there’s something about geometry + architecture

April 6, 2010

Kontekstualitas Dalam Berkarya

Filed under: classical aesthetics — agungsetyawan89 @ 00:00
Tags: , ,

Perbedaan aturan dalam dunia barat dan timur dapat terlihat pada cara pandang terhadap sang seniman terhadap objek dan penerapan terhadap suatu karya. Penggambaran alam melalui sebuah karya dilakukan dengan cara yang berbeda.

Pada masa klasik, terdapat segenap aturan dalam berkarya. Ditinjau dari asal bahasanya maka kata klasik akan berkaitan pada golongan atau status ekonomi pada masyarakat, dalam hal ini golongan paling atas atau yang golongan yang mampu-lah yang menciptakan tata atau aturan dalam seni.

Pada masyarakat Jawa didapat pula hal yang kurang lebih serupa dengan terbentuknya seni klasik. Pada masyarakat jawa terdapat banyak motif batik, dari motif-motif tersebut dapat menggambarkan siapa pemiliknya dari golongan mana dia berasal. Misalnya motif parang yang hanya dapat dipakai pada kalangan keraton, bahkan motif tersebut tidak boleh keluar dari lingkungan keraton. Hal ini menandakan karya tersebut memiliki sifat eksklusif, dimana tidak sembarang orang dapat menggunakannya.

Pengalaman saya ketika mengikuti kelas batik membuat saya sadar bahwa dalam batik tidak ditemukan garis-garis yang lurus. Bila ditinjau dari proses berkarya hal ini disebabkan oleh proses pembuatan motif gambarnya yang tidak menggunakan alat bantu untuk membuat garis lurus seperti penggaris. Pada proses memblok motif dengan malam(lilin) atau proses men-canthing, pembatik menggunakan tangannya langsung tanpa bantuan penggaris untuk mengikuti pola yang telah ia buat sebelumnya (biasanya menggunakan pensil).

Sebelumnya dosen pembimbing saya menerangkan perihal nilai yang terkandung pada garis tidak lurus pada motif batik memiliki makna bahwa di alam tidak ada garis yang lurus. Cabang pohon, ranting, garis pantai, maupun bentuk-bentuk yang ada di alam tidak ada yang lurus.

Sedangkan yang terjadi di dunia barat, dalam membuat sebuah karya aturan-aturan yang harus digunakan adalah komposisi renaissance dan golden section dengan menggunakan garis-garis tertentu. Semua bentuk alam digambarkan ulang berdasarkan garis-garis yang membuat suatu komposisi.

Terlihat bahwa, meski memiliki maksud yang sama yakni penggambaran benda alam pada suatu media, sang pembuat karya memiliki penerapan yang berbeda berkaitan pada cara pandang terhadap alam itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan budaya mereka masing-masing, sedangkan budaya tiap bangsa berkaitan dengan lingkungan alam sekitar tempat mereka hidup. Pemaknaan manusia terhadap alam juga dipengaruhi oleh cara pandang mereka, salah satunya adalah alasan kepercayaan yang mereka anut.

Dikaitkan pada persoalan geometri, kata geo juga memiliki makna yang berhubungan dengan tempat atau konteks yang mempengaruhi wujud suatu benda. Pada suatu karya, konteks tidak hanya mengenai tempat atau lingkungan dimana benda tersebut berada, pola pikir yang mempengaruhi sang seniman, waktu, teknologi dan mungkin masih banyak lagi yang mempengaruhi bentuk suatu benda itu hadir.

1 Comment »

  1. hemm,,setelah mengikuti kelas geometri, saya setuju bahwa (mungkin) memang tidak pernah ada garis lurus di dunia ini :-I

    Comment by notjusthenny — April 10, 2010 @ 00:32


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: