there’s something about geometry + architecture

May 31, 2010

Pelipatan, Martabak.

Filed under: contemporary theories,everyday geometry — agungsetyawan89 @ 23:27
Tags:

Martabak: makanan jenis ini banyak sekali ditemui, baik dijual pedangan kaki lima maupun restoran.. sedangkan yang paling jamak ditemui adalah penjual martabak dipinggir jalan martabak telur ataupun manis yang kadang berlabel martabak bangka.

Proses pembuatan martabak telur, dari mulai membuat kulitnya sampai masuk ke dalam dus kecil
menjadi atraksi tersendiri yang cukup menarik sambil menunggu makanan tersebut siap di santap ataupun dibawa pulang.

kurang lebih prosesnya seperti ini
(jangan jadikan ini panduan membuat martabak sungguhan)

Minyak dipanaskan di atas wajan ceper. Siapkan pula isian berupa telur daging cincang potongan daun bawang beserta bumbu dikocok dalam gelas stainless yang khas.

Kemudian atraksi utama pun dimulai, yakni:
Pembuatan kulit martabak dari adonan yang kurang lebih ukurannya sekepalan tangan balita.

Proses yang paling mengagumkan ini bermula dari menaruh adonan ke atas papan(biasanya batu marmer) yang sudah cukup licin karena diberi sedikit minyak, menaruhnya juga tidak kemayu, tapi sedikit di banting agar si adonan ini agak gepeng. Selanjutnya di tekan-tekan agar semakin pipih dan lebar, lalu… wah ini saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya. Bahkan mungkin sipembuat juga akan kebingungan ketika harus menjelaskan proses ini tanpa dipraktekkan langsung.

Adonan seperti dibolak balik, dengan memegang pangkalnya, sehingga adonan tersebut akan semakin melar. Dengan begitu adonan yang bakal menjadi kulit ini akan menyerupai lingkaran, sampai kurang lebih berdiameter 40cm.

Kulit ini kemudian di goreng diatas wajan ceper, kemudian isian yang sudah disiapkan tadi dituang ke tengah dari kulit tersebut, namun masih menyisakan pinggiran yang nanti dilipat agar dapat menutupi isinya.

hmm. mungkin dengan penjelasan dengan cara sedikit matematis akan lebih mudah dipahami.

Dari kulit yang krg lebih berdiameter 40 cm, kita letakkan isi di bagian tengah, dengan sedikit melebar. pelipatan ini seperti melipat amplop, dari empat sisi membentuk persegi panjang dengan ukuran krg lebih 30×12.

Proses pelipatan ini ternyata cukup menentukan, bahkan menurut bbrp sumber asal kata martabak ialah melipat.
Pertama, agar isian tertutup, sehingga martabak dapat dibalik dan dapat matang seluruhnya. Kedua, agar bentuk akhir dapat sesuai dengan keinginan, dalam hal ini bentuk persegi panjang.

Setelah matang, martabak tersebut di tiriskan, lalu siap dipotong menjadi dua bagian, ditumpuk kemudian dipotong lagi menjadi tiga sehingga didapat 12 potongan martabak berukuran kurang lebih 6x6cm, ukuran yang cukup sesuai untuk diambil dengan tangan. lalu semua dimasukkan ke dalam dus berukuran 15×10.

Demikian kira-kira runutan dari proses pembuatan satu dus martabak. berisi 12 potong martabak yang pas ditangan. tulisan ringan ini, semoga dapat mengingatkan bahwa geometri dapat berlaku pada banyak aspek keseharian. Digunakan dengan dalih berbeda-beda namun kebanyakan bertujuan untuk dapat mempermudah kegiatan manusia.

Sumber lain:
http://www.strov.co.cc/2010/05/martabak.html

3 Comments »

  1. mungkin pembuatan kulit ini dapat menjelaskan proses deformasi. sama halnya pada topologi, jarak antar titik tidak menjadi persoalan, yang lebih penting adalah hubungannya. nah, kalau hubungannya putus, dengan kata lain kulit-nya sobek sehingga tidak bisa digunakan lagi. namun, perlu diingat, bahwa pada kulit martabak ini ukuran (jarak) berkaitan dengan hubungan (menjadi kemampuan kulit untuk dapat melar). karena ia benda plastis, maka hubungannya dapat putus pada ukuran tertentu akibat tidak mampu lagi mempertahankan hubungannya.

    sedangkan gaya yang mempengaruhi ini, tentu didapat dari si abang pembuat martabak, namun ada pula gaya dari dalam kulit itu sendiri, ketika ia diputar, ia akan semakin melebar (mungkin disebut gaya sentripetal dan sentrifugal dalam ilmu fisika).

    Comment by agungsetyawan89 — June 1, 2010 @ 12:56

  2. Yang menarik untuk kemudian dikembangkan mungkin dari setiap lipatan martabak akan mengalami perubahan secara fisik (mungkin menjadi lebih tebal dari sebelumnya? dsb)maupun secara sistem ‘hubungannya’ yang terjadi. Apakah kemudian bisa dikembangkan menjadi martabak yang akan memiliki rasa yang berbeda-beda dari setiap lipatannya? menarik untuk diujicobakan.

    Comment by nurulislami — June 1, 2010 @ 23:29

  3. Ada yang menarik juga dari sudut pandang lain, pada saat kemasan yang ada di pasaran memiliki kapasitas yang lebih beragam dari yang sudah ada, dalam arti kata, kemasan akhir martabak kurang lebih sudah ada di pasaran sekian cmxcm, tidak –atau mungkin agak jarang menemukan kemasan akhir martabak, sebesar kemasan salah satu makanan cepat saji dari Jepang ( versi spesialnya ) untuk menunjukkan martabak super atau extra-large–karena sudah barang tentu lipatan akan bertambah beberapa centi lebih besar, adonan lebih banyak termasuk isinya, termasuk olahan isinya yang dipaparkan Nurul Islami, mungkin lebih bervariasi. Dengan kata lain mengintervensi besaran martabak dari faktor luar–kemasan yang sengaja dibikin–bukan berdasarkan yang ada di pasaran.

    Comment by datunpaksi — June 1, 2010 @ 23:42


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: