there’s something about geometry + architecture

March 18, 2011

Persepsi bagi Si Buta

Filed under: perception — dyysign @ 20:34
Tags: ,

Dalam perkuliahan Geometri dan Arsitektur tentang persepsi, saya merasa sepertinya persepsi itu hanya berlaku bagi orang yang mampu melihat saja. Terlihat bahwa contoh – contoh yang diberikan adalah gambar – gambar yang hanya bisa dimengerti orang non-tunanetra. Gambar yang memiliki bentuk, warna, dan pola. Lalu bagaimana dengan orang tunanetra? Meski bisa meraba, gambar tersebut berupa refleksi cahaya pada layar yang tidak akan muncul tekstur apapun.

Berkaitan dengan meraba, manusia, yang tunanetra sekalipun, beruntung memiliki indera peraba. Kita ambil contoh umum bagaimana si buta ini mengalami persepsi, yaitu cerita orang buta dengan gajah.

Orang pertama  meraba kaki gajah, mengatakan gajah itu seperti pohon kelapa.

Orang kedua meraba buntutnya mengatakan gajah seperti ular.

Orang ketiga meraba gading gajah, mengatakan gajah seperti alat bajak.

Orang keempat meraba telinga gajah, mengatakan gajah itu seperti kipas, tipis, lebar dan bergerak-gerak.

Orang kelima meraba badan gajah, mengatakan gajah itu seperti tembok. Keras dan tinggi dan luas.

Apakah diantara jawaban mereka ada yang benar? Tentu tidak, karena mereka hanya mengutarakan persepsi mereka.

Yang jadi pertanyaan berikutnya adalah darimana mereka mendapat persepsi rupa gajah tersebut padahal yang mereka analogikan pun belum tentu mereka pernah melihatnya?

Dalam perkuliahan tersebut pun saya mendapat pengertian persepsi, yaitu proses mendapat informasi dan mengalami objek. Orang tunanetra tersebut mungkin saja pernah mendapat informasi tentang analogi yang mereka utarakan tapi mereka belum pernah mendapat informasi tentang gajah. Lalu ketika mereka mengalami objek (bagian dari gajah) mereka pun mengemukakan persepsi mereka melalui analogi.

Sekarang mari kita hubungkan teori Gestalt terhadap penggambaran gajah dari persepsi tunanetra.

Penganalogian yang dilakukan orang tunanetra sama seperti yang orang normal lakukan jika ia melihat rupa awan seperti sesuatu yang mereka kenali. Misalnya pola awan yang rumit tersebut disederhanakan menjadi bentuk wajah seseorang atau hewan. Si tunanetra pun menyederhanakan apa yang ia raba. Seperti kaki yang terasa kasar, besar, dan tinggi. Dalam bayangan dia bentuk paling sederhana adalah batang pohon. Hal ini terkait dengan Law of Pragnanz di mana kita menyederhanakan sesuatu yang rumit.

Karena gajah memiliki empat kaki, tentu saja jika orang tunanetra itu memegang keempatnya maka dia akan menyimpulkan kaki gajah ada empat. Seperti Law of Similarity yang menyamakan berbagai elemen berdasarkan kesamaan ciri – cirinya lalu mengumpulkannya menjadi satu grup.

Selanjutnya, dengan analogi berdasarkan persepsi si tunanetra, dia pasti akan membayangkan secara utuh bagaimana bentuk gajah tersebut. Jika anda membayangkan gajah sesuai deskripsi mereka, tentu akan menjadi aneh bentuknya. Tapi berhubung kita tidak tahu apa yang ada dalam pikiran si tunanetra, kita juga tidak akan tahu persepsi dia akan gajah secara utuh. Hal itu terkendala karena si tunanetra tidak dapat menggambar.

Penjabaran saya diatas tentu hanya berdasarkan pendapat saya pribadi. Bisa benar, bisa sebagian benar, atau justru salah semua.

Pertanyaan terakhir saya, bagaimana orang tunanetra bisa menikmati keindahan arsitektur dan desain interior?

Jika semua orang buta punya kemampuan seperti superhero Dare Devil, mungkin mereka bisa menikmatinya.

Sumber:

http://ferrydjajaprana.multiply.com/journal/item/74

http://psychology.about.com/od/sensationandperception/ss/gestaltlaws.htm

6 Comments »

  1. Saya percaya bahwa persepsi tidak hanya dibentuk oleh visual seseorang. Walaupun visual memang sangat dominan dalam mempengaruhi persepsi seseorang. Seorang tunanetra tentu tidak menggunakan visual untuk mempersepsikan sesuatu. Kita mengenal sensasi yaitu fungsi fisiologis, yang tergantung pada kematangan dan berfungsinya organ-organ sensoris. Sensasi ini meliputi fungsi visual, audio, penciuman dan pengecapan, serta perabaan, keseimbangan dan kendali gerak. sedangkan persepsi sebuah proses yang aktif dari manusia dalam memilah, mengelompokkan, serta memberikan makna pada informasi yang diterimanya. Nah, sangat dimungkinkan seorang tunanetra memilah dan memberikan makna melalui indera lain selain visual seperti yang sudah dijabarkan tadi. Beberapa teori-teori mengenai persepsi seperti yang anda jabarkan di atas memang kebanyakan hanya menjelaskan persepsi yang visual sehingga tidak dapat menjelaskan mengenai persepsi si buta..

    Comment by ryantjahjadi — March 21, 2011 @ 21:24

  2. penggambaran para tunanetra ini membuat saya tersenyum. memang mata kita dapat dikatakan adalah segalanya, sebut saja, dia yang “paling banyak bekerja” untuk diri kita, melakukan aktivitas kita sehari-hari tapi organ yang canggih ini juga ternyata yang paling mudah dibohongi dan ditipu begitu saja, jadi janganlah kita serta merta bangga menjadi orang yang lebih beruntung daripada saudara-saudara kita lain yang tunanetra ini. Saya percaya jika ada satu yang dihilangkan yang lain justru bertambah kuat, inilah yang biasanya terjadi pada teman-teman kita para tunanetra, indra mereka yang lain selain penglihatan menjadi lebih kuat. Mereka lebih mengandalkan pengalaman dan pembelajaran-pembelajaran yang mereka dapat sedikit demi sedikit dari waktu dan waktu, ini yang mengakibatkan proses mereka mengenali lebih lambat dari kita yang normal. Agar mereka tidak tersesat dalam persepsi yang aneh-aneh tadi itu, adalah tugas kita untuk menuntun mereka dalam mengenali sebuah objek perlahan-lahan secara utuh, walau lama tapi bukan tidak mungkin mereka bisa mengenalinya lebih baik dari kita.

    Comment by belonia90 — March 22, 2011 @ 01:18

  3. menurut saya, persepsi tidak hanya muncul dari pengelihatan karena berdasarkan sejarah tentang pembuatan peta oleh Christopher Colombus yang saya pelajari, Colombus juga dianggap buta, karena ia hanya mengikuti ke mana arah pesisir pantai akan membawanya dan saat itu ia masih belum tahu bagaimana bentuk pulau yang sedang ia kelilingi. Ia hanya dapat menggambarkannya setelah melewati pesisir tersebut. Sama halnya dengan perumpamaan orang buta di atas. Mereka juga sama – sama tidak tahu bagaimana bentuk benda yang mereka raba, tetapi setelah mereka meraba secara keseluruhan, maka akan timbul gambaran pada benak mereka, seperti apa bentuk benda yang sedang mereka pegang.

    Comment by irenestephanie — March 22, 2011 @ 04:36

  4. Pembahasan ini menimbulkan suatu pertanyaan bagi saya, apakah dalam mendesain

    kita bisa memenuhi kebutuhan semua orang? Misalkan, dalam proses desain secara

    visual, apakah kita mempertimbangkan faktor pengguna yang tidak dapat melihat?

    Lalu, apakah dengan mendesain dengan faktor pengguna tunanetra kita

    mempertimbangkan faktor pengguna lainnya? Salah satu contoh yang bisa kita

    pelajari adalah Sky Dome di the De Young Museum, San Fransisco. Saat berada di

    dalam Sky Dome itu, kita dapat mendengar setiap gerakan yang kita lakukan.

    Sensasi tersebut akan makin terasa jika kita menutup mata dan mengoptimalkan

    penggunaan indera pendengaran kita. Namun berarti ruang ini akan sulit untuk

    dinikmati oleh pengguna yang tuna rungu. Dan begitu seterusnya. Lalu desain

    seperti apa yang dapat dinikmati oleh semua orang?

    Comment by mutiahapsari — March 22, 2011 @ 11:04

  5. Pada pembahasan ini mengingatkan saya akan PA1, saat kit survey ke site dalam project ruang seniman. Dalam survey itu kita harus menutup mata atau lebih tepatnya menon-aktifkan indra yang selalu kita andalkan. Kegiatan ini sangat berfungsi untuk bisa menentukan satu hal yang sangta penting bagi seorang designer yaitu ” kualitas ruang”. Dimana saat kita menutup mata kita bisa merasakan sesuatu yang tidak kita rasakan saat kita membuka mata.Kita bisa merasakan sesuatu lewat indra yang tidak biasa kita gunakan. Jadi jika kita kembali ke kasus si buta, mungkin apa yang mereka sebut ular,bajak,dan lain-lain itu juga tidak seperti apa yang ada sebenarnya.
    Jadi menurut saya, tugas kita adalah bagaimana kita bisa menyesuaikan persepsi, dimana hal inilah yang menurut saya sangat menentukan dalam neghasilkan sebuah GOOD DESIGN.Good Design adalah desain yang mampu memenuhi tujuan desainnya bagi para penggunanya.
    Jadi mungkin saat kita harus mendesain sesuatu untuk seorang tunanetra, kita secara tidak langsung harus bisa ‘menjadi’ tunanetra juga, yaitu merasakan apa yang dirasakan seorang tunanetra. Jadi saat sang tunanetra yang sesungguhnnya merasakan hasil desain itu, tujuan desain kita untuk sang tunanetra utu bisa tercapai.
    Jadi menurut saya seorang tunanetrapun maupun penyandang cacat yang lain tetap mampu merasakan merasakan keindahan dari sebuah karya seni apapun itu.

    Comment by meiyogo89 — March 22, 2011 @ 13:59

  6. menurut saya sebuah desain yang dapat dikatakan good desain dan dapat dinikmati oleh semua orang, tidak hanya dari keindahan suatu desain yang dapat dilihat oleh mata seperti orang-orang yang memiliki mata, atau tidak hanya dari suara yang dapat dinikmati oleh orang-orang yang mempunyai telinga. inti dari sebuah good desain bukanlah dari sensasi semata yang dapat dirasakan dengan indra tertentu, tetapi menurut saya sebuah desain yang baik yang bisa dirasakan ‘kebaikan’nya adalah ketika sebuah desain dapat menyelesaikan suatu masalah desain tanpa menimbulkan masalah lainnya dan manfaat tersebut dapat dirasakan oleh semua penggunanya dan membuat kualitas hidup dari para penggunannya bertambah.

    Comment by arichichristika — March 22, 2011 @ 19:18


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: