there’s something about geometry + architecture

April 1, 2010

Musik & Arsitektur = Ide

Filed under: architecture and other arts — caesarch @ 19:58
Tags: ,

Musik adalah bunyi yang dikeluarkan oleh satu atau beberapa alat musik yang dihasilkan oleh individu yang berbeda-beda berdasarkan sejarah, budaya, lokasi dan selera seseorang. Musik merupakan sebuah bentuk seni dengan menggunakan medium suara. Biasanya unsur musik terdiri dari pitch (yang mengatur melodi dan harmoni), rhythm (berkaitan dengan konsep tempo, meter, dan artikulasi), dinamika, dan kualitas sonik timbre dan tekstur.

Bagaimana dengan musik yang dimainkan oleh John Cage (seorang composer Avant Garde) yang berjudul “Four Minutes Thirty Three Second of Silent” (4’33”) yang terbagi dalam 3 bagian, dimana dia menginstruksikan para pemainnya untuk tidak memainkan satu pun alat musik pada sebuah konser. Yang ternyata ini menjadi karya John Cage yang sangat kontroversial dan terkenal

“Architecture is both the process and product of planning, designing and constructing space that reflects functional, social, and aesthetic considerations. Architecture also encompasses the pragmatic aspects of realizing designed spaces, such as project planning, cost estimating and construction administration”. (http://en.wikipedia.org/wiki/Architecture)

Yang selama ini kita (saya) tahu, arsitektur adalah sesuatu yang terlihat kasat mata, bangunan yang berdiri karena desain yang diwujudkan, jadi kita bisa melihat bahwa itu adalah arsitektur. Tetapi apa yang dikatakan Louis Kahn bahwa arsitektur tidak ada merupakan wacana tersendiri. Dia berkata bahwa yang ada adalah sebuah realitas yang dibangun dari perwujudan ide arsitektur.

Seperti yang dimainkan oleh John Cage dalam “Four Minutes Thirty Three Second of Silent”. Musik adalah ide, jadi bunyi yang kita dengar adalah perwujudan dari ide itu sendiri. Jadi menurut saya musik dan arsitektur mempunyai benang merah yang sama yaitu musik dan arsitektur adalah sebuah ide yang jika diwujudkan akan menjadi lagu dan juga bangunan seperti yang selama ini kita lihat.

8 Comments »

  1. mengkaji lebih jauh hubungan arsitektur dengan musik menjadi sesuatu yang memiliki daya tarik tersendiri, terlebih jika dikaitkan dengan kondisi ‘silent’ seperti pada tulisan ini.

    seberapa besar pengaruh ke-‘silent’-an (keheningan) pada karya arsitektur maupun musik yang kemudian bisa kita tarik juga sebagai bagian yang memperkaya hubungan di antara keduanya?

    butuh suatu kajian yang cukup kompleks untuk bisa menghadirkannya..

    Comment by andisuryakurnia — April 1, 2010 @ 23:47

  2. musik dan arsitektur = ide
    ketika musik jadi lagu, arsitektur diwujudkan dengan bangunan
    musik (silent) –> ide
    arsitektur (….) –> ide
    silent nya arsitektur seperti apa y??

    Comment by reni89 — April 2, 2010 @ 00:26

  3. Memahami hubungan yang terbangun antara musik dan arsitektur, pada awalnya yang terpikirkan adalah dengan musik mampu menterjemahkan secara paralel apa yang tidak terlihat dalam arsitektur itu sendiri.
    Arsitektur hening mengacu pada sesuatu yang bersifat kontemplatif, dan secara paralel apakah musik yang diwakili oleh satu atau dua alat musik dengan satu atau tiga nada. Tidak banyak variasi dan tidak banyak letupan.
    Apakah akan selalu bisa diterjemahkan seperti itu?
    Ninadwihandajani

    Comment by datunpaksi — April 2, 2010 @ 00:46

  4. Ketika menonton “Four Minutes Thirty Three Second of Silent” (4′33”)-nya John Cage, yang terbersit di benak saya adalah Zen. Kita melihat puluhan pemain musik dengan berbagai macam instrumen yang berbeda beda, pada orkestra yang biasa kita lihat dan dengar, masing masing menampilkan dirinya dalam bunyi, ada yang dominan, ada yang mengisi, tapi oleh John Cage, semua dibuat hening. Momen dimana semua hening dan tenang, adalah Zen. Ketika semua melupakan eksistensinya dan lebur di dalam ketiadaan. Hening tak terpengaruh dengan musik, karena hening adalah musik itu sendiri.
    Lalu bagaimana dengan arsitektur? saya melihatnya seperti ini, seringkali kita melihat sesuatu sebagai oposisi, baik – buruk, cantik – jelek, gelap – terang, lalu kemudian kita seringkali melakukan diskriminasi terhadap kondisi oposisi tersebut. Dalam Zen, kita melihat sesuatu itu ada karena tiada, oposisi bisa muncul karena adanya disposisi, sehingga dalam berpraktek arsitektur pandangan nondiskriminasi atas posisi- posisi menjadi penting. Bukan berarti kemudian kita tidak melakukan diskriminasi, tapi kita melakukan itu setelah sebelumnya kita mempelajari berbagai aspek yang ada didalamnya, sehingga kita bisa terhindar dari jebakan kecendrungan ide kita pribadi dan mengabaikan kebutuhan atau kepentingan yang lain. Sehingga arsitektur yang muncul kemudian semua elemennya adalah penting, memiliki integritas dan unik, suatu karya yang memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang terpapar di depan mata.

    Comment by arum — April 2, 2010 @ 01:58

  5. Sebelumnya terima kasih untuk komen-komen (cacian-cacian) dari teman-teman semua (karena ketidakjelasan/kekurangan saya dalam membuat essay ini)..Saya hanya mencoba bertukar informasi karena mungkin pengetahuan yang saya punya tidak sebanyak teman-teman yang lain..

    Sebenarnya dalam tulisan ini saya hanya ingin memberikan contoh adanya persamaan antara musik dan arsitektur bila kita melihat dari sisi lain. Sebelumnya kita tidak pernah berpikir bahwa karya 4’33” of Silent John Cage merupakan suatu karya musik seperti pada umumnya yang mengeluarkan suara dari performer, tetapi karya kontroversial itu yang membuatnya menjadi lebih terkenal. Menurut saya ia lebih ingin menunjukkan sisi lain dari musik dengan cara yang berbeda, tidak hanya sekedar yang kita dengar. Begitu pula dengan arsitektur, seperti apa yang dikatakan oleh Mba Arum: “arsitektur yang muncul kemudian semua elemennya adalah penting, memiliki integritas dan unik, suatu karya yang memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang terpapar di depan mata.”

    Sebenarnya bukan silent-nya arsitektur, tetapi ruang (space) dalam pengertian mental. Sekarang ini apa yg kita (saya) selalu tahu arsitektur adalah sesuatu yang kasat mata (place), sama seperti musik yang kita tahu ada suara dari berbagai macam alat musik dan juga penyanyinya. Dan pada saat John Cage memainkan 4’33” of Silent apakah itu disebut musik? Jadi menurut saya ketika pada saat arsitek mempunyai sebuah ide dan mewujudkannya menjadi sebuah ruang, tidak harus menjadi ruang yang nyata(place)/bangunan, tetapi dengan mengintervensi sebuah ruang (space)

    Seperti yang pernah saya dan teman saya lakukan dalam salah satu sayembara arsitektur, yang berjudul “Wadah Grafiti”, kami mencoba untuk tidak membuat sebuah bangunan, tetapi kami mencoba untuk mengintervensi sebuah ruang publik dengan menggunakan warna (Colour Intervention) pada sebuah terminal bus. Jadi pada saat mereka menaiki sebuah bus dari dalam terminal, mereka akan merasakan sebuah pengalaman grafiti yang berbeda seperti yang sekarang terlihat hanya pada tembok-tembok. Dan pada saat itu Mas Yori selaku juri mengatakan bahwa itu termasuk dalam karya arsitektural.

    Comment by caesarch — April 2, 2010 @ 08:43

  6. Sebenarnya kalau dikaji lebih dalam, konsep silence Cage bukan hanya berarti hening. Cage menawarkan sebuah konsep non-intensionalitas yang (benar kata mbak Arum) sangat berkaitan erat dengan Zen dalam Buddhisme (ini karena Cage mendalami konsep Zen sebelum kemudian menghasilkan karya ini). Non-intensionalitas di sini adalah ketika apa yang menjadi intensi pada musik umumnya yaitu musical tones ditiadakan untuk membuka kemungkinan terhadap ambient sounds yang memang selalu ada di sekitar audiensi untuk terdengar. Jadi silence berperan sebagai sebuah medium yang memungkinkan untuk itu terjadi. Yang saya tangkap, poin yang ingin disampaikan Cage adalah bagaimana penyatuan dengan alam dapat membawa kita pada suatu estetika musik yang lain. Ini bisa menjadi suatu keterkaitan yang relevan dengan arsitektur yaitu bagaimana sebuah arsitektur menyatu dengan lingkungannya dan membuka diri terhadap pengaruh alam (divine influence), ketika mencapai ini, arsitektur dapat mencapai state of silence yang dapat dialami manusia yang (seperti kata Nina) akan memungkinkan membawa manusia ke dalam sebuah kontemplasi.

    Comment by notjusthenny — April 2, 2010 @ 10:14

  7. yang dilakukan john cage dalam 4’33’ mungkin bisa disebut silent-hening, tanpa suara sama sekali. selama ini mindset kita yaitu menganggap silent dan suara merupakan suatu hal yang sama sekali berbeda. tapi silent merupakan suara juga. hanya saja dia tidak menampilkan ‘suara yang nyata’, tapi ‘suara yang berupa keheningan’. artinya ‘silent’ berada pada level yang sama dengan suara(sound).

    kalau silentnya john cage, dia tidak menghasilkan suara yang dia ciptakan sendiri, tetapi bukan berarti ketika ditampilkan tidak ada suara sama sekali bukan di ruangan tersebut?? masih ada suara ambiencenya. nah, kalau silentnya arsitektur mungkin, jika merujuk pada Cage, bisa diartikan dengan tidak menciptakan arsitektur secara nyata namun memanfaatkan hal-hal yang bersifat ambience.

    Comment by lisahartati — April 4, 2010 @ 20:40

  8. hemm,,silence itu bukan suara loh,,hehe..walaupun ada suara-suara tertentu yang kemudian cenderung dapat menghadirkan silence (misalnya seperti jika kita mendengar suara lonceng angin, dsb.). silence itu lebih pada sebuah kondisi (dan pada 4’33” kondisi ini menjadi sebuah medium untuk membuka kemungkinan terhadap ambient sounds). lalu bagaimana sebenarnya yang dimaksudkan dengan “tidak menciptakan arsitektur secara nyata”?

    ” … ketika pada saat arsitek mempunyai sebuah ide dan mewujudkannya menjadi sebuah ruang, tidak harus menjadi ruang yang nyata(place)/bangunan), tetapi dengan mengintervensi sebuah ruang (space).”
    heemmm,,,menghadirkan bangunan juga merupakan sebuah intervensi ruang,,lalu intervensi ruang yang bagaimana yang hendak dimaksudkan di sini untuk disejajarkan dengan penghadiran silence dalam musik?

    Comment by notjusthenny — April 10, 2010 @ 00:23


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: