there’s something about geometry + architecture

March 16, 2011

Bagaimana Persepsi Psikologi dapat Menentukan Karakter Arsitek dalam Desainnya?

Filed under: contemporary theories — safiraalkatiri @ 20:16
Tags:

Setelah mengikuti kuliah Geometri & Arsitektur pada 16 Maret yang lalu tentang Geometry & Perception, timbul pertanyaan dalam diri saya apakah dengan mengembangkan pemahaman tentang psikologi dapat menciptakan karakter tertentu seorang designer terhadap proses designnya?

Sebagai contoh adalah arsitektur pada masa post modern. Pada masa post modern, seperti halnya sejarah kehidupan manusia, prinsip arsitektur yang digunakan adalah menginginkan untuk kembali kepada masa lalu. Maka Arsitek post modern berupaya untuk menerjemahkan semiotics ke dalam bentuk-bentuk arsitektur. Semiotics adalah studi hubungan antara signs (tanda) dengan simbol, dan bagaimana orang memberikan arti (meaning) antara keduanya. Dalam keadaan ini secara tidak sadar atau mungkin secara sadar para arsitek di masa post modern ini telah terbentuk karakternya sesuai dengan teori Gibson (1979); registered by observer, perception process as “meaningful”.

Apakah persepsi seseorang tentang arti dengan sendirinya akan berubah sesuai dengan perkembangan sejarah, sehingga arti dari sebuah bentuk arsitektur telah berubah antara era Romawi, Gothic, Renaissance, Baroque, dan era modern, atau oleh masing-masing karakter arsitek itu sendiri?

Referensi:

Framton, Kenneth, (1980), “A Critical History of Modern Architecture”,
Thames and Hudson.

http://jurnalrona.files.wordpress.com/2008/02/04-psikologi-arsitektur-post-modern.pdf

1 Comment »

  1. Persepsi, adalah hal yang baik sadar maupun tidak, dialami oleh manusia. Menurut Gibson (1979), memang secara “aktif” mempersepsi lingkungan, yang kemudian tersimpan dalam skemata masing-masing. Sehigga tiap orang mempersepsikan lingkungan jadi berbeda, tergantung pada pengalamannya.
    Maka, timbul kasus, bahwa apa yang ingin disampaikan oleh arsitek melalui desainnya, tentu bisa mengundang persepsi yang berbeda bagi tiap penikmat dan pengguna. Demikian juga, cara arsitek mempersepsikan ide dan konsep ke dalam desain tentu berbeda, berdasarkan pengalaman arsitek dalam mempersepsi lingkungan. Lalu sering muncul juga pertanyaan : when will this be good enough? *salam* :))

    Comment by Made Wina Satria (@wina_satria) — December 9, 2013 @ 22:10


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: