektur menjadi sangat personal, sangat intim, sekaligus pada saat yang sama memberikan ruang pada keberagaman.

    Comment by arum — March 31, 2010 @ 23:30

  2. Arsitektur yang terbentuk kemudian itulah yang menurut saya menarik. Pada saat seseorang membuat rumah, hunian, dimana ditempat itulah menjadi ruang hidupnya, ia membuatnya sesuai dengan kebutuhannya, mengenali dengan baik ruang gerak tubuhnya sendiri. Arsitektur menjadi sangat personal, sangat intim, sekaligus pada saat yang sama memberikan ruang pada keberagaman.(comment by arum)

    saya setuju dengan kalimat diatas ketika saat saya menemukan adanya rumah terbalik dan dihuni yang menunjukkan arsitektur itu menarik, menjadi personal, dan memberikan keberagaman. Namun, apakah kemudian rumah terbalik ini benar2dapat memenuhi kebutuhan seseorang? Dapatkah ruang2yang ada menjadi ruang yang baik untuk gerak tubuh orang yang menghuninya? Dan berlakukah proporsi2yang baik untuk kasus yang terbalik2ini? Bukankah proporsi yang baik itu seharusnya akan menimbulkan kenyamanan dalam hal apapun?

    Comment by reni89 — April 1, 2010 @ 05:25

  3. Saya sependapat dg Mba Arum… Yang ingin juga saya tekankan adalah bahwa ternyata teori-teori yang terkait dengan geometri seperti Golden Section dan segala macam itu sudah diterapkan oleh masyarakat Indonesia seperti masyarakat Minang sejak zaman dahulu dengan dasar pengetahuan yang berasal dari pengamatan terhadap alam. Namun sungguh disayangkan, pengetahuan ini justru ditinggalkan. Saya sendiri sebagai orang Minang baru mengetahui hal ini setelah saya mengolah skripsi, saya justru lebih dulu tahu tentang Vitruvius, Golden section dan lainnya.

    Comment by gemala — April 1, 2010 @ 21:54

  4. menurut saya keterkaitan antara rumah gadang yang beraksen tradisional dengan golden section sangan menarik. namun akan lebih menarik jika dapat dibuktikan dengan golden section, khususnya pada bagian atap rumah gadang (iconic) akan lebih menarik jika dapat dibuktikan dengan goldeng section… ^_____^

    Comment by meitha28 — June 2, 2010 @ 08:18

  5. geometri sebagai sebuah konsep tentulah ia tersambung dengan kontekssnya yakni budaya yang melahirkan istelah tsb (terminologi, semantik)..anggapan saya orang minang membangun rumah gadang tidak peduli dengan istilah geometri tsb..ia membangun,dalam rangka menghuni berpijak dengan kaidah2 tersendiri dalam konteks budaya minangkabau…ini seperti memaksakan sebuah teori ke dalam konteks yang belum tentu tepat..melakukan pembacaan arsitektur rumah gadang menggunakan kamus asing…apakah tepat…karena kita tahu..bahwa istilah,kata, kalimat yang merupakan simbol yang terkait dengan budaya tertentu..kita tahu bahwa sebuah bahasa tidak seratus persen tepat bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain….karena ada konteks culter-nya di sana…sperti istilah space dalam english tidak sama dengan awang awung dalam kosa kata jawa..

    Comment by masdar — July 27, 2010 @ 01:15

  6. ia.. ia…, dalam budaya minang… juga melayu…. juga bersumber ke bahasa seperti pepatah.., pantun atw puisi…

    Comment by aldrii — January 27, 2012 @ 17:42


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: