there’s something about geometry + architecture

May 31, 2010

Kota Kita Manusiawikah?

Filed under: ideal cities — agungsetyawan89 @ 23:26
Tags: , ,

Berikut adalah tulisan saya yang acak-acakan tentang kota Jakarta. Sudah saya coba untuk merunutkan sampai akhirnya saya jemu bahkan hampir frustasi dan ingin batal memposting tulisan ini. Masalah kota sudah terjalin sedemikian rumitnya, hingga bingung mana yang kiranya perlu dituliskan lebih dulu. Semuanya saling berhubungan maka saya jadi maklum bila pemerintah beserta pihak-pihak yang peduli tentang kota juga pusing mengurai permasalahan yang ada.
Saya mulai tulisan ini dengan pemicu awal yang membuat saya ingin menulis tulisan ini. video tentang kota batavia tahun 1941 dimana kebanyakan lalu lintas berjalan cukup lambat dan terasa ruang-ruang yang ada lebih manusiawi. (berikut link nya http://www.youtube.com/watch?v=kpHttkGF5PM)

Kecepatan tidak manusiawi.
Semua kendaraan melaju dengan kencang. Berbahaya bila berada di dekat jalan raya, dekat rel KA, takut tersambar. Bahkan di pedestrian dan jembatan penyebrangan pun berbahaya karena motor mampu melahap track offroad tersebut. Bisa dibilang ruang-ruang tersebut tidak manusiawi. karena manusia tidak bisa merasa aman dengan menjadi dirinya sendiri.
Kota semakin tidak kompak. Jarak yang berjauhan memaksa kaki untuk menginjak pedal lebih dalam agar mendapatkan kecepatan yang tinggi berharap waktu tempuh semakin singkat. Namun apa mau dikata, bukan hanya kita seorang yang melakukan hal ini. Macet menahan kita untuk bisa cepat sampai dirumah, dikantor, dimana-mana.

Macet.
Pemandangan yang jamak ditemukan di jalan raya pada pagi maupun sore hari adalah macet. Ketika lambat pun, keadaan jalan ini tetap tidak nyaman dilalui manusia(baca: pejalan kaki). terlalu tebal untuk bisa ditembus dengan nyaman. Terlalu panas, terlalu berasap, keterlaluan. Sehingga berkendara menjadi terlalu menyenangkan dibanding naik kendaraan umum atau berjalan kaki.

Sebuah anomali melihat munculnya komunitas bike to work, saya kerap tertegun melihat mereka begitu anggun melintasi padatnya jalan kota. Merayap dengan pasti melewati semua pesaing2nya yang berbadan tambun. Celah yang sedemikian kecil cukup bagi mereka untuk dapat melenggang dengan gaya seorang juara.
Berkembangannya permukiman di pinggiran kota membuat kota semakin tidak kompak. Selain harga yang lebih murah alasan lainnya adalah keinginan warga untuk dapat hidup dilingkungan yang lebih sehat dipinggir kota.

Makam.
Saya kembali ingat buku yang mengkritisi ruang terbuka hijau di jakarta, berjudul komedi lenong: satire ruang terbuka hijau. Salah satunya isinya membahas tentang potensi makam yang juga berperan sebagai ruang terbuka.
Keberadaan makam seperti menentang teori bahwa kota adalah pusat konsentrasi manusia membuat setiap jengkal lahan yang ada mesti berkepadatan tinggi.
Sehingga seperti sudah digariskan bahwa makam akan terus menerus dipinggirkan. Mesti keluar dari kota, digusur.
namun apakah demikian cara kita menghormati para pendahulu-pendahulu kita?
Mungkin suatu saat makam sebagai ruang terbuka hijau yang berkontribusi dalam perbaikan kualitas udara cuma bisa ditemui di pinggiran kota. Dengan kata lain udara dan lingkungan yang sehat cuma bisa didapat di pinggiran kota. Beruntunglah mereka yang tinggal di pinggir kota. Namun alangkah kasihan bila mereka tetap bekerja di pusat kota yang dengan kata lain mesti berdesakkan ikut arus padat para komuter tiap pagi dan sore di hari kerja.
Potensi makam sebagai ruang interaksi juga terabaikan, citra yang sedemikian angker membuat banyak dari kita sedari kecil menjauhi keberadaannya. meninggalkan noda-noda hitam di peta pikiran kita, daerah yang sebisa mungkin dihindari agar tidak dilalui.
Entah merupakan sindiran atau memang ingin menggugah pikiran kita akan potensi pemakaman sebagai ruang terbuka, dalam film garuda di dadaku pemakaman-pun akhirnya dijadikan tempat berlatih sepak bola. namun tetap saja, bumbu hantu kembali dihadirkan. Membuat kesan keterpaksaan ketika mereka bermain di pemakaman itu.
Pada masyarakat sumba, makam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. makam ada dihalaman rumah, diruang terbuka tempat mereka kerap berkumpul dengan para tetangga, juga tempat anak-anak bermain. Kita bisa melihat bagaimana mengormati bukan dengan cara menjadi takut dengan keberadaannya.

PKL: ancaman atau kesempatan.
Saya yakin bila suatu saat area pemakaman sudah menjadi ruang yang aktif digunakan warga kota sebagai ruang berkumpul akan banyak pedagang kaki lima yang mangkal disana.
Yah mau bilang apa? Keberadaannya memang membuat kota kita terlihat semrawut. Tak heran demi menggapai adipura pemda mesti mengerahkan kekuatannya demi mensterilkan kota dari keberadaan mereka. Coba lihat muka stasiun tebet, tempat yang tadinya berupa lapak kakilima yang ramai karena memang strategis dilalui banyak orang kini berganti taman kecil yang rasanya tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perbaikan kualitas udara disana. Mungkin sudah terpatri dikepala bahwa taman dan pkl tidak bisa hidup dengan harmonis.
Seakan rakyat kecil yang diwakili para pkl ini tidak pernah berdamai dengan pemerintah. Pemerintah punya visi, warga tidak terlalu peduli akan hal itu. apa musyawarah cuma jadi pelajaran disekolah. Itupun kalau masih ingat.

4 Comments »

  1. Kompleksitas perkembangan suatu kota menjadi pembelajaran yang sangat berarti dalam memperlakukan manusia di dalamnya sebagai warga kota. Proses pembelajaran yang kita dapatkan pada saat bersekolah, seperti yang diungkap Agung, mungkin memang hanya menjadi sebuah standar (pendidikan) formal. Sayangnya, di kota selain faktor formal banyak terdapat faktor non/in-formal yang tidak bisa dikompromikan dari sudut pandang formal belaka. Manusia pun memiliki sisi formal dan non/in-formal dalam pribadinya, sehingga ulasan dalam tulisan ini dapat menjadi pembuka dialog-dialog agar kota kita manusiawi.

    Comment by andisurya — June 2, 2010 @ 00:13

  2. Hal yang digambarkan di atas juga sudah mulai menjangkiti kota satelit seperti Depok. Kurang lebih satu tahun yang lalu saya kaget melihat pohon-pohon di pinggir jalan Margonda arah Pasar Minggu – Depok ditebangi. Dengan lugunya saya berfikir kalau penebangan ini untuk menghindari ‘musibah’ tumbangnya pohon-pohon tersebut saat hujan dan angin ribut. Padahal sebenarnya ‘penyejuk udara’ tersebut dikorbankan untuk kepentingan lancarnya lalu lalang gerobak besi bermesin dan beroda empat serta sepeda bermotor. Miris memang,,namun kenyataan ini seperti menjadi tren bagi sebuah kota yang ingin dikatakan maju dan bekembang. Memang mobilitas warga kota menjadi lebih gampang, namun pastinya hal ini tidak akan bertahan lama karena jumlah kendaraan yang terus meningkat dengan pesat. Sekarang giliran jalan Margonda arah Depok – Pasar Minggu yang menjadi sasaran pelebaran jalan. Sangat disayangkan,, Pola hidup masyarakat yang ‘katanya modern’ dimana salah satunya ditandai oleh mobilitas yang tinggi harusnya tidak mengorbankan penghijauan kota. Disinilah peran masyarakat kota dan pemerintah yang seharusnya mengubah persepsi mereka mengenai pola hidup masyarakat modern.

    Comment by gemala — June 2, 2010 @ 01:51

  3. wah saya jadi ingat kuliah teori kemarin yg sedikit membahas masalah ideal city. Ideal. kebanyakan pada waktu bersolusi kita selalu memulainya dari suatu yg utopia, bayangan sempurna yang entah mengapa malah jadi jarang tercapai.. yang paling parah terkadang solusi yang dianggap ideal itu bukannya menyelesaikan, namun menambah masalah baru.

    atau jangan2 sebenarnya pada saat bersolusi kita salah berkaca ya.. Maksud saya sepertinya orang indonesia memang punya kecenderungan mencontoh dan meniru dari sesuatu yang berbau luar. Kayak misalnya saya tiap cari preseden untuk proyek studio selalu lihat preseden bangunan2 luar, soalnya datanya lebih gampang dicari juga sih. Yah tapi kan solusi yang berhasil disana bisa jadi malah gagal ketika diterapkan disini. Harusnya kita juga banyak belajar dari arsitek2 indonesia dan arsitektur vernakular ya sebetulnya, jangan le corbusier mulu.. hehe

    Comment by mirradewi — December 2, 2010 @ 23:59

  4. Kalau melihat comment dari gemala, kok sepertinya hijaunya kota itu harus menyebar di seluruh kota ya? padahal bisa saja kehijauan kota itu dipusatkan di satu titik yang tetap dapat memenuhi kebutuhan ruang hijau di sekitar.ya. Tempat seperti ini, seperti yang dijabarkan pada artikel menjadi sebuah ruang terbuka hijau.
    Masalah makam, kenapa harus disingkirkan jika memiliki potensi untuk menjadi ruang terbuka hijau. menurut saya, ini bisa menjadi kesempatan bagus untuk dijadikan sebagai pusat penghijauan di tengah kota. Kalau takut nantinya tidak akan terpakai, apa salahnya? Bukannya menarik apabila bisa mendapatkan obat hati pada saat sedang sedih dengan secercah keindahan hijau. Hal ini juga mungkin bisa menihilkan pemikiran bahwa makam itu identik dengan angker, seperti yang tertulis dalam artikel. Suatu hari, pernah saya melintasi komplek pemakaman di dekat rumah saya untuk mencapai jalan raya, tapi pemakaman itu tetap ramai. Meski tidak banyak, ada saja spot orang-orang berkumpul dan anak-anak kecil yang bermain. Mungkin saja ha itu disebabkan karena mereka memang sudah terbiasa dengan kehadiran makam itu dalam kehidupannya sehari-hari. Namun, dengan adanya usaha untuk menihilkan kesan angker makam, bisa saja hal ini lebih meningkakan keberanian orang-orang untuk megunjungi dan lebih membuat suasana makam lebih hidup.

    Comment by budiantiayumumpuni — March 23, 2014 @ 19:54


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: